Chapter Nineteen
Tamu Tak Diundang
POV: Monica
Retakannya panjang dua belas senti, dan menurut kepala teknisi Harrison Grand, Pak Wisnu, retakan itu muncul setelah gempa kecil hari Senin yang bahkan tidak dirasakan sebagian besar tamu.
“Cuma di plafon dekoratif, Bu,” kata Pak Wisnu, menunjuk ke atas dengan senter. Kami berdiri di tengah ballroom yang kosong, di bawah kubah kaca dan lampu kristal. “Bukan struktur. Tapi saya nggak berani tanda tangan aman kalau belum dicek arsitek aslinya. Gala-nya Sabtu. Lima ratus tamu.”
Lima ratus tamu. Ballroom yang sama. Arsitek aslinya.
“Pak Wisnu yang telepon dia,” kataku.
“Bu Monica nggak mau telepon?”
“Aturan nomor dua,” kataku, lalu sadar Pak Wisnu tidak tahu apa itu aturan nomor dua. “Maksudnya, lebih resmi kalau dari Bapak.”
Pak Wisnu menelepon Studio Pratama. Ervan datang Kamis sore dengan tas selempang, tabung gambar, dan obeng gagang kuning di saku. Ia naik perancah setinggi delapan meter tanpa helm karena lupa membawanya. Aku berdiri di bawah dan tidak bernapas selama empat puluh menit, sampai ia turun dan bilang retakan itu hanya di lapisan gipsum, aman, bisa ditambal malam ini, dan ia akan menunggu sampai tambalannya selesai supaya bisa tanda tangan sendiri.
“Kamu nggak perlu nunggu,” kataku.
“Aku yang gambar plafonnya,” katanya. “Aku yang tanggung jawab.”
Ia menunggu sampai jam sebelas malam. Aku menunggu bersamanya. Kami duduk di kursi-kursi tamu yang masih ditumpuk di sudut ballroom, dan Chef Bram mengirimkan dua piring nasi goreng dari dapur, lengkap dengan telur ceplok, dan kedipan mata lewat pelayan yang mengantarnya.
Ervan menatap nasi goreng itu lama. Lalu menatapku.
“Kenapa nasi goreng?”
“Chef Bram yang pilih,” kataku. Itu jujur. Tapi aku tidak bilang bahwa seluruh dapur Harrison Grand sekarang tahu tentang Bu Sri dan sandal berlogo H, karena Pak Harun cerita ke sopir lain, dan sopir lain cerita ke satpam, dan satpam cerita ke Dinda, dan Dinda adalah pusat semesta gosip hotel.
Ervan menusuk kuning telurnya dan menatapnya meleleh. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia menghabiskan nasi gorengnya, dan waktu selesai, ia menumpuk piring kami berdua dengan rapi supaya pelayan tidak perlu repot.
Gala Sabtu malam itu adalah gala amal tahunan Harrison untuk beasiswa anak-anak pegawai hotel. Tamunya lima ratus orang: mitra bisnis, pejabat, beberapa selebritas, dan media. Agensi event yang ditunjuk untuk mengelola acaranya sudah dikontrak sejak enam bulan lalu, jauh sebelum aku tahu apa-apa.
Namanya Lumière Events. Kepala akunnya bernama Kenzo Aditama.
Aku tahu sejak dua minggu lalu, ketika melihat namanya di daftar kru. Aku memberitahu Papa. Papa ingin membatalkan kontraknya saat itu juga. Mama bilang tidak bisa, penalti pembatalannya terlalu besar dan media akan bertanya-tanya. Om Daniel bilang ia akan menangani sendiri, dan akan memastikan Kenzo hanya bekerja di belakang panggung.
Zara tidak datang. Ia mengambil cuti dan pergi ke Bandung. Kayla bilang di grup Cousins bahwa Zara tidak mau berada di gedung yang sama dengan laki-laki itu.
Aku tidak mengundang Ervan. Aturan nomor dua. Dan lagi pula, ini acara keluarga Harrison dengan lima ratus tamu, dan aku tidak mau ia berdiri di dekat pilar lagi, tidak tahu harus bicara dengan siapa.
Tapi Papa mengundangnya. Tentu saja Papa mengundangnya. Sebagai “arsitek yang menandatangani keamanan plafon, yang wajib hadir untuk tanggung jawab teknis.” Papa menulis undangannya sendiri, dengan tinta emas, dan mengirimnya lewat kurir hotel.
Dan Ervan datang.
Aku melihatnya dari panggung, tempat aku sedang mengecek urutan pidato dengan MC. Ia masuk dari pintu samping ballroom, pukul tujuh lewat lima belas, memakai setelan jas hitam yang sederhana dan kemeja putih tanpa dasi. Bukan batik. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Ia berhenti di dekat pintu dan memandang ke atas, ke plafon, ke tempat retakan dua belas senti itu sekarang sudah ditambal dan dicat, tidak terlihat lagi. Memastikan.
Lalu ia berjalan ke pilar di sisi kanan ballroom. Pilar yang sama. Dan berdiri di sana.
Aku menjatuhkan kartu urutan pidato.
MC, laki-laki muda dengan jas beludru ungu, memungutnya dan menatapku dengan khawatir. “Bu Monica? Ibu sakit?”
“Nggak,” kataku. “Nggak. Aku cuma...”
Tiga tahun lalu, di ballroom ini, di pilar itu, seorang arsitek muda berkemeja batik berdiri seperti orang yang tidak yakin boleh makan. Malam ini ia berdiri di sana lagi, dengan jas hitam, dan aku melihatnya dari panggung, dan untuk sesaat aku lupa di tahun berapa aku sedang hidup.
Acara berjalan lancar sampai pukul sembilan.
Aku bekerja. Itu yang kulakukan di acara seperti ini. Memastikan duta besar duduk di meja yang benar, memastikan istri menteri mendapat kursi yang tidak menghadap ke pintu dapur, memastikan tamu yang alergi kacang tidak mendapat saus kacang. Aku bergerak di antara meja-meja dengan gaun hitam panjang berpunggung terbuka yang dipilih Mama dan senyum nomor tiga.
Sesekali aku melirik ke pilar. Ervan masih di sana. Om Daniel menghampirinya sekali, dan mereka bicara lama, dan Om Daniel memeluknya dengan cara yang membuat beberapa tamu menoleh. Tante Ratna tidak menghampirinya, tapi aku melihatnya berdiri di dekat meja prasmanan dan menyuruh pelayan membawakan sepiring makanan ke pilar itu. Papa menghampirinya tiga kali, dan setiap kali Papa menunjuk ke arahku di seberang ruangan, dan setiap kali Ervan menoleh, dan setiap kali aku pura-pura sedang sangat sibuk.
Pukul sembilan lewat sepuluh, aku masuk ke koridor servis di belakang panggung untuk mengecek persiapan lelang amal.
Koridor itu sempit, dengan dinding putih polos dan lampu neon yang berdengung. Di satu sisi ada tumpukan kotak kru dan kabel-kabel yang digulung. Di ujungnya ada pintu ke dapur.
Kenzo Aditama bersandar di dinding dengan ponsel di tangan.
Aku mengenalinya dari foto-foto di grup Real dan dari satu kali pertemuan di gala tahun lalu, sebelum aku tahu siapa dia. Tinggi. Tampan dengan cara yang terlalu rapi. Cambang tipis. Jam tangan mahal. Setelan jas abu-abu dengan saputangan sutra di saku yang warnanya terlalu serasi dengan dasinya. Wajah yang tersenyum sebelum ia tahu kenapa ia tersenyum.
Ia mengangkat kepala dan melihatku.
Senyumnya berubah. Menjadi sesuatu yang aku kenal dari lobi hotel, dari tamu-tamu yang terlalu lama menatap, yang merasa punya hak atas apa saja karena mereka membayar kamar paling mahal.
“Wah,” katanya. “Monica Harrison. Director of Guest Experience.”
“Pak Kenzo.” Aku berjalan melewatinya tanpa berhenti. “Tolong ke area kru. Koridor ini khusus staf hotel.”
“Kenapa buru-buru?” Ia bergeser dari dinding, menghalangi separuh jalan. “Kita belum pernah ngobrol. Padahal kita hampir keluarga.”
Aku berhenti. Aku tidak mau berhenti, tapi ia berdiri di jalanku, dan koridor itu terlalu sempit.
“Minggir, Pak.”
“Santai.” Ia tertawa kecil. “Aku cuma penasaran. Keluargamu itu emang aneh, ya. Satu sepupu buang, satu sepupu pungut.” Matanya bergerak ke arah panggung, ke arah ballroom, ke arah pilar. “Aku lihat dia. Si tukang gambar. Berdiri di sana kayak patung. Kamu yang undang?”
“Minggir.”
“Keluarga Harrison emang suka barang bekas, ya.”
Aku tidak menjawab. Aku mencoba melewatinya dari sisi lain.
Tangannya menangkap pergelangan tanganku.
Tidak keras. Tidak cukup keras untuk sakit. Hanya cukup keras untuk menahan, dengan jari-jari yang melingkar dan ibu jari yang menekan tepat di atas denyut nadiku, seperti orang yang sudah terbiasa menahan pergelangan tangan perempuan dan tahu persis seberapa keras yang tidak akan meninggalkan bekas.
“Nggak usah galak,” katanya pelan. Terlalu dekat. Bau parfumnya mahal dan terlalu banyak. “Sepupumu dulu juga galak. Awalnya.”
“Lepas.”
“Kalau nggak?”
Aku menarik tanganku. Ia tidak melepaskannya. Ibu jarinya menekan lebih keras.
Aku sudah menghadapi tamu yang mabuk. Tamu yang berteriak. Tamu yang melempar gelas. Aku pernah menghadapi seorang pengusaha yang mencoba masuk ke kamarku di konferensi di Bali dan aku mengusirnya dengan sepatu hak dan ancaman pers. Aku tahu harus bagaimana. Aku tahu di mana tombol darurat di koridor ini, aku tahu satpam terdekat ada di pintu dapur, aku tahu kalau aku berteriak, dua puluh orang akan datang dalam sepuluh detik.
Tapi malam itu, untuk alasan yang tidak kumengerti, tubuhku membeku.
Mungkin karena ia menyebut Zara. Mungkin karena ia menyebut barang bekas. Mungkin karena ini laki-laki itu, laki-laki yang berdiri di samping nakas dengan gelas di tangan dan hampir tertawa ketika melihat seseorang di ambang pintu dengan buket mawar.
“Lepas,” kata sebuah suara di belakangku.
Suaranya tidak keras. Tidak naik. Suaranya sama seperti suara yang bilang sealnya lepas dan udah malam dan enak, tapi terlalu manis. Datar. Tenang. Seperti laporan teknis.
Tapi ada sesuatu di dalam suara itu yang membuat bulu kudukku berdiri.
Kenzo mengangkat kepala. Aku melihat wajahnya berubah. Senyumnya bertahan sepersekian detik, seperti senyum-senyum lain dalam cerita ini yang terlambat hilang.
Ervan berdiri di ujung koridor, di dekat pintu panggung. Jas hitamnya terbuka. Tangannya di sisi tubuhnya, tidak mengepal. Wajahnya tenang. Sangat tenang.
Terlalu tenang.
Aku belum pernah melihat wajah itu. Aku sudah melihat wajahnya membeku, tersenyum nomor tiga, tertawa sampai menangis, menatap bunga matahari dengan dahi berkerut, menatapku di bawah matahari terbit. Tapi aku belum pernah melihat wajah ini: wajah yang tenang seperti permukaan danau di atas palung yang sangat dalam.
“Oh,” kata Kenzo. Ia tidak melepaskan tanganku. “Si tukang bunga. Santai, bro. Kita cuma ngobrol.”
Ervan berjalan mendekat. Pelan. Setiap langkahnya terukur, seperti orang berjalan di atas balok yang belum dicek kekuatannya. Ia berhenti satu meter dari kami.
“Lepas tangannya,” katanya.
“Atau apa?” Kenzo tertawa. “Kamu mau apa? Mukul aku? Di acara amal? Di depan wartawan?” Ia menatap Ervan dari atas ke bawah. “Kamu bahkan nggak mukul aku waktu itu. Kamu cuma naruh bunga di meja terus pergi. Kayak pembantu yang lupa bawa sesuatu.”
Ervan tidak menjawab. Ia hanya menatap tangan Kenzo di pergelangan tanganku.
“Tahu nggak, bro,” lanjut Kenzo, dan suaranya berubah, jadi lebih rendah, lebih menikmati, “aku kasihan sama kamu. Beneran. Kamu pikir itu cuma sekali? Malam itu doang?” Ia tersenyum. “Dari April. Lima bulan. Tiap Selasa sama Jumat, waktu kamu lembur di studio. Dia pulang dari tempatku, terus kirim pesan ke kamu. Udah pulang, Sayang. Capek. Kamu bales udah makan belum?“
Aku merasakan tubuhku dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Kayla tahu. Kayla bilang tidak akan pernah memberitahu Ervan. Kayla menghapus video dari lima tempat supaya Ervan tetap utuh.
Dan laki-laki ini mengatakannya di koridor servis, sambil memegang pergelangan tanganku, dengan senyum di wajahnya.
Aku menatap Ervan.
Ervan berdiri diam. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku melihat sesuatu di matanya, sesuatu yang bergerak sangat dalam, seperti retakan di bawah permukaan air. Aku melihat tangannya di sisi tubuhnya, jari-jarinya bergerak sekali. Mengepal. Lalu membuka lagi.
Lalu ia melangkah maju.
Satu langkah. Cepat. Tangannya terangkat, dan aku menahan napas, menunggu tinju.
Tinju itu tidak datang.
Tangan Ervan menangkap pergelangan tangan Kenzo. Pergelangan tangan yang sedang memegang pergelangan tanganku. Ia tidak memelintir, tidak menghentak. Ia hanya menggenggam, dan menekan, di satu titik di bagian dalam pergelangan, pelan tapi pasti, dengan ibu jari seorang laki-laki yang sudah bertahun-tahun memegang pensil dan obeng dan kunci pipa dan tahu persis di mana letak tendon.
Kenzo mendesis. Jari-jarinya membuka sendiri, seperti tuas yang dilepas.
Tanganku bebas.
Ervan tidak melepaskan Kenzo. Ia berdiri di antara kami sekarang, punggungnya di depanku, lebar dan tegak di dalam jas hitam, menutupiku dari pandangan Kenzo sepenuhnya.
“Kamu boleh ngomong apa aja soal aku,” katanya kepada Kenzo. Suaranya masih datar. Masih tenang. Setiap kata diletakkan seperti batu. “April, Selasa, Jumat. Silakan. Aku udah pergi dari cerita itu. Aku nggak peduli.”
Ia menekan lebih keras. Kenzo berlutut sedikit, satu lutut menyentuh lantai koridor.
“Tapi kamu nggak boleh nyentuh dia,” kata Ervan. “Nggak pernah. Nggak di sini. Nggak di mana pun.”
“Lepas... lepasin, bro, sakit...”
“Aku tahu,” kata Ervan. “Rasanya kayak ditahan waktu mau pergi, ya?”
Pintu dapur terbuka.
Chef Bram muncul dengan topi koki setinggi tiga puluh senti dan pisau daging di tangan, yang mungkin kebetulan sedang ia pegang, mungkin tidak. Di belakangnya dua sous chef dengan penggiling daging dan panci. Dari pintu panggung, Pak Anto si satpam dan dua rekannya berlari masuk dengan radio di tangan. Dari arah lain, entah dari mana, Dinda muncul dengan ponsel yang sedang merekam.
“Bu Monica!” teriak Pak Anto. “Ibu nggak apa-apa?”
Ervan melepaskan Kenzo. Kenzo terhuyung mundur, memegangi pergelangan tangannya, wajahnya merah dan basah keringat.
“Kamu gila,” desisnya ke Ervan. “Aku bisa tuntut kamu.”
Aku melangkah keluar dari balik punggung Ervan.
Tubuhku sudah tidak membeku. Dingin itu sudah hilang, digantikan sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas dan jernih, seperti api kompor induksi di dapur villa yang belum jadi.
“Pak Anto,” kataku. Suaraku keluar tenang. Suara Director of Guest Experience. Suara yang dipakai untuk tamu yang minta lihat bulan. “Tolong antar Pak Kenzo keluar dari properti Harrison Grand. Lewat pintu servis. Jangan lewat ballroom.”
“Siap, Bu.”
“Dinda. Rekaman di ponselmu, simpan. Kirim ke Pak Daniel dan bagian legal.”
“Siap, Bu.”
Kenzo tertawa, meskipun tawanya bergetar. “Kamu nggak bisa ngusir aku. Aku kepala akun. Agensiku yang ngurus acara ini.”
“Sampai jam sembilan lewat sepuluh tadi, iya.” Aku menatapnya. Mata Harrison menatap matanya. “Kontrak Lumière Events dengan Harrison Group berakhir malam ini. Penaltinya aku yang tanggung, dari gajiku sendiri kalau perlu. Staf agensimu yang lain boleh menyelesaikan acara ini. Kamu tidak.”
“Kamu nggak punya wewenang...”
“Aku Harrison,” kataku. Pertama kalinya dalam hidupku aku mengucapkan kalimat itu dengan bangga. “Dan malam ini, itu cukup.”
Pak Anto dan dua rekannya menggiring Kenzo ke pintu servis. Kenzo berteriak sesuatu tentang pengacara dan media dan kalian semua bakal nyesel. Chef Bram mengikuti mereka sampai ke pintu, dengan pisau daging, dan berdiri di sana sampai pintu tertutup, dengan ekspresi seorang koki yang baru saja menyelesaikan menu yang sangat memuaskan.
Lalu koridor itu sunyi lagi. Lampu neon berdengung.
Dinda menurunkan ponselnya, menatapku, menatap Ervan, lalu membuat keputusan bijaksana untuk mundur ke dapur bersama Chef Bram dan kedua sous chef, dan menutup pintunya.
Ervan bersandar ke dinding.
Aku menoleh kepadanya. Ia tidak menatapku. Ia menatap tangannya sendiri, tangan kanan yang tadi menggenggam pergelangan Kenzo. Tangan itu gemetar. Bukan gemetar halus. Gemetar yang kelihatan, seperti daun di bawah angin barat daya.
“Van.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Aturan nomor empat.”
Ia tertawa. Pendek. Suaranya pecah di tengah. Lalu ia menutup mata dan menyandarkan kepala ke dinding.
“Aku marah,” katanya.
Aku diam.
“Aku marah, Monic.” Ia membuka mata dan menatap langit-langit koridor, lampu neon yang berdengung. “Waktu dia pegang tanganmu. Aku lihat dari pintu. Aku lihat mukamu. Kamu takut. Kamu nggak pernah takut. Dan aku...” Ia berhenti. Tangannya masih gemetar. “Aku belum pernah semarah itu. Seumur hidup. Nggak waktu malam itu. Nggak waktu aku lihat mereka. Aku nggak marah waktu itu. Aku cuma dingin.”
Ia menatapku akhirnya.
“Tapi tadi, waktu dia nyentuh kamu, aku marah. Panas. Sampai sini.” Ia menyentuh dadanya, di bawah tulang rusuk. “Aku nggak tahu aku bisa marah kayak gitu.”
Aku mengambil tangannya. Tangan kanannya yang gemetar. Aku menggenggamnya dengan kedua tanganku.
Tangannya dingin dan basah keringat. Buku-buku jarinya kaku. Aku merasakan getarannya merambat ke tanganku, ke lenganku, ke dadaku.
“Kamu bisa marah,” kataku.
“Aku nggak mukul dia.”
“Aku tahu.”
“Aku mau. Aku mau banget.”
“Aku tahu.” Aku mengusap punggung tangannya dengan ibu jariku. Pelan. Naik turun, seperti Bu Laras mengusap punggungnya di dapur malam itu. “Tapi kamu nggak mukul dia. Kamu cuma bikin dia lepas.”
Ia menatap tangan kami. Getarannya mulai mereda. Sedikit demi sedikit, seperti mesin mobil yang baru dimatikan.
“Soal April,” kataku pelan. “Aku... Kayla tahu. Dia nggak mau kamu tahu. Dia janji nggak akan...”
“Aku tahu Kayla tahu,” kata Ervan.
Aku menatapnya.
“Dia hapus video dari lima tempat, Monic. Orang nggak ngapus sesuatu dari lima tempat kalau yang dia lindungi cuma satu malam.” Ia tersenyum, kecil, pahit, dan lelah. “Aku nggak tahu April. Aku nggak tahu Selasa sama Jumat. Tapi aku tahu itu bukan sekali.”
“Sakit?”
Ia memikirkannya. Aku melihatnya benar-benar memikirkannya, dengan cara yang sama ia memikirkan segalanya, mengukur, menimbang.
“Aneh,” katanya akhirnya. “Aku pikir bakal sakit banget. Lima bulan. Aku pikir aku bakal hancur lagi.” Ia menatap tangan kami yang masih bertaut. “Tapi yang sakit malah bukan itu. Yang sakit malah waktu dia pegang tanganmu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku nggak ngerti,” katanya pelan. “Kenapa yang lebih sakit kamu, bukan aku.”
Di balik pintu panggung, lelang amal dimulai. Aku mendengar suara MC berjas beludru ungu memanggil nomor lot pertama, dan tepuk tangan lima ratus orang. Di balik pintu dapur, aku mendengar Chef Bram tertawa keras dan Dinda berbisik diem, diem, mereka masih di situ.
Aku berdiri di koridor servis dengan gaun hitam berpunggung terbuka, menggenggam tangan laki-laki yang pernah memberi lima ratus orang tiga menit yang tidak perlu ditakuti, di ballroom yang sama, tiga tahun lalu.
Malam ini, ia marah untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Untukku.
Kami kembali ke ballroom dua puluh menit kemudian, lewat pintu yang berbeda, dengan jarak satu meter di antara kami seperti dua orang yang tidak saling kenal. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di koridor servis, kecuali Dinda, Chef Bram, dua sous chef, tiga satpam, dan, dalam sepuluh menit, seluruh staf Harrison Grand.
Pukul sebelas malam, setelah tamu terakhir pulang, Dinda mengirimiku pesan.
Dinda: Bu. Update taruhan.
Dinda: Mbak Ratih ganti taruhan. Dari “nggak akan pernah” jadi “sebelum Natal.”
Dinda: Katanya dia percaya cinta lagi.
Dinda: Pak Anto nangis di pos satpam. Katanya dia nggak nangis, katanya kelilipan.
Aku menatap pergelangan tanganku. Tidak ada bekas. Kenzo terlalu ahli untuk meninggalkan bekas.
Tapi di punggung tanganku, di tempat tadi aku menggenggam tangan Ervan, aku masih bisa merasakan getarannya. Samar. Seperti gema lagu yang sudah selesai dimainkan.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang reading
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk