Chapter Thirty Five
Dua Rencana Tabrakan
POV: Danny → Sheila
Laporan Kerja Q1 (sekarang Q2)
7. KEMUNGKINAN: DIA JUGA PUNYA RENCANA. (Revisi: bukan kemungkinan. Konfirmasi. Sumber: Wulan, jam 22.03, koridor rumah Kinan.)
7a. Dia juga punya cincin.
7b. Ukuran jariku 19. Kayaknya. (Bagas ngukur pakai benang waktu aku makan menterinya. Pantas dia nanya-nanya soal cincin.)
7c. Wulan agen ganda. (Konfirmasi.)
7d. Bagas agen ganda. (Konfirmasi.)
7e. Siapa lagi?
Pertanyaan nomor 7e terjawab dalam seminggu, dan jawabannya: semua orang.
Senin pagi, Mama menelepon dari Surabaya pukul enam, jam yang menurut Mama “waktu paling tepat buat ngomongin hal penting”.
“Danny.”
“Pagi, Ma.”
“Mama mau ngaku sesuatu.”
Aku menutup mata. “Mama di tim Kinan.”
Hening di seberang telepon. Lalu suara isakan kecil.
“Kok kamu tahu?”
“Ma, Mama nggak bisa nyimpen rahasia lebih dari dua belas jam.”
“Mama bisa! Mama udah nyimpen sejak hari Jumat! Itu tiga hari!” Mama terisak lagi. “Mama nggak tega, Danny. Kinan telepon Mama, terus bilang, Ma, saya mau melamar Danny, tapi saya nggak tahu Danny suka cincin yang gimana. Mama kan yang paling kenal Danny. Terus Mama nangis. Terus Mama bilang Mama bantu.”
“Mama bantu apa?”
“Mama kasih tahu Kinan kamu nggak suka cincin tebal. Terus Mama kasih tahu kamu dulu suka lagu apa waktu SMA.”
“Ma, aku dulu suka lagu apa waktu SMA?”
“Lagu yang kamu nyanyiin di kamar mandi tiap pagi, sampai Papa ketok pintu.”
Aku membeku. “…Ma. Mama nggak kasih tahu Kinan lagu itu, kan?”
Hening, lalu suara Papa di latar belakang, datar seperti biasa:
“Dia kasih tahu.”
Selasa sore, aku menemukan fakta yang lebih mengejutkan.
Ibu Yati ada di timku.
Dia datang ke rumahku pukul empat sore dengan rantang berisi rendang, sayur asem, dan tempe mendoan. Dia duduk di meja makan dan mengeluarkan buku tulis bersampul batik yang sepertinya kembaran dengan buku milik Kinan.
“Nak Danny,” katanya dengan suara rendah konspirasi. “Ibu mau bantu.”
“…Bantu apa, Bu?”
“Rencana kamu.” Dia membuka buku tulisnya. “Ibu udah dengar dari Bagas. Kinan mau melamar kamu duluan, lima menit sebelum kamu. Jam sepuluh lima puluh lima.”
Aku menatapnya. “Sepuluh lima puluh lima?”
“Kamu belum tahu?”
“Aku tahu dia punya rencana. Aku nggak tahu jamnya.”
Ibu Yati tersenyum lebar, dengan senyum ibu-ibu yang punya informasi penting dan sangat menikmati memilikinya.
“Nak Danny,” katanya. “Ibu udah dua puluh sembilan tahun jadi ibunya Kinan. Anak itu dari kecil selalu mau duluan. Duluan makan, duluan mandi, duluan manjat pohon mangga Pak RT, duluan nanya kamu udah beristri belum.” Ibu Yati menepuk tanganku. “Sekali-sekali, anak itu harus belajar ada yang lebih duluan dari dia.”
“Bu, kenapa Ibu di tim aku? Bukannya Ibu ibunya Kinan?”
Ibu Yati menatapku dengan wajah serius.
“Karena Bu Rini di tim Kinan.”
“…Terus?”
“Terus Ibu nggak mau kalah sama Bu Rini.”
Rabu, Bang Jali mengumumkan dirinya netral.
Dia memasang papan kecil baru di gerobak kopinya, di sebelah papan SPONSOR: MAS DANNY:
NETRAL. KOPI UNTUK SEMUA TIM.
Tapi pukul sebelas lewat lima, waktu Kinan membeli kopi, aku melihatnya dari seberang jalan: Bang Jali membisikkan sesuatu di telinga Kinan, dan Kinan mengangguk-angguk sambil mencatat di HP-nya.
Pukul sebelas lewat sepuluh, waktu aku yang membeli kopi, Bang Jali membisikkan sesuatu di telingaku juga.
“Mas. Tadi Neng Kinan nanya, Mas biasanya pakai kemeja warna apa kalau acara penting.”
“Terus Abang jawab apa?”
“Saya jawab biru muda.” Bang Jali menyeringai. “Terus dia nanya lagi, kancingnya biasanya salah di mana. Saya jawab kancing ketiga.”
“Kenapa dia nanya soal kancing?”
Bang Jali mengangkat bahu dan menunjuk papan kecil barunya. NETRAL.
Kamis pagi, aku menyadari masalah yang sebenarnya.
Aku datang ke ruangan Bu Hartini dengan satu permintaan yang sudah kususun semalaman: memindahkan jadwal acara khusus dari pukul 11.00 ke pukul 10.50. Lima menit lebih awal dari 10.55, jadi aku yang duluan.
Bu Hartini mendengarkan permintaanku tanpa memotong. Lalu dia menatapku lama dari balik kacamatanya, membuka laci, mengeluarkan rundown wisuda, dan meletakkannya di meja di depanku.
Rundown itu sudah dicoret-coret dengan pulpen tiga warna.
10.55 — ……………… (Bu Kinan) dicoret dengan pulpen merah, diganti 10.50 — (Bu Kinan, revisi).
Itu juga dicoret, diganti 10.45 — (Bu Kinan, revisi 2).
Di bawahnya, 11.00 — (Acara khusus. Rahasia. Jangan tanya.).
“Bu Kinan datang ke sini hari Senin,” kata Bu Hartini datar. “Minta dipindah ke 10.50. Hari Selasa dia datang lagi, minta 10.45. Katanya jaga-jaga kalau Papa Wulan minta 10.50.” Dia mengetuk rundown itu dengan satu jari. “Dan sekarang Bapak datang minta 10.50.”
Aku menatap rundown yang penuh coretan itu.
“Kalau saya ikuti permintaan kalian berdua,” lanjut Bu Hartini, “acara lamaran kalian akan maju terus sampai jam tujuh pagi, sebelum anak-anak datang, sebelum doa pembukaan. Wisudanya akan jadi acara penutup lamaran kalian.”
“Bu…”
“Jadi saya putuskan.” Bu Hartini mengambil pulpen hitam, lalu mencoret semua baris itu, 10.55, 10.50, 10.45, dan 11.00, dengan satu garis tebal dan panjang. Di bawahnya dia menulis dengan huruf kapital:
SEMUA ACARA KHUSUS DIHAPUS. RUNDOWN DIKUNCI.
KEPUTUSAN AKHIR: KEPALA SEKOLAH.
TIDAK ADA YANG TAHU SAMPAI HARI H.
Dia meletakkan pulpen itu, lalu menatapku dengan wajah tegas yang membuat orang tua murid paling cerewet pun langsung duduk tegak.
“Pak Danny. Bu Kinan. Kalian berdua sudah pernah pergi diam-diam dari satu sama lain di hari yang sama. Sekarang kalian mau melamar satu sama lain dengan selisih lima menit di panggung wisuda anak TK.” Dia menarik napas. “Saya kepala sekolah. Saya sudah dua puluh tahun menghadapi anak-anak yang berebut perosotan. Dan saya akan menangani kalian berdua dengan cara yang sama.”
“Dengan cara apa, Bu?”
Bu Hartini memasukkan rundown itu ke laci, menguncinya dengan kunci kecil, dan memasukkan kuncinya ke saku gamisnya.
“Giliran,” katanya. “Saya yang tentukan siapa duluan. Hari H.”
POV: Sheila
“Dia kunci rundownnya?”
“Dikunci,” kata Bu Tari, duduk di depanku di ruang guru dengan wajah orang yang sudah tidak kaget dengan apa pun. “Pakai kunci kecil. Kuncinya di saku gamis Bu Hartini.”
“Tari, ini sabotase.”
“Kinan, kamu minta dipindah tiga kali dalam empat hari.”
“Dua kali!”
“Senin 10.50, Selasa 10.45, Rabu kamu nanya bisa nggak jam 10.30.” Bu Tari menatapku. “Itu tiga kali.”
Aku menutup muka dengan kedua tangan dan menyandarkan dahiku di meja guru.
Dari bawah meja, di antara kakiku, terdengar suara kecil yang sangat familier:
“Bu Nanan.”
Aku melihat ke bawah. Wulan jongkok di bawah meja guru dengan kacamata hitam berbentuk hati dari pasar malam dan buku catatan kecil bersampul kelinci di tangan.
“Wulan? Kamu ngapain di bawah meja?”
“Laporan agen,” bisiknya. Lagi-lagi bisikannya sama sekali tidak berbisik. “Papa tadi ke Bu Haltini. Papa minta jam sepuluh lima puluh. Telus Bu Haltini kunci lemali.”
“Bu Nanan udah tahu, Sayang.”
“Oh.” Wulan membuka buku catatan kelincinya dan mencoret sesuatu dengan krayon ungu. “Laporan kedua. Papa beli kemeja balu. Wainanya biru muda.”
“Biru muda?”
“Iya. Papa cobain di kamal, telus Papa cek kancingnya. Satu, dua, tiga.” Wulan menghitung dengan jari. “Tiga kali. Telus Papa bilang ke foto Mama, Nin, udah tiga kali.”
Aku berhenti bergerak.
Wulan membalik halaman buku catatannya. “Laporan ketiga. Papa latihan ngomong di depan kaca kamal mandi. Aku dengal dali pintu.”
“…Papa latihan ngomong apa, Sayang?”
Wulan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia menatap buku catatannya lama sekali. Lalu dia menutup buku itu dan memeluknya di dada.
“Nggak boleh,” katanya pelan.
“Kenapa nggak boleh?”
“Soalnya itu bagian tim Papa.” Wulan menatapku dari balik kacamata hati. “Aku agen ganda, Bu Nanan. Tapi ada bagian yang nggak boleh dibocolin. Kayak Bu Nanan juga ada bagian yang nggak aku bocolin ke Papa.”
Aku menatap anak berusia enam tahun di bawah meja guru itu, dengan kacamata hati dan buku catatan kelinci.
“Bagian Bu Nanan yang mana yang nggak kamu bocorin?”
Wulan tersenyum kecil, dengan senyum yang sangat mirip papanya waktu menyembunyikan sesuatu.
“Tulisan di dalam cincin,” bisiknya. “Aku tahu dali Om Bagas. Tapi aku nggak bilang Papa.”
Aku tidak bisa bicara. Bu Tari, di seberang meja, menutup mulut dengan tangan.
“Terus,” lanjut Wulan, “aku juga punya lahasia sendili.”
“…Rahasia apa, Wulan?”
Wulan keluar dari bawah meja, berdiri, dan membetulkan kacamata hatinya. Dia memasukkan buku catatan kelinci ke saku seragamnya dan menepuknya dua kali.
“Lahasia aku,” katanya dengan bangga. “Bukan tim Papa, bukan tim Bu Nanan. Tim aku sendili.”
Dia berlari keluar ruang guru sebelum aku sempat bertanya lagi.
Minggu malam, perang meletus di grup KELUARGA BESAR (CALON) 💚🐼.
Grup itu sekarang sudah tidak punya satu pun rahasia. Semua orang tahu Danny punya cincin, dan semua orang tahu aku punya cincin. Semua orang tahu rundown dikunci di saku gamis Bu Hartini. Yang tidak diketahui siapa pun adalah siapa yang akan duluan.
Mama Rini: Tim Kinan duluan. Pasti. Kinan kan dari awal yang ngejar.
Ibu Yati: Tim Danny duluan. Pasti. Danny kan udah belajar naik motor.
Mama Rini: Belajar naik motor nggak ada hubungannya sama melamar, Bu Yati.
Ibu Yati: Ada, Bu Rini. Itu namanya dedikasi.
Mama Rini: Kinan dedikasi 200 gelas kopi!
Ibu Yati: Danny jatuh 8 kali!
Dinda: Mama. Ibu Yati. Tolong. Ini jam 11 malam.
Bagas: Aku netral btw.
Dinda: Kamu agen ganda, Gas. Itu kebalikan dari netral.
Bagas: Agen ganda itu netral yang aktif.
Oma Ratmi: Semua orang tenang.
Oma Ratmi: Oma mau ngomong satu hal.
Grup hening sebentar. Semua orang tahu, kalau Oma Ratmi bilang mau ngomong satu hal, semua orang harus diam.
Oma Ratmi: Dua cincin. Satu hari. Satu panggung.
Oma Ratmi: Siapa yang duluan itu nggak penting.
Oma Ratmi: Yang penting, dua-duanya nggak ada yang mundur.
Oma Ratmi: Anin dulu bilang ke Oma, “Bu, kalau Danny ketemu orang yang sama keras kepalanya kayak aku, jangan dipisahin. Biarin mereka tabrakan.”
Oma Ratmi: Biarin mereka tabrakan. 🤍
Grup hening lama.
Lalu satu per satu pesan masuk.
Mama Rini: 😭
Ibu Yati: 😭
Dinda: 😭
Bagas: 😭
Bu Tari: Saya masih nggak tahu kenapa saya di grup ini, tapi 😭
Bang Jali: 😭 (netral)
Pak Harun: Hm.
Pak Darto: Hm.
Pak Darto: Setuju sama Bu Ratmi.
Pak Harun: Setuju.
Mama Rini: PAPA NGETIK LEBIH DARI SATU KATA
Ibu Yati: BAPAK JUGA
Malam itu, aku membuka buku penghubung Danny ↔ Kinan.
Buku itu sekarang sudah setengah penuh. Setiap hari dia menulis satu hal, dan aku membalas satu hal. Kadang tulisannya pendek, Kopi hari ini terlalu panas. Maaf. Kadang panjang, satu halaman penuh soal Wulan yang bertanya kenapa langit biru. Selalu ada satu stiker bintang di pojok.
Tulisannya hari ini pendek.
Bu Kinan,
Saya dengar Ibu punya cincin. Saya nggak dengar. Saya pura-pura nggak dengar. Tapi saya dengar.
Saya juga dengar Ibu minta pindah jam tiga kali dalam empat hari.
Saya mau bilang: saya juga minta pindah jam satu kali. Tapi Bu Hartini kunci lemari.
Jadi kita nggak tahu siapa duluan.
Dan saya baru sadar, saya nggak peduli siapa duluan.
Asal Ibu nggak mundur.
P.S. Ukuran jari saya 19. Bukan kayaknya. Pasti. Saya cek sendiri di toko perhiasan tadi sore. Tolong kasih tahu Bagas, pengukurannya salah satu nomor.
Aku membaca halaman itu tiga kali, lalu memegang pulpen merah untuk menulis balasan.
Tapi aku tidak menulis apa-apa untuk waktu yang lama. Aku menatap P.S. itu dan tertawa sambil menangis sendirian di kamar, di bawah bintang-bintang glow-in-the-dark, sampai Ibu mengetuk dinding.
“Kinan! Lagu religi!”
Akhirnya aku menulis:
Pak Danny,
Oke. Saya juga nggak peduli siapa duluan.
Tapi saya tetap mau duluan.
Soalnya saya nggak punya rem.
P.S. Cincin saya ukurannya 19. Bagas bilang 19. Bapak bilang 19. Tapi Bapak bilang “salah satu nomor”. Maksudnya 18 atau 20?
P.P.S. JAWAB, DANNY.
Keesokan paginya, buku penghubung itu kembali ke tanganku di gerbang TK pukul tujuh lewat dua puluh. Wulan yang menyerahkannya, dengan wajah agen yang sangat bangga.
Di bawah tulisanku, ada balasan dengan tulisan kecil, rapi, dan sedikit miring ke kanan:
Bu Kinan,
Rahasia negara.
— D.
P.S. Kamu tahu aku nggak bakal jawab.
P.P.S. Tapi kalau cincinnya nggak muat, aku tetap pakai. Di jari kelingking juga nggak apa-apa.
Di pojok halaman ada stiker bintang emas. Dan di sebelahnya, digambar dengan pulpen biru, ada bulan sabit kecil dan bintang kecil yang bersebelahan.
Persis seperti gambar yang pernah kubuat di halaman balasan ulang tahunku.
Aku menatap gambar itu di gerbang TK, di depan satpam, Bang Jali dengan papan NETRAL-nya, dan dua puluh orang tua yang menunggu lagu nomor dua puluh sembilan.
Lalu aku tersenyum. Dia tahu soal bulan dan bintang. Dia tahu, dan dia pakai juga.
Kami berdua menyembunyikan cincin yang sama dan menggambar gambar yang sama. Kami berdua pura-pura tidak tahu dan sama-sama tahu.
Biarin mereka tabrakan, kata Oma Ratmi.
Oke. Kalau memang harus tabrakan, aku mau tabrakan paling keras. Dengan cengkok, dan tanpa rem.
Aku memasukkan buku penghubung itu ke saku celemek, menepuknya dua kali seperti Wulan, lalu berbalik menghadap dua puluh orang tua di depan gerbang.
“Bapak Ibu! Lagu nomor dua puluh sembilan! Buat semua orang tua!”
Dua puluh orang tua bersorak.
Dan dari seberang jalan, di parkiran, di samping mobil abu-abu, seorang laki-laki berkemeja biru muda mengangkat gelas kopinya sedikit, seperti bersulang.
Aku mengedip padanya.
Dia tersedak kopi lagi.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan reading
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian