← Berkembang Sangat Baik

Chapter Twenty Seven

Wulan Mogok

POV: Sheila


Senin pagi, bangku Wulan kosong.

Aku melihatnya dari gerbang pukul tujuh lewat dua puluh, dari teras kelas tempat aku berdiri pura-pura menyapu, karena poin dua melarangku menerima anak di gerbang. Mobil abu-abu itu tidak datang, dan Dinda juga tidak. Tidak ada anak kecil berkepang dua dengan tas kelinci dan liontin bulan sabit yang berlari melewati Bu Tari langsung ke arahku.

Pukul tujuh lewat tiga puluh, Bu Tari menghampiriku dengan HP di tangan.

“Papa Wulan kirim pesan,” katanya pelan. “Izin. Wulan nggak masuk hari ini.”

“Sakit?”

Bu Tari diam sebentar. “Katanya… alasan keluarga.”

Aku menatap sapu di tanganku.

Satu jam sebelumnya, pukul enam lewat empat puluh, aku menyerahkan amplop cokelat berisi selembar kertas ke resepsionis kantor yayasan di lantai dua ruko dekat pasar. Aku bilang rahasia, ya, Mbak, lalu naik Si Pinky tanpa menyanyi.

Kemarin sore, di bawah pohon beringin, Danny bilang kita jeda dulu. Sampai Wulan lulus. Delapan bulan.

Pagi ini, bangku Wulan kosong.

Aku tidak tahu apa hubungan ketiga hal itu. Tapi perutku tahu duluan, dan perutku terasa dingin.


Pukul sembilan, saat istirahat pertama, HP-ku bergetar tanpa henti di saku celemek.

Grup KELUARGA BESAR (CALON) 💚🐼, yang sejak Senin lalu tidak pernah benar-benar sepi, sekarang meledak.

Oma Ratmi: Assalamualaikum. Oma di rumah Danny dari jam 6 pagi. Wulan mogok. Kunci kamar dari kemarin sore. Nggak mau makan. Nggak mau sekolah.

Mama Rini: MOGOK??? KENAPA MOGOK???

Oma Ratmi: Danny daftarin Wulan ke TK lain. Wulan nggak mau.

Dinda: APA???

Mama Rini: DANNY!!! DANNY JAWAB MAMA!!!

Mama Rini: PAPA, BELIIN MAMA TIKET PESAWAT SEKARANG

Pak Harun: Rini. Duduk.

Mama Rini: PAPA AKU NGGAK MAU DUDUK

Pak Harun: Sudah Papa beliin. Jam 2 siang.

Ibu Yati: Ya Allah, Wulan… 😭😭 Bu Ratmi, Wulan mau makan apa? Ibu masakin sekarang, Bagas antar!

Oma Ratmi: Sudah Oma coba bubur, nasi goreng, telur ceplok, kue lapis. Nggak mau. Dia cuma bilang satu hal dari balik pintu.

Ibu Yati: Bilang apa?

Oma Ratmi: “Aku mau Bu Nanan.”

Aku berhenti membaca.

Di halaman, anak-anak TK B berlarian di sekitar perosotan dan ayunan. Rafi mencoba memakan kerikil, Bima bercerita pada Keysha, yang masuk sekolah lagi hari ini dengan mata sembab dan pita pink. Suara anak-anak tertawa memenuhi halaman.

Ayunan di sebelah pohon ketapang kosong.

Aku menatap ayunan kosong itu dan membaca ulang satu kalimat di layar. Danny daftarin Wulan ke TK lain.

Lalu satu pesan pribadi masuk di bawah notifikasi grup.

Bagas: Kak.

Bagas: Kak, aku udah janji nggak bilang siapa-siapa soal surat Kakak. Aku nggak bilang. Sumpah.

Bagas: Tapi kemarin Kak Danny chat aku, nanya “Kak Kinan nggak lagi rencana apa-apa kan?” Aku bilang nggak tahu. Terus aku nanya balik ke Kak Danny, “Kakak nggak lagi rencana diem-diem kan?” Kak Danny bilang “Nggak, Gas.”

Bagas: Kak. Kak Danny bohong.

Bagas: Kalian berdua bohong ke aku di hari yang sama.


Pukul sebelas lewat tiga puluh, Bu Hartini memanggilku ke ruangannya untuk kedua kalinya dalam satu minggu.

Dia tidak berkata Bu Kinan, ke ruangan saya, sekarang dengan suara berat seperti Senin lalu. Dia hanya berdiri di ambang pintu kelas, menatapku, dan mengangguk sekali ke arah koridor.

Di mejanya ada dua lembar kertas. Lembar pertama adalah fotokopi surat yang kutulis Sabtu pagi, yang kuserahkan ke resepsionis yayasan pukul enam lewat empat puluh tadi pagi. Permohonan mutasi ke cabang yayasan yang lain, terhitung mulai semester depan, dengan alasan pribadi.

Lembar kedua adalah surat berkop TK Tunas Harapan, dengan logo bunga matahari di pojok kiri atas. Permohonan berkas perpindahan siswa: Ananda Wulan Anindya Hermansyah, dari TK B TK Pelangi Ceria. Mohon dilengkapi surat keterangan pindah dan rapor perkembangan.

Bu Hartini duduk di balik meja dan menatap dua lembar kertas itu. Lalu dia menatapku.

“Pak Wiryo telepon saya jam delapan tadi pagi,” katanya. “Katanya ada surat mutasi masuk dari Bu Kinan, dan dia tanya saya tahu atau nggak.” Dia mengetuk lembar kedua. “Jam sepuluh, bagian administrasi dapat surat ini dari TK Tunas Harapan, lewat surel.”

Aku menatap dua lembar kertas itu, surat mutasiku dan surat pindah Wulan, yang diajukan di hari yang sama, oleh dua orang yang sama-sama bilang nggak waktu ditanya Bagas.

“Bu Kinan,” kata Bu Hartini pelan. “Ibu tahu soal surat kedua ini?”

Aku menggeleng. Aku tidak bisa bicara.

“Papa Wulan tahu soal surat pertama?”

Aku menggeleng lagi.

Bu Hartini melepas kacamatanya pelan-pelan dan memijat pangkal hidungnya. Dia menghela napas panjang, panjang sekali, seperti orang yang sudah hidup dua puluh tahun dengan penyesalan dan sekarang melihat penyesalan yang sama terulang di depan matanya.

“Ibu mau pindah,” katanya, “supaya Wulan bisa tetap di sini sama teman-temannya. Dan Papa Wulan mau mindahin Wulan, supaya Ibu bisa tetap di sini sama kelas Ibu.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Kalau dua surat ini sama-sama diproses,” lanjut Bu Hartini, “Ibu pindah ke cabang lain, dan Wulan pindah ke TK Tunas Harapan. Nggak ada yang tinggal di sini. Semua yang kalian coba lindungi hilang. Dan kalian berdua…” Dia berhenti. “Kalian berdua jeda. Iya, kan? Saya dengar dari Bu Tari.”

Aku mengangguk. Air mataku jatuh ke punggung tanganku.

Bu Hartini memakai kacamatanya lagi dan menatap foto wisuda paling tua di pojok kanan atas dinding: guru muda berkerudung putih dengan tangan di bahu anak laki-laki berambut acak-acakan.

“Adik saya dan bapak tukang las itu,” katanya pelan, “cuma satu orang yang pergi diam-diam. Kalian berdua, Bu Kinan.” Dia menoleh padaku, dan di balik kacamatanya, matanya basah tapi juga, entah bagaimana, sedikit geli. “Kalian berdua pergi diam-diam dari satu sama lain di hari yang sama. Itu dua kali lipat bodohnya.”

Aku tertawa. Aku tidak mau tertawa, tapi tawa itu keluar begitu saja di antara air mata. Tawa yang basah, pahit, dan lelah.

“Novel pinknya udah Ibu baca?” tanya Bu Hartini.

“…Udah, Bu.”

“Bab dua puluh tujuh sampai tiga puluh?”

“Udah, Bu. Saya nangis.”

“Saya juga nangis.” Bu Hartini melipat kedua surat itu dan memasukkannya ke laci. “Tapi Bu Kinan, itu novel. Di novel, dokternya lari ke stasiun kereta. Di dunia nyata…” Dia menutup laci. “Di dunia nyata, kadang nggak ada yang lari. Kadang dua-duanya diam di tempat masing-masing sampai keretanya berangkat.”


Aku tidak menunggu jam pulang. Aku meminta izin ke Bu Tari dan Bu Hartini, dan Bu Hartini mengangguk tanpa bertanya.

Aku naik Si Pinky. Motor itu menyala di percobaan pertama, seolah dia sudah menunggu.

Jeda dan poin tiga, tidak ada kontak pribadi, itu semua urusan orang dewasa. Aku sudah bilang ke Wulan di ayunan, yang lahasia itu urusan orang dewasa.

Tapi ada satu hal yang bukan urusan orang dewasa, dan itu janji guru.

Apa pun yang terjadi sama kita, saya tetap Bu Nanan buat dia.


Oma Ratmi membuka pintu sebelum aku sempat mengetuk. Wajahnya lelah, kacamatanya melorot, dan kerudungnya sedikit miring. Dia melihatku, dan wajahnya berubah jadi lega.

“Neng,” katanya. “Masuk. Danny lagi keluar, beli martabak telur. Katanya Wulan paling suka martabak telur. Dia udah keluar tiga kali, beli macam-macam.”

Aku masuk. Rumah itu sunyi, bukan sunyi yang nyaman seperti Minggu siang waktu kami belajar mengepang. Sunyi ini berat, seperti rumah yang menahan napas.

Di meja makan ada empat piring makanan yang tidak disentuh: bubur, nasi goreng, telur ceplok, dan kue lapis.

Di sofa ada seragam oranye dan hijau yang masih terbungkus plastik.

Aku menatap seragam itu sebentar. Lalu aku naik ke atas.

Pintu kamar Wulan tertutup. Di pintu itu ada stiker kelinci, dan tulisan krayon ungu yang ditempel dengan selotip, jelas baru dibuat pagi ini:

AKU MOGOK. JANGAN MASUK. KECUALI BU NANAN.

Aku berdiri di depan pintu itu dan membaca tulisan itu tiga kali. Lalu aku duduk di lantai koridor, bersandar di dinding di sebelah pintu, dan mengetuk pelan.

“Wulan.”

Hening.

“Wulan, ini Bu Nanan.”

Lalu dari balik pintu terdengar suara kecil yang serak, yang sudah menangis terlalu lama.

“…Bu Nanan?”

“Iya, Sayang.”

“Bu Nanan betulan?”

“Betulan. Bu Nanan naik Pinky. Pinky nyala langsung, nggak batuk. Dia juga kangen Wulan.”

Hening sebentar. Lalu suara langkah kecil di balik pintu, pelan, dan bunyi klik kunci yang diputar.

Pintu terbuka sedikit, tidak penuh, hanya cukup untuk satu mata cokelat besar mengintip dari celah.

Mata itu merah dan bengkak. Di bawahnya, di pipinya, ada bekas air mata yang sudah kering. Kepangnya berantakan, kepangan kemarin yang tidak dibuka.

“Bu Nanan,” bisiknya. “Papa jahat.”

Aku tidak membantah. Aku hanya mengulurkan tangan lewat celah pintu.

“Wulan boleh marah sama Papa,” kataku pelan. “Bu Nanan juga lagi marah sama Papa.”

Mata di celah pintu itu membesar. “Bu Nanan juga?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku berpikir sebentar. Tidak ada setengah kebenaran.

“Soalnya Papa bikin keputusan sendiri, tanpa nanya Wulan, tanpa nanya Bu Nanan. Bu Nanan nggak suka itu.”

Wulan menatapku lewat celah pintu. Lalu pintu terbuka sedikit lebih lebar.

“Bu Nanan juga mogok?”

“…Iya. Bu Nanan juga mogok. Bu Nanan belum makan dari kemarin sore.”

Itu benar. Aku tidak makan sejak pohon beringin.

Wulan menatapku dengan wajah serius. Lalu dia membuka pintunya lebar-lebar, keluar dengan piyama kelinci yang sudah dia pakai sejak kemarin, dan duduk di lantai koridor di sebelahku. Kami duduk bersebelahan, bersandar di dinding.

“Kita mogok bareng,” katanya.

“Kita mogok bareng.”

Kami duduk diam di koridor. Dari bawah, aku mendengar Oma Ratmi berjalan pelan ke dapur. Aku yakin dia sedang berusaha tidak menangis.

Lalu perut Wulan berbunyi. Keras, panjang, seperti suara printer rusak.

Wulan menatap perutnya dengan wajah terkhianati.

Lalu perutku juga berbunyi, lebih keras.

Wulan menatap perutku, lalu menatapku. Aku menatapnya balik dengan wajah paling serius yang bisa kubuat.

“Wulan,” kataku. “Bu Nanan punya ide.”

“Apa?”

“Kita tetap mogok. Mogoknya jalan terus. Tapi…” Aku mengangkat satu jari. “Kita mogok sambil makan nasi goreng. Soalnya kalau mogoknya kelaperan, nanti mogoknya pingsan. Kalau pingsan, nggak bisa mogok lagi.”

Wulan memikirkan itu dengan sangat serius, sama seriusnya seperti waktu dia jadi juri duel gombal.

“Mogok sambil makan,” ulangnya pelan.

“Mogok yang bergizi.”

Wulan menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak kemarin sore, menurut Oma Ratmi, sudut bibirnya naik sedikit.

“Oke,” katanya. “Tapi pakai kecap.”


Kami makan nasi goreng di lantai koridor, dari satu piring, dengan satu sendok bergantian. Oma Ratmi membawanya ke atas dengan mata basah, dan menambahkan kecap banyak sekali sesuai permintaan.

Wulan makan tiga perempat piring. Aku makan seperempat.

Setelah itu aku merapikan kepangannya yang berantakan. Aku membuka kepangan kemarin buatan papanya, yang miring sedikit ke kanan, dan mengepang ulang. Rapi, dua kepang, dengan jepit bintang dari kotak jepit di mejanya.

“Bu Nanan,” kata Wulan waktu aku mengepang. “Bu Nanan sama Papa pisah?”

Tanganku berhenti.

“Papa bilang jeda,” kataku akhirnya. Jujur, tanpa setengah kebenaran. “Jeda itu kayak istirahat. Kayak jam istirahat di sekolah. Berhenti main dulu sebentar.”

Wulan diam, lalu bertanya pelan:

“Kalau istilahatnya kelamaan, mainnya selesai?”

Aku tidak bisa menjawab. Tanganku di rambutnya gemetar, dan kepangan kanan jadi sedikit miring.

Wulan menoleh padaku. Dia melihat mataku yang basah, lalu mengulurkan tangannya yang kecil dan masih bau kecap, dan mengusap pipiku dengan ibu jarinya.

Persis seperti yang dilakukan papanya. Seperti yang kulakukan pada papanya jam tiga pagi di sofa.

“Masih ada ail matanya,” katanya.

“…Di mana?”

“Kanan.”

Aku tertawa, tertawa sambil menangis, dan Wulan ikut tertawa tanpa tahu kenapa.

Lalu dia bersandar di pangkuanku di lantai koridor, dan dalam lima menit dia tertidur. Kenyang, lelah, dengan kepang baru dan liontin bulan sabit di genggamannya. Anak enam tahun yang mogok sejak kemarin sore akhirnya tidur, di pangkuan gurunya, seperti malam dia demam.


Pintu depan terbuka pukul satu siang.

Aku mendengar langkah kaki naik tangga, cepat, lalu berhenti di ujung koridor.

Danny berdiri di sana dengan kantong plastik berisi martabak telur di satu tangan, dan satu kantong lagi yang sepertinya berisi es krim di tangan yang lain. Kemejanya biru muda, dan kancing ketiga masuk ke lubang keempat.

Dia melihat kami. Wulan tidur di pangkuanku dengan kepang baru, dan piring nasi goreng kosong di lantai di sebelah kami. Tulisan krayon ungu di pintu: AKU MOGOK. JANGAN MASUK. KECUALI BU NANAN.

Wajahnya berubah dari panik menjadi lega, lalu malu, dan terakhir sesuatu yang lain yang tidak bisa kubaca.

“Kinan,” bisiknya.

“Ssst.” Aku menunjuk Wulan di pangkuanku. “Baru tidur. Makan tiga perempat piring. Pakai kecap.”

Dia menaruh kedua kantong plastik di lantai, pelan, dan duduk di ujung koridor, jauh dari kami. Satu rentangan tangan, tiga rentangan, poin tiga, jeda.

Kami diam lama.

“Aku di sini buat Wulan,” kataku pelan, tanpa menatapnya. “Bukan buat kamu.”

Dia mengangguk.

Aku menatap Wulan di pangkuanku, kepangannya yang rapi, dan liontin bulan sabit di genggamannya.

“Bohong,” tambahku pelan.

Dia mengangkat kepala.

“Aku bohong. Dua-duanya.” Aku akhirnya menatapnya. “Aku di sini buat Wulan dan buat kamu. Soalnya aku nggak punya rem, Danny. Kamu jeda, aku nggak. Aku nggak tahu caranya jeda.”

Dia menatapku dari ujung koridor. Matanya merah, seperti tidak tidur, seperti semua malam minggu ini.

“TK Tunas Harapan,” kataku.

Dia membeku.

“Bu Hartini yang bilang. Mereka minta berkas Wulan tadi pagi.” Suaraku tetap pelan, supaya Wulan tidak bangun, tapi aku bisa merasakan getaran di dalamnya. “Kamu mau mindahin Wulan supaya aku nggak kehilangan kelasku. Iya, kan? Itu sebabnya jeda. Itu sebabnya delapan bulan.”

Dia tidak menjawab. Itu jawaban.

“Tanpa nanya aku,” lanjutku. “Tanpa nanya Wulan. Kamu bikin daftar, kamu bikin rencana, kamu jalanin sendiri. Kayak kode.” Air mataku jatuh ke rambut Wulan. “Aku bukan kode, Danny. Wulan bukan kode.”

“Kinan, aku cuma mau kamu…”

“Aku tahu. Kamu cuma mau aku nggak kehilangan.” Aku tertawa pelan, pahit. “Lucu, ya.”

“Apa yang lucu?”

Aku membuka mulut. Surat itu ada di ujung lidahku. Aku juga, Danny. Aku juga pergi diam-diam. Tadi pagi, jam enam lewat empat puluh. Supaya Wulan nggak kehilangan kelasnya. Kita berdua sama bodohnya.

Tapi kalimat itu tidak keluar.

Karena kalau aku mengatakannya sekarang, di koridor ini, dengan Wulan tidur di pangkuanku, dia akan panik lagi. Dia akan bikin daftar baru, rencana baru, dan kemungkinan terburuk yang baru. Aku bisa melihatnya di matanya: laki-laki yang sudah terlalu lelah menghitung, dan yang tidak tahu cara berhenti.

“Nggak,” kataku akhirnya. “Nggak ada yang lucu.”

Aku memindahkan Wulan pelan-pelan dari pangkuanku ke kasurnya, lalu menyelimutinya dengan selimut kelinci dan mencium keningnya.

Lalu aku berjalan melewati Danny di ujung koridor. Aku tidak berhenti, tidak menatapnya. Waktu aku lewat, dia mengulurkan tangan, pelan, ke arah tanganku.

Aku tidak menariknya, tapi aku juga tidak menggenggamnya. Jari kami bersentuhan sebentar di udara, lalu aku terus berjalan.

Di tangga, aku berhenti tanpa menoleh.

“Kancingmu,” kataku pelan. “Salah lagi.”

Lalu aku turun.


Aku duduk di atas Si Pinky di depan pagar, dengan helm di pangkuan, tidak menyalakan mesin.

Aku menangis. Bukan menangis diam seperti Jumat lalu di kamar, tapi menangis yang keras, yang keluar dari perut, dengan bahu berguncang dan napas tersendat. Aku menangis di atas motor pink di depan pagar rumah yang dulu kukunjungi dengan pura-pura mogok, di siang hari bolong, di depan tetangga.

Aku tidak peduli.

Lalu sepasang tangan tua yang hangat dan agak keriput memelukku dari samping.

Oma Ratmi berdiri di sebelah motor, di luar pagar, memelukku erat dengan kacamata bulat yang berembun.

“Neng,” bisiknya. “Sudah. Sudah, Neng.”

“Oma…” Aku tidak bisa bicara. “Oma, aku juga… aku juga bodoh, Oma. Aku juga pergi diam-diam. Aku juga…”

“Oma tahu.”

Aku berhenti. “…Oma tahu?”

“Bagas telepon Oma tadi pagi, sambil nangis. Katanya dia udah janji ke Neng, tapi dia nggak kuat nyimpen sendiri.” Oma Ratmi mengusap punggungku pelan. “Anak itu baik. Jangan dimarahi.”

Aku menangis di bahu Oma Ratmi. Bahunya kecil dan kurus, tapi entah bagaimana cukup untuk menampung semuanya.

“Neng pulang dulu, ya,” kata Oma Ratmi setelah lama sekali. “Istirahat. Makan. Malam ini…”

Dia melepaskan pelukannya dan menatap rumah di belakang pagar, ke jendela kamar di lantai atas, lalu ke jendela ruang tengah di bawah, tempat foto seorang perempuan berkepang dua tertawa di pantai.

“Malam ini,” kata Oma Ratmi, dengan suara yang tiba-tiba sangat tenang dan sangat tegas, suara pensiunan guru SD yang sudah tiga puluh tahun menghadapi anak-anak bandel, “biar Oma yang ngomong sama dia.”