← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Eight

Setiap Lihat Kamu

POV: Ervan

Aku mengira satu jam itu akan jadi satu jam paling canggung dalam hidupku.

Aku salah. Satu jam itu jadi satu jam paling membingungkan dalam hidupku, dan itu kategori yang berbeda.

Monica membuka presentasi Tasya dengan kalimat, “Oke, lupakan slide-nya. Tasya bikin slide karena dia nggak percaya aku bisa ngomong tanpa ngelantur,” lalu menutup laptop itu setengah. Tasya memandanginya dengan ekspresi pengkhianatan. Gilang, di kursi plastik di sebelah Tasya, menawarkan kopi sachet untuk kedua kalinya.

“Mas Gilang,” kata Tasya tanpa menoleh. “Saya nggak minum kopi sachet. Kadar gulanya setara dengan tiga sendok makan. Itu bukan kopi. Itu sirup yang lagi krisis identitas.”

“Tapi Mbak kelihatan capek.”

“Saya kelihatan capek karena saya kerja buat orang yang ngirim bunga setiap hari ke laki-laki yang nggak bales.”

Monica menendang kaki kursi Tasya dengan sepatu flat-nya. Tasya tidak bergeming.

Aku mengeluarkan buku sketsa dan pensil 2B, karena itu satu-satunya hal yang bisa kupegang supaya tanganku tidak kelihatan bingung.

“Tanahnya di mana?” tanyaku.

Dan di situlah hal yang membingungkan dimulai.

Karena Monica, perempuan yang sepuluh hari terakhir menulis kartu tentang handuk ungu dan menyebut dirinya mobil tanpa rem, tiba-tiba berubah menjadi orang yang sama sekali lain. Ia menyebutkan lokasi tanah sampai ke nama dusun dan nomor kavling. Ia tahu kemiringan lahannya sekitar dua belas derajat ke arah barat daya. Ia tahu ada mata air kecil di sisi utara yang debitnya naik di musim hujan, dan bahwa tetangga terdekatnya adalah kebun teh milik perkebunan negara yang tidak akan pernah dijual. Ia tahu arah angin dominan di bulan Juli.

“Kamu tahu arah angin?” tanyaku sebelum bisa menahan diri.

“Aku kerja di hotel,” jawabnya. “Kalau salah hitung arah angin, asap barbeque dari pool bar masuk ke kamar tamu yang lagi bulan madu. Terus mereka komplain. Terus aku yang disuruh minta maaf pakai sampanye.”

Gilang tertawa terlalu keras. Tasya menatapnya sampai ia berhenti.

“Dapurnya,” lanjutku, sambil membalik halaman brief. “Poin tiga. Dapur yang bisa dipakai orang yang tidak bisa masak.“

“Itu penting.”

“Aku bisa lihat dari huruf kapitalnya.”

“Kamu nggak ngerti.” Monica mencondongkan badan sedikit ke depan, dan aroma sesuatu yang manis dan bersih, melati dan vanila, sampai ke seberang meja. “Aku pernah bikin mi instan dan panci-nya meleleh.”

“Mi instan nggak bisa bikin panci meleleh.”

“Nah. Itu dia masalahnya.” Ia menunjukku dengan penuh kemenangan. “Semua orang bilang itu nggak mungkin. Tapi aku berhasil. Aku lupa nuang airnya.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan ekspresi serius yang sempurna, seolah sedang melaporkan kerusakan struktural.

Lalu, tanpa izin dari bagian mana pun dalam diriku, sudut bibirku bergerak.

Tidak sampai tersenyum. Hanya bergerak.

Monica melihatnya. Aku tahu ia melihatnya karena matanya melebar sedikit dan ia berhenti bicara di tengah napas. Lalu ia menunduk ke catatannya dengan cepat, dan aku melihat ujung telinganya memerah.

Aku kembali ke buku sketsaku. Aku menggambar sebuah kotak. Lalu kotak lain di dalamnya. Lalu, sebelum aku sadar, aku sudah menggambar denah dapur.


Aku tidak pernah bisa menjelaskan kepada orang lain apa yang terjadi di kepalaku ketika aku menggambar. Zara dulu menyebutnya mode zombie. Katanya aku berhenti mendengar, berhenti menjawab, berhenti berkedip. Gilang menyebutnya Ervan masuk ke dalam kertas.

Yang kutahu hanyalah bahwa ketika pensilku mulai bergerak, dunia yang berisik jadi sunyi, dan hal-hal yang berat jadi ringan, dan satu-satunya yang tersisa adalah pertanyaan: bagaimana caranya membuat ruang ini baik untuk orang yang akan tinggal di dalamnya?

Dapur untuk orang yang tidak bisa masak. Oke. Orang yang tidak bisa masak biasanya takut pada api. Jadi kompor induksi, bukan gas. Orang yang tidak bisa masak lupa hal-hal. Jadi rak bumbu terbuka, bukan lemari tertutup, supaya semuanya terlihat. Orang yang tidak bisa masak panik kalau ada yang gosong, dan hal pertama yang mereka lakukan adalah mencari jendela. Jadi jendela lebar tepat di atas kompor, dengan engsel yang bisa dibuka satu tangan.

Dan orang yang tidak bisa masak biasanya tinggal bersama orang yang bisa masak.

Jadi meja dapur yang panjang. Dengan dua kursi tinggi di satu sisi. Supaya orang yang tidak bisa masak bisa duduk di sana dan menonton orang yang bisa masak, dan mengobrol, dan mencicipi, dan tidak perlu merasa ditinggal sendirian di ruang tengah.

Aku mengangkat kepala.

Tidak ada yang bicara. Aku tidak tahu sudah berapa lama tidak ada yang bicara.

Gilang dan Tasya menatapku dari seberang meja rapat dengan ekspresi yang hampir sama: Gilang dengan senyum orang yang sudah terlalu sering melihat ini dan tetap senang setiap kali, Tasya dengan alis yang terangkat, seperti ilmuwan yang baru saja melihat spesies baru.

Dan Monica...

Monica menatapku dengan dagu bertumpu di telapak tangannya. Tidak tersenyum. Hanya menatap. Matanya lembut sekali, dan untuk sesaat, cahaya dari jendela jatuh di wajahnya dari samping sedemikian rupa sehingga mata Harrison itu bukan lagi cokelat keabuan, melainkan hampir keemasan, seperti madu di bawah lampu.

Aku tidak pernah melihat seseorang menatapku seperti itu ketika aku sedang menggambar.

Zara biasanya memainkan ponselnya.

“Maaf,” kataku, berdeham. “Aku kebawa.”

“Jangan minta maaf,” kata Monica pelan. “Lanjut aja. Aku suka.”

“Suka apa?”

Ia berkedip, seperti baru sadar apa yang ia katakan. Lalu ia menegakkan punggung dan menunjuk buku sketsaku dengan gaya klien yang sedang menilai. “Suka... suka dapurnya. Kursi tingginya. Itu buat apa?”

“Buat orang yang nggak bisa masak duduk nonton orang yang bisa masak.”

Hening lagi.

Di ujung meja, Tasya menutup laptopnya sepenuhnya dengan bunyi klik kecil yang anehnya terdengar seperti kesimpulan.

“Mas Gilang,” katanya sambil berdiri. “Di bawah ada warung soto?”

“Ada, Mbak! Soto Betawi Bang Madun. Legendaris. Dagingnya empuk kayak janji mantan.”

“Traktir saya.”

Gilang berdiri begitu cepat sampai kursi plastiknya terjungkal. “Siap, Mbak.”

“Bukan karena saya mau,” kata Tasya sambil memakai blazernya. “Karena saya butuh keluar dari ruangan ini sebelum saya mual.”

Mereka keluar. Pintu kaca buram menutup. Langkah kaki menuruni tangga besi, satu tegas, satu tersandung. Di bawah, dangdut berganti lagu.

Tinggal aku dan Monica, dan buku sketsa berisi dapur untuk dua orang.


“Aku minta maaf,” kata Monica akhirnya.

Aku tidak menduga itu. “Buat apa?”

“Buat kontraknya. Buat pasal tujuh. Itu idenya Tasya, tapi aku yang setuju.” Ia memainkan ujung ikat pinggangnya. “Aku tahu itu curang. Aku tahu kamu nggak bisa nolak karena studio kamu lagi butuh. Aku riset. Aku tahu tunggakan sewanya. Aku tahu soal Pak Tohir.”

“Kamu tahu soal Pak Tohir?”

“Gilang cerita. Harganya satu martabak.” Ia meringis. “Aku cuma mau bilang, kalau kamu beneran nggak mau, aku batalin. Aku yang batalin, bukan kamu. Jadi nggak ada kompensasi. DP-nya anggap aja... anggap aja udah kepakai buat hal yang baik.”

Aku menatapnya. Ia tidak sedang bermain. Aku bisa melihatnya. Aku sudah dua tahun belajar membaca wajah orang-orang Harrison, dan aku tahu bedanya antara wajah yang sedang bernegosiasi dan wajah yang sedang jujur.

Ini wajah yang sedang jujur. Dan itu, anehnya, yang membuatku harus mengatakan hal yang sebenarnya.

“Monica.”

Ia berhenti memainkan ikat pinggang. Aku menyadari itu pertama kalinya aku menyebut namanya tanpa Mbak.

“Aku nggak marah sama kamu,” kataku. “Aku mau kamu tahu itu dulu. Bunga-bunganya... kartunya... aku nggak marah. Aku nggak ngerti, tapi aku nggak marah.”

“Oke.”

“Tapi aku mau jujur. Karena kamu udah jujur.”

Aku menatap tanganku di atas buku sketsa. Jari-jariku ada noda grafit. Aku mengusapnya, dan nodanya justru menyebar.

“Kamu Harrison,” kataku. “Setiap lihat kamu, aku lihat pintu itu.”

Aku tidak mengangkat kepala. Aku tidak mau melihat wajahnya ketika aku mengatakan ini.

“Bukan salah kamu. Kamu nggak ngapa-ngapain. Kamu cuma... matamu. Matamu sama. Warnanya, bentuknya, cara berubah kalau kena lampu. Setiap kali aku lihat matamu, dadaku...” Aku berhenti. Aku tidak tahu kata yang tepat. “Dingin. Kayak ada yang nuang air es. Dan aku nggak bisa kontrol itu. Aku udah coba. Aku bilang ke diriku sendiri, ini orang yang beda, ini Monica, bukan dia. Tapi badanku nggak dengerin.”

Monica diam.

“Makanya aku bilang nggak bisa. Bukan karena kamu kurang apa-apa. Tapi karena aku nggak mau kamu habisin waktu buat orang yang setiap kali lihat kamu, lihat orang lain.” Aku akhirnya mengangkat kepala. “Itu nggak adil buat kamu.”

Aku menduga ia akan menangis. Atau marah. Atau berdiri dan pergi, dan besok tidak ada kurir berseragam hijau yang menaiki tangga besi.

Monica menatapku dengan mata Harrison itu. Lama. Aku melihat sesuatu bergerak di baliknya: sakit, jelas. Aku melihat bibirnya menegang sebentar, dan jarinya mencengkeram ujung ikat pinggang terlalu keras.

Lalu ia menarik napas panjang, dan sakit itu tidak hilang, tapi ada hal lain yang naik di sampingnya. Sesuatu yang keras kepala.

“Oke,” katanya. “Kalau gitu aku bikin kamu lihat pintu lain.”

“Apa?”

“Kamu bilang setiap lihat aku, kamu lihat pintu itu. Oke. Aku nggak bisa ganti mataku. Aku udah coba cari lensa kontak warna hitam, tapi Tasya bilang aku kelihatan kayak hantu Jepang.” Ia mengangkat bahu. “Jadi aku harus bikin kamu lihat pintu yang lain. Yang isinya bukan itu. Yang isinya aku ngelelehin panci. Aku nyari handuk ungu. Aku duduk di kursi tinggi nontonin kamu masak. Terus lama-lama, kalau kamu lihat mataku, yang keluar duluan di kepalamu itu pintu-pintu yang itu. Bukan yang satu.”

Aku menatapnya.

“Itu bisa makan waktu lama,” kataku.

“Aku udah bilang di kartu hari kedelapan. Aku buru-buru, tapi aku bisa nunggu.”

“Itu kalimat yang nggak masuk akal.”

“Tapi kamu hafal.”

Aku menutup mulut.

Monica tersenyum. Senyum miring itu lagi, yang lebih tinggi di sisi kiri.

“Aturannya kamu yang bikin,” katanya. “Aku ikut.”

Aku memikirkannya. Aku sungguh-sungguh memikirkannya, seperti memikirkan beban struktur. Lalu aku menulis di sudut buku sketsa, di bawah denah dapur, dengan pensil 2B.

1. Profesional di jam kerja.
2. Nggak bawa-bawa keluarga Harrison.
3. Kalau aku bilang berhenti, berhenti.

Aku memutar buku itu ke arahnya. Monica membaca. Ia mengangguk di nomor satu. Mengangguk di nomor dua, lebih lama. Di nomor tiga, ia berhenti.

“Kalau kamu bilang berhenti, aku berhenti,” katanya pelan. “Janji.”

Lalu ia mengambil pensilku, tanpa izin, dan menulis di bawahnya dengan huruf-huruf yang miring ke kanan.

1a. Bunga tetap dikirim. Tapi jam 9.15, sebelum jam kerja (studio buka 9.30, aku udah tanya Gilang).
4. Aturan dari aku: kalau kamu nggak baik-baik aja, kamu harus bilang jujur.

“Nomor empat nggak perlu,” kataku.

“Perlu.”

“Aku baik-baik saja.”

Monica mengetuk kertas di nomor empat dengan ujung pensil. Tiga kali.

“Tuh,” katanya. “Pelanggaran pertama.”


Ibu sedang menata kue lumpur di loyang ketika aku pulang malam itu. Aku duduk di kursi makan, dan ia menyodorkan satu kue yang masih hangat tanpa bertanya apakah aku mau.

“Proyek baru?” tanya Ibu.

“Villa. Di Puncak.”

“Wah. Bagus. Kliennya siapa?”

Aku mengunyah kue lumpur. Manis, lembut, bau santan dan kentang. “Harrison, Bu.”

Ibu berhenti menata loyang.

“Bukan yang itu,” kataku cepat. “Sepupunya.”

Ibu menatapku. Lalu, pelan-pelan, sesuatu berubah di wajahnya, sesuatu yang aku kenali: wajah Ibu ketika menebak jawaban kuis di televisi sebelum pembawa acaranya selesai membacakan pertanyaan.

“Yang ngirim bunga?” tanya Ibu.

Aku tidak menjawab. Itu sudah jawaban.

Ibu meletakkan sendok kue. Ia menarik kursi di seberangku dan duduk, dengan tangan terlipat di atas meja dan mata berbinar yang tidak kulihat sejak tiga minggu lalu.

“Cantik?” tanyanya.

Aku membuka mulut untuk bilang biasa aja, Bu. Atau nggak tahu, Bu. Atau itu nggak penting, Bu, ini urusan kerja.

“Cantik banget, Bu,” kataku.

Aku mendengar kalimat itu keluar dari mulutku dan tidak tahu dari mana datangnya.

Ibu tidak berkata apa-apa. Ibu hanya tersenyum, lalu berdiri, lalu kembali ke loyangnya, dan menata kue-kue lumpur itu sambil bersenandung. Lagu lama. Lagu yang dulu Ibu senandungkan waktu Bapak masih ada.

Aku masuk ke kamar. Berhenti di depan pintu. Mengetuk tiga kali. Masuk.

Malam itu aku tidak menghitung retakan di plafon. Aku menatap buku sketsa di pangkuanku, pada denah dapur dengan dua kursi tinggi dan daftar aturan di sudutnya. Nomor satu sampai tiga dengan huruf-hurufku yang tegak. Nomor empat dengan huruf-huruf yang miring ke kanan, dan ekor huruf g yang melengkung seperti kail pancing di kata bilang.

Setiap lihat kamu, aku lihat pintu itu.

Itu masih benar. Dadaku masih dingin kalau aku mengingat matanya.

Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ketika aku mengingat matanya, yang muncul duluan di kepalaku bukan pintu kamar di lantai dua puluh tiga.

Yang muncul duluan adalah panci yang meleleh.


Pukul sembilan lewat lima belas keesokan paginya, kurir berseragam hijau menaiki tangga besi dan mengetuk pintu kaca buram tiga kali.

Sebelas tangkai bunga matahari. Kertas cokelat. Tali rami. Dan satu kartu.

Hari 11: Ini kartu profesional, dikirim di luar jam kerja sesuai Aturan 1a. Klien butuh arsitek yang sehat. Makan siang. (Ini bukan flirting. Ini manajemen proyek.)

Gilang membacanya dari balik bahuku, lalu berjalan ke papan tulis dengan spidol merah, dan menambahkan satu garis di kolom NGELIATIN MBAK MONIC.

“Aku nggak ngeliatin dia,” protesku. “Dia bahkan nggak ada di sini.”

“Kamu senyum ke kartunya, Van,” kata Gilang. “Itu dihitung.”