Chapter Twenty Four
Kemungkinan Terburuk
POV: Danny
Dampak ke Kinan
1. Kehilangan kopi jam sebelas. (Poin tiga.)
2. Kehilangan lagu di gerbang. (Poin tiga.)
3. Nggak boleh meluk Wulan di pagi hari. (Poin dua.)
4. Diomongin di bawah pohon ketapang tiap hari. Sampai akhir tahun ajaran. Bulan Juni. Delapan bulan lagi.
5. Tiga surat keberatan di laci yayasan. Kalau datang surat keempat…
6. TK A. Atau cabang lain.
7. Kalimantan.
Aku berhenti mengetik di nomor tujuh.
Itu Kamis malam, pukul dua belas lewat dua puluh, di mobil yang gelap di seberang gerbang TK yang sudah dikunci. Aku menatap kata Kalimantan lama sekali. Itu kata yang tidak masuk akal, karena yayasan TK Pelangi Ceria bahkan tidak punya cabang di Kalimantan.
Tapi adik Bu Hartini ada di sana, dan dia tidak pernah menikah.
Aku menghapus kata itu, lalu mengetiknya lagi.
Jumat, aku tidak mengantar Wulan ke sekolah. Dinda yang mengantar.
“Kenapa bukan Kakak?” tanya Dinda waktu kutelepon jam enam pagi.
“Poin dua. Serah terima di gerbang dipegang Bu Tari. Kalau aku yang antar, Kinan harus pura-pura nggak lihat aku.” Aku mengusap wajahku. “Aku nggak mau lihat dia pura-pura.”
Dinda diam di seberang telepon. “…Kak, Kakak nggak tidur, ya?”
“Tidur.”
“Berapa jam?”
“…Satu.”
“Kak.”
“Antar Wulan aja, Din. Tolong.”
Dinda mengantar Wulan. Waktu pulang pukul sebelas, dia mengirim pesan dengan tiga foto.
Foto pertama: gerbang TK, dengan Bu Tari menerima Wulan sambil tersenyum lebar yang dipaksakan.
Foto kedua: Kinan berdiri agak jauh, di teras kelas, pura-pura menyapu. Wajahnya menoleh ke arah gerbang, dan sapunya berhenti bergerak.
Foto ketiga: Wulan berlari masuk ke kelas melewati Bu Tari, langsung ke arah Kinan di teras. Kinan menurunkan sapu dan membuka tangannya, lalu menghentikan tangannya di udara.
Di bawah foto ketiga, Dinda menulis: Kak. Dia nggak jadi meluk.
Aku menatap foto itu sampai layar HP mati sendiri.
8. Nggak jadi meluk Wulan. Tangannya berhenti di udara. Jumat, 07.20.
Wulan pulang dari sekolah dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Dia tidak berlari masuk rumah memanggil kelinci kapasnya. Dia tidak bercerita soal Rafi yang makan krayon atau Bima yang ceritanya selalu tentang ayahnya. Dia masuk rumah dengan pelan, menaruh tas kelinci di sofa, lalu duduk di karpet ruang tengah dan menatap rumah kardus merah muda di rak buku.
Aku duduk di sebelahnya.
“Lan.”
“Hm.”
“Hari ini gimana di sekolah?”
Dia diam lama. Tangannya naik dan menggenggam liontin bulan sabit di lehernya.
“Bu Nanan nggak meluk aku,” katanya pelan.
Aku menarik napas.
“Bu Nanan buka tangan, telus nggak jadi. Telus Bu Nanan bilang, Wulan masuk dulu ya, Sayang, Bu Tali udah nunggu. Telus Bu Nanan senyum. Tapi senyumnya nggak kayak biasanya.” Wulan menatapku. “Senyumnya kayak Papa kalau lagi pula-pula nggak capek.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Papa,” kata Wulan. “Bima bilang, Bu Nanan mau dipindah.”
“…Bima dengar dari mana?”
“Dali mamanya. Mamanya bilang ke nenek. Kata Bima, kalau Bu Nanan dipindah, nanti Bu Nanan ngajal di tempat lain. Jauh.” Wulan menggenggam liontinnya lebih erat. “Papa, Bu Nanan mau dipindah?”
Aku ingin bilang nggak, Sayang. Aku ingin bilang semuanya akan baik-baik saja, dan Bu Nanan tidak ke mana-mana.
Tapi aku sudah janji pada diriku sendiri, jam tiga pagi di sofa itu, bersama Kinan: tidak akan ada setengah kebenaran untuk Wulan.
“Papa belum tahu, Lan,” kataku. “Orang-orang dewasa lagi ngobrol. Minggu depan baru ketahuan.”
Wulan memikirkan itu lama sekali. Lalu dia mengangkat kepala dan menatapku dengan wajah paling serius yang pernah kulihat.
“Kalau Bu Nanan pindah,” katanya, “aku ikut pindah.”
Aku berhenti bernapas.
“Aku ikut Bu Nanan. Ke sekolah yang baru. Biar Bu Nanan nggak sendilian.” Dia mengangguk mantap, seperti sudah memutuskan. “Kayak Papa bilang dulu. Jangan ada yang ditinggal.”
Aku menarik anakku ke pangkuan dan memeluknya erat sekali. Dia membiarkan dirinya dipeluk dengan liontin bulan sabit yang menekan dadaku.
Di kepalaku, sesuatu menyala. Pelan, dingin, dan sangat logis.
Ikut pindah.
Pukul sebelas malam, bel rumah berbunyi.
Aku membuka pintu, dan Dinda berdiri di sana dengan kotak martabak manis di satu tangan dan HP dengan ring light di tangan yang lain.
Di belakangnya, dengan helm masih di kepala dan kaus bertuliskan KINAN — JUARA BERTAHAN 3X, berdiri Bagas.
“Kami datang untuk intervensi,” kata Dinda.
“Intervensi,” ulang Bagas.
Aku menatap mereka berdua. Lalu aku menatap tangan mereka. Tangan kiri Dinda dan tangan kanan Bagas, yang bergandengan dengan sangat alami, seperti sudah lama begitu.
“Kalian…”
“Iya,” kata Dinda cepat. “Sejak pasar malam. Tapi itu bukan topik malam ini, Kak. Malam ini topiknya Kakak.”
“Kami udah pacaran tiga minggu,” tambah Bagas. “Tapi itu bukan topik malam ini.”
“Bagas.”
“Maaf.”
Mereka masuk tanpa dipersilakan. Dinda menaruh martabak di meja makan, lalu menyalakan ring light dan menaruhnya di tengah meja. Lampu putih menyilaukan itu menyinari wajahku seperti lampu interogasi.
“Kenapa ring light?” tanyaku.
“Supaya Kakak nggak bisa bohong,” kata Dinda. “Duduk.”
Aku duduk.
“Kak,” kata Dinda, duduk di seberangku dengan tangan terlipat di meja. “Kak Kinan nangis.”
Aku berhenti.
“Tadi sore,” lanjut Bagas pelan, duduk di sebelah Dinda. “Di kamar. Ibu bilang Kak Kinan nggak nangis kayak biasanya, yang teriak-teriak ke bantal terus Ibu ketuk dinding. Kali ini diem. Nangis diem.” Bagas menunduk. “Ibu bilang Kak Kinan cuma nangis diem dua kali seumur hidup. Waktu Nenek meninggal, dan hari ini.”
Aku menatap martabak manis di meja. Keju dan cokelatnya meleleh, dan aku tidak bisa merasakan apa pun.
“Kak Kinan bilang ke Ibu,” kata Bagas, “Danny diem, Bu. Waktu ditanya di rapat, Danny diem.”
9. Aku diam di rapat. Dia yang jawab sendiri. Dia nangis diam.
“Kak,” kata Dinda, mencondongkan badan ke depan di bawah ring light. “Kakak kenapa diem di rapat?”
Aku tidak menjawab.
“Kakak lagi mikir, ya,” kata Dinda pelan. Itu bukan pertanyaan. “Kakak lagi bikin daftar.”
Aku menatap adikku. Dinda yang berusia dua puluh dua tahun, content creator, yang sering membawa ring light ke tempat yang tidak masuk akal. Dinda yang dulu datang ke rumah ini di minggu pertama setelah Anin pergi dan tidur di sofa selama sebulan penuh, karena takut aku sendirian.
“Aku nggak bikin daftar,” kataku.
Dinda mengulurkan tangan ke seberang meja. “HP.”
“Din…”
“HP, Kak.”
Aku tidak memberikannya. Tapi aku tidak perlu. Dinda sudah tahu, dan dia sudah tahu sejak aku berumur empat belas tahun dan dia berumur tujuh. Waktu itu aku membuat daftar Kemungkinan Kalau Papa Dipecat dari Kantor di buku tulis, lalu menangis sendirian di kamar, dan Dinda kecil masuk membawa permen.
“Kak,” kata Dinda, dan suaranya pecah sedikit. “Kak Anin dulu bilang ke aku. Waktu di rumah sakit. Katanya, Din, kalau Kakakmu mulai bikin daftar, rebut HP-nya. Dia nggak pernah bikin daftar kemungkinan terbaik. Selalu yang terburuk.”
Aku menatap Dinda di bawah ring light, lalu menatap Bagas, yang diam dan menunduk dengan kaus bertuliskan nama Kinan.
“Aku cuma mau lindungin dia, Din,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Itu aja. Dia sayang sama kelasnya. Sama dua puluh anak itu. Dia pindah jurusan dari musik ke PGTK karena anak-anak. Dia nyanyi buat mereka tiap hari. Kalau dia kehilangan itu gara-gara aku…”
“Kak Kinan lebih sayang sama Kakak,” potong Bagas tiba-tiba.
Aku menoleh padanya.
Bagas mengangkat kepala. Wajahnya serius, lebih serius dari yang pernah kulihat, tanpa seringai intel dan tanpa seblak.
“Kak Kinan itu dari kecil nggak pernah takut apa-apa, Kak,” katanya pelan. “Jatuh dari pohon mangga, manjat lagi. Dimarahin Ibu tiga bulan gara-gara pindah jurusan, nggak peduli. Ditolak Kakak, bawa kopi terus.” Bagas berhenti. “Tapi Senin kemarin, Kak Kinan telepon aku jam enam pagi. Nanya, Gas, menurutmu Danny bakal mundur lagi nggak?”
Aku tidak bisa bernapas.
“Aku belum pernah dengar Kak Kinan takut, Kak,” kata Bagas. “Seumur hidup. Senin kemarin pertama kali.”
10. Dia takut aku mundur.
Dinda dan Bagas pulang pukul dua belas lewat. Martabak manis masih setengah, dan ring light tertinggal di meja makan.
Aku duduk sendirian di meja makan di bawah lampu kuning dengan HP terbuka di notes, dan menatap sepuluh baris itu.
Lalu aku mulai mengetik lagi, bukan di nomor sebelas. Aku mengetik di bawah semua daftar itu, satu baris terpisah:
Kalau Wulan bukan murid Kinan lagi, “hubungan pribadi dengan wali murid” hilang.
Aku menatap kalimat itu lama sekali.
Kalau Wulan bukan murid Kinan lagi, tidak ada surat keberatan, dan tidak perlu empat poin. Kinan bisa memeluk anak-anak di gerbang, menerima kopi di jam sebelas, dan menyanyi. Tidak ada yang bisa menulis pilih kasih, karena tidak ada lagi yang bisa dipilih. Tidak ada TK A, tidak ada cabang lain, tidak ada Kalimantan.
Aku ikut pindah, kata Wulan tadi sore. Biar Bu Nanan nggak sendilian.
Tapi bagaimana kalau yang pindah bukan Bu Nanan? Bagaimana kalau yang pindah Wulan saja, dan Bu Nanan tetap di tempatnya?
Aku membuka browser di HP dan mengetik TK terdekat.
Pukul satu kurang sepuluh, HP-ku berdering.
Kinan 💚
Aku menatap nama itu. Aku mengubahnya minggu lalu dari Bu Kinan menjadi Kinan, lalu menambahkan hati hijau, lalu merasa malu sendiri, lalu tidak menghapusnya.
Aku mengangkatnya.
“Halo.”
“Hai.” Suaranya serak dan pelan, seperti orang yang baru selesai menangis dan tidak mau ketahuan. “Kamu belum tidur.”
“Belum.”
“Aku juga.”
Hening. Aku bisa mendengar napasnya, dan suara jangkrik di luar jendela kamarnya.
“Danny.”
“Hm?”
“Aku nggak marah soal rapat.”
Aku memejamkan mata.
“Aku cuma…” Dia berhenti. “Aku cuma kaget. Kamu diem lama banget. Aku lihat kamu nunduk. Terus aku inget bangku ketapang, waktu kamu bilang Ibu gurunya anak saya. Mukamu sama, Danny. Persis sama.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf.” Suaranya bergetar. “Jawab aja. Stiker yang aku kasih. Kamu udah baca?”
Aku menatap stiker bintang emas di telapak tanganku. Aku belum melepasnya sejak Kamis malam, bahkan waktu mandi.
Aku yakin. Kamu juga, kan?
“Udah,” kataku.
“Terus?”
“Aku yakin, Kinan.”
Hening sebentar. Lalu aku mendengarnya menghela napas panjang, napas lega yang bergetar, seperti orang yang baru saja dilepaskan dari tali yang mengikat dadanya.
“Oke,” bisiknya. “Oke. Aku cuma perlu dengar itu.”
Aku tidak berkata apa-apa lagi. Aku tidak bilang soal daftar sepuluh baris, soal satu baris terpisah di bawahnya, atau soal browser yang masih terbuka dengan hasil pencarian TK terdekat.
Aku tidak berbohong. Aku memang yakin. Aku hanya tidak bilang apa yang akan kulakukan dengan keyakinan itu.
“Danny,” katanya setelah beberapa lama. “Boleh aku nyanyi?”
“…Sekarang?”
“Lagu yang di teras. Yang rimanya dipaksa. Aku nggak bisa tidur, dan kalau aku nyanyi, biasanya aku bisa tidur.”
“Boleh.”
Dia menyanyi, pelan, hampir berbisik, lagu yang dia tulis sendiri di kamar mandi dengan air keran menyala. Jam sebelas siang, kamu datang terlambat, kancingmu salah, alarmmu nyasar ke malam…
Aku mendengarkan dengan HP menempel di telinga dan mata terpejam, di meja makan yang gelap, di bawah ring light Dinda yang sudah kumatikan.
Nggak usah jadi bulan, nggak usah jadi bintang, cukup jadi kamu yang telat satu ketukan…
Suaranya makin pelan, makin berat, dan makin lambat.
Kalau kamu lupa, biar aku yang hitung… satu, dua, tiga…
Suaranya berhenti di situ, dan yang tersisa hanya napas yang pelan dan teratur. Dia tertidur di tengah lagu, di tengah hitungan, seperti Wulan kalau didongengi sebelum tidur.
Aku tidak memutus panggilan. Aku menaruh HP di meja makan dengan speaker menyala, supaya aku bisa mendengar napasnya, dan membuka laptop.
Aku membuka browser dan hasil pencarian TK terdekat. TK Tunas Harapan, dua kilometer dari rumah, menerima murid pindahan di tengah tahun ajaran. Formulir pendaftaran online.
Aku mulai mengisinya, dengan napas Kinan yang tertidur di speaker HP di sebelahku.
Nama lengkap anak: Wulan Anindya Hermansyah.
Tanggal lahir: Aku mengetik tanggal ulang tahunnya yang baru lewat seminggu, hari dia meminta mamanya supaya Bu Nanan tinggal di rumah.
Alasan pindah:
Kursorku berkedip di kotak kosong itu lama sekali.
Dari speaker HP, Kinan menggumam dalam tidur. Aku tidak bisa menangkap kata-katanya. Mungkin namaku, mungkin kancingmu, mungkin sisa lagu yang belum selesai.
Aku mengetik dua kata di kotak alasan pindah.
Alasan keluarga.
Lalu aku menatap tombol biru di bagian bawah formulir, KIRIM PENDAFTARAN.
Aku tidak menekannya. Aku menekan tombol abu-abu kecil di sebelahnya, Simpan sebagai draf.
Aku menutup laptop dan menatap HP di meja, dengan panggilan yang masih tersambung. Tiga puluh tujuh menit, lalu tiga puluh delapan.
“Selamat tidur, Kinan,” bisikku.
Dia tidak menjawab. Dia tidur, percaya bahwa aku yakin. Dan aku memang yakin. Hanya saja, di kepalaku, di tempat yang dingin dan logis dan terlalu terbiasa menghitung, yakin sudah berubah bentuk.
Aku yakin aku sayang dia. Karena itu, aku yakin aku harus melindunginya, bahkan dari aku sendiri.
Di rak buku, di dalam gelap, Anin tertawa di pantai. Aku tidak berani menatapnya malam itu, karena aku tahu apa yang akan dia katakan.
Dan. Kamu mundur lagi.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk reading
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian