Chapter Six
Perang Grup WA
POV: Sheila
Grup WhatsApp “WALI MURID TK B PELANGI CERIA 🌈” memiliki dua puluh dua anggota, empat puluh tiga stiker bunga per hari, dan satu penguasa tak resmi.
Namanya Mama Keysha.
Secara teknis, admin grup itu adalah aku dan Bu Tari, sebagai wali kelas. Tapi secara praktis, grup itu adalah kerajaan Mama Keysha. Dialah yang pertama mengucapkan selamat pagi setiap hari pukul 04.45, lengkap dengan gambar mawar dan tulisan Semoga Harimu Berkah. Dialah yang mengatur jadwal piket bekal bersama, dan dialah yang mengusulkan seragam batik kembar untuk Hari Orang Tua.
Dan dialah ibu berkerudung pink yang, di hari aku menyanyikan Balonku untuk Pak Danny di gerbang sekolah, menatapku seperti satpam mal menatap pencuri.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan pola.
Pola pertama: Mama Keysha selalu datang menjemput lima menit sebelum Pak Danny, dan selalu berdiri di tempat Pak Danny biasanya menunggu.
Pola kedua: sejak minggu lalu, Mama Keysha rajin membawa kue. Kue bolu pandan, kue lapis, kue sus. Semuanya dalam kotak mika yang diikat pita, dan semuanya disodorkan ke Pak Danny dengan kalimat, “Buat Wulan, Pak. Sama Papanya juga, pasti belum sarapan.”
Pola ketiga, dan yang paling berbahaya, baru muncul Senin pagi, jam 04.45, di grup:
Mama Keysha: Selamat pagi Bunda-Bunda dan Ayah-Ayah hebat 🌹🌹 Mau info, untuk panitia Hari Orang Tua kita butuh seksi dokumentasi dan dekorasi, kebetulan kemarin saya lihat prakarya Wulan keren sekali ada lampunya ✨✨ Bagaimana kalau Papa Wulan jadi seksi dekorasi? Nanti kita rapat berdua saja biar efektif 🙏😊
Aku membaca pesan itu di kasur, jam lima pagi, dengan mata setengah terbuka.
Lalu aku membacanya lagi dengan mata terbuka penuh.
Rapat berdua saja.
Aku duduk tegak di kasur. Di kamar sebelah, radar Ibu entah bagaimana langsung berbunyi.
“Kinan! Kamu bangun jam segini ngapain?”
“Perang, Bu!”
“Jangan,” kata Bu Tari pukul tujuh pagi, sebelum aku sempat membuka mulut. “Apa pun yang mau kamu ketik di grup, jangan.”
“Aku belum ngetik apa-apa.”
“Kamu udah ngetik. Aku lihat dari notifikasi. ‘Admin sedang mengetik…’ dari jam lima sampai jam enam. Satu jam, Kinan.”
Aku mengeluarkan HP dan menunjukkan draf-draf pesanku yang tidak pernah terkirim.
Draf pertama: Terima kasih Mama Keysha atas usulannya, tapi sebagai wali kelas kami rasa rapat panitia sebaiknya dilakukan bersama-sama, tidak berdua. 🙏
“Itu bagus,” kata Bu Tari. “Kenapa nggak dikirim?”
“Terlalu sopan. Aku kedengaran kalah.”
Draf kedua: Rapat berdua saja?? Berdua?? Di mana?? Kapan?? Dalam rangka apa??
“Kinan.”
Draf ketiga: Mohon maaf, Papa Wulan sudah ada yang punya. Terima kasih. — Manajemen.
“Kinan!”
“Aku nggak kirim, Tari! Makanya jadi draf!”
Bu Tari mengambil HP-ku dengan tenang, membuka grup, dan mengetik sendiri dengan jari-jari yang sudah terlatih menghadapi dua puluh anak TK dan satu sahabat gila.
Bu Tari (Wali Kelas): Selamat pagi, Bunda dan Ayah. Terima kasih atas antusiasmenya 🙏 Untuk kepanitiaan Hari Orang Tua, pembagian tugas akan dibahas bersama dalam rapat wali murid hari Jumat setelah Jumat Sehat. Semua orang tua dipersilakan hadir. Terima kasih 🌈
Kirim.
Aku menatap pesan itu. Sopan, profesional, adil, dan sekaligus menutup pintu “rapat berdua” dengan sangat elegan.
“Tari,” bisikku, “kamu jenius.”
“Aku guru TK,” kata Bu Tari, mengembalikan HP-ku. “Aku sudah tujuh tahun menghadapi anak yang berebut perosotan. Ibu-ibu yang berebut duda itu versi yang lebih tinggi aja.”
Grup langsung ramai. Balasan “Siap Bu 🙏” dari lima belas orang tua, stiker jempol dari delapan, dan satu stiker bunga layu dari Mama Keysha.
Lalu, di antara semua balasan itu, muncul satu nama yang selama tiga minggu grup ini berdiri tidak pernah mengirim satu pesan pun.
Danny (Papa Wulan): Siap, Bu. Terima kasih.
Hanya itu, empat kata dan satu titik.
Tapi aku menatap pesan itu seolah-olah dia baru saja mengirim puisi. Karena di bawahnya, satu menit kemudian, muncul pesan kedua:
Danny (Papa Wulan): Oh, dan soal dekorasi, yang bikin prakarya itu Wulan. Saya cuma bagian kabel. Yang pantas dapat pujian Wulan 🙏
Aku menutup mulut dengan tangan.
Dia tidak menolak Mama Keysha secara langsung. Dia tidak kasar dan tidak menyindir. Dia hanya dengan halus memindahkan semua pujian ke anaknya, dan dengan itu, diam-diam, menutup pintu kedua.
“Tari,” kataku. “Tari, dia pakai emoji tangan berdoa.”
“Terus?”
“Dia nggak pernah pakai emoji.”
Bu Tari memandangku dengan wajah sangat lelah. “Kinan, kamu sekarang menganalisis emoji orang tua murid.”
“Iya. Dan aku bangga.”
Hari Rabu, Wulan datang ke sekolah membawa kardus besar yang hampir seukuran badannya. Dia menyeretnya dari gerbang ke kelas sambil terengah-engah seperti kurir paket.
“Bu Nanan! Ini dali Papa!”
“Dari Papa?”
“Papa bilang, jangan dibuka di depan olang. Tapi aku udah bilang ke semua olang, jadi nggak apa-apa.”
Benar saja, dua puluh anak TK B langsung mengerubungi kardus itu. Di belakang mereka, di ambang pintu kelas, tiga ibu-ibu yang belum pulang ikut mengintip. Salah satunya berkerudung pink.
Aku membuka kardus itu pelan-pelan.
Di dalamnya ada sebuah helm. Helm half-face berwarna pink pastel, masih terbungkus plastik, dengan label SNI dan tali pengait yang kokoh berwarna putih. Di bagian belakang helm, tepat di tengah, ada satu stiker bintang emas.
Di atas helm itu ada secarik kertas, disobek dari buku catatan, dengan tulisan tangan yang kecil, rapi, dan sedikit miring ke kanan.
Bu, tali helmnya jangan pakai karet gelang lagi. Kalau mau nyanyi sambil nyetir, silakan. Tapi pakai helm yang benar.
— D.
P.S. Stikernya bukan dari saya. Wulan yang nempel. Katanya biar helmnya tahu dia disayang.
Aku duduk di lantai kelas.
Aku tidak berencana duduk. Kakiku yang memutuskan sendiri. Dua puluh anak TK B mengelilingiku dengan wajah bingung, dan Rafi menepuk bahuku.
“Bu Kinan kenapa? Bu Kinan mau nangis?”
“Nggak, Rafi.”
“Bu Kinan matanya ailan.”
“Itu… debu, Rafi. Debu kardus.”
Wulan jongkok di depanku. Dia menatap helm itu, lalu menatapku, dan dengan wajah serius seorang detektif yang menutup kasus, dia berkata:
“Papa milihnya lama, Bu Nanan. Papa baca-baca ulasan sampe malem. Telus Papa bilang, ‘Yang ini aja, talinya kuat, biar Bu Nanan nggak jatuh lagi.’”
Aku menatap helm pink itu dan stiker bintang di belakangnya, lalu membayangkan laki-laki yang kerja sampai subuh itu duduk di depan laptop membaca ulasan helm perempuan sampai larut malam, hanya karena tali helmku diikat karet gelang.
Dan aku, perempuan tanpa rem, merasa rem di dadaku ikut putus.
Di ambang pintu, Mama Keysha menatap helm pink itu lama. Lalu dia pergi tanpa bicara, tapi langkahnya terlalu cepat.
Jumat Sehat di TK Pelangi Ceria adalah tradisi bulanan. Anak-anak dan orang tua senam bersama di halaman, dipimpin oleh satu guru sebagai instruktur. Biasanya instrukturnya Bu Tari, karena Bu Tari tenang dan gerakannya jelas.
Tapi bulan ini aku mengajukan diri.
“Kinan,” kata Bu Tari waktu aku mendaftar, “kenapa?”
“Karena aku peduli pada kesehatan jasmani wali murid.”
“Kenapa sebenarnya?”
“Karena Mama Keysha pasti berdiri di sebelah Pak Danny, dan kalau aku instrukturnya, aku yang atur formasinya.”
Bu Tari memejamkan mata. “Ya Allah, lindungilah kami semua.”
Jumat pagi pukul tujuh, halaman TK sudah penuh orang tua dan anak dengan seragam olahraga. Aku berdiri di panggung kecil dengan kaus olahraga kuning, celana training, dan mikrofon headset yang kupinjam dari masjid kompleks. Rambutku dicepol tinggi dengan jepit panda.
Dan benar saja, Mama Keysha sudah berdiri di barisan kedua dengan setelan olahraga ungu yang serasi dengan kerudungnya, lengkap dengan bulu mata palsu. Tepat di sebelah kanannya, Pak Danny dengan kaus abu-abu dan celana training hitam, memegang tangan Wulan yang lompat-lompat tidak sabar.
Pak Danny melihatku di panggung dan tersenyum kecil. Lalu matanya turun ke jepit panda di rambutku, dan senyumnya berubah jadi sesuatu yang lebih hangat.
Aku menyalakan mikrofon.
“SELAMAT PAGI, KELUARGA PELANGI CERIA!”
“SELAMAT PAGIII!” teriak anak-anak.
“Sebelum mulai, Ibu mau atur formasi dulu, ya! Supaya aman dan semua kebagian ruang!” Aku menunjuk dengan gaya pramugari. “Anak-anak di depan! Orang tua di belakang anaknya masing-masing! Jaga jarak satu rentangan tangan, ya, Ayah-Bunda! Satu rentangan tangan!”
Semua orang bergeser. Mama Keysha, yang tadinya berdiri menempel di sebelah Pak Danny, terpaksa bergeser satu rentangan tangan ke kiri, lalu satu rentangan lagi karena Keysha, anaknya, merentangkan tangan terlalu lebar.
Bu Tari, yang memegang speaker, menatapku dari samping panggung. Kinan, katanya tanpa suara.
Keselamatan nomor satu, jawabku, juga tanpa suara.
Aku menekan tombol musik.
Tentu saja, lagu yang keluar bukan lagu senam standar. Itu Balonku versi remix dangdut koplo yang kubuat sendiri semalam, dengan kendang, suling, dan bas yang bisa menggetarkan kaca jendela kelas.
Seluruh halaman diam sesaat. Lalu anak-anak menjerit kegirangan, dan senam dimulai.
Aku sudah bilang, jiwaku tidak pernah benar-benar pensiun dari Kendang Distorsi. Pagi itu jiwa itu keluar sepenuhnya. Aku bergoyang, memutar tangan, menghentak kaki, dan membuat gerakan balon meletus dengan melompat dan menepuk tangan di atas kepala. Anak-anak mengikuti dengan histeris. Para ayah mengikuti dengan kaku. Para ibu mengikuti dengan malu-malu, lalu makin lama makin berani.
Pak Danny mengikuti dengan kaku, lalu tertinggal satu ketukan, lalu dua, lalu dia sepenuhnya menyerah pada gerakan versinya sendiri. Dia sudah tidak mengikuti ritme apa pun. Dia hanya berusaha keras dan tertawa, sementara Wulan di depannya berteriak, “Papa salah! Papa kebalik! Papa tangannya kanan!”
Aku tertawa di mikrofon sampai suaraku pecah.
Lalu tibalah bagian yang sudah kurencanakan semalaman.
“Sekarang, Ayah-Bunda, kita senam berpasangan! Tapi Ibu contohkan dulu, ya! Ibu butuh satu relawan!”
Tangan Mama Keysha langsung terangkat. Tinggi, cepat, dengan semangat.
“Relawannya harus yang tinggi,” lanjutku cepat, “supaya kelihatan dari belakang! Siapa yang paling tinggi di sini? Oh, Papa Wulan! Silakan maju, Pak!”
Pak Danny menatapku dengan ekspresi Ibu serius?
Aku mengedip.
Tiga puluh orang tua menoleh ke arahnya. Wulan mendorong-dorong kaki papanya. “Papa maju! Papa maju!”
Pak Danny menyerah. Dia naik ke panggung kecil itu, dan aku tidak bisa berbohong: dari jarak dekat, dengan kaus abu-abu yang sedikit basah keringat, rambut berantakan, dan napas sedikit terengah, dia terlihat… berbahaya.
“Bu,” bisiknya waktu berdiri di sebelahku, di luar jangkauan mikrofon. “Ibu sengaja.”
“Keselamatan formasi, Pak.”
“Mama Keysha angkat tangan duluan.”
“Mama Keysha kurang tinggi.”
Dia menatapku. Aku menatapnya dengan wajah paling polos yang bisa kubuat. Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik.
“Ibu ini,” katanya pelan, “benar-benar nggak ada remnya, ya.”
“Rem saya putus hari Rabu, Pak. Waktu buka kardus helm.”
Senyumnya membeku sesaat. Lalu dia menunduk dan tertawa pelan tanpa suara, telinganya merah, di depan tiga puluh orang tua yang menonton.
Aku menyalakan musik lagi.
“Oke, Ayah-Bunda! Gerakan pertama: tos berpasangan! Tangan kanan ke tangan kanan pasangan!”
Pak Danny mengangkat tangan kanannya, dan aku menepuknya. Tangannya besar dan hangat, dan waktu telapak tangan kami bertemu, rasanya seperti sengatan listrik kecil. Lucu, karena dia memang orang yang paham kabel.
“Gerakan kedua: putar bersama! Pegang tangan pasangan, putar satu kali!”
Dia memegang kedua tanganku, dan kami berputar. Di tengah putaran, entah bagaimana, kakiku tersandung kabel speaker.
Aku oleng. Dunia miring, dan untuk sesaat aku melihat langit, pohon ketapang, dan wajah Bu Tari yang ketakutan.
Lalu sebuah lengan melingkar di pinggangku dan menahanku.
Aku tidak jatuh. Aku berhenti di udara dengan badan miring, satu tangan mencengkeram kaus abu-abunya, dan wajahnya tepat di atas wajahku. Dekat, terlalu dekat. Aku bisa melihat bulu matanya yang panjang dan tahi lalat kecil di bawah alis kirinya yang tidak pernah kusadari sebelumnya.
Halaman TK hening. Bahkan musik remix Balonku seperti ikut menahan napas.
“Bu,” katanya pelan, dengan suara serak. “Pakai helm juga harusnya waktu senam.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menatapnya. Rasanya seluruh kendang di dunia sedang dipukul di dalam dadaku.
Lalu, dari barisan depan, suara kecil yang sangat jelas memecah keheningan:
“PAPA SAMA BU NANAN KAYAK DI FILM PUTLI!”
Seisi halaman meledak tertawa. Pak Danny menegakkan badanku dengan cepat, melepaskan lengannya, dan mundur satu langkah, lalu dua langkah. Wajahnya merah sampai ke leher, dan aku yakin wajahku juga.
Di barisan kedua, Mama Keysha melipat tangan. Tapi untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang lain di wajahnya, di balik bulu mata palsunya. Bukan marah, tapi sesuatu yang lebih sepi dari itu.
Aku belum tahu apa artinya waktu itu.
Sore itu, pukul empat, HP-ku berbunyi.
Bukan dari grup. Itu pesan pribadi dari nomor yang belum kusimpan, tapi aku langsung tahu siapa, karena foto profilnya seorang laki-laki berjongkok di pantai dengan anak perempuan memanjat punggungnya.
+62 812…: Bu, ini Danny. Maaf ngechat pribadi. Nomor Ibu saya ambil dari grup.
Aku melempar HP ke kasur, lalu memungutnya lagi dengan tangan gemetar.
+62 812…: Pinggang Ibu nggak apa-apa? Tadi keseleo nggak?
Aku mengetik NGGAK APA-APA PAK!!!!!, menghapusnya, mengetik Nggak apa-apa, Pak 😊, menghapus emojinya, lalu memasang lagi emojinya, dan akhirnya mengirim.
Aku: Nggak apa-apa, Pak 😊 Makasih udah nangkep. Pinggang Bapak gimana? Tadi joget kebalik terus.
+62 812…: Pinggang saya sakit. Tapi senang.
Aku membaca pesan itu tujuh kali.
+62 812…: Oh, tadi Mama Keysha ngajak saya ke arisan hari Sabtu. Saya bilang saya ada acara.
+62 812…: Sekarang saya harus cari acara, supaya nggak bohong.
Aku duduk tegak di kasur. Jantungku mulai berdetak dengan ritme kendang koplo.
Lalu aku ingat kalender di dinding kamar. Sabtu besok tanggal tujuh belas Agustus, dan di situ ada lingkaran merah yang kubuat sebulan lalu dengan spidol: LOMBA MAKAN KERUPUK RT 04 — PERTAHANKAN GELAR!!!
Aku mengetik dengan cepat, sebelum rasa malu sempat menyusul.
Aku: Pak. Sabtu jam delapan pagi saya lomba makan kerupuk tingkat RT. Saya juara bertahan tiga tahun berturut-turut. Saya butuh suporter.
Pesan itu terkirim, dan centang dua biru.
Lalu tulisan sedang mengetik… muncul, hilang, muncul lagi, hilang lagi. Lama sekali. Aku berguling ke kanan, berguling ke kiri, menutup muka dengan bantal, lalu membuka lagi.
Akhirnya, pesannya masuk.
+62 812…: Wulan boleh ikut?
Aku: Wajib!
+62 812…: Saya bawa spanduk?
Aku tertawa keras sampai Ibu mengetuk dinding lagi.
Aku: Bapak serius?
+62 812…: Tiga puluh persen serius, Bu.
Aku berhenti bernapas.
Itu kalimatku, dari hari pertama di bawah pohon ketapang. Dia mengingatnya.
Satu pesan lagi masuk sebelum aku sempat membalas.
+62 812…: Yang tujuh puluh persennya saya kasih tahu Sabtu.
Aku menyimpan nomornya dengan nama Papa Wulan 🎈, lalu menghapusnya dan menggantinya dengan Pak Danny ⭐, lalu menghapusnya lagi.
Akhirnya aku menyimpannya dengan nama yang membuatku harus menutup muka dengan bantal selama lima menit:
Balon Hijau 💚
Karena balon yang hijau meletus, dan hatiku, sepertinya, juga ikut meletus bersamanya.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA reading
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian