← Berkembang Sangat Baik

Chapter Nine

Penolakan Resmi

POV: Danny


Pesan itu muncul di grup wali murid hari Senin pukul 04.45, diselipkan di antara gambar mawar dan tulisan Semoga Harimu Berkah.

Mama Keysha: Selamat pagi Bunda-Bunda 🌹 Sekadar sharing ya, saya baca artikel bagus tentang pentingnya guru menjaga jarak profesional dengan wali murid, supaya semua anak diperlakukan adil 🙏 Semoga bermanfaat 😊

Di bawahnya ada tautan artikel berjudul 7 Tanda Guru Anak Anda Pilih Kasih.

Tidak ada nama, tidak ada tuduhan. Hanya satu artikel dan satu emoji tangan berdoa.

Tapi aku membacanya pukul lima pagi, setelah menutup laptop, dan aku tahu persis untuk siapa artikel itu.

Di bawahnya, tiga orang tua membalas dengan stiker jempol. Satu orang membalas: Betul Bun, penting banget 👍. Dan satu orang lagi, ibu yang duduk di sebelah Mama Keysha waktu Hari Orang Tua, membalas dengan emoji mata yang melirik ke samping.

Aku menatap emoji mata itu lama sekali.

Lalu aku berjalan ke kamar Wulan dan berdiri di ambang pintu, mendengarkan napasnya yang kecil dan teratur.

Di dinding di atas kasurnya, dengan selotip, dia menempelkan foto baru yang dicetak Dinda kemarin: foto Hari Orang Tua. Wulan di panggung, memeluk leher Bu Kinan, dan Bu Kinan memeluknya balik dengan mata berkaca-kaca.

Di bawah foto itu, dengan krayon ungu dan huruf yang miring ke segala arah, Wulan menulis: AKU DAN BU NANAN.

Aku berdiri di situ sampai matahari terbit.


Ada satu hal tentang diriku yang Anin selalu tahu, dan yang sering membuatnya kesal.

Kamu itu, Dan, katanya dulu, suatu malam waktu kami masih pacaran, waktu aku menolak mengambil tawaran kerja di Singapura karena takut Mamanya sakit dan tidak ada yang menjaga, kalau sayang sama orang, kamu mundur. Kamu pikir mundur itu melindungi. Padahal kadang orangnya cuma butuh kamu tetap di situ.

Dia benar. Waktu itu dia benar, dan aku tahu bahwa sekarang pun dia benar.

Tapi mengetahui sesuatu dan bisa melakukan sebaliknya adalah dua hal yang sangat berbeda.

Aku duduk di meja makan dengan teh yang sudah dingin, dan melakukan satu hal yang paling kukuasai: memikirkan semua kemungkinan terburuk.

Kalau aku dan Bu Kinan mencoba, dan berhasil, semuanya baik.

Tapi kalau gagal?

Wulan masih harus duduk di kelas TK B setiap hari selama satu tahun lagi, dengan guru yang dulu “kayak Mama”, yang sekarang cuma guru. Dan anak lima tahun tidak mengerti kenapa orang yang kemarin memeluknya di panggung hari ini hanya menyapa dengan sopan.

Bu Kinan juga, dengan artikel 7 Tanda Guru Pilih Kasih di grup wali murid, dengan emoji mata yang melirik ke samping, dengan pekerjaan yang dia cintai dan halaman TK tempat dia menyanyi dangdut dan dua puluh anak yang memanggilnya Bu Kinan.

Aku tidak bisa jadi alasan dia kehilangan itu.

Aku membuka buku penghubung Wulan, menatap halaman kosong, lalu menutupnya lagi.

Ini tidak boleh ditulis. Ini harus diucapkan langsung.


Pukul sebelas, aku datang tepat waktu.

Bu Kinan sudah berdiri di gerbang dengan dua gelas kopi dari warung Bang Jali, seperti setiap hari selama tiga minggu terakhir. Rambutnya dicepol dengan jepit stroberi, dan dia memakai kaus seragam olahraga karena hari Senin ada senam pagi.

Dia melihatku dan tersenyum lebar. Lesung pipinya muncul, dan aku merasakan dadaku seperti diremas.

“Pak! Hari ini lagu nomor empat, Pok Ame-Ame. Saya udah siapin gerakannya juga, ada tepuk tangannya…”

“Bu.”

Dia berhenti bicara. Dia orang yang terlalu pandai membaca wajah anak-anak, jadi tentu saja dia juga bisa membaca wajahku.

“…Pak?”

“Bisa bicara sebentar? Setelah Wulan dijemput Bu Tari ke kelas main.”

Senyumnya tidak hilang, tapi mengecil sedikit. Dia menyodorkan kopiku. Aku menerimanya, dan jari kami bersentuhan seperti biasa.

Kali ini tangannya dingin.


Kami duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang, tempat aku pertama kali melihatnya mengepang rambut Wulan.

Wulan sudah dibawa Bu Tari ke kelas untuk mewarnai. Bu Tari menatapku lama sebelum pergi, dengan tatapan orang yang sudah menduga sesuatu dan tidak suka dugaannya sendiri.

Aku memegang gelas kopi dengan dua tangan, dan Bu Kinan duduk di sebelahku dengan jarak satu rentangan tangan. Jarak yang dia minta pada semua orang tua di Jumat Sehat dulu.

“Pak,” katanya, “Bapak mau ngomong soal artikel Mama Keysha?”

Aku menoleh. “Ibu baca?”

“Saya admin grupnya, Pak.” Dia tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Saya baca jam lima pagi. Terus saya ketik balasan panjang. Terus Tari telepon, suruh saya hapus.”

“Ibu ketik apa?”

“Rahasia negara.”

Aku tertawa sedikit. Tapi tawa itu cepat habis.

“Bu,” kataku. “Saya mau jujur.”

“Oke.”

“Saya… suka lihat Ibu tiap jam sebelas.”

Dia menoleh. Matanya melebar sedikit.

“Saya suka kopinya, lagu-lagunya, gombalannya yang dari lagu anak TK. Saya suka cara Ibu ngepang rambut Wulan, dan cara Ibu ketawa. Saya suka waktu Ibu pura-pura motornya mogok di depan rumah saya, padahal kuncinya Ibu matiin sendiri.”

“Bapak lihat?”

“Dari balik gorden. Sama adik saya.”

Dia menutup mulut. Pipinya memerah, dan untuk sesaat semuanya terasa seperti biasa: hangat, lucu, dan ringan.

Lalu aku melanjutkan.

“Tapi, Bu.” Aku menatap kopi di tanganku. “Ibu gurunya anak saya.”

Aku tidak menoleh, tapi aku bisa merasakan dia berhenti bernapas.

“Wulan sayang banget sama Ibu. Kemarin, di panggung, Ibu dengar sendiri. Bu Nanan kayak Mama.” Suaraku sedikit pecah, dan aku berdeham. “Kalau kita… kalau kita coba, terus nggak berhasil, Wulan yang paling sakit. Dia masih harus ketemu Ibu tiap hari di kelas. Dia nggak akan ngerti kenapa semuanya berubah. Dan Ibu…”

Aku mengangkat HP-ku, dengan grup wali murid terbuka, artikel itu, dan emoji mata yang melirik.

“Ibu bisa kehilangan tempat Ibu di sini karena saya. Saya nggak mau jadi alasan orang ngomongin Ibu di grup jam lima pagi.”

Hening. Angin bertiup, dan daun ketapang jatuh satu, pelan, ke tanah di antara kaki kami.

“Jadi,” kataku, menatap daun itu. “Saya rasa… lebih baik kita… jangan.”


Aku menunggu dia menangis, marah, atau paling tidak diam lalu pergi.

Tapi Bu Kinan tidak melakukan satu pun dari itu.

Dia meletakkan gelas kopinya di bangku, menarik napas panjang, dan menoleh padaku dengan wajah yang tenang. Terlalu tenang. Aku belum pernah melihatnya setenang itu.

“Oke,” katanya.

“…Oke?”

“Oke, Pak. Saya dengar.” Dia mengangguk pelan. “Tapi saya guru, Pak. Di sekolah ini, setiap kali anak dapat nilai jelek, saya selalu kasih catatan kenapa. Supaya anaknya bisa belajar.”

Aku mengerutkan kening. “Maksud Ibu?”

Dia menatapku lurus-lurus. Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya stabil.

“Penolakan Bapak ini,” katanya pelan, “nilainya berapa, Pak?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Saya minta evaluasi tertulis,” lanjutnya. “Poin-poinnya. Kenapa saya ditolak, bagian mana dari saya yang kurang, apa yang bisa saya perbaiki. Saya nggak akan maksa Bapak. Tapi saya berhak tahu nilai saya.”

“Bu, Ibu nggak perlu diperbaiki. Ini bukan soal Ibu, ini soal…”

“Tertulis, Pak.” Dia berdiri, menepuk-nepuk rok olahraganya yang tidak kotor, dan mengambil gelas kopinya. “Besok. Jangan di buku penghubung, nanti Wulan baca. Pakai amplop. Taruh di meja saya.”

Lalu dia tersenyum. Senyum yang lebar, dengan lesung pipi, tapi matanya basah.

“Saya ke kelas dulu, Pak. Anak-anak mau belajar Pok Ame-Ame.”

Dia berjalan pergi, tidak menoleh, dengan langkah tegak dan kepala terangkat.

Aku duduk sendirian di bangku ketapang dengan kopi yang tidak lagi terasa hangat.


Dari jendela mobil di parkiran seberang, sepuluh menit kemudian, aku melihatnya.

Anak-anak sudah pulang, dan dia keluar dari gerbang sendirian, berjalan ke Si Pinky. Dia mengambil helm pink dari gantungan motor dan memeluknya di dada, tidak langsung memakainya.

Dia berdiri begitu cukup lama. Kepalanya menunduk, dan jari-jarinya mengusap stiker bintang di belakang helm. Bahunya bergetar sekali, lalu dua kali.

Lalu dia menegakkan badan, memakai helm, mengencangkan talinya yang kokoh dan berwarna putih, dan menyalakan Si Pinky.

Aku menurunkan kaca jendela sedikit, dan aku bisa mendengarnya.

Dia menyanyi. Keras, dengan cengkok dangdut, semua lagu anak TK yang pernah dia gombalkan padaku, satu per satu, dengan suara yang sedikit serak dan sesekali pecah. Dia menyanyi seperti orang yang sedang memaksa dirinya untuk tidak menangis, dan memilih berteriak dengan nada sebagai gantinya.

Si Pinky melaju, dan suaranya menjauh.

Aku menutup kaca jendela dan meletakkan dahiku di setir mobil. Kali ini tidak ada klakson yang berbunyi. Hanya ada aku, sendirian, di parkiran TK, pukul sebelas lewat empat puluh.


Malam itu aku menulis evaluasi.

Aku menulisnya di meja makan, setelah Wulan tidur, dengan lampu kuning dan teh baru yang juga akan dingin. Aku menulis tangan di kertas HVS, karena dia minta tertulis, dan karena mengetik terasa seperti curang.

Draf pertama:

Evaluasi Penolakan

1. Ibu terlalu berisik.

Aku berhenti, menatap kalimat itu, lalu melanjutkan tanpa bisa kucegah.

Setiap kali Ibu tertawa di gerbang, saya bisa dengar sampai parkiran. Dan setiap kali saya pulang ke rumah setelah itu, rumah saya jadi terasa terlalu sepi.

Aku mencoret itu dan mencoba lagi.

1. Ibu tidak punya rem.

Ibu bertanya saya sudah beristri atau belum di hari pertama. Ibu menyanyikan lagu anak untuk saya di depan satpam. Ibu pura-pura motornya mogok. Orang yang tidak punya rem itu berbahaya. Masalahnya, sudah tiga tahun saya berhenti di tempat yang sama, dan Ibu satu-satunya yang membuat saya ingin jalan lagi.

Aku mencoretnya juga.

2. Ibu terlalu sayang sama Wulan.

Ibu mengepang rambutnya tiap pagi. Ibu mengajarinya menyanyi dengan nada yang benar. Ibu membuatnya tertawa di panggung. Saya tidak tahu cara membalas itu. Saya takut kalau saya mencoba, saya malah mengambil sesuatu yang Wulan butuhkan.

Pulpen di tanganku berhenti.

Aku membaca apa yang sudah kutulis: dua poin, dua coretan, dan satu poin yang belum dicoret.

Tidak ada satu pun yang terdengar seperti alasan untuk menolak.

Aku menulis sampai jam dua pagi. Aku menulis dan mencoret, lalu menulis lagi. Aku mencoba membuat daftar kekurangan yang objektif, profesional, dan masuk akal, dan setiap kali, setiap kali, kalimatnya berbelok ke arah yang sama.

Akhirnya aku menyerah mencoret. Aku menulis ulang semuanya dengan rapi di kertas baru, tanpa coretan, dan melipatnya menjadi tiga.

Di foto di atas rak buku, Anin tertawa di pantai dengan rambut dikepang dua.

“Aku tahu,” kataku pelan ke foto itu. “Aku tahu, Nin. Aku mundur lagi.”

Foto itu tidak menjawab, tapi entah kenapa aku bisa mendengar Anin menghela napas panjang, seperti setiap kali aku menolak sesuatu yang sebenarnya kuinginkan.

Aku memasukkan kertas itu ke amplop cokelat dan menulis di depannya: Untuk Bu Kinan. Evaluasi.


Selasa pagi, aku menaruh amplop itu di meja guru waktu mengantar Wulan, sebelum Bu Kinan datang. Bu Tari melihatku menaruhnya, dan dia tidak berkata apa-apa. Tapi dia menggeleng pelan dengan wajah sedih, seperti orang yang melihat seseorang berjalan ke arah tembok dengan mata terbuka.

Pukul sebelas, Bu Kinan tidak berdiri di gerbang dengan dua gelas kopi. Bu Tari yang menyerahkan Wulan padaku. Bu Kinan sedang di kelas, katanya, merapikan prakarya.

Aku mengangguk. Aku bilang tidak apa-apa. Aku menggendong Wulan ke mobil dan menyalakan mesin.

“Papa,” kata Wulan dari kursi belakang. “Bu Nanan hali ini nggak nyanyi.”

“Oh ya?”

“Bu Nanan diem aja. Telus Bu Nanan baca sulat. Telus Bu Nanan ketawa. Telus nangis. Telus ketawa lagi. Telus Bu Tali kasih tisu. Telus Bu Nanan bilang, ‘Ya Allah, ini orang.’”

Aku mencengkeram setir. “Terus?”

“Telus Bu Nanan tulis-tulis pakai pulpen melah. Kayak meliksa PL.”

Aku menatap Wulan dari kaca spion. Anakku sedang membuka tas kelincinya, lalu mengeluarkan amplop cokelat yang sama dengan yang kutaruh di meja guru tadi pagi.

“Ini, Pa. Kata Bu Nanan, kasih Papa. Kata Bu Nanan, jangan dibaca di jalan, nanti nablak.”


Aku tidak membacanya di jalan. Aku membacanya di garasi, dengan mesin mobil mati dan Wulan sudah berlari masuk ke rumah memanggil-manggil kelinci kapasnya.

Kertas evaluasiku ada di dalam amplop itu, dan sudah diperiksa.

Seluruh kertas penuh coretan pulpen merah. Bukan coretan yang menghapus, tapi coretan guru yang memeriksa ulangan. Setiap poin dilingkari. Di pinggirnya ada catatan-catatan kecil dengan tulisan tangan besar dan bulat yang kukenal.

Di samping poin satu, tentang terlalu berisik dan rumah yang terasa sepi: Ini bukan kekurangan, Pak. Ini pengakuan.

Di samping poin dua, tentang tidak punya rem dan ingin jalan lagi: Ini juga bukan kekurangan. Ini puisi. Bapak ternyata bisa nulis puisi.

Di samping poin tiga, tentang terlalu sayang Wulan: Ini satu-satunya poin yang serius. Saya catat. Kita bahas nanti.

Dan di bagian paling bawah kertas, di kotak yang biasanya dipakai guru untuk menulis nilai akhir, dengan huruf merah besar yang dilingkari dua kali:

HASIL PEMERIKSAAN: INI SURAT CINTA.

NILAI: REMEDIAL.

Di bawahnya, dengan tulisan yang lebih kecil, sedikit miring, dan ada bekas titik air yang sudah kering dan membuat tintanya meluber sedikit:

Pak Danny, penolakan Bapak saya tolak.

Tenang, saya nggak akan maksa. Saya dengar soal Wulan, dan saya ngerti. Saya juga sayang Wulan, dan saya nggak akan pernah jadiin dia taruhan.

Tapi saya juga nggak akan pura-pura berhenti suka sama Bapak. Saya nggak bisa. Saya nggak punya rem, ingat?

Jadi begini: kopi tetap jalan, lagunya tinggal empat puluh empat. Bapak boleh terus bilang “jangan”. Saya boleh terus bawa kopi. Kita lihat siapa yang capek duluan.

P.S. Saya sudah hitung. Tahun ajaran ini masih sembilan bulan lagi. Itu kira-kira dua ratus hari sekolah. Artinya dua ratus gelas kopi.

P.P.S. Dan Pak, saya nggak takut sama grup WA. Saya admin-nya.

Di pojok kertas, tepat di sebelah kata REMEDIAL, ada satu stiker bintang emas.

Aku duduk di garasi dengan kertas itu di tangan, lama sekali.

Lalu aku tertawa. Sendirian di garasi, di dalam mobil yang mesinnya mati, aku tertawa sampai mataku basah. Aku tidak tahu apakah itu karena lucu atau karena hal lain, tapi aku tertawa dan tertawa sampai Wulan mengetuk kaca jendela dari luar dengan kelinci kapas di tangannya.

“Papa kenapa? Papa ketawa sambil nangis. Kayak Bu Nanan tadi.”

Aku menurunkan kaca jendela. “Papa dapat nilai jelek, Lan.”

Wulan mengerutkan kening. “Nilainya apa?”

“Remedial.”

“Itu apa?”

“Itu artinya… Papa harus ngulang.”

Wulan memikirkan itu dengan serius. Lalu dia memberikan kelinci kapasnya padaku lewat jendela, dengan wajah sangat bijak.

“Nggak apa-apa, Papa. Kata Bu Nanan, kalau ngulang, nanti pasti bisa. Yang penting nggak nyelah.”

Aku menerima kelinci kapas itu, menatap stiker bintang di pojok kertas, dan dua ratus gelas kopi yang sedang menunggu.

Aku tahu, dengan kepastian yang aneh dan menakutkan, bahwa aku tidak akan bertahan sampai gelas yang ke dua ratus.