Chapter Twenty Six
Nggak Baik-Baik Saja
POV: Ervan
Pukul sembilan lewat lima belas, hari Kamis, aku mendengar langkah kaki di tangga besi.
Aku mengangkat kepala dari meja gambar. Pensilku berhenti. Jantungku melakukan sesuatu yang tidak kuizinkan.
Langkahnya berat. Lambat. Sandal jepit. Pak Tohir, naik untuk meminjam stapler.
“Pagi, Mas Ervan.” Ia melongok dari ambang pintu kaca buram. Matanya bergerak ke rak-rak di dinding, ke vas-vas, lalu kembali ke wajahku. Ia tidak meminjam stapler. Ia berdiri di sana sebentar, lalu turun lagi tanpa berkata apa-apa.
Lima menit kemudian, dangdut di bawah berganti lagu. Aku tidak tahu judulnya. Iramanya pelan, dan suling di intronya terdengar seperti orang yang menangis tanpa suara.
Gilang, di mejanya, tidak mengangkat kepala dari layar komputer. Ia memakai kaus anime. Hari Kamis. Ia tidak memakai kemeja berkerah sejak Rabu.
Pada hari Jumat, bunga-bunga di rak mulai layu.
Bunga matahari tidak layu dengan anggun. Kelopaknya tidak rontok satu per satu seperti mawar. Mereka merunduk. Kepala bunga yang berat itu pelan-pelan menunduk di ujung batangnya, seperti orang yang tertidur di kursi, dan kelopak-kelopak kuningnya mengerut dan menggelap di ujung-ujungnya, dan air di toples kerupuk dan vas tanah liat mulai keruh.
Gilang berdiri di depan rak pukul empat sore dengan kantong plastik hitam besar.
“Van,” katanya. “Yang layu aku buang, ya. Airnya udah bau.”
“Jangan.”
Gilang menoleh.
“Jangan dibuang,” kataku. Aku tidak mengangkat kepala dari meja gambar. “Biarin.”
“Van, airnya udah...”
“Aku yang ganti airnya.”
Gilang menatapku lama. Lalu ia melipat kantong plastik hitam itu, pelan, menjadi persegi kecil, dan memasukkannya ke laci mejanya.
Pukul enam sore, setelah Gilang pulang, aku mengganti air di setiap wadah. Toples kerupuk. Toples selai. Toples biskuit lebaran. Gelas ukur. Helm proyek. Vas tanah liat. Satu per satu. Aku memotong ujung batang yang membusuk dengan pisau cutter, miring, seperti yang diajarkan Bu Dewi di toko bunga Sabang, supaya batang bisa menyerap air lebih baik.
Tidak ada gunanya. Aku tahu tidak ada gunanya. Bunga yang sudah merunduk tidak akan tegak lagi karena air bersih.
Aku tetap melakukannya.
Sabtu pagi adalah selamatan tutup atap.
Aku berangkat dari Ciledug pukul lima. Ibu tidak keluar ke teras membawa termos dan lemper. Lampu dapur menyala, tapi Ibu tidak keluar. Aku berdiri di samping mobil sebentar, menunggu, lalu masuk ke mobil dan pergi.
Di Puncak, cuaca cerah. Pak Asep sudah bilang cerah.
Atap villa sudah selesai. Genteng tanah liat merah bata dari Jatiwangi menutupi seluruh rangka, rapi, dengan kemiringan yang kuhitung supaya air hujan mengalir ke sisi barat, jauh dari teras. Dari jalan desa, rumah itu sekarang terlihat seperti rumah. Bukan kerangka. Bukan tulang rusuk bekisting. Rumah, dengan atap, dengan dinding yang sudah diplester dan sebagian sudah dicat putih gading, dengan kusen-kusen jati yang menunggu kaca.
Di tengah halaman, tukang-tukang sudah menggelar tikar pandan. Di atas tikar ada nampan-nampan kosong, dan termos-termos kopi, dan setumpuk piring plastik. Pak Asep sedang memasang bendera merah putih kecil di ujung bubungan atap, tradisi tutup atap yang katanya dari zaman kakeknya.
Semua orang ada di sana. Pak Asep, dua puluh tukang, istri Pak Asep yang membawa kerupuk, dan seorang ustaz dari musala desa untuk memimpin doa.
Semua orang kecuali satu.
Pak Asep turun dari tangga, menepuk-nepuk tangan, dan berjalan ke arahku. Ia melihat ke jalan desa. Ke arah mobil yang biasanya terparkir di sana. Ke arah jalan yang kosong.
“Jang,” katanya. “Si Neng?”
“Nggak datang, Pak.”
Pak Asep menatapku. Ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya menatap wajahku, lalu menatap langit, lama, dengan cara orang yang sedang membaca cuaca.
“Poé ieu cerah,” katanya pelan. Tapi kali ini ia tidak melanjutkan. Ia hanya menepuk bahuku dua kali dan berjalan kembali ke tikar.
Pukul sembilan, SUV hitam datang.
Aku melihatnya dari halaman, menanjak pelan di jalan desa, dan jantungku melompat lagi. Tanpa izin. Seperti Kamis pagi di studio.
SUV itu berhenti di depan pagar bambu. Pintu pengemudi terbuka. Pak Harun turun.
Hanya Pak Harun.
Ia membuka bagasi dan mengeluarkan sesuatu yang besar, dibungkus kain batik. Ia membawanya dengan dua tangan, hati-hati, melewati pagar bambu, melewati halaman, ke arah tikar pandan.
Nasi tumpeng. Tinggi, kuning, dengan puncak yang dibungkus daun pisang berbentuk kerucut. Di sekelilingnya, lauk-pauk dalam wadah daun: ayam ingkung, urap sayur, telur pindang, perkedel, sambal goreng kentang, ikan asin, tempe orek. Ada juga dua kotak besar berisi kue: kue lapis, kue lumpur, nagasari.
Pak Harun meletakkan tumpeng itu di tengah tikar. Tukang-tukang bersorak pelan. Istri Pak Asep menepuk tangan.
Lalu Pak Harun menyerahkan sebuah amplop kecil kepada Pak Asep. Bukan kepadaku. Kepada Pak Asep.
Pak Asep membukanya, membaca, dan mengangguk-angguk.
Pak Harun berbalik untuk kembali ke mobil. Ia melewatiku. Ia berhenti sebentar, satu langkah dariku, dan aku menunggu. Menunggu ia mengacungkan dua jempol, seperti di lokasi proyek dulu. Menunggu ia bilang Mas Ervan, sehat?
Pak Harun tidak mengacungkan jempol. Pak Harun tidak menatapku. Ia menatap tanah di antara sepatu kami, mengangguk sedikit, sopan, seperti mengangguk kepada orang asing, lalu berjalan kembali ke SUV dan pergi.
Aku berdiri di halaman dan merasakan sesuatu yang aneh. Bukan dingin. Bukan panas. Sesuatu seperti lubang.
“Jang,” panggil Pak Asep dari tikar. Ia melambaikan amplop itu. “Ti Si Neng. Keur tukang. Cenah, hatur nuhun geus ngajaga imah Oma.“
Terima kasih sudah menjaga rumah Oma.
Aku tidak tahu kenapa Monica menyebut rumah ini rumah Oma. Aku tidak bertanya. Aku duduk di ujung tikar, di antara tukang-tukang, dan mendengarkan ustaz memimpin doa, dan makan ayam ingkung dan urap sayur, dan kue lapis.
Kue lapisnya sembilan lapis. Merah muda dan putih, bergantian. Tidak ada lapisan mendung. Tidak ada lapisan yang terlalu tebal di tengah.
Sempurna.
Aku menatap potongan kue lapis di piring plastikku lama sekali. Lalu aku memakannya, dan rasanya tepat, manisnya pas, tengahnya tidak lembek, pinggirnya tidak keras, dan aku tidak tahu kenapa rasanya yang tepat itu membuat tenggorokanku sakit.
Aku pulang ke Ciledug pukul empat sore.
Rumah berbau santan.
Bukan bau kue. Bau yang lain. Bau yang sudah lama tidak ada di rumah ini, bau yang terakhir kali kuingat di pagi lebaran dua belas tahun lalu, ketika Bapak masih memakai kopiah dan sarung dan berdiri di depan kompor sejak subuh.
Opor.
Ibu duduk di meja makan. Di depannya, satu mangkuk. Opor ayam. Kuah santan kuning keemasan dengan minyak yang mengapung di permukaan, dan potongan ayam, dan telur rebus yang sudah berwarna cokelat karena direndam kuah semalaman.
Ibu tidak berdiri ketika aku masuk. Ibu hanya menatapku, lalu menatap mangkuk itu, lalu menatapku lagi.
“Duduk,” kata Ibu.
Aku duduk.
Ibu mendorong mangkuk itu ke arahku. Lalu ia mengambil sendok, dan dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia memindahkan potongan ayam dari mangkukku ke piring kecil di sampingnya. Semua potongan ayam. Sampai yang tersisa di mangkukku hanya kuah, dan telur rebus, dan sedikit kentang.
Aku menatap mangkuk itu.
Waktu kecil, aku tidak suka ayam di opor. Teksturnya aneh, katanya. Aku hanya suka kuahnya. Setiap lebaran, Bapak menyendokkan kuah ke mangkukku, lalu memindahkan ayamnya ke piring Ibu. Van suka kuahnya doang, ayamnya buat Ibu. Setiap lebaran. Sampai aku umur tujuh belas.
Tidak ada yang melakukan itu sejak Bapak meninggal. Ibu tidak pernah masak opor lagi. Lebaran di rumah ini, dua belas tahun terakhir, kami makan ketupat dan rendang yang dibeli di warung Padang di ujung gang.
Aku mengangkat sendok. Aku menyendok kuahnya.
Rasanya persis. Persis seperti opor lebaran di pagi hari, dengan Bapak di depan kompor. Santannya kental tapi tidak berat. Ada rasa sereh dan daun salam dan lengkuas yang digeprek. Ada sedikit manis yang tidak dari gula, tapi dari bawang merah yang ditumis lama sampai kecokelatan.
Aku meletakkan sendok.
“Bu,” kataku. “Ini Ibu yang masak?”
Ibu diam.
“Bu.”
“Bukan,” kata Ibu.
Ibu menceritakan semuanya.
Ibu tidak menunggu aku selesai butuh waktu. Ibu bilang ia sudah menunggu cukup lama. Ibu bilang, setelah Rabu malam, setelah aku pulang dari Tebet dan mengetuk pintu kamarku tiga kali dan menunggu dua belas detik lagi, Ibu memutuskan bahwa aku sudah kehabisan waktu untuk butuh waktu.
Sebelas Sabtu. Dua belas, dengan hari ini.
Sabtu pertama, tempe gosong dan alarm asap yang dipasang dua tahun lalu. Sabtu kedua, jari teriris dan plester Doraemon dari zaman aku SD. Sabtu ketiga dan keempat, sayur asem yang terlalu asam dan sambal terasi yang membuat Mang Ujang curiga.
Sabtu kelima, Ibu bertanya kenapa ia merahasiakannya dariku.
“Dia bilang,” kata Ibu, “karena kalau dia tahu, dia bakal mikir aku lakuin ini buat dia.“
Aku menatap Ibu.
“Ibu bilang, emang buat dia, kan? Dia bilang iya. Tapi bukan buat bikin kamu terkesan. Awalnya iya, katanya. Awalnya dia mau nambah poin. Kayak spreadsheet.” Ibu tersenyum tipis. “Tapi terus dia bilang dia datang karena dia pengin. Dia suka dapur ini. Dia suka Ibu cerita soal remote sama tuyul.”
“Remote?”
“Yang kamu sembunyiin di bawah kasur waktu umur empat tahun.” Ibu menunjuk lemari rotan. “Ibu cerita. Dia ketawa sampai jarinya kena pisau.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Dia bilang,” lanjut Ibu, lebih pelan, “dia suka tahu hal-hal tentang kamu yang kamu sendiri udah lupa. Katanya kayak nyimpen sesuatu buat kamu. Buat nanti. Kalau kamu udah bisa nerima.”
Ibu berdiri. Ia berjalan ke lemari rotan, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus plastik.
Buku tulis bersampul cokelat, sudah menguning, dengan sudut-sudut melengkung. RESEP. JANGAN DIPINJAM.
Aku mengenal tulisan tangan itu. Tegak dan besar. Aku mengenalnya dari kartu ucapan ulang tahun yang kusimpan di kotak sepatu di bawah tempat tidur. Dari catatan di pintu kulkas: Van, jangan lupa makan. Bapak pulang malam.
Aku belum pernah melihat buku ini. Aku tidak tahu buku ini ada.
“Sabtu keenam,” kata Ibu, meletakkan buku itu di meja di depanku, “Ibu kasih ini ke dia. Ibu nggak bisa buka buku ini dua belas tahun, Van. Tiap Ibu buka, tangan Ibu gemetar. Tapi dia...” Suara Ibu bergetar. “Dia buka. Dia baca. Dia nangis di atas talenan. Terus dia masak.”
Ibu membuka buku itu di halaman yang terbuka sendiri.
NASI GORENG KAMPUNG. MINGGU PAGI. BUAT VAN.
Aku menatap halaman itu.
“Nasi goreng Bu Sri,” kata Ibu. “Itu dia. Yang kamu makan dingin. Yang telurnya kamu tusuk dulu.”
Aku menutup mata.
“Kue lapis sembilan lapis tadi pagi di Puncak,” kata Ibu. “Itu dia juga. Dia datang jam enam pagi tadi, bikin kue lapis sama nagasari buat selamatan. Dia nggak mau ke Puncak. Dia bilang kamu bilang berhenti. Dia bilang dia nggak boleh datang. Tapi dia mau tukangnya tetap makan enak.” Ibu menarik napas. “Terus dia masak opor. Dari buku ini. Dia bilang, Bu, ini buat Ibu. Bukan buat Ervan. Ervan udah bilang berhenti. Ini buat Ibu, supaya Ibu nggak perlu beli opor di warung Padang lagi lebaran nanti.“
Aku membuka mata. Kuah opor di mangkukku sudah tidak mengepul lagi.
“Dia pulang jam dua,” kata Ibu. “Sebelum kamu balik. Kayak biasa. Dia nggak mau kamu tahu. Dia bilang kamu udah minta dia berhenti, jadi dia berhenti. Tapi dia minta izin ke Ibu buat tetap datang ke dapur ini. Buat Ibu. Bukan buat kamu.”
Ibu duduk lagi. Ia menatapku dari seberang meja.
“Ibu nggak tahu apa yang dia bilang di rumah kakeknya, Van,” katanya. “Ibu nggak tahu apa yang ada di rekaman itu. Gilang cerita sedikit. Ibu nggak mau tahu lebih banyak.” Ia meletakkan tangannya di atas buku resep Bapak. “Ibu cuma tahu apa yang dia lakuin di dapur Ibu. Dua belas Sabtu. Tanpa ada yang nonton. Tanpa kamu tahu. Tanpa satu pun orang yang bisa dia pamerin.”
Ibu menatapku.
“Orang yang cuma mau menang, Van, nggak masak diam-diam buat orang yang nggak akan pernah tahu.”
Aku tidak tahu apa yang pecah lebih dulu.
Mungkin batu dingin di bawah tulang rusuk. Mungkin titik yang baru, di sampingnya. Mungkin sesuatu yang sudah retak sejak malam di lantai dua puluh tiga dan tidak pernah kuizinkan patah, karena aku sibuk. Karena aku harus mengantar Kayla pulang. Karena aku harus minta maaf ke Om Daniel. Karena aku harus menyelesaikan gambar gazebo. Karena aku harus bilang baik-baik saja ke semua orang, supaya tidak ada yang perlu melihat.
Yang aku tahu hanyalah bahwa aku menatap tulisan tangan Bapak di halaman yang bernoda minyak, BUAT VAN, dan tiba-tiba aku tidak bisa melihatnya lagi karena mataku basah.
Aku menunduk. Aku menempelkan dahi ke tepi meja makan.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu, sejak pintu 2307, sejak buket mawar di meja jati, sejak lift yang turun dua puluh tiga lantai dalam empat puluh detik, sejak pom bensin di Fatmawati di mana aku duduk dua puluh menit menunggu, aku menangis.
Tidak pelan. Tidak diam. Tangis yang keluar dari tempat yang sangat dalam, yang sudah lama sekali tersumbat, yang membuat bahuku berguncang dan napasku tersedak dan suaraku keluar dalam bentuk yang tidak kukenali. Suara anak kecil. Suara anak tujuh belas tahun di lorong rumah sakit yang menghitung ubin, seratus dua belas, karena ia tidak boleh menangis, karena ibunya sedang menangis dan harus ada yang kuat.
Ibu berdiri. Aku mendengar kursinya bergeser. Aku merasakan tangannya di punggungku. Naik turun. Naik turun. Seperti malam itu, dengan teh manis yang terlalu manis.
Lalu Ibu menarikku. Pelan. Dari kursi. Aku membiarkannya. Aku laki-laki dua puluh sembilan tahun, tingginya satu delapan puluh, dan aku membiarkan ibuku yang tingginya tidak sampai dadaku menarikku ke sofa di ruang tengah, dan mendudukkanku, dan menarik kepalaku ke pangkuannya.
Aku menangis di pangkuan Ibu. Di atas daster batik yang bau pandan dan gula merah dan santan.
“Aku nggak baik-baik saja, Bu,” kataku.
Kalimat itu keluar di antara isak. Terputus-putus. Seperti mesin mobil yang dinyalakan setelah terlalu lama tidak dipakai.
“Aku nggak baik-baik saja. Aku nggak pernah baik-baik saja. Dari malam itu. Aku bohong. Aku bohong ke semua orang. Ke Kayla. Ke Tante Ratna. Ke Om Daniel. Ke Gilang. Ke Ibu.” Suaraku pecah. “Aku bohong, Bu. Dia bener. Di rekaman itu. Dia bilang aku bohong. Dia bener.”
Tangan Ibu di rambutku. Mengusap. Pelan.
“Ibu tahu, Van,” bisik Ibu. “Ibu tahu dari malam pertama. Dari teras.”
“Kenapa Ibu nggak bilang?”
“Karena kamu harus bilang sendiri.” Tangan Ibu terus mengusap. “Kamu anak Bapakmu. Bapakmu juga gitu. Nggak pernah bilang sakit. Sampai jantungnya yang bilang.”
Aku menangis lebih keras.
Aku menangis untuk pintu 2307. Untuk senyum yang terlambat hilang. Untuk buket mawar yang dibiarkan layu di meja jati yang kuampelas sudut-sudutnya supaya ia tidak terbentur. Untuk April, Selasa, Jumat, udah pulang, Sayang, capek. Untuk Tante Ratna yang berlutut di lantai. Untuk Om Daniel yang naik tiga kilo. Untuk Kayla yang menghapus video dari lima tempat.
Untuk Bapak, yang meninggal sebelum mengajariku lagu kedua.
Dan untuk perempuan yang tidak pakai rem, yang berdiri di ambang pintu studioku dengan rambut basah dan amplop di tangan, yang bilang oke ketika aku bilang berhenti, yang memasak opor dari buku resep Bapak untuk Ibu supaya Ibu tidak perlu beli di warung Padang lagi, yang mengirim kue lapis sembilan lapis yang sempurna ke selamatan tutup atap yang tidak boleh ia datangi.
Aku menangis sampai tidak ada lagi yang keluar. Sampai napasku tenang sendiri. Sampai langit di luar jendela berubah gelap dan lampu jalan menyala dan azan magrib terdengar dari musala di ujung gang.
Ibu tidak berhenti mengusap rambutku.
“Van,” kata Ibu, ketika semuanya sudah sunyi.
“Hm.”
“Kamu udah selesai butuh waktu?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap langit-langit ruang tengah, dari pangkuan Ibu. Retakan di plafon. Ada tiga di ruangan ini. Aku tidak menghitungnya. Aku hanya melihatnya.
“Belum tahu, Bu,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Aku belum tahu.”
“Nggak apa-apa.” Tangan Ibu di dahiku. “Tapi Ibu mau kamu tahu satu hal. Nduk itu udah berhenti, Van. Dia berhenti karena kamu minta. Dia nggak pakai rem, katanya. Tapi waktu kamu bilang berhenti, dia berhenti.” Ibu menarik napas. “Orang yang nggak pakai rem, terus berhenti karena diminta, itu artinya dia belajar pasang rem. Buat kamu.”
Aku memejamkan mata.
“Sekarang giliranmu,” kata Ibu. “Mau jalan, atau mau diam di situ.”
Malam itu aku tidur di sofa ruang tengah. Kepalaku di bantal kecil yang Ibu selipkan setelah pangkuannya kesemutan. Tubuhku ditutup selimut hotel bermotif kotak-kotak merah yang Ibu ambil dari jok belakang Avanza, entah bagaimana Ibu tahu selimut itu ada di sana.
Aku tidak masuk ke kamarku. Aku tidak mengetuk pintu mana pun.
Di meja makan, mangkuk opor yang hanya berisi kuah dibiarkan di sana sampai pagi. Di sampingnya, buku resep bersampul cokelat, terbuka di halaman yang bernoda minyak.
BUAT VAN.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja reading
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk