← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Thirty Eight

Takut Berlutut

POV: Ervan

Koh Liem meletakkan kotak kecil itu di atas etalase kaca hari Kamis pukul sepuluh pagi, dan aku tidak berani membukanya.

Kotak kayu. Bukan beludru. Aku yang minta. Kayu jati kecil, dari sisa potongan kusen jendela kamar tidur utama villa, yang kuampelas sendiri di studio sampai halus dan kuberikan kepada Koh Liem dua minggu lalu. Koh Liem menatap kotak kayu itu waktu itu dengan lup di kacamatanya dan bilang Mas ini arsitek atau tukang kayu? dan aku bilang dua-duanya, Koh.

Sekarang kotak itu ada di depanku. Dengan cincin di dalamnya.

“Buka,” kata Koh Liem.

Aku membukanya.

Emas kuning. Ramping. Enam batu kecil di bagian atasnya. Hijau. Bukan hijau zamrud yang biasa, yang pekat dan dalam seperti botol kaca. Hijau yang lebih muda, lebih terang, dengan sedikit kuning di dalamnya. Hijau daun teh yang baru tersentuh matahari pagi. Tersusun tidak rata. Dua di kiri, tiga di tengah, satu agak ke kanan. Seperti biji yang jatuh dari tangan.

Aku memutar cincin itu di bawah lampu etalase dan melihat bagian dalamnya.

170823.

“Saya cari zamrudnya tiga toko,” kata Koh Liem. “Yang pertama terlalu tua warnanya. Yang kedua terlalu biru. Yang ketiga di Surabaya. Saya suruh anak saya terbang ambil.” Ia menatap cincin itu dengan puas. “Mirip?”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk.

Koh Liem menatapku lama di balik kacamata tebalnya. Lalu ia melakukan sesuatu yang aneh. Ia melirik ke laci di bawah etalase. Hanya sekilas. Lalu kembali menatapku dengan wajah yang terlalu datar, seperti orang yang sedang menahan sesuatu dengan sangat keras.

“Mas,” katanya. “Cincin itu kayak pintu.”

“Pintu, Koh?”

“Kadang orang pikir dia sendirian yang pegang gagangnya.” Koh Liem menutup kotak kayu itu dan mendorongnya ke arahku. “Padahal ada orang di sisi lain yang juga lagi pegang gagang yang sama. Nunggu buat buka.”

Aku menatapnya. Aku tidak mengerti.

Koh Liem tersenyum. Senyum orang tua yang tahu sesuatu dan tidak akan memberitahuku.

“Hati-hati di jalan, Mas,” katanya. “Jangan sampai jatuh.”


“Oke,” kata Gilang. “Aku Mbak Monic.”

Ia berdiri di tengah studio, Kamis sore, di bawah tirai bunga matahari kering yang tergantung terbalik. Di kepalanya ada kupluk rajut abu-abu yang ditarik sampai ke alis. Di bahunya, selimut hotel bermotif kotak-kotak merah yang ia ambil dari jok belakang Avanza-ku tanpa izin.

“Kenapa pakai selimut?”

“Karena Mbak Monic pakai selimut di hari matahari terbit pertama. Kamu yang cerita.” Gilang merapikan selimut di bahunya dengan gaya seorang ratu. “Detail itu penting, Van. Aku udah nonton drama Korea tiga tahun. Aku ngerti blocking.”

“Lang...”

“Kamu mau latihan atau nggak?” Gilang menatapku. “Kamu yang minta. Kemarin. Kamu bilang, Lang, aku nggak bisa berlutut, tolong bantu. Ini aku bantu.”

Aku memang yang minta. Kemarin malam, di studio, setelah semua orang pulang. Setelah aku mencoba berlutut sendirian di depan meja gambar, di atas lantai studio yang berdebu, dan lututku tidak mau turun.

Bukan tidak bisa. Tidak mau. Lututku menolak, seperti tanganku dulu menolak memutar kenop pintu kamarku sendiri. Setiap kali aku mencoba menekuk lutut kanan ke lantai, dingin itu naik dari telapak kaki. Lewat betis. Masuk ke perut. Dan berhenti di dada, di bawah tulang rusuk, di tempat batu yang lama.

Dan aku melihat karpet tebal. Lampu kuning. Pintu 2307.

“Oke,” kataku. “Oke.”

Gilang berdiri di tengah studio dengan kupluk dan selimut. Aku berdiri di depannya. Kotak kayu jati di saku kiri kemejaku. Di saku kiri, karena lebih dekat ke jantung.

“Mulai,” kata Gilang. “Kamu bilang sesuatu yang romantis. Terus berlutut. Terus buka kotak.”

Aku menarik napas.

“Monic,” kataku.

“Iya, Sayang,” jawab Gilang dengan suara falsetto yang tinggi dan mengerikan.

“Lang.”

“Mbak Monic nggak manggil kamu Lang. Dia manggil kamu Van. Atau Sayang. Tasya bilang dia udah mulai manggil kamu Sayang di telepon.” Gilang mengerutkan dahi. “Lanjut.”

Aku menarik napas lagi. Aku menatap Gilang yang memakai kupluk dan selimut hotel. Aku mencoba melihat Monica. Mata dengan bintik hijau. Tahi lalat kecil di bawah mata kanan. Senyum yang miring dan lebih tinggi di sisi kiri.

Aku mulai menekuk lutut kanan.

Dingin.

Lututku berhenti di udara. Dua puluh senti dari lantai. Tubuhku membeku di posisi setengah jongkok yang canggung, seperti orang yang mencoba duduk di kursi yang tiba-tiba tidak ada.

Karpet tebal. Lampu kuning. Sepatu pantofel cokelat, satu tegak, satu rebah.

Aku berdiri lagi. Napasku tersendat. Keringat dingin di tengkuk.

Gilang melepas kupluknya.


Ia tidak bicara lama. Ia hanya menatapku, di bawah tirai bunga kering, dengan selimut hotel masih di bahunya dan rambut ikal yang berantakan karena kupluk.

“Van,” katanya. “Kamu takut lantainya runtuh.”

Aku tidak menjawab.

“Terakhir kali kamu siap berlutut,” kata Gilang pelan, “kamu buka pintu dan lantainya runtuh. Kamu nggak sempat berlutut. Tapi badanmu inget. Badanmu mikir, kalau aku berlutut lagi, lantainya bakal runtuh lagi.”

Aku menatap lantai studio. Lantai semen yang dicat abu-abu, retak di beberapa tempat.

“Aku tahu itu bodoh,” kataku. “Aku tahu Monic bukan Zara. Aku tahu nggak akan ada apa-apa di balik pintu. Aku tahu semuanya, Lang. Otakku tahu.” Aku menepuk dadaku. “Tapi ini nggak mau dengar.”

Gilang menatapku lama. Lalu ia melakukan sesuatu yang aneh. Ia membuka mulut, seperti mau mengatakan sesuatu, lalu menutupnya lagi. Keras. Sampai giginya berbunyi. Wajahnya memerah. Ia menggigit bibir bawahnya.

“Lang?”

“Nggak apa-apa.”

“Mukamu kayak orang nahan kentut.”

“Aku lagi nahan sesuatu yang lebih besar dari kentut, Van.” Gilang menarik napas panjang dan menghembuskannya seperti atlet angkat besi. “Aku nggak bisa bilang apa-apa. Aku udah sumpah. Sama Tasya. Tasya bakal putusin aku kalau aku bilang. Tapi...”

Ia berhenti. Menutup mata. Membukanya lagi.

“Tapi percaya sama aku,” katanya. “Lantainya nggak bakal runtuh. Aku jamin. Seratus persen. Aku berani taruhan martabak seumur hidup.”

“Kamu tahu sesuatu.”

“Aku nggak tahu apa-apa.” Gilang berbalik dan berjalan ke mejanya dengan langkah yang terlalu cepat. “Aku cuma tahu soal drama Korea. Di drama Korea, lantainya nggak pernah runtuh di episode terakhir. Itu aturan.”

Ia duduk di mejanya, membuka komputer, dan menatap layar dengan intensitas orang yang sedang membaca surat wasiat. Selimut hotel masih di bahunya.

Aku menatapnya dari tengah studio. Sahabatku sejak kuliah. Yang menjualku demi martabak. Yang mengikutiku dengan motor sampai Ciledug jam dua belas malam. Yang menghitung setiap kali aku bilang baik-baik saja.

Yang sekarang duduk di mejanya dengan wajah merah dan bibir yang digigit keras-keras, seperti orang yang menyimpan rahasia yang terlalu besar untuk mulutnya.


Ibu sedang di teras ketika aku pulang, menyiram pot-pot bunga kertas.

Aku duduk di kursi rotan. Ibu tidak berhenti menyiram. Ia tahu. Ia selalu tahu.

“Cincinnya udah jadi?” tanya Ibu tanpa menoleh.

“Ibu tahu soal cincin?”

“Harrison Mamas, Van.” Ibu menyiram pot terakhir. “Grup itu tahu segalanya. Bu Sofia tahu dari Tasya. Bu Ratna tahu dari Kayla. Kayla tahu dari Gilang. Ibu tahu dari semuanya.” Ia meletakkan gembor. “Ibu cuma pura-pura nggak tahu.”

Aku menutup wajah dengan tangan.

“Tapi Ibu nggak tahu satu hal,” kata Ibu. Ia duduk di kursi rotan yang lain. “Kenapa mukamu kayak orang mau bayar pajak.”

Aku menurunkan tanganku. Aku menceritakannya. Lutut yang tidak mau turun. Dua puluh senti dari lantai. Dingin yang naik dari telapak kaki.

Ibu mendengarkan tanpa memotong.

Ketika aku selesai, Ibu diam lama. Ia menatap pot-pot bunga kertas yang basah. Lalu ia tertawa. Pelan. Tawa yang dimulai dari mata.

“Bapakmu nggak berlutut,” kata Ibu.

Aku menatapnya.

“Waktu yang ketiga kali. Waktu Mbah akhirnya bilang iya.” Ibu tersenyum ke pot bunga. “Bapakmu nggak berlutut. Dia nggak bisa. Lututnya habis jatuh dari tiang listrik minggu sebelumnya, keseleo. Dia dateng ke rumah Mbah pakai tongkat. Bawa pisang yang nggak lecet. Terus duduk di teras.”

“Duduk?”

“Duduk. Di kursi. Nggak berlutut sama sekali.” Ibu tertawa. “Terus dia bilang ke Mbah, Pak, saya nggak bisa berlutut. Lutut saya rusak. Tapi saya balik lagi. Ini yang ketiga kali. Saya bakal balik terus sampai Bapak capek.“

Aku tertawa. Aku tidak berniat tertawa.

“Mbah ketawa sampai batuk,” kata Ibu. “Terus Mbah bilang iya. Katanya, laki-laki yang balik tiga kali pakai tongkat, nggak usah berlutut juga udah cukup.”

Ibu menatapku.

“Lamaran itu bukan soal lutut, Van,” katanya. “Bukan soal di mana kamu berdiri atau duduk atau jongkok. Lamaran itu soal kamu datang. Soal kamu balik.” Ia menepuk lututku. “Kamu udah balik. Kamu udah pakai passcode-nya. Kamu udah datang ke pintu yang bikin kamu takut dan kamu buka. Lutut itu cuma lutut.”

“Tapi aku mau berlutut, Bu.” Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Aku mau. Buat dia. Dia pantas dapat itu. Dia udah nunggu tiga tahun.”

Ibu menatapku lama sekali.

“Kalau gitu berlutut,” katanya. “Sambil takut.”

“Sambil takut?”

“Bapakmu dulu datang ke rumah Mbah sambil keringetan sampai kemejanya basah. Pisangnya lecet karena dipegang kekencengan. Dia takut setengah mati. Tapi dia tetap datang.” Ibu berdiri dan mengambil gembornya lagi. “Ibu udah bilang dulu. Takut itu bukan alasan buat nggak balik. Takut itu cuma tanda kamu tahu ini penting.”

Ia berjalan ke pintu. Di ambang pintu, seperti biasa, ia berhenti.

“Van.”

“Iya, Bu?”

“Kalau lututmu gemetar,” kata Ibu tanpa menoleh, “biarin gemetar. Nggak ada yang pernah bilang lamaran harus pakai lutut yang nggak gemetar.”


Jumat malam, aku menyetir sendirian ke Puncak.

Gilang menawarkan diri ikut. Aku bilang tidak. Ini sesuatu yang harus kulakukan sendiri.

Aku sampai di villa pukul sepuluh malam. Rumah itu gelap, kecuali lampu teras yang kupasang dengan sensor gerak. Kabut turun rendah di kebun teh. Udara dingin dan basah dan berbau daun.

Aku menyalakan semua lampu. Aku berjalan ke setiap ruangan. Ruang tamu dengan jendela lebar untuk menonton kabut. Teras yang cukup untuk duduk berdua. Dapur dengan meja panjang dan dua kursi tinggi.

Ruang piano. Piano Bapak sudah disetem minggu lalu. Tukang setem dari Bandung, yang katanya sudah menyetem piano gereja sejak zaman Belanda, menghabiskan enam jam dan bilang piano ini masih punya jiwa. Aku membuka penutup tutsnya dan menekan satu nada. Jernih. Tidak sumbang lagi.

Kamar tidur utama di sudut timur laut.

Aku berdiri di tengah kamar itu. Lantai kayu. Jendela besar dengan kaca bening, masih tanpa tirai. Ambang kayu jati yang cukup untuk duduk. Di luar, gelap, hanya kabut dan lampu-lampu kecil dari rumah-rumah di lembah.

Aku mengeluarkan kotak kayu jati dari saku kiri. Aku membukanya. Cincin dengan enam batu hijau berkilat di bawah lampu kamar.

Aku menutupnya lagi. Aku meletakkannya di ambang jendela.

Lalu aku berlutut.

Lutut kanan. Bukan kiri. Kiri itu buat ksatria.

Dingin itu datang. Seperti yang kuduga. Naik dari telapak kaki, lewat betis, masuk ke perut. Lututku berhenti di udara, dua puluh senti dari lantai kayu.

Aku tidak berdiri lagi.

Aku tetap di sana. Di posisi setengah jongkok yang canggung, dengan paha yang mulai gemetar dan keringat dingin di tengkuk. Aku menatap lantai kayu jati di bawahku. Lantai yang kugambar sendiri. Balok-balok yang kuhitung sendiri kekuatannya. Fondasi yang batu pertamanya diletakkan oleh tangan perempuan yang akan berdiri di kamar ini besok pagi, di sudut timur laut, di sudut yang pertama kena matahari.

Lantai ini tidak akan runtuh. Aku yang membangunnya.

Aku menurunkan lututku. Satu senti. Dua senti.

Pahaku gemetar. Biarin gemetar, kata Ibu.

Lima senti. Sepuluh senti.

Lima belas.

Lututku menyentuh lantai kayu.

Keras. Dingin. Kokoh.

Tidak ada yang runtuh.

Aku berlutut di tengah kamar tidur utama di rumah yang Oma suruh aku bangun, sendirian, pukul sebelas malam, dengan lutut yang gemetar dan keringat dingin di tengkuk dan napas yang tersendat-sendat. Aku berlutut di sana sampai gemetarnya berhenti sendiri. Lima menit. Mungkin sepuluh.

Lalu aku tertawa. Sendirian. Di kamar kosong. Tawa yang pendek dan basah dan tidak tahu kenapa.

Lantainya tidak runtuh.


Pukul empat pagi hari Sabtu, aku menjemput Monica di lobi gedung apartemennya.

Pak Heru membukakan pintu lobi dengan senyum yang sangat lebar untuk jam empat pagi. Ia melirik Avanza abu-abu, melirikku, lalu mengacungkan dua jempol. Aku tidak keberatan lagi. Aku sudah terbiasa.

Monica keluar dari lift dengan jaket bomber hitamku, yang sekarang lebih sering ia pakai daripada aku, dan kupluk rajut abu-abu. Ia membawa tas jinjing kanvas yang besar. Terlalu besar untuk satu hari di villa.

“Bawa apa?” tanyaku.

“Bekal,” katanya terlalu cepat.

“Bekal apa?”

“Lemper. Bu Laras yang bikin.” Ia masuk ke mobil dan memeluk tas jinjing itu di pangkuannya seperti Kayla memeluk ponselnya. “Dua.”

Aku menatapnya. Ia menatap lurus ke depan.

Aku menyalakan mesin. AC-nya menyala di percobaan pertama.

Di jalan tol yang masih gelap, aku meliriknya sesekali. Ia diam. Monica tidak pernah diam di mobil. Monica selalu bercerita tentang tamu hotel, tentang Tasya, tentang Papa yang mencoba belajar TikTok dari Kayla. Pagi itu, ia diam, dengan dua tangan memeluk tas jinjing kanvas dan mata yang menatap jalan.

Di rest area Gadog, ketika aku menepikan mobil untuk menukar tempat duduk, karena sekarang ia selalu menyetir tanjakan sendiri, aku melihat tangannya.

Tangannya gemetar.

Bukan gemetar halus. Gemetar yang kelihatan, seperti di pintu studio waktu Zara datang. Jari-jarinya yang memegang tali tas jinjing bergetar, dan ia tidak bisa menghentikannya.

“Kamu kedinginan?” tanyaku.

Ia menatapku. Mata Harrison, dengan bintik hijau yang belum kelihatan di cahaya lampu rest area yang kuning.

“Iya,” katanya. “Kedinginan.”

Aku melepas syalku dan melilitkannya di lehernya. Ia membiarkanku.

Di saku kiri kemejaku, kotak kayu jati kecil menekan dadaku. Di tempat yang dulu diisi kotak beludru biru tua. Di tempat yang dekat ke jantung.

Tanganku juga gemetar. Sedikit.

Aku pikir itu karena dingin.