← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twenty Two

Rendang di Piring Kiri

POV: Ervan

Gazebo itu sudah berdiri.

Aku melihatnya dari gerbang, sebelum Pak Udin selesai membukakan pintu kecil, sebelum Bruno berlari dari taman dan menaruh kedua kaki depannya di dadaku. Di ujung taman belakang, di bawah pohon mangga, di tempat yang dulu hanya rumput dan kursi plastik tempat Om Daniel membaca koran.

Kayu jati. Atap sirap. Bangku melingkar dengan meja kecil di tengahnya, cukup untuk secangkir kopi dan satu koran. Persis seperti gambarku. Persis sampai ke kemiringan atapnya, sampai ke profil kayu di pinggiran bangku, sampai ke jarak antartiang yang kuhitung supaya angin sore dari arah barat bisa lewat tanpa membuat koran terbang.

Dan di bawah bangku, di atas bantal kotak-kotak yang jelas ditaruh di sana dengan sengaja, Bruno sudah tidur sebelum ia melompat menyambutku. Aku bisa melihat bekas cekungan tubuhnya di bantal itu.

Aku berdiri di gerbang dan tidak bisa bergerak.

“Bapak nyuruh tukang dari Jepara itu,” kata Pak Udin pelan di sampingku. “Yang nomornya Mas kasih. Dua bulan ngerjainnya. Bapak nungguin tiap hari. Pulang kantor langsung ke taman, lihat tukangnya kerja, sampai magrib.” Ia menatap gazebo itu. “Bantalnya Ibu yang taruh. Katanya biar Bruno tidurnya persis kayak di gambar.”

Bruno menjilati daguku. Aku tidak mendorongnya turun.


Pesta ulang tahun Kayla bukan pesta besar. Itu hal pertama yang membuatku lega. Tidak ada tenda, tidak ada band, tidak ada lima ratus tamu. Hanya meja panjang di teras belakang yang menghadap ke taman, dengan taplak putih dan lampu-lampu kecil yang digantung di antara tiang-tiang, dan dua puluhan orang.

Keluarga Om Daniel. Keluarga Om Richard. Beberapa teman kampus Kayla, anak-anak sekolah seni dengan rambut warna-warni dan kaus bertuliskan nama sutradara Eropa yang tidak kukenal. Dan, entah bagaimana, Gilang dan Tasya, yang ternyata diundang Kayla secara terpisah dengan potongan film seluloid juga.

“Kami datang sebagai pasangan,” bisik Gilang kepadaku di dekat meja minuman. Ia memakai kemeja berkerah. Hari Sabtu. “Resmi. Ini penampilan publik pertama.”

“Kalian udah muncul di warung soto tiap Selasa dan Kamis.”

“Itu penampilan semi-publik. Ini beda. Ini di depan keluarga.” Ia menegakkan punggung dan membetulkan kerahnya. “Tasya bilang aku nggak boleh ngomong soal drama Korea sama sekali malam ini.”

“Kamu sanggup?”

“Nggak,” akunya. “Tapi aku bakal coba.”

Tasya, di sampingnya, memakai gaun hitam sederhana dan kacamata bulat, menatap Gilang dengan ekspresi yang, kalau aku tidak salah baca, sangat mirip dengan ekspresi Ibu waktu menatap loyang kue lapis yang berhasil.


Monica datang pukul tujuh lewat lima.

Aku tidak melihatnya datang. Aku sedang berdiri di dekat gazebo bersama Om Daniel, yang sudah berbicara selama sepuluh menit tentang kayu jati dan tukang dari Jepara dan bagaimana ia belajar membedakan kayu yang dikeringkan dengan oven dan yang dikeringkan dengan matahari. Om Daniel yang dulu tidak tahu apa-apa soal kayu. Om Daniel yang sekarang, kata Kayla, menonton video tukang kayu di YouTube setiap malam.

“Ini, Nak, lihat seratnya,” kata Om Daniel, mengusap tiang gazebo. “Ini yang dikeringin pakai matahari. Kata Pak Karto, kayu yang dikeringin pakai matahari itu lebih lama, tapi lebih kuat. Nggak gampang retak.”

“Iya, Om.”

“Kayak orang,” kata Om Daniel. Ia berhenti mengusap tiang. “Yang lama sembuhnya, biasanya lebih kuat.”

Aku menatapnya. Om Daniel tidak menatapku. Ia menatap tiang gazebo dengan mata yang merah di sudut-sudutnya, dan tangannya menepuk kayu itu dua kali, seperti ia menepuk punggungku di teras.

Lalu ia berdeham dan menoleh ke arah teras. “Oh. Monica datang.”

Aku menoleh.

Ia berdiri di ujung teras, di bawah lampu-lampu kecil yang digantung, memeluk Kayla yang menjerit kegirangan. Gaun kuning. Kuning pucat, seperti mentega, dengan potongan sederhana yang jatuh lurus sampai betis dan lengan pendek yang sedikit mengembang. Rambutnya disanggul rendah di tengkuk, longgar, dengan beberapa helai yang dibiarkan jatuh di sekitar wajah. Anting kecil. Sepatu flat.

Dress code: bahagia. Ia memakai warna bunga matahari.

Kayla melepaskan pelukan, dan Monica mengangkat kepala, dan matanya menyapu taman seperti mencari sesuatu, dan menemukanku di dekat gazebo.

Ia tersenyum. Senyum kecil. Hati-hati. Senyum orang yang mengetuk pintu dan menunggu dua belas detik.

Aku mengangkat tangan. Sedikit. Seperti menyapa tetangga.

Senyumnya melebar sedikit.

“Nak,” kata Om Daniel di sampingku, dengan suara yang terdengar sangat seperti menahan tawa, “telingamu merah.”


Zara datang terakhir. Pukul tujuh lewat dua puluh, turun dari tangga rumah, memakai gaun hitam dan rambut tergerai. Ia terlihat lebih baik dari di studio. Lebih tenang. Kayla bilang dua minggu di Bandung membantunya, dan ia mulai menemui psikolog, dan ia berhenti memakai kausku.

Ia melihatku dari tangga. Ia mengangguk. Aku mengangguk balik.

Lalu matanya bergerak ke Monica, yang sedang tertawa bersama teman-teman kampus Kayla di ujung teras. Dan aku melihat sesuatu melintas di wajah Zara, cepat, lalu hilang. Sesuatu yang dulu tidak pernah kulihat di wajahnya waktu kami bersama, karena dulu tidak pernah ada alasan untuk itu.

Ia berjalan ke meja minuman, mengambil segelas jus, dan duduk di ujung meja panjang yang paling jauh dari semua orang.


Makan malam dimulai pukul delapan.

Tante Ratna memasak semuanya sendiri. Ia tidak mau memakai katering. Ayam goreng kalasan, sayur lodeh, perkedel kentang, sambal goreng ati, kerupuk udang yang digoreng di wajan besar di dapur sampai rumah berbau minyak panas. Dan rendang. Rendang dua hari, dengan daging yang sudah hitam mengilap.

Tempat duduk sudah diatur. Ada kartu nama kecil di setiap piring, ditulis tangan oleh Kayla dengan huruf-huruf kecil yang sama dengan di potongan film. Aku menemukan namaku di tengah meja. Di sebelah kananku, Gilang. Di sebelah kiriku...

KAK MONIC.

Aku menatap Kayla di ujung meja. Kayla menatapku balik dengan senyum sutradara yang puas dan sama sekali tidak menyesal.

Monica duduk di sebelah kiriku. Gaun kuningnya berdesir. Aroma melati dan vanila. Ia tidak menatapku. Ia menatap piringnya dengan sangat serius.

“Kayla yang atur,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Aku nggak minta.”

“Aku tahu, Monic.”

Ia melirikku. Aku melirik piringnya. Kami berdua kembali menatap piring masing-masing.

Tante Ratna berjalan mengelilingi meja dengan mangkuk besar berisi rendang. Ia menyendokkan rendang ke setiap piring. Satu potong. Satu potong. Satu potong. Om Richard minta dua dan ditatap Tante Sofia sampai ia bilang satu saja cukup.

Tante Ratna sampai di belakang kursiku.

Aku merasakannya sebelum melihatnya. Cara langkahnya berhenti. Cara napasnya tertahan sebentar. Ia berdiri di belakangku, dengan mangkuk rendang di tangan, dan meja itu, entah bagaimana, menjadi sedikit lebih sunyi.

Lalu sendok itu turun. Pelan. Di atas piringku.

Di sisi kiri.

Potongan yang paling besar. Yang dagingnya paling hitam mengilap. Yang paling banyak bumbunya menempel. Diletakkan dengan hati-hati di sisi kiri piring, bukan di tengah, persis di tempat yang sama di mana Tante Ratna meletakkannya setiap Minggu malam selama dua tahun.

Aku menatap potongan rendang itu.

Di ujung meja, Om Daniel meletakkan garpunya. Di seberangku, Kayla menutup mulut dengan tangan. Di sebelah kananku, Gilang berhenti bergerak sama sekali.

Tante Ratna tidak pergi. Ia berdiri di belakangku, dan aku merasakan tangannya, tangan yang bau santan dan cabai dan kelapa sangrai, menyentuh bahuku sebentar. Hanya sebentar. Lalu ia melanjutkan ke kursi Monica, dan menyendokkan rendang ke piring Monica, di tengah, seperti ke piring semua orang.

Aku tidak bisa mengangkat sendokku.

Aku menatap rendang di sisi kiri piring, dan tiba-tiba aku tidak di teras belakang rumah Om Daniel dengan lampu-lampu kecil dan dua puluh orang. Aku di meja makan yang sama, dua tahun yang lalu, Minggu malam pertama aku diajak makan malam keluarga. Aku gugup setengah mati. Aku tidak tahu harus duduk di mana. Tante Ratna menarikkan kursi untukku dan menyendokkan rendang ke piringku, dan waktu itu pun di sisi kiri, dan waktu aku bertanya kenapa di kiri, Tante Ratna tertawa dan bilang, biar deket sama jantung, Nak. Biar kamu inget ada yang masakin kamu.

Aku lupa kalimat itu. Aku lupa sampai detik ini.

Di bawah meja, sesuatu menyentuh tanganku.

Tangan kiriku yang terkulai di pangkuan. Sesuatu yang hangat, dan kecil, dan sedikit gemetar. Jari-jari yang menyelinap di antara jari-jariku, pelan, tidak menggenggam, hanya menyentuh. Seperti mengetuk.

Aku tidak menoleh. Aku tidak perlu menoleh.

Aku membalik tanganku, pelan, dan membiarkan jari-jari itu masuk ke dalam genggamanku. Aku menggenggamnya. Di bawah taplak putih, di atas pangkuanku, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun.

Tangan Monica berhenti gemetar.


Aku makan rendang itu.

Aku memakannya pelan, dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku masih menggenggam tangannya di bawah meja. Dagingnya empuk sampai hancur di lidah. Bumbunya pedas dan manis dan gurih dan terlalu kaya, seperti selalu. Rendang paling enak yang pernah kumakan. Aku tidak pernah bilang ke Ibu.

Ketika aku menghabiskan suapan terakhir, aku mengangkat kepala dan menatap Tante Ratna yang duduk di ujung meja, di sebelah Om Daniel. Tante Ratna tidak makan. Ia sedang menatapku, dengan piring yang belum disentuh dan mata yang penuh.

“Tante,” kataku. “Paling enak.”

Tante Ratna tersenyum. Air matanya jatuh. Ia tidak mengusapnya.

“Kamu baik-baik aja, Nak?” tanyanya. Pelan. Pertanyaan yang sama, di rumah yang sama, dua bulan yang lalu, dengan kerudung miring dan tangan di lututku.

Semua orang di meja menunggu. Aku bisa merasakannya.

Aku tersenyum.

“Aku baik-baik saja, Tante.”

Di bawah meja, tangan Monica meremas tanganku. Satu kali. Keras. Bukan untuk menghibur. Untuk memprotes.

Aku tidak menoleh. Tapi aku merasakan ujung bibirku bergerak sendiri, ke arah yang tidak kurencanakan, karena aku tahu persis apa arti remasan itu.

Aturan nomor empat. Pelanggaran.


Setelah potong kue, setelah Kayla meniup dua puluh tiga lilin sekaligus dan menangis karena teman-temannya menyanyikan lagu ulang tahun dalam bahasa Prancis, setelah Om Richard berpidato terlalu panjang tentang bagaimana ia menggendong Kayla waktu bayi dan Kayla muntah di jas barunya, setelah Gilang tidak sengaja menyebut drama Korea tiga kali dan Tasya menginjak kakinya tiga kali, aku berjalan ke gazebo.

Aku duduk di bangku melingkar. Bruno menyusul dan langsung tidur di bawahnya, di atas bantal kotak-kotak, persis seperti di gambar.

Dari gazebo, aku bisa melihat teras. Lampu-lampu kecil. Orang-orang yang tertawa. Kayla yang sedang menunjukkan sesuatu di laptop kepada teman-temannya, film pendek tentang kakek penjual layangan. Monica di ujung teras, berbicara dengan Tante Ratna, dengan tangan Tante Ratna di lengannya.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana sebelum menyadari ada orang lain di gazebo.

Zara berdiri di tangga kecil gazebo, dengan gelas jus di tangan. Ia tidak naik. Ia berdiri di anak tangga terbawah, seperti di tangga rumah dua bulan lalu.

“Boleh?” tanyanya.

Aku mengangguk. Ia naik dan duduk di ujung bangku melingkar yang paling jauh dariku. Bruno mengangkat kepala, menatap Zara, lalu menurunkannya lagi.

Kami duduk dalam diam. Di teras, seseorang tertawa keras. Om Richard, pasti.

“Gazebonya bagus,” kata Zara.

“Makasih.”

“Papa ngeliatin tukang tiap hari. Dua bulan. Aku belum pernah lihat Papa segitu seriusnya sama sesuatu yang bukan hotel.” Ia memutar gelas jusnya. “Aku rasa itu cara Papa minta maaf ke kamu. Dia nggak tahu cara lain.”

“Om nggak perlu minta maaf.”

“Kamu selalu bilang gitu.” Zara tersenyum tipis. “Nggak ada yang perlu minta maaf ke kamu. Semua orang harus baik-baik aja. Kamu baik-baik aja.”

Aku tidak menjawab.

“Soal April,” katanya, lebih pelan. “Kayla bilang Kenzo cerita ke kamu. Di gala.”

“Iya.”

“Aku minta maaf. Yang itu juga. Aku bohong waktu bilang satu kali. Di depan Opa. Di depan semua orang.” Ia menatap gelasnya. “Aku bohong ke semua orang. Paling banyak ke diriku sendiri.”

“Aku tahu, Zara.”

Ia mengangkat kepala dan menatapku. Mata Harrison. Cokelat keabuan, sepenuhnya, tanpa satu titik hijau pun.

“Kamu ketawa tadi,” katanya. “Waktu Gilang nyebut drama Korea yang ketiga kali. Kamu ketawa sampai nunduk.”

“Masa?”

“Dua tahun, Van.” Suaranya bergetar sedikit. “Dua tahun aku sama kamu, aku nggak pernah lihat kamu ketawa kayak gitu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Zara menatap ke arah teras. Ke ujung teras. Ke perempuan bergaun kuning yang sedang tertawa dengan Tante Ratna, dengan kepala sedikit miring dan sanggul yang mulai longgar.

“Dan tadi di meja,” kata Zara, masih menatap ke sana. “Di bawah meja. Aku duduk di ujung. Aku bisa lihat dari samping.”

Aku menegang.

“Nggak apa-apa,” katanya cepat. “Aku nggak bakal bilang siapa-siapa. Aku cuma...” Ia berhenti. Menarik napas. Ketika bicara lagi, suaranya berbeda. Lebih rendah. Lebih keras. “Kamu udah tanya dia?”

“Tanya apa?”

“Apa yang dia bilang di rumah Opa.”

Aku diam.

“Belum,” kata Zara. Bukan pertanyaan.

“Belum.”

Zara menatapku lama. Lalu ia berdiri, merapikan gaun hitamnya, dan berjalan ke tangga gazebo. Di anak tangga terbawah, ia berhenti.

“Van,” katanya tanpa berbalik. “Kamu selalu percaya sama orang seratus persen. Aku yang ngerusak itu. Aku tahu.” Ia menarik napas. “Tapi jangan kasih seratus persen lagi ke orang yang bahkan belum jujur soal kenapa dia ngejar kamu.”

Ia turun dan berjalan kembali ke teras, tanpa menoleh.

Di bawah bangku, Bruno mendengus dalam tidurnya.

Aku duduk di gazebo yang kugambar untuk seorang ayah yang ingin membaca koran sambil melihat anjingnya bermain, dan menatap tanganku. Tangan kiri. Yang tadi, di bawah meja, menggenggam tangan yang gemetar.

Kenapa dia ngejar kamu.

Aku tidak pernah bertanya. Enam puluh hari, tujuh puluh, delapan puluh. Aku tidak pernah bertanya kenapa. Aku takut jawabannya.

Dari teras, Monica menoleh ke arah gazebo. Ke arahku. Ia tersenyum, senyum kecil yang hati-hati, dan mengangkat tangannya sedikit, seperti menyapa tetangga.

Aku mengangkat tanganku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, dadaku terasa dingin lagi. Tidak seluruhnya. Hanya di satu titik kecil, di bawah tulang rusuk, di samping batu yang lama.

Titik yang baru.