← Berkembang Sangat Baik

Chapter Ten

Saya Kalah, Bu

POV: Sheila → Danny


Gelas kopi kelima, hari Rabu. Lagu nomor lima.

“Pak, kalau di lagu itu cicaknya pelan-pelan mendekat terus nangkap nyamuk,” kataku di gerbang sambil menyodorkan kopi, “saya juga mau pelan-pelan mendekat ke hati Bapak. Tapi saya nggak bisa pelan. Jadi saya mendekat sambil nyanyi.”

Pak Danny menerima kopinya. “Bu, saya sudah bilang jangan.”

“Iya, Pak. Saya dengar.”

“Terus kenapa tetap bawa kopi?”

“Karena di surat penolakan Bapak nggak ada pasal yang ngelarang kopi.”

Dia menatapku. Aku menatapnya balik dengan senyum paling lebar yang bisa kubuat. Lalu dia menunduk, menggeleng, dan menyesap kopinya. Telinganya merah seperti biasa.

Gelas keenam, hari Kamis, lagu tentang burung kakak tua. Dia tertawa di tengah gombalanku dan harus berpegangan di tiang gerbang lagi.

Gelas ketujuh, hari Jumat, lagu tentang topi bundar. Dia berusaha pasang muka datar dan bertahan tiga detik, lalu kalah.

Gelas kedelapan, hari Senin. Aku tidak menggombal. Aku hanya menyerahkan kopi dan berkata, “Pagi, Pak,” karena aku mau lihat reaksinya.

Dia menerima kopi itu, lalu berdiri diam di depanku.

“…Hari ini nggak ada lagu?”

“Hari ini libur, Pak.”

“Oh.” Dia mengangguk, sedikit terlalu lama. “Oke.”

Dia berjalan ke mobil, lalu berhenti di tengah jalan, berbalik, dan kembali ke gerbang.

“Bu.”

“Ya, Pak?”

“Lagu nomor delapan harusnya apa?”

Aku menggigit bibir supaya tidak tersenyum terlalu lebar. “Rahasia, Pak. Besok.”

Dia menatapku dengan ekspresi orang yang ingin sekali bertanya tapi tahu itu kekalahan. Lalu dia berbalik lagi, dan aku mendengarnya bergumam sambil berjalan ke mobil: “Ini nggak adil.”

Bu Tari, yang menyaksikan dari teras, berkata tanpa menoleh dari sapunya, “Dia ketagihan, Kinan.”

“Aku tahu.”

“Kamu sengaja bikin dia ketagihan.”

“Aku guru TK, Tari. Aku tahu cara bikin anak nungguin jam cerita.”

“Dia bukan anak TK.”

“Iya. Dia lebih gampang.”


Rabu malam, pukul sebelas lewat dua puluh, HP-ku berbunyi.

Aku sedang tengkurap di kasur dengan masker wajah rasa mentimun, menonton drama di laptop. Aku hampir tidak mengangkatnya karena nomor itu tidak pernah menelepon. Dia hanya pernah mengirim pesan. Nama kontaknya masih Balon Hijau 💚.

Aku mengangkat telepon itu dengan masker mentimun yang masih di muka.

“Halo? Pak?”

Hening sebentar. Lalu napas, berat dan cepat.

“Bu. Maaf. Maaf nelepon malam-malam.” Suaranya bukan suara yang biasa. Suara itu tipis dan tegang, seperti tali yang ditarik terlalu kencang. “Wulan… Wulan demam. Tinggi, tiga puluh sembilan koma delapan. Saya udah kasih obat penurun panas yang dari dokter, udah kompres, tapi dia nggak mau tidur. Dia nangis terus.”

Aku sudah duduk tegak sebelum dia selesai bicara.

“Oma Ratmi lagi umrah, Mama saya di Surabaya. Dan saya…” Dia berhenti. Di latar belakang, aku mendengar tangisan kecil yang serak, dan bunyi notifikasi laptop yang berdenting berulang-ulang. “Server klien saya down, Bu. Sistem pembayaran mereka, di tengah jam sibuk di Amerika. Saya satu-satunya yang pegang kodenya. Saya nggak bisa ninggalin, tapi saya juga nggak bisa ninggalin Wulan…”

“Pak.”

“Dia manggil Ibu dari tadi.” Suaranya pecah. “Dia nggak mau Papa. Dia bilang, mau Bu Nanan, mau Bu Nanan. Saya tahu ini nggak pantas, saya tahu saya kemarin bilang jangan, saya tahu…”

“Pak, alamat Bapak saya udah tahu. Lima belas menit.”

“Bu…”

“Kompresnya pakai air hangat, bukan air dingin. Kasih minum sedikit-sedikit. Tetap hubungi dokternya kalau panasnya nggak turun atau dia lemas. Saya berangkat sekarang.”

Aku menutup telepon, mencabut masker mentimun dari wajahku, dan melemparnya ke tempat sampah. Aku menarik jaket dari gantungan dan menyambar tas, lalu berlari keluar kamar.

“Kinan?” Radar Ibu, tentu saja, langsung berbunyi. “Kamu mau ke mana jam segini?”

“Wulan sakit, Bu!”

Hening sebentar. Lalu pintu kamar Ibu terbuka, dan Ibu keluar dengan daster, rol rambut, dan kantong plastik di tangan.

“Ini,” katanya, menyodorkan kantong itu. Isinya termometer cadangan, minyak telon, dan dua bungkus biskuit bayi. “Anak demam biasanya nggak mau makan. Kasih yang lembut. Pakai helm yang dari dia, ya.”

Aku menatap Ibu.

“Kok Ibu tahu helmnya dari dia?”

“Ibu tahu semuanya, Kinan.” Ibu mendorong bahuku. “Sana. Hati-hati. Jangan nyanyi di jalan.”


Si Pinky, untuk pertama kalinya dalam sejarah, menyala di percobaan pertama. Tanpa batuk, tanpa drama.

“Makasih, Pinky,” bisikku, lalu memakai helm pink dengan stiker bintang dan mengencangkan talinya yang putih dan kuat.

Lima belas menit kemudian aku berdiri di depan pagar rumah yang sama tempat aku pernah pura-pura motorku mogok.

Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk.

Dia berdiri di situ, dengan kaus abu-abu kusut, rambut berantakan seperti diacak-acak berkali-kali, dan mata merah. Di gendongannya ada Wulan, merah dan basah keringat, menangis dengan suara serak yang sudah hampir habis, dan kompres handuk kecil setengah jatuh dari dahinya.

Dari ruang tengah, laptop di meja makan terus berdenting.

Wulan mendengar suara motor. Dia mengangkat kepala dari bahu papanya, dan dia melihatku.

Tangisnya berhenti. Tidak langsung, tapi pelan-pelan, seperti hujan yang reda.

“…Bu Nanan?”

“Hai, Sayang.” Aku melepas helm dan mengulurkan tangan. “Bu Nanan datang.”

Wulan mengulurkan kedua tangannya padaku, dan papanya menyerahkannya. Tangannya gemetar sedikit waktu melakukannya. Badan Wulan panas sekali di pelukanku, seperti memeluk botol air panas kecil. Dia menyandarkan kepalanya di leherku dan mengeluarkan desahan panjang, seperti orang yang baru sampai rumah.

Aku menatap papanya. Matanya merah, rahangnya tegang, dan tangannya masih setengah terangkat seolah belum yakin boleh melepaskan.

“Pak,” kataku pelan. “Sana. Benerin servernya.”

“Bu, saya…”

“Saya di sini. Wulan di sini. Kita nggak ke mana-mana.” Aku mengangguk ke arah laptop yang terus berdenting. “Orang Amerika butuh Bapak. Wulan butuh Bu Nanan. Kita bagi tugas.”

Dia menatapku lama, seperti orang yang tidak percaya ada orang lain di depan pintunya pukul sebelas empat puluh malam.

“Terima kasih,” katanya. Suaranya hampir berbisik. “Terima kasih, Bu.”

Lalu dia berlari ke laptop.


POV: Danny


Pembayaran mereka mati karena satu baris kode yang dideploy tim lain dua jam sebelumnya. Satu baris saja, dan satu koma yang salah tempat.

Aku menemukannya pukul satu lewat sepuluh.

Aku memperbaikinya pukul satu lewat dua puluh lima, lalu mengujinya, mengujinya lagi, dan mengirim pesan ke klien di San Francisco. Klien itu membalas dengan tiga emoji api dan satu kalimat: You saved our Wednesday, Danny.

Aku menutup laptop pukul dua lewat empat puluh.

Selama tiga jam itu, setiap kali aku mengangkat kepala dari layar, aku melihat mereka.

Awalnya mereka di sofa ruang tengah. Bu Kinan duduk bersila, dan Wulan di pangkuannya, dibungkus selimut kelinci. Bu Kinan mengganti kompres setiap lima belas menit dengan air hangat dari baskom yang dia ambil sendiri dari dapur. Dia menemukan baskom itu tanpa bertanya, seolah sudah tahu di mana semua barang di rumahku. Dia memijat pelan telapak kaki Wulan dengan minyak telon, sambil berbisik dan bercerita dengan suara yang sangat pelan dan sangat lembut. Dari meja makan, aku tidak bisa mendengar isinya.

Pukul satu, aku mendengarnya menyanyi.

Bukan dangdut koplo, bukan cengkok, bukan remix yang menggetarkan kaca. Dia menyanyi pelan sekali, hampir berbisik, lagu tentang bulan yang ingin diambil seorang anak dari langit untuk ibunya. Suaranya yang biasanya keras dan tanpa rem jadi selembut kapas, dan dia mengayun Wulan pelan mengikuti nada.

Wulan berhenti merintih. Napasnya jadi lebih pelan, lebih panjang.

Aku berhenti mengetik. Aku hanya duduk di situ dengan jari di atas keyboard, mendengarkan, dan harus memaksa diri untuk kembali ke layar.

Pukul dua lewat empat puluh, waktu laptop akhirnya tertutup, rumahku sunyi.

Aku berjalan ke ruang tengah pelan-pelan.

Wulan tidur di pangkuan Bu Kinan, meringkuk seperti anak kucing dengan pipi menempel di perut gurunya. Aku menyentuh dahinya. Masih hangat, tapi sudah tidak membakar. Termometer di meja menunjukkan tiga puluh tujuh koma delapan, dicatat di sobekan kertas dengan tulisan tangan besar dan bulat: 02.15 — 37,8 — sudah minum 1/2 gelas — tidur nyenyak ⭐.

Dan Bu Kinan juga tertidur.

Dia bersandar di lengan sofa, dengan kepala miring dan mulut sedikit terbuka. Satu tangannya masih memeluk Wulan, dan tangan satunya masih memegang handuk kompres. Rambutnya lepas dari cepolan, karena jepitnya jatuh di karpet, sehingga rambut panjangnya tergerai berantakan di bahu dan sandaran sofa. Dia masih memakai kaus tidur bergambar kucing di balik jaket, dengan celana piyama kotak-kotak.

Ada sisa masker wajah hijau di garis rambutnya, di dekat telinga.

Aku berdiri di situ, di ruang tengah rumahku sendiri, pukul tiga pagi, menatap dua orang yang tidur di sofaku, dan sesuatu di dadaku yang sudah tiga tahun tertutup rapat terbuka begitu saja. Pelan, tanpa izin, seperti pintu yang engselnya akhirnya menyerah.

Aku mengambil selimut dari kamarku, selimut abu-abu tebal yang biasa kupakai sendiri, dan menyelimuti mereka berdua dengan hati-hati. Dari kaki Bu Kinan, ke Wulan di pangkuannya, sampai ke bahu Bu Kinan.

Waktu aku menarik selimut itu ke bahunya, matanya terbuka.


Dia berkedip dua kali, mengantuk dan bingung, lalu melihatku.

“…Pak?”

“Ssst.” Aku jongkok di depan sofa supaya mata kami sejajar. “Wulan udah turun panasnya. Tiga tujuh delapan.”

“Oh.” Dia menunduk ke Wulan, mengelus rambutnya pelan, dan tersenyum lega. “Syukurlah.”

“Servernya juga udah beres.”

“Orang Amerikanya selamat?”

“Selamat. Mereka kirim emoji api.”

Dia tertawa pelan, tanpa suara, supaya Wulan tidak bangun. Lalu dia menatap selimut abu-abu yang sekarang menutupi mereka berdua.

“Ini selimut Bapak?”

“Iya.”

“Wangi Bapak.”

Aku tidak bisa menjawab itu.

Kami diam. Lampu ruang tengah hanya menyala satu, lampu kuning redup di sudut. Di luar, jangkrik berbunyi, dan jam dinding berdetak. Di rak buku, foto Anin tertawa di pantai.

Bu Kinan mengikuti arah pandangku ke foto itu. Dia menatapnya cukup lama.

“Pak,” bisiknya. “Itu Mama Wulan?”

“Iya.”

“Cantik.”

“Iya.”

“Kepangnya dua.”

“Iya.” Aku menarik napas. “Wulan bilang hari pertama… kepangan Ibu kayak di foto Mama.”

Dia menoleh cepat padaku. Matanya melebar, dan aku melihat dia mengerti. Aku melihat dia mengingat hari pertama: Wulan yang menatap cermin HP lama sekali, lalu berhenti bicara di tengah kalimat.

“Ya Allah,” bisiknya. “Pak, saya nggak tahu. Saya cuma…”

“Saya tahu Ibu nggak tahu.” Aku tersenyum. “Justru itu.”

Hening lagi.

Lalu aku mengatakannya. Aku tidak merencanakannya. Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti kata-kata Bu Kinan di hari pertama yang keluar tanpa rem.

“Bu, saya udah bikin evaluasi ulang.”

Dia diam, menunggu.

“Remedial,” kataku. “Saya ngulang, kayak kata Wulan.”

“…Hasilnya?”

Aku menatapnya. Dia sedang duduk di sofaku pukul tiga pagi dengan kaus tidur bergambar kucing, rambut berantakan, dan sisa masker mentimun di garis rambut. Anakku tidur di pangkuannya dengan napas yang akhirnya tenang. Dia datang dalam lima belas menit dengan helm dari aku dan kantong plastik dari ibunya, tanpa bertanya apa pun. Dia hanya bilang, kita bagi tugas.

“Saya kalah, Bu,” kataku pelan.

Dia tidak bergerak.

“Saya kalah. Saya udah coba bilang jangan. Saya udah coba mikir semua kemungkinan terburuk. Tapi malam ini, waktu saya panik, saya cuma kepikiran satu nomor, dan itu nomor Ibu.” Suaraku bergetar, dan aku membiarkannya. “Saya kalah, dan saya… saya nggak mau menang lagi.”

Matanya berkaca-kaca. Air mata mengumpul di sudut matanya dan memantulkan lampu kuning redup.

“Pak,” bisiknya, suaranya serak. “Poin tiga.”

Aku mengerti. Poin tiga di evaluasiku, satu-satunya yang dia lingkari dengan serius: Ibu terlalu sayang sama Wulan. Saya takut kalau saya mencoba, saya malah mengambil sesuatu yang Wulan butuhkan.

Bu Kinan menunduk, menatap Wulan yang tidur di pangkuannya, dan mengelus pipi merahnya dengan ibu jari.

“Poin tiga,” katanya pelan, pada Wulan, bukan padaku. “Janji saya: apa pun yang terjadi sama kita, saya tetap Bu Nanan buat dia. Kalau kita berhasil, saya Bu Nanan yang tinggal di rumahnya. Kalau kita gagal, saya tetap Bu Nanan yang ngepang rambutnya tiap pagi. Saya nggak akan pernah bikin dia kehilangan saya karena urusan orang dewasa.”

Dia mengangkat kepala dan menatapku.

“Itu janji guru, Pak. Guru TK nggak boleh ingkar janji. Nanti anak-anak nggak percaya lagi.”

Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis. Tapi pipiku basah, dan Bu Kinan mengulurkan tangannya yang bebas, yang masih sedikit bau minyak telon, lalu mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Sama seperti yang kulakukan pada pipinya di lapangan RT, waktu ada remah kerupuk di sana.

“Masih ada air matanya,” bisiknya.

“Di mana?”

“Kanan.”

Aku tertawa. Tertawa sambil menangis, pukul tiga pagi, di ruang tengah, dan dia ikut tertawa tanpa suara, dengan bahu berguncang, dengan hati-hati supaya Wulan tidak bangun.

Lalu aku menggenggam tangannya. Tangan yang tadi mengusap pipiku, di atas selimut abu-abu. Kali ini bukan tidak sengaja, bukan tos senam, dan bukan hitungan ketukan.

Tangannya pas di tanganku, seolah memang sudah diukur.

Dia menatap tangan kami, lalu menatapku.

“Pak,” bisiknya. “Ini artinya…”

“Kinan.”

Dia berhenti bernapas. Itu pertama kalinya aku memanggilnya tanpa Bu.

“…Iya?”

“Aku nggak tahu caranya pacaran lagi. Udah lama banget. Aku mungkin bakal salah-salah terus, telat satu ketukan terus.” Aku meremas tangannya pelan. “Tapi kalau kamu masih mau… aku mau coba. Pelan-pelan. Sama kamu. Sama Wulan.”

Air mata yang tadi mengumpul di sudut matanya akhirnya jatuh. Dia tersenyum dengan seluruh wajahnya: lesung pipinya, matanya yang basah, dan bibirnya yang gemetar.

“Danny,” katanya, dan namaku terdengar asing dan sangat benar di mulutnya. “Aku udah bilang dari hari pertama.”

“Bilang apa?”

“Posisinya kosong, kan?”

Aku tertawa, terlalu keras. Wulan menggeliat di pangkuannya, dan kami berdua membeku seperti pencuri. Wulan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, lalu memeluk perut Kinan lebih erat dan kembali tidur.

Kami menunggu, menahan napas. Lalu, pelan-pelan, kami saling pandang dan tertawa lagi, kali ini tanpa suara sama sekali, hanya bahu yang berguncang dan mata yang basah.

“Kinan.”

“Hm?”

“Lagu nomor delapan harusnya apa?”

Dia menatapku dengan mata yang masih basah, lalu tersenyum usil. Senyum yang sama seperti waktu dia memilihku sebagai relawan senam.

“Nggak jadi,” bisiknya. “Udah nggak perlu.”

“Kenapa?”

Dia meremas tanganku di atas selimut.

“Soalnya yang digombalin udah nyerah.”


Pukul lima pagi, azan subuh berkumandang dari masjid kompleks.

Wulan masih tidur di pangkuan Kinan, dan Kinan tidur lagi, bersandar di lengan sofa. Aku duduk di lantai di bawah sofa, bersandar di kakinya, dengan tangan kami masih bertautan di atas selimut. Aku tidak tidur sama sekali, dan aku tidak mau.

Aku menatap foto di rak buku. Anin tertawa di pantai dengan rambut dikepang dua.

Aku tidak berkata apa-apa kali ini. Tapi di kepalaku, aku bisa mendengarnya sejelas pagi itu. Dia tertawa, menepuk kepalaku, dan berkata dengan suara yang sangat bangga dan sangat lega:

Akhirnya, Dan. Akhirnya kamu nggak mundur.