← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twenty Three

Rekaman

POV: Monica

Aku bangun pagi setelah ulang tahun Kayla dengan tangan kiri yang masih terasa hangat.

Itu tidak masuk akal secara ilmiah. Aku tahu. Tidak ada tangan yang tetap hangat selama sepuluh jam setelah dipegang orang lain. Tapi aku berbaring di tempat tidurku di apartemen lantai delapan belas, pukul enam pagi hari Minggu, dengan tirai yang belum dibuka, dan menatap telapak tangan kiriku seolah-olah di sana masih ada sesuatu.

Di bawah meja. Di bawah taplak putih. Jari-jarinya yang membalik dan membiarkan jariku masuk. Genggamannya yang tidak lepas sampai suapan rendang terakhir. Remasanku waktu ia bilang aku baik-baik saja, Tante, dan ujung bibirnya yang bergerak, karena ia tahu persis apa artinya.

Aku menempelkan telapak tangan itu ke pipiku dan tersenyum seperti orang bodoh sampai alarm berbunyi.

Lalu aku ingat gazebo.

Aku ingat Zara berjalan menuruni tangga kecil gazebo dan kembali ke teras tanpa menoleh. Aku ingat Ervan duduk sendirian di bangku melingkar sesudahnya, menatap tangannya. Aku ingat melambaikan tangan kepadanya dari teras, dan ia membalas, tapi wajahnya, dari jarak dua puluh meter dan di bawah cahaya lampu taman yang temaram, terlihat seperti wajah orang yang sedang menghitung sesuatu dan tidak suka hasilnya.

Senyumku hilang.


Waktunya itu selalu sekarang, Monic. Cuma kita yang pura-pura belum.

Kalimat Mama berputar di kepalaku sepanjang hari Minggu. Di kamar mandi. Di dapur apartemen, ketika aku mencoba membuat nasi goreng kampung sendiri dan berhasil, untuk pertama kalinya, tanpa Bu Laras. Di sofa, ketika Tasya menelepon dan bercerita bahwa Gilang menangis di mobil sepulang pesta karena terharu melihat lampu-lampu kecil di teras.

“Tas,” kataku, memotong ceritanya. “Aku harus bilang ke dia.”

Tasya diam. Ia tahu apa yang kumaksud. Ia ada di ruangan itu, secara tidak langsung. Aku meneleponnya malam itu, dari lantai di balik pintu, dan menceritakan semuanya.

“Kapan?” tanyanya.

“Sabtu. Di villa. Tutup atap.”

“Kenapa nggak sekarang?”

“Karena aku mau bilang langsung. Tatap muka. Bukan lewat pesan. Bukan lewat kartu.” Aku memeluk bantal sofa. “Dan Sabtu itu atapnya dipasang, Tas. Rumahnya jadi punya atap. Aku mau bilang di bawah atap.”

Tasya diam lebih lama.

“Mon,” katanya. “Itu kedengeran romantis. Tapi itu juga kedengeran kayak alasan buat nunda enam hari lagi.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu udah nunda dari bulan Juli.”

“Aku tahu.”

“Zara bilang ke dia tanya dia apa yang dia bilang di rumah Opa. Itu udah dua kali. Di studio, sama semalam di gazebo. Aku lihat dari teras.” Tasya menarik napas. “Dia belum tanya karena dia takut. Tapi Zara nggak takut. Zara punya alasan buat bikin dia tahu. Dan kalau Zara yang bikin dia tahu duluan...”

“Aku tahu, Tas.”

“Kalau gitu kenapa Sabtu?”

Aku menatap langit-langit apartemenku.

Karena aku takut. Itu jawabannya. Karena aku, Monica Angelica Harrison, yang tidak pakai rem, yang mengumumkan perang di ruang keluarga Opa dan mengirim bunga delapan puluh lima hari berturut-turut, takut. Takut melihat wajahnya ketika ia mendengar bahwa aku menyebutnya berlian yang dipungut, di depan seluruh keluarga, seperti barang. Takut ia akan berpikir bahwa semuanya, bunga dan kartu dan dapur ibunya, hanyalah bagian dari perang dengan sepupuku.

Takut, karena sebagian dari itu memang benar. Di awal. Di malam itu. Di ruang keluarga Opa, ketika aku mengucapkan kalimat itu, separuh diriku memang ingin menang dari Zara.

“Karena aku mau nulis dulu,” kataku akhirnya. “Aku mau nulis semuanya dulu, biar aku nggak lupa apa yang mau aku bilang. Terus Sabtu aku bilang langsung.”

Tasya menghela napas panjang, napas yang sudah kukenal selama sepuluh tahun, napas yang berarti aku tidak setuju, tapi aku sahabatmu.

“Oke,” katanya. “Tapi kalau sampai Rabu kamu belum bilang, aku yang nyuruh Gilang nyulik dia ke apartemenmu.”


Aku menulis kartu itu malam itu.

Bukan kartu. Kartu tidak cukup. Aku menulis di kertas surat warna gading yang biasanya kupakai untuk memo resmi ke tamu VIP, empat lembar, bolak-balik, dengan tinta biru tua dan huruf yang miring ke kanan.

Aku menulis tentang malam di rumah Opa. Tentang Zara yang bilang dia pasti balik, dan bagaimana kalimat itu membuatku ingin memecahkan sesuatu. Tentang kalimat yang kuucapkan, kata demi kata, karena aku tidak mau menyembunyikannya atau memperhalusnya. Kamu yang membuang berlian karena nggak tahu harganya. Jadi jangan salahkan aku kalau aku yang memungutnya. Dan nggak akan pernah kulepas.

Aku menulis bahwa aku menyesal. Bukan menyesal mencintainya. Menyesal memakai kata memungut. Menyesal membuatnya terdengar seperti barang yang dipindah dari satu tangan ke tangan lain. Menyesal bahwa separuh dari kalimat itu ditujukan kepada Zara, bukan kepadanya.

Lalu, di lembar keempat, aku menulis hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun kecuali Tasya dan, belakangan, Mama.

17 Agustus 2023. Ballroom Harrison Grand. Listrik padam.

Aku menulis tentang pilar. Tentang Oma yang bertanya tentang rumah impian. Tentang genset dan obeng dan satu lagu. Tentang parkiran jam satu dini hari dan delapan kata. Tentang seminggu ragu-ragu dan foto Zara di grup Cousins di hari kedelapan.

Passcode apartemenku bukan Hari Kemerdekaan, Van. Itu malam kamu main piano.

Aku nggak ngejar kamu karena Zara buang kamu. Aku udah nunggu kamu tiga tahun sebelum Zara buang kamu. Zara cuma yang membuka pintunya. Aku yang udah berdiri di depannya dari dulu.

Aku melipat surat itu tiga kali dan memasukkannya ke amplop gading. Aku tidak menulis nama di amplop. Aku menyelipkannya di saku dalam tas kerjaku, di tempat yang biasanya kupakai untuk menyimpan kunci master hotel.

Sabtu. Di bawah atap.

Aku tidur malam itu dengan tangan kiri di atas dada.


Senin berlalu. Selasa berlalu.

Bunga matahari tetap dikirim setiap pagi pukul sembilan lewat lima belas. Kartunya panjang lagi sekarang, karena ia bilang ia kangen kartu yang panjang. Hari 86: Tamu di lantai 22 membawa burung beo yang bisa bilang “check out.” Burungnya bilang itu setiap lima menit. Tamunya nggak mau check out. Hari 87: Aku berhasil bikin nasi goreng sendiri. Tanpa bantuan. Rasanya... aku nggak tahu rasanya, karena Tasya yang makan duluan dan dia bilang “lumayan” dan dia nggak pernah bilang lumayan buat apa pun.

Ervan membalas foto progres villa hari Senin. Atap sudah siap. Genteng tanah liat dari Jatiwangi datang hari Rabu. Pemasangan hari Kamis dan Jumat. Sabtu pagi, selamatan kecil untuk tutup atap. Pak Asep bilang cerah.

Ia menambahkan satu kalimat di bawah foto, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya di pesan tentang villa.

Ervan: Ambang jendela kamar utama udah dipasang. Cukup buat duduk.

Aku membaca kalimat itu tujuh belas kali.

Rabu pagi, pukul sepuluh, Kayla meneleponku.


“Kak.”

Suaranya salah. Aku tahu dari satu kata. Suara Kayla yang biasanya naik turun seperti roller coaster, sekarang datar dan tipis, seperti suara orang yang berbicara dari dalam lemari.

“Kay? Kenapa?”

“Kak Zara punya rekaman.”

Aku berhenti berjalan. Aku sedang di koridor lantai dua puluh, di depan suite yang tamunya membawa burung beo. Burung itu, dari balik pintu, berkata check out dengan suara serak.

“Rekaman apa?”

“Malam itu. Di rumah Opa. Waktu Kak Monic ngomong ke Kak Zara.” Kayla menarik napas, dan napasnya tersendat. “Aku nggak sengaja lihat. Semalam. Aku masuk ke kamarnya mau pinjem charger. Laptopnya kebuka. Ada file audio. Tanggalnya tanggal malam itu. Dia lagi dengerin pakai earphone. Dia nggak sadar aku masuk.”

Dinding koridor terasa miring.

Ponsel Zara di pangkuannya. Layarnya menghadap ke atas. Ibu jarinya bertengger di sana sepanjang aku bicara. Aku pikir ia sedang mengetik pesan ke Ervan.

“Dia dengerin itu berulang-ulang, Kak,” kata Kayla. “Aku berdiri di pintu lima menit. Dia puter ulang tiga kali. Bagian yang... bagian yang Kakak bilang berlian.”

“Kay...”

“Aku tanya dia buat apa. Dia bilang bukan urusanmu. Aku bilang itu urusanku, soalnya aku yang janji sama Kak Ervan nggak ada yang boleh nyakitin dia lagi. Dia...” Suara Kayla pecah. “Dia bilang justru itu. Aku nggak mau dia disakitin lagi sama Harrison. Terus dia tutup laptopnya dan nyuruh aku keluar.”

Aku bersandar ke dinding koridor. Dari balik pintu suite, burung beo itu berkata check out lagi.

“Kak,” kata Kayla. “Kakak udah bilang ke Kak Ervan?”

“Belum.”

Hening di ujung telepon.

“Sabtu,” kataku. Suaraku terdengar tidak meyakinkan bahkan di telingaku sendiri. “Aku mau bilang Sabtu.”

“Kak,” kata Kayla, dan suaranya sekarang bukan suara adik sepupu yang masih memakai piyama dinosaurus. Suaranya suara sutradara yang melihat adegan yang akan hancur di depan kamera dan tidak bisa berhenti merekam. “Hari ini Rabu.”


Aku menelepon Zara. Tidak diangkat.

Aku menelepon lagi. Tidak diangkat.

Aku mengirim pesan. Zara. Tolong. Jangan. Centang dua. Tidak biru.

Aku turun ke kantorku, mengambil tas kerja, dan menelepon Ervan. Aku sudah tidak peduli soal aturan satu. Aku sudah tidak peduli soal Sabtu, soal atap, soal ambang jendela yang cukup untuk duduk.

Nada sambung. Satu. Dua. Tiga. Empat.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan.

Aku meneleponnya lagi. Sama.

Aku menelepon Gilang. Gilang mengangkat di dering pertama.

“Mbak Monic? Kok tumben...”

“Lang. Ervan di mana?”

“Di lokasi, Mbak. Di Puncak. Genteng datang hari ini. Dia...”

“Kapan dia balik?”

“Sore. Jam lima-an. Kenapa, Mbak? Suara Mbak kok...”

“Lang,” kataku. “Kalau ada yang kirim sesuatu ke dia hari ini. File. Rekaman. Apa pun. Dari Zara. Tolong...”

Aku tidak tahu harus meminta apa. Tolong hapus? Tolong sembunyikan? Tolong jangan biarkan ia mendengarnya? Itu tidak mungkin. Itu salah. Itu sama dengan yang dilakukan Zara selama lima bulan: menyembunyikan sesuatu supaya dia tetap percaya.

“Mbak?” kata Gilang. “Mbak, aku nggak ngerti. Ada apa?”

“Nggak apa-apa, Lang,” kataku. “Nanti aku jelasin.”

Nanti.

Aku menutup telepon dan menatap kata itu di kepalaku seperti menatap sesuatu yang membusuk.


Pesan dari Zara masuk pukul tiga sore.

Aku sedang duduk di mobil. Pak Harun menyetir ke Tebet, dan Tebet macet, dan aku sudah menyuruh Pak Harun lewat jalan tikus dua kali dan keduanya lebih macet. Hujan turun, pelan dan menyebalkan, membuat kaca mobil buram.

Zara: Aku udah kirim ke Ervan.
Zara: Dia berhak tahu, Monic. Dia berhak tahu kamu ngejar dia buat menang dari aku.
Zara: Aku nggak mau dia dibohongin dua kali sama Harrison.
Zara: Maaf.

Di bawah pesan itu, sebuah file audio. Dua menit empat puluh satu detik.

Aku menatap file itu. Pak Harun melirikku lewat spion, dan aku melihat wajahnya berubah ketika melihat wajahku.

Aku memasang earphone. Aku menekan tombol putar.


Suara pertama yang kudengar adalah suara kipas angin kayu di langit-langit rumah Opa, berputar malas. Lalu suara Zara, jauh dan agak sengau, seperti direkam dari pangkuan. Yang penting, dia pasti balik.

Lalu hening.

Lalu suaraku.

Aku belum pernah mendengar suaraku sendiri dari luar dalam keadaan seperti itu. Aku sudah mendengar rekaman suaraku di presentasi, di video promosi hotel, di pesan suara ke Mama. Tapi aku belum pernah mendengar suaraku ketika aku marah. Ketika aku tidak mengontrolnya.

Suaraku terdengar dingin. Tajam. Seperti pisau roti Mama.

Kamu nggak lihat dia hari ini.

Aku mendengar diriku menceritakan sore di ruang tengah Om Daniel. Gazebo. Bruno. Tante Ratna berlutut. Aku lihat dia, dia yang udah kamu khianatin sejak April.

Aku mendengar diriku menceritakan senyumnya. Artinya dia bohong. Artinya dia hancur, Zara. Hancur sampai nggak bisa marah.

Dan di mobil, dengan hujan di kaca dan Pak Harun yang menatapku lewat spion, aku menyadari sesuatu yang tidak kusadari malam itu.

Aku menceritakan lukanya. Kepada seluruh keluarga. Tanpa izinnya. Aku menggelar lukanya di atas karpet Persia di ruang keluarga Opa, di depan dua belas orang, dan menggunakannya sebagai amunisi. Aku mengatakan bahwa ia hancur, dengan suara yang terdengar seperti orang yang bangga karena tahu sesuatu yang orang lain tidak tahu.

Tembok nggak minta maaf buat luka yang bukan buatannya.

Seolah dia barang yang kamu taruh di laci.

Lalu aku mendengar jeda. Jeda yang panjang. Dan suaraku sendiri, turun, pelan, setiap kata diletakkan seperti batu.

Dengar baik-baik, Zara.

Aku menutup mata.

Kamu yang membuang berlian karena nggak tahu harganya.

Jadi jangan salahkan aku kalau aku yang memungutnya.

Dan nggak akan pernah kulepas.

Di rekaman itu, sesudahnya, tidak ada suara apa-apa. Hanya kipas angin kayu. Hanya jam kakek di sudut. Keheningan yang panjang, yang malam itu terasa seperti kemenangan.

Dari dalam mobil, dengan earphone di telinga, keheningan itu terdengar seperti sesuatu yang lain sama sekali.

Terdengar seperti lelang. Seperti palu yang baru saja diketuk. Seperti seseorang yang baru saja mengumumkan bahwa barang yang ditawarkan sudah laku.

Lalu suara Zara. Kamu ngincer dia. Dari kapan?

Dan tidak ada jawaban. Rekaman itu tidak menangkap jawabanku, karena aku tidak menjawab. Aku diam.

Dua menit empat puluh satu detik. Selesai.

Yang tersisa di rekaman itu adalah seorang perempuan dari keluarga Harrison yang menceritakan kehancuran seorang laki-laki kepada seluruh keluarganya, menyebutnya berlian yang dibuang, mengumumkan bahwa ia akan memungutnya dan tidak akan melepaskannya, dan tidak menjawab ketika ditanya sejak kapan.

Seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang berharga tergeletak di jalan dan memutuskan untuk mengambilnya sebelum orang lain.

Aku melepas earphone. Tanganku gemetar sampai kabelnya terjatuh ke karpet mobil.

“Bu?” kata Pak Harun pelan.

“Pak,” kataku. “Tolong. Secepat yang Bapak bisa.”


Kami sampai di Tebet pukul enam lewat dua puluh. Hujan sudah berhenti, tapi jalan di depan ruko masih tergenang. Lampu toko fotokopi sudah dimatikan. Pak Tohir tidak memutar dangdut.

Avanza abu-abu itu terparkir di depan. Mesinnya sudah dingin.

Aku turun dari mobil tanpa payung, tanpa menunggu Pak Harun membukakan pintu. Tas kerja di tanganku, dengan amplop gading di saku dalamnya. Empat lembar. Bolak-balik. Passcode apartemenku bukan Hari Kemerdekaan, Van.

Surat yang seharusnya kuberikan Sabtu. Di bawah atap.

Gilang berdiri di kaki tangga besi.

Ia tidak memakai kemeja berkerah. Kaus anime, di hari Rabu. Wajahnya pucat, dan ia memegang ponsel di tangan seperti memegang sesuatu yang panas. Ketika melihatku, ia tidak menyapa. Ia tidak bilang Mbak Monic dengan nada ceria. Ia hanya menatapku, dan aku melihat sesuatu di matanya yang belum pernah kulihat di mata Gilang.

Kecewa.

“Mbak,” katanya. Suaranya kecil. “Dia udah dengar.”

Aku berhenti di genangan air.

“Tiga kali,” kata Gilang. “Aku dengar dari luar. Dia puter tiga kali. Terus dia matiin lampu.”

Aku menatap tangga besi. Di atas, pintu kaca buram. Gelap. Tidak ada cahaya dari dalam.

“Aku boleh naik?” tanyaku.

Gilang tidak menjawab. Ia hanya menggeser tubuhnya dari kaki tangga. Pelan. Seperti orang yang tidak yakin apakah ia sedang melakukan hal yang benar.

Aku naik.

Satu anak tangga. Dua. Tiga. Empat.

Aku berhenti di anak tangga kelima.

Dari sini, lewat celah di stiker yang mengelupas di pintu kaca buram, aku bisa melihat meja gambarnya. Aku selalu bisa melihat meja gambarnya dari anak tangga kelima.

Studio itu gelap. Hanya ada cahaya dari lampu jalan di luar jendela besar, jingga dan pucat, jatuh ke rak-rak yang penuh vas. Toples kerupuk. Toples selai. Vas tanah liat seharga lima belas ribu. Helm proyek yang dibalik. Semuanya berisi bunga matahari, dan di cahaya lampu jalan, bunga-bunga itu tidak terlihat kuning. Mereka terlihat abu-abu.

Dan di tengah studio, di kursi di depan meja gambar, dalam gelap, Ervan duduk. Punggungnya ke pintu. Bahunya diam. Ponsel di tangannya, layar menyala, satu-satunya cahaya putih di ruangan itu.

Ia tidak bergerak.

Di balik pintu, di paku tempat dulu ia menggantung helm proyek, jaket bomber hitam masih tergantung. Yang tidak pernah dicuci. Yang masih berbau melati dan vanila.

Aku berdiri di anak tangga kelima, dengan surat di dalam tas, dan hujan yang menetes dari rambutku ke tangga besi.

Waktunya selalu sekarang, kata Mama.

Aku terlambat tiga bulan.