Chapter Seven
Klien Bernama Tasya
POV: Ervan
Pada hari kesembilan, toples di studio habis.
Aku sudah memakai semua wadah yang bisa menampung air. Toples kerupuk, toples selai, toples biskuit lebaran, gelas ukur, ember kecil yang kubungkus kalkir, teko plastik bekas es teh, dan satu helm proyek yang dibalik. Gilang menyarankan agar aku mulai memakai tempat sampah. Aku tidak menjawab dan pergi ke pasar di belakang stasiun Tebet untuk membeli tiga vas tanah liat seharga lima belas ribu per buah.
Ibu melihat serbuk sari kuning di bahu kemejaku waktu aku pulang.
“Van,” katanya, sambil menepuk-nepuk bahuku dengan serbet. “Ini apa? Kamu kerja di kebun?”
“Bunga, Bu.”
“Bunga apa?”
“Bunga matahari.”
Ibu berhenti menepuk. “Dari siapa?”
Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke kamarku, berhenti di depan pintu, mengetuk tiga kali, lalu masuk. Di belakangku, aku mendengar Ibu tidak kembali ke dapur. Ibu berdiri di lorong cukup lama, dan aku tahu ia sedang tersenyum, karena Ibu selalu diam seperti itu kalau sedang tersenyum dan tidak mau ketahuan.
Kartu-kartu itu ada di laci kedua meja gambarku. Sembilan kartu. Kertasnya tebal, warna gading, ukuran kartu nama. Tulisannya tangan, pakai tinta biru tua, huruf-hurufnya miring ke kanan dengan ekor yang panjang di huruf g dan y, seperti orang yang menulis sambil terburu-buru tapi tetap ingin tulisannya cantik.
Hari 5: Aku tanya ke Kayla kamu suka makanan apa. Dia bilang “apa aja yang dimasak orang lain.” Itu jawaban paling sedih yang pernah aku dengar. Besok aku kirim makanan. Nggak aku yang masak. Kamu pasti bersyukur.
Besoknya memang datang sekotak nasi campur dari restoran hotel. Gilang menghabiskan separuhnya sebelum aku sempat membuka tutupnya.
Hari 7: Hari ini tamu di lantai 30 minta handuk warna ungu. Kenapa ungu? Katanya warna chakra-nya. Aku carikan. Ternyata di seluruh Jakarta Selatan cuma ada satu toko yang jual handuk ungu. Aku menang. Aku cerita ke kamu karena aku butuh orang yang tepuk tangan, dan Tasya udah capek tepuk tangan.
Hari 8: Kamu nggak harus baca kartu-kartu ini. Tapi kalau kamu baca, aku mau kamu tahu satu hal: aku nggak buru-buru. Maksudnya aku BURU-BURU, tapi aku bisa nunggu. Dua hal itu bisa benar sekaligus.
Aku membaca kartu kedelapan itu berulang-ulang malam itu, di bawah lampu meja, sementara Ibu menonton sinetron di ruang tengah dengan volume yang terlalu keras.
Aku tidak mengerti perempuan ini.
Monica Angelica Harrison. Anak Om Richard. Director of Guest Experience di hotel yang lobinya pernah kurenovasi. Perempuan yang, di setiap acara keluarga Harrison yang pernah kuhadiri, tidak pernah ada. Zara bilang ia sombong. Zara bilang ia sibuk jadi ratu. Zara bilang ia tidak pernah menyukai Zara sejak kecil karena urusan peran di pentas sekolah.
Perempuan itu sekarang mengirimiku bunga setiap hari, menulis kartu tentang handuk ungu, dan menyuruhku makan siang dengan nada seorang jenderal.
Aku tidak mengerti apa yang ia lihat. Aku tidak mengerti apa yang ia mau.
Dan yang paling tidak kumengerti: kenapa setiap pagi, sekitar jam sembilan lewat seperempat, ketika kurir berseragam hijau menaiki tangga besi dan mengetuk pintu kaca buram tiga kali, dadaku yang dingin itu terasa sedikit kurang dingin.
“Van. Kita dapet klien.”
Gilang mengatakannya pada hari kesepuluh, pukul sebelas pagi, dengan nada yang terlalu ceria untuk seseorang yang baru saja menghabiskan dua bulan terakhir mengeluh soal sepinya proyek. Ia berdiri di depan mejaku dengan map plastik biru di tangan dan senyum yang, kalau aku jujur, terlihat seperti senyum orang yang baru saja mencuri sesuatu.
“Klien apa?”
“Villa. Di Puncak. Tanahnya udah ada. Luasnya delapan ratus meter. Anggarannya...” Ia membuka map, menunjuk angka, dan aku harus membacanya dua kali untuk memastikan jumlah nolnya. “Ini, Van. Ini. Ini bisa bayar sewa studio dua tahun. Ini bisa ganti AC mobilmu. Ini bisa bikin kita pasang papan nama yang huruf u-nya nggak copot.”
Aku mengambil map itu. Di halaman pertama ada surat perjanjian kerja sama, sudah ditandatangani. Di kolom Pihak Pertama, nama klien: Tasya Anindita Wirawan. Di kolom Pihak Kedua, tanda tangan Gilang yang besar dan melingkar-lingkar seperti tanda tangan artis.
“Kamu udah tanda tangan?”
“Udah.”
“Tanpa aku lihat dulu?”
“Kamu lagi di lapangan, Van. Di Cikarang. Kliennya buru-buru. Dia bilang kalau nggak deal hari itu, dia cari studio lain.” Gilang menggaruk tengkuknya. “Dan DP-nya udah masuk.”
“Udah masuk?”
“Udah.” Ia berhenti sebentar. “Dan udah kepakai. Dikit.”
“Kepakai buat apa?”
“Bayar tunggakan sewa tiga bulan. Sama utang kita ke Pak Tohir fotokopi.” Gilang memelas. “Van, dia udah muter lagu Ditinggal Rabi tiga minggu berturut-turut. Aku rasa itu sindiran.”
Aku menghela napas dan membalik halaman. Di belakang surat perjanjian ada dokumen berjudul BRIEF DESAIN — VILLA PUNCAK. Tiga halaman, diketik rapi dengan poin-poin bernomor.
1. Luas bangunan sekitar 250 m², dua lantai.
2. Material dominan kayu dan batu alam. Jangan beton ekspos. Beton ekspos kelihatan kayak parkiran.
3. Dapur yang bisa dipakai oleh orang yang TIDAK BISA MASAK. (Tolong dipikirkan serius. Ini penting.)
4. Satu kamar tidur utama yang cukup untuk dua orang yang baru menikah.
5. Satu ruang dengan piano. Tidak harus besar. Piano tegak cukup.
Aku berhenti di nomor lima. Lalu melanjutkan.
6. Teras yang cukup lebar untuk duduk berdua lihat kabut.
7. Jendela kamar menghadap timur. Supaya yang bangunin itu matahari, bukan alarm.
Aku berhenti lagi. Lebih lama.
Supaya yang bangunin itu matahari, bukan alarm.
Aku pernah mengatakan kalimat itu. Aku tidak ingat kapan, tidak ingat kepada siapa. Tapi aku tahu itu kalimatku. Itu prinsip yang kupakai di setiap rumah yang kurancang, yang kupelajari dari Bapak waktu kami merenovasi kamar tidurku di Ciledug dan Bapak memindahkan jendelanya ke sisi timur. Biar kamu bangun karena pagi, Van, bukan karena disuruh.
Mungkin kebetulan. Banyak orang ingin jendela menghadap timur. Itu bukan ide yang orisinal.
Aku membalik ke halaman terakhir. Di bawah poin-poin yang diketik, ada catatan tambahan, ditulis tangan dengan pulpen.
Catatan: Arsiteknya harus Mas Ervan sendiri. Bukan diserahkan ke staf. (Saya tahu staf Studio Pratama cuma Mas Gilang, tapi saya tetap mau menulis ini supaya jelas.)
Tinta biru tua. Huruf-huruf yang miring ke kanan. Ekor yang panjang di huruf g dan y.
Aku menatap tulisan itu. Lalu aku menarik laci kedua mejaku, mengambil kartu Hari 8, dan meletakkannya di samping dokumen itu.
Huruf g di kata Gilang dan huruf g di kata nunggu. Ekornya melengkung ke kiri dengan cara yang persis sama, seperti kail pancing.
“Lang,” kataku pelan.
Gilang, yang sedang berpura-pura sangat sibuk menyiram vas tanah liat di rak, membeku dengan gelas air di tangan.
“Siapa Tasya Anindita Wirawan?”
“Klien.”
“Lang.”
“Klien yang baik. Yang bayar DP lunas. Yang nggak nawar.”
“Lang.” Aku mengangkat kartu Hari 8 di tangan kiri dan brief villa di tangan kanan. “Tulisannya sama.”
Gilang menatap kedua kertas itu. Ia menatapnya lama sekali, seperti detektif di film yang baru sadar pembunuhnya adalah dirinya sendiri. Lalu ia meletakkan gelas air, menarik kursi, duduk di hadapanku, dan menautkan kedua tangannya di atas meja dengan sangat serius.
“Van,” katanya. “Aku mau ngaku.”
“Silakan.”
“Aku informan.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu?”
“Kartu hari keempat tahu aku belum makan siang. Yang tahu aku belum makan siang cuma kamu.” Aku meletakkan kedua kertas itu. “Dibayar apa?”
Gilang menunduk. “Martabak.”
“Berapa?”
“Tiga. Keju cokelat, ketan hitam, sama yang spesial telor bebek.” Ia mengangkat kepala dengan wajah penuh penyesalan yang tidak meyakinkan. “Tapi, Van, sumpah, kontrak villa ini bukan aku yang minta. Tasya yang nawarin. Tasya itu asistennya Mbak Monica. Dia bilang Mbak Monica beneran punya tanah di Puncak, warisan dari almarhumah Oma-nya, dan beneran mau bangun villa. Beneran. Bukan pura-pura. Dan dia beneran mau kamu yang desain.”
“Terus kenapa pakai nama asistennya?”
“Karena kalau pakai nama Monica Harrison, kamu bakal nolak,” kata Gilang, dengan nada seperti sedang menjelaskan bahwa air itu basah. “Semua orang tahu kamu bakal nolak.”
Aku tidak bisa membantah.
“Batalin,” kataku.
“Nggak bisa.”
“Kenapa nggak bisa?”
Gilang membalik surat perjanjian ke halaman kedua dan menunjuk pasal tujuh dengan jari telunjuk yang gemetar sedikit.
Pasal 7. Pembatalan. Apabila Pihak Kedua membatalkan perjanjian secara sepihak, Pihak Kedua wajib mengembalikan uang muka sebesar 100% ditambah kompensasi sebesar 50% dari nilai uang muka dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender.
Aku membaca angka itu. Aku melihat rak di dinding. Aku memikirkan tunggakan sewa tiga bulan, utang ke Pak Tohir, dan saldo rekening studio yang terakhir kucek hanya cukup untuk membeli dua vas tanah liat lagi.
“Kamu tanda tangan kontrak dengan pasal kayak gini?”
“Aku nggak baca pasal tujuh,” bisik Gilang. “Aku berhenti di angka DP-nya. Angkanya indah, Van. Kamu lihat sendiri. Angkanya kayak puisi.”
Aku seharusnya marah. Aku tahu itu. Laki-laki normal akan marah. Sahabatnya menjualnya demi martabak, lalu menandatangani kontrak yang mengikatnya pada seorang Harrison selama berbulan-bulan.
Tapi aku melihat Gilang yang duduk di depanku dengan kaus anime dan rambut ikal berantakan, yang tiga minggu lalu menjemputku di pom bensin Fatmawati jam dua belas malam setelah aku menyalakan ponsel lagi, yang tidak bertanya apa-apa dan hanya menyetir di belakang mobilku sampai Ciledug untuk memastikan aku pulang dengan selamat. Gilang yang menghitung setiap kali aku bilang baik-baik saja di papan tulis, bukan untuk mengejekku, tapi karena ia tidak tahu cara lain untuk bilang bahwa ia khawatir.
Aku tidak bisa marah kepadanya. Aku tidak bisa marah kepada siapa pun. Mungkin itu yang dimaksud Zara ketika ia bilang aku terlalu baik. Mungkin itu memang masalahnya.
“Kapan pertemuan pertama sama kliennya?” tanyaku.
Gilang menegakkan punggung dengan harapan di matanya. “Kamu mau?”
“Aku nggak punya pilihan.”
“Hari ini.”
“Hari ini?”
Gilang melirik jam dinding. “Sebenarnya... lima menit lagi.”
Di luar, aku mendengar langkah kaki menaiki tangga besi. Dua pasang. Satu berbunyi tegas dan cepat, sepatu hak rendah yang yakin ke mana ia melangkah. Satu lagi lebih ringan, sepatu flat, dengan ritme yang sudah mulai kukenal selama sepuluh hari, ritme kurir berseragam hijau yang ternyata bukan satu-satunya orang yang menaiki tangga itu.
Tiga ketukan di pintu kaca buram.
Gilang melompat berdiri dan membukanya dengan terlalu bersemangat.
Perempuan pertama yang masuk berambut pendek sebahu, berkacamata bulat, memakai blazer hitam dan membawa laptop di bawah lengan. Wajahnya tidak ramah dan tidak juga tidak ramah; wajah orang yang sudah terlalu sering mengurus hal-hal yang tidak masuk akal dan sudah berhenti terkejut. Ia menatap Gilang dari atas ke bawah.
“Mas Gilang,” katanya datar. “Martabaknya enak?”
“Enak banget, Mbak Tasya,” jawab Gilang dengan nada seperti anak sekolah menjawab pertanyaan guru. “Yang telor bebek juara.”
Tasya mengangguk sekali, seolah itu jawaban yang memuaskan, lalu menoleh kepadaku.
“Mas Ervan. Saya Tasya. Pihak pertama di kontrak.” Ia menyodorkan tangan dan aku menjabatnya. Genggamannya singkat dan tegas. “Tapi Mas pasti udah tahu saya cuma nama di kertas.”
“Saya udah tahu,” kataku.
“Dari tulisan tangan?”
Aku mengangguk. Tasya mengangkat satu alis ke arah pintu.
“Tuh kan,” katanya ke seseorang di belakangnya. “Aku udah bilang tulis pakai laptop aja. Dia arsitek. Arsitek itu kerjanya lihat detail.”
Dan dari balik bahu Tasya, dari ambang pintu kaca buram dengan stiker yang huruf u-nya hilang, Monica melangkah masuk.
Ia memakai gaun terusan warna hijau zaitun yang panjangnya sampai betis, ikat pinggang tipis dari kulit cokelat, sepatu flat, dan rambut yang digerai. Gelombang besar berwarna hitam kecokelatan itu jatuh sampai ke tengah punggungnya dan menangkap cahaya dari jendela besar di belakangku, sehingga untuk sesaat ujung-ujungnya tampak seperti menyala. Ia tidak memakai riasan yang berlebihan. Hanya sedikit warna di bibir, sesuatu yang merah muda gelap, dan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya terlihat jelas di bawah cahaya siang.
Ia cantik dengan cara yang membuat studio kami yang sempit, dengan rak berantakan dan vas tanah liat seharga lima belas ribu dan papan tulis penuh garis hitungan, tiba-tiba terlihat seperti ruangan yang tidak pantas menampungnya.
Aku menyadari aku menatapnya terlalu lama. Aku memaksa mataku kembali ke meja gambar.
“Halo, Pak Arsitek,” katanya. Suaranya ringan, tapi aku mendengar sesuatu di baliknya, sesuatu yang agak gugup. “Aku kliennya.”
“Mbak Monica,” kataku.
“Monic,” koreksinya.
“Ini nggak adil.”
“Aku tahu.” Ia tidak berpura-pura tidak mengerti. Ia berjalan sampai ke depan mejaku dan berhenti di sana, di tempat yang sama di mana ia berdiri sepuluh hari lalu dengan buket bunga di tangan. Matanya bergerak ke rak di dinding, ke vas-vas tanah liat, ke toples kerupuk, ke helm proyek yang dibalik, semuanya penuh bunga matahari yang sebagian sudah mulai merunduk. Sesuatu di wajahnya melunak. “Tapi tanahnya beneran ada. Villanya beneran mau dibangun. Dan arsitek yang aku mau beneran cuma kamu.”
“Kenapa?”
Ia menatapku. Mata Harrison. Aku menunggu dadaku menjadi dingin.
Dadaku memang menjadi dingin. Tapi tidak sedingin sepuluh hari yang lalu.
“Nanti aku kasih tahu,” katanya. “Kalau villanya udah jadi.”
Di belakangnya, Tasya membuka laptop di atas meja rapat kami yang kakinya goyang dan mulai menyalakan presentasi. Gilang menyeret dua kursi plastik dan menawarkan kopi sachet dengan antusiasme yang memalukan. Tasya menolak kopinya. Gilang tampak terluka.
Aku menatap Monica. Monica menatapku.
“Satu jam,” kataku akhirnya. “Kita bahas brief-nya satu jam. Profesional.”
Senyum Monica mengembang. Bukan senyum yang rapi dan terlatih. Senyum yang miring sebelah, lebih tinggi di sisi kiri, yang membuat tahi lalat di bawah matanya ikut terangkat sedikit.
“Profesional,” ulangnya. “Aku bisa profesional.”
Di sudut ruangan, Tasya mendengus pelan. Dan Gilang, yang tidak pernah bisa menahan diri, menulis garis baru di papan tulis. Bukan di kolom baik-baik saja.
Di kolom baru, yang baru ia buat detik itu juga, dengan judul yang ditulis besar-besar dengan spidol merah:
NGELIATIN MBAK MONIC.
Satu garis.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya reading
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk