← Berlian yang Kamu Buang

Chapter Twenty One

Jarak yang Sopan

POV: Monica

Aku menulis sembilan belas versi balasan sebelum mengirim kata oke.

Versi pertama empat paragraf. Isinya penjelasan panjang tentang kenapa aku mengerti, kenapa aku tidak marah, kenapa ia tidak perlu minta maaf, dan kenapa, secara teknis, aku masih akan mengirim bunga karena aturan 1a tidak dibatalkan. Aku menghapusnya karena terdengar seperti memo direksi.

Versi kelima berisi satu kalimat: Kamu takut apa? Aku menghapusnya karena aku tahu jawabannya, dan aku tidak mau memaksanya mengetik jawaban itu jam sebelas malam.

Versi kesebelas berisi Aku juga takut. Itu jujur. Aku menghapusnya karena itu tentang aku, bukan tentang dia.

Versi kelima belas berisi Aku tunggu. Aku hampir mengirimnya. Lalu aku sadar kata itu terlalu berat. Menunggu itu janji, dan janji itu beban, dan laki-laki ini sudah memikul terlalu banyak beban yang bukan miliknya.

Versi kesembilan belas: Oke.

Aku mengirimnya. Lalu aku duduk di lantai di balik pintu apartemen, menatap layar ponsel, dan merasakan kata itu jatuh ke dalam diriku seperti batu ke dalam sumur. Oke. Dua huruf vokal, dua huruf konsonan. Kata yang paling pendek yang bisa kutemukan untuk mengatakan aku mendengarmu, dan aku tidak akan menarik pintumu.

Lalu aku menangis, karena Bu Laras bilang ia mengetuk dan menunggu dua belas detik, dan aku tahu, malam ini, di Ciledug, ia pasti mengetuk dan menunggu lagi.

Lalu, dengan tangan yang masih basah, aku mengetik satu pesan lagi.

Aku ketuk pelan-pelan.

Itu satu-satunya janji yang berani kuberikan.


“SATU MINGGU?”

Aku tidak berteriak. Oke, aku berteriak. Di kantorku, di lantai tiga Harrison Grand, dengan pintu tertutup, pukul delapan pagi hari Jumat, di depan Tasya yang duduk di kursi tamu dengan tangan terlipat di atas lutut dan ekspresi orang yang sudah siap menerima hukuman mati.

“Delapan hari, secara teknis,” kata Tasya.

“Kamu bilang ke aku pelan-pelan! Kamu bikin tab HAMBATAN tujuh poin! Kamu bilang cowok yang baru dikhianati butuh waktu, butuh ruang, butuh...”

“Gilang nggak baru dikhianati.”

“Itu bukan poinnya!”

“Itu justru poinnya.” Tasya membetulkan kacamata bulatnya dengan satu jari. “Gilang itu nggak punya luka. Gilang itu kayak... kayak anak anjing golden retriever yang dikasih kemeja berkerah. Nggak ada yang perlu dipelan-pelanin. Dia nanya, aku mikir, aku bilang iya. Selesai.”

“Kamu mikir berapa lama?”

Tasya diam.

“Tas.”

“Empat detik,” akunya. “Tapi itu empat detik yang sangat intens.”

Aku menatapnya. Sahabatku sejak kelas satu SMA. Yang tidak pernah terkesan oleh apa pun. Yang bikin spreadsheet dengan grafik batang untuk moral pasukan. Duduk di depanku dengan telinga yang merah, dengan sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat selama sepuluh tahun: malu. Malu yang bahagia.

Aku berhenti berteriak.

Lalu aku memutari meja, dan memeluknya. Keras. Sampai kacamata bulatnya miring.

“Aku seneng,” kataku ke bahunya. “Aku seneng banget, Tas.”

“Aku tahu,” gumam Tasya. Tangannya menepuk punggungku, canggung, karena Tasya tidak pernah jadi orang yang memeluk. “Aku minta maaf.”

“Kenapa minta maaf?”

“Karena waktunya jelek.” Tasya melepaskan pelukan dan membetulkan kacamatanya. “Dia baru bilang ke kamu minta pelan. Terus aku datang bilang aku jadian sama sahabatnya. Kayak nabur garam.”

“Garamnya enak,” kataku. “Kalau kamu nggak jadian sama Gilang, aku yang bakal nyuruh.”

Tasya menatapku lama. Lalu, dengan suara lebih pelan, suara yang jarang ia pakai: “Kamu nggak apa-apa, Mon?”

“Aturan nomor empat,” kataku. Aku tertawa, dan tawaku basah. “Nggak. Aku nggak apa-apa. Tapi aku bakal nggak apa-apa.”


Jarak yang diminta Ervan ternyata sopan sekali.

Ia tidak menghilang. Ia tidak memblokir nomorku, tidak lewat pintu belakang, tidak menolak bunga. Ia membalas setiap pesan tentang villa dalam waktu kurang dari satu jam, dengan kalimat-kalimat yang lengkap dan tanda baca yang benar. Ia mengirim foto progres pembangunan setiap Senin dan Kamis, lengkap dengan keterangan teknis. Plesteran dinding timur selesai. Kusen jendela kamar utama dipasang minggu depan.

Tapi pertemuan-pertemuan kami sekarang lewat Gilang. Van lagi di lapangan, Mbak, jadi aku yang presentasi. Makan siang di Bang Madun tidak pernah terjadi lagi. Ketika aku datang ke lokasi hari Rabu untuk melihat pemasangan atap, ia sudah pergi dua puluh menit sebelumnya, dan Pak Asep menyambutku dengan wajah seorang paman yang terpaksa menyampaikan kabar buruk.

“Jang Ervan tadi buru-buru, Neng,” kata Pak Asep. “Katanya ada yang harus dicek di Cikarang.”

“Gudang Cikarang udah selesai minggu lalu, Pak.”

Pak Asep menatapku. Lalu menatap langit. “Poé ieu cerah,” katanya pelan. “Tapi aya nu keur nyumput.”

“Artinya?”

“Hari ini cerah, Neng. Tapi ada yang lagi sembunyi.”

Aku tertawa. Tawaku tidak sampai ke mana-mana, sama seperti tawa Ervan di pesan-pesan terakhirnya.


Kartu-kartuku jadi pendek.

Aku tidak merencanakannya. Aku hanya duduk di meja kerjaku setiap malam dengan kartu warna gading dan pulpen tinta biru tua, dan kalimat-kalimat yang biasanya mengalir, tentang tamu hotel dan handuk ungu dan Tasya yang galak, tiba-tiba terasa terlalu berisik. Terlalu banyak. Seperti orang yang terus mengetuk pintu setelah pemilik rumah bilang tunggu sebentar.

Hari 73: Pelan.

Hari 74: Masih pelan.

Hari 75: Hari ini aku nggak marah-marahin satu pun tamu. Itu pelan versi aku.

Hari 76: Pelan itu susah. Tapi aku belajar.

Hari 77: Makan.

Hari 78: Makan. (Aku nggak tahu kamu udah makan atau belum. Gilang sekarang informan Tasya, bukan informanku. Aku kehilangan akses intelijen. Jadi aku berasumsi kamu belum makan.)

Hari 79: Bunganya masih bunga matahari. Aku masih menghadap ke tempat yang sama. Nggak perlu dibales.


Aku tetap datang ke dapur Bu Laras setiap Sabtu.

Bu Laras menyambutku di teras dengan wajah yang sama, pelukan yang sama, celemek bermotif bunga-bunga oranye yang sama. Tapi ada sesuatu yang lain di cara ia menatapku, sesuatu yang lembut dan hati-hati, seperti orang yang menatap tanaman yang baru dipindah ke pot baru.

“Dia bilang butuh waktu,” kata Bu Laras, di Sabtu pertama setelah pesan itu. Kami sedang mengiris bawang. Aku tidak berdarah lagi sekarang. “Ke Ibu juga.”

“Iya, Bu.”

“Kamu masih mau ke sini?”

Aku mengangkat kepala dari talenan. “Boleh, Bu?”

Bu Laras meletakkan pisaunya dan menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Nduk,” katanya. “Ibu yang ngundang kamu. Bukan Ervan. Dapur ini dapur Ibu.” Ia mengambil pisaunya lagi. “Kamu datang ke sini bukan buat dia. Kamu bilang itu sendiri, di Sabtu kelima. Kamu datang karena kamu pengin.”

“Iya, Bu.”

“Ya udah. Iris bawangnya. Tipis. Hari ini kita bikin opor. Opornya Bapak.”

Aku mengiris bawang, tipis, tanpa berdarah. Dan aku belajar opor ayam dari buku resep bersampul cokelat dengan tulisan tangan laki-laki yang tegak dan besar. OPOR. LEBARAN. VAN SUKA KUAHNYA DOANG, AYAMNYA DIKASIH KE IBU.

Setiap Sabtu, aku pulang lewat ujung gang, sebelum pukul tiga sore, sebelum Avanza abu-abu itu kembali dari Puncak. Tidak ada kamar mandi, tidak ada kebun pisang, tidak ada Bu Sri. Aku sudah belajar jadwalnya. Aku sudah belajar pelan-pelan.

Di spreadsheet, tab YANG DIA LUPA bertambah panjang.

Opor lebaran. Dia cuma makan kuahnya.
Bapaknya latihan megang pisang seminggu biar nggak lecet.
Dia takut. Mamaku bilang orang takut itu hati-hati.


Undangan ulang tahun Kayla datang dalam bentuk yang tidak kuduga.

Bukan pesan WhatsApp. Bukan undangan digital. Sebuah amplop cokelat besar, dikirim kurir ke kantorku, berisi dua potong film seluloid sungguhan, film 35 milimeter yang sudah dicetak, masing-masing sepanjang lima bingkai. Di setiap bingkai, alih-alih gambar, ada tulisan tangan Kayla yang sangat kecil, dibaca dengan cara mengangkat film itu ke arah cahaya.

KAYLA 23. SABTU. JAM 7. RUMAH PAPA. DRESS CODE: BAHAGIA.

Satu potong untukku. Satu potong lagi, dengan nama KAK ERVAN ditulis di bingkai pertama, dan secarik kertas yang ditempel di atasnya.

Kak Monic. Tolong kasih ini ke Kak Ervan. Langsung. Tangan ke tangan. Jangan lewat kurir. Jangan lewat Gilang. Ini perintah dari yang ulang tahun. Aku tahu kalian lagi aneh. Makanya.
— Sutradara

Aku menatap potongan film itu lama sekali. Lalu aku menelepon Kayla.

“Kay.”

“Nggak mau dengar alasan,” kata Kayla langsung. “Kak Monic yang kasih. Titik.”

“Kamu bisa kirim sendiri ke studionya.”

“Bisa. Tapi aku nggak mau.” Suara Kayla terdengar keras kepala dan, di baliknya, sedikit bergetar. “Kak. Aku cuma minta satu hal buat ulang tahunku. Aku mau lihat Kak Ervan sama Kak Monic di rumahku. Di rumahku. Di tempat yang terakhir kali Kak Ervan datang, dia pamit.”

Aku menutup mata.

“Aku mau rumahku punya kenangan yang lain,” kata Kayla, lebih pelan. “Selain Mama berlutut di lantai.”


Aku naik tangga besi Studio Pratama hari Senin, pukul lima sore. Setelah jam kerja. Aturan satu.

Dangdut di bawah sedang memutar lagu tentang seseorang yang menunggu di stasiun kereta. Pak Tohir melongok dari balik mesin fotokopi dan mengangkat tangannya kepadaku, dua jempol. Tentu saja dua jempol.

Aku berhenti di anak tangga kelima. Aku selalu berhenti di sana. Aku tidak pernah tahu kenapa, sampai minggu lalu, ketika aku menyadari bahwa dari anak tangga kelima, lewat celah di pintu kaca buram yang stikernya separuh mengelupas, aku bisa melihat meja gambarnya. Aku bisa melihat apakah ia ada di sana sebelum ia melihatku.

Ia ada di sana. Menggambar. Kacamata berbingkai hitam tipis. Kemeja abu-abu, lengan digulung.

Aku naik ke atas dan berdiri di depan pintu kaca buram.

Aku mengangkat tangan.

Tok.

Tok.

Tok.

Lalu aku menurunkan tangan, dan aku menunggu.

Aku tidak membuka pintu. Aku tidak memanggil namanya. Aku berdiri di sana, di depan pintu kaca buram dengan huruf u yang hilang, dan aku menghitung dalam hati, pelan, seperti ia menghitung di depan pintu kamar mandi rumahnya sendiri.

Satu. Dua. Tiga.

Aku mendengar pensil berhenti di balik pintu.

Empat. Lima. Enam.

Aku mendengar kursi bergeser.

Tujuh. Delapan. Sembilan.

Langkah kaki. Pelan. Mendekat. Berhenti di balik pintu. Aku bisa melihat bayangannya di kaca buram, siluet bahu yang lebar, kepala yang sedikit menunduk. Ia tidak membuka pintu. Ia berdiri di sana.

Sepuluh. Sebelas.

Dua belas.

Pintu terbuka.


Ervan berdiri di ambang pintu dan menatapku.

Aku tidak tahu apa yang kuharapkan. Senyum, mungkin. Atau wajah sopan nomor tiga. Atau keterkejutan.

Yang ada di wajahnya bukan satu pun dari itu. Wajahnya terlihat seperti wajah orang yang baru saja mendengar lagu yang sudah lama ia hafal, dimainkan oleh orang lain, dari sisi lain ruangan.

“Kamu nunggu,” katanya. Suaranya aneh. Serak.

“Iya.”

“Kamu nggak langsung buka.”

“Nggak.”

“Dua belas detik,” katanya. “Aku hitung.”

Aku menatapnya. “Aku tahu, Van,” kataku pelan. “Soal ketukan. Ibu yang cerita. Di depan bak cuci, di hari kue lapis.”

Ia tidak bergerak. Tangannya masih di kenop pintu. Aku melihat jari-jarinya mengencang.

“Aku nggak nunggu dua belas detik buat ngejek kamu,” kataku cepat. “Aku nunggu karena aku mau kamu tahu. Di balik pintu yang aku ketuk, aku juga bisa nunggu. Aku bisa pelan. Aku bisa nggak buka duluan.” Aku menarik napas. “Kamu minta pelan. Ini pelan versi aku.”

Ervan menatapku lama sekali. Aku melihat sesuatu di matanya, sesuatu yang bergerak dan tidak bisa kubaca.

Lalu aku mengulurkan potongan film seluloid itu.

“Dari Kayla,” kataku. “Ulang tahunnya Sabtu. Di rumah Om Daniel. Dia minta aku kasih langsung. Tangan ke tangan. Perintah sutradara.”

Ervan menerima potongan film itu. Ia mengangkatnya ke arah cahaya jendela di belakangnya, menyipitkan mata, membaca tulisan kecil di setiap bingkai. Aku melihat sudut bibirnya bergerak di bingkai terakhir. DRESS CODE: BAHAGIA.

“Aku juga bakal di sana,” kataku. “Kalau kamu nggak mau aku di sana, bilang. Aku nggak datang. Aku bilang ke Kayla aku sakit. Aku nggak apa-apa.”

Ervan menurunkan potongan film itu. Ia menatapku.

“Datang,” katanya.

Satu kata. Sependek oke.

Aku mengangguk. Aku tidak berani bilang apa-apa lagi. Aku berbalik untuk turun tangga.

“Monic.”

Aku berhenti di anak tangga pertama.

“Kartu-kartunya,” katanya dari ambang pintu. “Pendek sekarang.”

“Kamu bilang pelan.”

Ia diam sebentar. Aku tidak berbalik. Aku tidak mau melihat wajahnya, karena aku takut kalau aku melihatnya, aku akan naik lagi dan melanggar semua yang baru saja kukatakan.

“Aku kangen kartu yang panjang,” katanya.

Aku menggenggam pegangan tangga besi sampai tanganku sakit.

Lalu aku turun. Pelan. Satu anak tangga demi satu. Aku tidak berhenti di anak tangga kelima.

Di bawah, Pak Tohir memutar lagu yang berbeda. Aku tidak tahu judulnya. Tapi liriknya, sejauh yang bisa kutangkap di antara kendang dan suling, tentang seseorang yang berdiri di depan pintu dan akhirnya dibukakan.

Malam itu, kartu Hari 80 yang kutulis panjangnya satu halaman penuh, bolak-balik, dengan huruf yang sangat kecil.

Isinya tentang tamu hotel yang membawa kucing Persia ke kamar dan meminta kucingnya diberi handuk ungu juga.