← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Thirty Five

Gosip Hotel

POV: Monica

Artikel itu terbit hari Selasa pukul enam pagi, di sebuah portal gosip yang namanya terdiri dari tiga huruf kapital dan satu tanda seru.

Judulnya:

SKANDAL KELUARGA HOTEL! Pewaris Harrison “Rebut” Mantan Pacar Sepupu, Sang Arsitek Diduga Naik Kelas Lewat Dua Putri Konglomerat

Aku membacanya di tempat tidur, dengan mata setengah terbuka, karena Tasya mengirimnya pukul enam lewat tiga menit dengan satu pesan: Mon. Bangun. Jangan panik. Tapi bangun.

Aku bangun. Aku panik.

Artikel itu panjang. Ditulis dengan gaya yang membuat setiap kalimat terdengar seperti bisikan di balik tangan. Sumber dekat keluarga menyebutkan... Menurut orang dalam industri event... Sang arsitek, yang sebelumnya menjalin hubungan dua tahun dengan putri sulung direktur operasional Harrison Group, kini disebut-sebut telah berpindah ke pelukan sepupunya, putri tunggal CEO...

Ada foto. Foto buram, diambil dari jauh, di lobi Harrison Grand hari Senin kemarin. Aku berdiri di depan meja resepsionis, memegang kartu putih, dengan vas kristal berisi bunga matahari di sampingku. Dan di pojok foto, Mbak Ratih dengan troli handuk, mulutnya terbuka lebar, berteriak sebelum Natal.

Ada foto kedua. Lebih buram lagi. Studio Pratama dari luar, dengan papan nama yang huruf u-nya hilang. Keterangan fotonya: Studio arsitek kecil milik sang pria, yang diduga mendapat proyek-proyek bernilai miliaran dari keluarga Harrison setelah menjalin hubungan dengan dua putri mereka.

Proyek-proyek bernilai miliaran. Villa. Satu villa. Dengan kontrak atas nama Tasya.

Dan di paragraf terakhir, kalimat yang membuat tanganku berhenti:

Sumber dari industri event yang pernah bekerja sama dengan Harrison Group menyebutkan bahwa sang arsitek dikenal “pandai memanfaatkan simpati” dan “tahu betul cara masuk ke keluarga kaya.” Sumber tersebut juga mengklaim pernah mengalami intimidasi fisik dari sang arsitek dalam sebuah acara gala amal beberapa bulan lalu.

Sumber dari industri event.

Aku tidak perlu menebak.


Pukul tujuh pagi, artikel itu sudah dibagikan ulang tiga ratus kali.

Pukul delapan, dua akun gosip Instagram dengan jutaan pengikut mengunggahnya dengan judul yang lebih pendek dan lebih kejam. Kolom komentarnya penuh. Aku membaca dua puluh komentar pertama sebelum Tasya menelepon dan menyuruhku berhenti.

Pinter juga ya cowoknya, habis kakak adik diembat.
Kalau bukan Harrison mana mau.
Arsitek kok studionya di atas fotokopi wkwk.
Kasihan yang kakak, udah dibuang dipungut adik sepupu.

Dibuang. Dipungut.

Aku duduk di lantai kamar mandi dengan ponsel di tangan dan merasakan perutku melilit.

Kalimatku. Kalimatku sendiri, yang kuucapkan di ruang keluarga Opa, sekarang kembali kepadaku dari mulut orang-orang asing di internet. Tidak ada yang tahu aku yang mengatakannya pertama kali. Tidak ada yang perlu tahu. Kalimat itu sudah ada di udara, seperti virus, dan ia menemukan jalan kembali ke tempat asalnya.

Pukul sembilan lewat lima belas, aku seharusnya menerima bunga matahari di lobi. Hari kedua.

Dinda menelepon pukul sembilan lewat tujuh belas.

“Bu,” katanya. Suaranya kecil. “Bunganya datang. Tapi...”

“Tapi apa?”

“Ada wartawan di luar, Bu. Di depan pintu putar. Tiga orang. Mereka foto kurirnya.”


Rapat darurat direksi dimulai pukul sepuluh, di lantai empat puluh.

Aku tidak diundang. Aku datang.

Aku duduk di ujung meja panjang, di kursi yang biasanya kosong, di sebelah direktur pemasaran yang menatapku dengan ekspresi seseorang yang melihat bom waktu duduk di ruang rapat.

Papa di kepala meja. Wajahnya abu-abu. Om Daniel di sebelahnya. Wajahnya lebih abu-abu lagi.

“Kita harus bikin pernyataan,” kata direktur pemasaran. “Hari ini. Sebelum makin besar. Saham kita turun satu koma dua persen dalam dua jam.”

“Karena gosip?” tanya Papa.

“Karena gosip yang menyangkut keluarga pemegang saham mayoritas, Pak. Investor nggak suka drama.” Direktur pemasaran membuka laptop. “Tim PR udah siapin draf. Kita bilang ini urusan pribadi, keluarga menghormati privasi, Harrison Group tidak ada kaitannya dengan hubungan personal karyawannya...”

“Dan soal Ervan?” tanya Om Daniel.

Direktur pemasaran ragu. “Draf-nya... nggak nyebut dia, Pak. Kita pikir lebih aman kalau Harrison Group menjaga jarak. Studio arsitek itu pihak ketiga. Kontrak villa-nya atas nama pribadi, bukan korporat. Kita bisa bilang Harrison nggak pernah...”

“Menjaga jarak,” ulangku.

Semua orang menoleh ke ujung meja.

“Draf-nya bilang Harrison Group menjaga jarak dari dia,” kataku. “Supaya kita aman. Supaya saham naik lagi. Dan dia sendirian di luar sana, di studio di atas toko fotokopi, dengan orang-orang di internet bilang dia pandai memanfaatkan simpati.”

“Bu Monica, dengan segala hormat, ini strategi komunikasi krisis standar...”

“Aku tahu strategi komunikasi krisis standar,” kataku. “Aku yang nulis manualnya buat divisi guest experience.”

Direktur pemasaran menutup mulut.

“Dan sumbernya Kenzo,” kataku. “Kita semua tahu. Intimidasi fisik di acara gala amal. Kita punya rekamannya. Dinda yang rekam. Kita tahu siapa yang intimidasi siapa.”

“Rekaman itu bukti hukum,” kata Om Daniel pelan. “Bagian legal udah pegang. Kita bisa pakai buat gugatan pencemaran nama baik. Tapi kalau kita rilis ke publik sekarang, itu justru bikin makin besar. Media bakal punya video. Mereka bakal puter berulang-ulang. Kamu, di koridor servis. Kenzo pegang tanganmu.”

Aku terdiam.

“Dan Ervan,” lanjut Om Daniel, lebih pelan lagi. “Di video itu, dia yang bikin Kenzo berlutut. Kalau video itu keluar, yang orang lihat bukan Kenzo yang ganggu kamu. Yang orang lihat, arsitek yang diduga naik kelas bikin orang lain berlutut di acara amal.”

Ruang rapat itu sunyi.

Aku menatap meja. Aku memikirkan video itu. Aku memikirkan wajah Ervan di koridor servis, tenang seperti permukaan danau di atas palung yang dalam. Tangannya yang gemetar sesudahnya. Aku marah, Monic. Pertama kalinya seumur hidup.

Aku tidak akan pernah membiarkan video itu diputar berulang-ulang oleh orang-orang yang tidak tahu apa-apa. Aku sudah pernah menceritakan lukanya ke dua belas orang. Aku tidak akan menceritakannya ke dua juta.

“Kita nggak rilis videonya,” kataku.

Om Daniel mengangguk pelan.

“Tapi kita juga nggak menjaga jarak,” kataku. Aku menatap Papa. “Pa. Kamis ini ada peluncuran program beasiswa di ballroom. Media diundang. Aku yang pegang acaranya.”

Papa menatapku. “Monic...”

“Aku mau ngomong,” kataku. “Di depan kamera. Sebentar.”


Sebelum aku menulis satu kata pun, aku menelepon Ervan.

Aku tidak meneleponnya pukul enam pagi waktu artikel itu terbit. Aku tidak meneleponnya pukul delapan ketika akun-akun gosip mengunggahnya. Aku mengirim satu pesan saja: Aku tahu. Kamu nggak sendirian. Jangan baca komentarnya. Ia membalas dengan satu kata: Udah.

Udah. Udah baca. Udah tahu. Udah terlambat untuk tidak membaca.

Pukul dua siang, aku meneleponnya dari kantorku dengan pintu terkunci.

“Van.”

“Hai.” Suaranya tenang. Terlalu tenang. Suara laporan teknis. “Kamu nggak apa-apa?”

“Aku yang harusnya nanya.”

“Aku nggak apa-apa.” Ia berhenti. Lalu, pelan: “Aturan empat. Nggak. Aku nggak apa-apa itu bohong.”

Aku menutup mata.

“Klien Bintaro batalin kontrak,” katanya. “Tadi pagi. Katanya mereka nggak mau rumah mereka dikaitkan sama skandal. Gilang lagi telepon klien Kemang, mastiin mereka nggak ikut batal.” Ia menarik napas. “Ada orang yang foto studio dari bawah. Pak Tohir usir. Pakai sapu.”

“Pak Tohir pakai sapu?”

“Sambil muterin Ditinggal Rabi keras-keras. Orangnya kabur.” Ada sesuatu di suaranya yang hampir tawa, tapi tidak sampai. “Dan Ibu... Ibu nggak tahu. Ibu nggak baca internet. Tapi Bu Sri tahu. Bu Sri baca. Bu Sri pasti bakal cerita ke Ibu.”

“Van,” kataku. “Hari Kamis ada acara di ballroom. Media datang. Aku mau ngomong.”

Hening.

“Ngomong apa?”

“Soal kamu. Soal kita. Soal artikel itu.” Aku menatap tanganku. “Tapi aku nggak mau ngomong tanpa nanya kamu dulu.”

Hening lebih lama.

“Kenapa?” tanyanya akhirnya.

“Karena terakhir kali aku ngomong soal kamu di depan banyak orang, aku bilang kamu hancur. Tanpa nanya kamu mau orang tahu atau nggak.” Suaraku bergetar. “Aku nggak mau ngelakuin itu lagi. Nggak ke keluarga. Nggak ke kamera. Nggak ke siapa pun.”

Ervan tidak menjawab.

“Jadi aku nanya,” kataku. “Boleh aku ngomong soal kamu? Di depan kamera? Kalau kamu bilang nggak, aku nggak ngomong. Aku bikin pernyataan standar. Harrison menghormati privasi. Selesai.”

“Apa yang mau kamu omongin?”

“Aku nggak tahu persisnya. Tapi aku janji satu hal.” Aku menarik napas. “Aku nggak akan cerita apa pun yang kamu simpan buat dirimu sendiri. Nggak soal malam itu. Nggak soal April. Nggak soal ketukan. Nggak soal kamu nangis di pangkuan Ibu. Itu punyamu. Aku cuma mau bilang satu hal yang mereka semua salah.”

“Apa?”

“Kamu bukan piala siapa pun.”

Hening. Aku mendengar napasnya di ujung telepon. Aku mendengar dangdut samar dari toko fotokopi. Aku mendengar Gilang di latar belakang, bicara dengan seseorang di telepon dengan suara yang sangat sopan dan sedikit putus asa.

“Monic,” kata Ervan akhirnya.

“Iya?”

“Boleh aku berdiri di sebelahmu?”

Aku tidak bisa menjawab. Mataku tiba-tiba panas.

“Waktu kamu ngomong,” katanya. “Di depan kamera. Boleh aku di sebelahmu? Aku nggak bakal ngomong apa-apa. Aku cuma mau berdiri di sana.”

“Kamu nggak perlu...”

“Aku tahu aku nggak perlu.” Suaranya pelan. “Tapi mereka bilang aku naik kelas lewat kamu. Lewat Zara. Lewat keluarga kalian.” Ia menarik napas. “Aku nggak mau kamu berdiri di sana sendirian, belain aku, sementara aku ngumpet di atas toko fotokopi. Itu yang bakal bikin mereka bener.”


Kamis pukul sepuluh pagi, ballroom Harrison Grand dipenuhi dua ratus tamu dan tiga puluh wartawan.

Peluncuran program beasiswa untuk anak-anak pegawai hotel. Program yang sama yang dananya dikumpulkan di gala amal, di malam Kenzo menahan pergelangan tanganku di koridor servis. Di panggung ada spanduk besar dengan logo Harrison dan foto anak-anak berseragam sekolah. Di sisi kanan ruangan, di dekat pilar, kursi-kursi untuk penerima beasiswa angkatan pertama dan keluarga mereka.

Salah satunya, di barisan depan, seorang anak laki-laki berseragam SMP dengan kacu pramuka. Anak Pak Udin, satpam rumah Om Daniel.

Aku berdiri di balik panggung dengan blazer putih dan kartu pidato yang sudah kutulis ulang enam kali.

Ervan berdiri di sampingku. Kemeja batik cokelat tua, motif parang. Yang ia pakai ke makan malam di rumah Papa. Rambut disisir rapi. Tangannya di sisi tubuhnya, tidak mengepal.

“Kamu yakin?” tanyaku.

“Kamu yang nanya itu terus dari tadi pagi,” katanya.

“Karena aku belajar nanya.”

Ia tersenyum. Sudut bibirnya. “Aku yakin.”

Pembawa acara memanggil namaku. Aku naik ke panggung. Ervan tidak naik. Ia berjalan ke sisi panggung, ke tangga kecil di samping mimbar, dan berdiri di sana. Tidak di atas panggung. Tidak di bawah. Di sisi. Satu langkah dari mimbar. Di tempat di mana kamera bisa melihatnya.

Tiga puluh lensa kamera menoleh ke arahnya. Aku mendengar bunyi rana. Aku melihat beberapa wartawan saling berbisik.

Aku berdiri di depan mimbar, dan aku tidak membaca kartu pidatoku.


“Selamat pagi,” kataku. “Saya Monica Harrison. Director of Guest Experience di Harrison Grand. Saya akan bicara tentang program beasiswa ini sebentar lagi. Tapi sebelumnya, saya tahu banyak dari Anda di sini bukan untuk beasiswa.”

Beberapa wartawan tertawa gugup.

“Hari Selasa, sebuah artikel terbit tentang saya, keluarga saya, dan seseorang yang saya sayangi.” Aku tidak menoleh ke sisi panggung. Aku tidak perlu. “Saya tidak akan membahas isi artikel itu satu per satu. Sebagian besar isinya tidak benar. Sebagian kecil isinya adalah urusan pribadi yang tidak akan saya bicarakan di sini atau di mana pun.”

Aku menarik napas.

“Tapi ada satu hal yang harus saya luruskan. Karena hal itu salah, dan karena saya ikut bertanggung jawab atas kesalahannya.”

Ruangan itu sunyi.

“Artikel itu, dan banyak orang yang membacanya, menyebut dia sebagai sesuatu yang dibuang dan dipungut.” Suaraku tetap stabil. Aku sudah berlatih. “Beberapa bulan lalu, di ruang keluarga kakek saya, saya sendiri pernah menggunakan kata-kata itu. Dalam keadaan marah. Untuk menyakiti orang lain. Dan saya salah.”

Aku melihat seorang wartawan di barisan depan berhenti menulis.

“Dia bukan barang. Dia tidak dibuang. Dia tidak dipungut. Dia bukan piala dalam perebutan keluarga siapa pun. Dia seorang arsitek. Dia yang merenovasi ballroom ini, tiga tahun lalu. Plafon di atas kepala Anda. Kubah kaca itu. Ketika gempa kecil beberapa minggu lalu membuat retakan di plafon dekoratif, dia yang naik perancah delapan meter tanpa helm untuk memastikan ruangan ini aman untuk Anda semua.”

Beberapa kepala mendongak ke plafon.

“Dia tidak mendapat proyek bernilai miliaran dari keluarga Harrison. Dia menolak satu. Ayah saya menawarkan renovasi Harrison Surabaya, dan dia bilang tidak, karena dia tidak mau bekerja untuk keluarga kami hanya karena dia dekat dengan kami.” Aku menatap kamera. “Satu-satunya proyek yang dia kerjakan adalah sebuah rumah. Di atas tanah yang nenek saya wariskan kepada saya. Rumah yang nenek saya minta dia bangun, tiga tahun lalu, di ruangan ini, di dekat pilar itu.” Aku menunjuk ke sisi kanan ballroom. Ke pilar. “Dia lupa janjinya. Nenek saya tidak.”

Aku melihat Opa di barisan paling belakang, di kursi yang Pak Karyo siapkan. Opa mengangguk pelan.

“Tentang tuduhan intimidasi fisik di acara gala.” Aku berhenti sebentar. “Tim legal kami sedang menanganinya. Saya tidak akan membahasnya lebih jauh. Saya hanya akan mengatakan ini: malam itu, di acara amal untuk program beasiswa yang kita luncurkan hari ini, seseorang menahan tangan saya di tempat di mana saya tidak bisa pergi. Dan seseorang membuatnya melepaskan tangan saya. Tanpa memukul. Tanpa berteriak.”

Hening.

“Kalau Anda mau bicara tentang dia,” kataku, “bicarakan pekerjaannya. Bicarakan ballroom ini. Bicarakan rumah-rumah yang dia bangun untuk orang-orang yang akan bangun pagi di dalamnya. Dia layak dibicarakan untuk hal-hal itu. Bukan untuk siapa yang dia cintai.”

Aku menarik napas.

“Dan kalau Anda ingin tahu siapa yang mengejar siapa,” kataku, dan untuk pertama kalinya aku tersenyum, senyum yang miring dan lebih tinggi di sisi kiri, “saya yang mengejar dia. Sembilan puluh lima hari. Dengan bunga matahari setiap pagi. Dia menolak saya berkali-kali. Dengan sangat sopan.”

Beberapa orang di ruangan itu tertawa. Tawa yang tidak gugup lagi.

“Terima kasih,” kataku. “Sekarang, program beasiswa.”


Aku berbicara tentang beasiswa selama sepuluh menit. Aku tidak ingat satu kata pun yang kuucapkan. Aku hanya ingat anak Pak Udin di barisan depan, yang naik ke panggung untuk menerima sertifikat dengan kacu pramuka dan tangan gemetar, dan membungkuk terlalu dalam kepada Papa, dan kepadaku, dan kemudian, di tangga turun panggung, kepada Ervan, yang berdiri di sisi dan membalas bungkukannya dengan canggung.

Setelah acara, ketika wartawan-wartawan berkerumun di depan panggung, Ervan tidak kabur ke belakang. Ia tetap berdiri di sisi. Seorang wartawan perempuan muda mendekatinya dengan perekam suara.

“Mas Ervan, ada tanggapan soal pernyataan Bu Monica?”

Ervan menatap perekam itu. Lalu menatapku, di atas panggung. Lalu kembali ke wartawan.

“Plafonnya,” katanya. “Kalau Mbak lihat ke atas, sambungan di sudut timur laut, di dekat lampu kristal ketiga. Itu yang retak kemarin. Sekarang udah aman.”

Wartawan itu berkedip. “Itu... tanggapannya?”

“Itu yang bisa saya omongin,” kata Ervan sopan. “Sisanya punya saya.”


Dua hari kemudian, portal gosip dengan tiga huruf kapital dan satu tanda seru menghapus artikelnya. Pengacara Harrison Group mengirim surat somasi ke Kenzo Aditama. Saham Harrison naik dua persen, yang menurut direktur pemasaran “tidak ada hubungannya dengan drama dan semua hubungannya dengan beasiswa,” dan menurut Papa “semua hubungannya dengan anak Papa.”

Klien Kemang tidak jadi batal. Klien Bintaro menelepon lagi hari Jumat dan minta maaf.

Dan pada hari Sabtu, di grup Harrison Cousins, Zara, yang sudah dua minggu tidak menulis apa pun, mengunggah sebuah tangkapan layar. Pernyataan pendek yang ia unggah di akun pribadinya, satu-satunya pernyataan publik yang pernah ia buat tentang semua ini.

Yang dibuang bukan dia. Yang membuang, saya. Yang bersalah, saya. Tolong berhenti.

Di bawahnya, di grup, Kayla membalas dengan satu stiker. Stiker kucing oranye yang mengangkat jempol.

Opa membalas dengan stiker yang sama. Empat puluh satu kali.

Kali ini, tidak ada yang bilang tombolnya terlalu dekat.