Chapter Seventeen
Makan Malam Keluarga Richard
POV: Monica
Aku tahu Ervan akan datang makan malam ke rumah orang tuaku pada pukul lima sore hari Jumat, dua jam sebelum ia datang, dari seorang resepsionis.
“Bu Monica,” kata Dinda di telepon internal, suaranya bergetar antara takut dan senang. “Maaf ganggu. Tadi Pak Richard minta saya kirim mobil jemputan ke Tebet jam enam. Atas nama... Mas Ervan Pratama. Tujuannya rumah Bapak di Permata Hijau. Saya cuma... saya cuma mau mastiin Ibu tahu.”
Aku menjatuhkan pulpen.
“Kapan Papa undang dia?”
“Tadi pagi, Bu. Katanya... katanya konsultasi proyek Harrison Surabaya.”
Aku menutup telepon, berdiri, berjalan ke lift, naik ke lantai empat puluh, melewati sekretaris Papa yang langsung berdiri dengan wajah pucat, dan membuka pintu ruang CEO tanpa mengetuk.
Papa sedang duduk di belakang meja kerjanya yang terlalu besar, memandangi layar komputer yang, dari pantulan di jendela di belakangnya, sedang menampilkan halaman tips memasak steak medium rare.
“Papa.”
“Monic!” Papa menutup browser dengan cepat. “Kebetulan. Papa baru mau telepon.”
“Aturan nomor dua, Pa.”
“Aturan apa?”
“Nggak bawa-bawa keluarga Harrison.” Aku berjalan ke depan mejanya. “Itu aturannya. Dia yang bikin. Aku udah janji.”
“Oh, itu.” Papa melambaikan tangan dengan santai. “Itu aturan buat kamu. Bukan buat Papa. Papa nggak janji apa-apa.”
“Papa...”
“Lagian, ini murni bisnis.” Papa mengangkat map dari atas mejanya. Map itu, sama seperti di kantorku minggu lalu, jelas-jelas kosong. “Harrison Surabaya butuh renovasi lobi. Papa butuh arsitek yang jujur. Dia arsitek yang jujur. Papa telepon studionya pakai telepon kantor, resmi. Papa bilang, Mas Ervan, saya mau konsultasi, bisa makan malam di rumah? Dia bilang bisa.”
“Dia bilang bisa?”
“Dia orang yang sopan, Monic.” Papa tersenyum dengan kepuasan seorang CEO yang baru memenangkan tender. “Orang sopan nggak bisa nolak undangan makan malam dari laki-laki berumur lima puluh delapan tahun yang suaranya kedengeran kesepian di telepon.”
“Papa sengaja bikin suaranya kedengeran kesepian?”
“Papa aktor yang baik,” kata Papa bangga. “Papa pernah jadi pemeran utama pentas SMA. Romeo.”
Aku memejamkan mata.
“Mama tahu?”
“Mama yang pilih menunya,” kata Papa. “Iga bakar. Katanya Mama riset, Ervan suka iga bakar. Riset dari mana, Papa nggak tahu. Mama punya jaringan.”
Jaringan Mama adalah grup Harrison Mamas. Tidak ada yang tahu siapa anggotanya. Tidak ada yang tahu bagaimana mereka mendapatkan informasi. Aku curiga Tante Ratna ada di dalamnya.
Aku sampai di rumah pukul enam lewat sepuluh. Aku menghabiskan empat puluh menit di kamar lamaku di lantai dua, mengganti baju tiga kali.
Gaun merah? Terlalu mencolok, kata Tasya lewat video call. Blazer? Terlalu seperti rapat. Kaus dan celana jins? Terlalu seperti tidak peduli.
Aku akhirnya memakai gaun sederhana berwarna biru tua dengan potongan lurus sampai lutut, lengan pendek, tanpa aksesori kecuali anting mutiara kecil. Rambutku kugerai, dengan satu sisi diselipkan ke belakang telinga. Aku tidak memakai parfum melati-vanila. Aku sengaja. Aku tidak mau ini terasa seperti operasi.
“Kamu kelihatan kayak mau ketemu calon mertua,” kata Tasya dari layar ponsel.
“Dia yang ketemu calon mertua.”
“Nah. Itu dia masalahnya.” Tasya menatapku lewat layar dengan wajah sinisnya yang biasa, lalu melunak. “Mon. Kamu cantik. Biasanya aku nggak bilang karena kamu udah tahu. Tapi malam ini kamu kelihatan beda.”
“Beda gimana?”
“Kelihatan takut,” kata Tasya. “Cantik yang takut. Itu jarang.”
Aku mematikan video call sebelum Tasya bisa melihat mataku basah.
Mobil jemputan hotel tiba pukul tujuh kurang lima. Aku berdiri di tangga, di tempat yang tidak terlihat dari pintu depan, dan menahan napas.
Ervan turun dari mobil. Kemeja batik. Batik cokelat tua dengan motif parang yang sederhana, disetrika rapi, lengan panjang. Celana bahan hitam. Sepatu kulit yang sudah pudar di ujungnya tapi disemir mengilap. Di tangannya, kotak plastik bertutup yang aku kenali: kotak kue Bu Laras.
Kemeja batik. Aku harus berpegangan pada pegangan tangga.
Tiga tahun lalu, di ballroom Harrison Grand, ia memakai kemeja batik yang kelihatan dibeli sehari sebelumnya, berdiri di dekat pilar. Malam ini, kemeja batiknya kelihatan sudah dipakai berkali-kali, sudah menyesuaikan diri dengan bahunya, sudah menjadi miliknya. Tapi caranya berdiri di depan pintu rumah kami, tegak, sedikit kaku, tangan memegang kotak kue seperti memegang perisai, sama persis.
Papa membuka pintu sebelum Ervan sempat mengetuk.
“Mas Ervan!” Papa merentangkan tangan seperti menyambut saudara yang pulang dari perang. “Selamat datang! Selamat datang! Masuk, masuk!”
“Selamat malam, Om.” Ervan menyerahkan kotak kue. “Dari Ibu. Kue lumpur.”
“Kue lumpur!” Papa menerimanya dengan dua tangan dan ekspresi seolah menerima Piala Dunia. “Sofia! Kue lumpur! Dari ibunya!”
Mama muncul dari ruang makan dengan gaun rumah warna gading dan kalung mutiara, tersenyum dengan senyum yang sudah kupelajari sejak kecil: senyum yang ramah dan hangat, yang menyembunyikan otak yang sedang memindai segala sesuatu seperti mesin sinar-X bandara.
“Mas Ervan,” kata Mama. “Kita sudah ketemu. Di rumah Daniel.”
“Iya, Tante.”
“Waktu itu situasinya tidak enak.” Mama mengulurkan tangan. “Malam ini kita mulai dari awal, ya.”
Ervan menjabat tangan Mama. Lalu matanya bergerak, seperti mencari sesuatu, ke arah tangga.
Ke arahku.
Aku turun.
Aku sudah turun dari tangga ini ribuan kali. Di pesta ulang tahunku yang ketujuh belas, dengan gaun pink dan rambut disasak. Di malam kelulusan SMA. Di pagi hari pertama kerja di Harrison Grand, dengan blazer pertamaku. Tidak pernah sekali pun aku memikirkan bagaimana caranya menuruni tangga.
Malam itu aku memikirkannya di setiap anak tangga.
Ervan menatapku. Ia tidak berpaling. Aku melihat matanya bergerak dari wajahku, ke rambutku, ke gaun biru tua, lalu kembali ke wajahku, dan berhenti di sana. Mulutnya sedikit terbuka. Ia berdiri di ruang depan rumah kami dengan kemeja batik cokelat, dan menatapku turun dari tangga seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang tidak ia duga akan ia lihat.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh.
Di sampingnya, Papa melihat jam tangannya. Lalu melihat Mama. Mama menepuk lengan Papa pelan, isyarat untuk diam.
Aku sampai di anak tangga terakhir.
“Hai,” kataku.
Ervan berkedip. Seperti orang yang baru bangun.
“Hai,” katanya. Lalu, lebih pelan, “Kamu...”
Ia tidak menyelesaikannya. Telinganya memerah. Merah sampai ke leher, sampai ke kerah batik.
“Ayo makan!” seru Papa, dan menarik Ervan ke ruang makan sebelum siapa pun di ruangan itu meleleh.
Makan malam itu adalah pertunjukan Papa.
Papa bercerita tentang Harrison Surabaya, tentang lobinya yang dibangun tahun delapan puluhan dan sekarang terlihat seperti ruang tunggu dokter gigi. Papa mengeluarkan iPad dan menunjukkan foto-foto hotel satu per satu, geser, geser, geser, dengan narasi yang tidak ada habisnya. Papa membuka anggur merah yang ia simpan untuk “tamu spesial,” yang ternyata adalah anggur yang sama yang ia buka untuk setiap tamu. Papa memotong iga bakar dan bertanya kepada Ervan apakah matangnya pas, empat kali.
Ervan menjawab semuanya dengan sabar. Ia bertanya tentang struktur lobi Surabaya. Ia bertanya apakah pilar-pilarnya masih asli. Ia memuji iga bakarnya, dan Mama tersenyum dengan cara yang berarti informasi dari Harrison Mamas terbukti akurat.
Lalu Mama mulai bertanya.
Mama tidak pernah bertanya dengan cara biasa. Mama bertanya seperti memasang jaring: satu pertanyaan kecil, satu lagi, satu lagi, sampai tiba-tiba kamu sadar kamu sudah menceritakan seluruh hidupmu dan tidak tahu bagaimana caranya.
“Ibu Mas Ervan jualan kue sudah lama?”
“Dari saya SMA, Tante. Setelah Bapak meninggal.”
“Bapak sakit apa?”
“Jantung. Mendadak.”
“Umur berapa waktu itu?”
“Empat puluh enam.”
Mama mengangguk pelan. “Mas Ervan yang bayar kuliah sendiri?”
“Beasiswa, Tante. Sama kerja sambilan. Gambar denah buat developer.”
“Pernah kepikiran buat pindah ke firma besar? Gajinya pasti lebih baik.”
“Pernah. Ditawari dua kali.” Ervan memotong iganya. “Tapi di firma besar, saya nggak bisa milih klien. Saya nggak mau bangun rumah untuk orang yang nggak akan tinggal di dalamnya.”
Mama berhenti mengunyah.
“Maksudnya?”
“Banyak orang bangun rumah buat investasi, Tante. Buat dijual lagi. Buat dipamerin. Itu nggak salah.” Ervan meletakkan garpunya. “Tapi saya lebih suka bangun rumah buat orang yang bakal bangun pagi di situ. Yang bakal masak di dapurnya. Yang bakal nangis di kamar mandinya kalau lagi sedih. Rumah yang dipakai.”
Hening di meja makan. Papa berhenti menggeser iPad.
Mama menatap Ervan lama. Lalu menatapku. Aku menunduk ke piringku.
“Villa Monic,” kata Mama. “Itu rumah yang dipakai?”
Ervan menatapku dari seberang meja. Lilin di tengah meja membuat bayangan bergerak di wajahnya.
“Itu rumah yang paling dipakai yang pernah saya gambar, Tante,” katanya.
Keran di kamar mandi tamu rusak di tengah makanan penutup.
Tentu saja itu terjadi. Papa baru saja membanggakan keran itu. Keran impor dari Italia, dengan pegangan berbentuk angsa, yang dibeli Papa di pameran desain di Milan dan dipasang oleh tukang yang katanya “pernah memasang keran di hotel bintang tujuh di Dubai.” Sepuluh menit kemudian, Bi Inah, asisten rumah tangga kami, datang ke ruang makan dengan wajah panik dan celemek basah.
“Pak, keran angsa di kamar mandi tamu... bocor. Airnya muncrat ke mana-mana.”
Papa berdiri dengan wajah seperti orang yang anaknya diculik.
Ervan sudah berdiri lebih dulu. “Boleh saya lihat, Om?”
“Aduh, jangan, Mas, jangan. Tamu. Nanti Papa telepon tukangnya...”
“Tukangnya di Dubai, Pa,” kataku.
Ervan sudah berjalan ke arah kamar mandi tamu. Kami semua mengikutinya, Papa, Mama, aku, Bi Inah. Di kamar mandi tamu, air muncrat dari dasar keran angsa seperti air mancur kecil, membasahi wastafel marmer, cermin, dan handuk-handuk bersulam inisial Harrison.
Ervan menatap keran itu dua detik. Lalu ia membungkuk, membuka lemari di bawah wastafel, dan memutar katup air di dalamnya. Air mancur itu berhenti.
“Sealnya lepas,” katanya. “Bisa dipasang lagi. Om ada obeng?”
Papa menatap Mama. Mama menatap Bi Inah. Bi Inah menatap lantai. Rumah seluas delapan ratus meter persegi dengan lima kamar tidur, dua ruang tamu, kolam renang, dan garasi untuk empat mobil, dan tidak ada yang tahu di mana obeng.
“Sebentar,” kata Ervan.
Ia berjalan keluar, ke halaman depan, ke mobil jemputan hotel yang masih menunggu. Ia berbicara sebentar dengan sopirnya. Lalu, dari saku celananya, bukan dari mobil, ia mengeluarkan sesuatu.
Obeng. Gagang kuning. Ujungnya sedikit aus.
“Kamu bawa obeng ke makan malam?” tanyaku, suaraku keluar lebih tinggi dari yang kumaksud.
“Selalu bawa,” kata Ervan sambil kembali ke kamar mandi. “Kebiasaan.”
Aku berdiri di lorong dan harus bersandar ke dinding.
Lima menit kemudian, keran angsa itu terpasang kembali. Sealnya di tempat yang benar, murnya dikencangkan, tidak ada setetes air pun yang bocor. Ervan mengeringkan wastafel marmer dengan handuk kecil, lalu melipat handuk itu kembali dan meletakkannya di tempatnya dengan inisial Harrison menghadap ke atas.
Papa berdiri di ambang pintu kamar mandi, menatap keran angsa yang sudah sehat, lalu menatap Ervan, lalu menatapku.
Mata Papa berkaca-kaca.
“Sofia,” bisik Papa. “Sofia, dia bawa obeng ke makan malam.”
“Aku lihat, Richard.”
“Dia benerin keran Italia pakai obeng dari saku.”
“Aku lihat, Richard.”
Papa menoleh kepadaku dengan ekspresi yang sama seperti waktu aku lulus SMA dengan nilai tertinggi. “Monic,” katanya dengan suara serak. “Papa nggak mau tahu. Pokoknya yang ini.”
“Papa.“
Setelah makanan penutup, Papa mengeluarkan kontrak untuk renovasi Harrison Surabaya. Kontrak sungguhan, kali ini. Mapnya tidak kosong. Nilainya membuat angka di kontrak villa terlihat seperti uang jajan.
Ervan membacanya dengan cermat. Lalu ia menutup map itu dan mendorongnya kembali ke arah Papa, pelan.
“Om,” katanya. “Terima kasih. Ini tawaran yang sangat baik.”
“Tapi?”
“Tapi saya belum bisa kerja untuk keluarga Harrison yang lain.” Ervan menatap map itu, bukan Papa. “Saya udah bikin aturan buat diri saya sendiri. Nggak bawa-bawa keluarga Harrison. Villa itu udah pengecualian.”
“Kenapa villa itu dikecualikan?” tanya Mama. Suaranya lembut.
Ervan diam sebentar. Lalu ia menatapku.
“Karena pemiliknya nggak pakai rem, Tante,” katanya. “Saya nggak punya pilihan.”
Papa tertawa. Tertawa yang meledak, sampai ia harus memegangi perutnya dan anggur di gelasnya bergoyang. Mama tersenyum, senyum yang sungguhan, bukan senyum mesin sinar-X. Dan aku menunduk ke piring kosongku dan menahan senyum dengan menggigit bibir bawah sampai sakit.
“Oke,” kata Papa, masih tertawa, mengusap matanya. “Oke. Papa hormati. Tapi tawarannya nggak kedaluwarsa. Kapan pun kamu siap, map ini masih di laci Papa.”
“Terima kasih, Om.”
Setelah itu, Mama mengajak Ervan ke taman belakang. “Mau lihat anggrek Tante?” katanya, dengan nada yang tidak memberikan pilihan. Ervan mengikutinya keluar lewat pintu kaca geser.
Aku berdiri di balik jendela ruang keluarga, menatap mereka. Mama berjalan pelan di sepanjang deretan pot anggrek yang digantung di pergola kayu, menunjuk bunga-bunga satu per satu. Ervan berjalan di sampingnya dengan tangan di belakang punggung, mengangguk-angguk.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Papa berdiri di sampingku, memegang gelas anggur.
“Sekarang Mama nanya soal niatnya,” bisik Papa, menjadi narator. “Sekarang Ervan jawab dengan sopan. Sekarang Mama bilang anggrek yang ungu itu mahal. Sekarang Ervan pura-pura tertarik sama anggrek.”
“Papa nggak dengar apa-apa.”
“Papa baca bibir.”
“Papa nggak bisa baca bibir.”
“Papa belajar dari YouTube.” Papa menyipitkan mata ke jendela. “Sekarang Mama bilang... kamu... suka... makan... tahu...“
“Itu nggak masuk akal, Pa.”
“Mama suka tahu. Mungkin Mama nawarin tahu.” Papa menyesap anggurnya. “Oh. Oh. Sekarang Ervan nunduk. Sekarang Mama pegang lengannya. Waduh.”
Aku menempelkan dahi ke kaca jendela.
Di taman, di bawah lampu pergola yang kuning, Mama memang sedang memegang lengan Ervan. Ervan menunduk, dan dari sudut ini aku bisa melihat bahunya naik turun sekali, seperti orang yang menarik napas panjang. Mama mengatakan sesuatu. Ervan mengangguk. Mama menepuk lengannya dua kali, persis seperti Om Daniel memeluknya, persis seperti Bu Laras menepuk punggungku.
Lalu mereka berjalan kembali ke dalam.
Aku mengantarnya sampai ke mobil jemputan. Malam sudah pukul sepuluh. Jalan di depan rumah sepi, hanya ada suara jangkrik dan lampu jalan yang berkelip.
“Papamu lucu,” kata Ervan.
“Papaku memalukan.”
“Lucu,” ulangnya. “Dia bilang dia pernah jadi Romeo di pentas SMA.”
“Dia cerita itu ke kamu?”
“Dua kali.”
Aku menutup wajah dengan tangan. Ervan tertawa kecil.
“Mamamu serem,” katanya.
Aku menurunkan tangan. “Mama ngomong apa di taman?”
Ervan menatapku. Lampu jalan di atas kami membuat bayangan di wajahnya, dan aku tidak bisa membaca ekspresinya.
“Rahasia laki-laki,” katanya.
“Mama bukan laki-laki.”
“Rahasia laki-laki dan mamamu,” koreksinya. Sudut bibirnya bergerak. “Kayak rahasia perempuan kamu sama Ibu.”
Aku membeku. Rahasia perempuan. Kalimat yang diucapkan Bu Laras kepadanya di teras, setelah hari kue lapis, yang Bu Laras ceritakan kepadaku lewat pesan.
“Ibu cerita itu ke kamu?”
“Ibu nggak cerita apa-apa. Itu masalahnya.” Ervan membuka pintu mobil. “Ibu sekarang banyak rahasia. Nasi goreng buat Bu Sri. Sandal Bu Sri yang logonya huruf H.”
Aku lupa bernapas.
Ervan masuk ke mobil. Ia tidak menutup pintunya. Ia menatapku dari dalam, dengan satu tangan di pegangan pintu.
“Monic,” katanya.
“Hm?”
“Kamu cantik malam ini.” Ia mengatakannya dengan nada yang sama seperti ia mengatakan sealnya lepas. Datar. Faktual. Seperti laporan teknis. “Aku lupa bilang tadi. Waktu kamu turun tangga.”
Lalu ia menutup pintu, dan mobil jemputan hotel itu berjalan, dan aku berdiri di depan pagar rumah orang tuaku dengan gaun biru tua dan tidak bisa bergerak selama lima menit penuh.
Mama menemukanku di tangga, satu jam kemudian, duduk di anak tangga tengah dengan lutut ditekuk, masih memakai gaun biru tua.
Ia duduk di sampingku. Bau anggrek dan parfum Mama yang selalu sama sejak aku kecil.
“Dia bilang dia takut,” kata Mama tanpa kuminta.
Aku menoleh.
“Di taman. Mama tanya niatnya. Dia bilang dia nggak tahu niatnya apa. Dia bilang dia takut.” Mama merapikan rambutku di belakang telinga. “Takut sama kamu. Bukan karena kamu. Karena dia takut kalau dia buka pintu lagi, isinya bakal sama.”
“Mama bilang apa?”
“Mama bilang: bagus.” Mama tersenyum. “Orang yang takut itu hati-hati. Dan hati-hati itu yang dibutuhkan anak Tante.”
Aku menyandarkan kepala ke bahu Mama.
“Monic,” kata Mama setelah beberapa saat. Nadanya berubah. Lebih serius. “Kamu sudah cerita ke dia soal di rumah Opa?”
Tubuhku menegang.
“Soal yang kamu bilang ke Zara. Berlian. Memungut.” Mama menatap lurus ke depan. “Zara datang ke studionya minggu ini, kan? Mama dengar dari Ratna.”
“Zara bilang ke Ervan... tanya dia apa yang dia bilang di rumah Opa.“
“Dan Ervan tanya?”
“Nggak.”
“Belum,” koreksi Mama.
Aku tidak menjawab.
“Cerita, Nak,” kata Mama pelan. “Sebelum orang lain yang cerita. Kalimat itu, kalau dia dengar dari mulut orang lain, bunyinya bakal beda.”
“Aku tahu, Ma.”
“Kapan?”
“Nanti,” kataku. “Kalau udah waktunya.”
Mama menatapku lama. Aku tahu tatapan itu. Tatapan yang sama waktu aku berumur sembilan tahun dan bilang aku akan mengaku soal vas Oma yang pecah nanti, kalau udah waktunya, dan Mama bilang waktunya itu selalu sekarang, Monic, cuma kita yang pura-pura belum.
Waktu itu aku mengaku sore itu juga.
Malam ini, Mama tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mencium keningku, berdiri, dan naik ke lantai atas.
Aku duduk di tangga sampai lampu-lampu di rumah dimatikan satu per satu. Aku memikirkan kalimat yang kuucapkan di ruang keluarga Opa, dengan suara pelan, setiap kata diletakkan seperti batu. Jangan salahkan aku kalau aku yang memungutnya.
Aku bilang itu karena aku marah. Karena Zara bilang ia pasti balik. Karena aku mencintainya dan tidak tahu harus berbuat apa dengan cinta itu selain melemparkannya ke muka sepupuku.
Aku akan cerita. Aku janji pada diriku sendiri. Nanti. Kalau ia sudah bisa tertawa lebih sering. Kalau ia sudah berhenti mengetuk pintu. Kalau ia sudah cukup kuat untuk mendengar bahwa perempuan yang mengiriminya bunga setiap hari pernah menyebutnya berlian yang dibuang, di depan seluruh keluarga, seperti menyebut barang.
Nanti.
Di tangga yang gelap, aku mengulang kalimat Ervan di kepalaku berulang-ulang, seperti menghafal passcode.
Kamu cantik malam ini. Aku lupa bilang tadi.
Aku tidak sadar bahwa nanti adalah kata yang paling berbahaya dalam hidupku.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard reading
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk