← Berkembang Sangat Baik

Chapter Twenty Eight

Oma Ratmi Bicara

POV: Danny


Oma Ratmi menungguku di meja makan pukul delapan malam, dengan dua cangkir teh, sepiring kue lapis, dan HP-ku, yang entah bagaimana sudah berpindah dari saku kemejaku ke tangannya.

Aku tidak ingat kapan dia mengambilnya. Mungkin waktu aku mencuci piring nasi goreng tadi sore, atau waktu aku berdiri di depan pintu kamar Wulan terlalu lama dan menatap tulisan krayon ungu itu. KECUALI BU NANAN.

“Duduk, Danny,” katanya.

Aku duduk.

Oma Ratmi berusia enam puluh empat tahun. Dia pensiunan guru SD, tiga puluh tahun mengajar kelas satu di sekolah negeri pinggir kota. Dia ibu Anin, dan dia orang yang memegang tanganku di koridor rumah sakit tiga tahun lalu waktu dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang tidak perlu dijelaskan.

Selama tiga tahun sejak itu, Oma Ratmi tidak pernah memarahiku. Tidak sekali pun. Bahkan waktu aku lupa menjemput Wulan di ulang tahunnya yang ketiga karena ketiduran setelah deploy, dan Wulan menunggu di rumah tetangga sampai jam dua siang, dia tidak memarahiku.

Malam itu, di meja makan, di bawah lampu kuning, Oma Ratmi memasang wajah yang belum pernah kulihat. Itu wajah guru kelas satu yang sudah tiga puluh tahun menghadapi anak-anak bandel, dan sedang menghadapi anak paling bandel dalam kariernya.

“Oma sudah baca,” katanya, mengangkat HP-ku.

Aku berhenti bernapas.

“Kata sandinya tanggal lahir Wulan,” lanjutnya. “Oma udah tahu dari dulu. Kamu nggak pernah ganti dari zaman Anin.”


Dia membacanya keras-keras, pelan dan jelas, dengan intonasi guru yang membacakan cerita di depan kelas.

“Dampak ke Kinan. Satu, kehilangan kopi jam sebelas. Dua, kehilangan lagu di gerbang. Tiga, nggak boleh meluk Wulan di pagi hari…”

“Oma…”

“Diam. Oma belum selesai.”

Dia membaca kesepuluh baris itu. Dia membaca Kalimantan, lalu satu baris terpisah di bawahnya tentang Wulan yang bukan murid Kinan lagi. Dia membaca Rencana dengan lima poinnya, dan berhenti lama di nomor lima.

“Kembali,” bacanya pelan. Lalu dia meletakkan HP-ku di meja dengan layar menghadap ke atas, di antara dua cangkir teh.

“Danny,” katanya. “Oma mau tanya satu hal.”

“…Iya, Ma.”

“Mana daftar Dampak ke Danny?”

Aku terdiam.

“Mana daftar Dampak ke Wulan?” Oma Ratmi mengetuk layar HP dengan satu jari. “Sepuluh baris tentang Kinan. Nol baris tentang kamu. Nol baris tentang anakmu yang mogok makan sejak kemarin sore.”

“Ma, aku cuma…”

“Kamu cuma mau melindungi. Oma tahu.” Suaranya tidak keras. Oma Ratmi tidak pernah keras, sama seperti Bu Hartini. “Anin juga tahu. Dari dulu. Dari zaman kalian pacaran.”

Dia menuang teh ke cangkirku, pelan, lalu mendorongnya ke arahku.

“Anin pernah cerita ke Oma soal Singapura.”

Aku menunduk.

“Kamu dapat tawaran kerja di sana. Gaji tiga kali lipat. Kamu tolak, karena waktu itu Oma baru operasi lutut dan kamu takut nggak ada yang jagain Oma kalau Anin ikut kamu.” Oma Ratmi tersenyum kecil. “Kamu nggak pernah tanya Oma. Kamu nggak pernah tanya Anin. Kamu mutusin sendiri, terus kamu bilang ke Anin, ini yang terbaik buat semuanya.”

Kalimat itu sama dengan yang kubilang ke Kinan di bawah pohon beringin kemarin, dan ke Bu Sri di TK Tunas Harapan hari Sabtu. Yang terbaik buat semuanya.

“Anin marah sama kamu dua minggu,” kata Oma Ratmi. “Kamu tahu kenapa?”

“…Karena aku nolak kerjaan.”

“Bukan.” Oma Ratmi menggeleng pelan. “Karena kamu nggak nanya. Anin bilang ke Oma, Bu, aku nggak marah dia nolak Singapura. Aku marah dia pikir aku nggak cukup kuat buat ikut mutusin.”


Pintu depan terbuka dengan keras sebelum aku sempat menjawab.

“DANNY!”

Mama berdiri di ambang pintu dengan koper besar berwarna ungu, gamis yang kusut karena perjalanan, dan wajah yang sudah menangis di pesawat. Di belakangnya ada Papa dengan wajah datar, membawa tas jinjing Mama dan kantong oleh-oleh bandara.

“DANNY! MAMA DENGAR SEMUANYA DARI GRUP! KAMU PINDAHIN WULAN? KAMU JEDA SAMA KINAN? KAMU…”

“Rini,” kata Oma Ratmi tanpa menoleh.

Mama berhenti.

“Duduk.”

Mama menatap Oma Ratmi, lalu menatapku, lalu menatap Oma Ratmi lagi. Dia membuka mulut, dan Oma Ratmi menoleh padanya, pelan, dengan wajah guru kelas satu.

Mama menutup mulutnya, lalu duduk di kursi di ujung meja makan dengan koper ungu masih di sebelahnya, tangan terlipat di pangkuan seperti murid yang dipanggil ke depan kelas.

Papa menaruh tas jinjing dan oleh-oleh di lantai, lalu duduk di sebelah Mama.

“Hm,” kata Papa ke arah Oma Ratmi, dengan nada yang sangat hormat.

“Hm,” balas Oma Ratmi.

Mama menatap kedua orang itu bergantian dengan wajah bingung, tapi tidak berani bicara.


“Oma lanjut,” kata Oma Ratmi, kembali menatapku. “Danny. Tadi siang Neng Kinan nangis di depan pagar rumahmu. Di atas motor. Keras. Tetangga sebelah sampai keluar.”

Aku menatap cangkir teh. Aku tidak bisa menatap Oma.

“Kamu tahu kenapa dia nangis?”

“Karena aku jeda. Karena aku…”

“Karena dia juga bodoh, Danny.” Oma Ratmi menarik napas panjang. “Sama bodohnya kayak kamu.”

Aku mengangkat kepala.

Oma Ratmi menatapku lama dari balik kacamata bulatnya.

“Tadi pagi, jam enam lewat empat puluh, Neng Kinan nyerahin surat ke kantor yayasan. Surat permohonan mutasi. Dia mau pindah ke cabang lain.” Oma Ratmi berhenti. “Supaya Wulan bisa tetap sekolah di TK B sama teman-temannya. Supaya kamu nggak perlu berdiri di seberang jalan tiap pagi. Supaya nggak ada yang ngomongin kalian lagi.”

Ruang makan hening. Mama menutup mulut dengan kedua tangan, dan Papa melepas kacamatanya.

Aku tidak bisa bergerak.

Aku juga lagi mikir yang terbaik buat kamu. Semalaman. Dari jam empat pagi.

Kinan mengatakannya kemarin di bawah pohon beringin, sambil tertawa pahit. Dan aku mengira itu sindiran.

Kita dua orang bodoh yang sama-sama mikirin yang terbaik buat orang lain, terus lupa nanya orang lainnya mau apa.

“Dia…” suaraku pecah. “Dia mau pindah? Buat Wulan?”

“Buat Wulan. Buat kamu.” Oma Ratmi mengangguk pelan. “Dia nggak bilang ke kamu. Kamu nggak bilang ke dia. Kalian berdua pergi diam-diam dari satu sama lain di hari yang sama. Kata Bu Hartini ke Neng Kinan tadi siang, dua kali lipat bodohnya.”

Mama mengeluarkan suara kecil, setengah isakan setengah tawa, dari balik kedua tangannya.

“Kalau dua surat itu diproses,” kata Oma Ratmi, “Neng Kinan pindah ke cabang lain, dan Wulan pindah ke TK Tunas Harapan. Nggak ada yang tinggal di TK B. Semua yang kalian coba lindungi, hilang dua-duanya.”

Dia mendorong HP-ku di meja sedikit lebih dekat padaku, dengan layar yang masih menunjukkan Rencana dan lima poinnya.

“Itu kemungkinan terburuk yang nggak ada di daftarmu, Danny.”


Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.

Aku menangis di meja makan, di depan Oma Ratmi, Mama, dan Papa, dengan dua cangkir teh dan sepiring kue lapis dan HP yang layarnya masih menyala. Tidak keras. Aku menangis seperti Wulan kemarin di balik pintu kamar, tertahan, seperti orang yang berusaha tidak ketahuan.

Mama berdiri dari kursinya dengan cepat, tapi Oma Ratmi mengangkat satu tangan, dan Mama duduk lagi. Papa meletakkan tangannya di punggung tangan Mama.

Oma Ratmi menunggu. Dia tidak memelukku atau mengusap punggungku. Dia hanya duduk di seberang meja dan menunggu, seperti guru yang menunggu muridnya selesai menangis sebelum melanjutkan pelajaran.

Waktu napasku akhirnya bisa keluar lagi, dia bicara dengan suara yang sangat pelan.

“Danny. Oma mau cerita sesuatu yang belum pernah Oma ceritain ke siapa pun.”

Aku mengangkat kepala.

“Hari terakhir Anin di rumah sakit. Waktu kamu keluar sebentar beli minum, cuma lima belas menit.” Oma Ratmi menatap cangkir tehnya. “Anin pegang tangan Oma. Dia udah susah ngomong, suaranya tinggal bisikan. Tapi dia bilang satu hal ke Oma, dan dia minta Oma janji.”

Aku menunggu.

“Dia bilang, Bu. Nanti kalau aku udah nggak ada, Danny pasti bakal berhenti. Dia bakal ngurus Wulan, ngurus kerjaan, ngurus Ibu, ngurus semua orang. Tapi dia bakal berhenti hidup buat dirinya sendiri. Dia bakal pikir itu setia. Padahal itu bukan setia, Bu. Itu takut.”

Oma Ratmi berhenti. Air mata jatuh dari balik kacamata bulatnya ke pipinya yang keriput.

“Kalau suatu hari ada orang yang bisa bikin dia ketawa lagi, dan dia mulai mundur, Ibu yang dorong dia. Janji, Bu. Ibu yang dorong.”

Dia melepas kacamatanya dan mengusap mata dengan ujung kerudung.

“Oma janji,” katanya. “Tiga tahun Oma nunggu. Tiga tahun Oma lihat kamu bangun, kerja, ngurus Wulan, tidur, bangun lagi. Kamu nggak pernah ketawa, Danny. Kamu senyum, iya. Senyum ke Wulan, ke Mama, ke Oma. Tapi ketawa yang sampai matamu ilang, yang sampai kamu harus pegangan tiang, nggak pernah. Tiga tahun.”

Dia memakai kacamatanya lagi.

“Terus Oma duduk di lapangan RT, nonton lomba kerupuk, dan ada perempuan yang cerita ke Oma tanpa tahu Oma siapa. Cuma orang baik yang bisa ninggalin dua orang yang saling sayang sampai kayak gitu.” Oma Ratmi tersenyum dengan mata basah. “Terus Oma lihat kamu pegang spanduk N-nya kebalik. Ketawa. Ketawa beneran, Danny. Pertama kali dalam tiga tahun.”

Dia mencondongkan badan ke depan dan menatapku lurus.

“Anin nggak pernah minta kamu berhenti hidup, Danny,” katanya pelan dan jelas, setiap katanya seperti diketuk di meja. “Kamu yang minta itu ke dirimu sendiri. Dan sekarang, kamu minta Neng Kinan ikut berhenti juga. Kamu minta Wulan ikut berhenti. Kamu bikin semua orang berhenti, terus kamu sebut itu melindungi.”

Oma Ratmi mengambil HP-ku dari meja, lalu mengetik sesuatu dengan jari tuanya yang lambat dan hati-hati.

Dia menyodorkannya padaku.

Dia membuat catatan baru di aplikasi notes, di bagian paling atas, di atas Dampak ke Kinan, di atas Rencana, dan di atas Hal-hal tentang Kinan.

Judulnya: Kemungkinan Terbaik.

Isinya masih kosong.

“Anin bilang ke Dinda,” kata Oma Ratmi, “kalau Danny mulai bikin daftar, rebut HP-nya. Dia nggak pernah bikin daftar kemungkinan terbaik.” Dia mendorong HP itu ke tanganku. “Sekarang bikin, Danny. Oma tunggu.”


Aku menatap judul itu lama sekali. Kemungkinan Terbaik.

Aku tidak pernah membuat daftar seperti ini. Tidak pernah, bahkan waktu kecil. Dinda benar, dan Anin benar.

Jariku melayang di atas layar. Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Lalu dari arah tangga terdengar suara kecil. Suara langkah kaki yang sangat pelan dan hati-hati, seperti agen rahasia yang berusaha tidak ketahuan tapi gagal karena tangganya kayu dan berderit.

Kami semua menoleh.

Wulan berdiri di anak tangga paling bawah, dengan piyama kelinci, kepang baru buatan Kinan, dan liontin bulan sabit di dada. Di tangannya ada selembar kertas gambar.

“Aku dengal,” katanya pelan. “Dali atas. Aku agen lahasia.”

Tidak ada yang bicara.

Wulan berjalan pelan ke meja makan. Dia melewati Oma Ratmi, Oma Rini yang menangis dengan tangan menutup mulut, dan Opa Harun. Dia berhenti di sebelahku dan menyodorkan kertas gambar itu.

Itu gambarnya yang kemarin, yang jatuh di karpet waktu dia berlari ke atas: rumah dengan tiga orang di depannya. Satu tinggi dengan kemeja, satu sedang dengan rambut panjang dan jepit panda, satu kecil dengan kepang dua. Di langit di atas rumah ada bulan sabit besar, setengah berwarna kuning, setengah masih putih.

“Papa,” kata Wulan. “Bulannya belum selesai.”

Dia menaruh krayon kuning di atas meja, di sebelah HP-ku.

“Aku nggak mau welnain sendilian,” katanya. “Papa bantu.”

Aku menatap gambar itu, lalu anakku, dan terakhir krayon kuning di meja.

Aku mengambil krayon itu dengan tangan yang gemetar, lalu mewarnai bulan sabit itu. Pelan, di bagian yang masih putih, dengan warna kuning, sampai penuh. Warnanya keluar dari garis sedikit di bagian bawah, karena tanganku gemetar dan mataku kabur.

Wulan memperhatikan dengan serius. Waktu aku selesai, dia mengambil gambar itu, menatapnya lama, lalu mengangguk puas.

“Keluar galis dikit,” katanya. “Tapi nggak apa-apa. Kata Bu Nanan, yang penting selesai.”

Dia naik ke pangkuanku dan duduk di sana dengan gambar di dadanya, lalu bersandar di dadaku.

“Papa,” katanya pelan. “Aku nggak mau pindah.”

“Papa tahu.”

“Aku mau Bu Nanan tetap di sekolahku.”

“Papa tahu.”

“Dan aku mau Papa sama Bu Nanan nggak istilahat lagi.” Dia mendongak dan menatapku. “Soalnya kata Bu Nanan, kalau istilahatnya kelamaan, mainnya selesai. Aku nggak mau mainnya selesai.”

Aku memeluk anakku erat sekali, dengan krayon kuning yang masih di tanganku, di meja makan, di depan tiga orang tua yang menangis.

Di rak buku di ruang tengah, Anin tertawa di pantai. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Senin, aku menatap foto itu.

Anin menatapku balik dan tertawa. Rasanya seperti tawa orang yang sudah menunggu terlalu lama untuk melihat suaminya akhirnya berhenti bersikap bodoh.


Aku mengetik daftar itu dengan Wulan di pangkuanku. Dia membaca setiap kata yang kuketik dengan suara pelan dan mengeja dengan cadelnya.

Kemungkinan Terbaik

1. Wulan tetap di TK B. Sama Rafi, Bima, Keysha. Dikepang Bu Nanan tiap pagi.
2. Kinan tetap di TK B. Sama dua puluh anaknya. Nyanyi tiap hari.
3. Kopi jam sebelas. Lagu nomor dua belas sampai empat puluh tujuh.
4. Aku nggak jeda.

“Jeda itu apa, Papa?” tanya Wulan.

“Istirahat.”

“Oh. Belalti Papa nggak istilahat lagi?”

“Nggak.”

“Bagus.” Dia menunjuk layar. “Tambahin satu lagi.”

“Apa?”

Wulan berpikir sebentar dengan dahi berkerut. Lalu dia menarik tanganku dan mengetik sendiri dengan satu jari, huruf demi huruf, lambat sekali:

5. BU NANAN TINGAL DI LUMAH

Ejaannya salah dan cadelnya ikut terketik. Tidak ada yang mengoreksinya.

Mama sesenggukan di ujung meja, dan Papa memeluk bahunya.

Oma Ratmi menatap layar HP itu dari seberang meja, membaca lima baris itu dengan kacamata bulatnya, lalu tersenyum dengan mata basah dan wajah guru kelas satu yang muridnya akhirnya lulus.

“Nah,” katanya pelan. “Itu baru daftar.”


Pukul sepuluh malam, setelah Wulan tidur dan Mama serta Papa masuk ke kamar tamu, Oma Ratmi memakai sandalnya di teras.

“Ma,” kataku di ambang pintu.

“Hm?”

“Keputusan yayasan. Kapan?”

“Kamis malam, jam tujuh. Di kelas TK B. Rapat terbuka lagi, sama orang tua murid.” Oma Ratmi menatapku. “Kenapa?”

“Surat Kinan. Surat mutasinya. Ada di yayasan?”

“Ada. Di Pak Wiryo.”

“Dan surat pendaftaran Wulan di TK Tunas Harapan…”

“Ada di Bu Hartini. Tunas Harapan minta berkas.” Oma Ratmi mengangkat alis. “Kamu mau ngapain, Danny?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku menatap lampu teras, bohlam yang kuganti minggu lalu supaya tidak berkedip lagi. Lampu itu menyala kuning dan hangat. Di bawahnya, tiga minggu lalu, di anak tangga ini, Kinan menyanyikan lagu dengan rima yang dipaksa.

Lampumu nyala, jalanmu lurus. Aku ngebut, tapi aku tahu harus pulang ke mana.

“Aku mau ambil dua surat itu,” kataku.

Oma Ratmi menatapku lama.

“Terus?”

“Terus…” Aku menarik napas. “Terus aku mau jawab pertanyaan yang nggak bisa aku jawab minggu lalu. Di depan semua orang.”

Oma Ratmi tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengulurkan tangan dan menepuk pipiku dua kali, pelan, seperti menepuk pipi murid kelas satu yang baru saja membaca satu kalimat lengkap untuk pertama kalinya.

Lalu dia berjalan ke pagar, dan berhenti di sana tanpa menoleh.

“Danny.”

“Iya, Ma?”

“Kamis jam tujuh.” Suaranya terdengar sedikit geli. “Jangan telat.”

Dia pergi. Aku berdiri di teras di bawah lampu yang menyala dan menatap langit. Bulan sudah lewat purnama, sedikit menipis di satu sisi, tapi masih terang.

Aku membuka HP dan mengetik satu pesan untuk Kinan. Aku menghapusnya, lalu mengetik lagi dan menghapusnya lagi.

Akhirnya aku tidak mengirim apa-apa. Beberapa hal tidak boleh dikatakan lewat pesan. Beberapa hal harus diucapkan langsung, di depan semua orang, tanpa jeda.

Aku masuk ke dalam dan memasang alarm untuk hari Kamis pukul lima sore, dua jam sebelum rapat.

Aku memeriksa AM dan PM tiga kali.

Lalu, untuk berjaga-jaga, aku memasang alarm kedua.