← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twenty

Aku Mulai Takut

POV: Ervan

Aku bermimpi tentang koridor.

Karpetnya tipis, tidak setebal karpet di gedung yang lain. Lampu dindingnya putih, bukan kuning. Di ujung koridor ada pintu dengan huruf C yang ditempel miring, dan panel kunci dengan tombol-tombol angka yang menyala biru.

Aku berdiri di depannya. Di tanganku tidak ada buket. Tidak ada kotak beludru di saku kiri. Tanganku kosong.

Aku menekan angka-angkanya. Aku tidak perlu melihat catatan di ponsel. Jariku sudah tahu. Satu, tujuh, nol, delapan, dua, tiga.

Bunyi kunci terbuka. Hijau.

Aku mendorong pintu. Pintu itu bergerak pelan, lebih pelan dari pintu mana pun yang pernah kubuka, seperti bergerak di dalam air. Cahaya dari dalam mulai tumpah ke koridor, hangat, jingga, seperti cahaya matahari terbit di kamar tanpa atap. Aku melihat lantai kayu. Aku melihat ujung sofa. Aku mencium sesuatu, melati dan vanila dan bau gosong samar, seperti panci yang meleleh.

Pintu terbuka setengah. Aku melangkah masuk.

Lalu aku bangun.


Pukul tiga pagi. Kamarku gelap. Satu tangkai bunga matahari di gelas selai di meja gambar menjadi siluet hitam di depan jendela.

Jantungku berdebar seperti habis lari naik tangga dua puluh tiga lantai.

Aku duduk di tepi tempat tidur dan mencoba mengingat apa yang ada di balik pintu itu. Aku tidak bisa. Mimpinya berhenti di sana, di pintu yang terbuka setengah, di cahaya jingga dan bau gosong. Aku tidak tahu apakah ada seseorang di dalam. Aku tidak tahu apakah seseorang itu sendirian.

Aku tidak tahu, dan ketidaktahuan itu yang membuatku duduk di tepi tempat tidur selama satu jam penuh, menatap siluet bunga matahari, sampai azan subuh terdengar dari musala di ujung gang.

Aku pergi ke kamar mandi untuk wudu. Aku berhenti di depan pintunya.

Tanganku terangkat. Aku mengetuk. Satu. Dua. Tiga.

Lalu aku menunggu.

Aku menunggu, dan aku menghitung. Lima detik. Delapan. Sepuluh. Dua belas. Seperti dulu. Seperti sebelum matahari terbit di Puncak, sebelum bintik hijau di mata cokelat keabuan, sebelum aku mengetuk tanpa menunggu.

Di dapur, lampu menyala. Ibu sudah bangun untuk mengukus kue. Aku mendengar suara dandang diletakkan di atas kompor, lalu berhenti. Lalu tidak ada suara apa-apa.

Ibu mendengarnya. Dua belas detik hening sesudah ketukan.

Aku masuk ke kamar mandi dan menutup pintu, dan tidak keluar sampai aku yakin wajahku sudah kembali seperti biasa.


Tiga hari setelah gala, Om Daniel meneleponku.

“Nak. Om cuma mau bilang, urusan Kenzo sudah beres.” Suaranya berat, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang mirip lega. “Harrison Group memutus semua kontrak dengan Lumière Events. Bukan cuma acara gala. Semua. Tiga hotel, dua tahun ke depan. Agensinya memutuskan untuk memberhentikan dia sendiri. Katanya reputasi.”

“Dia bilang mau nuntut, Om.”

“Dia nggak akan nuntut. Rekaman Dinda jelas. Dan Monica...” Om Daniel berhenti. Lalu tertawa kecil, sesuatu yang belum pernah kudengar sejak sore di ruang tengah dengan gazebo. “Monica menulis memo ke seluruh direksi jam dua pagi setelah gala. Lima halaman. Pakai lampiran. Om belum pernah lihat Richard sebangga itu. Dia fotokopi memonya dan bagikan ke semua orang di lantai empat puluh.”

Aku tidak bisa membayangkannya. Aku bisa membayangkannya dengan sangat jelas.

“Nak,” kata Om Daniel, lebih pelan. “Soal April. Om... Om minta maaf. Om nggak tahu. Kalau Om tahu...”

“Om nggak perlu minta maaf.”

“Om perlu.” Hening sebentar. “Kayla cerita. Kamu bilang kamu udah tahu itu bukan sekali.”

“Iya, Om.”

“Dan kamu nggak marah?”

Aku memikirkan koridor servis. Tangan Kenzo di pergelangan tangan Monica. Panas yang naik dari bawah tulang rusuk. Tanganku yang gemetar setelahnya.

“Saya marah, Om,” kataku. “Tapi bukan soal April.”

Om Daniel diam lama. Lalu, pelan: “Om ngerti.”

Aku tidak yakin ia mengerti. Aku sendiri tidak mengerti.


“Van. Aku mau ngaku sesuatu.”

Gilang mengatakannya di studio hari Kamis, pukul empat sore, sementara aku sedang menggambar detail kusen jendela kamar tidur utama villa. Kusen kayu jati, dengan ambang bawah yang cukup lebar untuk duduk, supaya orang bisa duduk di jendela dan melihat matahari terbit tanpa harus bangun dari selimut.

Aku tidak menyadari bahwa aku menggambar ambang itu untuk satu orang tertentu sampai Gilang bicara.

“Ngaku apa?”

Gilang menarik kursi plastik dan duduk di depan mejaku. Ia memakai kemeja berkerah. Hari Kamis. Tentu saja.

“Aku sama Tasya,” katanya. “Resmi.”

Aku meletakkan pensil.

“Minggu lalu. Di Bang Madun. Aku traktir soto yang dagingnya dobel. Terus aku bilang, Mbak Tasya, aku mau nanya sesuatu, tapi Mbak harus janji jangan jawab pakai spreadsheet. Dia bilang oke. Terus aku nanya.” Gilang menggaruk tengkuknya. Telinganya merah. “Dia diem lama banget. Terus dia bilang, iya, tapi kalau kamu masih pakai kaus anime ke kencan pertama, aku batalin.“

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. “Terus?”

“Terus aku beli kemeja. Lima. Buat Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu.” Ia tersenyum bodoh. “Senin sama Minggu aku masih boleh pakai kaus anime. Itu negosiasi.”

“Selamat, Lang.”

“Makasih.” Senyumnya berubah. Lebih serius. “Tapi jangan bilang Mbak Monic dulu. Tasya mau bilang sendiri. Katanya Mbak Monic bakal ngamuk karena Tasya ngomel ke dia soal pelan-pelan, terus Tasya sendiri langsung iya dalam satu minggu.”

“Oke.”

Gilang tidak berdiri. Ia tetap duduk di kursi plastik, menatapku dengan cara yang membuatku tahu bahwa pengakuan soal Tasya bukan satu-satunya alasan ia duduk di sana.

“Van,” katanya. “Sekarang giliranmu.”

“Giliran apa?”

“Ngaku.” Ia menunjuk papan tulis di dinding dengan dagunya. Kolom NGELIATIN MBAK MONIC sudah penuh. Garis-garis merah bergerombol per lima, berbaris-baris, sampai ke tepi papan. Gilang sudah mulai menulis di dinding di sebelah papan, dengan pensil, karena papannya habis. “Kamu jatuh cinta.”

Aku tidak menjawab.

“Van.”

“Aku tahu.”

Gilang berkedip. Ia tidak menduga aku akan menjawab secepat itu. Aku juga tidak.

“Aku tahu, Lang,” ulangku. Aku menatap gambar kusen jendela di depanku. Ambang yang cukup lebar untuk duduk. “Aku tahu sejak di koridor servis. Waktu dia pegang tangannya. Mungkin sebelum itu. Mungkin di bedeng. Mungkin di dapur Ibu waktu sendoknya tenggelam.” Aku menarik napas. “Aku nggak tahu kapan. Aku cuma tahu sekarang.”

“Terus kenapa mukamu kayak orang mau bayar pajak?”

Aku tertawa lagi, tapi tawanya tidak sampai ke mana-mana.

“Karena aku takut, Lang.”


Gilang tidak berisik sekarang. Gilang yang berisik, yang dramatis, yang menonton drama Korea sampai jam tiga pagi dan tersedak kopi tanpa sedang minum, duduk diam di kursi plastik dan mendengarkan.

Jadi aku bicara.

Aku bilang aku tidak takut Monica akan melakukan hal yang sama. Aku tahu ia tidak akan. Aku tahu dengan kepastian yang aneh, kepastian yang tidak masuk akal setelah dua tahun aku juga tahu hal yang sama tentang orang lain. Tapi aku tahu. Perempuan yang menulis kartu setiap hari selama tujuh puluh hari tidak punya waktu untuk selingkuh. Perempuan yang memberikan passcode dan tidak marah ketika ditolak tidak menyembunyikan apa-apa di balik pintunya.

Bukan itu yang kutakutkan.

“Terus apa?”

“Aku takut aku nggak cukup,” kataku.

Gilang diam.

“Dua tahun, aku kasih semuanya ke Zara. Semuanya, Lang. Aku nggak nyisain apa-apa. Aku jemput dia, aku masak buat dia, aku benerin semua yang rusak di apartemennya. Aku sayang keluarganya kayak keluargaku sendiri. Dan itu nggak cukup. Dia tetap cari sesuatu yang lain. Dia bilang aku tembok.” Aku menatap tanganku. “Kalau aku kasih semuanya lagi, ke orang yang lebih... yang lebih segalanya dari Zara. Lebih cantik, lebih pintar, lebih berani, lebih kaya. Monica bisa dapet siapa aja, Lang. Siapa aja. Kenapa dia mau sama orang yang cuma punya satu lagu dan mobil yang AC-nya harus dipukul?”

“Karena dia...”

“Dan kalau suatu hari dia sadar aku nggak cukup,” lanjutku, karena kalau aku berhenti aku tidak akan bisa mulai lagi, “aku nggak cuma kehilangan dia. Aku kehilangan keluarga Harrison dua kali. Aku kehilangan Om Richard yang pernah jadi Romeo. Tante Sofia yang serem. Aku kehilangan Pak Harun dan Dinda dan Chef Bram dan Pak Anto yang katanya kelilipan.” Aku menutup mata. “Dan Ibu. Ibu udah sayang sama dia. Ibu manggil dia Nduk. Kalau itu hilang, Ibu yang paling sakit.”

Studio itu sunyi. Di bawah, Pak Tohir sedang memutar lagu dangdut tentang orang yang takut jatuh cinta lagi, dan aku mulai curiga bahwa ia memang memilih lagu berdasarkan apa yang terjadi di lantai dua.

“Terus soal yang Zara bilang,” kataku pelan. “Tanya dia apa yang dia bilang di rumah Opa.“

“Kamu belum tanya?”

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena aku takut jawabannya.” Aku membuka mata. “Kalau jawabannya sesuatu yang bikin aku jatuh lebih dalam, aku nggak tahu aku bisa bertahan atau nggak. Kalau jawabannya sesuatu yang bikin aku berhenti...” Aku tidak menyelesaikannya.

Gilang menatapku lama.

“Van,” katanya akhirnya. “Aku bukan orang pintar. Aku nggak ngerti struktur. Aku nggak ngerti beban. Aku cuma ngerti satu hal.” Ia menunjuk papan tulis. “Itu. Tujuh puluh hari. Kolom yang kiri, baik-baik saja, garisnya makin jarang. Kolom yang kanan, garisnya makin banyak sampai aku harus nulis di tembok.” Ia berdiri. “Kamu nggak perlu cukup, Van. Kamu cuma perlu dateng.”

Ia berjalan ke pintu. Di ambangnya, ia berhenti.

“Tapi aku juga tahu kamu,” katanya tanpa berbalik. “Kamu bakal mundur dulu. Kamu selalu mundur dulu sebelum maju. Kayak ngitung struktur. Harus yakin dulu nggak bakal roboh.” Ia menoleh. “Jangan kelamaan mundurnya. Mbak Monic nggak pakai rem, tapi dia juga manusia.”

Ia pergi. Aku mendengar langkahnya menuruni tangga besi, lalu suaranya menyapa Pak Tohir, lalu dangdut berganti lagu.


Ibu menemukanku di teras malam itu, duduk di kursi rotan, memegang satu tangkai bunga matahari yang kuambil dari buket hari ini. Hari 72.

Ibu duduk di kursi rotan yang lain. Ia tidak bertanya. Ibu tidak pernah bertanya. Ibu hanya menunggu.

“Bu,” kataku setelah lama sekali. “Bapak dulu takut nggak waktu ngelamar Ibu?”

Ibu tertawa. “Takut? Bapakmu keringetan sampai kemejanya basah. Pisang yang dia bawa buat Mbah sampai lecet semua karena dipegang kekencengan.”

“Tapi dia tetap balik.”

“Tiga kali.” Ibu mengangguk. “Mbah tolak dua kali. Katanya tukang listrik gajinya kecil. Katanya Ibu bisa dapet yang lebih baik. Anak juragan beras. Anak guru SMP.” Ibu menatap pot-pot bunga kertasnya. “Bapakmu takut, Van. Takut dia nggak cukup. Takut Ibu nyesel. Waktu minggu kedua dia ditolak, dia duduk di teras rumah Mbah sampai tengah malam, nggak berani pulang, nggak berani masuk.”

“Terus?”

“Terus Ibu keluar bawa teh manis.” Ibu tersenyum. “Terus Ibu bilang, Mas. Takut itu bukan alasan buat nggak balik. Takut itu cuma tanda kamu tahu ini penting.“

Aku menatap Ibu.

“Minggu ketiga dia balik,” kata Ibu. “Bawa pisang lagi. Kali ini pisangnya nggak lecet. Katanya dia latihan megang pisang pelan-pelan seminggu penuh.”

Aku tertawa. Ibu tertawa. Tapi tawaku berhenti lebih cepat.

“Bu,” kataku. “Aku butuh waktu.”

Ibu berhenti tertawa. Ia menatapku lama, dengan mata yang membaca wajahku seperti pertama kali di teras malam itu, dari balik pagar hijau yang catnya mengelupas.

“Berapa lama?”

“Nggak tahu.”

Ibu diam. Lalu ia berdiri, merapikan daster batiknya, dan berjalan ke pintu. Di ambangnya, ia berhenti, seperti Gilang tadi sore.

“Van,” katanya tanpa berbalik. “Nduk itu udah datang ke dapur Ibu sebelas Sabtu.”

Aku membeku.

“Nanti Ibu ceritain,” katanya. “Kalau kamu udah selesai butuh waktu.”

Ia masuk ke rumah.

Sebelas Sabtu.

Aku duduk di teras, dengan bunga matahari di tangan, dan menghitung. Sebelas Sabtu. Sejak hari kue lapis. Setiap Sabtu, ketika aku di Puncak. Nasi goreng untuk Bu Sri. Sandal berlogo H di kebun pisang. Ibu yang tiba-tiba punya banyak rahasia.

Sebelas Sabtu, dan aku tidak tahu.

Aku menatap bunga matahari di tanganku. Kelopaknya kuning dan terbuka penuh, bijinya cokelat gelap dan tersusun dalam pola spiral yang, kata buku biologi SMA, mengikuti deret Fibonacci. Bunga yang sudah dewasa. Yang sudah berhenti mengejar. Yang menghadap ke satu arah, bahkan waktu masih gelap.

Dan aku, di teras rumahku sendiri, dengan hati yang sudah tahu ke mana ia mau menghadap, memilih untuk memalingkan wajah.

Karena aku takut. Karena kalau aku menghadap ke sana dan cahayanya tidak datang, aku tidak yakin aku bisa bertahan untuk kedua kalinya.


Aku mengetik pesan itu pukul sebelas malam. Aku menghapusnya empat kali. Aku mengetiknya lagi.

Ervan: Monic.
Ervan: Aku butuh pelan-pelan dulu.
Ervan: Bukan berhenti. Aku nggak bilang berhenti. Aturan tiga nggak berlaku.
Ervan: Cuma pelan. Aku lagi takut, dan aku nggak mau takutku nyakitin kamu.
Ervan: Maaf.

Aku menekan kirim sebelum bisa menghapusnya lagi.

Aku menatap layar. Centang dua. Lalu centang dua biru.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lama sekali. Aku membayangkannya di apartemen lantai delapan belas, unit C, di balik pintu dengan passcode tanggal kemerdekaan, mengetik dan menghapus seperti aku.

Lalu:

Monica: Oke.

Hanya itu. Satu kata. Aku menatapnya dan merasakan dadaku dingin, dingin yang berbeda, dingin yang bukan batu di bawah tulang rusuk, tapi dingin seperti pintu yang ditutup pelan-pelan.

Lalu satu pesan lagi.

Monica: Aku ketuk pelan-pelan.

Aku membaca kalimat itu sampai layar ponselku mati sendiri.

Lalu aku masuk ke kamar. Aku berhenti di depan pintu. Aku mengetuk tiga kali, dan menunggu dua belas detik, dan masuk.

Di atas meja gambar, bunga matahari di gelas selai masih menghadap ke jendela. Ke timur. Ke tempat cahaya akan datang.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku memutarnya.

Aku memutarnya menghadap ke dinding.