Chapter Thirty Six
Cincin yang Kembali
POV: Ervan
Zara memilih kafe itu.
Aku tidak menduganya. Aku pikir ia akan memilih tempat yang netral. Lobi hotel. Restoran di mal. Atau tidak memilih sama sekali, dan hanya mengirim kotak beludru itu lewat kurir, seperti bunga matahari yang dulu datang pukul sembilan lewat lima belas.
Tapi pesannya datang hari Senin malam, empat hari sebelum ia berangkat ke Singapura.
Zara: Rabu. Jam 4. Kafe Senja di Gunawarman.
Zara: Tempat pertama kita ketemu. Aku tahu itu aneh. Tapi aku mau nutup sesuatu di tempat aku mulai ngebohongin kamu.
Aku membacanya di meja makan, sementara Ibu mengukus kue dan Monica duduk di seberangku, belajar melipat daun pisang untuk lemper dengan konsentrasi seorang ahli bedah. Monica datang ke Ciledug setiap Sabtu sekarang, dan kadang-kadang Rabu malam, dan sekali waktu, Senin malam seperti ini, tanpa alasan kecuali bahwa Ibu meneleponnya dan bilang Nduk, Ibu bikin terlalu banyak adonan.
Aku menunjukkan pesan itu kepadanya.
Monica membacanya. Lalu meletakkan daun pisang yang setengah terlipat.
“Kamu mau ke sana?” tanyanya.
“Kamu mau aku ke sana?”
Ia menatapku. Aku melihatnya menahan sesuatu. Refleks lama. Refleks Harrison yang tidak pakai rem, yang ingin bilang jangan atau aku ikut atau biar aku yang urus.
“Itu bukan pertanyaanku buat dijawab,” katanya akhirnya. “Itu punyamu. Punya kamu sama dia.”
“Aku nanya pendapatmu. Bukan izin.”
Monica diam sebentar. Lalu ia tersenyum. Senyum kecil. Hati-hati.
“Pergi,” katanya. “Tutup pintunya. Pelan-pelan, kayak biasa.”
Kafe Senja tidak berubah dalam tiga tahun.
Dinding bata ekspos. Lampu-lampu gantung dengan bohlam Edison yang terlalu redup. Kursi rotan. Aroma kopi yang terlalu kuat dan kue kayu manis. Musik akustik dari pengeras suara yang tersembunyi di balik pot tanaman.
Zara duduk di meja yang sama. Meja di sudut dekat jendela, yang menghadap ke jalan. Tempat ia duduk tiga tahun lalu dengan map tentang renovasi kantor sales dan senyum yang sekarang aku tahu adalah senyum orang yang sedang memenangkan sesuatu.
Ia melihatku masuk. Ia tidak berdiri.
Aku duduk di seberangnya. Di kursi yang sama.
Di atas meja, di antara dua cangkir kopi yang sudah ia pesan, satu hitam tanpa gula dan satu kopi susu, ada kotak beludru.
Biru tua. Seukuran telapak tangan. Aku mengenalnya. Aku memilihnya di toko perhiasan Koh Liem di Pasar Baru, setelah menabung sebelas bulan dari proyek-proyek kecil. Aku memindahkannya dari saku kanan ke saku kiri empat kali di pagi itu, karena saku kiri lebih dekat ke jantung.
“Kopi susu,” kata Zara, mendorong cangkir itu ke arahku. “Aku tahu kamu nggak suka kopi hitam. Dua tahun aku bilang kopi susu itu buat orang yang belum dewasa. Kamu tetap pesan kopi susu tiap kali.”
“Aku suka kopi susu.”
“Aku tahu.” Zara tersenyum tipis. “Aku yang nggak pernah bilang itu nggak apa-apa.”
Ia tidak bicara tentang cincin dulu.
Ia bicara tentang Singapura. Tentang apartemen kecil di dekat Marina Bay yang sudah ia sewa, dengan jendela yang menghadap ke laut tapi terhalang gedung lain. Tentang psikolognya, yang akan ia temui lewat video call setiap Kamis. Tentang Kayla, yang menangis semalaman karena kakaknya akan pergi, padahal tiga bulan lalu Kayla bilang ia benci kakaknya.
“Dia bilang dia nggak pernah benci aku,” kata Zara. “Dia cuma benci yang aku lakuin. Aku bilang itu sama aja. Dia bilang nggak sama. Dia bilang itu beda, kayak beda antara aktor sama perannya.” Zara tertawa kecil. “Anak film.”
“Kayla bener.”
“Kayla selalu bener. Itu yang nyebelin.” Zara memutar cangkir kopi hitamnya. “Dia bilang kamu juga ngomong gitu ke dia. Di mobil, malam itu. Jangan benci dia gara-gara aku. Dia kakakmu.“
Aku tidak menjawab.
“Kamu masih mikirin aku,” kata Zara pelan. “Malam itu. Setelah semua yang kamu lihat. Kamu nyuruh adikku jangan benci aku.”
“Kamu kakaknya.”
“Itu bukan alasan, Van.” Zara menatapku. Mata Harrison. Cokelat keabuan, sepenuhnya. “Itu kebaikan yang salah tempat. Psikologku bilang gitu. Dia bilang orang yang terlalu baik ke orang yang nyakitin mereka itu bukan orang baik. Itu orang yang nggak tahu dirinya berharga.”
Aku menatap kotak beludru di atas meja.
“Aku ngajarin kamu itu,” kata Zara. “Selama dua tahun. Aku ngajarin kamu kalau kamu nggak cukup. Kalau kamu cuma tembok. Kalau kebaikanmu itu membosankan.” Suaranya bergetar. “Dan kamu percaya. Kamu minta maaf ke Papa karena nggak cukup. Kamu bilang ke Mama kamu harus pergi supaya bisa baik.”
“Zara...”
“Biarin aku selesai.” Ia menarik napas. “Aku udah latihan ini tiga minggu. Sama psikolog. Biarin aku selesai.”
Aku diam.
“Kamu cukup, Van,” kata Zara. “Kamu lebih dari cukup. Aku yang nggak cukup buat nerima itu. Aku yang nggak tahu harus ngapain sama orang yang percaya sama aku seratus persen. Jadi aku rusak itu. Karena kalau aku rusak, aku nggak perlu takut kehilangan.” Air matanya jatuh. “Itu bukan salahmu. Nggak ada satu persen pun yang salahmu. Aku mau kamu dengar itu dari mulutku. Bukan dari Kayla. Bukan dari Monic. Dari aku.”
Aku tidak tahu berapa lama kami duduk di sana tanpa bicara.
Musik akustik berganti lagu. Pelayan datang dan pergi. Di luar jendela, lampu-lampu jalan Gunawarman mulai menyala satu per satu.
Lalu Zara mendorong kotak beludru itu ke arahku. Pelan. Melintasi meja kayu, di antara dua cangkir kopi.
“Aku buka sekali,” katanya. “Malam itu. Setelah kamu pergi. Setelah Kenzo pulang.” Ia menatap kotak itu. “Aku duduk di lantai, di samping meja jati yang kamu ampelas sudut-sudutnya. Mawarnya udah mulai layu. Aku buka kotaknya. Aku lihat cincinnya. Aku tutup lagi. Nggak pernah aku buka lagi sejak itu.”
Aku menatap kotak itu.
“Mawarnya aku biarin di meja sampai kering,” kata Zara. “Kayla bilang itu jahat. Aku bilang aku nggak bisa buang. Aku nggak bisa nyentuh. Aku cuma lihat, tiap hari, sampai aku pindah.”
“Terus?”
“Terus Mama yang buang. Waktu bantu aku beres-beres.” Zara tersenyum. “Mama nangis sambil buang. Terus Mama bikin rendang dua hari, dan nggak ada yang makan, dan Papa naik tiga kilo.”
Aku tertawa. Aku tidak berniat tertawa. Tapi tawa itu keluar, pendek, dan Zara ikut tertawa, dan untuk sesaat kami hanya dua orang yang tertawa di kafe yang redup tentang seorang ayah yang naik tiga kilo karena rendang.
Lalu tawa itu berhenti.
Aku mengambil kotak beludru itu. Aku tidak membukanya. Aku memegangnya di telapak tanganku. Beratnya sama seperti yang kuingat. Tidak berat. Tidak ringan. Seberat sesuatu yang dulu terasa seperti seluruh masa depan.
Sekarang terasa seperti kotak.
“Aku maafin kamu, Zara,” kataku.
Zara menutup mulut dengan tangan.
“Aku udah maafin kamu dari lama,” kataku. “Mungkin dari sebelum aku tahu aku maafin kamu. Aku cuma belum bilang.” Aku menatap kotak di tanganku. “Tapi maaf itu bukan berarti balik. Kamu tahu itu.”
“Aku tahu,” bisiknya.
“Dan kamu juga harus maafin dirimu sendiri. Di Singapura. Sama psikologmu.” Aku menatapnya. “Jangan pergi buat ngehukum diri. Pergi buat belajar.”
Zara menatapku lama. Lalu, pelan, ia tersenyum. Senyum yang tidak mendongak. Senyum yang kecil dan jujur dan lelah.
“Monic bilang hal yang sama,” katanya. “Di gazebo. Kita semua lagi belajar ngomong kayak kamu, Van. Itu agak nyeremin.”
Ia memelukku di depan kafe. Singkat. Canggung. Seperti dua orang yang belum tahu harus bagaimana setelah pintu ditutup.
“Kamu bahagia?” tanyanya ke bahuku.
Aku memikirkannya. Aku memberinya hormat untuk memikirkannya dengan jujur.
“Lagi belajar,” kataku.
Zara melepaskan pelukan. Ia menatapku sekali lagi, lama, seperti orang yang menghafal wajah seseorang sebelum pergi jauh. Lalu ia berbalik dan berjalan ke mobilnya, dan tidak menoleh.
Aku berdiri di trotoar Gunawarman dengan kotak beludru di tangan sampai mobilnya hilang di tikungan.
Pintunya tertutup. Pelan-pelan. Seperti biasa.
Tapi kali ini, aku yang menutupnya bukan karena takut. Aku menutupnya karena ruangan di baliknya sudah selesai.
Toko Perhiasan Sinar Mas di Pasar Baru sudah berdiri sejak tahun tujuh puluhan, dan Koh Liem, pemiliknya, sudah berdiri di balik etalase kaca yang sama sejak ia berumur dua puluh tahun. Sekarang ia berumur tujuh puluh, memakai kacamata tebal dengan lup yang dijepit di satu lensa, dan masih ingat wajah setiap orang yang pernah membeli cincin tunangan di tokonya.
Ia melihatku masuk hari Kamis pagi. Ia menatap kotak beludru di tanganku. Ia tidak perlu bertanya.
“Nggak jadi,” katanya.
“Nggak jadi, Koh.”
Koh Liem mengangguk pelan. Ia mengambil kotak itu, membukanya, dan menatap cincin di dalamnya lewat lup. Cincin emas putih dengan satu berlian kecil di tengahnya. Sederhana. Aku memilihnya karena Zara pernah bilang ia tidak suka cincin yang berlebihan.
“Masih bagus,” kata Koh Liem. “Nggak pernah dipakai.”
“Nggak pernah.”
“Mau dijual lagi?”
“Iya, Koh.”
Koh Liem menutup kotak itu dan menatapku di balik kacamata tebalnya. “Laki-laki yang jual cincin yang nggak pernah dipakai,” katanya, “biasanya mukanya kayak orang yang habis dari pemakaman. Muka Mas nggak kayak gitu.”
“Muka saya kayak apa, Koh?”
Koh Liem memikirkannya. “Kayak orang yang habis dari pemakaman,” katanya, “terus pulang, terus ada yang masakin.”
Aku tertawa.
Uangnya tidak banyak. Harga jual kembali cincin tidak pernah sebanyak harga belinya. Tapi cukup.
Cukup untuk sesuatu yang sudah kupikirkan sejak malam aku melihat anak Pak Udin membungkuk di panggung ballroom dengan kacu pramuka dan tangan gemetar.
Mang Ujang punya anak perempuan. Siti. Tujuh belas tahun, kelas tiga SMA, juara kelas tiga tahun berturut-turut, yang setiap sore duduk di bangku warung ayahnya mengerjakan soal matematika sementara tukang ojek membeli kopi. Siti ingin kuliah teknik sipil. Aku tahu, karena setiap kali aku pulang dari proyek, ia bertanya tentang struktur. Tentang beban. Tentang kenapa jembatan tidak roboh.
Mang Ujang tidak punya uang untuk kuliah teknik sipil. Aku tahu itu juga. Semua orang di gang tahu.
Aku tidak memberikannya langsung. Aku memberikannya lewat Ibu, di dalam amplop, dengan pesan bahwa itu dari seseorang yang dulu dibantu Bapak Siti waktu mobilnya mogok di depan warung. Itu tidak sepenuhnya bohong. Mang Ujang pernah mendorong Avanza-ku yang mogok di depan warungnya, dua tahun lalu, dalam hujan, tanpa diminta.
Ibu menatap amplop itu lama.
“Dari cincin?” tanya Ibu.
“Dari cincin.”
Ibu tidak bertanya lagi. Ia hanya menepuk pipiku, seperti Oma di dekat pilar, dan berjalan ke warung Mang Ujang di seberang jalan.
Dari teras, aku melihat Ibu memberikan amplop itu kepada Mang Ujang. Aku melihat Mang Ujang membukanya, lalu berhenti bergerak, lalu duduk di bangku warungnya dengan amplop di tangan. Aku melihat Siti keluar dari balik warung dengan buku matematika di tangan, menatap ayahnya, menatap amplop itu, lalu menutup mulutnya dengan buku.
Aku masuk ke rumah sebelum mereka menoleh ke arahku.
Sebelum aku meninggalkan toko Koh Liem hari Kamis itu, ada satu hal lagi.
Aku mengeluarkan buku sketsa dari tas selempang. Aku membukanya di halaman yang sudah kugambar tiga malam berturut-turut di kamarku, di meja gambar, di samping dua bunga matahari yang sekarang sama-sama menghadap timur.
Aku meletakkannya di atas etalase kaca.
Koh Liem menurunkan kacamatanya dan menatap gambar itu.
Sebuah cincin. Emas kuning, bukan emas putih. Ramping. Tanpa berlian di tengah.
Di bagian atasnya, enam batu kecil. Sangat kecil. Hijau. Tersusun tidak rata, tidak simetris, seperti biji yang jatuh dari tangan. Dua di kiri, tiga di tengah, satu agak ke kanan. Persis seperti yang kulihat dari jarak sangat dekat, di bawah matahari terbit, di kamar tanpa atap, dan lagi di dapur apartemen lantai delapan belas, dan lagi di ambang jendela kayu jati.
Di bagian dalam cincin, sebuah ukiran kecil. Enam angka.
170823.
Koh Liem menatap gambar itu lama sekali. Ia mengambil lup-nya, menjepitnya di kacamata, dan membungkuk sampai hidungnya hampir menyentuh kertas.
“Batu hijaunya,” katanya. “Peridot? Zamrud?”
“Yang paling mirip daun teh kena matahari pagi, Koh.”
Koh Liem mengangkat kepala dan menatapku. Lalu tersenyum. Senyum orang tua yang sudah melihat ribuan laki-laki berdiri di depan etalase kacanya.
“Ini buat yang mana?” tanyanya.
“Yang matanya ada hijaunya,” kataku.
Koh Liem tertawa. Ia menggulung gambar itu dengan hati-hati dan menyimpannya di laci di bawah etalase.
“Tiga minggu,” katanya. “Zamrud kecil. Saya carikan yang warnanya kayak daun teh.” Ia menatapku. “Kapan mau ngelamar?”
Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dalam air.
Aku merasakannya. Dingin. Naik dari telapak kaki, lewat betis, masuk ke perut. Refleks. Seperti setiap kali, dulu, ketika aku melihat mata Harrison.
Aku melihat koridor berkarpet tebal. Lampu kuning. Pintu 2307. Aku melihat diriku berlutut, lutut kanan, bukan kiri, karena kiri itu buat ksatria, dengan kotak beludru terbuka di tangan, dan wajah seseorang yang berbalik dari atas bantal.
Aku tidak pernah sempat berlutut. Aku bahkan tidak sampai ke sana.
Tapi tubuhku ingat. Tubuhku ingat bahwa terakhir kali aku bersiap untuk berlutut, lantainya runtuh.
“Belum tahu, Koh,” kataku.
Suaraku terdengar biasa. Rapi. Seperti laporan teknis.
Koh Liem menatapku lama di balik kacamata tebalnya. Ia tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk, pelan, seperti orang yang sudah terlalu lama berdiri di balik etalase untuk tidak mengerti.
“Cincinnya jadi tiga minggu,” katanya. “Lamarannya, terserah Mas. Cincin saya nggak ada tanggal kedaluwarsanya.”
Malam itu, di Ciledug, aku berdiri di depan pintu kamarku.
Aku tidak mengetuk. Sudah tiga minggu aku tidak mengetuk. Tanganku langsung ke kenop, memutar, masuk.
Di meja gambar, dua bunga matahari. Satu kering, satu segar. Dua-duanya menghadap jendela.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap tanganku.
Tiga minggu lagi, cincin itu jadi. Emas kuning, enam zamrud kecil sewarna daun teh, enam angka di bagian dalam.
Aku sudah tahu harus memberikannya kepada siapa. Aku sudah tahu sejak dapur apartemen lantai delapan belas, sejak dapur villa dengan kursi tinggi, sejak lobi Harrison Grand dengan kartu putih yang bilang ini pacar.
Yang aku tidak tahu adalah bagaimana caranya berlutut.
Ponselku bergetar. Grup Harrison Family (Official). Ibu dimasukkan ke sana juga minggu lalu, oleh Opa sendiri, dengan satu pesan: Selamat datang, Bu Laras.
Opa William: Ulang tahun Opa ke-83. Sabtu, tiga minggu lagi. Ballroom Harrison Grand. Semua wajib datang.
Opa William: Ervan. Opa minta satu hal.
Opa William: Bawa obeng.
Grup itu hening selama tiga puluh detik.
Lalu Om Richard mengirim stiker jempol. Satu.
Lalu Tante Sofia mengirim satu kata: Richard.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali reading
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk