Chapter Thirty Nine
Aku Duluan
POV: Monica
Bu Dewi menangis ketika aku membeli bunga matahari di tokonya hari Jumat sore.
Aku tidak tahu siapa Bu Dewi. Maksudku, aku tahu namanya, karena Ervan bilang nanti aku kenalin di dapur apartemenku, malam ia memakai passcode, dan tiga minggu kemudian ia benar-benar mengenalkanku. Ia mengajakku ke Sabang, ke toko bunga kecil dengan kaleng permen di meja kasir, dan bilang Bu, ini dia, dan Bu Dewi menurunkan kacamatanya yang digantung tali manik-manik dan menatapku lama sekali, lalu memelukku seperti memeluk anak yang pulang dari rantau.
Tapi aku tidak tahu Bu Dewi akan menangis ketika aku kembali sendirian, tanpa Ervan, dan minta sebelas tangkai bunga matahari.
“Buat dia?” tanya Bu Dewi.
“Buat dia, Bu.”
“Buat apa?”
Aku ragu. Lalu aku menceritakannya. Pelan. Dengan suara kecil, seperti mengaku dosa.
Bu Dewi menjatuhkan gunting rangkainya.
“Ya Allah,” katanya. “Ya Allah, ya Allah.”
“Bu?”
“Dia kemarin ke sini.” Bu Dewi menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca di balik kacamata manik-manik. “Pesan sebelas tangkai. Buat Sabtu subuh. Diambil Jumat malam. Buat villa.” Ia menutup mulut dengan tangan. “Buat kamu.”
Aku berhenti bernapas.
“Dua-duanya,” kata Bu Dewi. “Dua-duanya pesan di hari yang sama. Buat subuh yang sama. Ya Allah, Nak. Ibu udah jual bunga dari zaman telepon masih diputar. Ibu belum pernah...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia berbalik, berjalan ke ember-ember di trotoar, dan mulai memilih bunga matahari satu per satu sambil menangis. Ia memeriksa setiap tangkai, setiap kelopak, memutar kepala bunga di bawah cahaya sore. Ia membungkusnya dengan kertas cokelat dan tali rami.
Ia menyerahkannya dengan dua tangan.
“Pegang yang kenceng,” katanya. “Jangan sampai jatuh.”
“Pamali, Bu?”
“Bukan pamali.” Bu Dewi mengusap matanya. “Kalian berdua udah terlalu sering jatuh. Sekarang waktunya berdiri.”
Aku menyetir tanjakan terakhir menuju villa pukul lima kurang sepuluh pagi. Mesinnya tidak mati sekali pun.
Di kursi penumpang, Ervan diam. Ervan jarang diam di mobil sekarang. Sejak kami bersama, ia bercerita. Tentang Pak Asep yang meramal cuaca. Tentang klien Bintaro yang minta maaf dan sekarang minta dua rumah, bukan satu. Tentang Gilang yang mulai belajar masak supaya bisa memasak untuk Tasya, dan membakar dapur apartemennya sedikit.
Pagi itu, ia diam. Tangannya di pangkuan. Aku melihat tangan kirinya sesekali naik ke saku kiri kemejanya, menyentuh sesuatu di sana, lalu turun lagi.
Aku tahu apa yang ada di saku itu. Aku tahu dari Koh Liem, yang menolak memberitahuku detailnya dengan sumpah di atas etalase kaca, tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Di dalam tas jinjing kanvas di pangkuannya, yang ia pikir berisi lemper, ada sebelas tangkai bunga matahari yang sudah sedikit penyok karena dipeluk terlalu erat, dan satu kotak kecil dari Koh Liem.
Dan dua lemper. Bu Laras memang bikin dua.
Kamar tidur utama di sudut timur laut. Pukul lima lewat dua puluh.
Langit di atas Gunung Gede masih biru tua. Kabut tebal di lembah, putih dan bergerak pelan. Kaca jendela yang bening memantulkan wajah kami samar-samar.
Aku meletakkan tas jinjing di lantai, di dekat pintu.
“Van,” kataku. “Duduk di ambang.”
Ia menatapku. “Kenapa?”
“Duduk aja.”
Ia duduk di ambang jendela kayu jati. Ambang yang ia gambar cukup lebar untuk duduk, supaya orang bisa menonton matahari terbit tanpa harus bangun dari selimut. Ia duduk dengan punggung menghadap kaca, menghadap ke dalam kamar. Menghadap aku. Tangannya di pangkuan, dan aku melihat jari-jarinya bergerak. Mengepal. Membuka.
Aku berjalan ke tas jinjing. Aku berlutut di sampingnya dan mengeluarkan buket bunga matahari. Sebelas tangkai, kertas cokelat, tali rami. Penyok sedikit di satu sisi.
Ervan menatap buket itu. Wajahnya berubah.
“Monic...”
“Sebentar,” kataku. “Biarin aku selesai. Aku udah latihan tiga minggu.”
Aku mengeluarkan kotak kecil dari tas. Kotak beludru kuning. Kuning seperti kelopak bunga matahari. Aku yang memilih warnanya. Koh Liem bilang belum pernah ada yang minta kotak cincin warna kuning, Mbak, dan aku bilang sekarang ada.
Aku berdiri. Aku berjalan ke depan ambang jendela. Aku berdiri di depannya, dengan buket di satu tangan dan kotak kuning di tangan lain.
Lalu aku berlutut.
Lutut kanan. Di lantai kayu jati. Di kamar tidur utama. Di sudut yang pertama kena matahari.
Ervan berhenti bernapas.
“Aku udah nulis ini di kertas,” kataku. “Tapi aku tinggal di apartemen. Sengaja. Soalnya kalau aku bawa, aku bakal baca, dan kalau aku baca, aku bakal kedengeran kayak memo direksi.”
Ia tidak tertawa. Ia menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Tangannya berhenti mengepal.
“Tiga tahun lalu,” kataku, “aku berdiri di balik pilar dan dengar kamu bilang ke Oma soal rumah ini. Aku dengar kamu main piano dalam gelap. Aku ngembaliin obengmu di parkiran dan kamu bilang kamu takut. Terus aku nunggu seminggu, dan aku kalah.”
Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya.
“Aku nggak kalah dari Zara. Aku kalah dari diriku sendiri. Karena aku takut kelihatan ngejar. Karena aku mau semuanya sempurna dulu. Aku nunda. Aku selalu nunda.” Aku menarik napas. “Terus waktu pintunya kebuka, aku lari masuk tanpa nanya. Aku nggak pakai rem. Aku nabrak semuanya. Aku bilang kamu berlian yang dibuang. Aku bilang aku bakal mungut kamu. Aku nggak pernah nanya kamu mau dipungut atau nggak.”
Aku mengangkat buket bunga matahari.
“Aku belajar nanya, Van. Dari kamu. Dari dapur ibumu. Dari Opa. Dari aturan tiga.” Air mataku jatuh. “Jadi sekarang aku nanya. Bukan mutusin. Nanya.”
Aku membuka kotak kuning itu.
Cincin emas kuning. Polos. Tidak ada berlian. Hanya satu batu sangat kecil berwarna kuning di bagian atas, safir kuning seukuran biji wijen, yang Koh Liem bilang kelihatan kayak matahari yang lagi ngumpet. Dan di bagian dalam cincin, ukiran kecil yang tidak bisa ia lihat dari posisinya.
“Aku nggak pakai rem,” kataku. “Dari dulu. Tapi kali ini aku berhenti. Tepat di depanmu. Di lantai yang kamu bangun.”
Aku menatapnya.
“Ervan Pratama. Kamu mau nikah sama aku?”
Ia tidak menjawab.
Ia menatapku dari ambang jendela kayu jati, dengan punggung ke kaca, dengan langit di belakangnya yang pelan-pelan berubah dari biru tua menjadi ungu, lalu merah muda di ujung-ujungnya.
Lalu ia tertawa.
Bukan tawa yang pendek. Bukan tawa yang ditahan. Tawa yang keluar dari tempat yang sangat dalam, yang membuat bahunya berguncang dan matanya basah dan tangannya harus memegang tepi ambang jendela supaya tidak jatuh. Ia tertawa seperti di dapur Bu Laras, waktu sendok tenggelam di adonan kue lapis. Ia tertawa sampai air matanya jatuh, dan ia tidak mengusapnya.
“Van?” Suaraku kecil. “Van, kenapa ketawa? Ini... ini serius, aku lagi...”
“Aku tahu,” katanya di sela tawa. “Aku tahu. Maaf. Aku tahu.”
Ia merogoh saku kiri kemejanya.
Kotak kayu. Kayu jati. Kecil, halus, diampelas sampai berkilat. Dengan serat kayu yang sama persis dengan ambang jendela yang sedang ia duduki.
Aku menatap kotak itu. Aku berhenti bernapas.
“Koh Liem,” kata Ervan, masih tertawa, masih menangis. “Koh Liem bilang cincin itu kayak pintu. Kadang ada orang di sisi lain yang juga lagi pegang gagangnya.” Ia menggeleng. “Aku nggak ngerti. Aku pikir Koh Liem lagi puitis.”
Lalu ia turun dari ambang jendela.
Aku melihatnya terjadi. Pelan. Aku melihat lutut kanannya mulai menekuk. Aku melihat tubuhnya menegang di tengah jalan, dua puluh senti dari lantai, seperti ada sesuatu yang menahan. Aku melihat pahanya gemetar. Aku melihat keringat di pelipisnya, meskipun udara di kamar itu dingin sekali.
Aku melihat laki-laki yang takut berlutut, karena terakhir kali ia bersiap untuk berlutut, lantainya runtuh.
Ia tidak berhenti.
Lututnya terus turun. Satu senti demi satu senti. Gemetar. Biarin gemetar, aku ingat Bu Laras bilang, di pesan yang ia kirim ke grup Harrison Mamas kemarin malam, yang kubaca di tempat tidur sambil menangis.
Lututnya menyentuh lantai kayu.
Di depanku. Berhadapan. Dua orang berlutut di lantai kayu jati di kamar tidur utama, di sudut timur laut, dengan buket bunga matahari di antara kami dan dua kotak cincin, satu kuning, satu kayu.
Ia membuka kotak kayunya.
Emas kuning. Ramping. Dan di bagian atasnya, enam batu kecil. Hijau. Hijau daun teh yang baru tersentuh matahari pagi. Tersusun tidak rata. Dua di kiri, tiga di tengah, satu agak ke kanan.
Aku menatap batu-batu itu, dan aku tahu. Aku tahu sebelum ia mengatakan apa-apa.
Aku pernah melihat susunan itu. Setiap pagi. Di cermin kamar mandi, kalau aku berdiri cukup dekat. Di bawah lampu yang tepat.
“Matamu,” kata Ervan. Suaranya pecah. “Aku hitung. Di bawah matahari terbit. Di kamar ini, waktu belum ada atapnya. Enam. Dua di kiri, tiga di tengah, satu agak ke kanan.”
Aku tidak bisa bicara. Aku menutup mulut dengan tangan yang masih memegang kotak kuning.
“Bagian dalamnya,” katanya, memutar cincin itu supaya aku bisa melihat. “170823.”
Aku menangis.
Aku menangis di lantai kayu jati dengan lutut kanan di bawahku, dengan maskara yang tidak kupakai karena aku tahu aku akan menangis, dengan buket bunga matahari yang penyok di pangkuan dan kotak cincin kuning yang terbuka di tanganku.
“Aku mau jawab dulu,” kata Ervan. “Kamu nanya duluan. Aku jawab duluan.”
Ia menatapku. Mata yang tenang. Mata yang tidak lagi dingin.
“Aku bukan berlian yang kamu pungut, Monic,” katanya.
Kalimat itu jatuh di antara kami. Pelan. Setiap kata diletakkan seperti batu. Seperti kalimat yang kuucapkan di ruang keluarga Opa, berbulan-bulan lalu. Tapi dibalik.
“Aku yang jalan sendiri ke tanganmu,” katanya.
Aku tidak bisa bernapas.
“Iya,” katanya. “Aku mau nikah sama kamu.”
Lalu ia mengangkat kotak kayunya, sedikit, ke arahku. Lututnya masih gemetar di lantai kayu. Tangannya juga.
“Sekarang aku nanya,” katanya. “Monica Angelica Harrison. Kamu mau nikah sama aku?”
Aku tidak ingat apa yang kukatakan. Tasya bertanya kemudian, dan Kayla, dan Mama, dan Bu Laras, dan aku tidak bisa menjawab mereka, karena aku benar-benar tidak ingat. Aku hanya ingat bahwa aku mengangguk. Lalu mengangguk lagi. Lalu mungkin aku bilang iya atau mau atau dari dulu, atau mungkin aku tidak bilang apa-apa dan hanya menangis, dan ia mengerti.
Yang aku ingat adalah tangannya, yang gemetar, memasangkan cincin dengan enam batu hijau di jari manis kiriku. Pas. Tentu saja pas. Ia arsitek. Ia pasti mengukur jariku diam-diam entah kapan, entah bagaimana.
Dan aku ingat tanganku sendiri, yang lebih gemetar lagi, memasangkan cincin dengan batu kuning kecil di jari manis kirinya.
Ia menatap cincin itu di jarinya. Lalu ia melepasnya lagi, pelan, dan memutarnya di bawah cahaya yang mulai masuk dari jendela, dan membaca ukiran di bagian dalamnya.
Nggak perlu ketuk.
Ia membacanya lama sekali. Bibirnya bergerak tanpa suara.
“Nggak perlu ketuk,” ulangnya pelan.
“Buat pintu mana pun,” kataku. “Pintu kamarmu. Pintu kamar mandi. Pintu apartemenku. Pintu rumah ini.” Aku menarik napas. “Pintu aku. Kamu nggak perlu ketuk. Nggak perlu nunggu dua belas detik. Nggak akan ada apa-apa di balik pintu yang bikin kamu takut. Cuma aku. Dan mungkin panci yang meleleh.”
Ervan memasang cincin itu kembali di jarinya. Lalu ia menatapku.
Dan matahari muncul.
Tidak pelan-pelan. Seperti seseorang yang membuka pintu. Dari balik punggung gunung di seberang lembah, cahayanya menembak lurus melintasi kebun teh dan kabut dan pohon kesemek di sudut lahan yang dipertahankan karena dia udah di sini duluan, menembus kaca jendela yang bersih, dan jatuh ke lantai kayu jati.
Jatuh ke kami. Dua orang yang berlutut berhadapan di tengah kamar, dengan buket bunga matahari di antara mereka.
Jatuh ke cincin di jariku. Enam batu hijau menyala.
Ervan mengangkat tangannya ke wajahku. Tidak berhenti di tiga senti. Tidak berhenti di mana pun. Telapak tangannya di pipiku, hangat, sedikit kasar di bagian dalam jari tempat pensil bertahun-tahun menekan.
“Hijaunya,” katanya pelan. “Sama.”
Lalu ia menciumku.
Di bawah matahari pertama. Di kamar yang dulu tidak punya atap. Dalam dan pelan dan tidak ragu sama sekali, dengan tangannya di wajahku dan tanganku di kerah kemejanya, dengan lutut kami berdua di lantai kayu yang tidak runtuh. Ciuman orang yang sudah menunggu tiga tahun dan sembilan puluh lima hari dan lima belas hari tanpa bunga, yang akhirnya tidak perlu menunggu lagi.
Ketika kami berhenti, dahinya di dahiku.
“Lututku gemetar,” bisiknya.
“Aku tahu,” bisikku. “Punyaku juga.”
“Ibu bilang biarin gemetar.”
“Ibu bilang itu juga ke aku.” Aku tertawa. “Di grup.”
Ia tertawa. Dahinya bergetar di dahiku.
Ia memainkan lagu itu di ruang piano pukul enam lewat sepuluh. Piano Bapaknya sudah disetem. Setiap nada jernih. Aku duduk di sampingnya di bangku kayu yang permukaannya licin karena bertahun-tahun dipakai, dengan kepala di bahunya, dan menonton jari-jarinya bergerak di atas tuts yang menguning. Cincin dengan batu kuning kecil berkilat di jari manis kirinya setiap kali tangannya bergerak ke nada tinggi.
Kami makan lemper di dapur. Dua. Bu Laras memang bikin dua. Aku duduk di kursi tinggi. Ia berdiri di depan kompor induksi dan tidak memasak apa-apa, hanya berdiri di sana dan menatapku makan lemper dengan cincin berbatu hijau di jari, seperti orang yang menatap bangunan yang baru selesai dan belum percaya bangunan itu berdiri.
Pukul delapan pagi, kami mendengar suara.
Dari langit. Keras. Berdentum. Semakin dekat.
Ervan menatapku. Aku menatap Ervan.
Kami berlari ke teras.
Di atas kebun teh, di langit biru yang cerah, persis seperti yang Pak Asep ramalkan, sebuah helikopter putih dengan logo Harrison di ekornya berputar pelan, mencari tempat mendarat. Di jalan desa sempit di bawah, konvoi mobil menanjak. SUV hitam Pak Harun di depan. Mobil Om Daniel. Mobil Tasya dengan Gilang melambai dari jendela. Mobil tua Pak Asep dengan bak terbuka, penuh tukang yang bersorak. Dan di belakangnya, sebuah Kijang tua yang aku tidak kenal, dengan seorang perempuan berkacamata manik-manik di kursi penumpang.
Helikopter itu mendarat di lapangan kosong di sebelah kebun teh, di tempat yang, aku tahu kemudian, sudah diizinkan Pak Asep lewat kepala desa tiga hari sebelumnya. Rumput-rumput tertiup angin baling-baling. Kabut terakhir terhempas.
Pintu helikopter terbuka.
Papa melompat turun. Setelan jas, dasi motif kotak-kotak, dan wajah yang merah basah. Di belakangnya, Mama, dengan kalung mutiara dan ekspresi seorang jenderal yang akhirnya menyerah pada pasukannya sendiri. Lalu Opa, dibantu Pak Karyo, dengan tongkat eboni.
Papa berlari ke pagar bambu. Ia berhenti di sana. Ia tidak masuk. Ia berdiri di balik pagar, dengan kedua tangan di bawah ketiak, dijepit, seperti orang yang sedang menahan dirinya sendiri secara fisik.
Ia menatap Ervan. Wajahnya bertanya.
Mobil-mobil lain berhenti di belakangnya. Om Daniel. Tante Ratna. Kayla dengan kamera film, yang tidak diangkat, menunggu. Gilang dan Tasya. Pak Asep dan tukang-tukangnya. Bu Laras, turun dari SUV Pak Harun dengan kebaya brokat ungu. Bu Dewi, turun dari Kijang tua dengan buket bunga matahari yang sangat besar.
Semua orang berhenti di balik pagar bambu. Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang bersorak. Tidak ada yang tepuk tangan.
Semua orang menunggu.
Aku menoleh ke Ervan. Ia berdiri di teras, di sampingku, dengan cincin berbatu kuning di jari dan mata yang basah. Ia menatap keluarga di balik pagar bambu. Keluarga yang dulu membuatnya merasa seperti piala. Keluarga yang dulu bertepuk tangan seperti penonton pertandingan.
Keluarga yang sekarang berdiri diam di balik pagar, menunggu izinnya.
Ervan mengangkat tangan kirinya. Tangan dengan cincin. Tinggi-tinggi. Supaya semua orang bisa melihat.
“Om,” katanya ke arah Papa. Suaranya keras, melintasi halaman. “Sekarang boleh.”
Papa melepaskan tangannya dari ketiak.
Dan di atas bukit di Puncak, di depan rumah yang Oma suruh dibangun, dengan helikopter yang baling-balingnya masih berputar pelan dan kebun teh yang hijau dan matahari pagi yang terang, keluarga Harrison bertepuk tangan.
Papa mengacungkan dua jempol dan menangis. Mama menangis tanpa menegur Papa. Opa mengetuk tanah dengan tongkat eboninya, berkali-kali, seperti tepuk tangan versi Opa. Om Daniel memeluk Tante Ratna. Kayla mengangkat kamera film dan menatap Ervan, dan Ervan mengangguk, dan Kayla mulai merekam. Gilang berteriak sesuatu tentang drama Korea dan Tasya tidak menginjak kakinya. Pak Asep dan tukang-tukang bersorak dalam bahasa Sunda. Bu Dewi melambaikan buket bunga matahari raksasa.
Dan Bu Laras, di tengah semua itu, berdiri diam di balik pagar bambu dengan kebaya brokat ungu, dan menatap anaknya, dan tersenyum. Senyum yang dimulai dari mata.
Ponselku bergetar di saku jaket bomber. Panggilan video. Dari Singapura.
Aku mengangkatnya. Wajah Zara muncul di layar, dengan latar belakang jendela yang menghadap ke laut tapi terhalang gedung lain. Matanya merah. Ia tersenyum.
“Kayla kirim live,” katanya. “Aku lihat dari tadi. Dari kalian berdua berlutut.”
“Zara...”
“Selamat, Monic.” Zara mengusap matanya. “Selamat, Van.”
Ervan mendekat ke layar ponselku. Ia menatap Zara.
“Makasih, Zara,” katanya. Lalu, pelan: “Kamu gimana di sana?”
Zara tertawa. Tawa yang tidak mendongak, tapi juga tidak menunduk. Tawa yang di tengah.
“Lagi belajar,” katanya.
Siang itu, setelah semua orang masuk ke villa dan Bu Laras dan Tante Ratna dan Mama mengambil alih dapur dengan meja panjang, dan Papa mencoba memainkan piano Bapak Ervan dan dilarang Opa, dan Pak Asep meramalkan hujan pukul tiga dan hujan benar-benar turun pukul tiga, aku duduk di ambang jendela kamar tidur utama dengan buket bunga matahari yang penyok di pangkuan.
Aku menatap cincin di jariku. Enam batu hijau. Dua di kiri, tiga di tengah, satu agak ke kanan.
Di ambang pintu kamar, Ervan berdiri. Ia tidak mengetuk. Ia langsung masuk, dan duduk di sampingku di ambang jendela, dan meletakkan kepalanya di bahuku.
“Monic.”
“Hm?”
“Kamu duluan,” katanya. “Kamu berlutut duluan.”
“Aku tahu.”
“Kenapa?”
Aku menatap hujan di luar jendela. Kebun teh yang basah. Pohon kesemek yang bergoyang pelan.
“Supaya kamu nggak perlu takut lantainya runtuh,” kataku. “Aku mau kamu lihat ada orang di lantai itu duluan. Berlutut. Dan lantainya nggak runtuh.”
Ervan tidak menjawab. Ia hanya memutar kepalanya sedikit dan mencium bahuku, di atas jaket bomber hitamnya yang tidak pernah dicuci.
“Tapi kamu tetap berlutut,” kataku. “Padahal aku udah duluan. Kamu bisa aja duduk di ambang dan bilang iya.”
“Aku tahu.”
“Kenapa?”
Ia mengangkat kepala dari bahuku dan menatapku. Mata yang tenang. Mata yang tidak lagi dingin.
“Karena Bapak nggak bisa berlutut,” katanya. “Lututnya keseleo. Dia duduk di teras rumah Mbah dan bilang dia bakal balik terus sampai Mbah capek.” Ia tersenyum. “Aku mau berlutut buat dua orang. Buat aku. Sama buat Bapak.”
Aku menangis lagi. Untuk kesekian kalinya pagi itu. Aku sudah berhenti menghitung.
Di luar jendela, di bawah hujan, sebatang bunga matahari di kebun kecil yang Pak Asep tanam di pinggir teras tanpa sepengetahuan kami, menundukkan kepalanya yang berat karena air.
Tapi tetap menghadap ke timur.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan reading
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk