Chapter Three
Grup Keluarga Harrison
POV: Monica
Aku cantik. Mari kita selesaikan itu dulu supaya sisa cerita ini tidak perlu berputar-putar.
Aku tidak mengatakannya dengan sombong. Oke, sedikit sombong. Tapi terutama aku mengatakannya karena itu fakta, sama seperti fakta bahwa Jakarta macet dan kopi di lobi hotel kami terlalu mahal. Rambutku hitam kecokelatan, bergelombang besar sampai ke tengah punggung, dan tidak pernah butuh catok karena ia sudah tahu cara jatuh dengan benar. Kulitku terang, warisan Opa yang separuh Inggris. Mataku mata Harrison, cokelat keabuan yang berubah warna tergantung lampu, dengan bintik hijau kecil di dekat pupil yang hanya bisa dilihat kalau kamu berdiri cukup dekat. Belum banyak laki-laki yang pernah berdiri cukup dekat. Ada tahi lalat kecil di bawah mata kananku yang kata Mama adalah “titik koma Tuhan, supaya kalimat wajahmu nggak kepanjangan.” Mama memang puitis kalau habis minum anggur.
Kalau aku masuk ke ruangan, ruangannya diam sebentar. Aku sudah terbiasa. Dulu aku malu. Sekarang aku menganggapnya efisien: orang langsung memperhatikan, dan aku tidak perlu mengulang kalimat.
Malam itu, ruangan yang diam adalah Presidential Suite lantai tiga puluh delapan Harrison Grand Jakarta, dan yang membuatnya diam bukan kecantikanku, melainkan seorang pengusaha batu bara dari Kalimantan yang berdiri di tengah ruang tamu dengan jubah mandi hotel dan wajah semerah saus sambal.
“Saya minta kamar yang bisa lihat bulan,” katanya. “Bulan! Saya sudah bilang dari reservasi. Ini bulannya di mana?”
Aku berdiri di hadapannya dengan blazer krem dan senyum profesional nomor tiga, yang kupakai khusus untuk tamu yang jubah mandinya lebih mahal dari gaji bulanan staf housekeeping. Di sebelahku Tasya memegang tablet dan ekspresi orang yang sedang mempertimbangkan untuk pensiun dini.
“Pak Burhan,” kataku lembut, “bulannya ada. Hanya saja malam ini tertutup awan.”
“Ya kalau begitu pindahkan saya ke kamar yang tidak ada awannya!”
Tasya menatapku. Aku menatap Tasya. Kami sudah bersahabat sejak SMA dan bekerja bersama selama empat tahun, jadi kami bisa melakukan percakapan panjang hanya dengan alis. Alis Tasya berkata: Aku akan membunuhnya dengan tablet ini. Alisku berkata: Jangan, tablet itu aset perusahaan.
“Pak Burhan,” kataku lagi, masih dengan senyum nomor tiga, “awan adalah satu-satunya hal di Jakarta yang belum bisa dikendalikan Harrison. Tapi kami bisa melakukan hal berikut ini.”
Lima belas menit kemudian, Pak Burhan duduk di rooftop bar yang sudah tutup, yang kami buka lagi khusus untuknya, dengan teleskop pinjaman dari planetarium yang kebetulan direkturnya pernah menginap di hotel kami dan berutang budi padaku. Awannya bergeser pukul sembilan lewat dua belas menit. Pak Burhan melihat bulan. Pak Burhan menangis sedikit dan bercerita tentang almarhum ibunya yang dulu suka menunjuk bulan dari teras rumah panggung di Samarinda. Pak Burhan memberi tip kepada seluruh staf yang bertugas malam itu dan memesan kamar yang sama untuk bulan depan.
“Kamu penyihir,” kata Tasya di dalam lift turun.
“Aku Director of Guest Experience.”
“Itu sebutan resmi buat penyihir.” Ia memeriksa tabletnya. “Oke, Pak Burhan beres, suite 3504 minta bantal ekstra, dan grup keluargamu dari tadi getar terus di ponselku gara-gara kamu nyuruh aku pegang ponselmu waktu nego bulan.”
“Grup keluarga yang mana?”
“Yang namanya pakai Official.”
Aku mengerang.
Keluarga Harrison punya empat grup WhatsApp. Harrison Family (Official), yang berisi semua orang termasuk Opa, isinya ucapan ulang tahun dan foto bunga anggrek kiriman Tante Maureen. Harrison Family (Real), tanpa Opa, isinya gosip. Harrison Cousins, isinya meme dan rencana liburan yang tidak pernah jadi. Dan Harrison Mamas, yang aku tidak diizinkan masuk dan diduga merupakan pusat intelijen tingkat nasional.
Kalau grup Official bergetar terus, berarti ada yang meninggal, ada yang menikah, atau Opa baru belajar fitur baru dan mengirim stiker yang sama empat puluh kali.
Tasya menyerahkan ponselku.
Harrison Family (Official) — 214 pesan belum dibaca.
Aku membuka grup itu. Aku menggulir ke atas. Aku berhenti menggulir.
Pesan pertama dikirim Tante Ratna pukul tujuh lewat lima belas.
Tante Ratna: Doakan ya keluarga, malam ini ada kabar bahagia 🙏🙏🙏💍
Di bawahnya, belasan balasan. Emoji hati. Emoji tangan berdoa. Tante Maureen mengirim gambar anggrek bertuliskan Selamat & Sukses. Om Robert bertanya kabar apa nih?? dan tidak dijawab. Papa, dengan kecepatan yang mencurigakan, mengirim Wah! Ballroom Harrison Grand kosong bulan Desember, Papa sudah blok ya!! Mama membalas Papa dengan satu kata: Richard. Yang dalam bahasa Mama artinya diam, belum waktunya.
Lalu pukul delapan lewat dua puluh, Tante Ratna lagi.
Tante Ratna: Maaf semua, tadi salah kirim. Mohon abaikan.
Lalu pukul delapan lewat dua puluh satu, Opa.
Opa William: Ada apa?
Lalu tidak ada yang menjawab Opa selama empat puluh menit. Dalam grup keluarga Harrison, empat puluh menit tidak menjawab Opa adalah semacam gempa bumi.
Lalu pukul sembilan, Mama mengirim pesan yang tidak ditujukan ke grup, tapi ke nomorku langsung. Aku baru melihatnya sekarang karena Tasya tidak membuka pesan pribadi, karena Tasya punya etika, karena itu satu-satunya alasan aku belum memecatnya.
Mama: Monic. Telepon Mama begitu kamu selesai kerja.
Mama: Jangan buka grup Real dulu.
Tentu saja aku langsung membuka grup Real.
Harrison Family (Real) — 389 pesan belum dibaca.
Aku tidak membaca semuanya. Aku tidak perlu. Potongan-potongannya sudah cukup, seperti pecahan kaca yang masing-masing memantulkan sebagian dari gambar yang sama.
Tante Linda: Ya Allah beneran??
Om Robert: Siapa laki-lakinya?
Tante Maureen: Kasihan Ratna, dari tadi nangis nggak berhenti
Tante Linda: Kasihan ERVAN
Tante Linda: Dia bawa cincin loh katanya. Berlian
Om Robert: Kayla yang lihat?
Tante Maureen: Kayla yang rekam 😭
Sepupu Dimas: ini serius?? kak zara??
Tante Linda: Dimas kamu keluar dari grup ini, kamu masih kecil
Sepupu Dimas: aku 24 tahun tante
Aku berhenti di pesan itu. Bukan pesan Dimas. Pesan di atasnya.
Dia bawa cincin loh katanya.
Di dalam lift yang turun dari lantai tiga puluh delapan, aku berdiri diam dengan ponsel di tangan, dan untuk pertama kalinya malam itu, akulah yang membuat ruangan sunyi.
“Monic?” Tasya menyentuh lenganku. “Mon. Kenapa? Ada yang meninggal?”
“Nggak,” kataku.
“Terus kenapa mukamu kayak gitu?”
Aku tidak tahu mukaku kayak apa. Aku melihat pantulanku di dinding lift yang mengilap: perempuan berblazer krem dengan rambut bergelombang dan mata Harrison yang tiba-tiba terlalu besar di wajahnya. Perempuan yang biasanya tahu persis harus melakukan apa, sekarang hanya berdiri di sana seperti tamu yang salah naik lantai.
“Ervan,” kataku. Namanya terasa asing di mulutku, karena aku jarang sekali mengucapkannya. Aku sudah bertahun-tahun berlatih tidak mengucapkannya. “Ervan melamar Zara malam ini.”
“Oh. Terus? Diterima?”
“Dia nemuin Zara sama laki-laki lain.”
Tasya membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi. Pintu lift terbuka di lantai lobi. Tidak ada di antara kami yang bergerak keluar. Pintunya tertutup lagi, dan lift itu diam di sana bersama kami, lampunya berkedip sabar.
“Nemuin,” ulang Tasya pelan. “Nemuin maksudnya... nemuin?”
“Nemuin.”
“Di apartemen Zara?”
“Pakai passcode Zara.”
“Ya Tuhan.” Tasya menutup mulut dengan tablet. “Ya Tuhan, Mon. Cowok yang itu? Cowok yang—“
“Iya,” potongku. “Cowok yang itu.”
Aku harus menceritakan sesuatu. Aku belum pernah menceritakannya kepada siapa pun kecuali Tasya, dan itu pun karena ia menemukanku menangis di pantry kantor dua tahun lalu dan mengancam akan melaporkanku ke HR kalau aku tidak cerita.
Tiga tahun lalu, 17 Agustus, Opa dan Oma merayakan ulang tahun pernikahan emas mereka di ballroom Harrison Grand. Ballroom itu baru selesai direnovasi, dan Papa, dengan kebanggaan seorang CEO yang ingin pamer, mengundang lima ratus tamu. Menteri. Duta besar. Artis yang aku lupa namanya tapi pernah main sinetron azab.
Arsitek renovasinya adalah seorang laki-laki berumur dua puluh enam tahun dari studio kecil di Tebet yang bahkan tidak punya papan nama. Papa memilihnya karena desainnya paling masuk akal dan tawarannya paling jujur. Laki-laki itu datang ke pesta karena Papa mengundangnya, memakai kemeja batik yang kelihatan dibeli kemarin sore, dan berdiri di sudut ruangan dekat pilar sepanjang acara, seperti orang yang tidak yakin boleh makan.
Aku tidak memperhatikannya. Sungguh. Aku sedang sibuk mengatur urutan pidato dan memastikan duta besar Prancis tidak duduk di sebelah duta besar yang negaranya sedang bersengketa dengan Prancis.
Lalu, di tengah pidato Opa, listrik padam.
Seluruh ballroom gelap. Lima ratus orang bergumam, lalu berseru, lalu mulai panik. Seseorang menjatuhkan gelas. Seseorang menjerit. Genset otomatis seharusnya menyala dalam sepuluh detik. Tidak menyala. Dua puluh detik. Tiga puluh. Aku berdiri di tengah kegelapan dengan walkie-talkie di tangan, mendengar kepala teknisi berteriak bahwa panel gensetnya macet dan kuncinya dibawa pulang oleh petugas yang sedang cuti.
Lalu, dari arah panggung, terdengar piano.
Pelan. Satu nada, lalu dua. Lalu sebuah lagu yang aku kenal tapi tidak bisa kusebutkan judulnya, lagu lama yang mungkin diputar di radio waktu Opa dan Oma masih muda. Orang-orang berhenti berteriak. Mereka menoleh ke arah suara. Seseorang menyalakan senter ponsel, lalu yang lain ikut, dan dalam cahaya-cahaya kecil yang bergoyang itu aku melihat laki-laki berkemeja batik tadi duduk di depan grand piano di sudut panggung, bermain seolah-olah memang itulah yang dijadwalkan.
Dan di lantai dansa, dalam cahaya ratusan ponsel, Opa menarik tangan Oma. Mereka berdansa. Lima puluh tahun menikah, dan mereka berdansa dalam gelap sementara semua orang menonton dengan napas tertahan, dan Oma meletakkan kepalanya di bahu Opa, dan aku melihat Opa, Opa yang tidak pernah menangis bahkan waktu hotel pertamanya terbakar, mengusap matanya.
Lagu itu selesai tepat ketika lampu menyala lagi.
Belakangan aku tahu kejadiannya. Laki-laki itu mendengar teriakan teknisi lewat walkie-talkie yang tercecer, berlari ke ruang genset di basement, membuka panel dengan obeng yang ia bawa di tas (siapa yang membawa obeng ke pesta?), menyalakan genset manual, lalu berlari kembali ke atas. Ia sadar gensetnya butuh waktu tiga menit untuk stabil. Jadi ia memberi lima ratus orang itu tiga menit yang tidak perlu ditakuti.
Setelah lampu menyala, ia berdiri, membungkuk sedikit dengan canggung, lalu kembali ke sudut dekat pilar seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang tahu dia yang menyalakan genset. Tidak ada yang bertanya. Orang-orang mengira piano itu bagian dari acara.
Aku tahu, karena aku yang menyusul ke basement dan menemukan obengnya tertinggal di atas panel.
Aku mengembalikannya kepadanya di parkiran, jam satu dini hari. Ia sedang berusaha menyalakan Avanza abu-abu yang AC-nya harus dipukul.
“Ini punya kamu,” kataku.
Ia menerima obeng itu, menatapku, lalu tersenyum. Senyum kalem, sedikit malu, seperti orang yang ketahuan melakukan kebaikan dan merasa bersalah karenanya.
“Makasih, Mbak,” katanya. “Tadi saya takut banget, sebenarnya. Saya cuma hafal satu lagu.”
Hanya itu. Delapan kata. Lalu ia pergi.
Aku berdiri di parkiran sampai lampu belakang mobilnya menghilang, dan aku, Monica Angelica Harrison, yang sudah menolak dua belas lamaran perjodohan dan satu pangeran sungguhan dari Brunei, pulang ke apartemen dan tidak bisa tidur sampai subuh.
Aku menunggu seminggu. Seminggu penuh, menyusun rencana. Bagaimana caranya bertemu lagi tanpa terlihat mengejar. Apakah aku harus pura-pura butuh arsitek. Apakah aku harus menelepon studionya. Aku menyusun dan menghapus pesan di ponsel sampai jempolku pegal.
Di hari kedelapan, Zara mengirim foto ke grup Harrison Cousins. Foto dirinya di kafe, dan di seberang meja, laki-laki berkemeja batik itu, tertawa.
Zara: Dapet arsitek buat renov kantor sales. Ganteng juga ya ternyata kalau dilihat dari dekat 😏
Setahun kemudian, mereka resmi pacaran.
Aku menghapus semua draf pesan itu. Aku mengganti passcode apartemenku menjadi tanggal malam listrik padam, karena aku bodoh dan melankolis dan butuh satu tempat untuk menyimpan sesuatu yang tidak boleh kusimpan di mana pun. Setelah itu aku berhenti datang ke acara keluarga yang juga dihadiri Zara. Aku selalu punya alasan: tamu VIP, rapat regional, flu. Aku tidak mau melihatnya menaruh tangan di pinggang sepupuku. Aku tidak mau melihat Tante Ratna menaruh rendang di piringnya. Aku tidak mau melihat dia bahagia dengan orang lain, karena aku takut aku akan jadi orang jahat yang diam-diam berharap kebahagiaan itu retak.
Dan sekarang kebahagiaan itu retak. Bukan karena aku. Bukan karena harapanku.
Rasanya sama sekali tidak seperti menang.
“Mon,” kata Tasya lembut. “Telepon mamamu.”
Aku menelepon Mama dari mobil, di basement parkir, sementara Tasya menyetir dan pura-pura tidak mendengarkan.
“Kamu sudah baca,” kata Mama. Bukan pertanyaan.
“Sudah, Ma.”
“Tante Ratna nggak berhenti nangis. Om Daniel mengunci diri di ruang kerja. Kayla...” Mama menarik napas. “Kayla pulang diantar Ervan. Anak itu, Monic. Anak itu, setelah semua yang dia lihat, masih nganter adiknya Zara pulang dengan selamat. Nggak mau masuk. Cuma nitip pesan.”
“Pesan apa?”
“Katanya dia baik-baik saja.”
Aku memejamkan mata.
Aku bisa membayangkannya. Terlalu jelas. Laki-laki yang membawa obeng ke pesta. Laki-laki yang memberi lima ratus orang asing tiga menit supaya tidak takut gelap. Tentu saja ia bilang ia baik-baik saja. Tentu saja ia mengantar Kayla pulang. Tentu saja, bahkan malam ini, ia masih memikirkan orang lain dulu.
“Zara di mana?” tanyaku.
“Di rumah Om Daniel. Nangis. Minta maaf ke semua orang.” Mama berhenti sebentar. “Kecuali ke yang seharusnya. Ervan nggak mau angkat teleponnya.”
“Bagus.”
“Monic.”
“Maaf, Ma.” Tapi aku tidak menyesal.
Hening di ujung telepon. Lalu Mama berkata dengan suara yang lebih pelan, suara yang ia pakai waktu aku kecil dan ketahuan menyembunyikan kucing liar di kamar mandi.
“Kamu masih suka sama dia.”
Aku tidak menjawab. Di kursi pengemudi, Tasya menegang dan pura-pura sangat tertarik pada papan penunjuk arah parkir.
“Mama tahu dari dulu,” lanjut Mama. “Dari pesta Opa-Oma. Kamu pikir Mama nggak lihat kamu ngejar dia ke parkiran? Kamu pikir Mama nggak lihat kamu berhenti datang ke acara keluarga tiap Zara bawa dia?”
“Ma...”
“Mama nggak bilang apa-apa. Belum waktunya.” Suara Mama lembut dan tajam sekaligus, seperti pisau roti. “Mama cuma mau bilang: Papamu sudah tahu juga. Dan Papamu, dari tadi, sudah tiga kali bilang sayang banget kalau anak sebaik itu lepas dari keluarga kita.“
Aku tertawa. Tidak sengaja. Tawa yang basah.
“Papa ngomong gitu?”
“Papamu barusan menawari Mama untuk kirim karangan bunga ke rumah Ervan. Mama larang. Karangan bunga itu buat orang meninggal, Richard.”
Aku tertawa lagi, dan kali ini air mataku keluar, dan aku tidak tahu itu air mata karena lucu atau karena hal lain.
“Pulang,” kata Mama. “Tidur. Jangan lakukan apa-apa malam ini. Laki-laki itu butuh waktu. Keluarga ini butuh waktu. Kamu juga.”
“Iya, Ma.”
“Monic.”
“Iya?”
“Waktu kamu siap,” kata Mama, “Mama ada di belakangmu.”
Apartemenku di lantai delapan belas, gedung yang berbeda dengan gedung Zara, di sisi kota yang berbeda. Aku sengaja memilihnya sejauh mungkin.
Aku berdiri di depan pintu. Tanganku terangkat ke panel kunci.
1-7-0-8-2-3.
Bunyi kunci terbuka. Hijau.
Tiga tahun aku menekan angka-angka ini setiap hari. Setiap hari mengingat satu malam gelap, satu lagu, delapan kata di parkiran. Setiap hari mengatakan kepada diriku sendiri bahwa ini hanya kenangan, bahwa aku akan menggantinya kalau aku sudah lupa, bahwa suatu hari angka-angka ini tidak akan berarti apa-apa lagi.
Aku tidak pernah menggantinya.
Aku masuk, menyalakan lampu, dan duduk di lantai di balik pintu dengan blazer masih melekat dan sepatu hak masih terpasang. Aku memikirkan seorang laki-laki yang malam ini membuka pintu dengan passcode dan menemukan dunianya runtuh di baliknya.
Aku memikirkan betapa anehnya, bahwa di kota yang sama, di malam yang sama, dua pintu dengan dua passcode menyimpan dua hal yang begitu berbeda.
Ponselku bergetar. Grup Harrison Family (Official).
Opa William: Ada apa?
Masih belum ada yang menjawab Opa.
- 1 Cincin di Saku Kiri
- 2 Tiga Ketukan
- 3 Grup Keluarga Harrison reading
- 4 Maaf yang Salah Alamat
- 5 Berlian yang Dibuang
- 6 Operasi Bunga Matahari
- 7 Klien Bernama Tasya
- 8 Setiap Lihat Kamu
- 9 Survei Lokasi
- 10 Nduk
- 11 170823
- 12 Video yang Dihapus
- 13 Dua Komplotan
- 14 Hujan di Proyek
- 15 Kelas Masak Bu Laras
- 16 Zara Mengetuk
- 17 Makan Malam Keluarga Richard
- 18 Yang Selalu Menghadap Cahaya
- 19 Tamu Tak Diundang
- 20 Aku Mulai Takut
- 21 Jarak yang Sopan
- 22 Rendang di Piring Kiri
- 23 Rekaman
- 24 Piala Keluarga Harrison
- 25 Ternyata Aku Butuh Rem
- 26 Nggak Baik-Baik Saja
- 27 Bunga Matahari Terakhir
- 28 Pagi Tanpa Kuning
- 29 Dua Sepupu
- 30 17 Agustus
- 31 Tangan yang Tidak Menggenggam
- 32 Pintu yang Tidak Menakutkan
- 33 Pacar Beneran
- 34 Kabar untuk Keluarga Besar
- 35 Gosip Hotel
- 36 Cincin yang Kembali
- 37 Delapan Puluh Tiga
- 38 Takut Berlutut
- 39 Aku Duluan
- 40 Berlian yang Memilih
- 41 Epilog: Tanpa Mengetuk