Chapter Thirty Four
Kabar untuk Keluarga Besar
POV: Ervan
“Satu syarat,” kataku.
Monica berhenti di tengah langkah. Kami sedang berjalan dari parkiran ke lift di gedung apartemennya, Kamis malam, dengan kantong plastik berisi martabak keju cokelat yang kubeli di Tebet karena Gilang bilang martabak adalah bahasa cinta universal.
“Syarat apa?”
“Hari Minggu. Di rumah Opa.” Aku menarik napas. “Nggak ada yang tepuk tangan.”
Monica menatapku.
“Nggak ada jempol,” kataku. “Nggak ada yang teriak. Nggak ada yang bilang akhirnya. Nggak ada taruhan.” Aku menatap kantong martabak di tanganku. “Aku tahu itu kedengeran aneh. Aku tahu mereka cuma seneng. Tapi aku...”
“Kamu nggak mau jadi piala lagi,” kata Monica pelan.
Aku mengangguk.
Monica tidak langsung menjawab. Ia berdiri di lorong parkiran basement yang berbau oli dan knalpot, dengan kemeja kerja yang sudah kusut di jam delapan malam dan rambut yang digelung asal-asalan, dan menatapku dengan mata Harrison yang di bawah lampu neon parkiran tidak memperlihatkan hijaunya.
Lalu ia mengeluarkan ponselnya.
“Kamu mau ngapain?”
“Nanya,” katanya. “Ke kamu. Boleh aku sampein syaratnya ke Mama? Mama yang pegang grup Harrison Mamas. Kalau Mama yang bilang, semua orang nurut. Kalau aku yang bilang, Papa bakal nganggap itu tantangan.”
Aku menatapnya. Ia bertanya. Tentang hal sekecil itu. Tentang siapa yang menyampaikan pesan.
“Boleh,” kataku.
Monica mengetik. Lalu menunjukkan layarnya kepadaku sebelum mengirim.
Monica: Ma. Minggu di rumah Opa. Ervan minta satu hal: nggak ada yang tepuk tangan, nggak ada jempol, nggak ada yang teriak. Tolong sampein ke semua orang. Terutama Papa.
Monica: Terutama Papa.
Monica: Ma, beneran. Terutama Papa.
Balasan Mama datang dalam sepuluh detik.
Mama: Sudah Mama urus. Papamu akan duduk di atas tangannya sendiri.
Mama: Mama tidak bercanda.
Rumah Opa di Menteng, hari Minggu pukul sebelas siang, penuh dengan orang yang berusaha sangat keras untuk tidak melakukan apa-apa.
Aku melihatnya dari pintu depan. Pak Karyo membukakan pintu dengan senyum yang ditahan sampai pipinya bergetar. Di ruang keluarga, di bawah kipas angin kayu dan potret Oma dalam kebaya biru pucat, keluarga Harrison duduk di sofa-sofa beludru hijau botol seperti menunggu pengumuman hasil ujian.
Om Richard duduk di sofa panjang sebelah kiri. Tangannya benar-benar di bawah pahanya. Kedua tangan. Diduduki. Wajahnya merah karena menahan sesuatu yang sangat besar.
Tante Sofia duduk di sampingnya dengan kalung mutiara dan ekspresi seorang jenderal yang sedang memastikan pasukannya tidak melanggar gencatan senjata.
Om Daniel dan Tante Ratna di sofa sebelah kanan. Tante Ratna memegang tisu. Om Daniel memegang tangan Tante Ratna.
Kayla duduk di lantai di dekat kaki ibunya, seperti malam di ruang tengah Pondok Indah. Tidak ada kamera di lehernya. Tidak ada gimbal.
Zara duduk di kursi dekat jendela. Sendirian. Dengan tangan terlipat di pangkuan dan wajah yang tenang.
Opa di kursi tunggal di bawah potret Oma, tongkat eboni di antara lutut.
Dan di ujung sofa panjang sebelah kiri, di samping Tante Sofia, dengan daster batik terbaiknya, kebaya brokat ungu yang hanya dipakai untuk kondangan, dan tas tangan kulit imitasi yang dipegang erat di pangkuan: Ibu.
Aku berhenti di ambang ruang keluarga.
“Bu?”
“Tante Sofia yang undang,” kata Ibu, dengan suara yang terlalu tinggi, seperti waktu ia menyamar jadi Bu Sri. “Kemarin. Ditelepon. Katanya Bu Laras harus datang, ini keluarga.“
Aku menoleh ke Monica. Monica menoleh ke Tante Sofia. Tante Sofia tersenyum dengan tenang.
“Monica bilang kamu minta tidak ada yang tepuk tangan,” kata Tante Sofia. “Kamu tidak bilang tidak boleh ada ibumu.”
Tidak ada yang tepuk tangan.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku sudah menyiapkan diri. Aku sudah memikirkannya sepanjang perjalanan dari Kuningan, di mobil dengan Monica di kursi penumpang yang terus memainkan ujung tali tasnya. Aku sudah membayangkan sorakan dan jempol dan akhirnya! dan perasaan dingin yang akan naik dari telapak kaki ketika aku berdiri di tengah ruangan ini, di atas karpet Persia yang sama, dan menjadi sesuatu yang ditonton.
Tidak ada yang tepuk tangan. Tidak ada yang bersorak.
Monica berdiri di sampingku di tengah ruang keluarga. Ia tidak memegang tanganku. Ia menoleh kepadaku, dan menunggu, dan aku mengerti: ia menungguku yang bicara. Atau tidak bicara. Terserah aku.
Aku menatap mereka satu per satu. Opa. Om Richard dengan tangan di bawah paha. Tante Sofia. Om Daniel. Tante Ratna dengan tisunya. Kayla. Zara. Ibu.
“Om, Tante,” kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Opa. Ibu.”
Semua orang menunggu.
“Saya sama Monica,” kataku, dan berhenti, karena aku tidak tahu kalimat apa yang tepat. Pacaran terdengar seperti anak SMA. Bersama terdengar seperti judul lagu. Sudah jadian terdengar seperti Gilang.
Monica meraih tanganku. Pelan. Ia tidak menggenggam. Ia hanya menyelipkan jarinya di antara jariku, seperti di bawah meja makan di ulang tahun Kayla. Seperti mengetuk.
“Saya sayang dia,” kataku akhirnya. “Saya mau minta izin. Ke semua orang di ruangan ini. Buat sayang sama dia di depan kalian. Bukan diam-diam.”
Hening.
Kipas angin kayu berputar. Jam kakek di sudut berdetak. Di luar jendela, seekor burung kutilang berkicau di pohon beringin yang lebih tua dari Republik.
Lalu Om Daniel berdiri.
Ia tidak tepuk tangan. Ia tidak bersorak. Ia berjalan dari sofa sebelah kanan, melewati karpet Persia, dan berhenti di depanku. Ia menatapku lama, dengan mata Harrison di balik kacamata yang sekarang lurus.
Lalu ia memelukku.
Pelukan bapak-bapak yang canggung dan terlalu keras, yang menepuk punggung dua kali. Seperti di meja makan, malam aku minta izin melamar anaknya. Seperti di teras, malam aku pamit. Seperti memastikan sesuatu yang retak.
“Kamu tetap anak Om,” katanya ke bahuku. Suaranya pecah. “Kamu dengar? Dari keluarga mana pun. Kamu tetap anak Om.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku mengangguk ke bahunya.
Om Daniel melepaskan pelukan dan menatap Monica. Ia menepuk bahu keponakannya itu sekali, pelan. Lalu ia kembali ke sofa, duduk di samping Tante Ratna, dan melepas kacamatanya untuk mengusap matanya.
Tante Ratna tidak berdiri. Ia hanya menatapku dari sofa, dengan tisu yang sudah basah, dan tersenyum. Senyum yang sama seperti di ujung meja makan di pesta Kayla, ketika aku bilang paling enak, Tante.
Opa mengetuk lantai dengan tongkat eboninya. Sekali. Pelan.
“Duduk,” kata Opa. “Makan.”
Makan siang di rumah Opa disajikan di meja panjang di ruang makan, di bawah lampu gantung kristal yang sudah ada sejak zaman Belanda. Pak Karyo dan dua pelayan menyajikan semuanya: sup buntut, gurami bakar, sayur asem, sambal terasi, kerupuk.
Dan rendang. Dari Tante Ratna. Dua hari.
Dan opor. Dari Ibu. Resep Bapak.
Aku melihat Tante Ratna menatap mangkuk opor di tengah meja. Aku melihat Ibu menatap piring rendang. Dua perempuan yang belum pernah bertemu sebelum hari ini, yang masing-masing pernah memasak untukku setiap minggu, duduk berseberangan di meja panjang dan saling menatap masakan satu sama lain dengan ekspresi yang sangat mirip.
Tante Ratna mengambil sesendok kuah opor. Ia mencicipinya.
Ibu mengambil sepotong rendang. Ia mencicipinya.
Mereka saling menatap.
“Bu Laras,” kata Tante Ratna. “Ini sereh-nya digeprek atau diiris?”
“Digeprek, Bu. Tiga batang. Terus diikat biar nggak berantakan.” Ibu menatap rendang di piringnya. “Bu Ratna, ini kelapanya disangrai berapa lama?”
“Sampai cokelat tua. Hampir gosong. Satu jam.”
“Satu jam?”
“Harus sabar, Bu.”
Ibu dan Tante Ratna saling menatap lagi. Lalu, tanpa peringatan, mereka berdua tertawa. Tawa yang sama, yang meledak di akhir seperti kompor yang baru dinyalakan.
Tante Sofia, di ujung meja, mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik sesuatu. Lalu menatap Ibu.
“Bu Laras,” kata Tante Sofia. “Boleh saya minta nomor Ibu? Saya mau masukin ke satu grup.”
“Grup apa, Bu?”
“Harrison Mamas,” kata Tante Sofia dengan tenang.
Di sampingku, Monica tersedak sup buntut.
Om Richard bertahan satu jam empat puluh menit.
Aku tahu, karena Monica menghitungnya. Ia berbisik kepadaku di tengah makan siang, Papa udah satu jam, kamu lihat mukanya, dia kayak mau meledak. Om Richard memang terlihat seperti mau meledak. Ia makan dengan satu tangan, karena tangan yang lain masih berada di bawah paha, dan setiap kali ada yang tertawa, ia menggigit bibir bawahnya.
Di menit ke seratus tiga, ketika Pak Karyo membawa es buah untuk pencuci mulut, Om Richard berdeham.
Semua orang menoleh.
“Saya mau bilang satu hal,” kata Om Richard. “Boleh?”
Ia tidak menatap Tante Sofia. Ia menatapku.
Aku tidak menduga itu. Ia bertanya kepadaku. CEO Harrison Group, yang pernah mengusir tamu dari lift dengan dua jempol dan bilang ganteng! keras-keras, yang mengundangku makan malam pakai suara kesepian, bertanya kepadaku apakah ia boleh bicara.
“Boleh, Om,” kataku.
Om Richard mengeluarkan tangannya dari bawah paha. Tangannya merah karena diduduki satu jam empat puluh menit. Ia meletakkannya di atas meja.
“Saya minta maaf,” katanya.
Meja itu sunyi.
“Monica cerita. Soal rekaman. Soal kamu ngerasa jadi piala.” Om Richard menatap tangannya sendiri. “Dan saya... saya ikut bikin itu. Jempol di lift. Undangan tinta emas. Pokoknya yang ini di depan kamar mandi, sambil kamu benerin keran saya. Saya pikir saya lagi nyambut kamu. Saya nggak sadar saya lagi nonton kamu.”
Ia mengangkat kepala.
“Saya CEO. Saya terbiasa ngerayain yang menang. Saya lupa kamu bukan tender.” Om Richard menarik napas. “Kamu orang. Anak orang. Anaknya Bu Laras. Dan saya harusnya nanya kamu dulu, sebelum saya teriak-teriak soal kamu ke satu hotel.”
Aku menatap Om Richard. Laki-laki berumur lima puluh delapan tahun, dengan kemeja batik sutra dan jam tangan emas, yang pernah jadi Romeo di pentas SMA dan menangis di depan keran angsa.
“Om,” kataku. “Keran angsanya masih bagus?”
Om Richard berkedip.
“Masih,” katanya. “Nggak bocor sama sekali.”
“Kalau bocor lagi, Om telepon saya.”
Om Richard menatapku lama. Lalu, pelan, matanya berkaca-kaca, dan ia menoleh ke Tante Sofia.
“Sofia,” bisiknya. “Dia bilang telepon dia.”
“Aku dengar, Richard.”
“Boleh aku acungin jempol sekarang?”
“Richard.“
Om Richard memasukkan tangannya kembali ke bawah paha. Seluruh meja tertawa. Aku juga. Dan ketika aku tertawa, aku menyadari sesuatu: ini bukan tepuk tangan. Ini bukan penonton. Ini keluarga yang tertawa karena seorang laki-laki tua tidak bisa berhenti mencintai anaknya dengan cara yang memalukan.
Aku tidak merasa seperti piala. Aku merasa seperti orang yang duduk di meja makan.
Kayla mendekatiku di teras belakang setelah makan siang, ketika Ibu dan Tante Ratna dan Tante Sofia sudah menghilang ke dapur Opa untuk “bertukar resep”, yang dari suaranya lebih mirip rapat intelijen.
Ia berdiri di sampingku, menatap halaman berumput dan pohon beringin.
“Kak,” katanya. “Boleh aku minta sesuatu?”
“Apa?”
“Aku mau rekam.” Ia tidak menatapku. “Bukan sekarang. Nanti. Kalau ada momen. Buat tugas akhirku yang baru. Dosen pembimbingku bilang film kakek layangan terlalu sentimental. Aku mau bikin yang lebih sentimental lagi, biar dia kesel.”
Aku tertawa.
“Tapi aku nanya dulu,” kata Kayla. Sekarang ia menatapku. “Kali ini aku nanya dulu. Boleh aku rekam? Kakak yang putusin. Kalau Kakak bilang nggak, aku nggak rekam. Sama sekali. Selamanya.”
Aku menatap adik perempuan yang pernah kugendong di punggung di pantai Anyer. Yang pernah menulis shot list dengan huruf kapital dan tanda seru. Yang menghapus video dari lima tempat. Yang berdiri di balik pohon mangga dan memutuskan kapan sebuah adegan sudah menunggu terlalu lama.
“Boleh,” kataku. “Tapi shot satu yang dulu jangan dihapus.”
Kayla tersenyum. Matanya basah. “Nggak akan pernah, Kak.”
Zara menemuiku di gerbang ketika aku akan pulang. Monica sedang di dalam, dipeluk Tante Ratna untuk kesekian kalinya.
Zara berdiri di samping pilar putih rumah kolonial itu, dengan tangan di saku celana jins. Ia tidak mendekat terlalu dekat.
“Selamat, Van,” katanya.
Tidak ada nada pahit. Tidak ada nada apa pun kecuali nada yang pelan dan lelah dan, entah bagaimana, lega.
“Makasih, Zara.”
“Aku berangkat dua minggu lagi. Singapura.” Ia menatap halaman. “Sebelum berangkat, aku mau ketemu kamu. Sekali. Ada yang harus aku kembaliin.”
Aku tahu apa yang ia maksud. Aku sudah tahu sejak malam itu, sejak kotak beludru hangat di saku kiri diletakkan di samping buket mawar di atas meja jati.
“Oke,” kataku.
Zara mengangguk. Lalu ia menatap ke dalam rumah, ke arah ruang keluarga, di mana Monica sedang tertawa dengan Kayla di bawah potret Oma.
“Dia beda,” kata Zara pelan. “Monic. Sejak kamu.”
“Beda gimana?”
“Dia nanya sekarang.” Zara tersenyum tipis. “Dari kecil dia nggak pernah nanya. Dia cuma jalan. Sekarang dia nanya. Tadi di meja, dia nanya ke aku mau es buah atau nggak, sebelum ngambilin.” Zara menggeleng. “Dua puluh enam tahun, Van. Dia nggak pernah nanya aku mau apa.”
Aku menatap ke dalam rumah. Ke perempuan dengan mata yang ada hijaunya, yang sedang tertawa sampai kepalanya miring.
“Aku juga beda,” kataku.
“Aku tahu.” Zara tersenyum. “Kamu ketawa.”
Di mobil, dalam perjalanan pulang, Ibu duduk di kursi belakang dan tidak berhenti mengetik di ponselnya.
“Bu,” kataku lewat spion. “Ibu ngetik apa?”
“Grup,” kata Ibu tanpa mengangkat kepala.
“Grup apa?”
“Harrison Mamas.” Ibu mengetik lebih cepat. “Bu Ratna minta resep opor. Bu Sofia minta resep kue lapis. Bu Maureen, siapa itu Bu Maureen, kirim anggrek.”
Monica, di kursi depan di sampingku, menutup mulut dengan kedua tangan.
“Bu,” kataku. “Ibu tahu grup itu isinya apa?”
“Ibu baru masuk dua jam, Van.” Ibu akhirnya mengangkat kepala. Matanya berbinar, dengan cara yang tidak kulihat sejak lama. Sejak sebelum Bapak meninggal. “Tapi Ibu udah tahu satu hal.”
“Apa, Bu?”
Ibu tersenyum lewat spion.
“Mereka udah mulai ngomongin tanggal,” katanya.
Monica menjerit kecil dan menutupi seluruh wajahnya dengan tas.
Aku menatap jalan di depan. Aku tidak mengerem. Aku tidak mendadak dingin. Aku menyetir dengan dua tangan di setir, dan dadaku terasa hangat sampai ke ujung jari, dan di tengah kehangatan itu, di bawah tulang rusuk, batu yang lama masih ada.
Tapi batu itu sekarang terasa kecil. Seperti batu kali sebesar kepala bayi, yang diletakkan di sudut timur laut sebuah rumah, di sudut yang pertama kena matahari.
Fondasi. Bukan luka.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar reading
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk