Chapter Twenty Eight
Pagi Tanpa Kuning
POV: Ervan
Aku pulang dari Puncak hari Sabtu pukul empat sore, dan di meja makan ada sepotong kue lapis di piring bergambar ayam jago.
Sembilan lapis. Merah muda dan putih. Tidak ada lapisan yang terlalu tebal di tengah. Tidak ada sendok yang tenggelam.
Di sampingnya, satu tangkai bunga matahari dalam gelas bening. Satu, bukan sebelas. Kertas cokelat dan tali rami yang sudah dibuka, dilipat rapi di sebelah gelas. Dan satu kartu warna gading.
Ibu berdiri di depan kompor, membelakangiku, mengaduk sesuatu yang tidak perlu diaduk.
Aku tidak bertanya. Aku duduk. Aku mengambil kartu itu.
Hari 95. Ini yang terakhir.
Aku membacanya. Aku membacanya lagi. Aku membaca kalimat kamu bukan “nya” sampai huruf-hurufnya kehilangan bentuk. Aku membaca kalau orangnya bukan aku, aku tetap seneng dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak dingin dan tidak hangat, sesuatu yang lain, sesuatu seperti tangan yang mencengkeram dari dalam.
Makan.
Aku memakan kue lapis itu. Pelan. Satu lapis demi satu lapis, dari atas, seperti waktu kecil, ketika Bapak bilang kue lapis harus dimakan per lapis supaya kita bisa menghitung berapa kali orang yang membuatnya sabar.
Sembilan kali.
“Bu,” kataku ketika selesai. “Dia titip apa lagi?”
Ibu berhenti mengaduk.
“Dia pamit, Van,” kata Ibu tanpa berbalik.
“Pamit?”
“Ke Bali. Kerja. Enam bulan.” Ibu mematikan kompor. “Sabtu depan berangkat.”
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana tanpa bergerak. Ibu tidak berbalik. Aku tahu ia sengaja tidak berbalik, supaya aku tidak perlu menyembunyikan wajahku.
“Kenapa?” tanyaku akhirnya.
“Katanya supaya kamu bisa sembuh. Tanpa dia di mana-mana.” Ibu akhirnya berbalik. Wajahnya lelah. “Ibu bilang ke dia, dia mirip kamu. Pamit. Pergi. Supaya yang lain nggak perlu sakit.”
Aku menatap bunga matahari di gelas bening.
“Ada lagi yang dia titip?” tanyaku. “Selain kartu.”
Ibu menatapku lama. Lalu mengangguk.
“Ada. Tapi cuma boleh Ibu kasih kalau kamu nanya.”
“Aku lagi nanya, Bu.”
“Bukan pertanyaan itu.” Ibu melepas celemeknya dan melipatnya. “Dia bilang, cuma kalau kamu nanya sesuatu yang lain. Ibu nggak boleh kasih tahu pertanyaannya apa.” Ia berjalan ke pintu dapur. “Itu kamu yang tahu, Van. Kamu yang harus nemuin sendiri.”
Malam itu aku membawa bunga matahari itu ke kamarku.
Aku mengetuk pintu. Tiga kali. Aku tidak menunggu. Aku masuk.
Di meja gambar, bunga yang lama masih ada di gelas bekas selai. Kering sekarang. Kelopaknya menggelap dan menggulung, bijinya mulai rontok ke meja. Masih menghadap dinding, seperti sejak malam aku memutarnya.
Aku mengambil gelas yang lain dari dapur. Gelas bening bekas es teh. Aku mengisinya dengan air, memasukkan bunga yang baru, dan meletakkannya di sebelah bunga yang lama.
Lalu aku memutarnya menghadap jendela. Menghadap timur.
Dua bunga di meja gambarku. Satu kering, menghadap dinding. Satu segar, menghadap jendela.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap keduanya sampai lampu kamar kumatikan.
Senin pagi, pukul sembilan lewat lima belas, tidak ada yang mengetuk pintu kaca buram.
Aku tahu tidak akan ada. Sudah dua belas hari tidak ada. Tapi aku tetap mengangkat kepala dari meja gambar pukul sembilan lewat empat belas, dan tetap menahan napas pukul sembilan lewat lima belas, dan tetap menghembuskannya pukul sembilan lewat enam belas.
Studio itu tidak kuning lagi.
Bunga-bunga di rak sudah kering semua. Aku tidak membuangnya. Minggu lalu, setelah Ibu menceritakan semuanya dan aku tidur di sofa, aku datang ke studio pagi-pagi sekali dan mengeluarkan semua bunga dari toples dan vas. Aku mengikat batangnya per sebelas tangkai dengan tali rami yang masih kusimpan, dan menggantungnya terbalik di kawat yang kupasang melintang di langit-langit studio, dari satu dinding ke dinding lain.
Delapan puluh tujuh ikat. Tergantung terbalik, berjajar, seperti tirai. Mengering dengan kepala menghadap ke bawah, supaya batangnya tetap lurus dan kelopaknya tidak rontok.
Gilang melihatnya hari Senin pagi dan berdiri di ambang pintu dengan mulut terbuka.
“Van,” katanya. “Ini... studio kita kayak gua kelelawar.”
“Bunga matahari yang dikeringin terbalik bisa tahan bertahun-tahun.”
“Kamu riset?”
“Bu Dewi yang bilang.” Aku tidak mengangkat kepala dari meja gambar. “Di Sabang. Aku telepon.”
Gilang menatap tirai bunga kering itu lama. Lalu menatapku. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengambil spidol merah dan berjalan ke kertas A3 di dinding, yang sejak hari Rabu itu masih kosong.
Ia menulis judul di bagian atas. Besar-besar.
HARI TANPA BUNGA.
Lalu dua belas garis kecil di bawahnya. Dikelompokkan per lima.
“Aku nggak minta kamu ngitung itu,” kataku.
“Aku tahu.” Gilang menutup spidolnya. “Tapi kamu ngitung dalam hati. Aku lihat tiap jam sembilan lewat lima belas kamu ngangkat kepala. Mending ditulis. Biar ada yang tahu kamu ngitung.”
Tasya datang ke lokasi villa hari Selasa pukul sepuluh.
Aku belum pernah bertemu Tasya tanpa Monica. Di rapat pertama, ia duduk di kursi plastik di sebelah Gilang dan menolak kopi sachet. Di pesta ulang tahun Kayla, ia menginjak kaki Gilang tiga kali. Selalu di samping, selalu di belakang, selalu dengan laptop.
Hari itu ia datang sendirian. SUV hotel, sopir yang bukan Pak Harun. Ia turun dengan blazer hitam, kacamata bulat, dan map biru tebal di bawah lengan. Ia memakai sepatu bot karet. Hitam, bukan kuning.
“Mas Ervan,” katanya. Ia menjabat tanganku. Genggamannya singkat dan tegas. “Mulai hari ini saya PIC proyek ini. Sesuai kontrak. Pihak pertama.”
“Iya, Mbak.”
“Mbak Monic udah serah terima semua dokumennya ke saya.” Ia mengangkat map biru. “Saya mau keliling. Cek progres. Lihat apa yang masih kurang.”
Ia tidak tersenyum. Ia tidak dingin. Ia hanya profesional, dengan cara yang membuatku tahu bahwa di balik kacamata bulat itu ada seribu hal yang ingin ia katakan dan tidak akan ia katakan, karena ia sudah berjanji kepada seseorang.
Kami berkeliling. Ruang tamu dengan jendela lebar untuk menonton kabut. Teras yang cukup untuk duduk berdua. Dapur dengan meja panjang dan dua kursi tinggi yang baru dipasang minggu lalu. Kompor induksi. Rak bumbu terbuka. Jendela di atas kompor dengan engsel yang bisa dibuka satu tangan.
Tasya berhenti di dapur lebih lama dari di ruangan lain. Ia menatap dua kursi tinggi itu. Ia tidak berkata apa-apa. Ia menulis sesuatu di map birunya, cepat, lalu menutupnya.
Ruang piano di sudut barat. Kecil, tiga kali tiga. Dengan jendela menghadap ke kebun teh dan dinding yang dilapisi panel kayu supaya suaranya hangat. Belum ada pianonya.
“Pianonya kapan datang?” tanya Tasya.
“Belum dipesan. Nunggu klien pilih.”
Tasya menatapku. “Klien udah pilih,” katanya. Ia membuka map biru, membalik beberapa halaman, dan menunjuk sesuatu. “Piano tegak. Bekas. Dari gereja, kalau bisa. Mbak Monic udah nyari tiga bulan. Belum ketemu yang cocok.”
Aku menatap halaman itu. Tulisan tangan yang miring ke kanan. Piano tegak bekas. Kayak punya Bapaknya. Jangan yang baru.
Aku tidak bisa bicara.
Kamar tidur utama di sudut timur laut. Kaca jendelanya sudah terpasang minggu lalu, besar, tanpa tirai. Ambang jendelanya kayu jati, lebar, cukup untuk duduk. Pagi itu, cahaya matahari masih masuk dari timur dan jatuh ke lantai kayu dalam bentuk persegi yang terang.
Tasya berdiri di tengah kamar dan membuka map biru di halaman terakhir.
“Mas Ervan,” katanya. “Ada satu catatan serah terima yang saya harus tanya ke Mas. Soal brief.”
“Iya?”
Ia menyerahkan map itu kepadaku. Terbuka di satu halaman. Lembar catatan serah terima, diketik rapi, dengan poin-poin bernomor. Dan di bagian paling bawah, tambahan dengan tulisan tangan.
Catatan untuk Tas: Poin 1 sampai 7 di brief JANGAN DIUBAH, apa pun yang terjadi, siapa pun yang minta. Itu bukan permintaanku. Itu kata-kata dia sendiri. Ke Oma. Di ballroom Harrison Grand, satu jam sebelum listrik padam. Oma yang nanya: “Kalau kamu bangun rumahmu sendiri, Nak, rumahnya kayak apa?” Dia jawab semuanya. Aku cuma nyatet. Rumah ini bukan rumahku, Tas. Ini rumah yang Oma suruh dia bangun. Oma cuma nitipin tanahnya ke aku.
Aku membaca catatan itu tiga kali.
Lalu aku mengangkat kepala dan menatap Tasya.
Tasya menatapku balik dari balik kacamata bulatnya. Wajahnya tidak berubah. Profesional. Tenang. Tapi aku melihat sesuatu di sudut matanya, sesuatu yang berkilat, dan tangannya yang memegang ujung blazer mencengkeram terlalu keras.
“Saya harus tanya,” kata Tasya pelan, “apakah Mas tahu soal ini. Supaya saya bisa jalanin proyeknya sesuai catatan. Itu aja.”
Ia tidak seharusnya menunjukkan catatan ini kepadaku. Aku tahu itu. Catatan itu ditulis untuk Tas. Bukan untuk arsitek. Bukan untuk orang yang bilang berhenti.
Tasya tahu itu juga. Dan ia tetap menyerahkannya.
Ingatan itu datang seperti air yang menjebol bendungan.
Ballroom Harrison Grand. Tiga tahun lalu. Aku berdiri di dekat pilar, memakai kemeja batik yang kubeli kemarin sore di Tanah Abang karena satu-satunya batikku sobek di ketiak. Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa. Aku memegang segelas jus jeruk yang sudah hangat karena kupegang terlalu lama.
Lalu seorang perempuan tua mendekat. Kebaya biru pucat. Rambut putih disanggul. Senyum yang membuatmu merasa ia tahu rahasiamu. Oma.
Kamu arsiteknya? tanya Oma.
Aku bilang iya. Aku bilang maaf kalau ada yang kurang. Oma tertawa dan bilang ballroom-nya indah, lebih indah dari waktu ia menikah di sini lima puluh tahun lalu, dan kubah kacanya membuat ia merasa seperti di dalam gelembung sabun.
Lalu ia bertanya. Kalau kamu bangun rumahmu sendiri, Nak, rumahnya kayak apa?
Dan aku menjawab. Aku tidak ingat kenapa aku menjawab begitu panjang. Mungkin karena Oma menatapku seperti Bapak dulu menatapku waktu aku menceritakan gambar-gambarku. Mungkin karena jus jeruknya sudah hangat dan aku gugup.
Jendela kamarnya ngadep timur, Oma. Supaya yang bangunin itu matahari, bukan alarm.
Dapurnya ada meja panjang.
Ada satu ruang kecil buat piano. Bapak saya dulu suka main.
Terus teras yang cukup buat duduk berdua lihat kabut.
Oma tertawa. Oma menepuk pipiku. Rumah itu harus kamu bangun, Nak. Janji sama Oma.
Aku bilang iya, Oma. Dengan cara orang bilang iya kepada nenek-nenek di pesta. Sopan. Tidak serius. Lalu Oma pergi ke meja lain, dan satu jam kemudian listrik padam, dan aku lupa. Aku lupa sepenuhnya. Tiga tahun. Aku tidak pernah membangun rumah itu. Aku bahkan tidak pernah menggambarnya.
Dan di balik pilar itu, di ballroom itu, ada seseorang yang mendengarnya. Yang menghafalnya. Yang menyimpannya tiga tahun.
Yang menuliskannya di brief, poin satu sampai tujuh, dengan tinta biru tua. Jendela kamar menghadap timur. Supaya yang bangunin itu matahari, bukan alarm.
Kebetulan banget, kataku di lahan ini, di hari survei lokasi, dengan kabut dan kebun teh dan pohon kesemek. Dan ia bilang iya, kebetulan, dan suaranya tidak stabil, dan ia berbalik menghadap kebun teh supaya aku tidak melihat matanya.
Bukan kebetulan.
Tidak ada satu pun yang kebetulan.
Aku berjalan ke jendela kamar tidur utama. Aku duduk di ambangnya.
Ambang kayu jati yang kugambar cukup lebar untuk duduk, supaya orang bisa melihat matahari terbit tanpa harus bangun dari selimut. Aku menggambarnya untuk satu orang. Aku tahu sekarang. Aku menggambarnya untuk perempuan yang duduk di atas sloof beton di kamar ini, di pagi hari sebelum ada atap, terbungkus selimut hotel, menunggu matahari pertama masuk ke kamar ini.
Ia bilang ia mau melihat matahari pertama yang masuk ke kamar ini. Sebelum ada kacanya. Sebelum ada dindingnya selesai.
Karena ini bukan rumahnya. Ini rumahku. Rumah yang aku janjikan ke Oma dan lupa. Rumah yang ia bangun untukku, dengan tanah dari Oma, dengan uangnya sendiri, dengan kontrak atas nama asistennya supaya aku tidak menolak.
Nanti aku kasih tahu, katanya di studio, di hari pertama rapat, ketika aku bertanya kenapa arsiteknya harus aku. Kalau villanya udah jadi.
Villanya hampir jadi.
Dan ia tidak akan ada di sini untuk memberitahuku.
“Mas Ervan,” kata Tasya dari tengah kamar. Suaranya masih profesional, tapi sedikit bergetar di ujungnya. “Jadi Mas tahu soal ini? Buat catatan saya.”
Aku menatap ke luar jendela. Ke lembah. Ke kebun teh yang hijau berlipat-lipat, ke kabut yang mulai naik, ke pohon kesemek di sudut lahan yang kupertahankan karena dia udah di sini duluan, kita yang numpang.
“Sekarang tahu,” kataku.
Tasya menulis sesuatu di map birunya. Lalu menutupnya. Ia berjalan ke pintu kamar. Di ambangnya, ia berhenti, seperti Gilang, seperti Ibu, seperti semua orang yang pernah berhenti di ambang pintu untuk mengatakan satu hal terakhir.
“Pesawatnya Sabtu,” katanya tanpa berbalik. “Jam tujuh pagi. Dari Soekarno-Hatta.”
Lalu ia pergi. Sepatu bot karet hitamnya berbunyi di lantai kayu, di tangga, di teras. Pintu mobil ditutup. Mesin menyala.
Aku duduk di ambang jendela kamar tidur utama sampai matahari naik terlalu tinggi dan cahayanya tidak lagi masuk lewat kaca timur.
Malam itu, di Ciledug, aku berdiri di depan meja gambar di kamarku.
Dua bunga. Satu kering, menghadap dinding. Satu segar, menghadap jendela.
Aku mengambil bunga yang kering. Aku memegangnya lama. Kelopaknya yang menggulung rapuh di ujung jariku. Biji-bijinya rontok ke meja, satu, dua, tiga.
Aku tidak memutarnya menghadap jendela. Belum.
Aku meletakkannya kembali, menghadap dinding, dan duduk di tepi tempat tidur.
Ada yang masih harus kutanyakan. Ibu bilang aku harus menemukan pertanyaannya sendiri.
Aku belum tahu pertanyaannya apa. Aku hanya tahu sekarang, sambil menatap dua bunga di meja gambar, bahwa jawabannya dimulai jauh sebelum rumah Opa. Jauh sebelum Zara. Jauh sebelum aku tahu siapa pun di keluarga Harrison kecuali Om Richard dan seorang perempuan tua berkebaya biru pucat yang menepuk pipiku di dekat pilar.
Di kertas A3 di dinding studio, besok pagi, Gilang akan menambahkan garis ketiga belas di bawah judul HARI TANPA BUNGA.
Aku punya empat hari.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning reading
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk