Chapter Twenty Four
Piala Keluarga Harrison
POV: Ervan
Pak Asep bilang hari itu cerah, dan hari itu memang cerah. Di Puncak.
Genteng tanah liat dari Jatiwangi datang pukul sembilan pagi, tiga truk, dan tukang-tukang menyusunnya di halaman seperti menyusun kartu domino raksasa. Warnanya merah bata yang hangat, dengan permukaan sedikit kasar yang akan menjadi lebih gelap dan lebih indah setelah beberapa musim hujan. Aku memilih genteng itu karena warnanya akan cocok dengan kabut. Aku tidak bilang ke siapa-siapa bahwa aku juga memilihnya karena warnanya mirip warna pipi seseorang ketika kedinginan di bedeng proyek.
Aku naik ke rangka atap bersama Pak Asep pukul sebelas dan melihat ke bawah. Dari atas, aku bisa melihat bentuk rumah itu dengan jelas untuk pertama kalinya. Dapur dengan meja panjang. Ruang kecil di sudut barat untuk piano. Teras yang cukup lebar untuk duduk berdua. Kamar tidur utama di sudut timur laut, dengan lubang jendela besar yang sekarang sudah punya kusen jati dan ambang yang cukup lebar untuk duduk.
Semua yang ada di brief. Semua yang, tanpa kusadari, sudah kubangun dengan satu orang di kepala.
“Jang,” kata Pak Asep di sampingku, di atas rangka atap, dengan angin yang meniup kaus lusuhnya. “Sabtu selamatan tutup atap, nya. Si Neng datang?”
“Datang, Pak.”
Pak Asep mengangguk. Lalu ia menatap langit, lama, seperti setiap kali ia membaca cuaca.
“Poé ieu cerah,” katanya pelan. “Tapi engké soré, aya angin ti kulon.”
“Hujan, Pak?”
“Lain hujan.” Pak Asep menggeleng. “Angin. Angin anu nyabut.”
Aku tidak mengerti. Aku tidak bertanya. Pak Asep kadang bicara dalam teka-teki, dan aku sudah belajar bahwa teka-tekinya selalu masuk akal belakangan.
Pesan itu masuk pukul tiga lewat sepuluh.
Aku sedang di jalan pulang, di tikungan yang sama tempat sabuk pengaman Monica terlepas dan aku memanggilnya Monic untuk pertama kalinya. Sinyal di Puncak buruk, dan ponselku di dasbor bergetar dua kali ketika mobil keluar dari area kebun teh, menangkap sinyal yang menumpuk.
Aku melirik layar.
Zara: Ini yang dia bilang di rumah Opa.
Zara: Kamu berhak tahu.
Zara: Maaf, Van. Aku tahu kamu bakal benci aku. Tapi aku nggak mau kamu dibohongin dua kali.
Di bawahnya, sebuah file audio. Dua menit empat puluh satu detik.
Aku tidak memutarnya di mobil. Aku menyetir. Aku tidak memukul dasbor meskipun AC-nya ngambek di tol Jagorawi. Aku menyetir dengan dua tangan di setir, dengan pandangan lurus ke depan, dengan ponsel yang tertelungkup di dasbor seperti malam itu, dan aku menghitung. Aku menghitung truk yang kulewati. Empat puluh tujuh. Aku menghitung gerbang tol. Tiga. Aku menghitung lampu merah di Tebet. Sebelas.
Aku menghitung karena otakku tidak mau diam, dan karena aku tahu, dengan cara orang tahu sebuah balok akan patah sebelum ia benar-benar patah, bahwa dua menit empat puluh satu detik itu akan mengubah sesuatu.
Gilang sedang di studio ketika aku sampai pukul lima. Ia sedang menempelkan kertas A3 di dinding di samping papan tulis, karena papan tulis dan dinding di sebelahnya sudah penuh garis merah, dan ia butuh tempat baru.
“Van! Gimana gentengnya? Aku lihat fotonya, warnanya bagus banget, kayak...”
Ia melihat wajahku. Ia berhenti.
“Van?”
Aku duduk di kursi di depan meja gambar. Aku meletakkan ponsel di atas kertas kalkir, di atas detail kusen jendela kamar tidur utama dengan ambang yang cukup untuk duduk.
Aku menekan tombol putar.
Suara kipas angin. Suara Zara, jauh. Yang penting, dia pasti balik.
Lalu suara Monica.
Aku mengenal suara itu. Aku sudah mengenalnya selama delapan puluh tujuh hari. Suara yang agak serak, rendah, yang tertawa pada sendok yang tenggelam dan bilang aku nggak pakai rem dan nanti aja dan kamu itu bunga matahari. Suara yang, di bedeng proyek, bertanya apakah aku pernah memainkan lagu Bapak untuk orang yang tepat.
Tapi aku belum pernah mendengar suara itu seperti ini.
Kamu nggak lihat dia hari ini.
Dingin. Tajam. Seperti pisau.
Ia bercerita tentang sore di ruang tengah Om Daniel. Tentang aku. Tentang gambar gazebo dan anjing di bawah bangku. Tentang Tante Ratna yang berlutut. Aku mendengar diriku diceritakan dari luar, oleh orang yang berdiri di pintu dapur, kepada orang-orang yang tidak ada di sana. Kepada Opa. Kepada Om Richard. Kepada Tante Sofia.
Dia senyum. Senyum kayak orang yang udah latihan di depan cermin.
Aku memang latihan di depan cermin. Delapan hari. Di kamar mandi. Tidak ada yang tahu. Aku pikir tidak ada yang tahu.
Artinya dia bohong. Artinya dia hancur, Zara. Hancur sampai nggak bisa marah.
Di studio yang sunyi, Gilang berhenti menempelkan kertas A3.
Aku mendengarkan perempuan yang mengirimiku bunga delapan puluh tujuh hari berturut-turut memberi tahu dua belas orang, di ruang keluarga Opa, di bawah potret Oma, bahwa aku hancur. Bahwa aku berbohong. Bahwa senyumku palsu. Ia mengatakannya dengan suara yang tahu persis apa yang dikatakannya, seperti dokter yang membacakan hasil rontgen.
Dan aku, yang sudah menyusun seluruh hidupku supaya tidak ada yang perlu melihat aku seperti itu, yang minta maaf kepada Om Daniel supaya ia tidak perlu merasa bersalah, yang bilang aku baik-baik saja kepada setiap orang supaya tidak ada yang perlu khawatir, yang membiarkan Kayla menghapus video dari lima tempat supaya tidak ada yang pernah melihat...
Aku mendengarkan orang lain menjelaskan kehancuranku kepada keluarga yang baru saja kutinggalkan.
Lalu jeda. Lalu suaranya turun.
Dengar baik-baik, Zara.
Kamu yang membuang berlian karena nggak tahu harganya.
Jadi jangan salahkan aku kalau aku yang memungutnya.
Dan nggak akan pernah kulepas.
Keheningan. Kipas angin. Jam kakek.
Kamu ngincer dia. Dari kapan?
Tidak ada jawaban.
Dua menit empat puluh satu detik. Selesai.
Aku memutarnya lagi.
Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku berharap kali kedua akan terdengar berbeda. Mungkin karena aku arsitek, dan arsitek selalu mengecek dua kali sebelum tanda tangan.
Kali kedua, aku mendengar kata-katanya satu per satu.
Berlian. Benda. Batu. Sesuatu yang dinilai dengan harga. Sesuatu yang dipakai di jari untuk dipamerkan.
Membuang. Seperti sampah. Seperti sesuatu yang tidak lagi dibutuhkan, ditaruh di pinggir jalan.
Memungut. Seperti orang yang lewat dan melihat sesuatu tergeletak dan berpikir: sayang kalau dibiarkan. Seperti mengambil barang bekas.
Barang bekas. Kata Kenzo, di koridor servis. Keluarga Harrison emang suka barang bekas, ya.
Dan yang terakhir.
Nggak akan pernah kulepas.
Aku mendengar kalimat itu dan tubuhku menjadi dingin, bukan dingin batu di bawah tulang rusuk, tapi dingin yang lain, yang menjalar dari tengkuk ke ujung jari. Karena aku mengenal kalimat itu. Bukan kata-katanya. Rasanya.
Tangan Kenzo di pergelangan tangan Monica. Ibu jari yang menekan tepat di atas denyut nadi. Nggak usah galak.
Dan aku, di koridor itu, dengan tanganku di pergelangan tangan Kenzo: Rasanya kayak ditahan waktu mau pergi, ya?
Nggak akan pernah kulepas.
Aku memutarnya untuk ketiga kalinya.
Kali ketiga, aku tidak mendengar kata-katanya lagi. Kali ketiga, aku mendengar ruangan itu. Kipas angin kayu. Jam kakek. Dan keheningan setelah kalimat terakhir, yang panjang, yang tidak diisi siapa pun. Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang bilang Monic, jangan bicara begitu tentang dia. Tidak Om Daniel. Tidak Tante Ratna. Tidak Opa.
Keheningan itu terdengar seperti persetujuan.
Lalu aku memikirkan semuanya. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, seperti balok yang sudah mulai retak dan retakannya menjalar ke mana-mana.
Papanya yang mengacungkan dua jempol di lift. Ganteng! Papanya yang bilang pokoknya yang ini. Mamanya yang bertanya tentang niatku di taman anggrek. Pak Harun yang mengacungkan dua jempol di lokasi proyek. Dinda dan Chef Bram dan Pak Anto yang bertaruh kapan aku akan membalas. Seluruh Harrison Grand yang tahu tentang bunga matahari, tentang sandal Bu Sri, tentang nasi goreng.
Semua orang tahu. Semua orang menonton. Semua orang bersorak.
Untuk apa?
Untuk kompetisi. Untuk dua sepupu yang sudah bersaing sejak pentas sekolah, sejak peran putri dan peran pohon. Untuk satu Harrison yang membuang sesuatu dan satu Harrison lain yang bersumpah akan memungutnya. Dan aku hadiahnya. Aku pialanya. Sesuatu yang diperebutkan di atas karpet Persia di ruang keluarga Opa, di depan dua belas orang, dan tidak ada yang menanyakan kepadaku apakah aku mau diperebutkan.
Kamu ngincer dia. Dari kapan?
Tidak ada jawaban.
Delapan puluh tujuh hari. Delapan puluh tujuh buket. Delapan puluh tujuh kartu di laci kedua meja gambarku. Handuk ungu dan panci yang meleleh dan kucing Persia. Sebelas Sabtu di dapur Ibu. Nasi goreng Bapak yang tidak kumakan dua belas tahun.
Aku tidak tahu lagi mana yang untukku, dan mana yang untuk menang.
“Van,” kata Gilang pelan.
Aku tidak menjawab.
“Van, dengerin dia dulu. Aku yakin ada...”
“Pulang, Lang.”
“Van...”
“Tolong.” Aku tidak mengangkat kepala. “Pulang.”
Gilang berdiri di sana lama sekali. Aku bisa merasakannya, di belakangku, dengan kertas A3 di tangan dan spidol merah di saku. Lalu aku mendengar langkahnya ke pintu. Pintu kaca buram terbuka. Tertutup. Langkah di tangga besi, turun. Lalu berhenti. Di bawah. Ia tidak pulang. Tentu saja ia tidak pulang.
Aku berdiri dan mematikan lampu.
Studio itu menjadi gelap. Hanya ada cahaya lampu jalan dari jendela besar, jingga dan pucat, yang jatuh ke rak-rak di dinding. Ke vas-vas. Ke bunga-bunga matahari. Di cahaya itu, mereka tidak terlihat kuning. Mereka terlihat abu-abu. Seperti foto lama.
Aku duduk lagi. Ponsel di tanganku, layarnya menyala. File audio itu masih terbuka. Dua menit empat puluh satu detik.
Aku tidak memutarnya lagi. Aku hanya menatapnya.
Pukul enam lewat dua puluh, aku mendengar langkah kaki di tangga besi.
Sepatu flat. Ringan. Cepat, lebih cepat dari biasanya, seperti orang yang berlari dari mobil.
Berhenti di anak tangga kelima.
Aku tahu ia selalu berhenti di anak tangga kelima. Aku tahu sejak minggu kedua. Aku tidak pernah tahu kenapa. Aku tidak pernah bertanya. Malam ini, duduk di dalam gelap, menghadap meja gambar dengan punggung ke pintu, aku akhirnya mengerti. Dari anak tangga kelima, lewat celah di stiker yang mengelupas, ia bisa melihat meja gambarku. Ia selalu bisa melihatku sebelum aku melihatnya.
Selalu mengamati. Selalu tahu lebih dulu.
Langkah kaki itu naik lagi. Berhenti di depan pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Lalu hening.
Aku menghitung. Aku tidak mau menghitung, tapi otakku melakukannya sendiri. Satu. Dua. Tiga. Ia menunggu. Seperti Senin itu. Seperti yang ia pelajari dari Ibu di depan bak cuci. Empat. Lima. Enam. Ia berdiri di balik pintu kaca buram dan menunggu, karena ia tahu bahwa aku menunggu, karena ia tahu tentang ketukanku, karena Ibu menceritakannya kepadanya.
Karena ia tahu segalanya tentangku. Dan menceritakannya kepada semua orang.
Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh. Sebelas. Dua belas.
Aku tidak membuka pintu.
Tiga belas. Empat belas. Lima belas.
“Van.”
Suaranya dari balik kaca buram. Pelan. Pecah di tengah.
Aku berdiri. Aku berjalan ke pintu. Aku membukanya.
Ia basah. Rambutnya basah, menempel di pipi dan leher. Blazer abu-abunya basah di bahu. Ia memegang tas kerja dengan dua tangan di depan tubuhnya, seperti Kayla memeluk ponselnya malam itu, seperti memeluk sesuatu yang bisa meledak.
Matanya merah. Mata Harrison. Di cahaya lampu jalan yang jingga, aku tidak bisa melihat bintik hijaunya.
“Aku mau jelasin,” katanya.
“Satu pertanyaan,” kataku.
Ia menutup mulut.
“Itu kamu?”
“Iya.”
“Kamu bilang itu ke Zara. Di rumah Opa. Di depan semua orang.”
“Iya.”
Aku menatapnya. Aku menunggu dadaku menjadi hangat, seperti di bawah matahari terbit di kamar tanpa atap. Aku menunggu apa pun.
Dadaku dingin. Dua titik. Batu yang lama, dan titik yang baru. Dan titik yang baru itu sekarang tidak kecil lagi.
“Waktu kamu bilang nggak akan pernah kulepas,” kataku pelan, “kamu ngomong ke aku, atau ke dia?”
Monica membuka mulut. Aku melihatnya. Aku melihatnya ingin berbohong. Aku melihat kebohongan itu ada di sana, di ujung lidahnya, kebohongan yang mudah, yang akan membuat semuanya lebih ringan malam ini: ke kamu, Van, tentu saja ke kamu.
Ia tidak mengatakannya.
“Ke dia,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Sebagian. Malam itu. Aku marah. Aku mau dia tahu apa yang dia buang. Aku mau...” Ia berhenti. Air matanya jatuh. “Aku mau menang. Malam itu. Sebagian dari aku mau menang.”
Kejujuran itu lebih sakit dari kebohongan mana pun.
Karena kejujuran itu berarti ia tidak sedang bermain sekarang. Berarti ia benar-benar mengatakan kalimat itu untuk mengalahkan seseorang. Berarti aku benar-benar piala, setidaknya malam itu, setidaknya sebagian.
“Kamu cerita ke semua orang aku hancur,” kataku.
“Van...”
“Aku minta maaf ke Om Daniel supaya dia nggak perlu ngerasa bersalah. Aku bilang baik-baik saja ke Tante Ratna supaya dia nggak perlu nangis lagi. Kayla ngapus video dari lima tempat supaya nggak ada yang lihat aku kayak gitu.” Suaraku tetap datar. Tetap rapi. Seperti laporan teknis. Itu yang paling menakutkan, aku tahu. Aku bisa merasakannya dari wajahnya. “Dan kamu berdiri di ruang keluarga Opa dan bilang ke dua belas orang kalau senyumku bohong.”
“Aku bilang itu karena aku...”
“Aku bukan barang yang bisa dipungut, Monica.”
Kalimat itu jatuh di antara kami seperti batu ke lantai.
Monica berhenti bicara. Ia menatapku dengan wajah yang tidak pernah kulihat: bukan wajah yang nakal, bukan wajah yang keras kepala, bukan wajah yang takut di pintu studio waktu Zara datang. Wajah orang yang baru saja mendengar kalimatnya sendiri dikembalikan kepadanya, dan menyadari betapa beratnya.
“Delapan puluh tujuh hari,” kataku. “Bunga. Kartu. Dapur Ibu. Nasi goreng Bapak.” Aku menarik napas. “Aku nggak tahu lagi mana yang buat aku, dan mana yang buat menang.”
“Semuanya buat kamu,” bisiknya. “Semuanya, Van. Dari awal. Dari sebelum...”
“Zara tanya dari kapan,” kataku. “Di rekaman itu. Kamu nggak jawab.”
Monica diam.
Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia membuka tas kerjanya. Ia mengeluarkan amplop berwarna gading. Tebal. Tanpa nama.
“Ini,” katanya. “Ini jawabannya. Aku tulis Minggu. Aku mau kasih Sabtu. Di bawah atap. Aku...” Suaranya pecah. “Aku nunda. Aku selalu nunda. Mama bilang jangan nunda. Tasya bilang jangan nunda. Aku tetap nunda karena aku takut kamu...”
Ia mengulurkan amplop itu.
Aku menatapnya. Amplop gading. Empat lembar, mungkin lima, dilipat tiga. Aku bisa melihat bayangan tinta biru tua menembus kertas, huruf-huruf yang miring ke kanan.
Aku ingin mengambilnya. Bagian dari diriku ingin mengambilnya, membukanya di sini, di ambang pintu, dan membaca setiap kata.
Tapi bagian lain dari diriku, yang lebih besar malam ini, yang dingin, yang sudah memutar rekaman itu tiga kali, bertanya: Berapa banyak lagi yang dia tahu dan belum dia ceritakan? Berapa banyak lagi yang disimpan di amplop, di laci, di tab spreadsheet, di dapur ibumu, untuk dikeluarkan nanti, di waktu yang dia pilih?
Aku tidak mau membaca jawabannya malam ini. Aku tidak mau jawaban yang ditulis dengan rapi, dilipat tiga, disimpan di tas, menunggu atap yang tepat.
“Monica,” kataku.
Ia menatapku.
“Aturan tiga.”
Tangannya yang memegang amplop membeku di udara.
Kalau aku bilang berhenti, berhenti.
Tulisan tanganku sendiri, tegak, di sudut buku sketsa, di bawah denah dapur dengan dua kursi tinggi. Dan jawabannya, di bawahnya, dengan huruf miring ke kanan: Kalau kamu bilang berhenti, aku berhenti. Janji.
“Berhenti,” kataku.
Aku melihatnya terjadi. Pelan. Seperti menonton bangunan yang runtuh dalam gerak lambat.
Tangannya turun. Amplop itu turun bersamanya, ke sisi tubuhnya. Jari-jarinya masih memegangnya, tapi sudah tidak mengulurkannya lagi.
Ia tidak menangis lebih keras. Ia tidak memohon. Ia tidak mengatakan tapi. Ia berdiri di sana, basah, di ambang pintu kaca buram dengan huruf u yang hilang, dan aku melihat wajahnya mengerjakan sesuatu yang sangat sulit: menahan semua yang ingin ia katakan, karena ia pernah berjanji.
Ia memasukkan amplop itu kembali ke dalam tas. Pelan. Supaya tidak terlipat.
“Oke,” katanya.
Kata yang sama. Satu kata. Dua huruf vokal, dua huruf konsonan. Kata yang ia kirim jam sebelas malam ketika aku minta pelan.
Ia berbalik. Ia menuruni tangga besi. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Empat.
Ia berhenti di anak tangga kelima.
Aku menunggu ia berbalik. Aku menunggu ia melihat ke atas, lewat celah stiker yang mengelupas, ke meja gambarku, ke tempat aku seharusnya duduk.
Ia tidak berbalik. Ia hanya berdiri di sana sebentar, dengan satu tangan di pegangan tangga besi, kepala sedikit menunduk. Lalu ia melanjutkan turun. Enam. Tujuh. Sampai ke bawah.
Aku mendengar suara Gilang di bawah, pelan, mengatakan sesuatu. Aku mendengar suara Monica menjawab, lebih pelan lagi. Aku mendengar pintu mobil ditutup. Mesin menyala. Mobil itu pergi.
Aku menutup pintu kaca buram.
Pelan. Sampai bunyinya hanya klik kecil.
Aku selalu menutup pintu pelan-pelan. Seperti malam itu, di lantai dua puluh tiga. Supaya tidak ada yang terbangun. Supaya tidak ada yang tahu betapa beratnya.
Aku berdiri di tengah studio yang gelap.
Di rak-rak, delapan puluh tujuh hari bunga matahari menatap ke arah jendela. Ke arah cahaya lampu jalan yang jingga, satu-satunya cahaya yang ada. Mereka tidak tahu bahwa itu bukan matahari. Mereka tetap menghadap ke sana.
Di balik pintu, jaket bomber hitam tergantung di paku. Aku mengambilnya. Aku memegangnya. Bau melati dan vanila, samar, di kerahnya.
Aku tidak membuangnya. Aku tidak melemparnya. Aku hanya memegangnya lama sekali, di dalam gelap, dengan dua titik dingin di bawah tulang rusuk.
Lalu aku menggantungnya kembali di paku. Rapi. Kerahnya di atas.
Di laci kedua meja gambarku, delapan puluh tujuh kartu warna gading menunggu dalam gelap.
Aku tidak membukanya.
Di dinding, di samping papan tulis, kertas A3 yang ditempel Gilang sore tadi masih kosong. Belum ada garis. Belum ada judul.
Besok pagi, pukul sembilan lewat lima belas, tidak akan ada kurir berseragam hijau yang menaiki tangga besi.
Aku tahu itu. Karena aku yang bilang berhenti. Dan perempuan itu, apa pun yang pernah ia katakan di ruang keluarga Opa, tidak pernah melanggar janji kepadaku.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison reading
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk