← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twenty Nine

Dua Sepupu

POV: Monica

Aku pamit ke keluarga Om Daniel hari Rabu sore, tiga hari sebelum berangkat.

Aku tidak mau. Aku sudah pamit ke Opa lewat telepon, pendek, dan Opa hanya bilang Opa mau ketemu kamu sebelum berangkat, Jumat, jangan lupa, lalu menutup telepon sebelum aku sempat menjawab. Aku sudah pamit ke Chef Bram, Dinda, Pak Anto, Mbak Ratih. Chef Bram memberiku buku resep tulisan tangannya sendiri. Dinda menangis. Pak Anto bilang ia kelilipan lagi. Mbak Ratih bilang taruhannya belum kalah karena sebelum Natal masih tiga bulan lagi.

Tapi Tante Ratna menelepon Mama, dan Mama meneleponku, dan Mama bilang, Kamu nggak pamit ke Ratna, kamu nggak usah pulang ke rumah lagi.

Mama tidak bercanda. Mama jarang bercanda.


Tante Ratna memelukku di teras sebelum aku sempat melepas sepatu.

Pelukan Tante Ratna berbeda dengan pelukan Mama. Mama memeluk dengan tegak, dengan bahu yang tetap lurus dan tangan yang menepuk dua kali, efisien. Tante Ratna memeluk seperti orang yang takut sesuatu akan jatuh. Seluruh tubuhnya ikut, dan ia tidak melepaskan sampai kamu yang melepaskan duluan.

“Kamu kurus,” katanya ke bahuku.

“Nggak, Tante.”

“Kamu kurus. Kamu nggak makan.” Ia melepaskan pelukan dan memegangi kedua lenganku, menatapku dari atas ke bawah. “Mama kamu bilang kamu masak sendiri sekarang. Nasi goreng. Opor.”

“Iya, Tante.”

“Resep siapa?”

Aku tidak menjawab. Tante Ratna menatapku lama. Lalu matanya penuh, dan ia menarikku masuk ke dalam rumah.

Om Daniel duduk di ruang tengah. Di bawah lukisan Danau Toba yang jelek tapi tidak boleh diturunkan. Ia berdiri ketika aku masuk. Ia tidak memelukku. Om Daniel bukan orang yang suka memeluk, kecuali satu orang.

“Bali,” katanya.

“Iya, Om.”

“Enam bulan.”

“Iya, Om.”

Om Daniel menatapku dengan mata Harrison di balik kacamata yang sekarang sudah tidak miring lagi. Ia sudah turun dua kilo, kata Kayla. Sejak Tante Ratna berhenti memasak rendang yang tidak dimakan.

“Richard bilang kamu yang minta,” kata Om Daniel.

“Iya, Om.”

“Kenapa?”

Aku tidak menjawab. Om Daniel menatapku lebih lama. Lalu ia menghela napas dan duduk kembali.

“Anak itu juga gitu,” katanya pelan, ke arah lukisan Danau Toba. “Pamit. Minta maaf. Pergi.”

Semua orang bilang itu. Bu Laras. Mama. Om Daniel. Seolah-olah aku sedang mengulangi sesuatu yang sudah pernah dilakukan di rumah ini, di ruang tengah ini, di atas karpet ini.

Mungkin memang begitu.


Kayla tidak ada. Tante Ratna bilang ia sedang di kampus, mengurus revisi tugas akhir yang dosen pembimbingnya masih bilang terlalu sentimental.

“Zara ada,” kata Tante Ratna, dengan nada hati-hati. “Di gazebo.”

Aku tidak berencana bertemu Zara. Sejak pesan hari Rabu itu, dua minggu lalu, kami tidak bicara. Tidak ada pesan. Tidak ada telepon. Di grup Harrison Cousins, Zara tidak menulis apa-apa. Aku juga tidak.

“Dia minta kamu ke sana,” kata Tante Ratna. “Kalau kamu mau.”

Aku menatap pintu kaca geser yang menuju taman belakang. Di ujung taman, di bawah pohon mangga, gazebo kayu jati beratap sirap. Dan di bangku melingkarnya, siluet perempuan dengan rambut tergerai, duduk sendirian.

Aku berjalan ke sana.


Bruno tidur di bawah bangku, di atas bantal kotak-kotak. Ia mengangkat kepala ketika aku naik ke tangga gazebo, mengibaskan ekor dua kali, lalu menurunkan kepalanya lagi.

Zara tidak menoleh. Ia sedang menatap ke arah rumah, ke jendela-jendela yang mulai menyala satu per satu karena hari mulai sore. Ia memakai kaus putih polos dan celana jins. Tanpa riasan. Rambutnya sedikit lebih pendek dari yang kuingat.

Aku duduk di ujung bangku yang lain. Sejauh mungkin, di bangku melingkar yang tidak terlalu besar.

Kami duduk dalam diam. Dari dapur, aku mendengar Tante Ratna menggoreng sesuatu. Dari jalan, suara motor lewat.

“Kamu ke Bali,” kata Zara akhirnya.

“Iya.”

“Gara-gara aku.”

Aku menatapnya. Ia masih tidak menoleh.

“Bukan,” kataku.

“Jangan bohong, Monic.” Ia tertawa kecil. Pahit. “Kamu nggak pernah bohong. Dari kecil. Waktu kamu mecahin vas Oma, kamu yang ngaku duluan. Waktu aku yang mecahin cangkir teh Oma, aku sembunyiin pecahannya di pot bunga.” Ia menggeleng. “Jangan mulai bohong sekarang. Nggak cocok sama kamu.”

Aku diam. Lalu: “Sebagian gara-gara kamu.”

“Nah.” Zara akhirnya menoleh. Mata Harrison. Cokelat keabuan, sepenuhnya. Merah di sudut-sudutnya. “Sebagian. Kayak yang kamu bilang ke dia. Di rekaman. Ke dia. Sebagian.“

“Kamu tahu aku bilang itu?”

“Kayla cerita. Gilang cerita ke Kayla. Tasya cerita ke Gilang.” Zara mengangkat bahu. “Keluarga kita nggak butuh grup WhatsApp buat nyebarin gosip, Monic. Kita punya satu sama lain.”


“Aku mau minta maaf,” kataku.

Zara mengangkat alis.

“Soal kalimat itu. Di rumah Opa.” Aku menatap tanganku di pangkuan. “Aku bilang berlian yang dibuang. Aku bilang memungut. Aku bilang jangan salahkan aku. Aku ngomong ke kamu. Aku ngomong buat nyakitin kamu.” Aku menarik napas. “Aku pakai dia buat mukul kamu, Zara. Aku pakai lukanya. Aku pakai orang yang aku sayang buat menang dari kamu. Itu salah. Ke dia. Dan ke kamu juga.”

Zara menatapku lama sekali.

“Kamu minta maaf ke aku?” katanya pelan. “Aku yang selingkuh lima bulan. Aku yang bikin dia buka pintu itu. Aku yang ngirim rekaman. Dan kamu yang minta maaf ke aku?”

“Kamu udah minta maaf ke dia. Aku belum minta maaf ke kamu.”

Zara tertawa. Tawa yang pecah di tengah dan berubah jadi sesuatu yang lain. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan,” katanya dari balik tangannya. “Ya Tuhan, Monic. Kamu jadi kayak dia.”

Aku tidak menjawab.

Zara menurunkan tangannya. Matanya basah.

“Aku juga mau ngaku,” katanya. “Soal rekaman.”


Ia bercerita dengan suara yang pelan dan datar, seperti orang yang membaca laporan keuangan yang rugi.

Malam itu, di rumah Opa, ia tidak sengaja merekam. Ia sedang membuka aplikasi perekam suara karena psikolog yang baru ia temui minggu itu menyuruhnya mencatat perasaannya dengan suara setiap kali ia merasa sesak. Ia menekan tombol rekam di pangkuannya waktu Om Daniel mulai bercerita, karena ia merasa sesak. Lalu ia lupa mematikannya.

“Aku baru sadar ada rekaman itu tiga hari kemudian,” kata Zara. “Aku dengerin. Aku mau hapus. Tapi aku dengar suaramu, dan aku...” Ia berhenti. “Aku dengerin lagi. Dan lagi. Setiap malam. Berbulan-bulan.”

“Kenapa?”

“Karena di rekaman itu kamu ngomong soal dia kayak orang yang... yang tahu dia. Yang lihat dia.” Zara menatap ke arah rumah. “Aku dua tahun sama dia, Monic. Dan aku nggak pernah lihat dia senyum latihan di depan cermin. Aku nggak tahu dia bohong soal baik-baik aja. Aku nggak tahu apa-apa. Kamu lihat dia empat puluh menit dari pintu dapur dan kamu tahu lebih banyak dari aku dalam dua tahun.”

Aku tidak bisa bicara.

“Terus aku lihat kalian di pesta Kayla. Di bawah meja.” Suara Zara bergetar. “Dan dia ketawa. Dia ketawa sampai nunduk waktu Gilang nyebut drama Korea. Aku nggak pernah bikin dia ketawa kayak gitu. Dua tahun.”

“Zara...”

“Aku kirim rekaman itu bukan cuma buat ngelindungin dia,” kata Zara. Ia menatapku langsung. “Aku bohong ke kamu di pesan itu. Aku bilang aku nggak mau dia dibohongin dua kali. Itu sebagian bener. Tapi sebagian lagi...” Ia menelan ludah. “Sebagian lagi aku cuma nggak mau kamu dapat yang aku buang. Aku cemburu. Bukan ke kamu. Ke kebaikan yang aku buang. Ke dia yang ketawa sama orang lain.”

Ia menunduk.

“Kita sama, Monic. Aku sama kamu. Kamu bilang kalimat itu buat menang dari aku. Aku kirim rekaman itu buat menang dari kamu. Kita berdua pakai dia buat saling mukul.”


Matahari mulai turun di balik atap rumah tetangga. Lampu-lampu taman menyala otomatis, satu per satu. Bruno menguap di bawah bangku.

Aku menatap sepupuku. Wajah yang sama. Tulang pipi yang sama, dagu yang sama, mata yang sama, kecuali hijau yang tidak ia punya. Kami tumbuh bersama. Pentas sekolah, putri dan pohon. Liburan keluarga di Bali, rebutan kamar yang menghadap laut. Ulang tahun Oma, rebutan kursi di sebelah Oma. Seumur hidup kami, kami selalu memperebutkan sesuatu.

“Zara,” kataku. “Kamu tanya di rekaman itu. Dari kapan.“

Zara mengangkat kepala.

“Aku nggak jawab malam itu. Aku mau jawab sekarang.”

Dan aku menceritakannya.

Aku menceritakan tiga tahun lalu, 17 Agustus, ulang tahun pernikahan emas Opa dan Oma. Arsitek muda berkemeja batik di dekat pilar. Oma yang bertanya tentang rumah impian, dan aku yang menguping dari balik pilar. Listrik padam. Genset macet. Piano dalam gelap, satu lagu, dan Opa yang berdansa dengan Oma dan mengusap matanya.

Obeng di atas panel genset di basement. Parkiran jam satu dini hari. Delapan kata. Makasih, Mbak. Tadi saya takut banget, sebenarnya. Saya cuma hafal satu lagu.

Seminggu. Aku menyusun dan menghapus pesan sampai jempolku pegal. Seminggu penuh.

Dan di hari kedelapan, foto di grup Cousins.

Zara tidak bergerak selama aku bercerita. Ketika aku sampai di hari kedelapan, wajahnya berubah. Pelan. Seperti tinta yang meluntur.

“Hari kedelapan,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Foto di kafe. Dapet arsitek buat renov kantor sales. Ganteng juga ya ternyata kalau dilihat dari dekat.“

“Iya.”

“Kamu nggak bales di grup. Semua orang bales. Kamu nggak.”

“Aku nggak bisa bales.”

Zara menutup mata.

“Monic,” katanya. “Aku harus bilang sesuatu.”

Aku menunggu.

“Malam itu. Di parkiran.” Zara membuka mata. “Aku lihat kamu.”

Dunia berhenti.

“Aku pulang lewat parkiran juga. Mobilku di lantai yang sama. Aku lihat kamu ngasih sesuatu ke dia. Aku lihat kamu berdiri di situ lama banget setelah mobilnya pergi. Aku lihat mukamu.” Zara menarik napas. “Aku belum pernah lihat mukamu kayak gitu. Seumur hidup. Nggak waktu kamu dapet peran putri. Nggak waktu pangeran Brunei ngelamar kamu. Kamu kelihatan kayak... kayak orang yang baru nemu sesuatu.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Besoknya aku cari tahu siapa dia. Arsitek ballroom. Aku minta Papa kenalin. Aku bilang kantor sales butuh renovasi.” Zara tertawa, tawa yang sangat kecil dan sangat sakit. “Kantor sales nggak butuh renovasi, Monic. Kantor sales baru direnovasi setahun sebelumnya.”

Bruno mengangkat kepala di bawah bangku.

“Aku yang duluan jadiin dia piala,” kata Zara. “Tiga tahun lalu. Bukan kamu di rumah Opa. Aku. Di parkiran. Aku lihat kamu nemu sesuatu, dan aku ambil duluan. Karena itu yang selalu kita lakuin. Rebutan kamar, rebutan kursi di sebelah Oma, rebutan peran.” Air matanya jatuh. “Awalnya cuma itu. Aku mau menang. Terus... terus aku beneran sayang dia, pelan-pelan, di tahun pertama. Beneran. Tapi dia terlalu baik, dan aku nggak tahu harus ngapain sama kebaikan yang nggak aku menangin dengan jujur. Jadi aku...”

Ia tidak menyelesaikannya.

Aku menatap sepupuku, di gazebo yang dibangun dari gambar laki-laki yang kami berdua perebutkan tanpa pernah bertanya kepadanya.

Tiga tahun. Aku menyalahkan diriku sendiri karena ragu seminggu. Karena tidak cukup berani. Karena kalah cepat.

Aku tidak kalah cepat. Aku tidak pernah ada di perlombaan. Hanya Zara yang tahu ada perlombaan.

“Maaf, Monic,” bisik Zara. “Maaf. Maaf. Maaf.”


Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu.

Mungkin aku. Mungkin Zara. Yang aku tahu hanyalah bahwa kami berdua akhirnya duduk berdampingan di tengah bangku melingkar, bahu menyentuh bahu, dan Zara menangis di bahuku, dan aku menangis ke rambutnya, dan Bruno keluar dari bawah bangku dan menaruh kepalanya di pangkuan kami berdua, bergantian, seperti mencoba menambal sesuatu.

Kami menangis untuk pentas sekolah dan kamar yang menghadap laut dan kursi di sebelah Oma. Untuk parkiran jam satu dini hari. Untuk laki-laki yang kami berdua sakiti dengan cara yang berbeda, karena kami berdua lupa bahwa ia bukan hadiah.

“Aku bakal ke Singapura,” kata Zara setelah lama sekali, dengan suara serak. “Harrison Marina Bay. Head of Sales. Papa udah setuju. Bulan depan.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus belajar jadi orang yang nggak butuh menang.” Zara mengusap wajahnya. “Psikologku bilang aku harus pergi dari tempat yang bikin aku terus ngebandingin diri. Aku rasa itu artinya dari keluarga ini.” Ia tertawa kecil. “Dari kamu.”

“Zara...”

“Tapi aku nggak pergi kayak kamu, Monic.” Ia menatapku. “Aku pergi karena aku yang salah. Kamu pergi karena kamu pikir kamu yang salah. Itu beda.”

“Aku memang salah.”

“Kamu salah ngomong.” Zara menggeleng. “Aku salah ngelakuin. Lima bulan. Selasa sama Jumat.” Ia menarik napas. “Kamu cuma salah kalimat, dan kamu mau ngehukum diri enam bulan di Bali buat itu?”

Aku tidak menjawab.

“Dia tahu?” tanya Zara. “Soal genset. Soal parkiran. Soal tiga tahun.”

“Nggak.”

“Kenapa nggak kamu bilang?”

“Aku tulis. Di surat. Aku mau kasih.” Aku menatap pohon mangga di atas gazebo. “Dia bilang berhenti. Aturan tiga. Aku nggak boleh ngasih.”

Zara menatapku dengan wajah yang tidak percaya.

“Kamu,” katanya pelan, “punya jawaban atas pertanyaan yang bikin dia ngerasa jadi piala. Jawaban yang bakal bikin dia ngerti kamu bukan ngejar dia buat menang dari aku. Dan kamu nggak kasih karena aturan?”

“Aku janji.”

“Monic.”

“Aku janji, Zara.” Suaraku pecah. “Aku udah nggak pakai rem terlalu lama. Aku nabrak terlalu banyak. Kali ini aku mau nurut. Kali ini aku mau berhenti waktu dia bilang berhenti. Kalau aku ngelanggar itu juga, apa bedanya aku sama...”

Aku tidak menyelesaikannya. Aku tidak perlu. Zara tahu.

Apa bedanya aku sama orang yang memakai passcode tanpa memberi tahu.


Di balik pohon mangga, di sudut taman yang gelap karena lampu taman di sana mati sejak minggu lalu, ada seseorang.

Aku tidak melihatnya. Zara juga tidak.

Aku baru tahu keesokan harinya, dari Tasya, yang tahu dari Gilang, yang tahu dari Kayla. Kayla pulang dari kampus lebih cepat dari yang direncanakan. Dosen pembimbingnya membatalkan bimbingan. Ia masuk lewat pintu samping, melihat dua sepupunya di gazebo, dan memutuskan untuk tidak mengganggu. Ia berdiri di balik pohon mangga dengan tas ransel kanvas dan kamera film di lehernya.

Ia tidak merekam. Ia bilang ia tidak merekam, dan aku percaya, karena Kayla adalah orang yang menghapus video dari lima tempat.

Tapi ia mendengar semuanya.

Pilar. Oma. Genset. Satu lagu. Obeng. Parkiran jam satu dini hari. Delapan kata. Seminggu. Hari kedelapan.

Dan surat yang tidak boleh diberikan, karena aturan tiga.

Kayla adalah sutradara. Dan sutradara, kata Kayla kepadaku bertahun-tahun kemudian, tahu kapan sebuah adegan sudah menunggu terlalu lama untuk dipotong.