← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Thirty Seven

Delapan Puluh Tiga

POV: Monica

Aku tahu ada yang salah dengan Ervan sejak hari Kamis, tiga minggu sebelum ulang tahun Opa.

Bukan salah yang besar. Bukan salah seperti studio yang gelap dan ponsel yang menyala di tangannya. Salah yang kecil. Salah yang hanya bisa dilihat kalau kamu berdiri cukup dekat.

Ia masih mengirim bunga matahari setiap pagi pukul sembilan lewat lima belas. Kartu putih, tulisan tegak. Hari 15: Pak Asep bilang kacanya udah dibersihin. Dia bilang kalau kamu lihat matahari terbit dari situ sekarang, silaunya dua kali lipat. Aku bilang itu bagus. Dia bilang aku bucin. Aku nggak tahu dia belajar kata itu dari mana.

Ia masih datang ke apartemenku Rabu malam dan memasak nasi goreng di dapur dengan rak bumbu terbuka. Ia masih memanggilku Monic dengan cara yang membuat Tasya pura-pura muntah. Ia masih bilang aku cantik dengan nada laporan teknis, tiba-tiba, di tengah kalimat lain. Genteng dari Jatiwangi datang lagi buat gudang belakang. Kamu cantik banget pakai kacamata baca. Pak Asep minta tambahan dua tukang.

Tapi sejak hari Kamis itu, ada sesuatu di bahunya.

Sesuatu yang tegang. Yang tidak ada waktu ia duduk di ambang jendela kayu jati denganku di bawah matahari terbit. Yang tidak ada waktu ia memainkan lagu Bapaknya di piano yang sumbang. Tegang yang muncul kalau ia pikir aku tidak melihat. Ketika ia menatap tanganku terlalu lama. Ketika Tante Sofia, di grup Harrison Mamas yang sekarang juga diikuti Bu Laras, menulis sesuatu tentang gedung yang bagus untuk resepsi, dan Bu Laras meneruskannya ke Ervan dengan tambahan stiker hati, dan Ervan membaca pesan itu dan meletakkan ponselnya tertelungkup di meja.

Seperti malam itu. Di dasbor Avanza. Dengan empat puluh tujuh panggilan tak terjawab.


“Tas,” kataku, Senin minggu kedua. “Gilang cerita sesuatu soal Ervan?”

Tasya sedang mengetik. Ia tidak berhenti mengetik. Tapi ketikannya melambat. Sedikit. Cukup untuk kuperhatikan.

“Nggak,” katanya.

“Tas.”

“Kami sepakat nggak ngomongin kalian, Mon. Kamu tahu itu.”

“Itu waktu kami lagi aneh. Sekarang kami udah nggak aneh.”

“Justru itu.” Tasya akhirnya berhenti mengetik dan menatapku dari balik kacamata bulat. “Sekarang kalian udah nggak aneh, jadi aku makin nggak boleh ngomong.”

Aku menatapnya. Sepuluh tahun persahabatan. Aku tahu setiap ekspresi di wajah Tasya. Aku tahu wajah Tasya waktu ia tidak setuju, wajah Tasya waktu ia marah, wajah Tasya waktu ia sedih tapi pura-pura tidak. Aku tahu wajah Tasya waktu ia menyembunyikan sesuatu yang besar.

Wajahnya sekarang adalah wajah yang terakhir. Dengan ujung telinga yang merah.

“Tas,” kataku pelan. “Dia baik-baik aja?”

Tasya menatapku lama. Lalu ia menutup laptopnya. Ia melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan ujung jari, sesuatu yang hanya ia lakukan kalau ia sangat lelah atau sangat bimbang.

“Dia pesan sesuatu,” kata Tasya akhirnya. “Di Pasar Baru. Di toko Koh Liem.”

Aku berhenti bernapas.

“Aku nggak boleh bilang apa. Gilang bakal bunuh aku. Dan aku nggak tahu detailnya, beneran. Aku cuma tahu itu dari toko perhiasan, dan itu jadi hari Kamis minggu depan.” Tasya memakai kacamatanya lagi. “Dan Gilang bilang...”

“Bilang apa?”

“Gilang bilang dia takut.” Tasya menatapku. “Bukan takut sama kamu. Takut berlutut. Gilang bilang tiap kali ada yang nyebut kata ngelamar, Ervan jadi dingin lagi. Kayak dulu. Kayak waktu kalian baru ketemu.”

Kantorku tiba-tiba terasa sangat sunyi.

Aku memikirkan koridor berkarpet tebal di lantai dua puluh tiga. Kotak beludru di saku kiri, dipindah empat kali di pagi hari karena saku kiri lebih dekat ke jantung. Kayla dengan shot list. Shot 4: Berlutut. Slow motion kalau bisa.

Ia tidak pernah sampai ke shot empat. Ia tidak pernah sempat berlutut. Tapi ia sudah siap. Ia sudah memikirkannya. Lutut kanan, bukan kiri, karena kiri untuk ksatria, kata Gilang dalam checklist laminating.

Dan ketika ia membuka pintu, lantainya runtuh.

“Tas,” kataku. Suaraku keluar pelan. “Koh Liem di Pasar Baru?”

Tasya menatapku dengan wajah yang tiba-tiba panik. “Mon. Mon, jangan. Apa pun yang kamu pikirin sekarang, jangan.”

Aku sudah berdiri.

“Mon! Kamu nggak pakai rem lagi!”

“Aku pakai,” kataku sambil mengambil tas. “Aku cuma ganti arah.”


Aku tidak akan menceritakan semua yang terjadi di toko Koh Liem hari itu. Sebagian karena Koh Liem memintaku bersumpah untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun, dengan tangan di atas etalase kaca, seperti di pengadilan. Sebagian lagi karena aku tertawa terlalu keras dan menangis terlalu banyak, dan Koh Liem harus menutup tokonya selama dua puluh menit dan membuatkanku teh.

Yang boleh kuceritakan hanyalah ini: Koh Liem menatapku dari balik kacamata tebalnya dengan lup yang dijepit di satu lensa, lama sekali, ketika aku masuk dan menyebutkan nama Ervan. Lalu ia tersenyum. Senyum orang tua yang sudah melihat ribuan orang berdiri di depan etalase kacanya, dan belum pernah melihat yang seperti ini.

“Mbak yang matanya ada hijaunya,” katanya.

Aku tidak mengerti. Aku tidak bertanya. Aku hanya bilang aku mau memesan sesuatu, dan harus jadi dalam dua minggu, dan tidak boleh ada yang tahu.

Koh Liem mengangguk. Ia mengeluarkan buku pesanan. Lalu ia berhenti, dan menatapku lagi, dan tertawa, tawa yang kecil dan serak dan sangat, sangat geli.

“Di toko ini,” katanya, “saya belum pernah punya dua rahasia yang saling nunggu di laci yang sama.”


Ulang tahun Opa ke-83 jatuh pada hari Sabtu, di ballroom Harrison Grand.

Lima ratus tamu. Sama seperti tiga tahun lalu. Opa bersikeras. Opa mau ballroom-nya penuh lagi. Seperti waktu Dorothy masih ada.

Aku bekerja sejak pukul enam pagi. Itu yang kulakukan di acara seperti ini. Urutan pidato. Tempat duduk. Duta besar yang tidak boleh duduk bersebelahan. Istri menteri yang alergi udang. Aku bergerak di antara meja-meja dengan gaun hijau zamrud panjang yang dipilih Mama, rambut disanggul rendah di tengkuk, walkie-talkie di tangan.

Setiap meja tamu dihias bunga matahari. Sebelas tangkai di setiap meja. Lima puluh meja. Lima ratus lima puluh tangkai. Mbak Ratih yang mengusulkannya, dengan uang hadiah taruhan yang katanya harus dipakai untuk bunga matahari, selamanya.

Dan di setiap meja, bendera merah putih kecil. Opa yang minta. Ulang tahun Opa bukan tanggal tujuh belas Agustus. Tapi Opa bilang ia mau bendera kecil itu ada. Supaya ada yang ingat.

Ervan datang pukul tujuh malam.

Aku melihatnya dari panggung, tempat aku sedang mengecek mikrofon. Ia masuk dari pintu samping, memakai setelan jas hitam yang sama dengan di gala amal, kemeja putih, dan kali ini, dasi. Dasi hijau tua. Aku tidak tahu ia punya dasi hijau.

Ia berhenti di ambang pintu dan mendongak ke plafon. Ke sambungan di sudut timur laut, di dekat lampu kristal ketiga. Memastikan.

Lalu ia menurunkan pandangannya dan mencariku.

Ia tidak berjalan ke pilar. Aku menahan napas, menunggu ia berjalan ke pilar di sisi kanan ballroom, ke tempat ia berdiri tiga tahun lalu dengan jus jeruk yang hangat dan kemeja batik yang dibeli kemarin sore. Ke tempat ia berdiri di gala amal.

Ia tidak berjalan ke pilar. Ia berjalan ke panggung. Ke arahku.

Ia berhenti di bawah panggung dan menatapku ke atas.

“Kamu cantik banget,” katanya. “Hijaunya pas sama matamu.”

Di sampingku, teknisi suara yang sedang memegang mikrofon menjatuhkannya.


Pukul delapan, Opa berpidato.

Opa tidak pernah berpidato panjang. Opa selalu bilang pidato yang baik itu seperti teh yang baik: tidak perlu banyak gula. Ia berdiri di mimbar dengan tongkat eboni dan setelan jas abu-abu yang dijahit di Savile Row lima puluh tahun lalu dan masih pas, dan menatap lima ratus tamu dengan mata Harrison yang sudah keriput.

Ia berterima kasih kepada semua yang datang. Ia menyebut nama Oma, Dorothy, dan ruangan itu menjadi hening. Ia berbicara tentang tiga puluh empat hotel dan satu kebakaran dan lima puluh dua tahun pernikahan.

Lalu ia berhenti.

“Tiga tahun lalu,” kata Opa, “di ruangan ini, di pesta pernikahan emas kami, listrik padam.”

Aku berdiri di sisi panggung dengan walkie-talkie di tangan. Tanganku membeku.

“Genset macet,” kata Opa. “Lima ratus orang dalam gelap. Ada yang berteriak. Ada yang jatuhin gelas. Dan dari arah panggung, tiba-tiba, ada piano.”

Lima ratus tamu diam.

“Seorang anak muda,” kata Opa. “Arsitek yang merenovasi ruangan ini. Dia lari ke basement, nyalain genset pakai obeng yang dia bawa dari rumah, lari balik ke atas, dan main piano supaya kami nggak takut selama gensetnya panas. Tiga menit. Satu lagu.” Opa berhenti. “Lagu yang saya dan Dorothy dansakan di pernikahan kami. Di ruangan ini. Lima puluh tiga tahun lalu. Dia nggak tahu. Dia cuma hafal satu lagu itu.”

Di barisan depan, aku melihat Om Daniel melepas kacamatanya. Tante Ratna memegang tisu. Bu Laras, di meja keluarga dengan kebaya brokat ungu, menutup mulut dengan kedua tangan.

“Saya nggak pernah bilang terima kasih,” kata Opa. “Dorothy juga nggak. Waktu itu kami bahkan nggak tahu siapa yang main. Kami pikir itu bagian dari acara.” Opa tersenyum. “Belakangan saya tahu. Belakangan saya tahu banyak hal.”

Opa mengangkat kepalanya dan menatap ke sisi kanan ballroom.

“Ervan Pratama,” katanya. “Saya sudah minta izinmu kemarin. Kamu bilang boleh. Jadi saya bilang sekarang, di depan lima ratus orang, seperti waktu itu.”

Aku menoleh. Ervan tidak di pilar. Ia duduk di meja keluarga, di samping Bu Laras, dan wajahnya merah sampai ke telinga.

Saya sudah minta izinmu kemarin. Opa bertanya dulu. Opa, delapan puluh tiga tahun, yang tidak pernah perlu bertanya kepada siapa pun, bertanya dulu.

“Terima kasih,” kata Opa. “Untuk tiga menit itu. Dan untuk rumah yang akhirnya kamu bangun.”

Lalu Opa melakukan sesuatu yang membuat seluruh ruangan menahan napas.

Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada Pak Wisnu di ruang kontrol di balkon.

Dan lampu-lampu di ballroom Harrison Grand padam.


Gelap.

Bukan gelap total. Ada cahaya samar dari pintu keluar darurat. Ada cahaya dari lilin-lilin kecil di tengah setiap meja, di antara bunga matahari dan bendera merah putih. Tapi lampu kristal, lampu dinding, lampu panggung, semuanya mati.

Lima ratus orang bergumam.

Aku berdiri di sisi panggung dengan walkie-talkie di tangan dan jantung yang berdebar seperti tiga tahun lalu. Tanganku menekan tombol walkie-talkie tanpa sadar. Pak Wisnu? Pak Wisnu, ini rencana siapa?

Suara Pak Wisnu, pelan dan bergetar menahan tawa: Rencana Pak William, Bu. Dari dua minggu lalu. Beliau bilang Ibu nggak boleh tahu.

Seseorang menyalakan senter ponsel. Lalu yang lain. Lalu yang lain. Cahaya-cahaya kecil yang bergoyang, satu per satu, seperti kunang-kunang, sampai seluruh ballroom dipenuhi ratusan titik cahaya putih.

Dan di tengah cahaya itu, aku melihatnya berjalan.

Dari meja keluarga. Melewati meja-meja tamu. Dengan jas hitam dan dasi hijau tua. Tidak berlari. Tidak ada genset yang harus dinyalakan kali ini. Ia berjalan pelan, dengan langkah yang terukur, seperti orang berjalan di atas balok yang sudah dicek kekuatannya.

Ke panggung. Ke sudut panggung. Ke grand piano hitam yang sama, di tempat yang sama.

Ia duduk.

Ia mengangkat tangannya ke atas tuts.

Satu nada. Lalu dua.

Lagu itu.

Kali ini tidak sumbang. Grand piano Harrison Grand disetem setiap bulan. Setiap nada jernih, setiap tuts berbunyi. Melodinya tidak hilang di tengah seperti di piano Bapaknya. Lagu itu keluar utuh, dari awal sampai akhir, pelan, hati-hati, seperti orang yang memberi tiga menit kepada siapa pun yang membutuhkannya.

Di lantai dansa, dalam cahaya ratusan ponsel, Opa berdiri.

Ia tidak punya pasangan. Oma sudah tidak ada. Aku melihatnya berdiri di tengah lantai dansa dengan tongkat eboni, sendirian, dan aku merasakan sesuatu robek di dadaku.

Lalu Papa berdiri. Papa berjalan ke lantai dansa, menarik tangan Mama. Om Daniel berdiri dan menarik tangan Tante Ratna. Gilang, entah dari mana, muncul dengan kemeja berkerah di hari Sabtu, dan menarik tangan Tasya, yang menolak, lalu menyerah. Kayla berdiri di sudut dengan kamera film di tangan, dan aku melihatnya menoleh ke arah piano, ke arah Ervan, dan Ervan mengangguk dari balik piano tanpa berhenti bermain, dan Kayla mengangkat kameranya.

Dan Bu Laras.

Bu Laras berdiri dari meja keluarga dengan kebaya brokat ungu. Ia berjalan ke lantai dansa. Ia berhenti di depan Opa.

Opa menatapnya. Bu Laras menatap Opa.

Lalu Bu Laras mengulurkan tangannya. Dan Opa, William Harrison, delapan puluh tiga tahun, pendiri tiga puluh empat hotel, yang tidak pernah menangis bahkan waktu hotel pertamanya terbakar, meletakkan tongkat eboninya di lantai dan menerima tangan ibu dari laki-laki yang memainkan lagu pernikahannya.

Mereka berdansa. Pelan. Canggung. Bu Laras tidak pernah berdansa di ballroom. Opa tidak pernah berdansa dengan siapa pun kecuali Oma.

Tapi mereka berdansa, di bawah ratusan cahaya ponsel, sementara lagu dari kaset yang dipelajari seorang tukang listrik PLN mengalir dari grand piano di sudut panggung.

Aku melihat Opa mengusap matanya.


Aku tidak tahu kapan aku mulai berjalan.

Aku hanya tahu bahwa aku sudah tidak di sisi panggung lagi. Aku berjalan di antara meja-meja, di antara cahaya ponsel yang bergoyang, melewati lantai dansa. Ke sisi kanan ballroom.

Ke pilar.

Aku berdiri di balik pilar itu. Di tempat yang sama. Tiga tahun lalu, aku berdiri di sini dengan kartu urutan pidato di tangan dan berhenti menghafalnya karena mendengar seorang arsitek muda menjawab pertanyaan Oma tentang rumah impian. Tiga tahun lalu, aku berdiri di sini dalam gelap dan mendengar lagu ini untuk pertama kalinya.

Aku bersandar di pilar dan menangis.

Aku menangis karena lingkarannya tertutup. Karena ballroom yang sama, lagu yang sama, piano yang sama, dan laki-laki yang sama. Karena tiga tahun lalu aku mendengar lagu ini dari balik pilar dan tidak berani mendekat, dan malam ini aku mendengarnya dari balik pilar dan tahu, tanpa ragu sedikit pun, bahwa aku boleh mendekat kapan saja.

Karena tiga tahun lalu, ia memainkan lagu ini untuk lima ratus orang yang takut gelap.

Malam ini, ia memainkannya untuk Opa. Untuk Oma. Untuk Bapaknya.

Dan, aku tahu, meskipun ia tidak pernah bilang, untukku.


Lagu itu selesai.

Lampu kristal menyala kembali. Tepat di nada terakhir, seperti tiga tahun lalu. Pak Wisnu yang mengatur waktunya. Aku akan memberinya bonus.

Lima ratus orang bertepuk tangan. Kali ini, aku tahu, Ervan tidak keberatan. Kali ini tepuk tangannya bukan untuk sebuah pertandingan. Kali ini tepuk tangannya untuk sebuah lagu.

Ervan berdiri dari bangku piano. Ia membungkuk sedikit, canggung, seperti tiga tahun lalu.

Lalu ia menegakkan badan, dan matanya bergerak ke seluruh ballroom. Ke lantai dansa. Ke meja keluarga. Ke sisi panggung, tempat aku seharusnya berdiri.

Aku melihat wajahnya ketika ia tidak menemukanku di sana. Dahi yang berkerut. Kepala yang sedikit miring, seperti orang yang mendengarkan sesuatu.

Lalu matanya bergerak ke sisi kanan ballroom.

Ke pilar.

Ia menemukanku.

Tiga tahun lalu, setelah lagu ini selesai, ia kembali ke pilar seolah tidak terjadi apa-apa, dan aku menontonnya dari jauh, dan tidak berani mendekat.

Malam ini, ia turun dari panggung. Ia berjalan melewati lantai dansa, melewati Opa dan Bu Laras yang masih berpegangan tangan, melewati Papa yang mengacungkan dua jempol dan Mama yang tidak menegurnya kali ini. Ia berjalan melewati meja-meja dengan bunga matahari dan bendera merah putih kecil.

Ia berjalan ke pilar.

Ia berdiri di depanku. Aku bersandar di pilar, dengan gaun hijau zamrud dan maskara yang pasti sudah luntur ke mana-mana.

“Ketemu,” katanya pelan.

“Aku nggak sembunyi,” kataku. “Aku cuma... ini tempatku. Tiga tahun lalu. Aku dengar kamu dari sini.”

Ia mengangkat tangannya dan mengusap pipiku dengan ibu jari. Pelan. Menghapus maskara yang luntur.

“Aku tahu,” katanya. “Oma lihat kamu di sini.”

Aku menatapnya.

“Opa cerita. Kemarin. Waktu minta izin.” Ia tersenyum. “Opa bilang Oma lihat kamu di balik pilar. Opa bilang, William, cucu kita yang paling keras kepala baru saja jatuh cinta di balik pilar, dan dia bahkan nggak sadar.“

Aku tertawa, tawa yang basah dan pecah.

“Aku sadar,” bisikku. “Aku cuma nggak berani.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku berani,” kataku.

Ia menatapku lama. Dan aku melihat sesuatu melintas di wajahnya. Cepat. Hanya sepersekian detik. Ketegangan di bahunya, yang tiga minggu terakhir kulihat setiap kali ia pikir aku tidak melihat. Sesuatu yang dingin, yang naik dari tempat yang sangat dalam.

Takut. Takut berlutut.

Lalu ketegangan itu turun lagi, dan ia tersenyum, dan menciumku di dahi. Pelan. Di depan pilar, di depan lima ratus orang yang, aku yakin, sebagian besar sedang menonton.

“Minggu depan,” katanya. “Sabtu. Subuh. Villa. Mau?”

Aku tahu kenapa ia bertanya. Aku tahu dari Tasya, dari Koh Liem, dari laci di bawah etalase kaca di Pasar Baru.

Dan ia tidak tahu bahwa aku tahu.

“Mau,” kataku.

Terlalu cepat. Aku melihatnya berkedip. Ia tidak menduga aku menjawab secepat itu.

Aku tersenyum. Senyum yang miring dan lebih tinggi di sisi kiri.

Ia tidak tahu bahwa di laci yang sama di toko Koh Liem, di samping gulungan gambar cincin dengan enam batu hijau yang ia pesan, ada satu gulungan gambar lagi. Gambar yang kubuat sendiri, dengan tangan yang tidak bisa menggambar, dengan garis-garis yang tidak rapi, yang Koh Liem tatap lama sekali sebelum tertawa sampai kacamatanya jatuh.

Ia tidak tahu bahwa kali ini, aku yang akan berlutut duluan.

Supaya ia tidak perlu takut lantainya runtuh.