← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Thirty One

Tangan yang Tidak Menggenggam

POV: Monica

Opa mengirim stiker ke grup Harrison Family (Official) pukul tujuh pagi hari Jumat.

Stiker kucing oranye yang mengangkat jempol. Empat puluh satu kali.

Grup itu meledak. Tante Maureen mengirim anggrek bertuliskan Selamat Pagi & Semangat. Om Robert bertanya Opa kenapa??. Sepupu Dimas mengirim tangkapan layar dan menulis Opa udah level up. Tante Linda menyuruh Dimas keluar dari grup.

Lalu Opa mengirim satu pesan teks.

Opa William: Maaf. Opa belajar fitur stiker. Kayla yang ajari. Tombolnya terlalu dekat.

Lalu, satu menit kemudian:

Opa William: Monica. Jam empat. Jangan terlambat.

Semua orang di grup berhenti mengetik.


Rumah Opa di Menteng terasa lebih besar dari biasanya ketika aku datang pukul empat kurang lima sore itu. Mungkin karena kosong. Tidak ada rapat keluarga, tidak ada Papa dan Mama dan Om Daniel dan Tante Ratna dan Zara dan Kayla yang duduk di sofa beludru hijau botol seperti sedang disidang. Hanya aku, dan Pak Karyo, kepala rumah tangga Opa yang sudah bekerja di sana sejak sebelum Papa lahir, yang membukakan pintu dengan senyum lembut dan mengantarku ke ruang keluarga.

Opa duduk di kursi tunggal di bawah potret Oma. Tongkat kayu eboni di antara kedua lututnya. Kipas angin kayu berputar malas di langit-langit.

Karpet Persia. Jam kakek di sudut. Sofa-sofa tempat dua belas orang duduk malam itu.

Aku berdiri di ambang pintu dan merasakan kakiku berat.

“Duduk,” kata Opa.

Aku duduk di sofa panjang sebelah kiri. Di tempat yang sama. Di samping kursi berlengan tempat Mama duduk malam itu.

Pak Karyo meletakkan dua cangkir teh di meja rendah. Teh melati, bukan teh manis. Opa tidak suka gula. Pak Karyo pergi dan menutup pintu.

Opa tidak langsung bicara. Ia menatapku lama, dengan mata Harrison yang sudah keriput di sudut-sudutnya, mata yang sudah melihat delapan puluh dua tahun dan tiga puluh empat hotel dan satu kebakaran dan satu pernikahan yang berlangsung lima puluh dua tahun.

“Bali,” kata Opa.

“Iya, Opa.”

“Enam bulan.”

“Iya.”

“Richard bilang kamu yang minta.”

Semua orang bilang itu. Aku mengangguk.

Opa mengangkat cangkir tehnya, meniupnya pelan, dan menyesapnya. Ia meletakkannya kembali di atas tatakan tanpa bunyi.

“Kamu tahu kenapa Opa panggil kamu?”

“Mau pamit, Opa?”

“Opa nggak perlu dipamitin. Opa sudah delapan puluh dua tahun. Opa sudah dipamitin terlalu banyak orang.” Ia menatap potret Oma di atas perapian. “Opa panggil kamu karena ada yang harus Opa kembalikan.”


Opa bicara pelan. Opa selalu bicara pelan. Tapi hari itu, di ruang keluarga yang kosong, setiap kalimatnya terdengar seperti diletakkan satu per satu di atas meja, supaya aku bisa melihatnya dengan jelas.

“Malam itu,” kata Opa, “di ruangan ini. Kamu berdiri di sana.” Ia menunjuk karpet Persia dengan ujung tongkatnya. “Kamu marah. Kamu bilang ke Zara banyak hal. Kamu bilang laki-laki itu bukan tembok. Kamu bilang tembok nggak minta maaf buat luka yang bukan buatannya.”

Aku menunduk.

“Lalu kamu bilang tembok nggak benerin genset.” Opa berhenti. “Lalu kamu gigit lidahmu.”

Aku mengangkat kepala dengan cepat.

Opa tersenyum. Sudut bibirnya yang tipis dan keriput, terangkat sedikit, persis seperti malam itu, ketika semua orang menunggu Opa memarahiku dan Opa malah bilang Opa lelah, semua pulang.

“Nggak ada yang dengar,” kata Opa. “Semua orang lagi sibuk sama kalimat berlianmu. Tapi Opa dengar.” Ia mengetuk telinganya dengan satu jari. “Telinga Opa masih bagus. Mata Opa yang sudah nggak.”

“Opa tahu soal genset?”

“Opa tahu soal genset dari malam itu. Tiga tahun lalu.” Opa menyesap tehnya lagi. “Opa lihat anak itu lari ke basement. Opa lihat dia balik dan duduk di piano. Opa lihat kamu nyusul ke basement setelah lampu nyala.” Ia meletakkan cangkirnya. “Dan Oma...”

Opa berhenti. Menatap potret di atas perapian.

“Oma lihat kamu di balik pilar,” kata Opa. “Waktu dia nanya anak itu soal rumah.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Oma cerita ke Opa malam itu, di mobil, pulang dari pesta. Katanya, William, cucu kita yang paling keras kepala baru saja jatuh cinta di balik pilar, dan dia bahkan nggak sadar.“ Opa tertawa kecil, tawa yang serak. “Oma selalu tahu. Oma tahu Richard bakal nikah sama Sofia sebelum Richard tahu. Oma tahu Daniel bakal jadi direktur operasional waktu Daniel masih mau jadi pilot.”

“Oma nggak pernah bilang...”

“Oma nggak pernah bilang apa-apa ke siapa-siapa. Itu keahliannya.” Opa menatapku. “Setahun kemudian, Zara pacaran sama anak itu. Oma lihat kamu berhenti datang ke acara keluarga. Oma lihat kamu selalu punya alasan. Tamu VIP. Rapat regional. Flu.” Opa mengangkat alis. “Kamu flu tujuh kali dalam setahun, Monica. Oma bilang itu rekor dunia.”

Aku tertawa. Tawaku pecah di tengah dan berubah jadi sesuatu yang lain.

“Waktu Oma sakit,” kata Opa, lebih pelan, “dua bulan sebelum dia pergi, dia minta pengacara datang ke rumah sakit. Dia ubah surat wasiatnya. Semua cucu dapat saham. Kamu satu-satunya yang dapat tanah.” Opa menatapku. “Tanah di Puncak. Yang ada pohon kesemeknya.”

Untuk rumah yang harus dibangun.

“Oma sengaja,” bisikku.

“Oma nggak pernah nggak sengaja.” Opa mengetuk lantai dengan tongkatnya, sekali, pelan. “Oma bilang ke Opa, William, rumah itu harus dibangun. Anak itu janji sama aku. Dan cucu kita satu-satunya yang ingat janjinya.“


Aku menangis. Aku tidak menahannya. Di ruang keluarga Opa, di atas sofa beludru hijau botol, di bawah potret Oma dalam kebaya biru pucat, aku menangis seperti anak kecil.

Opa tidak menghiburku. Opa tidak pernah jadi orang yang menghibur. Ia hanya menunggu, dengan tangan di atas tongkat eboni, sampai tangisku reda sendiri.

“Sekarang,” kata Opa, ketika aku sudah bisa bernapas lagi. “Yang harus Opa kembalikan.”

Ia menatapku dengan mata yang tiba-tiba sangat tajam.

“Kalimatmu.”

Aku menegang.

“Malam itu kamu bilang ke Zara: Kamu yang membuang berlian karena nggak tahu harganya. Jadi jangan salahkan aku kalau aku yang memungutnya. Dan nggak akan pernah kulepas.“ Opa mengucapkannya dengan tepat, kata demi kata, seolah ia menghafalnya. Mungkin memang begitu. “Opa diam malam itu. Semua orang diam. Kamu pikir itu artinya kami setuju.”

“Opa...”

“Kami diam karena kami kaget. Bukan karena kami setuju.” Opa menggeleng pelan. “Dan Opa nggak koreksi kamu malam itu karena Opa pikir kamu masih harus belajar sendiri. Opa salah. Opa terlalu tua buat nunggu cucu belajar sendiri. Harusnya Opa bilang malam itu.”

Ia mengangkat tongkat eboninya dan menunjuk ke arahku. Bukan menuduh. Menunjuk, seperti guru menunjuk papan tulis.

“Berlian itu tidak dipungut, Monica,” kata Opa. “Berlian itu bukan barang yang jatuh di jalan. Kalau ada yang buang berlian, berlian itu tetap berlian. Dia nggak nunggu dipungut. Dia nggak butuh tangan siapa-siapa buat jadi berharga.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Dan berlian itu,” lanjut Opa, lebih pelan, “memilih tangan yang tidak menggenggamnya terlalu erat.”

Kipas angin kayu berputar. Jam kakek berdetak.

“Kamu bilang nggak akan pernah kulepas. Itu kalimat orang yang takut kehilangan. Bukan orang yang cinta.” Opa meletakkan tongkatnya kembali di antara lutut. “Opa sama Oma lima puluh dua tahun. Kamu tahu rahasia Opa?”

Aku menggeleng.

“Tiap pagi, Opa lepasin dia.” Opa tersenyum. “Tiap pagi Opa bangun dan bilang dalam hati, kalau hari ini kamu mau pergi, Dorothy, pergilah. Dan tiap pagi dia masih di sana. Lima puluh dua tahun. Dia masih di sana karena dia milih. Bukan karena Opa genggam.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Orang yang genggam terlalu erat, Nak,” kata Opa lembut, “yang ada di tangannya itu bukan berlian. Yang ada di tangannya itu cuma batu yang takut.”


Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana dengan wajah di tangan. Lama. Cukup lama sampai teh melati di cangkirku menjadi dingin, dan Pak Karyo masuk diam-diam untuk menggantinya dengan yang baru, dan keluar lagi.

Ketika aku akhirnya menurunkan tangan, Opa masih menatapku.

“Kamu masih mau ke Bali?” tanyanya.

“Iya, Opa.”

“Kenapa?”

Aku memikirkannya. Aku memikirkannya dengan jujur, dengan cara yang aku pelajari dari seorang arsitek yang memikirkan segalanya seperti menghitung beban struktur.

“Karena aku nggak mau menang lagi, Opa,” kataku. “Aku nggak mau menggenggam. Aku mau lepasin. Kayak Opa tiap pagi.”

Opa menatapku lama. Lalu ia tertawa. Bukan tawa kecil yang serak. Tawa yang sungguhan, pendek, yang membuat bahunya bergetar.

“Kamu salah dengar,” katanya.

Aku berkedip.

“Opa lepasin Oma tiap pagi, Nak. Tapi Opa nggak pergi ke Bali.” Opa menggeleng, masih tersenyum. “Opa tetap di tempat tidur. Opa tetap di sebelahnya. Opa lepasin genggamannya, bukan orangnya. Opa tetap di sana, supaya kalau dia milih tinggal, dia tahu ke mana harus pulang.”

Berhenti ngejar. Bukan berhenti ada.

Mama. Di bawah pergola anggrek.

“Kamu mau pergi karena kamu pikir itu kebaikan,” kata Opa. “Karena kamu pikir kamu pintunya. Kamu pikir kalau kamu hilang, dia nggak perlu lihat pintu itu lagi.” Opa menatapku tajam. “Tapi kamu tahu apa yang kamu lakukan? Kamu mutusin sendiri, lagi. Tanpa nanya dia. Tanpa kasih dia kesempatan milih. Kamu genggam, Monica. Cuma kali ini yang kamu genggam itu kepergianmu sendiri.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Pergi itu boleh,” kata Opa. “Kalau kamu mau ke Bali karena kamu mau ke Bali, pergilah. Bangun hotel itu. Kamu bakal hebat. Tapi jangan pergi supaya kamu nggak perlu tahu jawabannya.”

“Jawaban apa, Opa?”

“Jawaban dari dia.” Opa mengetuk lantai dengan tongkatnya. “Kamu kasih surat ke ibunya. Kamu bilang cuma boleh dikasih kalau dia nanya. Terus kamu beli tiket pesawat supaya kamu nggak perlu ada di sini waktu dia nanya. Atau waktu dia nggak nanya.” Opa menggeleng. “Itu bukan melepas, Nak. Itu kabur.”


Aku pulang dari rumah Opa pukul enam.

Sebelum aku pergi, Opa mengantarku sampai pintu depan, dengan tongkat eboni dan langkah yang pelan. Di ambang pintu, di antara pilar-pilar putih rumah kolonial itu, ia berhenti.

“Monica.”

“Iya, Opa?”

“Lagu yang dia mainkan malam itu,” kata Opa. “Di ballroom. Dalam gelap.”

Aku menunggu.

“Itu lagu yang Opa dan Oma dansakan di pernikahan kami. Lima puluh tiga tahun lalu. Di ballroom yang sama, sebelum direnovasi.” Opa tersenyum, dan matanya basah. “Anak itu memainkan lagu pernikahan kami di ulang tahun pernikahan emas kami, dalam gelap, tanpa tahu. Dia bilang ke kamu dia cuma hafal satu lagu. Dan satu lagu itu, dari semua lagu di dunia...”

Opa tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya menepuk pipiku dengan tangan yang keriput dan kering, persis seperti Oma menepuk pipi seorang arsitek muda di dekat pilar.

“Kalau dia datang malam ini,” kata Opa, “bukakan pintunya.”

“Dia nggak akan datang, Opa. Aturan tiga. Dia yang bilang berhenti.”

Opa menatapku dengan ekspresi yang sangat mirip dengan ekspresi Tasya ketika aku mengatakan sesuatu yang sangat bodoh.

“Aturan tiga itu mengikat kamu,” kata Opa. “Bukan dia.”

Ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.


Apartemenku berantakan.

Koper besar terbuka di tengah ruang tamu, setengah terisi. Baju-baju bertumpuk di sofa. Kotak sepatu bot kuning di atas meja makan, penuh dengan kartu warna gading yang tidak pernah dikirim. Dua puluh tujuh kartu sekarang. Hari 88 sampai Hari 103, dan sejak minggu lalu entah bagaimana aku mulai menulis dua kartu sehari, pagi dan malam.

Aku tidak tahu harus membawa kotak itu ke Bali atau meninggalkannya.

Aku berdiri di dapur. Dapur dengan rak bumbu terbuka yang kutiru dari rancangan villa. Pukul delapan malam. Pesawatku sebelas jam lagi.

Aku memutuskan untuk memasak nasi goreng kampung. Sekali lagi. Yang terakhir, sebelum pergi. Dari ingatan, karena buku resep bersampul cokelat itu ada di laci lemari rotan di Ciledug, di tempat yang tidak akan pernah kulihat lagi.

Bawang merah, diiris tipis. Tanganku gemetar. Aku mengiris jariku sendiri untuk pertama kalinya sejak Sabtu kedua. Tidak ada plester Doraemon. Aku membalutnya dengan tisu.

Cabai rawit tiga. Terasi sedikit. Aku menumis bumbu di wajan dan memikirkan kalimat Opa. Aturan tiga itu mengikat kamu. Bukan dia.

Nasi masuk ke wajan. Aku mengaduk. Aku memikirkan surat di laci Bu Laras. Kalau dia nggak nanya, biarin di laci. Selamanya juga nggak apa-apa.

Aku tidak tahu apakah ia sudah bertanya. Aku tidak tahu apakah Bu Laras sudah memberikannya. Aku tidak tahu apa-apa, dan aku akan naik pesawat pukul tujuh pagi tanpa tahu, karena Opa benar. Aku membeli tiket pesawat supaya aku tidak perlu ada di sini untuk tahu.

Bau gosong.

Aku menatap wajan. Nasi di bagian bawah sudah hitam. Asap naik. Aku lupa mengecilkan api karena aku terlalu sibuk memikirkan semua hal selain nasi.

Aku mematikan kompor. Aku menatap nasi goreng yang gosong di dalam wajan.

Lalu aku duduk di lantai dapur, di samping kompor, dengan tisu di jari yang berdarah dan bau gosong di mana-mana, dan menangis.

Bukan karena nasi gorengnya. Aku tahu itu. Aku menangis karena Opa. Karena Oma di balik pilar. Karena tanah dengan pohon kesemek. Karena lagu pernikahan dari lima puluh tiga tahun lalu yang dimainkan dalam gelap oleh orang yang tidak tahu. Karena dua puluh tujuh kartu di kotak sepatu. Karena koper yang setengah terisi.

Karena aku masih menggenggam. Bahkan sekarang. Bahkan dengan tiket pesawat di ponselku, aku masih menggenggam.

Di balik pintu apartemen, di koridor berkarpet tipis, aku tidak mendengar langkah kaki.

Aku tidak mendengar lift yang berbunyi di lantai delapan belas. Aku tidak mendengar seseorang berhenti di depan unit C, lama sekali, dengan sesuatu di tangannya.

Aku tidak mendengar apa-apa, karena aku sedang menangis di lantai dapur dengan kepala di lutut.

Aku baru mendengarnya ketika bunyinya sudah terjadi.

Bukan ketukan.

Bunyi enam tombol angka yang ditekan pelan, satu per satu.

Dan bunyi kunci yang terbuka.