← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Fifteen

Kelas Masak Bu Laras

POV: Monica

Sabtu pertama, aku membakar tempe.

Bukan menggoreng sampai kecokelatan. Membakar. Sampai hitam, sampai berasap, sampai alarm asap di dapur Bu Laras, yang ternyata dipasang Ervan dua tahun lalu dan tidak pernah berbunyi sejak dipasang, meraung dengan suara yang membuat Mang Ujang di warung seberang berlari ke pagar sambil membawa ember air.

“Nggak apa-apa, Jang!” teriak Bu Laras dari jendela dapur. “Latihan!”

“Latihan apa, Bu?”

“Latihan jadi mantu!”

Aku menjatuhkan spatula ke dalam wajan.


Sabtu kedua, aku mengiris jari.

Bawang merah. Seharusnya diiris tipis-tipis untuk bawang goreng. Aku mengirisnya tipis-tipis, sangat tipis, dengan konsentrasi penuh dan lidah menjulur di sudut bibir, sampai irisan kelima belas, ketika Bu Laras mulai bercerita tentang Ervan waktu berumur empat tahun yang membongkar remote televisi, tidak bisa memasangnya kembali, lalu menyembunyikan komponen-komponennya di bawah kasur dan pura-pura remote-nya diculik tuyul.

Aku tertawa. Pisaunya meleset. Ujung jari telunjuk kiriku berdarah.

Bu Laras tidak panik. Bu Laras tidak pernah panik. Ia mengambil kotak P3K dari lemari rotan, membersihkan lukanya dengan air matang, meneteskan obat merah, dan membalutnya dengan plester bergambar Doraemon yang katanya sisa waktu Ervan SD.

“Masih ada?” tanyaku, menatap plester Doraemon di jariku. “Dari zaman Ervan SD?”

“Ibu nggak pernah buang apa-apa punya dia.” Bu Laras menepuk-nepuk plester itu supaya menempel. “Tuyulnya juga masih ada. Komponen remote-nya. Ibu simpan di kaleng Khong Guan.”

Aku menatapnya. Bu Laras menatapku balik dengan wajah serius, lalu tersenyum.

“Nanti Ibu tunjukin,” katanya. “Kalau kamu udah resmi.”


Sabtu ketiga dan keempat, aku belajar sayur asem dan sambal terasi. Sayur asemku terlalu asam. Sambal terasiku terlalu berterasi, sampai Bu Laras harus membuka semua jendela dan Mang Ujang, sekali lagi, datang ke pagar dengan wajah curiga.

Sabtu kelima, Bu Laras menatapku lama di depan kompor sebelum kami mulai.

“Nduk,” katanya. “Kamu datang tiap Sabtu. Pas Ervan di Puncak.”

“Iya, Bu.”

“Kamu minta Ibu jangan bilang ke dia.”

“Iya, Bu.”

“Kenapa?”

Aku memikirkannya. Aku sudah memikirkannya sejak Sabtu pertama, sejak tempe gosong dan alarm asap. Aku memikirkannya di mobil setiap perjalanan pulang, dengan jari yang diplester dan rambut yang bau bawang goreng.

“Karena kalau dia tahu,” kataku pelan, “dia bakal mikir aku lakuin ini buat dia.”

“Emang buat dia, kan?”

“Iya. Tapi bukan buat bikin dia terkesan.” Aku menunduk menatap talenan. “Awalnya iya. Awalnya aku mau bikin dia lihat aku bisa masak. Bisa jadi... bisa jadi orang yang dia butuhin. Kayak nambah poin di spreadsheet.” Aku tertawa kecil. “Tasya bikin spreadsheet, Bu. Ada grafiknya.”

Bu Laras tidak tertawa. Ia hanya menunggu.

“Tapi sekarang,” kataku, “aku datang karena aku pengin. Aku suka di sini. Aku suka dapur ini. Aku suka Ibu cerita soal remote dan tuyul. Aku suka...” Suaraku mengecil. “Aku suka tahu hal-hal tentang dia yang dia sendiri udah lupa. Kayak nyimpen sesuatu buat dia. Buat nanti, kalau dia udah bisa nerima.”

Bu Laras menatapku lama sekali. Lalu ia mematikan kompor yang belum dinyalakan, sebuah gerakan kebiasaan yang tidak masuk akal tapi terasa seperti tanda bahwa ia akan mengatakan sesuatu yang penting.

“Kalau gitu,” katanya, “hari ini kita nggak masak sayur asem.”

“Masak apa, Bu?”

Bu Laras berjalan ke lemari rotan, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus plastik. Buku tulis tua bersampul cokelat, sudah menguning, dengan sudut-sudut yang melengkung. Di sampulnya, dengan tulisan tangan laki-laki yang tegak dan besar, tertulis: RESEP. JANGAN DIPINJAM.

“Punya Bapaknya Ervan,” kata Bu Laras.

Ia membuka buku itu di halaman yang sudah terbuka sendiri, halaman yang pasti paling sering dibuka. Tulisan tangan yang sama, tegak dan besar, dengan noda minyak di sudut-sudutnya.

NASI GORENG KAMPUNG. MINGGU PAGI. BUAT VAN.

“Tiap Minggu pagi,” kata Bu Laras, “Bapaknya bikinin ini. Dari Ervan umur lima tahun sampai umur tujuh belas. Nggak pernah absen. Kalau Bapaknya lagi tugas luar kota, dia pulang Sabtu malam naik bus malam, supaya Minggu pagi bisa masak ini.”

Aku menatap halaman itu. Daftar bahan dengan huruf tegak. Bawang merah, bawang putih, cabai rawit tiga saja karena Van nggak kuat pedas, terasi sedikit, kecap manis, telur ceplok yang kuningnya harus setengah matang karena Van suka menusuknya dan melihatnya meleleh.

“Setelah Bapaknya meninggal,” kata Bu Laras, “Ibu nggak pernah bikin ini lagi. Ibu nggak bisa. Tiap kali Ibu buka buku ini, tangan Ibu gemetar.” Ia mengusap halaman itu dengan ujung jari. “Ervan juga nggak pernah minta. Dua belas tahun. Dia nggak pernah minta nasi goreng lagi. Kalau ada yang nawarin nasi goreng, dia pilih mi. Kalau di kondangan ada nasi goreng, dia ambil nasi putih.”

Aku tidak bisa bicara.

“Kamu mau belajar ini?” tanya Bu Laras.

Aku mengangguk. Air mataku jatuh ke talenan, di samping bawang merah yang belum diiris.

“Jangan nangis di atas talenan, Nduk,” kata Bu Laras lembut, mengusap pipiku dengan ujung celemeknya. “Nanti bawangnya asin.”


Aku mengirim pesan ke Tasya malam itu, dari lantai apartemenku, di balik pintu.

Monica: Tas. Hapus tab HAMBATAN.

Tasya: Kenapa?

Monica: Sama grafik batangnya. Hapus aja.

Tasya: Grafik batangnya penting buat moral pasukan.

Monica: Aku nggak mau jadi pasukan lagi.

Tiga titik muncul lama.

Tasya: Mon. Kamu nyerah?

Monica: Nggak. Justru sebaliknya.
Monica: Aku nggak mau menang lagi, Tas. Aku cuma mau dia baik-baik aja. Beneran baik-baik aja. Bukan yang dia bilang ke semua orang.
Monica: Kalau aku yang bikin dia baik, aku seneng. Kalau orang lain, aku... aku bakal sedih banget, tapi aku tetap seneng.

Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Lama sekali.

Tasya: Oke.
Tasya: Tab HAMBATAN udah dihapus. Grafik batang udah dihapus.
Tasya: Aku bikin tab baru.

Monica: Tab apa?

Tasya: Namanya “YANG DIA LUPA.” Kamu isi sendiri. Aku nggak akan baca.

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku membuka spreadsheet di laptop. Tab baru, kosong, dengan satu kolom.

Aku mulai mengetik.

Remote TV, umur 4 tahun, disembunyikan di bawah kasur. Tuyul. Kaleng Khong Guan.
Nasi goreng kampung. Minggu pagi. Cabai 3. Telur setengah matang, suka ditusuk.
Jendela menghadap timur. Supaya matahari yang bangunin.
Satu lagu piano. Dari kaset. Tiga bulan.

Aku berhenti. Lalu mengetik satu lagi.

Dia pernah bisa tersenyum di depan pintu. Kayla punya videonya.


Sabtu keenam, aku berhasil.

Nasi goreng kampung. Dengan bawang merah yang diiris tipis tanpa berdarah, cabai rawit tiga saja, terasi sedikit, kecap manis yang dituang melingkar seperti yang ditulis di buku, dan telur ceplok yang kuningnya setengah matang, bergoyang sedikit ketika piringnya digeser.

Bu Laras mencicipinya. Satu suap. Lalu ia meletakkan sendok, menatap piring itu, dan tidak mengatakan apa-apa selama waktu yang sangat lama.

“Bu?”

“Rasanya sama,” kata Bu Laras pelan. “Rasanya sama, Nduk.”

Ia tidak menangis. Tapi ia memegang tanganku di atas meja, tangan yang sekarang punya dua plester Doraemon dan satu bekas luka bakar kecil dari dandang, dan menggenggamnya lama sekali.

Lalu, dari luar, terdengar suara mesin mobil.

Avanza. Aku mengenali suara mesinnya sekarang. Suara mesin yang agak serak di gigi rendah, seperti orang yang batuk sebelum bicara.

Bu Laras melompat berdiri. Aku melompat berdiri. Kami saling menatap dengan wajah panik yang sama persis.

“Katanya dia di Puncak sampai sore!” bisikku.

“Hujan!” bisik Bu Laras balik. “Pak Asep pasti bilang hujan!”

Aku melihat ke jendela dapur. Langit di atas kebun pisang tetangga memang berubah gelap. Gerimis mulai turun.

Pintu pagar berderit.

“Sembunyi!” bisik Bu Laras.

“Di mana?”

Bu Laras menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik, lalu menunjuk pintu kecil di ujung lorong dapur. Kamar mandi.

Aku berlari ke sana dengan kaki telanjang, masuk, dan menutup pintu. Aku berdiri di dalam kamar mandi kecil berlantai keramik biru muda, dengan bak air dan gayung plastik hijau dan sabun batangan murah di tempat sabun, dengan jantung berdebar seperti pencuri.

Dari luar, aku mendengar pintu depan terbuka.

“Bu? Ibu masak? Baunya kayak...” Suara Ervan berhenti. Lama. “Baunya kayak nasi goreng.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Ibu lagi latihan, Van!” Suara Bu Laras terlalu tinggi. “Iseng! Buat Bu Sri!”

“Nasi goreng buat Bu Sri?”

“Bu Sri... Bu Sri minta resep! Ibu cobain dulu!”

Hening. Aku membayangkan Ervan berdiri di ambang dapur, menatap piring nasi goreng kampung di atas meja dengan telur ceplok setengah matang.

“Bu,” kata Ervan. Suaranya berubah. Lebih pelan. “Ini...”

“Ibu mau ke depan dulu, Van, kayaknya ada paket!” potong Bu Laras. “Kamu... kamu mandi dulu sana! Basah!”

Tidak. Tidak, Bu Laras. Jangan suruh dia mandi.

Langkah kaki di lorong. Mendekat. Aku menempelkan punggung ke dinding kamar mandi, di samping bak air, dan menahan napas.

Langkah kaki berhenti di depan pintu.

Lalu aku mendengarnya.

Tok.

Tok.

Tok.

Tiga ketukan. Pelan. Berjarak sama. Di pintu kamar mandi rumahnya sendiri.

Dan kemudian, hening.


Aku sudah tahu soal ketukan itu. Bu Laras sudah memberitahuku di depan bak cuci. Aku sudah memikirkannya berhari-hari, sudah menangis karenanya di mobil dan di lift dan di lantai di balik pintu apartemenku.

Tapi aku belum pernah mendengarnya dari sisi ini.

Dari sisi dalam pintu.

Ketukan itu tidak terdengar seperti ketukan sopan. Tidak seperti ketukan tamu di kamar hotel, atau kurir di pintu studio, atau aku sendiri di hari pertama di pintu kaca buram. Ketukan itu terdengar seperti pertanyaan. Seperti seseorang yang bertanya apakah aman? kepada ruangan yang seharusnya selalu aman.

Dan hening sesudahnya. Hening yang terlalu panjang. Aku menghitungnya. Lima detik. Delapan detik. Sepuluh. Ia tidak memutar kenop. Ia berdiri di sana, di balik pintu kayu tipis ini, menunggu. Menunggu jawaban dari kamar mandi yang ia tahu, seharusnya ia tahu, kosong.

Menunggu, seperti setiap malam, supaya tidak ada yang menunggunya di balik pintu.

Dua belas detik.

Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkannya berdiri di sana, menunggu ruangan kosong menjawab, sementara di dalam ruangan itu ada aku.

“Ada orang,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku mengubah suaraku. Mungkin panik. Suara yang keluar dari tenggorokanku tinggi dan bergetar, seperti ibu-ibu berumur enam puluh tahun yang terkejut. Seperti Bu Sri.

Hening di luar.

“Oh,” kata Ervan. Suaranya bingung. “Maaf. Bu Sri?”

“Iyaaa,” kataku dengan suara ibu-ibu yang paling meyakinkan yang bisa kukeluarkan. “Numpang, Nak. Air di rumah mati.”

“Oh. Iya, Bu. Silakan. Maaf, Bu.”

Langkah kaki menjauh. Ke arah depan. Aku mendengar suara Bu Laras dari teras berkata sesuatu tentang paket yang ternyata tidak ada, lalu suara Ervan yang bertanya kenapa Bu Sri numpang mandi siang-siang, lalu suara Bu Laras yang bilang pompa airnya rusak, kamu kan tahu pompa Bu Sri emang sering rusak, lalu suara Ervan yang bilang ia bisa memperbaikinya sekarang juga, lalu suara Bu Laras yang panik dan bilang jangan! Nanti aja! Bu Sri lagi... lagi malu!

Pintu belakang dapur. Aku ingat ada pintu belakang dapur, yang menuju ke kebun pisang tetangga.

Aku keluar dari kamar mandi dengan kaki telanjang, berjinjit melewati dapur, melewati meja dengan piring nasi goreng yang sekarang dingin, melewati buku resep bersampul cokelat. Aku menemukan sandalku di dekat pintu belakang, memakainya dengan terburu-buru, membuka pintu, dan berlari ke kebun pisang di bawah gerimis.

Salah satu sandalku tersangkut di akar pisang.

Aku tidak berhenti untuk mengambilnya.


Pak Harun menjemputku di ujung gang, di depan musala, tempat aku menyuruhnya menunggu setiap Sabtu. Aku masuk ke mobil dengan satu sandal, kaki kanan berlumpur, rambut basah kena gerimis, dan napas terengah-engah.

Pak Harun menatapku lewat spion. “Bu Monica... sandalnya...”

“Jalan, Pak.”

Mobil berjalan. Aku menyandarkan kepala ke kursi dan menatap langit-langit mobil.

Lalu aku tertawa. Aku tertawa sampai Pak Harun melirik lewat spion dengan khawatir. Aku tertawa karena suara Bu Sri. Karena kebun pisang. Karena satu sandal. Karena Bu Sri lagi malu.

Lalu aku menangis. Masih tertawa, tapi menangis juga. Aku menangis karena tiga ketukan di pintu kamar mandi. Karena dua belas detik hening sesudahnya. Karena seorang laki-laki yang berdiri di rumahnya sendiri dan bertanya kepada setiap pintu apakah aman untuk masuk.

Ponselku bergetar.

Bu Laras: Nduk. Sandalmu ketemu. Ervan yang nemu di kebun pisang.
Bu Laras: Ibu bilang itu sandal Bu Sri.
Bu Laras: Ervan tanya sejak kapan Bu Sri pakai sandal yang logonya huruf H.
Bu Laras: Ibu bilang Bu Sri anaknya kerja di Jakarta, sukses.

Aku menutup wajah dengan tangan.

Bu Laras: Tapi Nduk.
Bu Laras: Dia makan nasi gorengnya.
Bu Laras: Nasi goreng yang udah dingin. Habis. Telurnya dia tusuk dulu, kayak waktu kecil.
Bu Laras: Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma duduk lama di meja habis makan.
Bu Laras: Dua belas tahun, Nduk.

Aku menekan ponsel itu ke dadaku.

Di luar jendela mobil, gerimis berhenti. Langit di atas Ciledug mulai terang lagi.

Tab YANG DIA LUPA di spreadsheet-ku bertambah satu baris malam itu. Aku menulisnya dengan jari yang diplester Doraemon.

Rasanya nasi goreng Minggu pagi. Sekarang dia ingat lagi.