← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Eighteen

Yang Selalu Menghadap Cahaya

POV: Ervan

Pengecoran kolom lantai dua dijadwalkan hari Rabu pukul enam pagi, dan aku berangkat dari Ciledug pukul tiga.

Ibu terbangun karena suara mesin mobil. Ia keluar ke teras dengan daster batik dan jaket rajut, rambut digulung handuk, membawa termos teh manis dan dua bungkus lemper yang pasti sudah ia siapkan sejak semalam, karena lemper tidak bisa dibuat dalam lima menit.

“Hati-hati,” kata Ibu, menyerahkan termos dan lemper lewat jendela mobil. “Jalannya licin kalau subuh.”

“Iya, Bu.”

“Lempernya dua.”

“Aku cuma satu orang, Bu.”

Ibu tersenyum dengan cara yang membuatku curiga. “Siapa tahu,” katanya, lalu masuk ke rumah sebelum aku sempat bertanya.


Aku sampai di lokasi pukul lima kurang sepuluh. Langit masih gelap, biru tua yang pelan-pelan memudar di ujung timur. Kabut turun rendah di kebun teh, putih dan tebal, sehingga barisan tanaman teh hanya terlihat seperti bayangan hijau gelap di bawah selimut.

Bangunan villa sudah berdiri separuh. Dinding lantai satu sudah naik, bata merah yang belum diplester, dengan lubang-lubang kosong tempat jendela dan pintu nanti dipasang. Bekisting kayu untuk kolom lantai dua sudah terpasang, menjulang ke langit seperti tulang rusuk raksasa. Pak Asep dan timnya belum datang. Truk molen dijadwalkan pukul enam.

Aku menyalakan senter ponsel dan berjalan ke sisi timur laut. Ke kamar tidur utama. Ke tempat batu pertama diletakkan.

Lalu aku berhenti.

Ada seseorang di sana.

Duduk di atas sloof beton di sudut timur laut, di dalam ruang yang nanti akan menjadi kamar tidur, dengan kaki menggantung dan punggung bersandar ke dinding bata yang belum diplester. Terbungkus selimut tebal bermotif kotak-kotak merah seperti burrito. Hanya kepalanya yang keluar, dengan kupluk rajut abu-abu yang menutupi sampai alis.

Di pangkuannya, di atas selimut, ada buket bunga matahari.

“Monic?”

Kepala itu menoleh. Senter ponselku jatuh ke wajahnya, dan ia menyipitkan mata.

“Oh,” katanya. “Kamu datang pagi banget.”

“Kamu datang pagi banget.”

“Aku datang dari jam empat.” Ia menguap lebar, tanpa menutup mulut. “Pak Harun tidur di mobil. Di bawah. Aku bawa selimut dari hotel. Jangan bilang housekeeping.”

Aku menatapnya. Aku menatap selimut hotel dan kupluk dan bunga matahari. Lalu aku menurunkan senter dan berjalan mendekat.

“Ngapain jam empat pagi di proyek?”

“Mau lihat matahari terbit,” katanya. “Dari sini. Dari kamar ini.” Ia menunjuk ke depan, ke arah lubang jendela di dinding timur. Lubang segi empat besar yang belum ada kusennya, hanya bingkai bata kosong yang menghadap ke lembah. “Kamu bilang jendelanya menghadap timur. Aku mau lihat. Sebelum ada kacanya. Sebelum ada dindingnya selesai. Aku mau lihat matahari pertama yang masuk ke kamar ini.”

Aku tidak tahu harus bilang apa.

“Kamu mau duduk?” tanyanya. Ia bergeser di atas sloof, membuka salah satu sisi selimutnya. “Dingin, lho.”

Aku duduk. Tidak terlalu dekat. Ia melempar sisi selimut itu ke atas bahuku tanpa bertanya. Selimut itu hangat karena tubuhnya, dan berbau pelembut pakaian hotel, dan di bawahnya, samar, melati dan vanila.

Kami duduk di sana, berbagi selimut, di atas sloof beton di kamar yang belum punya atap, menunggu matahari.


Aku mengeluarkan termos dan lemper. Aku menuangkan teh ke tutup termos dan memberikannya kepadanya. Ia meminumnya dengan dua tangan, meniup-niup uapnya.

“Manis banget.”

“Ibu.”

“Ibu memang selalu kebanyakan gula.” Ia tersenyum ke tutup termos. “Tapi enak.”

Aku memberikan lemper. Ia menatapnya, lalu menatapku.

“Kamu bawa dua?”

“Ibu yang bawain dua.”

Monica terdiam sebentar. Lalu tertawa kecil, dan aku mendengar sesuatu di tawanya yang aku tidak mengerti, seperti ia sedang tertawa pada lelucon yang hanya ia dan Ibu yang tahu.

Kami makan lemper. Kabut di lembah mulai bergerak, pelan, seperti air yang disibakkan. Langit di timur berubah dari biru tua menjadi ungu, lalu merah muda pucat di ujung-ujungnya.

“Monic.”

“Hm?”

“Kenapa bunga matahari?”

Aku sudah ingin menanyakannya sejak hari pertama. Sejak buket pertama di meja gambarku, di atas sketsa rumah yang garisnya terlalu rapi. Enam puluh hari. Enam puluh buket. Enam ratus enam puluh tangkai, kalau aku menghitung, dan aku menghitung. Aku tidak pernah bertanya karena aku takut jawabannya. Takut jawabannya sesuatu yang harus kubalas.

Monica tidak langsung menjawab. Ia menatap buket di pangkuannya. Sebelas tangkai, kertas cokelat, tali rami. Kartu kecil terselip di antara tangkai-tangkainya, dan aku bisa melihat tulisan Hari 60 dengan huruf miring ke kanan.

“Kamu tahu bunga matahari muda itu ngikutin matahari?” katanya. “Pagi dia ngadep timur. Siang ngadep atas. Sore ngadep barat. Malamnya dia balik lagi ke timur, nunggu pagi. Tiap hari. Muter-muter.”

“Heliotropisme,” kataku.

“Iya, itu. Kamu arsitek atau ahli biologi?”

“Arsitek harus ngerti arah matahari.”

Ia tersenyum. “Tapi ada yang lebih keren. Waktu bunga matahari udah dewasa, udah mekar penuh, dia berhenti muter. Dia berhenti ngikutin. Dia diam, dan dia ngadep ke satu arah selamanya.” Monica mengusap kelopak bunga di pangkuannya dengan ujung jari. “Ke timur. Selalu ke timur. Ke arah matahari terbit.”

Langit di timur berubah jingga.

“Kenapa timur?” tanyaku.

“Ada yang bilang biar lebah lebih banyak datang, soalnya bunga yang kena matahari pagi lebih hangat. Ada yang bilang itu cuma kebetulan evolusi.” Ia mengangkat bahu di bawah selimut. “Aku nggak peduli alasannya. Aku suka artinya.”

“Artinya apa?”

Monica menoleh kepadaku. Di cahaya pagi yang mulai terang, wajahnya terlihat berbeda. Tidak ada riasan. Pipinya merah karena dingin. Ada bekas bantal di pipi kirinya, garis tipis, dari tidur sebentar di mobil.

“Artinya dia udah berhenti ngejar,” katanya pelan. “Dia udah tahu ke mana dia mau ngadep. Dan dia ngadep ke sana, bahkan waktu masih gelap. Bahkan waktu mataharinya belum datang. Dia percaya cahayanya bakal datang dari situ.”

Aku menatapnya.

“Selalu menghadap ke tempat cahaya akan datang,” katanya. “Itu kenapa bunga matahari.”

Aku tidak bisa bicara. Selimut di bahuku tiba-tiba terasa sangat berat.

“Terus,” lanjutnya, lebih pelan lagi, sambil menatap ke arah lubang jendela di dinding timur, “kamu selalu bilang kamu baik-baik aja. Kamu bilang ke Kayla, ke Tante Ratna, ke Om Daniel, ke Ibu, ke Gilang, ke Zara. Kamu bilang ke semua orang.” Ia menarik napas. “Tapi kamu nggak baik-baik aja, Van. Dan tetap aja, setiap rumah yang kamu gambar, kamarnya selalu ngadep timur. Setiap rumah. Bahkan waktu kamu lagi hancur. Bahkan waktu lampu studiomu nyala sampai jam dua pagi.”

Ia menoleh kembali kepadaku.

“Kamu itu bunga matahari,” katanya. “Kamu cuma belum sadar.”


Matahari muncul.

Tidak pelan-pelan. Di Puncak, matahari tidak muncul pelan-pelan. Ia muncul seperti seseorang yang membuka pintu, tiba-tiba, dari balik punggung gunung di seberang lembah, dan cahaya pertamanya menembak lurus melintasi kebun teh dan kabut dan pohon kesemek di sudut lahan, masuk ke lubang jendela di dinding timur, dan jatuh ke dalam kamar yang belum punya atap.

Jatuh ke wajah Monica.

Ia memejamkan mata sebentar karena silau. Lalu membukanya perlahan, dan menatap ke arah matahari, dan aku melihat matanya.

Aku sudah melihat mata itu ratusan kali selama enam puluh hari. Di ruang tengah Om Daniel, di pintu studio, di tanjakan Puncak, di dapur Ibu, di bedeng proyek, di tangga rumah orang tuanya. Mata Harrison. Cokelat keabuan, yang berubah warna di bawah lampu, yang setiap kali kutatap membuat dadaku dingin.

Tapi aku belum pernah melihatnya di bawah matahari terbit. Dari jarak sedekat ini. Di bawah selimut yang sama.

Ada hijau di sana.

Bintik-bintik kecil berwarna hijau, di dekat pupil, di bagian bawah iris. Hijau seperti daun teh di lembah yang baru tersentuh cahaya pagi. Tidak banyak. Mungkin lima, mungkin enam, tersebar seperti biji yang jatuh dari tangan. Di cahaya biasa, di bawah lampu hotel atau lampu kafe, bintik-bintik itu pasti tidak terlihat, tenggelam dalam cokelat keabuan. Tapi di bawah matahari pertama yang masuk lewat jendela timur, mereka menyala.

Aku lupa bernapas.

“Matamu,” kataku.

Monica menoleh kepadaku. Bintik-bintik hijau itu ikut bergerak.

“Kenapa?”

“Ada hijaunya.”

Ia berkedip. Lalu, pelan, senyumnya mengembang. Bukan senyum miring. Senyum yang pelan dan heran, seperti orang yang mendengar namanya dipanggil di tempat yang tidak ia duga.

“Cuma kelihatan kalau berdiri cukup dekat,” katanya. “Belum banyak yang pernah.”

Aku memikirkan dua tahun. Dua tahun menatap mata Harrison yang lain. Di kafe, di kamar, di mobil, di pantai Anyer, di bawah lampu tidur yang kuning. Dua tahun, dan aku tidak pernah melihat hijau di sana. Karena tidak ada. Aku tahu itu dengan kepastian yang sama seperti aku tahu beban struktur. Mata Zara cokelat keabuan, sepenuhnya, tanpa satu pun titik hijau.

Mata ini mata Harrison.

Tapi bukan mata Zara.

Aku menatap bintik-bintik hijau itu dan menunggu dadaku menjadi dingin. Refleks. Seperti setiap kali.

Dadaku tidak menjadi dingin.

Dadaku menjadi hangat. Pelan, dari tengah, seperti matahari yang masuk ke kamar tanpa atap ini. Batu dingin di bawah tulang rusukku masih ada, aku bisa merasakannya, berat dan diam. Tapi di sekitarnya, untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat, yang menyelimuti batu itu seperti selimut hotel bermotif kotak-kotak di bahuku.

Tanganku terangkat.

Aku tidak memerintahkannya. Sama seperti di bedeng. Tanganku bergerak sendiri, pelan, dari bawah selimut, naik, menuju wajahnya. Menuju pipinya yang merah karena dingin dan ada bekas bantal di sana.

Monica tidak bergerak. Ia tidak memejamkan mata kali ini. Ia menatapku, dengan mata Harrison yang ada hijaunya, dan menunggu.

Tiga senti.

Dua senti.

Ujung jariku hampir bisa merasakan kehangatan kulitnya.

“JANG!“

Suara Pak Asep menggelegar dari bawah, dari arah jalan desa, disertai suara mesin truk molen yang menderu menanjak. “Jang Ervan! Molen datang! Kolomna geus siap?“

Tanganku jatuh.

Monica memejamkan mata. Lalu tertawa. Tawa yang keluar dari hidung, tertahan, putus asa dan geli sekaligus.

“Pak Asep,” katanya ke langit-langit yang tidak ada. “Pak Asep, Pak Asep, Pak Asep.”

“Maaf,” kataku. Aku tidak tahu kenapa aku minta maaf. Kepada Monica, kepada Pak Asep, kepada tanganku sendiri.

“Nggak apa-apa.” Ia membuka mata. Bintik hijau itu masih di sana, masih menyala di bawah matahari. “Aku udah bilang. Nanti aja.”

“Nanti aja,” ulangku.

“Tapi nantinya jangan kelamaan,” katanya. “Aku nggak pakai rem, tapi aku juga nggak punya bensin tak terbatas.”


Pak Asep naik ke dalam kerangka villa lima menit kemudian, dengan helm proyek, sepatu bot, dan senter kepala yang masih menyala meskipun matahari sudah terbit. Ia berdiri di ambang lubang pintu kamar tidur utama, menatap kami berdua di atas sloof di bawah selimut kotak-kotak merah, dengan termos teh dan bungkus lemper kosong di antara kami.

Ia menatap Monica. Menatapku. Menatap langit.

Lalu, dengan gaya seorang peramal cuaca yang tidak pernah salah, ia mengumumkan:

“Poé ieu cerah, Jang. Moal hujan.” Ia mengangguk-angguk, lalu menyeringai dengan satu giginya. “Tapi aya nu mendung dina haté. Mendung nu geus rék bray.”

“Artinya apa, Pak?” tanya Monica.

“Hari ini cerah, Neng. Nggak hujan,” terjemah Pak Asep. “Tapi ada yang mendung di dalam hati. Mendung yang udah mau terang.”

Ia menatapku lagi, lalu berbalik dan turun ke bawah sambil bersenandung, meneriakkan instruksi kepada tukang-tukang yang baru datang.

Monica menatapku. Aku menatap Monica.

“Pak Asep nggak pernah salah,” kataku.

“Aku tahu,” kata Monica. “Kamu yang cerita.”


Ia pulang pukul delapan, setelah menonton kolom pertama dicor dengan antusiasme orang yang menonton pertandingan final. Ia bertepuk tangan setiap kali ember beton naik ke bekisting. Tukang-tukang, yang awalnya bingung, lama-lama ikut bertepuk tangan. Pada kolom ketiga, seluruh lokasi proyek bersorak seperti stadion, dan sopir truk molen membunyikan klakson dua kali sebagai bentuk dukungan.

Pak Harun terbangun di dalam SUV karena klakson itu, keluar dengan wajah bantal, dan menatap pemandangan di depannya: majikannya yang terbungkus selimut hotel, bersorak di tengah tukang-tukang berhelm, dan aku yang berdiri di samping Monica memegang termos Ibu.

Ia menatapku. Lalu, pelan-pelan, Pak Harun mengacungkan dua jempol.

Aku tidak tahu kenapa semua orang di sekitar perempuan ini selalu mengacungkan dua jempol kepadaku. Papanya. Sopirnya. Tukang ojek di warung Mang Ujang.

Sebelum masuk ke mobil, Monica menyerahkan selimut hotel itu kepadaku. Terlipat asal-asalan.

“Buat di bedeng,” katanya. “Kalau subuh lagi. Jangan bilang housekeeping.”

Aku menerimanya. Aku tidak mengembalikannya ke bedeng. Selimut itu sekarang ada di jok belakang Avanza-ku, dan setiap kali aku menyalakan mobil, bau pelembut pakaian hotel bercampur dengan pengharum rasa kopi.


Malam itu, di Ciledug, aku berdiri di depan pintu kamarku.

Aku mengangkat tangan. Mengetuk.

Satu. Dua. Tiga.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak malam itu, aku tidak menunggu. Aku tidak berdiri di sana menghitung detik, menunggu kamar kosong menjawab. Tanganku langsung turun ke kenop, dan memutarnya, dan pintu terbuka.

Kamarku ada di sana. Tempat tidur dengan sprei biru. Meja gambar. Lemari yang pintunya agak miring.

Dan di atas meja gambar, di dalam gelas bekas selai yang kubawa pulang dari studio, satu tangkai bunga matahari. Yang kuambil diam-diam dari buket Hari 60 sebelum pulang, tanpa Gilang lihat.

Bunga itu menghadap ke jendela. Ke arah timur.

Aku tidak memutarnya. Aku biarkan ia menghadap ke sana, ke tempat cahaya akan datang.

Di dapur, Ibu berhenti mencuci piring. Aku tahu ia mendengarnya. Ketukan yang sama, tiga kali, tapi tanpa hening sesudahnya.

Aku mendengar Ibu menarik napas panjang. Lalu mulai bersenandung. Lagu lama. Lagu yang dulu Ibu senandungkan waktu Bapak masih ada.