← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Fourteen

Hujan di Proyek

POV: Ervan

Peletakan batu pertama villa itu dijadwalkan hari Kamis pukul sembilan pagi, dan aku sudah tahu sejak Senin bahwa hari itu akan hujan.

Bukan karena ramalan cuaca. Karena Pak Asep.

Pak Asep adalah mandor yang sudah kupakai di empat proyek terakhir. Laki-laki Sunda berumur enam puluhan dengan kulit gelap terbakar matahari, gigi depan yang tinggal satu, dan kemampuan membaca cuaca yang lebih akurat daripada BMKG. Ia tidak pernah salah. Ia melihat langit, mencium udara, meraba daun, lalu mengumumkan jam berapa hujan akan turun, dan hujan akan turun di jam itu dengan ketepatan yang membuat tukang-tukang takut kepadanya.

“Kamis, jam dua,” kata Pak Asep di telepon hari Senin. “Deras, Jang. Deras pisan. Batu pertamanya mah pagi aja. Beres jam sebelas, langsung tutup terpal.”

Aku menyampaikannya kepada Monica lewat pesan.

Ervan: Kamis kemungkinan hujan jam 2. Acaranya singkat aja. Nggak perlu datang kalau sibuk.

Monica: Aku datang.

Monica: Aku yang punya tanahnya. Masa batu pertamanya diletakin tanpa aku.

Monica: Juga Bu Laras udah ngajarin aku bikin nagasari. Aku mau bawa. Buat tukang. Jangan khawatir, yang ini aku udah coba sendiri dan nggak ada yang keracunan. Tasya masih hidup.

Monica: Maksudnya Tasya masih hidup dan nggak sakit perut. Hidupnya sih pasti.

Aku membaca pesan-pesan itu di meja gambar dan tidak sadar sudah tersenyum sampai Gilang menambahkan garis di papan tulis.


Monica datang pukul sembilan kurang sepuluh dengan SUV hitam dan Pak Harun, yang sekarang, setelah anaknya sembuh, sudah menganggapku semacam kerabat jauh dan menyapaku dengan Mas Ervan, sehat? setiap kali bertemu.

Ia turun dari mobil memakai celana panjang hitam, sepatu bot karet setinggi betis warna kuning cerah yang jelas baru dibeli karena labelnya masih menempel di tumit, jaket parka hijau tua, dan rambut yang dikepang satu ke samping. Ia membawa dua kotak plastik besar berisi nagasari yang dibungkus daun pisang.

Tukang-tukang berhenti bekerja.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa. Tidak ada siulan, tidak ada godaan. Mereka hanya berhenti, seperti lobi Harrison Grand minggu lalu, seperti dapur Ibu, seperti setiap ruangan yang pernah dimasuki perempuan ini. Pak Asep, yang sedang mengukur patok, menurunkan meterannya dan menatap Monica, lalu menatapku, lalu tersenyum dengan satu giginya.

“Jang,” katanya pelan. “Ieu nu ngirim kembang?”

Aku tidak menjawab.

Pak Asep mengangguk-angguk sendiri, puas, dan kembali mengukur patok sambil bersenandung.


Upacara peletakan batu pertama itu sederhana. Tidak ada tenda, tidak ada pidato, tidak ada potong tumpeng. Hanya sepuluh orang berdiri di pinggir galian fondasi yang sudah digali Pak Asep dan timnya minggu lalu, di sudut timur laut lahan, tempat kamar tidur utama nanti berdiri.

Pak Asep memberikan batu kali sebesar kepala bayi kepada Monica. Monica menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang berharga, lalu menatapku.

“Ditaruh di mana?”

“Di sudut. Di situ.” Aku menunjuk titik pertemuan dua garis benang yang sudah dipasang Pak Asep. “Sudut timur laut. Kata orang tua, batu pertama ditaruh di sudut yang pertama kena matahari.”

“Itu beneran atau kamu ngarang?”

“Itu kata Bapak.”

Monica menatapku sebentar. Lalu ia turun ke dalam galian dengan sepatu bot kuningnya, pelan-pelan, dibantu tangan Pak Asep, dan meletakkan batu itu di sudut yang kutunjuk. Ia berjongkok di sana lama. Tangannya di atas batu. Bibirnya bergerak sedikit, tanpa suara, seperti orang yang sedang bicara kepada seseorang.

Aku tidak tahu kepada siapa ia bicara. Aku hanya tahu bahwa ketika ia naik lagi dari galian, matanya basah, dan ia tersenyum kepadaku dengan senyum yang tidak miring. Senyum yang lurus dan penuh, seperti orang yang baru saja menepati janji.

“Kata Oma,” katanya kepadaku, pelan, supaya tukang-tukang tidak mendengar, “rumah ini harus dibangun.”

“Oma yang minta villa?”

Ia tidak menjawab. Ia hanya mengusap tanah dari telapak tangannya dan membuka kotak nagasari.


Nagasari itu enak.

Aku tidak bilang begitu karena sopan. Nagasarinya benar-benar enak. Tepung berasnya lembut, santannya pas, pisang raja di tengahnya matang sempurna, dan daun pisangnya dilipat dengan rapi, meskipun beberapa lipatan terlihat seperti dikerjakan oleh orang yang sedang berkonsentrasi keras dan menahan napas.

“Ini beneran kamu yang bikin?”

“Beneran. Bu Laras cuma ngawasin. Dan motong pisang. Dan ngelipat daunnya yang pertama sepuluh. Tapi sisanya aku.” Ia menatapku dengan penuh harap. “Gimana?”

“Enak.”

“Bohong.”

“Enak,” ulangku. “Lebih enak dari kue lapis.”

“Kue lapisnya kan gagal.”

“Makanya.”

Monica menyipitkan mata ke arahku. Lalu tertawa, dan Pak Asep, yang sedang makan nagasari ketiga, ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu.


Pukul dua kurang lima menit, langit di atas Gunung Gede berubah dari abu-abu menjadi hitam.

Pukul dua tepat, hujan turun.

Bukan gerimis yang pelan-pelan jadi deras. Hujan Puncak yang turun seperti ember raksasa dibalik dari langit, dengan angin yang datang dari barat daya dan menampar dari samping. Tukang-tukang berlari ke bedeng, gubuk kayu beratap seng tempat mereka menyimpan alat dan beristirahat. Pak Asep berteriak sesuatu dalam bahasa Sunda tentang semen.

Lalu aku melihatnya.

Terpal biru yang menutupi tumpukan semen di sisi selatan lahan terlepas dari salah satu tali pengikatnya. Angin mengangkat sudutnya seperti layar kapal. Tiga puluh sak semen, cukup untuk fondasi satu sisi rumah, mulai terkena air.

Aku berlari.

Tanah sudah licin. Hujan menampar wajahku, masuk ke mata, membuat kemejaku basah dalam lima detik. Aku sampai di tumpukan semen dan menangkap sudut terpal yang berkibar. Anginnya kuat. Terlalu kuat. Terpal itu menarikku ke samping, dan kakiku tergelincir di lumpur.

Lalu sepasang tangan lain menangkap sisi terpal yang lain.

Monica. Dengan parka hijau tua yang tudungnya sudah tertiup ke belakang, rambut kepangnya basah kuyup, sepatu bot kuning yang tenggelam separuh di lumpur. Ia menarik terpal itu ke arah berlawanan dengan seluruh berat tubuhnya.

“Talinya!” teriaknya melawan hujan. “Aku pegang! Kamu ikat!”

Aku tidak sempat berpikir. Aku mengikat tali terpal ke patok kayu dengan simpul yang diajarkan Bapak waktu kami memasang tenda di halaman rumah untuk tujuh belasan. Dua kali. Tiga kali. Monica menahan terpalnya, dan hujan menampar kami berdua, dan aku melihat tangannya yang memegangi tepi terpal memutih karena dingin dan karena menggenggam terlalu kuat.

Simpul terakhir. Terpal itu diam.

“Udah!” teriakku.

Monica melepaskan pegangan, kehilangan keseimbangan di lumpur, dan aku menangkap lengannya sebelum ia jatuh. Kami berdiri di sana sebentar, di tengah hujan, dengan tanganku di lengannya dan tumpukan semen yang terselamatkan di samping kami.

Lalu ia tertawa. Di tengah hujan deras, dengan air mengalir dari rambutnya ke wajahnya, ia tertawa seperti anak kecil yang baru saja memenangkan sesuatu.

“Semennya selamat!” teriaknya.

“Kamu gila!”

“Aku klien! Itu semenku!”

Aku menariknya ke bedeng.


Bedeng itu kecil. Tiga kali empat meter, berdinding papan, beratap seng. Hujan di atas seng terdengar seperti seribu orang memukul panci bersamaan. Tukang-tukang sudah memenuhi setengah ruangan, duduk di atas karung dan ember terbalik, merokok dan bercanda dalam bahasa Sunda. Pak Asep melihat kami masuk dalam keadaan basah kuyup, menatap Monica, menatapku, lalu dengan gerakan tangan yang sangat halus, menyuruh seluruh tukang pindah ke sisi lain bedeng.

Semua tukang pindah. Tidak ada yang protes. Mereka duduk berdesakan di sisi barat bedeng seperti penumpang angkot yang penuh, dan tiba-tiba sangat tertarik pada obrolan tentang harga cabai.

Sisi timur bedeng, di dekat jendela kecil tanpa kaca, kosong. Hanya ada satu bangku kayu panjang dan meja lipat yang di atasnya tergeletak gambar kerja yang dibungkus plastik.

Aku mendudukkan Monica di bangku. Ia menggigil. Parka-nya ternyata tidak tahan air sepenuhnya, dan blus di bawahnya basah sampai ke kulit. Bibirnya mulai membiru di ujung-ujungnya. Tangannya gemetar di pangkuan.

Aku mengambil jaketku dari paku di dinding bedeng. Jaket bomber hitam yang kutinggalkan di sana sejak pagi karena udaranya masih hangat. Kering. Sedikit berbau debu dan pengharum mobil rasa kopi.

“Lepas parka-nya,” kataku.

Ia menatapku.

“Parka-nya basah. Nanti kamu masuk angin. Lepas, terus pakai ini.”

Ia melepas parka-nya pelan-pelan, dengan tangan yang gemetar, dan aku memalingkan muka ke arah jendela dengan sopan sampai ia selesai. Lalu aku memberikan jaketku. Ia memakainya. Jaket itu kebesaran di tubuhnya, lengannya menutupi sampai ujung jari, bahunya jatuh sampai lengan atas. Ia menariknya rapat-rapat di depan dada dan menunduk, dan aku melihat hidungnya bergerak.

“Bau kopi,” katanya.

“Pengharum mobil.”

“Enak.”


Aku duduk di ujung lain bangku. Tidak terlalu dekat. Hujan di atas seng terus memukul-mukul.

Aku seharusnya melihat ke luar jendela. Ke hujan, ke terpal biru yang sekarang terikat kencang, ke galian fondasi yang mulai tergenang. Aku seharusnya melihat ke mana saja.

Aku melihatnya.

Rambutnya basah. Kepangnya sudah setengah terurai, dan helai-helai hitam kecokelatan menempel di pelipis, di pipi, di leher, di bagian atas kerah jaketku. Air menetes dari ujung rambutnya ke bahu, pelan-pelan, satu tetes, lalu satu lagi. Kulitnya yang terang terlihat hampir pucat di bawah cahaya kelabu dari jendela, dan pipinya merah karena dingin, dan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya terlihat seperti titik tinta di atas kertas basah. Bulu matanya basah dan berkelompok, sehingga matanya terlihat lebih besar. Ada setetes air yang tertahan di ujung bulu mata kirinya, menggantung di sana, tidak jatuh.

Ia cantik dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan gaun, riasan, atau lobi hotel. Cantik seperti sesuatu yang baru saja diselamatkan dari hujan.

Aku menyadari aku sudah menatapnya terlalu lama ketika ia menoleh dan menangkapku melakukannya.

Aku tidak berpaling. Aku tidak tahu kenapa. Biasanya aku berpaling. Biasanya, setiap kali mata Harrison itu bertemu mataku, dadaku menjadi dingin dan aku berpaling.

Dadaku tidak dingin. Aku sedang basah kuyup di bedeng proyek dengan hujan deras di luar dan angin barat daya yang menembus celah papan, dan dadaku, anehnya, tidak dingin sama sekali.

“Ada air,” kataku. Suaraku terdengar aneh. “Di bulu matamu.”

“Oh.” Ia tidak bergerak. “Yang mana?”

“Kiri.”

Ia tidak mengangkat tangan untuk mengusapnya. Ia hanya menatapku. Lalu, pelan, ia memejamkan mata.

Tanganku terangkat. Aku tidak memerintahkannya. Ia bergerak sendiri, pelan, di udara di antara kami, menuju wajahnya. Aku melihat jariku sendiri mendekat, lima senti, empat senti, dan aku bisa melihat tetes air itu bergetar di ujung bulu matanya karena napasnya.

Tiga senti.

Di sisi barat bedeng, obrolan tentang harga cabai berhenti total. Aku bisa merasakan sepuluh pasang mata tukang menatap punggungku.

Tanganku berhenti. Menggantung di udara. Lalu turun, pelan, kembali ke pangkuanku.

Monica membuka mata. Tetes air itu akhirnya jatuh, menggelinding di pipinya seperti air mata yang bukan air mata.

“Nggak jadi?” tanyanya. Pelan.

“Nggak jadi,” kataku.

Ia menatapku. Lalu senyumnya mengembang, senyum miring yang lebih tinggi di sisi kiri, dan ia mengusap pipinya sendiri dengan ujung lengan jaketku yang kebesaran.

“Oke,” katanya. “Nanti aja.”

Di sisi barat bedeng, seseorang berbisik dalam bahasa Sunda yang terdengar seperti yaaah. Pak Asep berdeham keras dan obrolan tentang harga cabai dimulai lagi, lebih keras dari sebelumnya.


Hujan tidak berhenti sampai pukul empat. Selama dua jam itu, kami bicara.

Aku tidak ingat bagaimana mulainya. Mungkin ia bertanya tentang simpul tali terpal. Mungkin aku bilang Bapak yang mengajarkannya. Yang kuingat hanyalah bahwa tiba-tiba aku sedang bercerita tentang Bapak. Tentang Bapak yang tukang listrik di PLN dan bisa memperbaiki apa saja. Tentang Bapak yang membelikanku obeng gagang kuning waktu aku kelas lima SD karena aku membongkar radio dan tidak bisa memasangnya kembali. Kalau berani bongkar, harus berani pasang, Van. Tentang Bapak yang, meskipun tangannya kasar dan kukunya selalu hitam, bisa main piano.

“Piano?” tanya Monica. Ia sedang memeluk lututnya di bangku, dagunya bertumpu di atasnya, masih memakai jaketku.

“Piano tegak. Bekas. Dibeli dari gereja yang mau ganti piano baru. Ibu marah banget, soalnya harganya sama kayak tiga bulan gaji.” Aku tersenyum mengingatnya. “Bapak cuma bisa satu lagu. Belajarnya dari kaset. Tiap malam dia mainin lagu yang sama. Terus waktu aku SMA, dia ngajarin aku lagu itu. Pelan-pelan. Tiap malam, tiga bulan.”

“Terus?”

“Terus dia sakit. Terus dia meninggal.” Aku menatap hujan di luar jendela. “Aku belum sempat belajar lagu kedua.”

Monica tidak bilang apa-apa. Ia hanya menatapku, dan aku merasakan sesuatu di tatapannya yang tidak kupahami. Seolah ia sudah tahu cerita ini. Seolah ia menunggu bagian berikutnya.

“Bapak bilang,” lanjutku, “nggak apa-apa cuma bisa satu lagu, Van. Yang penting kamu mainin buat orang yang tepat, di waktu yang tepat.“

“Kamu pernah mainin?” tanya Monica. Suaranya pelan sekali. “Buat orang yang tepat?”

Aku memikirkannya.

“Pernah,” kataku. “Sekali. Buat lima ratus orang yang takut gelap.”

Aku menunggu ia bertanya maksudnya. Ia tidak bertanya.

Ia hanya menatapku dengan mata Harrison yang tiba-tiba basah lagi, bukan karena hujan, dan memeluk lututnya lebih erat di dalam jaketku yang kebesaran.

“Aku mau dengar,” katanya. “Suatu hari.”

“Villanya ada ruang piano,” kataku. “Poin lima.”

“Kalau gitu, di situ.”

“Oke.”

“Janji?”

Aku menatapnya. Lalu, tanpa sempat berpikir, tanpa menimbang beban strukturnya dulu, aku mengangguk.

“Janji,” kataku.

Aku tidak sadar sampai kata itu sudah keluar. Janji. Pertama kalinya sejak malam itu aku berjanji sesuatu kepada seorang Harrison. Bukan kepada Kayla di depan pagar. Bukan kepada Om Daniel di teras. Kepada perempuan di bedeng proyek yang memakai jaketku dan menatapku seperti sudah menunggu bertahun-tahun untuk mendengar kata itu.


Ia tertidur di mobil dalam perjalanan pulang.

Pak Harun menyetir SUV-nya di depan, dan Monica bersikeras ikut di mobilku karena, katanya, “Pak Harun perlu istirahat dari aku.” Pak Harun tidak membantah. Pak Harun terlihat lega.

Kepala Monica bersandar di kaca jendela. Rambutnya yang masih lembap jatuh menutupi separuh wajah. Jaketku masih melekat di tubuhnya, ritsletingnya ditarik sampai dagu. Ia bernapas pelan dan teratur. Sesekali alisnya berkerut, seperti sedang bermimpi sesuatu yang membingungkan, lalu mengendur lagi.

Aku menyetir lebih pelan dari biasanya. Aku tidak memutar radio. AC-nya kupasang di suhu paling hangat, dan untuk pertama kalinya ia tidak ngambek sepanjang perjalanan.

Di tol Jagorawi, di bawah langit yang sekarang jingga keemasan setelah hujan, aku menyadari sesuatu.

Tiga jam. Sejak terpal biru itu berkibar, sampai sekarang. Tiga jam, dan dadaku tidak dingin sekali pun.

Aku lupa kapan terakhir kali itu terjadi.


Keesokan harinya, pukul sembilan lewat lima belas, kurir berseragam hijau mengetuk pintu kaca buram tiga kali. Sebelas tangkai bunga matahari. Dan satu kantong kertas cokelat.

Di dalam kantong itu ada jaket bomber hitamku. Terlipat rapi. Sudah dicuci.

Dan kartu.

Hari 34: Jaketmu. Udah dicuci. Maaf, aku pakai pelembut pakaian hotel, jadi baunya sekarang kayak kamar suite. Terima kasih udah minjemin. Terima kasih udah nggak jadi. Dan terima kasih udah janji.

P.S. Aku bersin 14 kali semalam. Tasya bilang itu karma karena aku nekat. Aku bilang itu karena semennya nggak mau kalah sama aku.

Aku mengangkat jaket itu. Pelembut pakaian hotel. Tapi di bawahnya, samar-samar, di bagian kerah, ada bau lain yang tidak hilang oleh cucian. Melati dan vanila.

Gilang, dari belakangku, bertanya kapan aku mau mencuci jaket itu lagi, karena menurutnya jaket yang baru dicuci orang lain harus dicuci ulang, demi higienitas.

Aku menggantung jaket itu di balik pintu studio, di paku yang sama tempat aku biasa menggantung helm proyek.

Aku tidak mencucinya.