← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twenty Five

Ternyata Aku Butuh Rem

POV: Monica

Pukul sembilan lewat lima belas, keesokan paginya, aku duduk di meja kerjaku dengan kartu warna gading di depanku dan pulpen tinta biru tua di tangan.

Aku tidak menulis apa-apa.

Mas Joko dari florist langganan menelepon pukul delapan. Suaranya hati-hati, seperti orang yang menelepon rumah duka. “Bu Monica, maaf, saya cuma mau konfirmasi. Pesanan bunga matahari untuk Tebet hari ini dibatalkan? Bu Tasya tadi malam kirim pesan.”

“Iya, Mas.”

“Besok juga?”

“Besok juga.”

“Sampai kapan, Bu?”

Aku menatap kartu kosong di depanku. “Sampai saya bilang lagi, Mas.”

Mas Joko diam sebentar. Lalu, dengan suara yang lebih pelan: “Sebelas tangkai hari ini udah saya siapin dari subuh, Bu. Mau saya kirim ke mana?”

Aku tidak tahu. Aku tidak pernah memikirkan ke mana perginya bunga matahari kalau tidak dikirim ke Tebet.

“Kirim ke meja resepsionis, Mas,” kataku akhirnya. “Buat lobi.”

Pukul sembilan lewat lima belas, sebelas tangkai bunga matahari berdiri di vas kristal di atas meja resepsionis Harrison Grand. Dinda mengirim fotonya kepadaku tanpa kata-kata. Hanya foto. Bunga matahari di lobi hotel yang megah, di antara lampu kristal dan marmer, terlihat salah tempat. Seperti tamu yang tersesat.

Aku menatap foto itu sampai layar ponselku mati sendiri.


Satu hotel tahu dalam waktu dua jam.

Aku tidak tahu bagaimana. Mungkin Mas Joko cerita ke Dinda. Mungkin Dinda melihat wajahku waktu aku lewat lobi pukul tujuh pagi. Mungkin Pak Harun, yang semalam menyetir dari Tebet dengan radio dimatikan dan tidak mengatakan apa-apa sepanjang jalan, kecuali satu kalimat di lampu merah Kuningan: Bu, Mas Ervan itu orang baik. Ibu juga orang baik. Kadang orang baik juga bisa salah paham.

Tidak ada yang bertanya. Itu yang paling aneh. Satu hotel tahu, dan tidak ada yang bertanya. Chef Bram mengirim sepiring nasi goreng ke kantorku pukul dua belas, tanpa diminta, lalu mengambilnya lagi pukul dua, tidak tersentuh, tanpa berkata apa-apa. Pak Anto membukakan pintu putar untukku dengan wajah seperti orang yang menunggu jenazah lewat. Mbak Ratih dari housekeeping, yang pasang taruhan sebelum Natal, meninggalkan sebatang cokelat di mejaku dengan sticky note bertuliskan Semangat, Bu. Cinta itu kayak noda anggur di karpet. Susah, tapi bisa.

Aku memakan cokelat itu sambil menangis di balik pintu kantor yang dikunci.


Pukul tiga sore, aku memutar rekaman itu lagi.

Aku tidak mau. Tasya bilang jangan. Tasya, yang datang ke kantorku jam sepuluh pagi dan tidak pergi-pergi, duduk di sofa tamu dengan laptop di pangkuan dan pura-pura bekerja, padahal aku bisa melihat dari pantulan jendela bahwa layarnya menampilkan halaman yang sama selama tiga jam.

“Mon,” katanya ketika aku memasang earphone. “Jangan.”

“Aku harus dengar lagi.”

“Buat apa?”

“Buat ngerti.” Aku menatapnya. “Semalam dia bilang aku bukan barang yang bisa dipungut. Aku mau ngerti kenapa dia dengar itu. Dari kalimatku. Aku mau dengar apa yang dia dengar.”

Tasya menatapku lama. Lalu ia menutup laptopnya, berdiri, dan duduk di kursi di sebelahku. Ia tidak mengambil earphone-nya. Ia hanya duduk di sana, bahu menyentuh bahuku.

Aku menekan tombol putar.

Kali ini aku mendengarkan dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai Monica yang mengucapkan kalimat itu. Bukan sebagai Monica yang marah di ruang keluarga Opa. Aku mendengarkan sebagai laki-laki yang duduk di studio gelap di Tebet, yang delapan hari berlatih senyum di depan cermin kamar mandi supaya tidak ada yang tahu.

Artinya dia bohong.

Aku menceritakan rahasianya. Rahasia yang ia simpan dari semua orang, termasuk dari dirinya sendiri. Aku menemukannya karena aku berdiri di pintu dapur dan memperhatikan, dan aku menceritakannya kepada dua belas orang seperti orang yang bangga karena tahu jawaban soal ujian sebelum guru membacakannya.

Dengar baik-baik, Zara.

Aku tidak bicara kepada Ervan. Di seluruh rekaman itu, tidak ada satu kalimat pun yang ditujukan kepadanya. Aku bicara tentang dia. Kepada orang lain. Sebagai sesuatu yang dibicarakan.

Jangan salahkan aku kalau aku yang memungutnya.

Nya. Memungut-nya. Bukan dia. Nya. Seperti bola yang jatuh. Seperti dompet yang tertinggal di kursi taksi.

Dan nggak akan pernah kulepas.

Aku menarik earphone dari telinga sebelum rekaman itu selesai.

Tasya tidak bertanya. Ia hanya menaruh tangannya di punggungku, di antara tulang belikat, dan membiarkannya di sana.

“Tas,” kataku. Suaraku keluar serak. “Aku nggak pernah nanya dia mau ke mana.”

“Maksudnya?”

“Aku bilang aku nggak pakai rem.” Aku tertawa, tawa yang tidak lucu. “Aku bangga banget sama kalimat itu. Aku bilang ke dia di hari pertama. Aku bilang di warung soto. Aku bilang seolah-olah itu sesuatu yang romantis. Truk tanpa rem. Nggak bisa dihentiin.” Aku menatap tanganku. “Tapi truk tanpa rem itu nggak romantis, Tas. Truk tanpa rem itu bahaya. Truk tanpa rem itu nabrak. Dia nggak peduli siapa yang ada di depannya, dia nggak peduli orangnya mau minggir atau nggak. Dia cuma jalan, karena dia nggak bisa berhenti.”

Tasya diam.

“Aku nggak pernah nanya dia mau aku kejar atau nggak,” lanjutku. “Aku nggak pernah nanya dia mau aku belajar masak di dapur ibunya atau nggak. Aku nggak pernah nanya dia mau keluargaku tahu atau nggak, satu hotel tahu atau nggak, Papa ngacungin jempol di lift atau nggak. Aku cuma jalan. Aku mutusin sendiri apa yang baik buat dia, dan aku jalan, karena aku pikir cintaku cukup buat jadi alasan.”

“Kamu juga ngasih dia aturan,” kata Tasya pelan. “Kamu ngikutin semua aturannya.”

“Setelah aku udah nabrak.” Aku menutup mata. “Aturan itu dia bikin karena aku udah terlanjur masuk. Dia bikin aturan buat ngatur truk yang udah ada di ruang tamunya.”

Aku menarik napas. Napasku bergetar.

“Ternyata aku butuh rem, Tas.”


Gilang tidak menelepon Tasya hari itu.

Aku tahu, karena ponsel Tasya, yang biasanya berbunyi Ditinggal Rabi setiap satu jam, diam sepanjang hari. Tasya mengeceknya setiap sepuluh menit, dengan cara yang ia kira tidak kulihat.

“Kalian berantem?” tanyaku pukul lima.

“Nggak.”

“Tas.”

Tasya menatap ponselnya. “Nggak berantem,” katanya. “Semalam dia telepon, jam sepuluh. Dia bilang dia lagi di depan rumah Ervan. Di Ciledug. Duduk di motor. Dia bilang Ervan nggak mau dia masuk, jadi dia duduk di motor di depan pagar. Kayak waktu itu.” Suaranya melunak. “Dia bilang dia nggak tahu harus ada di pihak siapa. Aku bilang dia nggak perlu ada di pihak siapa-siapa. Dia bilang itu nggak mungkin. Dia bilang Ervan sahabatnya dari kuliah, dan Mbak Monic...”

Ia berhenti.

“Aku apa?”

“Dia bilang kamu orang yang bikin sahabatnya ketawa lagi,” kata Tasya. “Dan sekarang juga orang yang bikin sahabatnya duduk di gelap.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Terus kami sepakat,” kata Tasya, “nggak ngomongin ini. Aku nggak ngomongin kamu ke dia. Dia nggak ngomongin Ervan ke aku. Kita cuma...” Ia mengangkat bahu. “Kita cuma saling nemenin. Dari jauh. Dia di motor di Ciledug. Aku di sofa kantormu.”

Aku menatap sahabatku, yang empat hari lalu masih memakai gaun hitam di pesta ulang tahun Kayla dan menatap pacarnya seperti menatap loyang kue lapis yang berhasil, dan sekarang duduk di sofa kantorku sejak jam sepuluh pagi, tidak pulang, dengan ponsel yang tidak berbunyi.

“Maaf, Tas,” kataku.

“Buat apa?”

“Buat semuanya. Buat bikin kalian harus milih.”

Tasya menatapku dengan wajah sinisnya yang biasa. Lalu wajah itu retak sedikit.

“Mon,” katanya. “Kamu sahabatku sejak kelas satu SMA. Kamu yang duduk di belakangku waktu upacara supaya rambutmu nggak bikin aku minder. Kamu yang nemenin aku di rumah sakit waktu Papa meninggal. Kamu nggak bikin aku milih. Aku udah milih dari dulu.” Ia berdiri, merapikan blazer. “Dan Gilang juga. Dia udah milih Ervan dari dulu. Itu nggak apa-apa. Itu justru bagus. Artinya dua-duanya ada yang jagain.”


Papa datang pukul enam.

Aku tidak mengira ia akan datang. Aku sudah menelepon Mama pagi tadi dan menceritakan semuanya, dan Mama mendengarkan tanpa memotong, dan di akhir hanya bilang Mama tahu, Nak. Mama tahu. Aku kira Mama akan menceritakannya kepada Papa, dan Papa akan menelepon dengan ide-ide absurd: helikopter, ballroom, kontrak Harrison Surabaya.

Papa tidak menelepon. Papa naik ke lantai tiga, mengetuk pintu kantorku, dua kali, dan masuk dengan wajah yang tidak pernah kulihat sejak pemakaman Oma.

Ia tidak membawa map. Tidak membawa iPad. Ia hanya duduk di sofa tamu, di tempat Tasya duduk seharian, dan menatap lantai.

“Mama cerita,” katanya.

“Iya, Pa.”

“Soal rekaman. Soal yang dia bilang.” Papa menggosok tengkuknya. “Piala. Dia ngerasa jadi piala.”

Aku mengangguk.

Papa diam lama. Lalu ia mengangkat tangan kanannya, menatapnya, seperti menatap sesuatu yang asing. Ia mengacungkan jempol. Lalu tangan kirinya. Dua jempol. Lalu menurunkannya pelan-pelan.

“Papa yang mulai,” katanya. “Di lift. Waktu kamu dorong Papa keluar. Papa acungin dua jempol ke arah kantormu. Papa bilang ganteng keras-keras.”

“Papa...”

“Terus Papa undang dia makan malam pakai suara kesepian. Terus Papa bilang pokoknya yang ini di depan kamar mandi, sambil dia benerin keran. Terus Papa kirim undangan gala pakai tinta emas.” Papa menggeleng. “Papa pikir Papa lagi dukung kamu. Papa pikir Papa lagi bikin dia ngerasa diterima.”

Ia menatapku. Mata Papa juga mata Harrison. Cokelat keabuan, dan sekarang merah di sudut-sudutnya.

“Tapi dari sisi dia,” kata Papa pelan, “Papa pasti kelihatan kayak orang yang lagi nonton pertandingan. Yang tepuk tangan tiap tim favoritnya nyetak gol.” Ia mengusap wajahnya. “Papa ikut bikin dia ngerasa jadi piala, Monic.”

“Bukan salah Papa.”

“Sebagian salah Papa.” Papa tersenyum, lelah. “Kamu anak Papa. Kamu nggak pakai rem. Menurut kamu, dari siapa kamu belajar nggak pakai rem?”

Aku tertawa. Tawaku basah.

“Papa mau Papa ngapain?” tanya Papa. “Papa telepon dia? Papa minta maaf? Papa bisa ke studionya sekarang. Papa bisa...”

“Nggak, Pa.”

“Kenapa?”

“Aturan tiga,” kataku. “Dia bilang berhenti. Itu buat aku. Tapi aku rasa...” Aku menatap Papa. “Aku rasa itu juga buat kita semua. Semua Harrison. Dia udah capek ditonton.”

Papa menatapku lama. Lalu ia mengangguk. Pelan.

“Oke,” katanya. Lalu ia berdiri, berjalan ke mejaku, dan mencium puncak kepalaku, seperti waktu aku kecil dan jatuh dari sepeda. “Kalau gitu Papa nggak ngapa-ngapain. Itu hal paling susah yang pernah Papa lakuin. Papa CEO. Papa terbiasa ngapa-ngapain.”


Malam itu aku pulang ke apartemen dan membuat nasi goreng kampung.

Aku tidak tahu kenapa. Aku berdiri di dapur apartemenku, dapur yang hampir tidak pernah kupakai sebelum tiga bulan lalu, yang sekarang punya rak bumbu terbuka karena aku meniru rancangan dapur villa. Bawang merah, diiris tipis, tanpa berdarah. Cabai rawit tiga saja. Terasi sedikit. Kecap manis dituang melingkar. Telur ceplok setengah matang.

Aku memakannya sendirian di meja makan. Aku menusuk kuning telurnya dan menatapnya meleleh.

Rasanya sama, kata Bu Laras dulu. Rasanya sama seperti buatan Bapaknya.

Aku tidak tahu rasanya seperti apa, buatan Bapaknya. Aku tidak pernah bertemu laki-laki itu. Aku hanya tahu tulisan tangannya yang tegak dan besar di buku resep bersampul cokelat. BUAT VAN. Aku hanya tahu bahwa ia naik bus malam dari luar kota setiap Sabtu supaya Minggu pagi bisa memasak ini untuk anaknya.

Dan aku, Harrison yang tidak pakai rem, masuk ke dapur ibunya dan mempelajari resep itu diam-diam, tanpa bertanya apakah anaknya mau seseorang dari keluarga Harrison menyentuh buku itu.

Di rekaman, aku bilang aku akan memungutnya.

Di dapur ibunya, aku mempelajari resep ayahnya.

Aku tidak tahu lagi apakah itu dua hal yang berbeda, atau dua cara yang sama untuk mengambil sesuatu yang bukan milikku.


Pukul sembilan lewat lima belas keesokan paginya, aku menulis kartu.

Hari 88.

Aku tidak tahu harus menulis apa. Jadi aku menulis apa yang kupikirkan.

Hari 88: Ternyata aku butuh rem. Aku baru sadar kemarin. Aku pikir nggak pakai rem itu berani. Ternyata itu cuma nggak mau berhenti buat nanya. Maaf aku nggak pernah nanya kamu mau aku datang atau nggak. Maaf aku masuk ke dapur ibumu tanpa nanya. Maaf aku cerita ke semua orang tentang hal yang kamu simpan buat dirimu sendiri. Maaf aku bilang “nya”. Kamu bukan “nya”. Kamu Ervan.

Aku membaca kartu itu. Lalu aku tidak mengirimnya.

Aku membuka laci meja kerjaku, laci paling bawah yang biasanya berisi kunci cadangan dan charger yang tidak pernah kupakai, dan mengeluarkan kotak sepatu yang kosong. Kotak sepatu dari sepatu bot karet kuning yang kupakai di hari peletakan batu pertama. Aku menaruh kartu Hari 88 di dalamnya.

Aturan tiga. Aku sudah berjanji.

Tapi tidak ada yang bilang aku tidak boleh menulis.

Pukul sembilan lewat lima belas keesokan harinya, aku menulis Hari 89. Dan menaruhnya di dalam kotak.

Pukul sembilan lewat lima belas setiap pagi, di kantorku di lantai tiga Harrison Grand, aku menulis satu kartu yang tidak akan pernah dikirim. Kotak sepatu itu pelan-pelan terisi. Kartu-kartu warna gading, bertumpuk, dengan tinta biru tua dan huruf yang miring ke kanan, dan ekor huruf g yang melengkung seperti kail pancing.

Di lobi, setiap pagi, sebelas tangkai bunga matahari berdiri di vas kristal di meja resepsionis. Tamu-tamu hotel memotretnya. Seorang blogger perjalanan dari Singapura menulis bahwa Harrison Grand punya “sentuhan hangat yang tidak terduga” di lobinya, dan menyebut bunga matahari itu sebagai “simbol keramahan.”

Dinda mengirim tangkapan layar tulisan itu kepadaku, dengan satu pesan.

Dinda: Bu. Mereka nggak tahu itu bunga yang nggak jadi dikirim.

Aku tidak membalas. Aku menatap bunga-bunga itu dari mezanin lantai dua, menghadap ke pintu putar, ke arah jalan, ke arah timur.

Menghadap ke tempat cahaya akan datang, meskipun tidak ada yang tahu apakah ia akan datang.