Chapter Forty
Berlian yang Memilih
POV: Ervan
Pagi hari pernikahanku, Ibu membuat nasi goreng kampung.
Hari Minggu. Tentu saja hari Minggu. Tante Sofia dan Tante Ratna dan Ibu menghabiskan tiga minggu di grup Harrison Mamas untuk memilih tanggal, dan grup itu, yang sekarang beranggotakan tiga belas ibu dan satu Opa yang tidak tahu cara keluar dari grup, akhirnya sepakat pada hari Minggu pertama di bulan Maret. Alasannya, menurut Tante Sofia, cuaca di Puncak paling bagus. Menurut Pak Asep, yang dikonsultasikan lewat telepon oleh Tante Ratna, cerah, moal hujan, iwal ti soré. Menurut Ibu, yang tidak bilang apa-apa di grup tapi bilang kepadaku di dapur: Minggu pagi itu harinya Bapakmu.
Aku bangun pukul tiga. Aku tidak mengetuk pintu kamarku ketika keluar untuk wudu. Aku tidak mengetuk pintu kamar mandi. Sudah empat bulan aku tidak mengetuk pintu mana pun, dan kadang-kadang, di tengah malam, aku masih berhenti sebentar di depan pintu dengan tangan terangkat, lalu ingat, lalu tertawa sendiri dan masuk.
Ketika aku kembali ke dapur, Ibu sudah di depan kompor.
Buku resep bersampul cokelat terbuka di atas meja makan. Di halaman yang bernoda minyak. NASI GORENG KAMPUNG. MINGGU PAGI. BUAT VAN.
Ibu tidak menoleh. Tangannya mengiris bawang merah, tipis-tipis. Tangannya tidak gemetar.
“Duduk,” kata Ibu.
Aku duduk. Di kursi yang sama. Kursi tempat aku duduk di pagi aku memindahkan kotak beludru dari saku kanan ke saku kiri empat kali.
Ibu memasak. Aku menontonnya. Cabai rawit tiga saja. Terasi sedikit. Kecap manis dituang melingkar. Telur ceplok, kuningnya setengah matang.
Ia meletakkan piring itu di depanku. Piring bergambar ayam jago.
“Dua belas tahun Ibu nggak bisa bikin ini,” kata Ibu pelan. “Tangan Ibu gemetar tiap buka bukunya.” Ia duduk di seberangku. “Nduk yang bikin tangan Ibu nggak gemetar lagi. Dia buka buku ini duluan. Dia nangis di talenan. Terus dia masak. Terus Ibu lihat, ternyata bisa.”
Aku menusuk kuning telurnya. Aku menatapnya meleleh.
“Bapakmu pasti seneng,” kata Ibu.
Aku memakannya. Rasanya sama. Rasanya persis. Rasanya Minggu pagi, dengan Bapak di depan kompor dan radio yang memutar lagu lama dan bau terasi yang membuat tetangga tahu bahwa di rumah pagar hijau ada yang sedang dimasakkan sesuatu.
Ketika aku selesai, Ibu mengeluarkan sesuatu dari lemari rotan.
Kain. Terlipat rapi. Batik cokelat tua, motif parang, dengan warna yang sudah sedikit pudar di lipatan-lipatannya.
“Batik nikahan Bapakmu,” kata Ibu. “Ibu bawa ke penjahit di pasar bulan lalu. Dikecilin sedikit di pinggang. Bapakmu lebih gendut dari kamu.”
Aku menatap kain itu. Aku tidak bisa menyentuhnya.
“Pakai,” kata Ibu. “Bapakmu nggak bisa datang. Jadi batiknya yang datang.”
Villa itu tidak terlihat seperti villa pagi itu.
Villa itu terlihat seperti rumah. Rumah dengan jendela-jendela yang terbuka, tirai putih yang bergerak pelan karena angin dari lembah, dan asap tipis dari dapur di mana Chef Bram dan dua sous chef-nya sudah memasak sejak subuh. Di teras yang cukup untuk duduk berdua, ada dua kursi rotan dengan bantal kotak-kotak. Di halaman, kursi-kursi kayu putih disusun setengah lingkaran menghadap ke pohon kesemek di sudut lahan.
Dan bunga matahari di mana-mana.
Di setiap kursi, satu tangkai diikat dengan tali rami. Di sepanjang jalan setapak dari pagar bambu ke pohon kesemek, dalam pot-pot tanah liat seharga lima belas ribu dari pasar di belakang stasiun Tebet. Di pinggir teras, di kebun kecil yang Pak Asep tanam diam-diam empat bulan lalu, bunga-bunga matahari yang sekarang sudah tinggi sampai ke dada, dengan kepala besar yang semuanya menghadap ke timur.
Bu Dewi berdiri di tengah halaman dengan kacamata manik-manik dan tiga ember bunga, mengarahkan tukang-tukang Pak Asep yang sekarang, entah bagaimana, sudah menjadi asisten florist.
“Yang itu miring, Jang! Miring! Kepala bunganya harus ngadep ke timur semua! Timur!”
“Ieu timur, Bu!”
“Itu barat! Matahari terbit dari sana!” Bu Dewi menunjuk ke arah gunung. “Dari sana!”
Pak Asep berdiri di teras dengan helm proyek dan kemeja batik baru, bersedekap, menatap langit.
“Cerah,” katanya kepadaku ketika aku turun dari mobil. “Cerah pisan, Jang. Tapi engké soré...”
“Hujan, Pak?”
Pak Asep menatapku. Lalu tersenyum dengan satu giginya.
“Lain hujan,” katanya. “Hari ini mah nggak ada angin yang nyabut. Hari ini angin yang nanam.”
Gilang menjadi pembawa acara.
Ia sudah mengumumkannya tiga tahun lalu, di studio, di pagi aku memindahkan kotak beludru ke saku kiri. Nanti kalau jadi, aku yang jadi MC nikahan. Nggak boleh dibantah. Aku udah latihan intonasi. Waktu itu aku tertawa. Waktu itu aku pikir ia bercanda.
Ia tidak bercanda. Ia berdiri di depan pohon kesemek dengan kemeja batik yang disetrika sampai kaku dan kartu-kartu yang dilaminating, dan suaranya, ketika ia berbicara ke mikrofon, bergetar di setiap kalimat.
Tasya berdiri di sampingnya dengan tablet. Di tablet itu ada spreadsheet. Tentu saja ada spreadsheet. Tab-nya berjudul RUNDOWN, dengan kolom-kolom berwarna dan satu grafik batang yang, kata Tasya, penting untuk moral pasukan.
Kayla berdiri di sudut halaman dengan kamera film di leher dan kamera video di tangan. Ia menatapku ketika aku berjalan ke depan pohon kesemek, dan mengangkat alis. Bertanya.
Aku mengangguk.
Ia mulai merekam.
Monica muncul dari pintu rumah pukul delapan lewat lima belas.
Aku tidak tahu bagaimana menceritakan ini dengan benar. Aku sudah mencoba di kepalaku sejak pagi, sejak Ibu menyerahkan batik Bapak. Aku sudah mencoba menyusun kalimat-kalimatnya seperti menyusun gambar kerja, garis demi garis, supaya tidak ada yang salah. Tapi ketika ia muncul di ambang pintu, semua garis itu hilang.
Kebaya putih. Bukan brokat yang berat, tapi sesuatu yang lebih ringan, yang jatuh lembut di bahunya dan melekat di pinggangnya dan bergerak ketika angin dari lembah lewat. Kain batik di bawahnya, cokelat tua dengan motif parang. Sama dengan batik Bapak yang kupakai. Aku tidak tahu. Tidak ada yang memberitahuku. Aku menoleh ke Ibu di barisan depan, dan Ibu menatap lurus ke depan dengan wajah yang terlalu tenang.
Harrison Mamas. Tentu saja.
Rambutnya digelung rendah di tengkuk, longgar, dengan beberapa helai hitam kecokelatan yang dibiarkan lolos di pelipis, seperti di hari ia menenggelamkan sendok di dapur Ibu. Di gelungnya, di sisi kiri, satu kuntum bunga matahari kecil. Hanya satu. Kelopaknya kuning terang di antara rambut gelap.
Wajahnya hampir tanpa riasan. Kulitnya yang terang bersinar di bawah matahari pagi. Tahi lalat kecil di bawah mata kanan terlihat jelas, titik gelap mungil yang membuat seluruh wajahnya terlihat seperti sesuatu yang sudah diselesaikan dengan hati-hati. Bibirnya berwarna merah muda gelap. Dan matanya...
Ia berdiri di ambang pintu dan menatapku di ujung jalan setapak, dan matahari pagi dari timur jatuh tepat ke wajahnya, dan aku melihat hijaunya dari jarak dua puluh meter.
Dua puluh meter. Aku tidak seharusnya bisa melihatnya dari jarak dua puluh meter. Hijau itu hanya kelihatan kalau berdiri cukup dekat.
Tapi aku melihatnya. Enam titik. Dua di kiri, tiga di tengah, satu agak ke kanan. Menyala di bawah matahari seperti daun teh yang baru tersentuh cahaya.
Aku lupa bernapas. Aku lupa berkedip. Aku lupa ada seratus dua puluh orang di halaman ini, dan Gilang di sampingku dengan mikrofon, dan Kayla dengan kamera. Aku lupa segalanya kecuali perempuan di ambang pintu rumah yang Oma suruh aku bangun, yang berdiri di sana dengan kebaya putih dan bunga matahari di rambutnya, dan tersenyum. Senyum yang miring, lebih tinggi di sisi kiri.
Ia cantik. Ia cantik dengan cara yang tidak bisa kuhitung, tidak bisa kugambar, tidak bisa kususun menjadi kalimat yang rapi. Ia cantik seperti matahari pertama yang masuk ke kamar tanpa atap. Seperti sendok yang tenggelam di adonan. Seperti tetes air di ujung bulu mata di bedeng proyek, di tengah hujan.
Ia cantik, dan ia berjalan ke arahku.
“Van,” bisik Gilang di sampingku, dengan mikrofon yang untungnya dimatikan. “Van. Kedip. Kamu udah nggak kedip tiga puluh detik. Aku ngitung.”
Aku berkedip.
Di barisan depan, Om Richard menangis ke saputangan sutra Tante Sofia. Opa mengetuk tanah dengan tongkat eboninya, pelan, berkali-kali.
Monica berjalan di jalan setapak di antara pot-pot tanah liat berisi bunga matahari, di samping Om Richard yang entah kapan sudah berdiri untuk mendampinginya, dengan wajah merah basah dan tangan yang, kali ini, tidak diduduki.
Om Richard berhenti di depanku. Ia menatapku. Ia menyerahkan tangan anaknya kepadaku.
“Jaga dia,” katanya dengan suara yang pecah. “Tapi jangan genggam terlalu erat. Opa bilang gitu.”
“Iya, Om.”
“Papa,” koreksinya. “Mulai hari ini, Papa.”
Aku tidak akan menceritakan semua bagian dari pagi itu.
Sebagian karena Kayla merekam semuanya, dan filmnya, yang kemudian ia jadikan tugas akhir kedua dengan judul yang tidak mau ia beritahukan kepada siapa pun sampai hari sidang, lebih baik daripada apa pun yang bisa kuceritakan. Sebagian lagi karena ada bagian-bagian yang hanya milik kami berdua.
Tapi aku akan menceritakan beberapa.
Aku akan menceritakan tentang janji.
Kami menulis janji kami sendiri. Tasya bilang kami harus memberinya draf dua minggu sebelumnya, untuk dicek di spreadsheet, supaya durasinya pas. Monica memberinya draf. Aku tidak. Aku bilang aku akan bicara tanpa kertas. Tasya menatapku seperti menatap vendor yang tidak menyerahkan dokumen, lalu menyerah.
Monica bicara duluan.
Ia berdiri di depanku, di bawah pohon kesemek yang sudah di sini duluan, dengan tanganku di tangannya, dan cincin berbatu hijau di jari manis kirinya berkilat di bawah matahari.
“Aku janji nggak akan genggam kamu terlalu erat,” katanya. Suaranya bergetar sedikit, lalu stabil. “Aku janji tiap pagi aku bakal lepasin kamu. Dalam hati. Kayak Opa ke Oma. Aku bakal bilang, kalau hari ini kamu mau pergi, pergilah.“
Di barisan depan, Opa menutup mata.
“Dan aku janji,” kata Monica, “tiap pagi aku tetap di sini. Di sebelahmu. Supaya kalau kamu milih tinggal, kamu tahu ke mana harus pulang.”
Ia menarik napas.
“Aku janji bakal nanya. Sebelum mutusin apa pun. Soal kamu, soal kita, soal hal sekecil kamu mau kopi susu atau teh manis.” Ia tersenyum. “Aku janji bakal pasang rem. Tapi aku juga janji, kalau kamu butuh aku ngebut, aku bakal ngebut.”
Beberapa tamu tertawa. Gilang tertawa dan menangis sekaligus.
“Dan aku janji,” kata Monica, lebih pelan, “kamu nggak akan pernah perlu ngetuk pintu mana pun yang ada aku di baliknya.”
Aku merasakan cincin di jari manis kiriku. Emas kuning, safir kuning seukuran biji wijen. Nggak perlu ketuk.
Lalu giliranku.
Aku tidak punya kertas. Aku menatap Monica, dan menatap tangannya di tanganku, dan menatap matanya.
“Tiga tahun lalu,” kataku, “aku bilang ke Oma di dekat pilar, aku mau jendela kamar ngadep timur. Supaya yang bangunin itu matahari, bukan alarm.” Aku menarik napas. “Aku lupa. Kamu yang ingat. Kamu yang bangun rumah ini buat aku, di tanah Oma, pakai uangmu, pakai nama asistenmu supaya aku nggak nolak.”
Di sudut halaman, Tasya mengusap mata di balik kacamata bulatnya.
“Aku nggak tahu mau janji apa,” kataku. “Aku udah mikir tiga minggu. Aku nggak nemu kalimat yang cukup. Jadi aku cuma mau bilang satu hal. Yang aku pelajari di kamar ini, waktu belum ada atapnya.”
Aku mengangkat tanganku dan mengusap pipinya dengan ibu jari. Pelan. Dari bawah mata kanan, melewati tahi lalat kecil itu, sampai ke tulang pipi.
“Dulu, setiap lihat matamu, aku lihat pintu itu,” kataku. “Mata Harrison. Mata yang sama. Dadaku dingin tiap kali.”
Monica berhenti bernapas.
“Tapi mata ini beda,” kataku. “Mata ini ada hijaunya. Enam. Aku hitung. Nggak ada orang lain di dunia yang punya hijau di tempat yang sama.” Aku menatapnya dari jarak yang cukup dekat. “Mata ini cuma punya kamu, Monic. Dan mulai hari ini, setiap pagi, di jendela yang ngadep timur, aku janji bakal berdiri cukup dekat buat lihat hijaunya.”
Monica menangis. Aku mengusap air matanya dengan ibu jari.
Di barisan depan, Ibu menangis. Tante Ratna menangis. Tante Sofia menangis tanpa saputangan karena saputangannya dipakai Om Richard. Pak Asep melepas helm proyeknya.
Dan aku tidak menangis. Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah menangis di pangkuan Ibu, dua jam, di malam aku akhirnya bilang aku nggak baik-baik saja. Sejak itu, aku tidak perlu menangis lagi. Yang tersisa di dadaku sekarang bukan air mata. Yang tersisa adalah sesuatu yang jernih dan hangat dan kokoh, seperti lantai kayu jati di kamar tidur utama yang tidak runtuh ketika aku berlutut.
Ketika semuanya selesai, ketika kami resmi, ketika Gilang mengumumkannya ke mikrofon dengan suara yang pecah total sampai Tasya harus mengambil alih, aku menciumnya.
Di depan seratus dua puluh orang. Di bawah pohon kesemek. Di halaman rumah yang Oma suruh aku bangun.
Tidak pelan. Tidak hati-hati. Aku menciumnya seperti orang yang tidak lagi takut pada apa pun yang ada di balik pintu. Dalam. Lama. Dengan tangan di wajahnya dan tangannya di kerah batik Bapak, dengan bunga matahari kecil di rambutnya yang bergetar karena angin dari lembah. Aku menciumnya sampai aku lupa ada kamera, ada Kayla, ada Opa dan Papa dan Mama dan dua ibu yang menangis di barisan depan.
Ketika kami berhenti, halaman itu sunyi.
Lalu Papa berdiri. Ia menatapku. Kedua tangannya terangkat setengah, ragu, seperti bertanya.
Aku mengangguk.
Dan seratus dua puluh orang bertepuk tangan. Papa mengacungkan dua jempol dan berteriak AKHIRNYA sampai suaranya habis. Pak Anto dan Dinda dan Chef Bram dan Mbak Ratih bersorak dari meja katering. Pak Tohir, yang datang dari Tebet dengan pengeras suara portabel bertenaga baterai, menyalakan dangdut. Bukan Ditinggal Rabi. Lagu yang lain. Lagu tentang seseorang yang akhirnya menikah dengan orang yang ia tunggu lama. Pak Tohir bilang ia mencarinya tiga hari.
Kali ini, aku tidak merasa seperti piala. Aku tidak merasa seperti sesuatu yang dimenangkan.
Aku merasa seperti orang yang pulang.
Opa bicara sebentar. Seperti biasa. Seperti teh yang baik, tanpa banyak gula.
Ia berdiri dengan tongkat eboni di depan pohon kesemek dan menatap kami berdua.
“Dorothy bilang rumah ini harus dibangun,” kata Opa. “Anak ini janji. Cucu kami yang ingat.” Ia menatap rumah di belakang kami. Atap genteng merah bata. Dinding putih gading. Jendela yang menghadap timur. “Rumahnya sudah jadi, Dorothy. Kamu bisa istirahat.”
Lalu Ibu bicara. Ibu tidak pernah bicara di depan banyak orang. Ibu bahkan tidak mau jadi ketua arisan RT karena harus bicara di depan dua belas ibu-ibu.
Ibu berdiri di depan pohon kesemek dengan kebaya brokat ungu dan tas tangan kulit imitasi yang dipegang erat, dan menatap seratus dua puluh orang, dan untuk sesaat aku pikir ia akan duduk lagi.
Ia tidak duduk.
“Waktu Ervan pulang malam itu,” kata Ibu, dengan suara yang terlalu tinggi, seperti waktu menyamar jadi Bu Sri, “dia bilang nggak jadi, Bu. Ibu nggak tanya apa-apa. Ibu cuma bikinin teh manis. Terus dia bilang dia baik-baik aja.” Ibu menarik napas. “Ibu tahu dia bohong. Ibu nunggu. Lama. Ibu nggak tahu harus ngapain.”
Ibu menoleh ke Monica.
“Terus Nduk datang,” kata Ibu. “Ke dapur Ibu. Masukin sendok ke adonan. Ervan ketawa.”
Halaman itu tertawa. Ibu tersenyum.
“Makasih, Nduk,” kata Ibu. “Makasih udah bikin anak Ibu ketawa lagi. Makasih udah buka buku resep Bapaknya. Makasih udah nggak pakai rem.” Ia berhenti. “Tapi makasih juga udah berhenti waktu dia minta.”
Monica berlari ke Ibu dan memeluknya. Di depan pohon kesemek. Di depan seratus dua puluh orang. Kebaya putih dan kebaya brokat ungu. Dua perempuan yang memasak nasi goreng dari buku resep yang sama.
Sore hari, setelah makan siang yang dimasak Chef Bram dengan menu yang dipilih oleh tiga belas ibu di grup Harrison Mamas (nasi goreng kampung, opor, rendang dua hari, kue lapis sembilan lapis, nagasari), setelah Zara menelepon dari Singapura lewat video dan memperlihatkan hadiah pernikahan yang ia kirim, sepasang cangkir keramik bertuliskan KOPI SUSU dan KOPI SUSU JUGA, setelah Siti anak Mang Ujang memberiku gambar denah rumah yang ia gambar sendiri dengan penggaris dan bilang ia sudah diterima di teknik sipil, setelah Gilang dan Tasya mengumumkan bahwa mereka akan menikah bulan Juni dan Gilang akan memakai kemeja berkerah bahkan di hari Minggu, Monica menarikku ke kamar tidur utama.
Di ambang jendela kayu jati, ada sesuatu. Dibungkus kertas cokelat. Diikat tali rami.
“Hadiah,” kata Monica.
Aku membukanya.
Buku. Bersampul kulit cokelat. Dijilid tangan. Di sampulnya, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan dan ekor huruf g yang melengkung seperti kail pancing, tertulis:
YANG KAMU LUPA.
Aku membukanya.
Setiap halaman, satu hal. Ditulis tangan. Tinta biru tua.
Remote TV, umur 4 tahun, disembunyikan di bawah kasur. Tuyul. Komponennya masih di kaleng Khong Guan. (Bu Laras udah nunjukin. Aku udah resmi.)
Nasi goreng kampung. Minggu pagi. Cabai 3. Telur setengah matang, suka ditusuk.
Jendela menghadap timur. Supaya matahari yang bangunin.
Opor lebaran. Cuma makan kuahnya. Ayamnya buat Ibu.
Bapaknya latihan megang pisang seminggu biar nggak lecet.
Satu lagu piano. Dari kaset. Tiga bulan.
Seratus dua puluh halaman. Aku membaliknya satu per satu. Hal-hal yang aku lupa. Hal-hal yang Ibu ceritakan di dapur. Hal-hal yang Gilang ceritakan ke Tasya ke Monica. Hal-hal yang Kayla ingat dari Minggu malam di rumah Pondok Indah. Hal-hal yang ia lihat sendiri, dari anak tangga kelima, dari balik pilar, dari kursi tinggi di dapur.
Halaman terakhir.
Dia pernah bisa tersenyum di depan pintu. Kayla punya videonya.
Sekarang dia bisa lagi. Aku punya buktinya. Setiap pagi.
Aku menutup buku itu. Aku memeluknya di dadaku. Di tempat yang dulu diisi kotak beludru. Di tempat batu dingin itu pernah menjadi satu-satunya yang kurasakan.
Batu itu masih ada. Aku rasa ia akan selalu ada. Batu pertama, di sudut timur laut, di sudut yang pertama kena matahari.
Fondasi. Bukan luka.
Malam itu, sebelum semua orang pulang ke Jakarta, sebelum Pak Harun menyalakan SUV-nya dan Pak Asep menyalakan truk bak terbukanya dan Opa dibantu Pak Karyo naik ke mobil, Ibu memelukku di teras.
Teras yang cukup untuk duduk berdua. Dengan dua kursi rotan dan bantal kotak-kotak. Dengan kebun bunga matahari Pak Asep di pinggirnya, yang kepalanya menunduk karena malam tapi tetap menghadap ke timur.
Ibu memelukku lama. Tangannya menepuk punggungku, naik turun, seperti malam itu, dengan teh manis yang terlalu manis.
Lalu ia melepaskan pelukan dan menatapku. Dengan mata yang membaca wajahku seperti pertama kali, dari balik pagar hijau yang catnya mengelupas.
“Van,” kata Ibu. “Kamu baik-baik aja?”
Pertanyaan yang sama. Di teras. Seperti malam itu.
Aku memikirkannya. Aku memberinya hormat untuk memikirkannya dengan jujur, seperti menghitung beban struktur. Aku memikirkan pintu 2307. Lift yang turun dua puluh tiga lantai dalam empat puluh detik. Pom bensin di Fatmawati. Dua belas detik di depan setiap pintu. Rekaman dua menit empat puluh satu detik. Pangkuan Ibu.
Lalu aku memikirkan passcode enam angka. Kue lapis sembilan lapis. Tirai bunga kering di langit-langit studio. Lantai kayu jati yang tidak runtuh. Enam titik hijau.
“Sekarang aku baik, Bu,” kataku.
Ibu menatapku.
“Beneran,” kataku.
Ibu tersenyum. Senyum yang dimulai dari mata, yang sama seperti waktu aku bilang cantik banget, Bu di meja makan, di malam setelah rapat pertama villa.
Ia menepuk pipiku. Seperti Oma di dekat pilar.
Lalu ia masuk ke mobil, dan melambai dari jendela, dan mobil itu menuruni jalan desa yang membelah kebun teh, dan menghilang di tikungan.
Aku berdiri di teras sampai lampu-lampu mobil terakhir hilang di lembah.
Di belakangku, pintu rumah terbuka. Aku mendengar langkah kaki. Bukan sepatu. Kaki telanjang di lantai kayu. Ringan. Berhenti di ambang pintu.
“Van.”
Aku menoleh.
Ia berdiri di ambang pintu dengan kebaya putih yang sudah kusut dan bunga matahari kecil di rambut yang sekarang sudah separuh lepas. Kakinya telanjang. Di tangannya, dua cangkir keramik. KOPI SUSU dan KOPI SUSU JUGA.
“Aku bikin kopi,” katanya. “Kopi susu. Dua-duanya. Aku nggak nanya kamu mau apa.” Ia meringis. “Maaf. Pelanggaran pertama dalam pernikahan.”
Aku tertawa. Aku berjalan ke ambang pintu dan mengambil cangkir yang bertuliskan KOPI SUSU JUGA.
“Aku suka kopi susu,” kataku.
“Aku tahu,” katanya. “Itu ada di halaman empat puluh tujuh.”
Aku menatapnya. Istriku. Di ambang pintu rumah yang Oma suruh aku bangun, dengan kaki telanjang dan cangkir kopi susu dan hijau di matanya yang kelihatan di bawah lampu teras, karena aku berdiri cukup dekat.
Aku menciumnya di ambang pintu. Pelan. Sebentar. Rasa kopi susu.
Lalu kami masuk ke rumah, bersama-sama.
Aku tidak mengetuk.
Pintunya sudah terbuka.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih reading
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk