← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Thirty

17 Agustus

POV: Ervan

Kayla datang ke studio hari Kamis pukul sepuluh pagi, dan ia tidak mengetuk.

Aku mendengar langkahnya di tangga besi. Cepat. Sepatu kanvas. Tidak berhenti di anak tangga mana pun. Lalu pintu kaca buram terbuka lebar sampai membentur rak di belakangnya, dan satu ikat bunga matahari kering yang tergantung terbalik di kawat berayun-ayun seperti lonceng.

Kayla berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah, tas ransel kanvas di satu bahu, kamera film di leher, dan wajah yang merah seperti orang yang berlari dari Cikini ke Tebet.

Ia melihat tirai bunga kering di langit-langit. Ia berhenti.

“Kak,” katanya. “Ini apa?”

“Bunga.”

“Kenapa digantung terbalik?”

“Biar awet.”

Kayla menatap delapan puluh tujuh ikat bunga matahari yang tergantung kepala di bawah, berjajar dari dinding ke dinding. Lalu menatapku. Lalu, entah kenapa, ia tertawa, tawa yang pendek dan basah, dan langsung menangis.

“Kakak,” katanya di sela tangis, “Kakak nyimpen semuanya.”

Gilang berdiri dari mejanya, melihat Kayla, melihatku, dan tanpa berkata apa-apa mengambil jaketnya dan turun tangga. Aku mendengar ia berhenti di bawah. Tentu saja.


Kayla duduk di kursi plastik di depan mejaku. Kursi yang kakinya goyang. Kursi tempat Zara duduk ketika berlutut dengan setelan dari Singapura. Kursi tempat Tasya pertama kali menolak kopi sachet.

Ia meletakkan tas ranselnya di lantai. Ia melepas kamera film dari lehernya dan meletakkannya di meja, di atas gambar kusen jendela.

“Aku nggak rekam,” katanya. “Sumpah. Aku mau Kakak tahu itu dulu.”

“Rekam apa?”

“Semalam.” Kayla menarik napas. “Kak Monic ke rumah. Pamit ke Mama sama Papa. Terus dia ke gazebo. Kak Zara di sana.” Ia menatap tangannya. “Aku pulang cepat. Aku lihat mereka berdua. Aku berdiri di balik pohon mangga. Aku nggak niat nguping, Kak. Aku cuma... aku nggak bisa pergi. Mereka ngomongin Kakak.”

Aku tidak bergerak.

“Aku nggak tahu seberapa banyak yang boleh aku bilang,” kata Kayla. “Kak Monic nggak tahu aku dengar. Kak Zara juga nggak. Mungkin Kak Monic bakal marah sama aku. Mungkin Kak Zara juga.” Ia mengangkat kepala. Mata Harrison yang basah. “Tapi aku udah hapus video dari lima tempat buat Kakak. Aku bisa nanggung satu orang marah lagi.”

“Kay...”

“Kakak diam aja. Dengerin.” Kayla menegakkan punggung, seperti sutradara yang berdiri di depan kru sebelum adegan paling penting. “Aku ceritain dari awal. Dari yang paling awal. Tiga tahun lalu.”


Kayla bercerita.

Ia bercerita dengan cara seorang mahasiswa film: runtut, detail, dengan jeda di tempat yang tepat. Seolah-olah ia sedang membacakan naskah yang sudah ia hafal semalam, di tempat tidur, dengan lampu mati, berulang-ulang, supaya tidak ada yang terlewat.

Tiga tahun lalu. Ulang tahun pernikahan emas Opa dan Oma. Ballroom Harrison Grand.

Seorang perempuan yang sedang menghafal urutan pidato di balik pilar, dan berhenti menghafal karena mendengar seorang arsitek muda menjawab pertanyaan Oma tentang rumah impian.

Aku menutup mata. Aku sudah tahu bagian ini. Dari catatan di map biru Tasya.

Listrik padam. Genset macet. Perempuan yang sama berdiri di tengah kegelapan dengan walkie-talkie di tangan, mendengar kepala teknisi berteriak bahwa kunci panel genset dibawa pulang oleh petugas yang cuti.

Lalu piano.

“Kak Monic bilang dia nggak tahu judul lagunya,” kata Kayla. “Tapi dia bilang dia tahu satu hal. Opa nangis. Opa yang nggak pernah nangis, bahkan waktu hotel pertamanya kebakaran, ngusap mata waktu dansa sama Oma di bawah lampu ponsel.”

Aku membuka mata.

“Terus dia turun ke basement,” kata Kayla. “Dia nemu obeng di atas panel genset. Gagang kuning.”

Aku berhenti bernapas.

“Dia cari yang punya obeng. Sampai parkiran. Jam satu pagi. Kakak lagi nyoba nyalain mobil yang AC-nya harus dipukul.”

Laci dasbor. Obeng gagang kuning. Suara sepatu hak di aspal. Tangan yang mengulurkan sesuatu dalam gelap.

Ini punya kamu.

Suara rendah. Sedikit serak.

“Kakak bilang delapan kata ke dia,” kata Kayla. “Makasih, Mbak. Tadi saya takut banget, sebenarnya. Saya cuma hafal satu lagu.“

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku ingat. Aku ingat mengatakannya. Aku ingat merasa malu karena mengatakan hal sebodoh itu kepada orang asing di parkiran jam satu dini hari. Aku tidak ingat wajahnya. Parkiran itu gelap. Lampunya mati sebagian. Aku hanya ingat suaranya.

Suaranya. Yang sekarang sudah kukenali dari satu kata. Yang bilang Hai di anak tangga terakhir rumah Permata Hijau. Yang bilang Ada hijaunya? di bawah matahari terbit. Yang bilang Oke di ambang pintu studio ini, dengan rambut basah dan amplop di tangan.

“Terus dia nunggu seminggu,” kata Kayla. Suaranya mulai bergetar. “Seminggu dia nyusun pesan buat Kakak. Hapus. Tulis lagi. Hapus. Dia nggak tahu mau bilang apa. Dia takut kelihatan ngejar.”

Kayla menarik napas.

“Hari kedelapan, Kak Zara kirim foto ke grup. Foto Kakak di kafe.”

Aku menurunkan tangan dari wajahku.

“Dan Kak Zara...” Kayla berhenti. Ia menggigit bibir. “Semalam Kak Zara ngaku. Ke Kak Monic. Kak Zara lihat Kak Monic di parkiran malam itu. Kak Zara lihat mukanya waktu Kakak pergi. Besoknya Kak Zara minta Papa kenalin Kakak. Pakai alasan renovasi kantor sales.” Suara Kayla pecah. “Kantor sales baru direnovasi setahun sebelumnya, Kak.”

Dinding studio terasa miring.

Kafe. Rapat pertama dengan Zara. Ia bilang kantornya perlu diperbarui. Aku menggambar denah tiga versi. Ia tidak memilih satu pun. Proyek itu tidak pernah jalan. Tapi ia mengajakku makan malam untuk membahas desainnya, lalu makan malam lagi, dan lagi.

Aku tidak pernah bertanya kenapa proyek kantor sales itu tidak pernah dikerjakan.

“Kak Monic nyalahin dirinya sendiri tiga tahun,” kata Kayla. “Karena ragu seminggu. Karena kalah cepat. Dia ganti passcode apartemennya jadi tanggal malam itu. Tujuh belas Agustus. Biar ada satu tempat buat nyimpen sesuatu yang nggak boleh dia simpan di mana-mana.”

Satu. Tujuh. Nol. Delapan. Dua. Tiga.

Bendera merah putih kecil di setiap meja tamu.

Pesta ulang tahun pernikahan emas Opa dan Oma jatuh di hari kemerdekaan. Tentu saja. Tentu saja. Oma menikah di hari kemerdekaan, lima puluh tahun sebelumnya, dan ballroom itu dihias bendera kecil di setiap meja, dan aku menyalakan genset di malam tujuh belas Agustus dengan obeng dari rumah.

Hari Kemerdekaan, kataku kepada diriku sendiri, di mobil di depan kampus Kayla, menatap enam angka di catatan ponselku. Gampang diingat.

Bukan Hari Kemerdekaan.

Malam aku main piano.


“Kak.”

Aku mengangkat kepala. Aku tidak tahu kapan aku menunduk.

Kayla menatapku dengan wajah yang basah dan keras kepala. “Satu lagi. Yang paling penting.”

“Apa?”

“Kak Monic punya surat. Buat Kakak. Isinya semua ini. Dia tulis dua minggu lalu. Dia mau kasih Sabtu, di villa, waktu tutup atap.” Kayla menarik napas. “Dia mau kasih ke Kakak di malam Kakak dengar rekaman. Kakak nolak. Kakak bilang aturan tiga.”

Aku ingat amplop gading di tangannya. Tebal. Tanpa nama. Bayangan tinta biru menembus kertas. Tangannya yang turun pelan-pelan ketika aku bilang berhenti.

Ini jawabannya.

Zara tanya dari kapan. Kamu nggak jawab.

Ia sudah menjawab. Aku yang tidak mau membaca.

“Kak Zara nyuruh dia kasih,” kata Kayla. “Semalam. Di gazebo. Kak Zara bilang, kamu punya jawaban atas pertanyaan yang bikin dia ngerasa jadi piala, dan kamu nggak kasih karena aturan?“ Suaranya tercekat. “Kak Monic bilang dia janji. Dia bilang dia udah nggak pakai rem terlalu lama. Kali ini dia mau nurut. Kali ini dia mau berhenti waktu Kakak bilang berhenti.”

Aku menatap meja gambarku.

Di laci kedua, delapan puluh tujuh kartu. Di kawat di atas kepala, delapan puluh tujuh ikat bunga kering. Di kertas A3 di dinding, empat belas garis merah di bawah judul HARI TANPA BUNGA.

Perempuan yang tidak pakai rem. Yang mengumumkan perang. Yang menyewa studioku dengan nama asistennya. Yang menginjak pedal gas di tanjakan Puncak sampai Gilang turun dari mobil. Yang tidak pernah bertanya dan selalu jalan.

Berhenti. Karena aku bilang berhenti.

Dan memegang jawaban yang bisa membebaskannya, di dalam amplop yang tidak boleh ia berikan, karena ia sudah berjanji kepadaku.

“Suratnya di mana?” tanyaku. Suaraku keluar serak.

Kayla menggeleng. “Nggak tahu. Kak Monic nggak bilang.” Lalu ia menatapku dengan mata yang tiba-tiba sangat tajam, mata sutradara yang sudah melihat akhir adegan sebelum aktornya. “Tapi dia nggak boleh kasih, Kak. Aturan tiga. Kakak yang harus minta.”


Kayla pergi pukul sebelas. Sebelum pergi, di ambang pintu kaca buram, ia berbalik.

“Kak,” katanya. “Pesawatnya Sabtu. Jam tujuh.”

“Aku tahu.”

“Besok Jumat. Kak Monic ketemu Opa jam empat sore. Opa yang minta. Setelah itu dia pulang ke apartemen, packing.” Kayla menatap tirai bunga kering di langit-langit. “Aku cuma bilang. Buat catatan.”

Lalu ia turun. Aku mendengar ia bicara dengan Gilang di bawah. Aku mendengar Gilang bilang sesuatu yang membuat Kayla tertawa sambil menangis. Aku mendengar dangdut dari toko fotokopi berganti lagu.

Aku duduk di meja gambar dan menatap obeng gagang kuning yang tadi kukeluarkan dari laci dasbor mobil. Aku tidak ingat kapan aku mengeluarkannya. Aku tidak ingat berjalan ke mobil. Tapi obeng itu ada di sana, di atas gambar kusen jendela, di samping kamera film Kayla yang lupa ia bawa.

Ini punya kamu.

Tiga tahun. Ia mengembalikan obeng ini kepadaku di parkiran, dan aku tidak ingat wajahnya. Tiga tahun ia menekan tanggal malam itu setiap kali pulang. Tiga tahun ia menghindari setiap acara keluarga yang juga kuhadiri, dan Zara bilang ia sombong.

Dan ketika akhirnya ia datang, dengan bunga matahari dan kalimat aku mau ngedeketin kamu, aku bilang Mbak nggak kenal saya.

Kenal, katanya. Lebih dari yang kamu kira.


Aku pulang ke Ciledug pukul tiga sore. Ibu sedang di teras, menyiram pot-pot bunga kertas dengan gembor plastik hijau.

Ia melihatku turun dari mobil. Ia berhenti menyiram.

Aku membuka pagar hijau yang catnya mengelupas. Aku berjalan ke teras. Aku berdiri di depan Ibu.

“Bu,” kataku. “Aku mau nanya.”

Ibu meletakkan gembornya di lantai teras. Pelan.

“Nanya apa?”

Aku sudah tahu pertanyaannya sekarang. Aku sudah tahu sejak Kayla membuka pintu kaca buram tanpa mengetuk. Mungkin aku sudah tahu sejak Ibu bilang itu kamu yang harus nemuin sendiri, dan aku hanya terlalu takut untuk mengucapkannya.

Pertanyaan yang tidak kutanyakan di ambang pintu studio. Yang kujadikan senjata ketika aku bilang Zara tanya dari kapan, kamu nggak jawab. Seolah-olah aku yang berhak menuntut jawaban, padahal aku yang menolak menerimanya.

“Dari kapan dia suka sama aku, Bu?” tanyaku. “Dan kenapa?”

Ibu menatapku lama.

Lalu ia tersenyum. Senyum yang pelan, yang dimulai dari mata, yang sama seperti waktu aku bilang cantik banget, Bu di meja makan, di malam setelah rapat pertama villa.

“Itu pertanyaannya,” kata Ibu.

Ia masuk ke dalam rumah. Aku mengikutinya. Ia berjalan ke lemari rotan di dapur, membuka laci paling bawah, laci tempat buku resep Bapak disimpan, dan mengeluarkan sesuatu dari balik buku itu.

Amplop berwarna gading. Tebal. Tanpa nama.

Ibu memberikannya kepadaku dengan dua tangan. Seperti memberikan sesuatu yang berharga.

“Dia titip ini Sabtu lalu,” kata Ibu. “Dia bilang, jangan dikasih. Kecuali kamu nanya kenapa. Kecuali kamu mau tahu dari kapan.” Ibu menatapku. “Dia bilang, kalau kamu nggak nanya, biarin di laci. Selamanya juga nggak apa-apa.”

Aku menatap amplop itu di tanganku.

“Selamanya,” ulang Ibu pelan. “Anak itu siap nyimpen ini selamanya di laci Ibu, Van. Kalau kamu nggak nanya.”


Aku membacanya di kamarku.

Aku duduk di tepi tempat tidur, di depan meja gambar dengan dua bunga matahari. Satu kering, menghadap dinding. Satu mulai layu, menghadap jendela.

Empat lembar. Bolak-balik. Tinta biru tua. Huruf yang miring ke kanan, dengan ekor panjang di huruf g dan y yang melengkung seperti kail pancing.

Aku tidak akan menceritakan semua isinya. Sebagian karena itu miliknya. Sebagian lagi karena ada kalimat-kalimat di sana yang hanya bisa dibaca sekali, dan kalau diulang di tempat lain, mereka kehilangan sesuatu.

Tapi aku akan menceritakan beberapa.

Aku bilang “memungut”, Van. Aku menyesal kata itu. Aku bukan mungut kamu dari mana-mana. Kamu nggak pernah jatuh. Kamu cuma ditinggal di tempat yang nggak pantes buat kamu.

Aku bilang “nggak akan pernah kulepas”. Itu kalimat paling jelek yang pernah aku ucapin. Karena cinta yang bener itu bukan nggak ngelepas. Cinta yang bener itu tetap di situ meskipun dilepas. Aku baru belajar itu dari kamu. Dari cara kamu pamit ke Om Daniel.

Aku ngejar kamu karena Zara buang kamu? Nggak. Aku udah nunggu kamu tiga tahun sebelum Zara buang kamu. Zara cuma yang ngebuka pintunya. Aku yang udah berdiri di depannya dari dulu.

Dan di lembar keempat, di bagian paling bawah, dengan huruf yang lebih kecil dan sedikit goyah, seperti ditulis dengan tangan yang gemetar:

Passcode apartemenku bukan Hari Kemerdekaan, Van.

Itu malam kamu main piano.

Aku nggak minta kamu pakai. Aku cuma mau kamu tahu, ada satu pintu di kota ini yang dari dulu dikunci pakai kenangan tentang kamu. Bukan kenangan yang sakit. Kenangan tentang tiga menit, waktu kamu bikin lima ratus orang nggak takut gelap.

Aku salah satunya.


Aku tidak menangis kali ini.

Aku sudah menangis. Di pangkuan Ibu. Dua jam. Sesuatu yang tersumbat sejak umur tujuh belas sudah keluar, dan yang tersisa sekarang bukan air mata. Yang tersisa adalah sesuatu yang jernih, dan tenang, dan sangat, sangat hangat.

Batu dingin di bawah tulang rusukku masih ada. Aku bisa merasakannya. Aku rasa ia akan selalu ada. Mungkin memang begitu cara kerjanya: luka tidak hilang, luka hanya dikelilingi hal-hal lain sampai ia tidak lagi jadi satu-satunya yang kau rasakan.

Titik dingin yang baru, yang muncul di gazebo, sudah tidak ada.

Aku melipat surat itu kembali, tiga kali, dan memasukkannya ke amplop gading. Aku meletakkannya di atas meja gambar.

Lalu aku mengambil bunga matahari yang kering. Yang menghadap dinding sejak malam aku mengirim pesan butuh pelan-pelan. Yang biji-bijinya sudah rontok separuh ke meja. Yang kelopaknya menggulung dan menggelap.

Aku memutarnya.

Pelan. Supaya kelopaknya tidak rontok.

Menghadap jendela. Menghadap timur. Menghadap ke tempat cahaya akan datang.


Aku keluar dari kamar. Aku tidak menutup pintunya.

Ibu duduk di ruang tengah, di sofa tempat aku menangis di pangkuannya seminggu lalu. Ia sedang menatap sudut ruangan. Ke sesuatu yang besar dan tertutup kain batik cokelat tua, yang sudah berdiri di sudut itu selama dua belas tahun, yang tidak pernah dibuka, yang selalu kulewati tanpa melihat.

Piano tegak. Bekas gereja. Yang harganya sama dengan tiga bulan gaji Bapak.

Aku berdiri di samping Ibu dan menatap kain batik itu.

“Bu,” kataku. “Piano Bapak masih bisa dipindah?”

Ibu tidak langsung menjawab. Ia menatap piano itu, lalu menatapku, dengan mata yang pelan-pelan penuh.

“Dipindah ke mana?”

“Ke rumah yang Oma suruh aku bangun,” kataku. “Ada ruang kecil buat piano. Poin lima. Dia udah nyari tiga bulan. Piano tegak bekas. Kayak punya Bapak.”

Aku menarik napas.

“Dia nggak perlu nyari lagi.”

Ibu berdiri. Ia berjalan ke sudut ruangan. Ia memegang ujung kain batik cokelat tua itu. Dan dengan satu gerakan yang pelan dan hati-hati, seperti membuka tirai di pagi hari, ia menariknya.

Debu dua belas tahun beterbangan di cahaya sore yang masuk dari jendela. Kayu cokelat gelap. Tuts yang menguning. Di atas penutup tutsnya, masih ada kaset lama, dengan label yang ditulis tangan dengan huruf tegak dan besar.

Ibu mengusap penutup tuts itu dengan telapak tangan.

“Besok pagi,” kata Ibu, “Ibu telepon Pak Asep. Suruh bawa truk.”

Aku mengangguk.

Besok Jumat. Opa jam empat. Pesawat Sabtu jam tujuh.

Aku punya satu malam.