← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Five

Berlian yang Dibuang

POV: Monica

Aku menahan diri selama satu jam empat puluh tujuh menit.

Aku tahu angkanya karena aku melihat jam tangan ketika Ervan mengangguk ke arah Zara di tangga, dan aku melihatnya lagi ketika akhirnya aku berdiri di tengah ruang keluarga Opa dan mengatakan sesuatu yang membuat seluruh keluarga Harrison berhenti bernapas. Di antara dua titik waktu itu, ada seribu hal yang ingin kukatakan dan tidak kukatakan.

Tapi aku mulai dari awal.


Setelah mobil abu-abu itu hilang di tikungan, aku berdiri di jendela samping dapur Tante Ratna sampai Mama menyentuh punggungku.

“Sudah, Nak.”

“Dia minta maaf, Ma.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kuinginkan. Aku menurunkannya. “Dia datang ke sini buat minta maaf.”

“Mama dengar.”

“Dia bilang dia nggak cukup.” Aku berbalik. “Dia bawa gambar gazebo, Ma. Gazebo. Dia gambar anjing di bawah bangkunya. Siapa yang ngelakuin itu? Siapa yang dikhianatin di depan matanya sendiri terus seminggu kemudian nyelesaiin proyek gratis buat bapak mantannya?”

Mama tidak menjawab. Ia hanya mengambil tisu dari saku blazernya dan menyerahkannya kepadaku. Aku tidak sadar aku menangis sampai tisu itu basah.

Tentu saja aku menangis. Aku berdiri di pintu dapur selama empat puluh menit dan menonton laki-laki yang sudah tiga tahun kusimpan dalam passcode apartemenku berlutut di depan tanteku, memegangi tangannya, dan bilang ia baik-baik saja dengan senyum yang terlalu rapi untuk jadi senyum sungguhan.

Aku tahu senyum itu. Aku memakainya setiap hari di lobi hotel. Senyum nomor tiga. Senyum untuk tamu yang sedang berteriak. Senyum yang artinya aku di sini, aku melayanimu, tapi aku yang asli sedang tidak ada di tempat.

Dan waktu ia menatapku tadi, waktu aku meletakkan gelas air di depannya, ia berpaling. Cepat sekali. Seperti orang yang menyentuh kompor panas.

Aku tahu kenapa. Aku melihat bayanganku di kaca jendela: mata cokelat keabuan. Mata Harrison. Mata yang sama dengan mata yang ia temukan di atas bantal delapan hari lalu.

Aku belum pernah membenci mataku sendiri sebelumnya. Sore itu, aku mulai belajar caranya.


Pukul tujuh malam, grup Harrison Family (Official) akhirnya hidup lagi.

Opa William: Semua ke rumah. Sekarang.

Tidak ada emoji. Tidak ada anggrek. Opa William Harrison, delapan puluh dua tahun, pendiri tiga puluh empat hotel di dua belas provinsi, laki-laki yang sudah bertanya ada apa? di grup yang sama selama delapan hari dan tidak dijawab siapa pun, akhirnya berhenti bertanya.

Rumah Opa di Menteng adalah rumah kolonial berpilar putih dengan halaman berumput yang terlalu luas dan pohon beringin yang katanya lebih tua dari Republik. Di dalamnya ada ruang keluarga dengan langit-langit tinggi dan kipas angin kayu yang berputar malas, sofa-sofa berlapis beludru hijau botol, dan potret besar Oma di atas perapian yang tidak pernah dinyalakan karena ini Jakarta.

Kami duduk seperti sedang disidang. Papa dan Mama di sofa panjang sebelah kiri. Aku di kursi berlengan di samping Mama. Om Daniel dan Tante Ratna di sofa panjang sebelah kanan, dengan Kayla di antara mereka, masih memakai piyama dinosaurus dengan jaket di atasnya. Zara duduk sendirian di kursi dekat jendela, masih memakai kaus festival musik yang kebesaran, memeluk bantal sofa.

Opa duduk di kursi tunggal di bawah potret Oma, dengan tongkat kayu eboni di antara kedua lututnya.

“Daniel,” katanya. “Cerita.”

Om Daniel bercerita. Ia bercerita dengan suara datar seorang direktur operasional yang sedang melaporkan kebakaran di salah satu properti: kronologis, faktual, tanpa kata sifat. Lamaran. Passcode. Apartemen. Kayla dengan gimbal. Laki-laki bernama Kenzo, eksekutif agensi event yang pernah menangani gala Harrison tahun lalu. Cincin di atas meja. Delapan hari. Dan sore tadi.

Waktu Om Daniel sampai di bagian gazebo, suaranya patah, dan ia berhenti.

Opa tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap Zara.

Zara mulai menangis. Lagi. Ia sudah menangis delapan hari, kata Kayla di grup Cousins. Menangis di kamar, menangis di meja makan, menangis di mobil. Menangis minta maaf ke Papa-Mamanya, ke Kayla, ke Pak Udin, ke Bruno.

“Aku salah, Opa,” katanya. “Aku tahu aku salah. Aku udah minta maaf ke semua orang.”

“Ke semua orang,” ulang Opa pelan.

“Aku udah telepon dia empat puluh tujuh kali! Dia nggak angkat. Aku kirim pesan, dia nggak baca. Aku tungguin di depan studionya, dia lewat pintu belakang.” Suara Zara naik. “Apa lagi yang harus aku lakuin?”

“Mungkin,” kata Mama dengan sangat lembut, “yang harus kamu lakukan adalah membiarkannya pergi, Zara.”

Zara menoleh ke arah Mama dengan mata yang tiba-tiba menyala. Aku mengenali nyala itu. Nyala yang sama waktu kami berumur sebelas dan tiga belas, dan aku mendapat peran putri di pentas sekolah, sementara ia mendapat peran pohon.

“Tante nggak ngerti,” katanya. “Nggak ada yang ngerti. Semua orang ngomongin dia kayak dia malaikat. Iya, dia baik. Dia baik banget. Dia terlalu baik. Dua tahun, Tante, dia nggak pernah marah. Nggak pernah cemburu. Nggak pernah nanya aku ke mana. Aku pulang jam dua pagi, dia cuma nanya udah makan belum? Aku batalin janji, dia bilang nggak apa-apa, kamu pasti capek. Aku kayak pacaran sama tembok. Tembok yang baik, yang sopan, yang bisa benerin keran. Tapi tetap tembok.”

Ruangan diam. Kipas angin kayu berputar.

“Aku nggak bilang aku bener,” lanjut Zara, lebih pelan. Air matanya jatuh ke bantal sofa. “Aku cuma bilang, aku manusia. Aku butuh ngerasain sesuatu. Kenzo itu... dia cuma... itu kesalahan. Satu kesalahan. Dua tahun, satu kesalahan.”

“Satu,” ulang Kayla dari sofa seberang. Suaranya kecil, tapi semua orang mendengarnya. “Kak. Aku lihat kalender di apartemen Kakak. Waktu aku ambil barang. Ada lingkaran-lingkaran. Sejak April.”

Zara memucat.

Tante Ratna memejamkan mata. Om Daniel menatap lantai.

“Itu... Kayla, itu bukan...”

“Aku nggak ngomong ke Kak Ervan,” kata Kayla. “Tenang aja. Dia nggak perlu tahu.”

Ponsel Zara di pangkuannya menyala. Layarnya menghadap ke atas, dan ibu jarinya bertengger di sana, bergerak sedikit. Aku pikir ia sedang mengetik pesan ke Ervan lagi. Pesan keempat puluh delapan yang tidak akan dibaca.

Zara menarik napas panjang. Lalu ia mengangkat dagu, dengan gaya yang sangat Harrison, gaya yang kami semua pelajari dari Opa, gaya yang dipakai untuk menutupi apa pun yang sedang retak di bawahnya.

“Yang penting,” katanya, “dia pasti balik.”

Tidak ada yang menjawab.

“Ervan selalu balik,” kata Zara. “Dia nggak bisa marah lama. Dia nggak punya tempat lain. Keluarganya cuma ibunya. Temannya cuma satu, si Gilang yang berisik itu. Dua tahun dia di sini tiap minggu. Dia sayang Mama. Dia sayang Papa. Dia sayang Kayla. Dia nggak akan buang semua itu cuma gara-gara...” Ia berhenti sebentar, memilih kata. “Cuma gara-gara satu malam. Kasih dia waktu. Sebulan. Dua bulan. Dia bakal balik. Dan waktu dia balik, aku bakal lebih baik. Aku janji.”

Aku melihat jam tanganku. Satu jam empat puluh tujuh menit sejak mobil abu-abu itu berbelok di tikungan.

Aku berdiri.


“Kamu nggak lihat dia hari ini,” kataku.

Semua kepala menoleh. Mama menyentuh pergelangan tanganku. Aku melepaskannya dengan lembut.

“Kamu di atas, di tangga. Kamu lihat dia sebentar. Terus kamu lari ke kamar dan banting pintu.” Aku berjalan dua langkah ke tengah ruangan. Karpet Persia tua di bawah kakiku terasa terlalu tebal. “Aku lihat dia empat puluh menit, Zara. Dari dapur. Aku lihat dia minta maaf ke Om Daniel karena dia nggak cukup buat kamu. Aku lihat dia bawa gambar gazebo yang Om Daniel minta setahun lalu, yang dia selesaiin dalam seminggu, supaya Om nggak perlu ketemu dia lagi buat bangun gazebo itu. Aku lihat dia gambar Bruno di bawah bangku.”

“Monic,” kata Papa pelan.

“Aku lihat Tante Ratna berlutut dan meluk kakinya. Dan aku lihat dia, dia yang udah kamu khianatin sejak April, dia yang masuk pakai passcode yang kamu kasih dan nemuin kamu di ranjang sama orang lain, dia bangunin Tante Ratna dari lantai dan bilang makasih buat rendangnya.”

Zara menatapku dengan mulut terbuka.

“Dan waktu Tante Ratna nanya dia baik-baik aja atau nggak,” suaraku mulai bergetar, dan aku membiarkannya, “dia senyum. Senyum kayak orang yang udah latihan di depan cermin. Dan dia bilang aku baik-baik saja, Tante. Kamu tahu artinya apa? Artinya dia bohong. Artinya dia hancur, Zara. Hancur sampai nggak bisa marah. Hancur sampai satu-satunya hal yang bisa dia lakuin adalah minta maaf ke semua orang supaya nggak ada lagi yang sakit kecuali dia.”

“Kamu nggak tahu apa-apa soal dia,” desis Zara.

“Aku tahu dia bukan tembok.”

Ruangan itu sangat sunyi sekarang. Aku bisa mendengar detak jam kakek di sudut. Aku bisa mendengar napas Kayla yang tertahan.

“Tembok nggak minta maaf buat luka yang bukan buatannya,” kataku. “Tembok nggak nganter adikmu pulang dengan selamat setelah ngelihat yang dia lihat. Tembok nggak benerin genset...” Aku menggigit lidahku. Terlambat sedikit. Tidak ada yang sepertinya menangkapnya. “Kamu bilang dia nggak pernah marah, nggak pernah cemburu, nggak pernah nanya kamu ke mana. Kamu tahu kenapa? Karena dia percaya sama kamu. Seratus persen. Kamu dikasih orang yang percaya sama kamu seratus persen, dan kamu pakai kepercayaan itu buat nyelingkuhin dia sejak April.”

“Monica,” kata Opa.

Aku tidak berhenti. Aku tidak bisa berhenti. Tiga tahun diam, tiga tahun menghindari acara keluarga, tiga tahun menekan enam angka di panel pintu setiap malam, semuanya naik ke tenggorokanku sekaligus.

“Dan sekarang kamu duduk di situ, pakai kausnya, dan bilang dia pasti balik. Seolah dia barang yang kamu taruh di laci. Seolah dia bakal nunggu di situ sampai kamu inget lagi kalau kamu butuh.”

Aku menatap sepupuku. Mata Harrison menatap mata Harrison.

“Dengar baik-baik, Zara,” kataku. Suaraku turun, pelan, dan setiap kata keluar dengan jelas, seperti batu yang diletakkan satu per satu. “Kamu yang membuang berlian karena nggak tahu harganya. Jadi jangan salahkan aku kalau aku yang memungutnya. Dan nggak akan pernah kulepas.”


Tidak ada yang bergerak.

Tante Ratna menutup mulut. Om Daniel mengangkat kepala. Kayla menatapku dengan mata terbelalak dan, aku bersumpah, sesuatu yang mirip kekaguman. Papa menatap langit-langit, seperti orang yang sedang berdoa atau menahan tawa atau keduanya. Mama memejamkan mata dengan ekspresi orang yang rencana strategisnya baru saja dibakar di depan umum.

Zara berdiri dari kursinya. Bantal sofa jatuh ke lantai. Ponselnya masih di tangannya, layarnya masih menyala.

“Kamu,” katanya. Suaranya gemetar. “Kamu ngincer dia.”

Aku tidak menjawab.

“Ya Tuhan. Kamu ngincer dia. Dari kapan?” Ia tertawa, tawa pendek yang pahit. “Pantes. Pantes kamu nggak pernah datang tiap aku bawa dia. Aku pikir kamu sombong. Ternyata kamu...”

“Cukup.”

Suara Opa tidak keras. Opa tidak pernah bersuara keras. Tapi ketika ia bicara dengan nada itu, nada yang sama yang ia pakai waktu memecat direktur keuangan yang menggelapkan dana di tahun sembilan puluh delapan, seluruh ruangan seperti ditekan tombol jeda.

“Zara. Duduk.”

Zara duduk.

“Monica. Duduk.”

Aku duduk. Tanganku gemetar di pangkuan. Mama meraih salah satunya dan menggenggamnya erat.

Opa diam untuk waktu yang lama. Ia menatap potret Oma di atas perapian. Oma dalam kebaya biru pucat, tersenyum dengan cara yang membuatmu merasa ia tahu rahasiamu tapi tidak akan memberitahu siapa-siapa.

“Laki-laki yang minta maaf untuk luka yang bukan buatannya,” kata Opa akhirnya, masih menatap potret itu, “tidak akan kembali, Zara. Bukan karena dia marah. Tapi karena dia sudah memutuskan untuk tidak jadi beban siapa-siapa lagi. Laki-laki seperti itu tidak pergi dengan membanting pintu. Mereka pergi dengan menutupnya pelan-pelan. Dan pintu yang ditutup pelan-pelan, itu yang paling susah dibuka lagi.”

Zara menunduk. Bahunya berguncang.

“Kamu minta maaf ke semua orang di rumah ini,” lanjut Opa. “Ke Papa, Mama, Kayla, ke Opa, ke satpam, ke anjing. Kamu belum minta maaf ke satu-satunya orang yang berhak menerimanya. Bukan lewat telepon empat puluh tujuh kali. Bukan dengan menunggu di depan studionya. Tapi dengan membiarkannya pergi tanpa harus menanggung rasa bersalahmu juga.”

Lalu Opa menoleh kepadaku.

Aku menunggu. Aku siap dimarahi. Siap disuruh minta maaf ke Zara. Siap mendengar bahwa keluarga Harrison tidak saling memperebutkan laki-laki di ruang keluarga seperti sinetron jam tujuh malam.

Opa menatapku lama. Lalu salah satu sudut bibirnya, sudut yang sudah keriput dan tipis, terangkat sedikit sekali.

“Opa lelah,” katanya. “Semua pulang.”


Di mobil, tidak ada yang bicara sampai kami keluar dari gerbang rumah Opa.

Lalu Papa, yang duduk di kursi depan di samping sopir, berbalik ke belakang dengan wajah yang sudah menahan sesuatu selama dua jam.

“Nggak akan pernah kulepas,“ ulangnya dengan nada dramatis, satu tangan di dada. “Ya ampun, Nak. Papa merinding. Itu dari mana? Dari drama Korea?”

“Richard,” kata Mama.

“Papa serius! Papa dukung!” Papa menepuk sandaran kursi. “Kamu mau apa? Kamu butuh apa? Papa bisa kosongin ballroom. Tiga ballroom. Kamu pilih. Mau helikopter? Hotel kita di Bali ada helipad-nya. Kamu jemput dia pakai helikopter, dari atas kamu lempar bunga...”

“Dia arsitek, Pa, bukan korban banjir.”

“Ya udah, jangan helikopter. Mau Papa kasih dia proyek? Kita mau renov Harrison Surabaya. Anggarannya besar. Kamu jadi PIC-nya, dia arsiteknya, kalian ketemu tiap hari...”

“Richard,” kata Mama lagi. Kali ini dengan nada yang membuat Papa berbalik ke depan dan duduk manis seperti anak SD yang ditegur guru.

Mama menoleh kepadaku. Wajahnya diterangi lampu jalan yang lewat bergantian, terang, gelap, terang.

“Kamu tadi ceroboh,” katanya.

“Aku tahu, Ma.”

“Kamu kasih Zara alasan untuk membencimu. Kamu kasih seluruh keluarga bahan gosip untuk tiga tahun ke depan. Dan kamu mengumumkan perang sebelum musuhmu, maksud Mama sasaranmu, bahkan tahu kamu ada.”

“Aku tahu, Ma.”

Mama menatapku lama. Lalu ia menghela napas, dan aku melihat sudut bibirnya bergerak dengan cara yang persis sama seperti sudut bibir Opa tadi.

“Tapi Mama belum pernah sebangga itu sama kamu,” katanya.

Aku menangis lagi. Sialan. Tiga kali dalam satu hari. Rekor pribadi.

“Aturannya,” lanjut Mama sambil menyerahkan tisu baru, karena Mama selalu punya tisu, “kamu nggak boleh dekati dia minimal dua minggu. Laki-laki itu baru saja pamit dari satu keluarga Harrison. Kalau besok kamu muncul di depan pintunya, dia akan lari ke Kalimantan.”

“Dua minggu.”

“Minimal. Dan waktu kamu datang, kamu datang sebagai Monica. Bukan sebagai Harrison. Bukan sebagai sepupu Zara. Bukan sebagai anak Papa yang punya tiga ballroom.”

“Tapi aku memang anak Papa yang punya tiga ballroom,” kata Papa dari depan.

“Richard.“


Di apartemen, aku menekan enam angka yang sama. Bunyi kunci terbuka. Hijau.

Aku tidak duduk di lantai kali ini. Aku berjalan ke meja kerja, menyalakan lampu, dan menelepon satu-satunya orang yang akan mengangkat telepon jam sebelas malam tanpa bertanya kenapa.

“Mon,” kata Tasya. Suaranya serak karena baru terbangun. “Ada yang meninggal?”

“Tas,” kataku. “Aku butuh spreadsheet.”

Hening sebentar.

“Spreadsheet apa?”

Aku memandangi jendela. Di luar, Jakarta berkelip dalam lampu-lampu jingga, dan di suatu tempat di arah barat daya, di Ciledug, ada rumah kecil dengan pagar hijau yang catnya mengelupas, dan seorang laki-laki yang malam ini mungkin masih mengetuk pintu kamarnya sendiri sebelum masuk.

Aku tidak tahu tentang ketukan itu, malam itu. Aku baru akan tahu nanti.

Yang aku tahu hanyalah bahwa laki-laki itu bilang ia baik-baik saja, dan aku adalah satu-satunya orang di keluarga Harrison yang tahu persis seperti apa senyum orang yang berbohong soal itu.

“Operasi,” kataku. “Namanya Operasi Berlian.”

Di ujung telepon, Tasya diam selama lima detik. Lalu aku mendengar suara laptop dibuka.

“Kolom pertama apa?” tanyanya.