← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Eleven

170823

POV: Monica

Yang dibisikkan Bu Laras kepadaku di depan bak cuci, dengan tangan basah di pipiku, adalah ini:

Nduk. Dia ngetuk pintu kamarnya sendiri. Tiga kali. Tiap mau masuk. Sejak malam itu.

Aku tidak mengerti di detik pertama. Lalu aku mengerti, dan gelas ukur di tanganku hampir jatuh ke bak cuci.

Ibu nggak tahu harus gimana, bisik Bu Laras. Ibu pura-pura nggak lihat. Tapi Ibu dengar. Tiap malam. Tok, tok, tok. Kamar sendiri, Nduk. Kamar yang dia tiduri dari kecil.

Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.

Tolong, kata Bu Laras. Kalau kamu beneran sayang sama dia, jangan pernah bikin dia takut buka pintu lagi.

Aku mengangguk lagi. Lalu lagi. Karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan tanpa menangis di depan bak cuci, di depan laki-laki yang baru saja tertawa untuk pertama kalinya dalam tiga minggu.

Tiga ketukan.

Aku mengetuk pintu studionya tiga kali di hari pertama. Tanpa alasan. Karena rasanya sopan. Dan aku ingat bagaimana ia menegakkan punggung ketika aku bilang aku bakal ketuk, bagaimana matanya berubah, bagaimana untuk satu detik ia benar-benar melihatku.

Sekarang aku tahu kenapa.

Aku menangis di mobil sepanjang tol dalam kota. Pak Harun, sopirku, menyalakan radio dengan volume lebih keras dan pura-pura sangat berkonsentrasi pada jalan. Di pangkuanku ada kotak plastik berisi kue lapis sembilan lapis yang dibungkuskan Bu Laras, dan setiap kali mobil melewati polisi tidur, kotak itu bergeser, dan aku memeganginya lebih erat.

Malam itu, di apartemen, aku menekan enam angka di panel pintu dan berdiri lama di ambangnya.

Pintu. Passcode. Tiga ketukan.

Aku memikirkan laki-laki yang malam itu, di Ciledug, mengetuk pintu kamarnya sendiri. Dan aku memikirkan enam angka yang kutekan setiap hari selama tiga tahun, angka yang tidak pernah kuberitahukan kepada siapa pun kecuali Tasya, yang pernah terkunci di luar dan hampir tidur di lorong.

Lalu aku mengambil kartu warna gading dan pulpen tinta biru tua, dan menulis.


Rabu berikutnya, Ervan datang ke Harrison Grand.

Itu pertemuan resmi, tercatat di kalender, sesuai Aturan 1. Pemasok kayu dari Jepara dan pemasok batu alam dari Tulungagung datang membawa sampel, dan Ervan perlu memilih bersama klien. Klien itu aku. Tempatnya kantorku di lantai tiga, karena di studio Ervan tidak ada meja yang cukup kuat untuk menahan sampel batu andesit seberat dua puluh kilo.

Aku tidak memperhitungkan satu hal: seluruh staf Harrison Grand.

“Bu Monica,” bisik Dinda dari meja resepsionis ketika aku turun ke lobi jam sembilan pagi untuk menunggu. “Arsiteknya yang itu?”

“Yang mana?”

“Yang Ibu kirimin bunga tiap hari.” Dinda mencondongkan badan melewati meja. “Mas Joko dari florist langganan kita yang cerita. Katanya Ibu pesan bunga matahari sebelas tangkai tiap hari, dikirim ke Tebet. Satu hotel udah tahu, Bu.”

Aku menatapnya.

“Satu hotel,” ulang Dinda. “Termasuk dapur. Chef Bram udah taruhan.”

“Taruhan apa?”

Dinda tampak menyesal telah mengatakannya. “Taruhan... kapan arsiteknya bales, Bu. Chef Bram pasang dua bulan. Pak Satpam Anto pasang enam bulan. Mbak Ratih dari housekeeping pasang nggak akan pernah.”

“Mbak Ratih pasang nggak akan pernah?”

“Mbak Ratih baru putus, Bu. Dia lagi pesimis sama cinta.”

Aku belum sempat memutuskan apakah aku harus memecat semua orang atau ikut taruhan ketika pintu putar lobi berputar dan Ervan masuk.

Kemeja putih. Celana bahan abu-abu. Tas selempang kulit yang sudah pudar di bagian tali. Rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya, dan ia memegang tabung gambar di tangan kiri seperti memegang tongkat estafet.

Ia berhenti di tengah lobi, mendongak menatap langit-langit, lampu kristal dan kubah kaca yang ia renovasi tiga tahun lalu, dan sesuatu di wajahnya berubah. Semacam nostalgia yang sopan, seperti orang yang mengunjungi rumah lama.

Di sekelilingnya, lobi Harrison Grand berhenti bekerja.

Dinda berhenti mengetik. Pak Anto di dekat pintu putar berhenti menyapa tamu. Dua bellboy yang sedang mendorong troli koper berhenti mendorong. Dari pintu samping yang menuju dapur, aku melihat kepala Chef Bram, dengan topi koki setinggi tiga puluh senti, muncul dari balik kusen, lalu disusul kepala dua sous chef di bawahnya, seperti totem.

Ervan menurunkan pandangannya dari langit-langit dan melihatku. Ia tersenyum. Kecil. Sopan.

“Pagi,” katanya.

“Pagi,” kataku.

Di belakangku, aku mendengar Dinda mengembuskan napas panjang dan berbisik, “Oh. Oke. Sekarang aku ngerti, Bu.”


Pertemuannya berjalan lancar selama dua jam empat puluh menit.

Ervan memilih kayu jati dengan cara yang sama ia memilih kata-kata: pelan, hati-hati, dan selalu dengan alasan. Ia mengusap permukaan setiap sampel, mengetuknya dengan buku jari, mendekatkannya ke hidung. Ia bertanya kepada pemasok dari Jepara, Pak Karto, tentang asal-usul pohonnya, umur tebangnya, cara pengeringannya, dengan bahasa Jawa halus yang membuat Pak Karto tersenyum lebar dan memberikan harga yang lebih murah tanpa diminta.

“Mas ini arsitek atau anak saya?” kata Pak Karto sambil tertawa. “Kalau anak saya, sudah saya kawinkan.”

Ervan tertawa kecil dan menunduk. Aku melihat telinganya memerah. Aku menambahkannya ke koleksi.

Di pertengahan pertemuan, pintu kantorku terbuka tanpa diketuk.

“Monic, Papa cuma mau lewat, ada berkas yang...”

Papa. Richard Harrison. CEO. Memakai setelan jas biru tua dan dasi motif kotak-kotak, memegang map yang jelas-jelas kosong, dengan senyum orang yang tidak lewat, melainkan sudah menunggu di koridor selama dua jam.

Aturan nomor dua. Nggak bawa-bawa keluarga Harrison.

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku terguling.

“Papa!” Suaraku keluar satu oktaf terlalu tinggi. “Papa salah ruangan!”

“Salah ruangan? Ini kan ruanganmu...”

“Ruangan Papa di lantai empat puluh.” Aku sudah berjalan memutari meja, meraih lengan Papa, dan mendorongnya kembali ke koridor dengan kekuatan yang tidak kuketahui kumiliki. “Lantai empat puluh, Pa. Jauh. Ayo, aku antar ke lift.”

“Tapi Papa cuma mau kenalan sama...”

“Nanti.”

“Papa mau lihat sampel batunya...”

“Nanti, Pa.”

Aku menekan tombol lift. Pintu lift terbuka. Aku mendorong Papa masuk. Papa berbalik di dalam lift, menatapku dengan wajah terluka seperti anak anjing yang ditinggal di rumah sendirian, lalu, tepat sebelum pintu tertutup, ia mengacungkan dua jempol ke arah kantorku dan berbisik keras, “Ganteng!“

Pintu lift tertutup.

Aku kembali ke kantor dengan rambut sedikit berantakan dan napas terengah-engah. Pak Karto dan pemasok batu dari Tulungagung menatapku dengan ekspresi sopan yang dipaksakan. Ervan duduk di kursinya, memegang sampel kayu jati, menatapku dengan alis sedikit terangkat.

“Tadi itu...” katanya.

“Salah orang,” kataku. “Tamu hotel. Nyasar.”

“Beliau manggil kamu Monic.”

“Tamu hotel yang akrab.”

Ervan menatapku lama. Lalu ia kembali ke sampel kayunya, tapi aku melihat bahunya bergetar sekali. Dua kali. Ia menahan tawa.

Aku duduk, menegakkan kursiku yang tadi terguling, dan menganggap diriku sudah menang Aturan Nomor Dua secara teknis.


Pertemuan selesai pukul tujuh malam, karena setelah sampel kayu dan batu, kami masih harus membahas kusen, genteng, dan keramik kamar mandi. Pemasok-pemasok sudah pulang. Hotel sudah berganti ke shift malam. Lampu-lampu di koridor kantor sudah diredupkan.

Lalu aku menerima pesan dari Pak Harun: anaknya demam tinggi, ia harus membawanya ke UGD, mohon maaf sekali, Bu, sopir cadangan sedang mengantar tamu ke bandara.

“Nggak apa-apa, Pak. Anak Bapak dulu,” balasku. Lalu aku membuka aplikasi taksi.

“Aku antar,” kata Ervan.

Aku mengangkat kepala dari ponsel. Ia sedang menggulung gambar kerja dan memasukkannya ke tabung, tidak menatapku.

“Nggak usah. Aku bisa pesan...”

“Udah malam,” katanya. Kalimat yang sama, nada yang sama, yang pernah kudengar dari cerita Kayla tentang malam itu di lobi apartemen Zara. Aku antar. Udah malam. “Arahnya searah kok.”

Arahnya sama sekali tidak searah. Apartemenku di Kuningan. Rumahnya di Ciledug. Aku tidak mengoreksinya.


Avanza abu-abu itu masih berbau pengharum rasa kopi. AC-nya menyala di percobaan pertama. Obengnya masih di laci dasbor yang tertutup separuh.

Kami tidak banyak bicara di jalan. Ia menyetir dengan tenang, satu tangan di setir, satu tangan di tuas persneling. Aku memperhatikan tangan itu dan mengingat tanjakan di Puncak, dan harus membuang muka ke jendela.

Di dalam tasku, kartu warna gading itu terasa seperti bara api.

Aku sudah menulisnya lima hari yang lalu. Aku sudah membaca ulang kalimatnya seratus kali. Aku sudah hampir menyobeknya empat kali. Tasya bilang ini terlalu cepat. Tasya bilang laki-laki yang baru dikhianati di balik pintu yang dibuka dengan passcode tidak akan senang menerima passcode lain. Tasya bilang ini ide terburuk sejak aku mengumumkan perang di rumah Opa.

Tapi Tasya tidak mendengar Bu Laras di depan bak cuci.

Avanza itu berhenti di depan lobi gedung apartemenku. Satpam gedung, Pak Heru, melongok dari posnya dengan penasaran, karena selama tiga tahun aku tinggal di sini, aku tidak pernah turun dari mobil yang bukan mobilku sendiri atau taksi.

“Makasih,” kataku.

“Sama-sama.”

Aku tidak turun. Tanganku di dalam tas, menggenggam kartu itu.

“Ervan.”

Ia menoleh.

Aku mengeluarkan kartu itu dan memberikannya. Tanganku gemetar sedikit. Aku berharap lampu kabin cukup redup sehingga ia tidak melihatnya.

Ia menerima kartu itu. Membaca.

Hari 25: 170823.
Itu passcode apartemenku. Lantai 18, unit C.
Aku kasih ke kamu bukan supaya kamu datang. Tapi supaya kalau suatu hari kamu datang, kamu nggak perlu takut sama apa yang ada di balik pintu. Isinya cuma aku. Dan mungkin panci yang meleleh.
Kamu nggak perlu ketuk.


Ia membacanya lama sekali.

Lebih lama dari yang dibutuhkan untuk membaca empat kalimat. Aku menghitung detak jantungku sendiri sambil menunggu, dan berhenti menghitung di angka empat puluh karena jantungku terlalu cepat untuk dihitung.

Aku melihat bibirnya bergerak sedikit, tanpa suara. Seperti orang yang menghafal.

Lalu ia berhenti. Dan wajahnya berubah.

Aku melihatnya terjadi. Dari samping, dalam cahaya lampu lobi yang kuning dan dingin sekaligus. Rahangnya mengeras. Jari-jarinya yang memegang kartu mengencang sampai ujung kartu itu melengkung sedikit. Dan matanya, yang biasanya tenang, yang biasanya sabar, yang biasanya menatap segala sesuatu seperti menatap gambar kerja yang harus diselesaikan dengan hati-hati, tiba-tiba terlihat seperti mata orang yang berdiri di koridor berkarpet tebal, di depan pintu 2307, dengan buket mawar di tangan.

“Monica,” katanya pelan.

Bukan Monic.

Ia mengulurkan kartu itu kembali kepadaku. Tangannya stabil. Terlalu stabil.

“Aku nggak mau tahu passcode siapa pun lagi,” katanya.

Aku tidak menerima kartunya. Tanganku tidak mau bergerak.

“Terakhir kali aku tahu passcode seseorang,” lanjutnya, masih dengan suara pelan yang sama, “aku pakai buat masuk. Dan yang ada di balik pintunya...” Ia berhenti. Menelan ludah. “Aku tahu kamu beda. Aku tahu isinya bukan itu. Aku tahu. Tapi aku nggak bisa, Monic. Aku belum bisa. Jangan kasih aku kunci pintu mana pun. Aku nggak sanggup pegangnya.”

Ia menyebut Monic lagi. Di akhir. Seperti tidak sengaja.

Aku mengambil kartu itu dari tangannya. Pelan.

“Oke,” kataku.

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Aku memasukkan kartu itu kembali ke dalam tas. Aku tersenyum. Aku tidak tahu senyum nomor berapa. Mungkin senyum yang belum punya nomor. “Aku yang salah. Terlalu cepat. Tasya udah bilang.”

“Kamu nggak salah.”

“Aku sedikit salah.”

“Sedikit,” akunya. Dan sudut bibirnya bergerak, sedikit, bahkan sekarang. “Simpan aja. Buat orang yang nanti.”

Buat orang yang nanti.

Aku membuka pintu mobil dan turun sebelum wajahku melakukan sesuatu yang tidak bisa kukendalikan.

“Hati-hati di jalan,” kataku lewat jendela. “Jangan lupa pukul dasbornya kalau AC-nya ngambek.”

“Iya.”

“Kamu udah makan?”

“Belum.”

“Makan. Itu perintah.”

“Itu manajemen proyek?”

“Itu manajemen proyek,” kataku, dan berjalan masuk ke lobi tanpa menoleh.


Lift ke lantai delapan belas butuh dua puluh tiga detik. Aku menghitungnya, karena aku tidak mau melakukan hal lain dengan otakku.

Di detik kesembilan belas, aku menangis.

Tidak dramatis. Tidak terisak. Hanya air mata yang keluar begitu saja, turun ke pipi, jatuh ke kerah blazer. Aku tidak mengusapnya. Aku menatap pantulan diriku di dinding lift yang mengilap: perempuan berblazer abu-abu dengan mata Harrison yang basah, memegang tas berisi kartu yang ditolak.

Buat orang yang nanti.

Dia tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa enam angka itu bukan untuk orang yang nanti. Enam angka itu sudah menjadi miliknya sejak tiga tahun lalu, sejak ia menyalakan genset dengan obeng dari rumah dan memainkan satu-satunya lagu yang ia hafal di ballroom yang gelap. Ia tidak tahu bahwa aku menekan tanggal malam itu setiap hari. Ia tidak tahu bahwa kartu itu bukan hadiah, melainkan pengakuan.

Dan ia membacanya lama sekali. Bibirnya bergerak.

Pintu lift terbuka di lantai delapan belas. Koridor sepi. Karpetnya tidak setebal karpet di gedung Zara. Aku sengaja memilih gedung dengan karpet tipis, tiga tahun lalu, tanpa tahu kenapa. Mungkin sekarang aku tahu.

Aku berdiri di depan unit C. Aku mengangkat tangan ke panel kunci.

1-7-0-8-2-3.

Bunyi kunci terbuka. Hijau.

Aku masuk, menutup pintu, dan bersandar di baliknya. Kakiku melemas. Aku merosot sampai duduk di lantai, seperti malam grup keluarga meledak, dengan sepatu masih terpasang.

Ponselku bergetar. Tasya.

Tasya: Udah dikasih?

Aku mengetik dengan jari yang basah.

Monica: Udah.

Tasya: Terus?

Monica: Ditolak. Dia bilang nggak mau tahu passcode siapa pun lagi.

Tiga titik muncul lama.

Tasya: Oh Mon.
Tasya: Mau aku ke situ? Aku bawa es krim. Gilang lagi di sini, dia bisa ikut. Maksudnya dia NGGAK lagi di sini. Maksudnya dia kebetulan lewat. Kami nggak lagi makan soto berdua. Lupakan kalimat itu.

Aku tertawa. Di lantai, di balik pintu, dengan air mata yang masih turun, aku tertawa sampai perutku sakit.

Monica: Kalian makan soto berdua?

Tasya: RISET. Buat operasi. Gilang itu informan, aku harus maintain hubungan dengan informan.

Monica: Tas.

Tasya: Diam.

Aku meletakkan ponsel di lantai dan menatap langit-langit apartemen. Aku memikirkan wajah Ervan ketika membaca kartu itu. Aku memikirkan bibirnya yang bergerak tanpa suara. Empat kalimat. Lama sekali.

Aku ingin percaya bahwa ia hanya membaca ulang.

Tapi aku kerja di hotel. Aku sudah ribuan kali melihat tamu membaca nomor kamar di kartu kunci mereka, di lift, sebelum pintunya terbuka. Aku tahu seperti apa wajah orang yang sedang membaca, dan seperti apa wajah orang yang sedang menghafal.

Dan malam ini, di lampu lobi yang kuning, laki-laki yang bilang ia tidak mau tahu passcode siapa pun lagi, membaca enam angka itu dengan bibir yang bergerak.

Satu. Tujuh. Nol. Delapan. Dua. Tiga.