Chapter Thirty One
Aturan Baru
POV: Sheila
Pukul 04.45, Jumat pagi, HP-ku bergetar di bawah bantal.
Gambar mawar merah muda dengan tulisan emas berkilau: Semoga Harimu Berkah 🌹🌹. Kali ini gambar itu tidak dikirim ke grup wali murid, tapi pesan pribadi dari Mama Keysha.
Aku membalasnya dengan mata setengah terpejam, satu tangan masih memeluk guling.
Aku: Pagi, Mama Keysha 🌹 Semoga harimu berkah juga. Keysha udah bangun?
Mama Keysha: Belum Bu. Saya lagi goreng nugget buat bekal.
Aku: Nugget bentuk apa?
Mama Keysha: Dinosaurus. Tapi saya gorengnya kelamaan. Dinosaurusnya jadi gosong.
Aku: Bilang ke Keysha itu dinosaurus yang habis kena meteor. Nanti dia seneng.
Mama Keysha: 😂😂😂 Bu Kinan ini ya.
Mama Keysha: Makasih, Bu.
Itu hari kedua. Hari pertama, kemarin, dia hanya mengirim mawar, dan aku membalas dengan mawar juga. Hari ini ada nugget dinosaurus yang gosong.
Aku tersenyum di bawah bantal, lalu tidur lagi sampai jam lima lewat seperempat.
Aturan baru di TK Pelangi Ceria berlaku mulai hari Senin, dan dalam tiga hari aturan itu sudah berubah jadi sesuatu yang tidak dibayangkan siapa pun, termasuk Bu Hartini yang menulisnya di kertas kecil di bawah meja.
Kopi di gerbang boleh, asalkan disediakan untuk semua orang tua yang menjemput.
Bang Jali menanggapi aturan itu dengan sangat serius.
Senin pagi, dia datang ke depan gerbang TK dengan gerobak kopi baru. Gerobaknya dicat hijau muda, ada payung besar bergaris-garis, dan papan kayu kecil bertuliskan dengan cat putih: KOPI JAM SEBELAS — GRATIS UNTUK ORANG TUA TK B — SPONSOR: MAS DANNY.
“Bang,” kataku, menatap papan itu dengan mulut terbuka. “Sponsor?”
“Mas Danny yang bayar, Neng.” Bang Jali menyeringai sambil menata gelas-gelas plastik. “Satu semester penuh. Buat semua orang tua. Katanya, kalau aturannya buat semua, kopinya juga buat semua.”
Aku menatap gerobak hijau muda itu, lalu menatap papan kayunya, lalu ke seberang jalan, ke parkiran, ke mobil abu-abu yang baru saja berhenti di sana.
Danny turun dari mobil dengan Wulan di gendongan. Kemejanya abu-abu, dan kancingnya benar semua. Aku sudah bisa memeriksanya dari jarak dua puluh meter.
Dia melihatku menatap papan sponsor itu, lalu mengangkat bahu dengan wajah pura-pura polos.
Aturan, katanya tanpa suara dari seberang jalan.
Aku menutup muka dengan kedua tangan.
Lagu di gerbang boleh, asalkan dinyanyikan untuk semua orang tua juga.
Aturan kedua ini, ternyata, jauh lebih sulit dilaksanakan dari yang kukira.
Hari Senin pukul sebelas, dua puluh orang tua berdiri di depan gerbang TK dengan gelas kopi gratis dari gerobak Bang Jali, menunggu anak-anak mereka keluar. Aku berdiri di gerbang dengan jepit panda di rambut dan tenggorokan yang tiba-tiba kering.
Aku sudah menyanyikan empat puluh tujuh lagu anak TK untuk satu orang. Aku belum pernah menyanyikannya untuk dua puluh orang tua sekaligus.
“Bu Kinan,” kata Mama Rafi dari barisan depan, dengan gelas kopi di tangan dan senyum lebar. “Mana lagunya? Katanya boleh.”
“Iya, Bu Kinan,” tambah ayah Bima. “Kami udah dengar dari Papa Wulan. Katanya gombalannya dari lagu anak TK.”
Aku menatap Danny, yang berdiri di belakang, di dekat gerobak Bang Jali. Dia sedang menyesap kopinya dengan wajah paling tidak bersalah sedunia.
“Oke,” kataku, menarik napas. “Lagu nomor tiga belas. Buat semua orang tua.”
Aku menyanyikan lagu tentang anak ayam yang mencari induknya, dengan cengkok dangdut, tangan memutar, dan pinggul bergoyang. Aku menyanyi untuk dua puluh orang tua, satpam, Bang Jali, dan tukang parkir yang ikut berhenti menonton.
Di akhir lagu, aku menunjuk semua orang tua satu per satu dengan gaya MC organ tunggal. “Bapak Ibu semua kayak induk ayam! Sayang sama anak-anaknya! Selalu dicari!”
Dua puluh orang tua bertepuk tangan. Mama Rafi bersiul, dan ayah Bima berteriak, “LAGI!”
Lalu, di akhir tepuk tangan itu, mataku bertemu dengan mata Danny di belakang, di dekat gerobak.
Dan aku menambahkan satu kalimat, pelan, bukan ke mikrofon, bukan untuk semua orang. Hanya dengan gerakan bibir, dari gerbang ke gerobak kopi, lewat dua puluh orang tua.
Tapi aku cuma nyari satu.
Danny tersedak kopinya.
Bang Jali menepuk-nepuk punggungnya. Dua puluh orang tua menoleh ke belakang, bingung kenapa Papa Wulan tiba-tiba batuk-batuk dengan wajah merah sampai ke telinga.
Mama Rafi menatap Danny, lalu menatapku, lalu menatap Danny lagi. Lalu dia menyeringai lebar, dengan seringai ibu-ibu yang sudah mengerti segalanya.
“Ooooh,” katanya keras. “Ini lagu buat semua orang tua, tapi gombalannya tetap buat satu orang, ya, Bu Kinan?”
Seluruh gerbang tertawa. Aku menutup muka dengan kedua tangan. Di belakang, Danny masih terbatuk-batuk di gerobak Bang Jali.
Aturan baru membuat pagi hari di TK Pelangi Ceria berubah dengan cara yang tidak diduga siapa pun.
Minggu pertama, Mama Rafi mulai datang lima belas menit lebih awal, katanya supaya “dapat tempat paling depan buat nonton Bu Kinan nyanyi”. Ayah Bima, yang biasanya menjemput dengan wajah lelah dan langsung pergi, mulai ikut bergoyang waktu lagu nomor lima belas tentang burung kutilang. Papa Nadia merekam setiap lagu dan mengirimnya ke grup wali murid dengan keterangan Lagu hari ini 🎵.
Grup wali murid yang tiga minggu lalu penuh foto teras dan emoji mata melirik, sekarang penuh video lagu anak TK dengan cengkok dangdut.
Minggu kedua, Mama Aurel datang ke gerbang membawa sekotak nasi goreng. Dia menyerahkannya padaku dengan wajah canggung dan pipi merah.
“Bu Kinan. Ini. Buatan saya, jam lima pagi.” Dia berhenti. “Aurel bilang Ibu pernah nulis di buku penghubung, Aurel bangga Mama tetap masak walaupun capek. Saya… saya baru baca itu minggu lalu. Setelah rapat.”
“Mama Aurel…”
“Saya minta maaf, Bu.” Matanya berkaca-kaca. “Soal foto itu. Soal semuanya.”
Aku menerima kotak nasi goreng itu, lalu memeluknya, Mama Aurel, bukan kotak nasi gorengnya, di gerbang, di depan satpam dan Bang Jali.
“Nasi gorengnya pasti enak,” bisikku. “Soalnya Aurel bilang Mamanya masaknya paling enak sedunia.”
Mama Aurel menangis di bahuku. Di belakangnya, Aurel berdiri dengan kuncir dua dan menatap kami dengan wajah bingung.
“Mama kenapa nangis?”
“Mama kelilipan, Sayang,” jawab Mama Aurel dengan suara serak.
Aku menahan tawa. Rupanya kelilipan sudah menyebar dari keluarga Hermansyah ke seluruh wali murid TK B.
Tapi aturan yang paling berarti bagiku bukan soal kopi atau lagu.
Dua, Bu Kinan boleh menerima Ananda Wulan di gerbang, sama seperti anak-anak lain.
Hari Senin pertama setelah rapat, pukul tujuh lewat dua puluh, Wulan turun dari mobil abu-abu dengan tas kelinci, seragam biru muda TK Pelangi Ceria (bukan oranye dan hijau), dan liontin bulan sabit di dada. Dia berlari ke arah gerbang dengan kepang dua buatan papanya, yang sekarang hanya miring sedikit sekali.
Dia berlari melewati Bu Tari, yang sudah tersenyum dan melangkah ke samping, dan langsung menubruk kakiku.
“BU NANAN!”
Aku jongkok dan membuka tangan.
Kali ini tanganku tidak berhenti di udara. Aku memeluknya erat, lama, di gerbang TK, di depan satpam, Bang Jali, dua puluh orang tua dengan gelas kopi gratis, dan Mama Keysha. Dia sekarang datang menjemput sendiri lagi, bukan neneknya, dan berdiri di barisan depan dengan kerudung pink dan tanpa bulu mata palsu.
“Bu Nanan,” bisik Wulan di leherku. “Aku nggak jadi pindah.”
“Bu Nanan tahu, Sayang.”
“Bu Nanan juga nggak jadi pindah?”
“Bu Nanan nggak jadi pindah.”
“Papa sama Bu Nanan nggak istilahat lagi?”
“Nggak.”
Wulan melepaskan pelukannya dan menatapku dengan mata cokelat besar yang sangat serius. Lalu dia merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sesuatu: satu jepit rambut berbentuk bintang, berwarna emas, dan sedikit penyok.
“Ini,” katanya, menyodorkannya padaku. “Soalnya Bu Nanan bikin Papa ketawa lagi. Papa ketawa telus dari kemalin. Sampai Oma Lini bilang Papa kesulupan.”
Aku menerima jepit itu. Dulu ada dua belas jepit pilihan Wulan yang dibayar papanya, ditambah satu jepit panda penyok yang papanya pilih sendiri. Setelah itu Wulan membuat aturannya sendiri: satu jepit setiap kali Bu Nanan bikin Papa ketawa. Dalam tiga bulan, dia sudah memberiku tujuh.
Aku melepas jepit panda dari cepolanku, lalu memasang jepit bintang emas yang penyok itu di sebelahnya. Dua jepit, panda dan bintang.
“Gimana?” tanyaku. “Cocok?”
Wulan menatap rambutku dengan wajah juri duel gombal. Lalu dia mengangguk.
“Sepuluh bintang,” katanya.
Sabtu sore, aku datang ke rumah Danny sebagai pacarnya. Tanpa pasal dan tanpa poin.
Pertama kalinya aku datang tanpa alasan: tanpa pura-pura motorku mogok, tanpa Wulan demam, tanpa operasi makan malam dengan dua belas lilin, tanpa kelas mengepang. Aku datang hanya karena aku ingin datang.
Aku mengetuk pintu. Danny membukanya dengan celemek bergambar dinosaurus. Belakangan aku tahu itu celemek Wulan ukuran anak-anak, yang talinya dia ikat dengan susah payah di pinggangnya, sehingga celemek itu hanya menutupi setengah dadanya.
“Hai,” katanya.
“Hai.” Aku menatap celemek dinosaurus itu. “Kamu… masak?”
“Aku coba.”
“Coba masak apa?”
Dia menyingkir dari ambang pintu dan mempersilakanku masuk. Di meja makan, di atas piring putih, ada sesuatu yang dia sajikan dengan bangga.
Bentuknya bulat, dari nasi putih, dengan telinga dan mata dari rumput laut. Kali ini matanya tidak melorot, tapi posisinya tepat di tempat yang benar. Ada pipi merah muda dari saus tomat, dan senyum kecil dari potongan wortel.
Panda. Panda yang tidak begadang dan tidak depresi, dan tidak mirip ubi atau kucing sedih.
Panda yang tersenyum.
“Aku latihan tiga minggu,” kata Danny. “Tiap pagi. Wulan jadi juri. Yang pertama dia kasih nilai dua. Yang kemarin dia kasih sembilan.”
Aku menatap panda itu. Lalu aku menatap Danny, dengan celemek dinosaurus yang hanya menutupi setengah dadanya, dan telinga yang sudah merah.
“Kenapa kamu latihan bikin panda tiga minggu?”
Dia mengusap tengkuknya. “Soalnya hari pertama, kamu nanya di buku penghubung. Kenapa pandanya kelihatan capek?”
Aku berhenti bernapas.
“Aku mau kamu lihat panda yang nggak capek,” katanya pelan. “Soalnya sekarang aku juga udah nggak capek.”
Kami makan malam bertiga di meja makan dengan panda tersenyum di tengahnya. Wulan menolak memakannya karena “kasihan, pandanya lagi senyum”. Akhirnya panda itu dipindahkan ke kulkas dan difoto dua puluh kali sebelum masuk.
Setelah Wulan tidur, kami duduk di teras di bawah lampu yang menyala dan tidak lagi berkedip.
Malam itu gerimis. Suaranya pelan di atap teras, dan lampu-lampu rumah tetangga berkilauan di balik tirai air.
Aku bersandar di bahunya. Dia memelukku dari samping dengan jaket abu-abu yang dia pinjamkan dan tidak pernah kukembalikan sejak malam mati lampu.
“Danny.”
“Hm?”
“Aturan baru. Kamu suka?”
Dia berpikir sebentar. “Suka.”
“Bagian mana?”
“Bagian kamu nyanyi buat dua puluh orang tua, terus gombalannya pakai gerakan bibir cuma buat aku.” Dia tersenyum. “Aku tersedak kopi tiga kali minggu ini.”
“Empat kali. Hari Kamis dua kali.”
“Kamu hitung?”
“Bang Jali yang hitung. Dia bikin catatan di papan tulis warungnya, di sebelah daftar utang.”
Danny tertawa pelan, dan tawanya bergetar di rambutku.
Kami diam sebentar, mendengarkan gerimis.
“Kinan,” katanya pelan. “Nomor lima.”
Aku menahan napas. “…Iya?”
“Aku masih persiapan.”
“Aku tahu.”
“Aku mau bilang, persiapannya lama. Aku mau nomor lima dikerjain bener-bener. Nggak boleh telat, nggak boleh salah kancing.” Dia mengeratkan pelukannya sedikit. “Jadi kalau aku kelihatan aneh beberapa bulan ke depan, jangan curiga, ya.”
Aku menoleh padanya dengan mata menyipit. “Kamu barusan bilang jangan curiga. Itu kalimat paling mencurigakan sedunia, Danny.”
Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Telinganya makin merah di bawah lampu teras.
“…Lupain yang barusan,” katanya.
“Nggak bisa.”
“Kinan…”
“Aku guru TK, Danny. Aku tahu kalau ada anak yang nyembunyiin permen di belakang punggungnya.” Aku menyipitkan mata lebih jauh. “Dan kamu lagi nyembunyiin permen yang gede banget.”
Dia menatapku, lalu menyerah. Dia menunduk dan tertawa, pelan, lalu keras, sampai bahunya berguncang dan dia harus menutup mulut supaya Wulan tidak bangun.
Aku ikut tertawa, dengan kepala di bahunya, di teras, di bawah gerimis dan lampu yang menyala.
Aku tidak bertanya lagi soal permen besar di belakang punggungnya. Aku tidak perlu. Karena aku tahu isinya, dan aku bisa menunggu.
Walaupun aku tidak punya rem, untuk yang satu ini aku mau belajar sabar.
Sedikit.
Mungkin.
Pukul sepuluh malam, waktu aku memakai helm pink di depan pagar, HP-ku bergetar. Ada notifikasi dari grup KELUARGA BESAR (CALON) 💚🐼.
Dinda: Kak Danny udah kasih tahu Kak Kinan soal nomor 5?
Hening sebentar, satu detik, dua detik.
Dinda menghapus pesan ini.
Dinda: Maaf salah grup 🙏
Bagas: DIN
Mama Rini: DINDA!!!
Oma Ratmi: Astaghfirullah.
Pak Harun: Hm.
Pak Darto: Hm.
Ibu Yati: Kinan, kamu nggak baca apa-apa, kan?
Aku menatap layar HP di depan pagar rumah Danny, di bawah gerimis, dengan helm pink setengah terpasang.
Lalu aku menoleh ke teras. Danny berdiri di ambang pintu dengan HP di tangan dan wajah pucat pasi. Dia jelas baru membaca grup yang sama.
Kami saling tatap selama lima detik penuh.
“Aku nggak baca apa-apa,” kataku.
“…Oke.”
“Nggak ada permen.”
“…Nggak ada permen.”
Aku mengencangkan tali helm, menyalakan Si Pinky, yang menyala di percobaan pertama, dan melaju pergi di bawah gerimis. Aku tertawa keras sepanjang jalan dan menyanyikan lagu nomor empat belas dengan cengkok penuh.
Di lampu merah pertigaan, bapak ojol yang sama dengan hari pertama, di tempat yang sama, menoleh padaku.
“Neng! Seneng banget kayaknya!”
“Iya, Pak!” teriakku balik dari balik helm. “Ada yang lagi nyembunyiin permen gede!”
Bapak ojol itu tidak mengerti. Tapi dia bertepuk tangan juga.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru reading
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian