Chapter Twenty Two
Panggilan Kepala Sekolah
POV: Sheila
Ruangan Bu Hartini masih sama seperti dua minggu lalu: kecil, penuh piala lomba mewarnai tingkat kecamatan, dan foto-foto wisuda TK dari dua puluh tahun terakhir yang berjajar di dinding seperti saksi.
Yang berbeda hanya satu hal. Novel bersampul pink dengan gambar dua siluet di bawah pohon sakura tidak ada lagi di bawah tumpukan map laporan keuangan. Meja itu bersih, rapi, dan dingin.
Bu Hartini duduk di balik meja, dan aku duduk di depannya. Tanganku di pangkuan, dan secarik kertas bertuliskan Lampunya nyala terlipat di saku seragam, di dekat jantung.
Bu Hartini meletakkan HP-nya di meja dengan layar menghadap ke bawah.
“Saya sudah lihat,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Saya lihat jam lima pagi. Di bus dari provinsi.” Dia melepas kacamatanya pelan-pelan dan meletakkannya di atas HP. “Tiga guru dari sekolah lain di bus yang sama juga lihat. Karena salah satu orang tua di grup Ibu ternyata juga punya anak di TK tempat mereka mengajar.”
Aku menunduk.
“Bu Kinan,” katanya. “Apa yang saya minta dari Ibu dua minggu lalu?”
“…Cerita ke Ibu duluan. Sebelum Ibu dengar dari grup WA.”
“Dan?”
“Dan Ibu dengar dari grup WA.”
Bu Hartini tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata yang tanpa kacamata terlihat lebih tua, lebih lelah, dan lebih kecewa dari yang pernah kulihat.
Kecewanya itu lebih sakit dari marah.
“Saya mau cerita hari ini, Bu,” kataku pelan. “Sungguh. Saya udah tulis catatannya. Saya udah latihan di depan cermin. Saya mau cerita semuanya, dari hari pertama, dengan rapi.”
“Saya percaya.” Bu Hartini mengangguk pelan. “Tapi sekarang, Bu Kinan, yang percaya cuma saya. Dua puluh dua orang tua di grup itu tidak akan percaya. Buat mereka, Ibu baru mau cerita setelah ketahuan.”
Aku tidak bisa membantah. Dia benar.
Bu Hartini membuka laci mejanya dan mengeluarkan tiga lembar kertas.
“Ini masuk tadi pagi, lewat surel ke yayasan. Bukan ke saya, tapi langsung ke yayasan.”
Aku menatap tiga lembar itu dari seberang meja. Aku tidak perlu membacanya untuk tahu isinya, tapi aku membacanya juga.
Surat keberatan orang tua murid. Tiga surat, masing-masing ditandatangani oleh orang tua yang berbeda: Mama Aurel, Mama Dafa, dan satu nama yang tidak kukenal, mungkin ayah dari salah satu murid yang jarang datang menjemput.
Isinya kurang lebih sama. Mereka keberatan anak mereka diajar oleh guru yang memiliki hubungan pribadi dengan salah satu wali murid. Mereka khawatir terjadi ketidakadilan dalam perlakuan dan penilaian. Mereka memohon yayasan mengambil tindakan tegas demi kebaikan seluruh anak.
Di surat Mama Aurel ada satu kalimat tambahan yang digarisbawahi: Kami meminta guru yang bersangkutan dipindahkan dari kelas TK B.
Aku meletakkan kertas itu kembali di meja dengan tangan yang tidak mau berhenti gemetar.
“Yayasan minta rapat komite,” kata Bu Hartini. “Kamis malam. Semua orang tua TK B diundang. Ibu harus hadir. Papa Wulan juga.”
“Bu…”
“Saya belum selesai, Bu Kinan.”
Aku diam.
Bu Hartini memakai kacamatanya lagi, dan wajahnya berubah. Masih tegas, tapi ada sesuatu di balik ketegasan itu yang bergerak.
“Saya kepala sekolah di sini sudah dua puluh tahun,” katanya. “Saya sudah lihat banyak guru datang dan pergi. Saya tahu mana guru yang mengajar karena kerjaan, dan mana guru yang mengajar karena hatinya.” Dia menatapku. “Ibu yang kedua. Semua orang tahu. Anak-anak tahu. Bahkan orang tua yang nulis surat ini sebenarnya tahu.”
Aku menggigit bibir.
“Jadi saya akan membela Ibu di rapat komite,” lanjut Bu Hartini. “Saya akan bilang ke yayasan, ke orang tua, ke siapa pun yang tanya, bahwa Bu Kinan guru terbaik di sekolah ini. Tapi…”
“Tapi?”
“Tapi saya nggak bisa membela sesuatu yang berantakan.” Bu Hartini mengetuk meja pelan dengan satu jari. “Hubungan Ibu dengan Papa Wulan itu hak Ibu. Saya nggak akan melarang. Tapi di sekolah ini, semuanya harus dirapikan. Harus ada batas yang jelas. Harus ada yang bisa saya tunjukkan ke orang tua dan bilang, lihat, ini adil.”
“Dirapikan gimana, Bu?”
Bu Hartini mengeluarkan satu lembar kertas lagi dari laci. Ini bukan surat keberatan, tapi catatan tulisan tangannya sendiri, dengan huruf-huruf kecil dan rapi.
“Ini usulan saya. Satu, penilaian perkembangan Wulan dipegang Bu Tari, bukan Ibu. Dua, Ibu tidak menyerahkan atau menerima Wulan di gerbang. Bu Tari yang pegang. Tiga, tidak ada kontak pribadi dengan Papa Wulan di lingkungan sekolah. Tidak ada kopi di gerbang. Tidak ada lagu.”
Aku menatap poin ketiga itu. Tidak ada kopi di gerbang. Tidak ada lagu.
Dua ratus gelas kopi yang kuhitung, empat puluh tujuh lagu, dan jam sebelas.
“Empat,” lanjut Bu Hartini, “Ibu menyampaikan permohonan maaf terbuka di rapat komite karena tidak transparan sejak awal. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena tidak jujur ke sekolah.”
Dia meletakkan kertas itu di depanku.
“Kalau Ibu setuju dengan empat poin ini, saya bawa ke rapat komite, dan saya perjuangkan supaya Ibu tetap di TK B. Kalau Ibu tidak setuju…” Dia berhenti. “Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa. Yayasan bisa memindahkan Ibu ke TK A, atau ke cabang lain.”
Aku menatap kertas itu lama sekali.
Empat poin, dengan tulisan tangan kecil yang rapi. Semuanya masuk akal, adil, dan profesional. Persis seperti yang akan kulakukan kalau aku kepala sekolah dan ada guru lain yang melakukan hal bodoh seperti aku.
Tapi di balik empat poin itu, aku melihat gerbang TK tanpa kopi, jam sebelas tanpa lagu, dan Wulan berlari ke arahku di pagi hari tapi harus diterima Bu Tari. Aku melihat kepangan Wulan yang tidak boleh kubuat lagi di sekolah, dan papanya berdiri di seberang jalan tanpa boleh menyeberang.
“Bu,” kataku pelan. “Boleh saya tanya satu hal?”
“Silakan.”
“Kalau saya setuju, kalau saya ikutin semua poin ini… Wulan gimana?”
Bu Hartini mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Wulan baru ulang tahun Sabtu kemarin, Bu. Dia minta ke mamanya supaya saya tinggal di rumahnya. Keras-keras, di depan semua orang.” Suaraku mulai bergetar, dan aku membiarkannya. “Kalau besok pagi dia lari ke gerbang, dan saya harus pura-pura sibuk supaya Bu Tari yang terima dia… dia bakal ngerti nggak, Bu? Anak enam tahun bakal ngerti nggak kenapa gurunya tiba-tiba nggak mau meluk dia?”
Bu Hartini tidak menjawab.
“Tadi dia tanya ke saya di ayunan,” lanjutku, dan sekarang suaraku benar-benar pecah. “Aku salah lagi, ya? Itu yang dia tanya. Dia pikir dia yang salah. Dan saya nggak tahu harus jawab apa. Saya guru TK enam tahun, Bu, dan saya nggak tahu harus jawab apa ke anak itu.”
Hening.
Di dinding, dua puluh tahun foto wisuda menatapku: anak-anak kecil dengan toga warna-warni dan senyum lebar.
Bu Hartini melepas kacamatanya lagi. Kali ini dia tidak meletakkannya di meja. Dia memegangnya di tangan dan memutar-mutarnya pelan, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang jauh.
“Bu Kinan,” katanya akhirnya, dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya. “Saya dulu punya murid. Dua puluh tahun lalu, waktu saya baru jadi kepala sekolah. Anak laki-laki, ibunya meninggal waktu dia empat tahun.”
Aku menatapnya.
“Bapaknya tukang las. Kerja siang malam. Anak itu tiap hari datang ke sekolah dengan baju yang sama dan rambut yang nggak disisir.” Bu Hartini tersenyum kecil, dengan senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya. “Ada satu guru waktu itu. Guru muda, baru lulus. Dia bawain anak itu sarapan tiap pagi. Nyisirin rambutnya. Ngajarin dia nyanyi.”
“…Terus, Bu?”
“Terus bapaknya jatuh cinta sama guru itu. Dan guru itu jatuh cinta sama bapaknya.” Bu Hartini meletakkan kacamatanya di meja. “Dan orang tua murid lain protes. Persis kayak sekarang. Surat keberatan, rapat komite, semuanya.”
Aku tidak bisa bernapas. “Terus gimana, Bu?”
Bu Hartini menatapku lama. Lalu dia menoleh ke dinding, ke salah satu foto wisuda yang paling tua dan paling kusam, di pojok kanan atas. Foto itu menunjukkan dua puluhan anak dengan toga hijau, dan di barisan belakang ada seorang guru muda berkerudung putih yang berdiri dengan tangan di bahu seorang anak laki-laki berambut acak-acakan.
“Guru itu dipindahkan ke cabang lain,” kata Bu Hartini pelan. “Waktu itu saya yang tanda tangan surat pemindahannya. Karena saya kepala sekolah baru, saya takut, dan saya pikir itu yang paling rapi.”
Dia diam lama.
“Anak itu nggak mau sekolah dua bulan. Bapaknya juga mundur. Katanya dia nggak mau jadi alasan guru itu kehilangan kerjaan.” Bu Hartini menarik napas panjang. “Mereka nggak pernah bersama. Guru itu sekarang di Kalimantan. Nggak pernah menikah.”
Aku menatap foto itu, guru muda berkerudung putih dengan tangan di bahu anak laki-laki berambut acak-acakan.
“Bu,” bisikku. “Guru itu…”
“Adik saya,” kata Bu Hartini.
Hening. Jam dinding berdetak, dan dari luar jendela terdengar suara anak-anak TK A yang sedang pulang terlambat, tertawa-tawa di halaman.
“Jadi saya ngerti, Bu Kinan,” kata Bu Hartini, memakai kacamatanya lagi. Wajahnya kembali tegas, tapi matanya basah di balik lensa. “Saya ngerti lebih dari yang Ibu kira. Dan saya nggak mau tanda tangan surat kayak gitu lagi. Tapi supaya saya nggak perlu tanda tangan, Ibu harus bantu saya. Empat poin itu, rapat komite hari Kamis, dan Ibu harus berdiri di sana dan jujur.”
Aku menatap kertas empat poin di meja. Lalu aku mengambil pulpen dari saku seragam, pulpen merah yang biasa kupakai untuk memeriksa lembar kerja anak-anak, dan menandatanganinya di bagian bawah.
“Saya setuju, Bu.”
Bu Hartini mengangguk pelan. “Terima kasih.”
Aku berdiri dan membungkuk sedikit. Lalu, sebelum aku sempat berhenti, mulutku jalan sendiri lagi. Mulut yang tidak punya rem ini, yang sudah membawaku ke semua masalah, dan juga ke semua kebahagiaan.
“Bu. Novelnya ke mana?”
Bu Hartini berhenti. “…Novel apa?”
“Yang sampulnya pink. Yang ada pohon sakura. Yang dua minggu lalu di bawah map.”
Bu Hartini menatapku dari balik kacamatanya dengan wajah datar. Sangat datar, lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.
“Sudah selesai saya baca,” katanya. “Di bus, dari provinsi.”
“Endingnya gimana, Bu?”
Bu Hartini membuka laci mejanya yang paling bawah, mengeluarkan novel bersampul pink itu, dan meletakkannya di meja di depanku.
“Bahagia,” katanya. “Setelah rapat komite yang sangat panjang.”
Aku menatap novel itu. Lalu aku menatap Bu Hartini, dan untuk pertama kalinya hari itu, sejak pukul 04.45 pagi, aku tertawa. Tertawa pelan, basah, dan lelah, di ruang kepala sekolah yang penuh piala lomba mewarnai.
“Pinjam, Bu?”
“Kembalikan hari Jumat,” kata Bu Hartini. “Setelah rapat komite.”
Mobil abu-abu itu masih ada di seberang jalan waktu aku keluar gerbang pukul dua belas lewat.
Mesinnya mati. Danny masih duduk di balik kemudi, dan kepalanya masih menunduk di setir. Dia tidak melihatku datang sampai aku mengetuk kaca jendela.
Dia mengangkat kepala dengan cepat, lalu membuka kunci pintu. Aku masuk dan duduk di kursi penumpang, dengan novel pink di pangkuan dan kertas Lampunya nyala di saku.
Kami diam, lama sekali.
“Kamu dari jam sebelas di sini?” tanyaku akhirnya.
“Dari jam tujuh.”
“Jam tujuh?”
“Aku pulang sebentar. Terus balik lagi.” Dia menatap setir. “Aku nggak bisa kerja. Aku nggak bisa tidur. Jadi aku di sini.”
Aku menatapnya dari samping. Wajahnya pucat, kantung matanya gelap, dan rahangnya tegang. Kancing ketiga masih masuk ke lubang keempat, sejak pagi, dan dia tidak sadar.
“Bu Hartini bilang apa?” tanyanya.
Aku menceritakan semuanya: tiga surat keberatan, rapat komite hari Kamis, empat poin, dan tanda tanganku dengan pulpen merah.
Aku juga menceritakan adik Bu Hartini, guru muda berkerudung putih di foto wisuda paling tua, yang sekarang di Kalimantan dan tidak pernah menikah. Aku menceritakan bapak tukang las yang mundur karena tidak mau jadi alasan guru itu kehilangan kerjaan.
Danny mendengarkan semuanya tanpa bicara. Tangannya mencengkeram setir, makin lama makin kuat, sampai buku-buku jarinya memutih.
Waktu aku selesai, dia diam lama sekali.
“Bapaknya mundur,” katanya pelan.
“Iya.”
“Karena nggak mau jadi alasan.”
“Iya. Dan itu salah besar, Danny.” Aku memutar badan di kursi supaya bisa menatapnya penuh. “Bu Hartini sendiri yang bilang. Anak itu nggak mau sekolah dua bulan. Guru itu nggak pernah menikah. Semua orang kehilangan. Nggak ada yang terlindungi.”
Danny tidak menjawab. Dia menatap setir.
“Danny.”
“Hm.”
“Lihat aku.”
Dia menoleh. Matanya merah, dan ada sesuatu di sana yang membuatku takut. Sesuatu yang dingin, jauh, dan sedang menghitung. Aku sudah pernah melihatnya sekali, di bangku di bawah pohon ketapang, sebelum dia bilang Ibu gurunya anak saya.
“Jangan mulai,” kataku.
“Mulai apa?”
“Mulai mikir kemungkinan terburuk. Aku lihat di matamu. Kamu lagi ngitung.”
Dia tidak membantah. Dia hanya menatapku, dan dia tidak membantah. Itu yang paling menakutkan.
Aku mengulurkan tangan ke kemejanya. Ke kancing ketiga yang masuk ke lubang keempat sejak pagi.
Pelan, satu per satu, aku membukanya. Kancing ketiga, lalu keempat. Lalu aku memasangnya lagi ke lubang yang benar, di dalam mobil yang terparkir di seberang TK, tanpa ada yang lihat. Tidak ada pasal empat di sini, tidak ada satpam dan tidak ada ibu-ibu di bawah pohon ketapang.
Tangannya menangkap tanganku di dadanya, di atas kancing yang sekarang benar, dan menggenggamnya.
“Kinan,” katanya, dengan suara yang hampir berbisik. “Kalau kamu harus milih…”
“Jangan.”
“…antara kelasmu dan…”
“Danny, aku bilang jangan.” Aku menarik tanganku dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan, supaya dia tidak bisa berpaling. “Aku udah tanda tangan. Empat poin. Aku tetap di TK B, aku tetap sama kamu, dan aku tetap Bu Nanan buat Wulan. Nggak ada yang harus milih. Oke? Nggak ada yang harus milih.”
Dia menatapku dari jarak sedekat itu. Matanya bergerak di wajahku, seperti mencari sesuatu.
Lalu dia tersenyum. Senyum kecil, lelah, dan hangat, senyum yang sudah kukenal.
“Oke,” katanya pelan.
Aku menghela napas lega dan menyandarkan dahiku di dahinya.
“Kamis malam,” bisikku. “Rapat komite. Kamu datang, kan?”
“Aku datang.”
“Kita hadapi bareng.”
“Bareng.”
Kami duduk seperti itu sebentar, dahi menempel dahi, di dalam mobil abu-abu, di siang hari yang panas, dengan novel pink di pangkuanku.
Lalu HP-nya bergetar di dasbor, dan dia melepaskan diri untuk melihatnya.
Layar HP itu menyala sebentar, cukup lama untuk mataku menangkap sesuatu tanpa sengaja. Bukan pesannya. Yang terlihat adalah aplikasi notes yang masih terbuka di latar belakang, dengan satu catatan baru di bagian paling atas daftar, di atas Hal-hal tentang Kinan.
Judulnya pendek. Aku hanya bisa membaca dua kata pertama sebelum layarnya mati.
Dampak ke…
Dia mengunci HP-nya dan memasukkannya ke saku kemeja, tanpa sadar aku melihat.
Aku tidak bertanya. Aku tidak tahu kenapa aku tidak bertanya. Mungkin karena aku terlalu lelah, atau karena dia baru saja bilang oke dan bareng, dan aku ingin percaya.
Aku memeluk novel pink di pangkuanku dan menatap keluar jendela mobil, ke gerbang TK, ke pohon ketapang dan bangku kayu di bawahnya.
Bahagia, kata Bu Hartini. Setelah rapat komite yang sangat panjang.
Aku berharap novel itu tidak berbohong.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah reading
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian