← Berkembang Sangat Baik

Chapter Twenty One

Foto Viral

POV: Sheila


Pukul 04.45, Senin pagi.

Biasanya, pada menit itu, grup WALI MURID TK B PELANGI CERIA 🌈 berbunyi karena satu hal: gambar mawar dari Mama Keysha, lengkap dengan tulisan Semoga Harimu Berkah. Selama tiga bulan tahun ajaran ini, gambar itu tidak pernah absen, tidak sekali pun, bahkan waktu Mama Keysha sakit flu dan bilang di grup bahwa dia “tetap semangat walaupun bersin-bersin”.

Pagi itu tidak ada gambar mawar.

Yang ada adalah sebuah foto, diunggah oleh Mama Aurel, ibu yang dulu duduk di sebelah Mama Keysha waktu Hari Orang Tua. Ibu yang membalas artikel 7 Tanda Guru Pilih Kasih dengan emoji mata yang melirik ke samping.

Aku membuka foto itu dengan mata setengah terpejam, di bawah bantal, masih setengah mimpi tentang lampu teras dan jangkrik.

Lalu mataku terbuka penuh.

Foto itu buram dan berbintik, diambil dari jarak jauh dengan zoom maksimal, dari balik kaca mobil. Ada pantulan dasbor di sudut kiri bawah. Tapi foto itu cukup jelas: teras rumah dengan lampu kuning, dua orang duduk di anak tangga. Seorang laki-laki dengan kemeja yang lengannya digulung, dan seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai. Tangan perempuan itu menggenggam kemeja laki-laki itu di dada, dan wajah mereka menyatu.

Di bawah foto itu, Mama Aurel menulis:

Mama Aurel: Bun, maaf ganggu pagi-pagi 🙏 Saya dapat foto ini dari teman. Ini benar Bu Kinan ya? Di rumah Papa Wulan? Sabtu malam setelah ulang tahun? Saya cuma mau tanya aja, karena anak kita kan diajar beliau tiap hari 🙏🙏

Aku duduk tegak di kasur.

Aku menatap foto itu. Itu aku dan Danny, di teras, di anak tangga. Kami berciuman, ciuman yang dia tanya nilainya berapa, dan yang aku bilang remedial, harus diulang.

Momen itu sekarang ada di grup WhatsApp berisi dua puluh dua orang tua murid, pukul empat lewat empat puluh lima pagi.

Aku ingat mobil putih di ujung jalan dekat pos ronda, dan kilatan kecil di balik kaca depannya.

Kunang-kunang, pikirku waktu itu.


Pukul 04.52, ada tujuh balasan.

Mama Bima: Astaghfirullah 😳

Papa Nadia: Bun, ini urusan pribadi orang, nggak usah disebar di grup anak-anak 🙏

Mama Aurel: Saya nggak nyebar Pak, saya cuma nanya. Kita kan berhak tahu gurunya anak kita kayak gimana 🙏

Mama Dafa: Pantes aja ya Wulan selalu dikepangin. Anak saya nggak pernah dikepang 😅

Mama Rafi: Anak saya laki-laki Bun, nggak bisa dikepang juga 😂 Tapi saya setuju, perhatian ke semua anak harus sama.

Papa Nadia: Ibu-ibu, tolong. Ini jam 5 pagi.

Mama Aurel: Justru karena jam 5 pagi, sebelum anak-anak berangkat, kita harus tahu. Masa kita titip anak ke guru yang… 😔

Pesan itu berhenti di titik-titik, dan titik-titik itu lebih kejam dari kalimat apa pun yang bisa ditulis setelahnya.

Pukul 05.00, sudah ada dua puluh tiga balasan. Pukul 05.15, empat puluh satu. Pukul 05.30, enam puluh delapan.

Aku membaca semuanya, satu per satu.

Ada yang membela. Bu Kinan guru terbaik yang pernah anak saya punya. Apa hubungannya kehidupan pribadi dengan cara mengajar? Ada yang ragu. Saya nggak tahu harus gimana, anak saya sayang banget sama Bu Kinan. Ada yang terang-terangan menyerang. Pantas aja waktu Hari Orang Tua anak saya nggak dikasih kesempatan tampil kedua. Ternyata ada yang diistimewakan.

Dan ada satu yang membuat tanganku berhenti menggulir.

Mama Dafa: Saya cuma kasihan sama Wulan. Anak sekecil itu harus lihat gurunya pacaran sama bapaknya. Nanti kalau putus, gimana perasaan anaknya?

Aku menatap kalimat itu lama sekali.

Itu kalimat yang sama, ketakutan yang sama, yang dulu Danny tulis di evaluasi penolakannya. Poin tiga. Saya takut kalau saya mencoba, saya malah mengambil sesuatu yang Wulan butuhkan.

Waktu itu aku melingkarinya dengan pulpen merah dan menulis Ini satu-satunya poin yang serius. Kita bahas nanti. Lalu kami membahasnya jam tiga pagi di sofa rumahnya, dan aku berjanji. Apa pun yang terjadi sama kita, saya tetap Bu Nanan buat dia.

Sekarang poin tiga itu ada di grup wali murid, ditulis oleh orang lain, pukul lima pagi.


Jariku mulai mengetik sebelum otakku sempat menghentikannya.

Iya, itu saya. Dan ciumannya bagus. Nilainya remedial, tapi…

Aku menghapusnya.

Mohon maaf Bapak/Ibu, saya ingin menjelaskan bahwa…

Aku menghapusnya.

Siapa yang motret dari mobil putih jam sembilan malam di kompleks orang? ITU NAMANYA MENGUNTIT, BUN.

Jariku melayang di atas tombol kirim.

HP-ku berdering di tanganku. Nama di layar: Tari 🌸.

Aku mengangkatnya.

“JANGAN KETIK APA-APA.”

“Tari…”

“Kinan, aku tahu kamu lagi ngetik. Aku lihat ‘Admin sedang mengetik’ dari jam lima lewat lima. Apa pun itu, hapus.”

Aku menatap draf pesan tentang mobil putih dan menguntit, lalu menghapusnya pelan-pelan, huruf demi huruf.

“…Udah dihapus.”

Di seberang telepon, Bu Tari menghela napas panjang. Lalu suaranya berubah, jauh lebih pelan dan lembut.

“Kamu nggak apa-apa?”

Aku ingin bilang nggak apa-apa. Aku perempuan tanpa rem. Aku menyanyi dangdut di lampu merah dan bertanya pada duda apakah dia sudah beristri di hari pertama sekolah. Aku tidak takut grup WA. Aku admin-nya.

“Tari,” kataku, dan suaraku pecah. “Tari, mereka ngomongin Wulan.”

Bu Tari diam sebentar.

“Aku tahu,” katanya pelan. “Aku baca.”

“Aku nggak peduli mereka ngomongin aku. Serius, aku nggak peduli. Tapi Wulan…” Aku menutup mata. “Wulan baru ulang tahun kemarin, Tari. Dia baru dapat kalung mamanya. Dia minta ke mamanya supaya aku tinggal di rumah, keras-keras, di depan semua orang. Dan sekarang orang tua teman-temannya bilang kasihan Wulan.”

Bu Tari tidak menjawab. Dia hanya diam di seberang telepon dan membiarkan aku menangis pukul lima pagi.


Pukul 05.40, grup keluarga gabungan meledak.

Ibu Yati: SIAPA YANG NYEBARIN??? IBU DATANGI RUMAHNYA SEKARANG!!!

Bagas: Bu jangan. Aku lacak dulu. Foto diambil dari mobil, ada pantulan dasbor. Aku bisa zoom.

Dinda: Aku bantu Gas. Aku punya aplikasi enhance foto.

Mama Rini: 😭😭😭 Mama lagi di bandara, pesawat jam 7. MAMA BATALIN AJA YA??? MAMA BALIK???

Pak Harun: Rini. Duduk.

Mama Rini: PAPA!!!

Pak Harun: Duduk. Tarik napas.

Oma Ratmi: Semua tenang. Jangan ada yang datangi siapa-siapa. Jangan ada yang balas di grup sekolah. Kita tunggu Danny dan Kinan.

Pak Darto: Hm.

Pak Darto: Bapak di sini.

Aku membaca dua kata terakhir itu dari Bapak, yang biasanya cuma mengirim hm. Bapak di sini.

Aku menangis lebih keras.


Pukul 05.50, Danny menelepon.

Aku mengangkatnya, dan untuk beberapa detik tidak ada yang bicara. Aku hanya mendengar napasnya, cepat dan berat, seperti malam Wulan demam dan server Amerika down.

“Kinan.”

“Hai.”

“Kamu udah lihat.”

“Udah.”

Dia diam lagi. Aku bisa mendengar sesuatu di latar belakang, suara jari mengetuk meja dengan cepat dan tidak teratur. Itu kebiasaannya kalau sedang berpikir terlalu keras.

“Aku ke sana,” katanya.

“Jangan.”

“Kinan…”

“Danny, jangan. Kalau kamu datang ke rumahku jam enam pagi setelah foto itu, itu cuma nambah bahan.” Aku menarik napas. “Antar Wulan ke sekolah kayak biasa. Jam tujuh. Pura-pura nggak ada apa-apa.”

“Aku nggak bisa pura-pura nggak ada apa-apa.”

“Aku tahu. Aku juga nggak bisa. Tapi Wulan harus sekolah. Dan aku harus ngajar.”

Dia diam lama. Suara jari mengetuk meja berhenti.

“Kinan,” katanya pelan. “Ini salahku.”

“Bukan.”

“Aku yang nyium kamu di teras. Di depan jalan. Aku nggak cek…”

“Danny.” Suaraku lebih keras dari yang kumaksud. “Aku yang minta diulang. Aku yang bilang remedial. Kalau mau nyalahin, salahin aku juga.”

Dia tidak menjawab.

Lalu, pelan sekali, aku mendengar sesuatu di suaranya yang membuat perutku dingin. Sesuatu yang sudah lama tidak kudengar, sejak bangku di bawah pohon ketapang.

“Aku cuma lagi mikir,” katanya pelan. “Kemungkinan terburuknya.”


Pukul tujuh lewat lima belas, halaman TK Pelangi Ceria terasa berbeda.

Tidak ada yang berubah, sebenarnya. Pohon ketapang masih di tempatnya, ayunan dan perosotan juga, dan anak-anak masih berlarian dan berteriak. Satpam masih berdiri di gerbang dengan kopi dari warung Bang Jali.

Tapi orang tua tidak langsung pulang setelah mengantar anak mereka. Mereka berdiri di bawah pohon ketapang, di dekat gerbang, dan di pinggir parkiran motor, dalam kelompok-kelompok kecil dua tiga orang, sambil berbisik. Setiap kali aku lewat, bisikan itu berhenti, lalu dimulai lagi setelah aku lewat.

Mama Aurel ada di sana dengan kerudung cokelat dan kacamata hitam, padahal matahari belum terik. Dia tidak menatapku. Dia menatap HP-nya dengan sangat serius.

Mama Keysha tidak ada. Keysha juga tidak ada. Bangku Keysha di kelas kosong.

Dua anak lain juga tidak datang. Mama Dafa mengirim pesan pribadi ke Bu Tari, bukan ke aku: Dafa izin hari ini, Bu. Kurang enak badan. Mama Bima tidak mengirim pesan apa pun, dan Bima tidak datang.

Aku berdiri di gerbang seperti biasa, menyambut anak-anak dengan tos seperti biasa, dengan jepit stroberi di rambut dan senyum yang kupakai seperti kostum.

“Pagi, Rafi!”

“Pagi, Bu Kinan!” Rafi menepuk tanganku, lalu berhenti dan menatapku dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. “Bu Kinan. Kata mamaku, Bu Kinan nakal.”

Senyumku tidak berubah. Aku sudah enam tahun jadi guru TK. Aku tahu cara tersenyum dalam situasi apa pun.

“Oh ya? Nakal kenapa, Rafi?”

“Nggak tahu. Mamaku bilang ke papaku di mobil. Bu Kinan nakal, masa cium-ciuman di teras.” Rafi memiringkan kepala. “Bu Kinan, cium-ciuman di teras itu nakal? Tapi Bu Kinan bilang cium itu tandanya sayang.”

Aku berjongkok di depannya, supaya mata kami sejajar.

“Rafi,” kataku pelan. “Rafi sayang sama Mama?”

“Sayang.”

“Mama sayang sama Rafi?”

“Sayang. Tapi Mama suka marah kalau aku makan tanah.”

Aku tertawa kecil, dan rasanya sakit di dada.

“Nah. Orang dewasa itu kadang-kadang bingung, Rafi. Sama kayak anak-anak. Kadang Mama Rafi bingung, kadang Bu Kinan juga bingung.” Aku mengelus rambutnya. “Tapi yang penting, Bu Kinan tetap sayang sama Rafi. Dan sama semua teman-teman. Oke?”

Rafi mengangguk puas, lalu berlari ke perosotan.

Aku berdiri. Di bawah pohon ketapang, tiga ibu berhenti berbisik dan menatapku.


Pukul tujuh lewat dua puluh lima, mobil abu-abu itu masuk ke parkiran seberang.

Danny keluar dari mobil. Dia memakai kemeja biru muda, dan kancingnya salah. Aku bisa melihatnya dari gerbang. Kancing ketiga masuk ke lubang keempat, lagi. Wajahnya pucat, matanya merah karena tidak tidur, dan rahangnya tegang.

Dia membuka pintu belakang, dan Wulan turun dengan tas kelinci. Rambutnya dikepang dua, buatan papanya, sedikit miring ke kanan tapi rapi. Liontin bulan sabit tergantung di lehernya, di luar seragam.

Wulan berlari ke arahku seperti biasa.

“Bu Nanan!”

Aku jongkok dan membuka tangan. Wulan melompat ke pelukanku seperti biasa.

Di bawah pohon ketapang, bisikan-bisikan berhenti total.

Aku memeluk Wulan sedikit lebih lama dari biasanya. Lalu aku melepaskannya dan merapikan kepangannya.

“Kepangnya Papa yang bikin?”

“Iya! Papa bangun pagi banget. Papa nggak tidul. Papa ngepang tiga kali, soalnya yang pertama kayak mi, yang kedua miling, yang ketiga baru bagus.”

Aku menatap liontin bulan sabit di dadanya. “Kalungnya dipakai ke sekolah?”

“Iya. Biar Mama ikut sekolah.”

Tenggorokanku tersumbat. Aku tersenyum dan mengangguk, lalu mendorong pelan punggungnya ke arah kelas. “Masuk dulu, Sayang. Bu Tari udah nunggu.”

Wulan berlari masuk. Aku berdiri dan menatap ke seberang jalan, ke parkiran.

Danny berdiri di samping mobilnya. Dia tidak menyeberang, dan dia tidak mendekat ke gerbang.

Dia hanya berdiri di sana, menatapku dari seberang jalan. Di antara kami ada jalan kecil, satpam, dan tiga ibu di bawah pohon ketapang yang pura-pura sibuk dengan HP mereka.

Dia tidak melambai atau tersenyum. Dia hanya menatapku dengan wajah pucat dan mata merah, dan dengan kancing ketiga yang masuk ke lubang keempat.

Aku ingin menyeberang. Aku ingin membetulkan kancingnya seperti waktu itu, di depan satpam dan Bu Tari dan siapa pun, dengan tanganku sendiri, tanpa peduli pasal empat. Kakiku sudah maju satu langkah.

Lalu dia menggeleng, sangat pelan, satu kali.

Jangan.

Kakiku berhenti.

Dia masuk ke mobil, dan mobil abu-abu itu pergi.


Pagi itu terasa sangat panjang.

Aku mengajar seperti biasa: lagu pagi, doa, kegiatan menempel kertas warna, dan cerita. Aku bernyanyi dengan cengkok, menepuk tangan, dan tertawa bersama anak-anak.

Tapi setiap kali aku menatap barisan kedua, aku melihat Wulan. Dia tidak ikut bernyanyi.

Waktu istirahat, aku melihatnya duduk sendirian di ayunan. Beberapa anak yang biasanya bermain dengannya berkumpul di dekat perosotan dan berbisik-bisik, sambil sesekali menoleh ke arahnya.

Aku mendekat, pelan, tanpa terlihat. Aku berdiri di balik pohon ketapang, cukup dekat untuk mendengar.

“Wulan,” kata Bima, yang ternyata datang terlambat dengan neneknya. “Kata mamaku, Papa kamu cium Bu Kinan di foto.”

“Iya,” jawab Wulan dengan bangga. “Papa sayang Bu Nanan. Aku juga lihat. Di depan pagal. Aku agen lahasia.”

“Tapi kata mamaku, itu nggak boleh.”

Wulan berhenti berayun. “Kenapa nggak boleh?”

“Soalnya Bu Kinan guru. Guru nggak boleh pacalan sama papa-papa.”

Wulan diam lama. Tangannya pelan-pelan naik dan menggenggam liontin bulan sabit di dadanya.

“Tapi…” katanya pelan. “Tapi aku udah minta ke Mama.”

“Minta apa?”

“Minta Bu Nanan tinggal di lumah. Mama udah bilang boleh. Kata Bu Nanan.”

Bima menatapnya dengan bingung. “Mama kamu kan udah meninggal.”

Wulan tidak menjawab. Dia hanya menunduk, menggenggam liontinnya lebih erat, dan berhenti bicara sama sekali.

Aku keluar dari balik pohon ketapang sebelum aku bisa berpikir.

“Bima!” Suaraku lebih keras dari yang kumaksud. Bima melompat kaget, dan semua anak di dekat perosotan menoleh. Aku menarik napas, menurunkan suara, dan jongkok di depan Bima. “Bima, sayang. Ayo main perosotan sama teman-teman yang lain, ya.”

Bima menatapku dengan mata lebar dan sedikit takut. Aku belum pernah meninggikan suara pada murid mana pun. Lalu dia mengangguk dan berlari pergi.

Aku duduk di ayunan sebelah Wulan. Wulan tidak menoleh padaku. Dia menatap sepatunya, dengan kedua tangan menggenggam liontin.

“Wulan.”

“…Bu Nanan.”

“Hm?”

“Aku salah lagi, ya?”

Pertanyaan itu sama dengan yang dia tanyakan di ayunan ini dua minggu lalu, waktu dia membocorkan soal ciuman kening di Cerita Akhir Pekan. Waktu itu aku bisa menjawab nggak, Sayang, dan itu cukup.

Sekarang aku tidak tahu jawaban apa yang cukup.

“Nggak, Sayang,” kataku akhirnya. “Wulan nggak pernah salah.”

“Tapi kenapa teman-teman bilang nggak boleh?”

Aku menatap anak ini, dengan kepang miring buatan papanya, liontin bulan sabit dari mamanya, dan mata cokelat besar yang sekarang penuh kebingungan. Mata itu menatapku seperti aku orang yang tahu semua jawaban.

Aku tidak tahu jawabannya.

Untuk pertama kalinya sejak hari pertama di bawah pohon ketapang, aku, perempuan tanpa rem, tidak tahu harus ke mana.


Pukul sebelas, Danny tidak datang ke gerbang.

Bang Jali yang datang, membawa satu gelas kopi hitam, gula setengah sendok. Dia menyeberang dari warungnya dan menyerahkan gelas itu padaku di gerbang tanpa bicara.

Di gelas plastik itu ada secarik kertas yang dilipat kecil dan diselipkan di bawah tutup, dengan tulisan tangan kecil, rapi, dan sedikit miring ke kanan:

Lampunya nyala.

— D.

Aku menatap tulisan itu lama sekali di gerbang TK, di depan satpam dan tiga ibu yang berbisik di bawah pohon ketapang.

Aku memeluk gelas kopi itu di dadaku, seperti memeluk helm pink di hari dia menolakku.

“Neng,” kata Bang Jali pelan. “Tadi pagi Mas Danny mampir jam tujuh. Dia bayar kopi Neng sebulan. Sebulan penuh.” Dia berhenti, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan: “Terus dia nanya, pisang gorengnya ada nggak. Saya bilang ada. Dia bilang, tolong kasih ke Kinan kalau dia kelihatan butuh.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk.

Bang Jali mengangguk balik, lalu menyerahkan satu kantong kertas kecil yang masih hangat. Isinya pisang goreng.


Pukul sebelas lewat tiga puluh, setelah anak terakhir dijemput, aku duduk di meja guru dengan pisang goreng yang belum kusentuh dan kopi yang sudah dingin.

Pintu kelas terbuka.

Bu Hartini berdiri di ambangnya. Dia memakai kerudung abu-abu dan kacamata tipis, dengan wajah tegas yang membuat orang tua murid paling cerewet pun langsung duduk tegak. Dia baru kembali dari diklat pagi ini, sesuai jadwal. Sesuai jadwal hari minggu depan yang kujanjikan padanya, hari aku seharusnya menceritakan semuanya dengan rapi, jujur, dan pada waktu yang tepat.

Di tangannya ada HP. Layarnya menyala, dan aku tidak perlu melihatnya untuk tahu apa yang ada di sana.

“Bu Kinan,” katanya.

Suaranya tidak keras. Tidak pernah keras. Tapi hari itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar sesuatu di sana yang lebih berat dari tegas.

“Ke ruangan saya. Sekarang.”

Aku berdiri. Kakiku terasa seperti bukan kakiku.

Di jendela kelas, di balik tirai yang tersibak sedikit, aku melihat mobil abu-abu terparkir di seberang jalan. Mesinnya mati, dan seseorang duduk di balik kemudi dengan kepala tertunduk di setir.

Dia tidak pulang. Dia menunggu.

Aku mengambil secarik kertas dari gelas kopi, Lampunya nyala, lalu melipatnya kecil dan menyelipkannya di saku seragam, di dekat jantung.

Lalu aku berjalan ke ruangan Bu Hartini.