← Berkembang Sangat Baik

Chapter Five

Prakarya Keluarga

POV: Danny


Surat edaran itu datang hari Selasa, terselip di buku penghubung Wulan dengan kop TK Pelangi Ceria yang berwarna-warni.

Tugas Prakarya Keluarga: “Rumahku, Istanaku.” Ananda bersama keluarga diminta membuat miniatur rumah dari kardus bekas. Dikumpulkan hari Senin. Karya terbaik akan dipajang di Hari Orang Tua.

Di bawah surat edaran itu, dengan tulisan tangan yang sekarang bisa kukenali dari jarak lima meter, ada catatan tambahan:

Pak, ini tugas KELUARGA, bukan tugas Papa sendirian. Artinya Wulan juga harus ikut bikin. Ibu sudah pernah lihat prakarya yang dikerjakan papa-papa sendirian, dan hasilnya selalu berakhir dengan anaknya menangis karena “rumahnya bagus tapi bukan punyaku”.

P.S. Ibu percaya Bapak pasti bikin yang keren. Tapi jangan terlalu keren. Nanti papa-papa lain minder.

Aku menatap catatan itu, lalu menatap tumpukan kardus bekas paket di sudut ruang kerjaku. Aku juga menatap laci yang berisi sisa komponen elektronik dari proyek iseng dua tahun lalu: LED, kabel, baterai, dan satu sensor gerak yang belum pernah kupakai.

Aku bisa merasakan Anin tertawa dari suatu tempat.

Danny, kata suaranya di kepalaku, dia bilang jangan terlalu keren.

“Aku dengar,” kataku pada ruangan kosong.


Wulan mengambil tugas ini dengan keseriusan seorang arsitek yang menangani proyek gedung pencakar langit.

“Rumahnya halus ada kolam,” katanya Rabu sore, berdiri di atas kursi dengan tangan di pinggang. Pose itu, aku curiga, dia tiru dari Bu Kinan. “Telus ada kamal Papa, kamal aku, dan kamal kelinci.”

“Kita nggak punya kelinci, Lan.”

“Belum.”

“Terus?”

“Telus ada lampunya. Yang nyala-nyala.”

Aku berhenti mengelem dinding kardus. “Lampu yang nyala-nyala?”

“Iya. Kayak lumah beneran. Kalau malam, lampunya nyala.” Dia menatapku penuh harap. “Papa bisa?”

Aku melirik laci komponen. Suara Anin di kepalaku berkata, jangan. Suara Bu Kinan di catatan berkata, jangan terlalu keren.

Tapi anakku sedang menatapku dengan mata cokelat besar yang sama persis dengan mata ibunya.

“…Papa bisa.”


Kami mengerjakannya tiga malam berturut-turut. Aku tetap tidak ingin mengulang kesalahan papa-papa yang diceritakan Bu Kinan, jadi aku membagi tugas dengan adil.

Wulan bertugas mewarnai dinding (merah muda, tentu saja), menempel jendela dari plastik mika, membuat kolam dari tutup kaleng biskuit, dan menentukan di mana setiap barang harus diletakkan dengan otoritas mutlak. Aku bertugas memotong kardus, mengelem bagian yang susah, dan urusan kabel.

Hasilnya adalah rumah kardus dua lantai berwarna merah muda. Ada kolam dari tutup kaleng, ada pohon dari tusuk sate dan kapas hijau, dan ada tiga kamar: kamar Papa, kamar Wulan, dan kamar kelinci yang belum ada.

Di setiap kamar ada satu lampu LED kecil. Di pintu depan ada sensor gerak, jadi kalau ada tangan yang mendekat, lampu teras menyala dan terdengar bunyi ting kecil dari buzzer, seperti bel rumah.

Waktu kami menyalakannya pertama kali, Kamis jam sepuluh malam, Wulan menjerit sampai tetangga mungkin mengira ada maling.

“LAMPUNYA NYALA! PAPA! LAMPUNYA NYALA!”

Dia menggerakkan tangan di depan pintu kardus berkali-kali. Ting. Ting. Ting. Setiap kali lampu teras menyala, dia tertawa seperti baru menemukan sihir.

Lalu dia berhenti dan menunjuk kamar Papa.

“Papa, kamal Papa kok cuma ada satu bantal?”

Aku melihat kamar mini yang dia hias. Ada kasur dari spons cuci piring dan bantal dari kapas yang dibungkus kain perca. Satu bantal.

“Kan Papa tidurnya sendiri, Lan.”

Wulan memikirkan itu dengan wajah serius. Lalu dia mengambil kapas dan kain perca lagi, dan dengan tangan kecilnya yang lengket lem, membuat bantal kedua dan meletakkannya di samping bantal pertama.

“Nah,” katanya puas. “Biar nggak sepi.”

Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Itu bantal buat siapa, Lan?”

“Buat yang nanti.”

“Yang nanti siapa?”

Wulan mengangkat bahu, kembali menggerakkan tangan di depan sensor. Ting. “Nggak tahu. Kata Oma, nanti ada.”

Malam itu, setelah Wulan tidur, aku duduk di depan rumah kardus merah muda itu dan menatap dua bantal kapas di kamar kecil bertuliskan PAPA.

Aku tidak mengambil bantal yang kedua.


Jumat sore, aku sedang mengecat ulang atap yang terkena lem berlebihan ketika bel rumah berbunyi. Bel rumah yang asli, bukan yang kardus.

Adikku, Dinda, masuk tanpa menunggu dibukakan, karena dia punya kunci cadangan dan tidak punya sopan santun.

“Kak, aku mampir, mau numpang ngonten. Di kosanku lampunya jelek.” Dia berhenti di ambang ruang tengah, melihat rumah kardus merah muda dengan lampu-lampu yang menyala, dan menjatuhkan tasnya. “Wah. Wah. Ini apa?”

“Tugas prakarya.”

“Ada lampunya?”

“Ada sensornya juga.”

“Kak.” Dinda sudah mengeluarkan HP, merekam. “Kak, ini harus viral. Judulnya, ‘Papa Duda IT Bikin Prakarya TK Level NASA’.”

“Jangan diposting.”

“Kenapa?”

“Nanti papa-papa lain minder.”

Dinda menurunkan HP-nya pelan-pelan. Dua puluh dua tahun hidup sebagai adikku membuatnya bisa membaca aku seperti membaca caption Instagram.

“Siapa yang bilang begitu?”

“…Gurunya Wulan.”

“Gurunya Wulan,” ulang Dinda, dengan intonasi naik di akhir, “yang tiap hari beliin Kakak kopi?”

Aku menoleh cepat. “Kamu tahu dari mana?”

“Dari Wulan, lewat video call Oma kemarin. Wulan bilang, ‘Bu Nanan kasih Papa kopi sambil nyanyi, telus telinga Papa melah kayak tomat.’” Dinda menyeringai lebar, seringai yang sama sejak dia berumur tujuh tahun dan menemukan surat cintaku waktu SMP. “Mama udah tahu. Oma Ratmi udah tahu. Di grup keluarga, Kak Danny sekarang dijulukin ‘Tomat’.”

“Ada grup keluarga?”

“Ada, tapi Kakak nggak dimasukin.”

Aku duduk di lantai di samping rumah kardus dan menatap langit-langit. Dinda duduk di sebelahku dan menyenggol bahuku.

“Kak.”

“Hm.”

“Seneng, ya?”

Aku tidak menjawab. Tapi Dinda tidak butuh jawaban. Dia hanya menyandarkan kepalanya di bahuku sebentar, seperti waktu kami kecil dulu, lalu berkata pelan, “Aku udah lama nggak lihat Kakak kayak gini.”

“Kayak gimana?”

“Kayak orang yang lagi nungguin sesuatu.”


Sabtu pagi, pukul sembilan, aku sedang memasang lem terakhir di pagar rumah kardus ketika ada suara motor berhenti di depan rumah.

Lalu suara starter. Satu kali, dua kali, tiga kali. Diikuti suara seseorang yang berbicara dengan nada sangat dramatis.

“Pinky! Jangan sekarang, Pinky! Ya Allah, kenapa harus di sini? Kenapa harus di depan rumah ini?”

Aku kenal suara itu.

Aku berjalan ke jendela depan dan menyibak gorden sedikit.

Di depan pagar rumahku, Bu Kinan sedang berdiri di samping motor matic pink. Dia memakai kaus kuning dan celana jins, dengan rambut dicepol tinggi dan dijepit jepit panda. Dia memegang setang motor dengan dua tangan dan berbicara kepada motor itu seolah motornya pasien UGD.

Dia menekan starter lagi. Motor itu tidak menyala.

Lalu aku melihatnya, dengan jelas, lewat celah gorden: Bu Kinan memutar kunci kontak ke posisi OFF, menekan starter lagi, dan pura-pura kaget waktu motornya tidak menyala.

“Pinky! Kamu mogok!”

Aku menutup mulut dengan tangan. Di belakangku Dinda, yang menginap semalam, muncul dengan rambut acak-acakan dan sikat gigi di mulut.

“Kak, siapa itu?”

“…Gurunya Wulan.”

Dinda melihat ke luar jendela. Dia melihat Bu Kinan menendang ban motornya pelan, lalu mengangkat tangan ke langit seperti tokoh sinetron yang ditinggal kekasih.

“Kak,” kata Dinda dengan mulut penuh busa pasta gigi, “motornya beneran mogok?”

“Kuncinya dimatiin.”

Dinda melihatku. Aku melihat Dinda. Lalu kami berdua tertawa bersamaan, harus menahan tawa di balik gorden seperti dua penjahat yang sedang mengintip.

“Kak, dia gila,” bisik Dinda dengan kekaguman. “Aku suka.”


Aku keluar rumah dengan wajah yang kuusahakan netral. Aku gagal total.

“Bu Kinan?”

Bu Kinan menoleh dengan ekspresi kaget yang terlalu sempurna, sehingga jelas sudah dilatih di depan cermin. “Pak Danny? Ya ampun! Ini rumah Bapak? Saya nggak tahu! Kebetulan banget!”

“Kebetulan, ya?”

“Kebetulan banget, Pak! Saya cuma lewat, mau ke… pasar. Terus motor saya tiba-tiba mogok. Pas di depan rumah Bapak. Takdir, ya, Pak?”

“Pasar yang mana, Bu?”

“Pasar yang… di sana.” Dia menunjuk ke arah yang salah, arah kompleks perumahan buntu.

Aku melipat tangan. “Kok Ibu tahu rumah saya?”

“Saya nggak tahu, Pak! Kebetulan!”

“Oke.” Aku berjalan ke motornya, berjongkok, dan memeriksa dengan serius, seolah-olah aku mengerti mesin motor. Lalu aku memutar kunci kontak ke posisi ON dan menekan starter. Si Pinky menyala dengan mulus di percobaan pertama.

Hening.

Bu Kinan menatap motornya yang sekarang menyala dengan riang. Dia menatapku, lalu menatap motornya lagi.

“…Pinky,” katanya pelan, dengan nada terluka. “Kamu pengkhianat.”

Aku tidak kuat lagi. Aku duduk di trotoar dan tertawa sampai perutku sakit. Bu Kinan berdiri di sebelahku dengan wajah merah padam, lalu dia juga mulai tertawa, dengan seluruh badan, tanpa sedikit pun berusaha anggun.

“Oke, oke,” katanya akhirnya, sambil mengusap air mata. “Saya ngaku. Adik saya nemu alamat Bapak dari data pengiriman paket Wulan waktu pendaftaran. Saya cuma mau lihat Wulan ngerjain prakaryanya. Mau mastiin Bapak nggak ngerjain sendirian.”

“Ibu bisa bilang dari awal.”

“Kalau bilang dari awal, nggak ada dramanya, Pak.”

“Bu Nanan!”

Pintu rumah terbuka lebar. Wulan berlari keluar dengan piyama bergambar kelinci dan rambut yang masih berantakan, lalu menubruk kaki Bu Kinan seperti roket kecil.

“Bu Nanan ke lumah aku! Bu Nanan! Ayo lihat lumah kaldus aku! Ada lampunya! Ada kolamnya! Ada kamal kelinci!”

Bu Kinan jongkok dan memeluk Wulan erat-erat. Waktu dia mendongak menatapku, matanya berbinar dengan cara yang membuatku sulit berdiri.

“Boleh, Pak?” tanyanya. “Masuk sebentar?”

Aku menatap mereka berdua, Wulan dengan piyama kelinci dan Bu Kinan dengan jepit panda yang kuberikan, berjongkok di depan pagar rumahku di Sabtu pagi.

“Boleh,” kataku. “Tapi motornya jangan mogok lagi, ya.”


Bu Kinan jongkok di depan rumah kardus merah muda itu cukup lama tanpa bicara.

Wulan menjelaskan semuanya dengan kecepatan cahaya: kolam dari tutup kaleng, pohon dari kapas, kamar kelinci. Lalu dia menggerakkan tangan di depan pintu, dan lampu teras menyala. Ting.

“Ya Allah,” bisik Bu Kinan. “Ada belnya?”

“Papa yang bikin kabelnya. Aku yang wainain.”

“Wulan yang warnain semuanya?”

“Semuanya! Kecuali kabel. Kabel bahaya, kata Papa.”

Bu Kinan tertawa, lalu menoleh padaku yang berdiri di ambang pintu. Dia menaikkan alis. Jangan terlalu keren, katanya tanpa suara.

Aku mengangkat bahu. Dia yang minta lampu.

Dia menggeleng, tapi senyumnya lebar. Lalu dia kembali menatap rumah kardus itu dan mendekatkan wajahnya ke jendela plastik mika kamar Papa.

Dia berhenti.

Aku tahu apa yang sedang dia lihat: kasur dari spons cuci piring, dan dua bantal kapas berbungkus kain perca, bersebelahan.

“Wulan,” tanyanya pelan, “kamar Papa kok bantalnya dua?”

“Biar nggak sepi,” jawab Wulan ringan, sambil menekan-nekan sensor. Ting. Ting. “Satu buat Papa. Satu buat yang nanti.”

Bu Kinan diam.

Dari ambang pintu, aku melihat telinganya memerah. Pelan-pelan, dari ujung atas ke bawah, seperti termometer.

Aku tidak pernah melihat telinga Bu Kinan memerah sebelumnya. Bu Kinan yang bertanya aku sudah beristri atau belum di hari pertama, yang menyanyikan gombalan lagu anak TK di depan gerbang sekolah, yang pura-pura motornya mogok di depan rumahku.

Tapi sekarang telinganya merah.

Dia tidak menoleh padaku. Dia hanya mengelus rambut Wulan dan berkata, dengan suara yang lebih pelan dari yang pernah kudengar darinya:

“Bantalnya bagus, Sayang. Bantalnya bagus banget.”


Dia pamit satu jam kemudian, setelah membantu Wulan membuat kelinci dari kapas untuk kamar kelinci. Dinda sudah memaksanya ikut sarapan nasi uduk, lalu memotret mereka bertiga untuk “keperluan dokumentasi keluarga” sambil mengedip padaku dengan terlalu jelas.

Waktu Bu Kinan memakai helm di depan pagar, aku melihat tali pengaitnya putus sebelah. Diikat pakai karet gelang.

“Bu, helmnya.”

“Oh, ini?” Dia tertawa, lalu mengetuk helmnya. “Udah lama, Pak. Talinya putus waktu saya jatuh dari motor pas latihan nyanyi sambil nyetir.”

“Ibu nyanyi sambil nyetir?”

“Sering.”

Aku tidak berkata apa-apa. Tapi setelah motornya pergi dan Bu Kinan melambai dengan gaya ratu kecantikan sampai belokan, aku masuk ke rumah, membuka laptop, dan mencari helm perempuan dengan tali pengait yang kuat dan standar SNI, warna pink.

Dinda mengintip layarku dari belakang.

“Kak,” katanya pelan, dengan suara orang yang menyaksikan sejarah. “Kakak lagi beliin dia helm?”

“Talinya putus. Bahaya.”

“Kak.”

“Dia nyanyi sambil nyetir, Din.”

Dinda menatapku lama. Lalu dia memelukku dari belakang, tiba-tiba, erat sekali, seperti waktu dia berumur sembilan belas tahun dan datang ke rumah ini di minggu pertama setelah Anin pergi.

“Aku bilang Mama, ya,” bisiknya.

“Jangan.”

Tapi dia sudah berlari keluar sambil mengetik di HP, dan dari ruang tengah, rumah kardus merah muda itu berbunyi ting karena Wulan lewat di depannya.

Aku menatap dua bantal kapas di kamar kecil bertuliskan PAPA.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak buru-buru memalingkan wajah.