Chapter Two
Tiga Ketukan
POV: Ervan
Lift turun dua puluh tiga lantai dalam waktu empat puluh detik. Aku tahu karena aku menghitungnya.
Menghitung adalah hal yang selalu kulakukan kalau kepalaku tidak mau diam. Waktu Bapak meninggal, aku menghitung ubin di lorong rumah sakit. Seratus dua belas. Waktu sidang skripsi, aku menghitung lampu di langit-langit ruang dosen. Delapan, satu mati. Malam ini aku menghitung angka merah di atas pintu lift yang turun satu per satu, dan di sampingku Kayla menangis dengan cara yang membuat bahunya naik turun seperti anak kecil yang tersesat di pasar.
“Kak... Kak Ervan...”
“Iya, Kay.”
“Aku... aku nggak tahu... sumpah aku nggak tahu...”
“Aku tahu kamu nggak tahu.”
“Kalau aku tahu aku nggak bakal bawa gimbal!” Tangisnya pecah lebih keras. “Aku bawa gimbal, Kak! Gimbal! Kayak orang bego!”
Aku tidak tahu harus tertawa atau tidak. Jadi aku tidak melakukan apa-apa, hanya meletakkan tanganku di kepalanya yang tertutup topi hitam, seperti yang kulakukan dua tahun lalu waktu ia gagal lolos seleksi festival film pendek dan menangis di teras rumahnya.
Lantai sebelas. Lantai sepuluh.
Ponselku bergetar di saku celana. Lalu berhenti. Lalu bergetar lagi. Aku tidak perlu melihat untuk tahu siapa.
Lantai lima. Empat. Tiga.
Pintu lift terbuka di lobi yang terang benderang, dengan lantai marmer dan lampu kristal dan satpam yang menguap di balik meja. Satpam itu melihat kami, laki-laki berjas memeluk perempuan berbaju serba hitam yang menangis, lalu melihat ke arah lain dengan sopan, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat hal-hal di lobi ini untuk bertanya.
“Kamu ke sini naik apa?” tanyaku.
“T-taksi...”
“Aku antar pulang.”
“Nggak usah, Kak, Kakak kan—“
“Aku antar,” kataku lagi. Lebih pelan. “Udah malam.”
Mobilku Avanza abu-abu tahun 2017 yang AC-nya harus dipukul dulu di bagian dasbor kiri supaya mau dingin. Zara selalu protes soal itu. Katanya aku arsitek, kok mobilnya kayak mobil travel. Aku selalu bilang mobil itu masih sehat, dan memang masih sehat, dan malam ini ia menyala di percobaan pertama seperti tahu bahwa aku tidak punya tenaga untuk yang kedua.
Kayla duduk di kursi penumpang dengan lutut ditekuk ke dada. Ponselnya dipeluk di perut.
Di jalan tol, ponselku bergetar lagi. Kali ini aku mengeluarkannya dan meletakkannya di dasbor, layar menghadap ke bawah. Getarannya membuat ponsel itu bergeser sedikit demi sedikit ke arah kaca, seperti sedang berusaha kabur.
“Itu Kak Zara, ya,” kata Kayla.
“Mungkin.”
“Kakak nggak angkat?”
“Lagi nyetir.”
Kayla terdiam lama. Lalu ia berkata, dengan suara yang serak karena menangis, “Aku benci dia.”
“Jangan.”
“Kenapa jangan?” Ia menoleh ke arahku, matanya bengkak. “Dia... dia ngelakuin itu... ke Kakak. Kakak yang... Kakak yang benerin keran kamar mandiku jam dua pagi. Kakak yang ngajarin Papa pakai grup WhatsApp. Kakak yang dateng ke wisuda SMA-ku padahal Kak Zara aja nggak dateng. Kakak yang—“
Suaranya patah. Ia menutup wajahnya dengan dua tangan.
Aku menyalakan lampu sein dan pindah ke lajur kiri. Pelan. Jalanan di depan kami panjang dan kuning oleh lampu-lampu tol.
“Kay,” kataku. “Dia kakakmu.”
“Terus kenapa?”
“Terus kamu nggak boleh benci dia gara-gara aku.” Aku menatap lurus ke jalan. “Aku kan cuma orang luar. Dia yang bakal ada di rumahmu tiap lebaran. Dia yang bakal jadi tante anak-anakmu nanti. Jangan benci dia gara-gara aku.”
Kayla menurunkan tangannya dan menatapku seolah aku baru saja mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
“Kakak bukan orang luar,” katanya.
Aku tidak menjawab. Ponsel di dasbor bergetar lagi, dan kali ini ia benar-benar tergelincir sampai menabrak kaca depan.
Pada saat yang sama, AC mobil berhenti meniupkan udara dingin. Lalu mulai meniupkan udara hangat yang baunya seperti karpet basah.
Kayla mengendus. “Kak. Ini bau apa?”
“AC-nya ngambek.”
“Sekarang? Di momen kayak gini?”
“Dia memang nggak punya empati.” Aku mengangkat tangan kiri dari setir dan memukul dasbor bagian kiri, dua kali, di titik yang sudah kuhafal letaknya. Mesin AC terbatuk, berdengung, lalu kembali meniupkan udara dingin seolah tidak terjadi apa-apa.
Kayla menatap dasbor. Lalu menatapku. Lalu, entah bagaimana, di tengah semua ini, ia tertawa. Tawa yang bercampur ingus dan air mata, yang membuatnya harus membungkuk memegangi perut.
“Kak Zara selalu bilang mobil ini kayak mobil travel,” katanya di sela-sela tawa.
“Aku tahu.”
“Aku selalu belain Kakak. Aku bilang mobilnya lucu.”
“Makasih.”
“Sekarang aku mau bilang ke dia, mobil ini lebih setia daripada dia.” Tawanya pecah lagi, lalu berubah jadi tangis, lalu berhenti di tengah-tengah, dan ia menatap ponsel di pangkuannya lama sekali.
“Kak,” bisiknya. “Video yang tadi...”
“Nggak usah dipikirin sekarang.”
“Tapi aku sempet ngerekam. Sedikit. Sebelum Kakak matiin.” Jarinya menggenggam ponsel itu sampai buku-bukunya memutih. “Aku harus apain?”
Aku menatap jalan tol yang panjang dan kuning.
“Terserah kamu, Kay,” kataku. “Itu ponselmu.”
Ia tidak menjawab. Ia hanya memeluk ponsel itu lebih erat, seperti memeluk sesuatu yang bisa meledak kalau dilepaskan.
Rumah keluarga Om Daniel ada di Pondok Indah, di jalan yang pohon-pohonnya lebih tua dari umurku. Pagarnya tinggi, besi hitam dengan ujung-ujung runcing yang dicat emas. Aku sudah melewati pagar itu ratusan kali. Aku tahu satpamnya bernama Pak Udin dan anaknya baru masuk SMP. Aku tahu anjing golden retriever mereka, Bruno, akan menyalak dua kali lalu berguling minta digaruk perutnya. Aku tahu di dalam, Tante Ratna mungkin sedang menunggu di ruang tengah dengan ponsel di tangan, menunggu video dari Kayla, menunggu kabar bahwa anak sulungnya sudah dilamar.
Lampu ruang tengah menyala. Semua jendela terang.
Aku menghentikan mobil di depan pagar. Tidak masuk.
“Kak,” kata Kayla. “Masuk dulu. Please.”
“Nggak, Kay.”
“Papa sama Mama pasti mau ketemu Kakak.”
“Nanti.” Aku mematikan mesin. Keheningan mobil langsung terasa terlalu besar. “Nanti aku ke sini. Tapi bukan malam ini.”
Kayla memandangi rumahnya lewat kaca. Aku bisa melihat bayangannya di jendela, wajah kecil dengan mata yang merah, dan di baliknya lampu-lampu rumah yang hangat. Rumah yang, lima belas menit lalu, masih kuanggap rumah kedua.
“Aku harus bilang apa ke Mama?” bisiknya.
Aku memikirkannya. Aku sungguh-sungguh memikirkannya, karena ini penting. Tante Ratna itu tipe ibu yang menangis nonton iklan sirup menjelang lebaran. Om Daniel tipe bapak yang kelihatannya galak tapi diam-diam menyimpan semua kartu ucapan ulang tahun yang pernah diberikan anak-anaknya dalam satu kotak sepatu. Apa pun yang Kayla katakan malam ini, rumah itu akan berubah.
Aku tidak bisa membuatnya tidak berubah. Tapi mungkin aku bisa membuatnya sedikit lebih ringan.
“Bilang aja lamarannya nggak jadi,” kataku. “Terus bilang aku baik-baik saja.”
“Kakak nggak baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja, Kay.”
Ia menatapku lama. Lalu, tanpa peringatan, ia mencondongkan badan melewati tuas persneling dan memelukku. Pelukannya kaku karena sabuk pengaman masih terpasang, dan gimbal di pangkuannya menusuk rusukku, dan topinya jatuh ke karpet mobil.
“Maaf,” katanya ke bahuku. “Maaf, maaf, maaf.”
“Bukan salahmu.”
“Aku yang bilang masuk, Kak.”
“Aku yang pencet passcode-nya.”
Ia melepaskan pelukan, mengambil topinya, membuka pintu. Sebelum turun ia berkata, “Kakak harus ke sini lagi. Janji.”
Aku mengangguk. Aku tidak berjanji.
Pak Udin membukakan pintu kecil di samping pagar. Bruno menyalak dua kali. Kayla berjalan masuk tanpa menoleh, dan aku menunggu sampai pintu rumah terbuka, sampai aku melihat siluet Tante Ratna berdiri di ambangnya, sampai Kayla menghilang ke dalam pelukan ibunya.
Lalu aku menyalakan mobil dan pergi, sebelum lampu teras menyala lebih terang dan seseorang keluar memanggil namaku.
Aku berhenti di pom bensin di Jalan Fatmawati. Bukan untuk mengisi bensin. Tangkinya masih setengah. Aku hanya parkir di sudut, di samping mesin angin yang rusak, dan mematikan mesin.
Aku membalik ponsel.
47 panggilan tak terjawab — Zara.
12 pesan — Zara.
Aku tidak membuka pesan-pesan itu. Di bawahnya ada notifikasi lain.
Gilang: GIMANA???
Gilang: DITERIMA???
Gilang: kamu nggak kesurupan kan
Gilang: van
Gilang: VAN
Gilang: aku udah pesen martabak manis buat syukuran di studio besok. Keju coklat. Jangan bilang ditolak, martabaknya udah dibayar
Aku membaca pesan terakhir itu tiga kali. Lalu aku tertawa. Satu kali, pendek, suara yang aneh di dalam mobil yang sepi, suara yang lebih mirip batuk.
Aku mengetik: Nanti ya, Lang.
Balasannya datang dalam dua detik.
Gilang: nanti apa
Gilang: van
Gilang: kamu di mana, aku jemput
Aku mematikan ponsel. Sepenuhnya. Layarnya hitam, dan di layar hitam itu aku melihat pantulan wajahku sendiri, samar dan gelap: rambut yang tadi pagi disisir tiga kali, dasi yang masih rapi, jas pinjaman kakak Gilang.
Aku menunggu diriku menangis.
Aku duduk di sana, di sudut pom bensin, dengan tangan di setir, dan menunggu. Seorang petugas pom bensin berseragam merah lewat dan melirikku. Seekor kucing belang tiga naik ke kap mobil, duduk, menjilati kaki depannya, lalu turun lagi. Sebuah truk tangki masuk dan keluar.
Tidak ada air mata. Hanya dingin yang tadi, yang sekarang sudah menetap, yang terasa seperti seseorang telah memasang pendingin ruangan di dalam dadaku dan lupa mematikannya.
Dua puluh menit kemudian aku menyalakan mesin dan pulang.
Rumah kami di Ciledug tidak punya pagar tinggi. Hanya pagar besi pendek selutut yang catnya hijau dan mengelupas, dan pot-pot bunga kertas yang ditanam Ibu di sepanjang teras. Lampu teras menyala. Lampu dapur juga.
Ibu duduk di kursi rotan di teras, memakai daster batik dan jaket rajut, dengan sepiring kue lapis yang ditutup tudung saji di pangkuannya.
Ibu tidak pernah menunggu di teras. Ibu tidur jam sembilan karena harus bangun jam tiga untuk mengukus kue. Sekarang jam sebelas malam.
Aku turun dari mobil. Ibu berdiri.
Kami bertatapan dari jarak lima langkah, dipisahkan pagar hijau yang catnya mengelupas.
Aku melihat wajah Ibu berubah. Tidak dramatis. Hanya sedikit, di sekitar mata, cara ibu-ibu membaca wajah anaknya bahkan sebelum si anak membuka mulut.
“Nggak jadi, Bu,” kataku.
Ibu tidak bertanya kenapa. Ibu tidak bertanya apa yang terjadi. Ibu hanya meletakkan piring kue lapis di kursi rotan, membuka pintu pagar, dan menarik tanganku masuk.
Di dapur, Ibu menyalakan kompor dan merebus air. Aku duduk di kursi yang sama dengan tadi pagi. Meja makan masih berbau pandan. Daun pisang sisa bungkusan tadi siang masih tertumpuk di sudut.
Ibu menyeduh teh manis, terlalu manis, seperti waktu aku SD dan demam. Ia meletakkannya di depanku, lalu mengambil kue lapis dari teras, memotongnya kecil-kecil, dan menata potongan itu di piring seperti sedang menyiapkan sesajen. Kue yang seharusnya untuk syukuran. Kue yang sekarang tidak punya alasan untuk dimakan, tapi Ibu tetap menyodorkannya, karena bagi Ibu, perut yang kosong adalah masalah pertama yang harus diselesaikan sebelum masalah lain.
“Diminum,” katanya.
Aku meminumnya. Tangannya mengusap punggungku, pelan, naik turun, naik turun.
“Ibu nggak mau nanya apa-apa?” tanyaku akhirnya.
“Nanti kalau kamu mau cerita, Ibu dengerin.” Tangannya terus bergerak. “Sekarang Ibu cuma mau tahu satu. Kamu nggak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja, Bu.”
Tangan Ibu berhenti sebentar di punggungku. Lalu melanjutkan lagi, naik turun, tanpa berkata apa-apa. Ibu tidak percaya. Aku tahu Ibu tidak percaya. Tapi Ibu juga tahu bahwa malam ini bukan malam untuk membantah.
Aku berdiri di depan pintu kamarku.
Pintu kayu jati yang dulu dipasang Bapak. Ada bekas stiker Power Rangers yang tidak pernah bisa hilang sempurna di bagian bawahnya. Pintu yang sudah kubuka ribuan kali tanpa berpikir.
Tanganku terangkat ke kenop. Lalu berhenti.
Untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku tidak bisa membukanya.
Kamarku sendiri. Tidak ada siapa-siapa di dalam. Aku tahu tidak ada siapa-siapa. Aku tahu di balik pintu itu hanya ada tempat tidur yang spreinya biru, meja gambar yang penuh sketsa, lemari yang pintunya agak miring. Aku tahu.
Tapi tanganku tetap tidak mau memutar kenop.
Jadi aku mengetuk.
Satu. Dua. Tiga.
Mengetuk pintu kamarku sendiri. Menunggu jawaban dari ruangan kosong. Tentu saja tidak ada yang menjawab. Setelah ketukan ketiga, baru tanganku mau memutar kenop, dan pintu terbuka, dan kamarku ada di sana, sama persis seperti tadi pagi, dengan kemeja-kemeja yang kucoba dan kutolak masih bertumpuk di atas kasur.
Di ujung lorong, aku mendengar Ibu berhenti mencuci gelas.
Aku masuk dan menutup pintu. Aku melepas jas pinjaman, melepas dasi, melipatnya rapi. Aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap tanganku.
Tangan kananku masih menyimpan bekas tekanan tangkai mawar. Garis-garis merah tipis di telapak, karena aku menggenggamnya terlalu erat sepanjang perjalanan naik lift.
Saku kiriku kosong.
Aku meraba saku itu. Sekali. Dua kali. Kebiasaan seharian yang belum sempat hilang. Setiap kali jariku tidak menemukan apa-apa, dingin di dadaku terasa sedikit lebih dalam.
Aku berbaring tanpa mengganti pakaian dan memandangi langit-langit kamar. Aku menghitung garis retak di plafon. Tujuh. Satu yang paling panjang berbentuk seperti sungai.
Aku menunggu diriku menangis.
Malam itu, aku tetap tidak menangis.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan reading
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk