Chapter Six
Operasi Bunga Matahari
POV: Monica
Spreadsheet Tasya punya sembilan kolom, empat tab, dan satu grafik batang yang aku tidak tahu fungsinya tapi ia bilang “penting untuk moral pasukan.”
Tab pertama berjudul PROFIL TARGET.
Nama: Ervan Pratama.
Usia: 29.
Pekerjaan: Arsitek & desainer interior, Studio Pratama (Tebet, lantai 2, di atas fotokopi yang muter dangdut).
Keluarga: Ibu (Bu Laras, jualan kue basah). Ayah almarhum.
Teman: Gilang (partner studio, berisik, menurut Zara).
Kendaraan: Avanza abu-abu 2017. AC harus dipukul.
Status emosional: Hancur, menurut Monica. Baik-baik saja, menurut target.
Tab kedua berjudul HAMBATAN.
1. Target baru dikhianati oleh seorang Harrison.
2. Pelaku (Monica) adalah seorang Harrison.
3. Pelaku punya mata yang SAMA dengan pengkhianat.
4. Pelaku sudah mengumumkan perang di depan pengkhianat dan seluruh keluarga, jadi kalau gagal, malunya tujuh turunan.
5. Pelaku tidak bisa masak.
6. Pelaku tidak sabaran.
7. Pelaku, kalau sedang naksir, tingkat kewarasannya turun 40%.
“Nomor tujuh itu dari mana?” tanyaku.
“Observasi lapangan,” jawab Tasya tanpa mengangkat kepala dari laptop. Kami duduk di sofa apartemenku, Jumat malam, dua minggu tepat setelah malam di rumah Opa, dengan dua kotak martabak yang sudah tinggal separuh. “Dua minggu ini kamu udah ngecek Google Maps rumahnya empat belas kali.”
“Itu riset.”
“Kamu zoom ke pot bunga di terasnya.”
“Itu riset mendalam.”
Tasya membuka tab ketiga. ASET.
1. Wajah. (Jangan diremehkan. Tapi jangan diandalkan.)
2. Dukungan penuh Om Richard & Tante Sofia.
3. Kayla (agen ganda, loyalitas: 100% ke target).
4. Ketulusan. (Belum terbukti. Pelaku harus membuktikannya.)
Aku menatap nomor empat lama.
“Kamu nulis belum terbukti,” kataku.
Tasya akhirnya mengangkat kepala. Ia sahabatku sejak kelas satu SMA, sejak hari pertama ketika ia duduk di sebelahku dan bilang rambutmu kebagusan, aku jadi minder, tolong jangan duduk di depanku waktu upacara. Ia satu-satunya orang di dunia yang tidak pernah terkesan oleh wajahku, oleh nama belakangku, oleh ballroom Papa. Itulah kenapa aku mempercayainya lebih dari siapa pun.
“Mon,” katanya. “Kamu cantik. Kamu kaya. Kamu pintar. Kamu bisa bikin tamu yang minta lihat bulan nangis terharu. Semua itu bagus. Tapi cowok ini baru dikhianatin sama cewek yang cantik, kaya, dan pintar juga. Dari keluarga yang sama. Dengan mata yang sama.” Ia menutup laptop setengah. “Semua yang biasanya jadi senjatamu, buat dia itu justru alarm.”
Aku tidak menjawab.
“Jadi satu-satunya senjata yang kamu punya,” lanjut Tasya, “adalah yang di nomor empat. Dan itu nggak bisa dipamerin. Cuma bisa dibuktiin. Pelan-pelan.”
“Aku nggak bisa pelan-pelan, Tas.”
“Aku tahu.” Ia menghela napas dan membuka laptop lagi. “Makanya aku bikin tab keempat.”
Tab keempat berjudul TAHAP 1: BUNGA.
Idenya datang dari Kayla.
Kayla menghubungiku tiga hari setelah malam di rumah Opa. Bukan di grup. Pesan pribadi, pukul satu dini hari, dengan kalimat yang diketik terburu-buru.
Kayla: Kak Monic. Yang kemarin di rumah Opa. Beneran?
Kayla: Maksudku. Beneran Kakak suka Kak Ervan?
Kayla: Soalnya kalau cuma buat bales dendam ke Kak Zara, mending jangan. Kak Ervan udah cukup sakit.
Aku memandangi pesan itu lama. Anak ini dua puluh dua tahun dan masih memakai piyama dinosaurus, tapi pertanyaannya lebih tajam dari pertanyaan siapa pun di keluarga ini.
Monica: Beneran, Kay. Dari lama. Sebelum Zara.
Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi.
Kayla: Oke.
Kayla: Satu hal aja, Kak.
Kayla: Jangan kasih dia mawar merah.
Monica: Kenapa?
Kayla: Malam itu dia bawa 30 mawar merah. Dia taruh di meja Kak Zara sebelum keluar. Pelan-pelan, katanya biar kelopaknya nggak rontok.
Kayla: Aku lihat waktu ambil barang Kak Zara besoknya. Bunganya masih di meja. Udah layu. Nggak ada yang buang.
Aku mematikan ponsel dan menatap langit-langit sampai subuh.
Jadi bukan mawar. Apa pun kecuali mawar.
Aku menghabiskan dua hari berikutnya membaca tentang bunga seperti mahasiswa yang besok sidang. Tulip terlalu Belanda. Lili terlalu seperti pemakaman. Anggrek terlalu seperti Tante Maureen. Baby’s breath terlalu seperti pelengkap, dan aku tidak mau jadi pelengkap siapa pun.
Lalu aku menemukan satu kalimat di artikel tentang bunga matahari. Tentang bagaimana bunga matahari muda mengikuti arah matahari sepanjang hari, dari timur ke barat, dan ketika ia sudah dewasa, ia berhenti berputar dan menghadap ke timur selamanya. Ke arah matahari terbit. Ke arah pagi.
Selalu menghadap ke tempat cahaya akan datang.
Aku tidak tahu apakah itu benar secara ilmiah. Aku tidak peduli.
Studio Pratama benar-benar ada di atas toko fotokopi, dan toko fotokopi itu benar-benar memutar dangdut koplo. Keras. Jam sepuluh pagi. Lagunya tentang seseorang yang ditinggal kawin, yang menurutku terlalu tepat sasaran untuk jadi kebetulan.
Tasya menunggu di mobil. “Aku nggak boleh kelihatan,” katanya. “Aku aset rahasia untuk Tahap 2.”
“Tahap 2 apa?”
“Nanti kamu tahu. Sekarang naik. Senyum. Bukan senyum nomor tiga. Senyum yang beneran.”
Aku tidak tahu aku punya senyum yang beneran. Aku menaiki tangga besi sempit di samping toko fotokopi dengan sepatu flat, karena Tasya bilang sepatu hak di tangga besi adalah resep kematian, dan dengan buket bunga matahari di tangan. Sebelas tangkai. Bukan tiga puluh. Ganjil, karena kata artikel angka ganjil lebih alami. Dibungkus kertas cokelat polos dan tali rami, tanpa pita satin.
Pintu studio terbuat dari kaca buram dengan tulisan stiker yang separuh mengelupas: STUDIO PRATAMA — Arsitektur & Interior. Huruf “u” pada Arsitektur sudah hilang.
Aku mengetuk. Tiga kali.
Aku tidak tahu kenapa tiga. Rasanya sopan saja.
Pintu dibuka oleh laki-laki bertubuh sedang dengan rambut ikal berantakan, kaus bergambar karakter anime yang aku tidak kenal, dan secangkir kopi sachet di tangan. Ia mulai berkata, “Ya, cari sia—“ lalu melihatku, lalu berhenti.
Berhenti total. Mulutnya masih terbuka di huruf a. Cangkirnya miring. Kopi mulai menetes ke lantai.
“Kopinya,” kataku.
“Hah?”
“Kopinya tumpah, Mas.”
Ia melihat ke bawah, melihat kopi di sepatunya, melihat kembali ke wajahku, dan sama sekali tidak memperbaiki posisi cangkirnya.
“Mbak,” katanya. “Mbak ini... Mbak nyasar? Ini bukan... ini bukan lokasi syuting. Ini studio arsitek. Atau Mbak... Mbak bidadari? Mbak turun dari mana?”
Dari dalam studio, suara yang sudah tiga tahun kusimpan di kepala berkata, “Lang. Siapa?”
Laki-laki berambut ikal, yang pasti adalah Gilang yang berisik menurut Zara, berbalik dengan gerakan patah-patah seperti robot yang baterainya hampir habis.
“Van,” katanya. “Ada. Ada bidadari. Nyari kamu. Kayaknya.”
Ervan berdiri di belakang meja gambar di sudut ruangan yang terang oleh jendela besar. Ia memakai kemeja flanel biru yang lengannya digulung dan kacamata berbingkai hitam tipis yang tidak pernah kulihat ia pakai sebelumnya. Rambutnya sedikit lebih panjang dari dua minggu lalu. Ada bayangan tipis di bawah matanya, bayangan orang yang tidurnya pendek.
Ia melihatku. Ia melihat bunga di tanganku.
Dan untuk sepersekian detik, aku melihatnya: cara bahunya menegang, cara tangannya berhenti di atas kertas kalkir, cara matanya bergerak dari wajahku, ke mataku, lalu dengan cepat ke tempat lain. Ke jendela. Ke penggaris. Ke mana saja kecuali mataku.
Lalu ia tersenyum. Senyum nomor tiga.
“Mbak Monica,” katanya. Sopan. Datar. Seperti menyapa klien. “Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”
Mbak. Tentu saja. Aku menarik napas dan melangkah masuk, melewati Gilang yang masih memegangi cangkir miring.
“Ada,” kataku. “Aku mau ngedeketin kamu.”
Gilang tersedak. Ia tidak sedang minum, tapi entah bagaimana ia tetap berhasil tersedak, lalu batuk-batuk keras sambil memukul dadanya sendiri dengan tangan yang memegang cangkir, sehingga sisa kopinya muncrat ke dinding.
Ervan tidak bergerak. Senyumnya tetap di tempat, tapi aku melihat sesuatu retak di baliknya. Semacam kebingungan murni, seperti orang yang diberi soal matematika dalam bahasa asing.
“Maaf,” katanya. “Maksudnya?”
“Maksudnya persis kayak yang aku bilang.” Aku berhenti di depan meja gambarnya. Dari dekat, aku bisa melihat sketsa di atas kertas kalkir: tampak depan sebuah rumah dua lantai dengan jendela-jendela lebar. Garis-garisnya sangat rapi. Terlalu rapi, seperti garis orang yang menggambar untuk tidak memikirkan hal lain. “Aku suka kamu. Aku mau ngedeketin kamu. Aku pikir lebih baik aku bilang langsung daripada kamu nebak-nebak.”
Hening. Dangdut di bawah berganti lagu. Yang ini tentang janda muda.
“Mbak Monica,” kata Ervan pelan. Ia melepas kacamatanya, melipatnya, meletakkannya di atas kertas. Gerakannya lambat dan hati-hati, seperti orang yang sedang menjinakkan sesuatu. “Saya rasa itu bukan ide yang baik.”
“Kenapa?”
“Mbak... Mbak Harrison.”
“Terus?”
Ia membuka mulut, lalu menutupnya. Aku melihatnya mencari kata. Mencari cara untuk mengatakan sesuatu tanpa melukai siapa pun, karena tentu saja, bahkan sekarang, ia sedang berusaha tidak melukaiku.
“Saya baru aja pamit dari keluarga Mbak,” katanya akhirnya.
“Kamu pamit dari keluarga Om Daniel,” koreksiku. “Aku keluarga Om Richard. Beda rumah. Beda KK. Beda kode pos.”
Di belakangku, Gilang mengeluarkan suara yang mirip gabungan tawa dan cegukan.
Ervan menatapku. Untuk pertama kalinya sejak aku masuk, ia menatap mataku langsung, bukan sekilas, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuat dadaku sakit: ia tidak sedang menatapku. Ia sedang menatap sesuatu di balikku. Sesuatu di mataku yang bukan aku.
Lalu ia berpaling lagi.
“Maaf, Mbak,” katanya pelan. “Saya lagi nggak bisa.”
Aku tahu. Aku sudah tahu sebelum naik tangga. Tasya sudah memperingatkanku. Mama sudah memperingatkanku. Tab kedua spreadsheet sudah memperingatkanku dengan tujuh poin bernomor. Tetap saja, mendengarnya langsung terasa seperti menelan es batu utuh.
Aku meletakkan buket bunga matahari di atas meja gambarnya. Di samping kacamatanya. Di atas sketsa rumah yang garisnya terlalu rapi.
“Ini bukan mawar,” kataku.
Ervan menatap bunga itu. Sesuatu bergerak di rahangnya.
“Aku nggak minta kamu bisa sekarang,” kataku. “Aku nggak minta kamu bales. Aku cuma bilang: aku bakal datang. Lagi. Dan lagi. Kamu boleh tutup pintu. Kamu boleh bilang nggak bisa seratus kali. Aku nggak akan maksa masuk. Aku nggak akan pakai passcode siapa pun.” Aku menarik napas. “Aku bakal ketuk.”
Kata terakhir itu mengenai sesuatu. Aku tidak tahu apa. Tapi aku melihat Ervan tiba-tiba menegakkan punggungnya, dan matanya kembali kepadaku, dan kali ini, hanya untuk satu detik, ia benar-benar melihatku.
“Mbak,” katanya, dan suaranya sedikit berbeda. “Mbak nggak kenal saya.”
“Kenal,” jawabku. “Lebih dari yang kamu kira.”
“Mbak bakal capek.”
“Aku kerja di hotel. Aku udah biasa capek.”
“Mbak ini...” Ia menggeleng pelan. Ada sesuatu di sudut bibirnya, bukan senyum, tapi sesuatu yang dulunya mungkin senyum. “Mbak ini kayak mobil yang remnya blong.”
“Aku nggak pakai rem,” kataku.
“Saya bisa pasangin rem buat Mbak. Saya ngerti mesin.”
“Namanya Monic.” Aku mundur selangkah ke arah pintu. “Bukan Mbak. Dan remnya udah aku jual.”
Aku keluar dari studio dengan kaki gemetar, turun tangga besi dengan pegangan erat, dan masuk ke mobil di mana Tasya menunggu dengan teropong. Teropong sungguhan. Ia pinjam dari satpam hotel.
“Gimana?” tanyanya.
“Dia bilang nggak bisa.”
“Terus bunganya?”
“Aku tinggal di mejanya.”
“Dia buang?”
“Nggak tahu.” Aku menyandarkan kepala ke kaca. Jantungku masih berdebar seperti habis lari. “Tas, dia bilang aku kayak mobil remnya blong.”
Tasya menurunkan teropong dan menatapku.
“Mon,” katanya perlahan. “Itu kalimat terpanjang yang pernah dia ucapin ke kamu, kan?”
“...Iya.”
“Dan dia ngomongnya sambil hampir senyum?”
“...Kayaknya.”
Tasya mengangkat teropong lagi, mengarahkannya ke jendela lantai dua. Aku melihat bahunya menegang. Lalu ia menyerahkan teropong itu kepadaku tanpa berkata apa-apa.
Lewat lensa yang sedikit buram, aku melihat jendela besar Studio Pratama. Aku melihat Gilang mengepel kopi di lantai dengan gerakan dramatis. Dan di sudut, di belakang meja gambar, aku melihat Ervan berdiri memegang buket bunga matahari, menatapnya dengan kening berkerut, seperti orang yang sedang menghitung struktur sesuatu yang tidak ia mengerti.
Ia tidak membuangnya.
Ia berjalan ke rak di dinding, mengambil sebuah toples kaca besar, toples kerupuk dengan tutup merah yang entah kenapa ada di studio arsitek, mengisinya dengan air dari galon, dan memasukkan bunga-bunga itu satu per satu. Pelan. Supaya kelopaknya tidak rontok.
Aku menurunkan teropong. Mataku panas.
“Tahap satu,” kata Tasya sambil menyalakan mesin mobil. “Hari pertama. Berhasil.”
Aku mengirim bunga matahari lagi keesokan harinya. Dan besoknya. Dan besoknya lagi. Selalu sebelas tangkai, selalu kertas cokelat dan tali rami, selalu dengan satu kartu kecil yang kutulis tangan.
Hari 2: Masih bukan mawar.
Hari 3: Toples kerupuk itu nggak cocok. Nanti aku beliin vas. Atau kamu yang bikin vas, kan kamu arsitek.
Hari 4: Gilang bilang kamu belum makan siang. Makan. Ini perintah, bukan saran.
Aku tahu dari mana Gilang bilang begitu? Karena pada hari ketiga, Gilang mengirim pesan ke nomor Tasya, yang entah bagaimana ia dapatkan, berisi satu kalimat: Mbak, saya siap jadi informan. Bayarannya martabak.
Tasya membalas dengan foto martabak keju cokelat dan satu kata: Deal.
Pada hari kelima, pukul enam sore, Gilang mengirim foto ke Tasya, yang meneruskannya kepadaku dalam dua detik.
Foto itu diambil diam-diam, agak miring, dari balik rak buku. Studio Pratama di sore hari, cahaya jingga masuk dari jendela besar. Di atas rak di samping meja gambar, ada lima toples. Toples kerupuk. Toples bekas selai. Toples bekas biskuit lebaran. Gelas ukur besar. Satu ember kecil yang dibungkus kertas kalkir supaya terlihat seperti vas. Semuanya berisi bunga matahari.
Dan Ervan duduk di depan meja gambar, dengan pensil di tangan yang tidak bergerak, menatap bunga-bunga itu.
Ia tidak tersenyum. Wajahnya masih wajah orang yang tidurnya pendek.
Tapi ia tidak membuang satu pun.
Di bawah foto itu, Gilang menambahkan satu pesan.
Gilang: Mbak. Dia baca semua kartunya. Kartunya disimpen di laci. Jangan bilang saya yang bilang.
Aku mematikan layar dan menekan ponsel itu ke dadaku, di tempat yang sama di mana tiga tahun lalu, di parkiran hotel jam satu dini hari, sesuatu mulai berputar dan tidak pernah berhenti.
Satu toples berubah jadi lima. Satu kalimat berubah jadi satu kalimat yang lebih panjang.
Pelan-pelan. Tasya benar. Aku tidak bisa pelan-pelan.
Tapi untuk yang satu ini, aku akan belajar.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari reading
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk