← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Thirteen

Dua Komplotan

POV: Monica

Sesuatu sedang terjadi antara Tasya dan Gilang, dan tidak satu pun dari mereka mau mengakuinya.

Buktinya ada tiga.

Bukti pertama: Tasya, yang selama empat tahun bekerja bersamaku tidak pernah sekali pun makan siang di luar kantor karena menurutnya “warung di luar itu tempat berkembang biaknya bakteri dan gosip,” sekarang menghilang setiap Selasa dan Kamis dari jam dua belas sampai jam satu. Ia bilang ada rapat dengan vendor. Vendor apa, aku tanya. Vendor soto, ia menjawab, lalu sadar, lalu bilang vendor sosis, lalu sadar lagi, lalu pergi.

Bukti kedua: Gilang, menurut laporan dari Gilang sendiri yang disampaikan lewat Tasya yang disampaikan kepadaku dengan wajah datar, mulai memakai kemeja berkerah setiap Selasa dan Kamis. Kemeja berkerah. Gilang. Laki-laki yang datang ke survei lokasi dengan kupluk dan syal motif kotak-kotak.

Bukti ketiga: ponsel Tasya berbunyi dengan nada dering khusus setiap kali ada pesan dari satu nomor. Nada deringnya adalah lagu dangdut Ditinggal Rabi.

“Kenapa nada deringnya itu?” tanyaku.

“Supaya aku ingat bahaya menjalin hubungan,” jawab Tasya tanpa mengangkat kepala dari laptop.

“Hubungan dengan siapa?”

“Dengan informan. Hubungan kerja. Profesional.” Ia mengetik lebih keras. “Kamu harusnya fokus sama operasimu sendiri, bukan ngurusin logistik intelijen.”

Aku tidak mendesak lebih jauh. Sebagian karena aku menyayangi Tasya dan tahu ia akan menceritakan semuanya kalau sudah siap. Sebagian lagi karena, pada hari Selasa minggu keenam Operasi Berlian, Tasya dan Gilang tiba-tiba mengumumkan bahwa mereka telah membentuk sebuah aliansi.


“Namanya Komplotan,” kata Gilang.

Kami bertiga duduk di warung soto Bang Madun di bawah Studio Pratama, jam sebelas pagi, sebelum warungnya ramai. Ervan sedang di Cikarang, inspeksi terakhir gudang. Bang Madun sendiri, laki-laki bertubuh besar dengan kumis tebal dan handuk kecil di bahu, berdiri di balik panci soto sambil pura-pura tidak mendengarkan.

“Komplotan apa?”

“Komplotan untuk mempercepat kemajuan Operasi Berlian,” kata Tasya, membuka laptop di atas meja plastik yang sedikit lengket. “Enam minggu, Mon. Kemajuannya ada. Kue lapis, oke. Ketawa, oke. Monic, oke. Tapi dia masih nggak mau terima passcode, masih manggil kamu Monica kalau lagi serius, dan masih belum pernah sekali pun ngajak kamu ke mana-mana.”

“Dia ngantar aku pulang.”

“Karena sopirmu anaknya sakit. Itu bukan ngajak. Itu belas kasihan transportasi.”

Aku tidak bisa membantah.

“Jadi,” kata Gilang, mengambil alih dengan gaya pembawa acara, “kami merancang Operasi Makan Siang.”

Tasya memutar laptopnya. Di layar ada diagram alur. Diagram alur sungguhan, dengan kotak-kotak dan panah dan warna-warna.

Langkah 1: Gilang mengajak Ervan makan soto Bang Madun, Kamis, 12.00. (Alasan: traktiran, karena Gilang baru dapat komisi.)
Langkah 2: Tasya mengajak Monica “kebetulan lewat” Tebet, 12.05. (Alasan: survei vendor.)
Langkah 3: Empat orang duduk bersama. Suasana cair.
Langkah 4 (12.15): Tasya menerima telepon darurat dari kantor. Harus pergi.
Langkah 5 (12.17): Gilang menerima telepon darurat dari ibunya. Harus pergi.
Langkah 6: Monica dan Ervan makan berdua. Tanpa terlihat direncanakan.

“Kamu dapat komisi dari mana?” tanyaku ke Gilang.

“Dari DP kontrak villamu, Mbak.”

“Jadi kamu traktir dia pakai uangku.”

“Sirkulasi ekonomi,” kata Gilang bijak.

“Kenapa teleponnya harus jam 12.15 dan 12.17? Kenapa nggak barengan?”

“Karena kalau barengan kelihatan direncanain,” kata Tasya. “Dua menit jeda itu realistis. Aku udah riset.”

“Riset di mana?”

“Di drama Korea yang ditonton Gilang.”

Gilang mengangguk dengan bangga. Aku menatap mereka berdua. Sahabatku yang sinis dan tidak pernah terkesan oleh apa pun, dan laki-laki berambut ikal yang menjual sahabatnya demi martabak. Mereka duduk berdampingan di bangku plastik warung soto, bahu hampir bersentuhan, dan menatapku dengan ekspresi yang sama: penuh harap dan sedikit bodoh.

Aku belum pernah melihat Tasya terlihat sedikit bodoh. Itu hampir membuatku terharu.

“Oke,” kataku. “Kamis.”

“Satu hal lagi, Mbak,” kata Gilang, tiba-tiba serius. “Ervan itu kalau makan soto, sambalnya nggak pernah lebih dari satu sendok. Kalau Mbak mau kelihatan cocok, sambalnya satu sendok juga.”

“Aku biasanya tiga.”

“Satu, Mbak. Demi operasi.”


Kamis pukul dua belas lewat lima, aku “kebetulan lewat” Tebet bersama Tasya.

Aku memakai rok midi warna mustard dan blus putih berlengan balon, karena Tasya bilang warna kuning akan “secara bawah sadar mengingatkan target pada bunga matahari.” Aku tidak tahu apakah itu ilmiah. Aku tidak peduli. Aku berdiri di depan warung soto Bang Madun dengan jantung berdebar seperti anak SMA yang disuruh ke ruang BK.

Langkah 1 berhasil. Ervan dan Gilang sudah duduk di meja plastik paling ujung, dengan dua mangkuk soto yang masih mengepul. Ervan memakai kemeja abu-abu, lengannya digulung, dan ada noda grafit di tulang pipinya yang ia tidak sadari.

Ia melihatku dan berhenti mengangkat sendok.

“Monic?”

Bukan Monica. Aku mencatatnya.

“Oh,” kataku dengan nada yang, menurutku, sangat natural. “Kebetulan banget. Aku sama Tasya lagi survei vendor di sekitar sini.”

“Vendor apa?”

“Vendor...” Aku melirik Tasya.

“Sosis,” kata Tasya.

“Sosis,” ulangku.

Ervan menatap kami berdua. Lalu menatap Gilang, yang sedang sangat serius memotong-motong daging soto menjadi potongan kecil tanpa alasan. Lalu menatap kami lagi.

“Duduk,” katanya akhirnya, bergeser di bangku plastik untuk memberi tempat.

Langkah 2 dan 3 berhasil.

Aku duduk di samping Ervan. Bangku plastik itu pendek dan sempit, sehingga lenganku hampir menyentuh lengannya. Aku bisa mencium bau pengharum mobil rasa kopi di kemejanya, bercampur bau soto dan sesuatu yang lain, sabun yang sederhana, mungkin sabun batangan murah yang dibeli ibunya di warung. Aku memesan soto. Bang Madun mengantarkannya dengan senyum lebar di balik kumis tebalnya dan kedipan mata yang sama sekali tidak rahasia.

Aku mengambil sambal. Satu sendok. Demi operasi.

Ervan melirik mangkukku. “Kamu biasanya tiga.”

Aku membeku. “Kok tahu?”

“Waktu pertemuan di hotel, makan siangnya nasi goreng. Kamu minta sambal tambahan dua kali.” Ia menyendok kuah sotonya. “Nggak usah nahan. Tiga aja.”

Di seberang meja, Gilang menatapku dengan ekspresi aku sudah memperingatkanmu, tapi ternyata aku salah, dan ini lebih baik. Tasya menendang kakinya di bawah meja.

Aku menambahkan dua sendok sambal. Tanganku sedikit gemetar.


Pukul dua belas lewat lima belas, ponsel Tasya berbunyi. Ditinggal Rabi.

Tasya mengangkatnya dengan wajah yang terlatih. “Halo? Oh. Oh, darurat? Sekarang? Oke. Oke, aku ke sana.” Ia menutup telepon dan berdiri. “Maaf, Mon, Mas Ervan. Kantor. Ada tamu VIP komplain soal... soal bantal.”

“Bantal?” tanya Ervan.

“Bantalnya terlalu empuk,” kata Tasya, lalu menyambar tasnya dan pergi, tanpa menoleh, dengan langkah cepat orang yang meninggalkan TKP.

Langkah 4 berhasil.

Pukul dua belas lewat tujuh belas, aku menunggu ponsel Gilang berbunyi.

Tidak berbunyi.

Pukul dua belas lewat delapan belas, masih tidak berbunyi. Gilang menatap ponselnya di atas meja dengan panik yang semakin terlihat. Ia mengangkatnya, mengecek sinyal, meletakkannya lagi.

Pukul dua belas lewat sembilan belas, Gilang mengangkat ponselnya, menempelkannya ke telinga tanpa ada yang menelepon, dan berkata dengan suara keras, “Halo, Bu? Apa? Ayam kita kabur?”

Ervan berhenti mengunyah.

“Kabur ke mana, Bu? Ke rumah Pak RW? Oke, aku pulang sekarang.” Gilang menurunkan ponselnya, berdiri, dan menatap kami dengan wajah penuh drama. “Maaf. Ayam.”

“Kamu tinggal di apartemen, Lang,” kata Ervan pelan. “Lantai tujuh.”

“Ayam... Ibu,” kata Gilang. “Di kampung. Aku harus... koordinasi. Jarak jauh.” Ia menyambar jaketnya. “Van, bayarnya udah. Mbak Monic, silakan dinikmati sotonya. Sotonya enak. Kayak janji mantan. Empuk.”

Ia pergi. Ia tersandung di anak tangga warung, menahan diri di tiang, lalu pergi lagi.

Langkah 5 berhasil. Secara teknis.

Aku menoleh kepada Ervan, siap untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa. Ervan sedang menatapku dengan alis terangkat dan satu sudut bibir yang bergerak.

“Vendor sosis,” katanya.

“Vendor sosis,” kataku dengan tegas.

“Bantal terlalu empuk.”

“Itu keluhan yang valid di industri perhotelan.”

“Ayam kabur ke rumah Pak RW.”

Aku menyerah. Aku menutup wajah dengan tangan. “Oke. Oke. Itu direncanain.”

“Aku tahu.”

“Dari kapan?”

“Dari Gilang pakai kemeja berkerah.” Ervan menyendok kuah sotonya dengan tenang. “Gilang nggak pernah pakai kemeja berkerah. Waktu nikahan sepupunya aja dia pakai kaus polo.”

Aku mengintip dari balik jari-jariku. Ervan tidak kelihatan marah. Ervan kelihatan, kalau aku tidak salah membaca, seperti orang yang sedang menahan senyum dan tidak berhasil.

“Kamu nggak kesel?”

“Kenapa kesel? Sotonya enak.” Ia melirik mangkukku. “Tiga sendok sambal. Kamu kuat?”

Langkah 6 dimulai. Makan berdua. Tanpa terlihat direncanakan, gagal total. Tapi makan berdua, berhasil.

Setidaknya selama empat puluh detik.


“Mas Ervan! Mbak cantik!”

Pak Tohir, pemilik toko fotokopi, laki-laki kurus berumur lima puluhan dengan kacamata tebal dan kemeja batik yang kancingnya salah satu, muncul di pintu warung dengan mangkuk plastik di tangan. Ia tidak menunggu undangan. Ia langsung duduk di bangku yang tadi ditinggalkan Tasya, tepat di seberang kami, dan meletakkan ponselnya di atas meja. Dari ponselnya, dangdut koplo mengalun dengan volume sedang.

“Wah, rame. Boleh gabung, ya. Sepi di toko.” Ia menatapku dari balik kacamata tebal. “Ini yang ngirim bunga tiap pagi, ya, Mas? Saya lihat kurirnya tiap hari naik tangga. Wah. Cantik. Pantes Mas Ervan sekarang pulangnya nggak malem lagi.”

Ervan tersedak kuah soto.

“Dulu,” lanjut Pak Tohir kepadaku, sambil menyendok kuah sotonya sendiri, “Mas Ervan ini lampunya nyala sampai jam dua pagi. Saya tahu, soalnya saya tidur di belakang toko. Tiap malam, jam dua, lampu di atas masih nyala. Bulan lalu malah pernah sampai subuh. Saya sampai khawatir. Saya pikir Mas Ervan lagi ngerjain bom.”

“Pak,” kata Ervan pelan.

“Tapi sekarang, jam tujuh udah mati.” Pak Tohir mengangguk-angguk puas. “Pasti ada yang nungguin di rumah.”

“Ibu saya, Pak.”

“Iya, iya. Ibunya.” Pak Tohir mengedipkan mata kepadaku dengan kedipan yang sangat tidak halus. Lalu ia menaikkan volume dangdut di ponselnya satu tingkat, dan mulai bercerita tentang istrinya.

Istrinya pergi dua tahun lalu. Dengan penjual pulsa di ujung gang. Pak Tohir menceritakannya dengan nada yang santai sekali, seperti menceritakan cuaca, sambil menyendok soto. Istrinya membawa blender dan kipas angin. Pak Tohir tidak keberatan soal blender, tapi kipas angin itu hadiah dari almarhum ayahnya. Ia menceritakan bagaimana ia tidur tanpa kipas angin selama tiga bulan, bagaimana ia mulai memutar dangdut keras-keras di toko supaya tidak mendengar sunyi, bagaimana lagu Ditinggal Rabi sebenarnya bukan untuk menyindir Studio Pratama yang menunggak sewa, tapi karena itu lagu yang paling pas dengan hatinya.

Aku tidak tahu harus berekspresi apa. Aku melirik Ervan. Ervan sedang menatap Pak Tohir dengan wajah yang sangat serius, sangat sopan, dan sangat menahan diri, seperti anak yang ditegur di upacara dan tidak boleh tertawa.

Lalu, di bawah meja, lutut Ervan menyentuh lututku.

Mungkin tidak sengaja. Bangku itu sempit. Tapi lututnya tetap di sana. Dan ketika Pak Tohir mulai bercerita tentang penjual pulsa yang ternyata juga meninggalkan istrinya demi penjual gorengan, dan betapa Pak Tohir merasa ada semacam keadilan kosmis dalam hal itu, lutut Ervan bergetar. Menahan tawa.

Aku menahan tawa juga. Aku menggigit bibir sampai sakit.

Kami tidak saling menatap. Kami tidak berani. Kami menatap mangkuk soto masing-masing dengan intensitas orang yang sedang membaca surat wasiat, sementara di bawah meja, dua lutut saling bersandar dan bergetar dalam diam.

“Tapi ya sudah,” kata Pak Tohir akhirnya, mengelap mulut dengan tisu. Nadanya berubah sedikit. Lebih pelan. “Yang ditinggal jangan ikut ninggalin dirinya sendiri. Itu yang saya pelajari. Istri boleh pergi. Kipas angin boleh pergi. Tapi kita jangan ikut pergi dari diri kita sendiri. Nanti yang tinggal cuma badan. Isinya kosong.”

Warung soto itu tiba-tiba terasa sunyi, meskipun dangdut masih mengalun dari ponselnya.

Lutut Ervan berhenti bergetar.

Aku meliriknya. Ia menatap Pak Tohir, dan wajahnya bukan lagi wajah orang yang menahan tawa. Wajahnya wajah orang yang baru saja mendengar sesuatu yang tidak ia duga akan mendengarnya di warung soto, dari pemilik toko fotokopi dengan kemeja batik yang kancingnya salah satu.

“Makasih, Pak,” kata Ervan pelan.

“Makasih kenapa?” Pak Tohir berdiri, membawa mangkuknya. “Saya cuma numpang makan. Soto di sini enak. Bang Madun, saya bayar besok, ya!”

“Besok terus, Pak Tohir!” teriak Bang Madun dari balik panci.

Pak Tohir pergi, bersama dangdutnya. Warung soto itu tinggal berisi kami berdua, Bang Madun, dan dua kucing yang tidur di bawah meja sebelah.

Lutut Ervan masih menyentuh lututku.

Ia tidak memindahkannya. Aku juga tidak.


Kami makan dalam diam untuk beberapa menit. Diam yang baik. Aku menghabiskan sotoku dengan tiga sendok sambal dan bibir yang terbakar. Ervan menghabiskan sotonya dengan satu sendok sambal.

Ketika selesai, ia mengambil tisu dari kotak di atas meja. Tisu warung yang tipis dan kasar. Ia mengeluarkan pulpen dari saku kemeja, dan dengan gerakan yang tampak tidak disadari, mulai menggambar di atas tisu itu sambil berbicara.

“Komplotan itu,” katanya. “Gilang sama Tasya.”

“Iya?”

“Mereka lagi...”

“Kayaknya iya.”

“Tasya tahu Gilang nonton drama Korea tiap malam sampai jam tiga?”

“Tasya tahu Gilang pakai kemeja berkerah cuma hari Selasa sama Kamis.”

Ervan tertawa kecil. Pulpennya terus bergerak di atas tisu. “Gilang itu baik,” katanya. “Berisik. Dramatis. Tapi baik. Dia yang ngikutin mobilku sampai Ciledug malam itu. Nggak nanya apa-apa. Cuma ngikutin. Pakai motor. Jam dua belas malam.”

Aku tidak tahu itu. Aku menatap laki-laki di sampingku, dan menatap tisu di bawah tangannya.

“Tasya juga,” kataku. “Dia yang bikin spreadsheet. Dia yang bilang aku harus pelan-pelan. Dia yang ngangkat teleponku jam sebelas malam tanpa nanya kenapa.”

“Mereka cocok, kalau gitu.”

“Kita harus bikin komplotan balik,” kataku. “Buat mereka.”

Ervan berhenti menggambar dan menatapku. Untuk pertama kalinya siang itu, ia menatapku langsung, bukan ke mangkuk atau ke Pak Tohir atau ke tisu. Mata Harrison-ku. Aku menunggu melihatnya berpaling.

Ia tidak berpaling.

“Kita?” ulangnya.

Aku menyadari apa yang baru saja kukatakan. Kita. Aku membuka mulut untuk menarik kata itu, untuk menjelaskannya, untuk berkata sesuatu yang profesional.

“Aku nggak pakai rem,” kataku. Itu yang keluar. Aku tidak tahu kenapa. Rasanya satu-satunya pembelaan yang tersedia.

Dan Ervan tertawa. Tawa yang sama seperti di dapur ibunya, meskipun lebih pendek. Tawa yang membuat Bang Madun menoleh dari balik panci dan dua kucing di bawah meja sebelah terbangun.

“Iya,” katanya. “Itu udah jelas dari hari pertama.”


Ia membayar soto kami berdua, meskipun Gilang sudah bilang bayarnya udah, karena ternyata Gilang belum bayar sama sekali. Ia mengantarku sampai ke taksi di ujung gang. Ia bilang hati-hati. Aku bilang jangan lupa makan malam. Ia bilang itu manajemen proyek. Aku bilang itu perintah.

Waktu taksi sudah berjalan, aku membuka tanganku. Di dalamnya ada tisu warung yang tipis dan kasar. Aku mengambilnya dari meja waktu ia berdiri untuk membayar, cepat, tanpa ia lihat, seperti pencopet amatir.

Di atas tisu itu, dengan tinta pulpen biru yang sedikit merembes, ada gambar kecil. Sebatang bunga matahari. Kelopaknya digambar satu per satu, rapi, dengan garis-garis halus di tengahnya untuk menunjukkan biji. Batangnya sedikit melengkung. Daunnya dua.

Dan bunga itu menghadap ke kanan. Ke arah tempat aku duduk tadi.

Aku melipat tisu itu dengan sangat hati-hati dan menyimpannya di dompet, di balik kartu identitasku, di tempat yang paling aman yang aku punya.

Lalu aku mengirim pesan ke Tasya.

Monica: Operasi gagal. Kalian ketahuan dari kemeja berkerah.

Tasya: SIAL.
Tasya: Terus?

Monica: Terus Pak Tohir datang dan cerita soal istrinya kabur sama penjual pulsa.

Tasya: ...Terus?

Monica: Terus lututnya nempel ke lututku satu jam.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang. Muncul lagi.

Tasya: Oke. Operasi berhasil. Aku bilang ke Gilang.
Tasya: Btw ayam Gilang beneran kabur. Ibunya barusan telepon. Ke rumah Pak RW. Aku nggak tahu harus bereaksi gimana.