Chapter Four
Maaf yang Salah Alamat
POV: Ervan
Butuh delapan hari sampai aku bisa menyetir melewati gerbang besi hitam dengan ujung-ujung runcing berwarna emas itu tanpa merasa ingin memutar balik.
Delapan hari yang kuisi dengan bekerja. Aku menyelesaikan gambar kerja rumah dua lantai di Bintaro yang tenggatnya masih tiga minggu lagi. Aku menghitung ulang struktur atap gudang di Cikarang yang sebenarnya sudah benar. Aku menggambar ulang denah kafe kecil di Kemang sebanyak empat versi, padahal kliennya sudah setuju dengan versi pertama. Gilang, pada hari kelima, mencabut kabel lampu meja gambarku.
“Kamu udah nggak kerja, Van,” katanya. “Kamu lagi kabur pakai penggaris.”
“Aku baik-baik saja, Lang.”
“Kamu ngomong gitu delapan kali sehari. Aku ngitung.” Ia menunjuk papan tulis di dinding studio. Di sudutnya ada deretan garis kecil, dikelompokkan per lima, seperti hitungan napi di penjara. “Itu hari ini aja.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku memasang kabel lampu itu lagi.
Pada hari kedelapan, Om Daniel meneleponku. Bukan Zara. Nomor Zara sudah kuarsipkan, bukan kublokir, karena memblokir terasa terlalu seperti marah, dan aku masih belum menemukan di mana letak marahku. Om Daniel menelepon sekali, pukul tujuh pagi, dan tidak meninggalkan pesan suara. Hanya pesan teks pendek yang dikirim sesudahnya.
Om Daniel: Nak. Kalau kamu sudah siap. Om tunggu.
Aku membacanya di meja makan sementara Ibu mengukus kue. Aku membacanya sampai layar ponsel mati sendiri.
“Siapa, Van?” tanya Ibu.
“Om Daniel.”
Ibu mematikan kompor. Ia duduk di hadapanku dan melepas celemeknya, sesuatu yang hanya ia lakukan kalau ingin bicara serius.
“Kamu mau ke sana?”
“Aku harus ke sana, Bu.”
“Harus itu beda sama mau.”
Aku memikirkannya. “Aku harus pamit. Mereka keluarga yang baik. Mereka nggak salah apa-apa.” Aku memutar ponsel di tanganku. “Kalau aku hilang gitu aja, Tante Ratna bakal mikir aku benci mereka. Om Daniel bakal mikir aku nyalahin mereka. Kayla...” Aku berhenti. “Kayla udah cukup nangis.”
Ibu menatapku lama.
“Kamu itu,” katanya akhirnya, “persis Bapakmu. Orang yang nabrak dia di jalan, dia yang minta maaf duluan karena ngerem mendadak.”
“Itu bagus atau jelek, Bu?”
“Dua-duanya.” Ibu berdiri dan memakai celemeknya lagi. “Bawa kue lapis. Jangan datang tangan kosong ke rumah orang yang lagi sedih.”
Pak Udin membukakan pintu kecil di samping pagar sebelum aku sempat membunyikan klakson. Ia menatapku seperti menatap orang yang baru pulang dari rumah sakit.
“Mas Ervan,” katanya. Suaranya bergetar sedikit. “Sehat, Mas?”
“Sehat, Pak. Anaknya gimana, udah betah di SMP?”
Pak Udin mengedip beberapa kali. Lalu mengangguk cepat dan mengusap hidung dengan punggung tangan. “Betah, Mas. Betah. Kemarin ikut ekskul pramuka.”
Bruno datang berlari dari arah taman. Ia menyalak dua kali, seperti biasa, lalu melompat dan menaruh kedua kaki depannya di dadaku, lalu melakukan sesuatu yang tidak biasa: ia tidak mau turun. Ia hanya berdiri di sana, bertumpu di tubuhku, dengan ekor yang mengibas pelan dan mata cokelat yang menatap wajahku dari jarak sangat dekat.
“Iya, iya,” kataku sambil menggaruk telinganya. “Aku tahu.”
Aku tidak tahu apa yang kutahu. Tapi Bruno sepertinya puas dengan jawaban itu, karena ia turun dan berjalan di sampingku sampai ke teras, menempel di kakiku sedemikian rapat sehingga aku harus berjalan sedikit miring.
Pintu depan sudah terbuka sebelum aku mengetuk.
Om Daniel berdiri di ambangnya. Delapan hari, dan ia terlihat sepuluh tahun lebih tua. Rambutnya yang biasanya disisir rapi ke belakang dengan pomade sekarang dibiarkan jatuh. Kacamatanya bertengger miring di hidung. Ia memakai kaus polo yang kancingnya salah pasang satu.
Ia membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Selamat sore, Om,” kataku. Lalu, karena tanganku tidak tahu harus berbuat apa, aku menyodorkan kotak plastik berisi kue lapis. “Dari Ibu.”
Om Daniel menerima kotak itu dengan dua tangan. Ia menatapnya seperti menatap sesuatu yang sangat berat.
“Masuk, Nak,” katanya. Suaranya pecah di kata terakhir. “Masuk.”
Ruang tengah keluarga Om Daniel tidak berubah. Sofa kulit cokelat yang terlalu besar. Lukisan pemandangan Danau Toba yang dibeli Om Daniel di pameran dan kata Zara jelek tapi tidak boleh diturunkan. Piano tegak di sudut yang tidak pernah dimainkan siapa pun kecuali aku. Foto-foto keluarga di atas bufet, dan di antara foto-foto itu, di bingkai perak di ujung kanan, fotoku bersama mereka di pantai Anyer lebaran tahun lalu. Aku sedang menggendong Kayla di punggung, dan Zara tertawa dengan kepala mendongak.
Foto itu masih di sana. Tidak ada yang menurunkannya.
Tante Ratna duduk di sofa. Ia berdiri begitu melihatku, dan aku melihat tangannya gemetar. Matanya bengkak dan merah di sudut-sudutnya, bengkak yang tidak hilang dalam satu dua hari.
“Ervan,” katanya. Hanya itu.
Kayla muncul dari tangga, masih memakai piyama bergambar dinosaurus, dan berhenti di anak tangga terakhir. Ia tidak berlari ke arahku seperti biasanya. Ia hanya berdiri di sana, memegangi pegangan tangga.
Lalu aku menyadari ada orang lain di ruangan itu.
Dari arah dapur, dua perempuan keluar membawa nampan. Yang pertama kukenal: Tante Sofia, istri Om Richard, kakak ipar Om Daniel. Perempuan anggun berambut pendek yang selalu memakai mutiara dan selalu tahu nama semua orang. Yang kedua...
Aku pernah melihatnya. Dua kali, mungkin tiga, dari jauh, di acara-acara keluarga Harrison yang terlalu besar. Monica. Sepupu Zara. Anak Om Richard. Zara pernah menyebutnya sekali dengan nada yang aneh: oh, Monica, dia jarang datang, sibuk jadi ratu di Harrison Grand.
Aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya.
Sekarang, sore itu, di ruang tengah yang terlalu sunyi, dengan cahaya matahari miring yang masuk dari jendela samping, aku memperhatikannya. Aku tidak ingin. Tapi mataku melakukannya sendiri, dengan cara yang sama seperti mataku selalu memperhatikan detail sebuah bangunan sebelum otakku sempat menyuruh.
Ia cantik. Itu hal pertama, dan itu tidak bisa ditawar. Cantik dengan cara yang membuatku, bahkan dalam keadaan seperti ini, lupa sebentar bagaimana cara menarik napas. Rambutnya hitam kecokelatan, bergelombang besar, diikat asal di tengkuk dengan beberapa helai yang lolos di pelipis. Ia memakai kemeja linen putih yang lengannya digulung sampai siku dan celana panjang krem, tanpa perhiasan kecuali anting mutiara kecil yang pasti dipinjam dari ibunya. Kulitnya terang dan bersih, dan di bawah mata kanannya ada tahi lalat kecil, titik gelap mungil yang entah kenapa membuat seluruh wajahnya terlihat seperti sesuatu yang sudah diselesaikan dengan hati-hati.
Lalu ia mengangkat mata dan menatapku.
Mata Harrison.
Cokelat keabuan, berubah warna di bawah cahaya sore. Mata yang sama dengan mata Kayla. Mata yang sama dengan mata Om Daniel di balik kacamata miring. Mata yang sama dengan mata yang delapan hari lalu berbalik ke arahku dari atas bantal, dengan senyum yang terlambat hilang.
Aku berpaling. Cepat. Terlalu cepat, sampai aku yakin semua orang di ruangan itu melihatnya.
Dadaku dingin lagi.
“Minum dulu, Mas,” kata sebuah suara. Suaranya. Lebih rendah dari yang kubayangkan, sedikit serak, tenang. Ia meletakkan segelas air putih di meja di depanku. Tidak teh. Tidak sirup. Air putih, dingin, dengan embun di sisi gelasnya. “Kelihatannya Mas nyetir dari jauh.”
“Makasih,” kataku ke arah gelas, bukan ke arahnya.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia mundur ke dekat pintu dapur, berdiri di samping ibunya, dan dari ujung mataku aku melihatnya menunduk sedikit, seperti orang yang tahu dirinya tidak seharusnya ada di sini.
Kami duduk. Om Daniel di kursi tunggal. Tante Ratna di sofa. Kayla, akhirnya, turun dari tangga dan duduk di lantai di dekat kaki ibunya, memeluk lutut. Bruno berbaring melintang di atas kedua sepatuku, seperti palang pintu.
Tidak ada yang bicara. Om Daniel menatap kotak kue lapis di pangkuannya. Tante Ratna memilin ujung kerudungnya. Jam dinding berdetak.
Aku tahu mereka menunggu. Aku tahu mereka tidak tahu harus berkata apa, sama seperti aku.
Jadi aku yang mulai.
“Om, Tante,” kataku. “Saya ke sini mau minta maaf.”
Om Daniel mengangkat kepala dengan cepat. Tante Ratna berhenti memilin kerudung.
“Minggu lalu saya pergi tanpa pamit. Nggak masuk waktu antar Kayla. Nggak angkat telepon Om.” Aku menatap tanganku sendiri yang terlipat di atas lutut. “Itu nggak sopan. Setelah semua yang Om dan Tante kasih ke saya selama ini, saya nggak seharusnya pergi kayak gitu.”
“Nak,” kata Om Daniel. Suaranya serak. “Nak, bukan kamu yang harus—“
“Saya juga mau minta maaf,” lanjutku, karena kalau aku berhenti aku tidak akan bisa mulai lagi, “karena saya nggak cukup. Buat Zara. Dua tahun, dan saya nggak bisa bikin dia merasa cukup. Saya pikir saya tahu dia. Saya pikir kalau saya sabar, kalau saya ada terus, itu udah cukup. Ternyata nggak. Saya nggak nyalahin siapa-siapa. Mungkin memang ada hal yang saya nggak lihat. Mungkin saya terlalu sibuk ngerasa bahagia sampai lupa nanya dia bahagia atau nggak.”
Tante Ratna menutup mulut dengan kedua tangan. Suara yang keluar dari balik tangannya kecil sekali, seperti cicitan.
“Dan saya mau pamit,” kataku.
Kata itu jatuh ke ruangan dan tinggal di sana.
“Saya nggak akan datang lagi ke sini. Bukan karena saya marah sama Om, Tante, atau Kayla. Saya sayang kalian. Beneran.” Suaraku, anehnya, tetap datar. Tetap rapi. Seperti sedang presentasi di depan klien. “Tapi saya harus pergi supaya bisa... supaya bisa jadi baik lagi. Kalau saya tetap di sini, saya bakal terus lihat pintu itu. Dan Zara juga bakal terus lihat saya. Itu nggak adil buat dia. Dia tetap anak Om dan Tante. Rumah ini rumahnya. Bukan rumah saya.”
“Rumah ini rumahmu juga,” kata Om Daniel. Keras. Terlalu keras. Lalu, lebih pelan, “Rumah ini rumahmu juga, Nak.”
Aku menggeleng pelan.
Lalu aku membuka tas selempang di pangkuanku dan mengeluarkan gulungan kertas kalkir. Aku membukanya di atas meja, menahan sudut-sudutnya dengan gelas air dan asbak kristal yang tidak pernah dipakai.
“Ini gazebo yang Om minta tahun lalu,” kataku. “Buat taman belakang. Om bilang pengin tempat duduk buat baca koran sambil lihat Bruno main. Saya udah selesaiin gambarnya. Sama rencana anggaran, sama nomor tukang kayu di Jepara yang dulu bikin meja...” Aku berhenti sebentar. “Yang bikin meja. Dia jujur, harganya nggak dimahalin. Om tinggal kasih gambar ini ke dia. Nggak perlu saya.”
Om Daniel menatap gambar itu. Gazebo kayu jati beratap sirap dengan bangku melingkar dan meja kecil di tengah, cukup untuk secangkir kopi dan satu koran. Di sudut gambar, karena kebiasaan, aku menggambar seekor anjing golden retriever kecil sedang tidur di bawah bangku.
Om Daniel melepas kacamatanya.
Aku belum pernah melihat Om Daniel menangis. Dua tahun, dan aku tidak pernah melihatnya menangis, bahkan di pemakaman Oma. Ia laki-laki yang memimpin operasional tiga puluh hotel, yang pernah memecat manajer umum di depan seluruh staf karena ketahuan korupsi, yang suaranya membuat pegawai baru menunduk.
Sekarang ia menunduk di atas gambar gazebo dengan bahu yang berguncang, dan kacamatanya tergantung dari satu jari.
“Kamu,” katanya ke gambar itu. “Kamu datang ke sini buat minta maaf. Kamu. Setelah anak Om...” Ia tidak menyelesaikannya. Ia memukul lututnya sendiri dengan kepalan tangan. Sekali. Pelan. Seperti menghukum sesuatu. “Ya Tuhan. Om yang harusnya berlutut, Nak. Om yang harusnya datang ke rumahmu. Om yang gagal ngajarin anak Om.”
“Om nggak gagal,” kataku.
Lalu Tante Ratna bergerak.
Aku tidak siap. Ia bangkit dari sofa, dan dalam dua langkah ia sudah ada di depanku, dan sebelum aku sempat berdiri ia sudah berlutut di lantai, di samping Bruno, dan memeluk kakiku. Memeluknya seperti orang memeluk tiang di tengah banjir. Kepalanya bersandar di lututku. Kerudungnya miring.
“Jangan pergi,” katanya. Tangisnya pecah sepenuhnya sekarang, suara yang tidak peduli siapa yang mendengar. “Jangan pergi, jangan pergi, Tante mohon, Ervan, anak Tante... Tante masakin rendang tiap minggu, Tante nggak tahu mau masakin siapa lagi...”
“Tante,” kataku. Aku membungkuk, memegang bahunya, mencoba mengangkatnya. “Tante, jangan gini. Bangun, Tante.”
“Tante sisihin di piring kiri... tiap minggu... yang paling besar...”
Kayla menangis di lantai. Bruno berdiri dan menjilati tangan Tante Ratna, lalu menjilati tanganku, bolak-balik, seperti mencoba menambal sesuatu. Di dekat pintu dapur, Tante Sofia memeluk Monica, atau Monica memeluk Tante Sofia, aku tidak bisa melihat jelas. Aku hanya melihat punggung Monica yang lurus dan kepalanya yang menunduk, dan satu tangan yang menutupi mulutnya sendiri.
Aku berhasil mengangkat Tante Ratna dan mendudukkannya di sofa. Aku berlutut di depannya, memegangi kedua tangannya yang basah dan dingin.
“Tante,” kataku. “Makasih udah masakin saya rendang dua tahun. Itu rendang paling enak yang pernah saya makan. Jangan bilang Ibu, ya.”
Tante Ratna tertawa di tengah tangis, suara yang aneh dan sakit. Ia melepaskan satu tangannya dan menyentuh pipiku.
“Kamu baik-baik aja, Nak?” bisiknya. “Bilang ke Tante. Jujur.”
Aku tersenyum. Senyum yang sudah kulatih delapan hari di depan cermin kamar mandi.
“Aku baik-baik saja, Tante.”
Di anak tangga paling atas, seseorang berdiri.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu. Aku bisa merasakannya dari cara ruangan itu berubah, dari cara Kayla tiba-tiba berhenti menangis dan menatap ke atas dengan wajah kaku, dari cara Tante Sofia menarik Monica sedikit lebih dekat.
Aku menoleh.
Zara berdiri di sana, memegangi pegangan tangga, memakai kaus longgar yang aku kenal karena itu kausku, kaus festival musik yang pernah kupinjamkan waktu ia kedinginan dan tidak pernah dikembalikan. Rambutnya kusut. Wajahnya pucat dan bengkak. Ia tidak turun. Ia hanya berdiri di sana, menatapku dengan mata Harrison yang penuh air, dan bibirnya bergerak membentuk sesuatu tanpa suara.
Mungkin namaku. Mungkin maaf.
Aku menunggu dadaku bereaksi. Marah, sakit, rindu, apa saja.
Yang ada hanya dingin.
Aku mengangguk kepadanya. Sekali. Sopan. Seperti mengangguk kepada tetangga yang berpapasan di lorong. Lalu aku kembali menatap Tante Ratna, dan aku mendengar langkah kaki berlari menjauh di lantai atas, lalu suara pintu kamar yang dibanting.
Aku pamit sebelum magrib.
Om Daniel mengantarku sampai teras. Ia memelukku dengan cara yang sama seperti minggu lalu di meja makan, menepuk punggung dua kali, dan kali ini aku merasa ia sedang memastikan sesuatu yang sudah retak.
“Kalau kamu butuh apa-apa,” katanya. “Apa saja. Seumur hidupmu. Kamu telepon Om.”
“Iya, Om.”
“Janji?”
Aku mengangguk. Aku tidak berjanji.
Bruno menolak menyingkir dari depan pintu mobilku. Pak Udin harus menggendongnya, dua puluh delapan kilo anjing yang meronta dan merengek, sementara aku masuk ke mobil dengan canggung.
Kayla berdiri di teras dengan piyama dinosaurus, tidak melambai. Tante Ratna tidak keluar. Aku bisa mendengar tangisnya dari dalam rumah, samar, lewat jendela yang terbuka.
Aku menyalakan mobil. AC-nya menyala di percobaan pertama, tanpa perlu dipukul.
Ketika aku mundur dari halaman, aku melihat seseorang berdiri di jendela samping, di dekat dapur. Siluet perempuan dengan kemeja linen putih dan rambut yang diikat asal. Ia tidak bersembunyi. Ia menatap mobilku mundur sampai ke jalan, dan ketika mata kami bertemu lewat kaca jendela dan kaca mobil, ia tidak berpaling.
Aku yang berpaling.
Di sepanjang jalan pulang, aku terus melihat mata itu. Cokelat keabuan. Mata Harrison. Aku mengingatkan diriku bahwa itu mata yang sama, mata yang membuat dadaku dingin.
Tapi ada sesuatu di cara mata itu menatapku dari balik jendela yang tidak kuingat pernah kulihat pada mata Harrison yang lain.
Sesuatu seperti marah. Bukan kepadaku.
Untukku.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat reading
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk