← Berkembang Sangat Baik

Chapter Forty One

Epilog — Setahun Kemudian

POV: Sheila → Danny


Pukul 04.45, Senin pagi, HP-ku bergetar di bawah bantal.

Gambar mawar merah muda dengan tulisan emas berkilau: Semoga Harimu Berkah 🌹🌹. Di bawahnya ada satu foto: nugget berbentuk dinosaurus yang tidak gosong, tersusun rapi di dalam kotak bekal bergambar bunga.

Mama Keysha: Pagi, Bu Kinan 🌹 Hari ini nggak gosong. Pertama kali dalam setahun.

Aku: Pagi, Mama Keysha 🌹 Dinosaurusnya selamat dari meteor!

Mama Keysha: 😂 Oh ya Bu, katering nugget dino saya dapat pesanan dari TK Tunas Harapan. Bu Sri yang pesan. Lima puluh kotak.

Aku: YA ALLAH MAMA KEYSHA SELAMAT!!!

Mama Keysha: Makasih Bu. Semua gara-gara Ibu bilang “bilang ke Keysha itu dinosaurus yang habis kena meteor”. Keysha cerita ke semua temannya. Terus orang tuanya pesan.

Aku tersenyum di bawah bantal. Lalu aku merasakan lengan yang melingkar di pinggangku dari belakang bergerak sedikit.

“Jam berapa?” gumam suara serak di belakang tengkukku.

“Empat empat puluh lima.”

“Mama Keysha?”

“Mama Keysha.”

“Salam.”

“Nanti aku sampein.”

Lengan itu mengerat sebentar, lalu mengendur lagi. Napasnya kembali pelan dan teratur. Dia baru tidur satu jam lalu, setelah meeting dengan klien di San Francisco. Di meja kerjanya di kamar sebelah, laptopnya masih menyala dengan layar gelap.

Aku berbalik pelan-pelan di kasur dan menatapnya.

Dia tidur dengan mulut sedikit terbuka dan rambut berantakan. Ada jejak bantal di pipi kirinya, persis seperti hari pertama dia berlari masuk gerbang TK dengan alarm yang terpasang jam sepuluh malam.

Di jari manis kirinya, di atas selimut, ada cincin emas putih tipis yang polos. Di bagian dalamnya, di sisi yang menempel di kulit, ada ukiran yang hanya bisa dilihat kalau dilepas.

Dia tidak pernah melepasnya, bahkan waktu mandi.

Aku menyentuh cincin itu pelan dengan ujung jariku. Cincinku sendiri, bulan sabit dan bintang, berdenting pelan waktu dua cincin itu bersentuhan.

Ting.

Dia tersenyum dalam tidurnya.


Kami menikah bulan September, tiga bulan setelah wisuda, di rumah bercat hijau muda di ujung gang RT 04. Tendanya dipasang Pak RT, dan kateringnya dari Bu Haji Sumi. Katering itu sudah dibayar DP oleh Ibu sejak malam kencan pertama kami, dan jumlahnya bertambah dua ratus porsi setelah video duel gombal.

Ada yang bilang, pernikahan kami pernikahan paling berisik dalam sejarah RT 04.

Mama Rini dan Ibu sama-sama memakai sanggul besar, dan tidak ada yang mau mengaku sanggul siapa yang lebih besar. Di tengah acara, sanggul mereka copot bersamaan lagi waktu mereka berpelukan di depan pelaminan.

Pak Darto dan Pak Harun duduk di bawah pohon jambu air tetangga dengan papan catur magnetik selama seluruh acara, dan bermain tujuh babak. Tujuh-tujuhnya remis. Di akhir acara, Pak Harun berdiri, menjabat tangan Pak Darto, dan berkata, “Besan.” Pak Darto menjawab, “Besan.” Itu kata paling emosional yang pernah mereka ucapkan satu sama lain.

Oma Ratmi duduk di kursi kehormatan di sebelah pelaminan, dengan gamis putih dan kacamata bulat. Di pangkuannya ada foto Anin dalam bingkai kecil, foto di pantai dengan rambut dikepang dua. Aku yang minta foto itu dibawa. Danny menatapku lama waktu aku memintanya, lalu memelukku tanpa bicara.

Bu Hartini datang dengan Bu Hesti. Bu Hesti datang bersama seorang laki-laki muda berusia dua puluh lima tahun, dengan kemeja batik rapi dan rambut yang, walaupun sudah disisir, tetap sedikit acak-acakan di bagian belakang. Namanya Yusuf, guru SD di kampung sebelah. Waktu dia bersalaman denganku di pelaminan, dia bilang dengan suara pelan, “Bu Kinan, terima kasih sudah nggak kabur.” Setelah itu dia menangis, dan Bu Hesti memeluknya dari samping.

Bang Jali mendirikan gerobak kopi hijau muda di pojok tenda, dengan papan baru: KOPI PENGANTIN — GRATIS — SPONSOR: MAS DANNY (LAGI).

Bu Sri datang dengan karangan bunga matahari yang kali ini tidak kecepetan, dan tiga toples nastar.

Bagas dan Dinda duduk di meja keluarga dan bergandengan tangan terang-terangan. Dua minggu setelah pernikahan kami, Bagas melamar Dinda di belakang pos ronda. Pak RT yang sedang patroli menjadi saksi.

Dan Wulan, dengan kebaya kecil warna hijau muda yang dijahit Mama Aurel, dua kepang yang kubuat pagi itu, dan liontin bulan sabit di dada, berdiri di pelaminan di antara aku dan papanya. Dia bersalaman dengan setiap tamu, dan setiap tamu dia beri tahu dengan bangga:

“Aku yang ngatul lamalannya. Aku agen.”


POV: Danny


Pukul enam pagi, alarm pertamaku berbunyi. Aku sudah memeriksa AM dan PM tiga kali.

Aku bangun, dan kasur di sebelahku kosong. Kasurnya masih hangat dan wangi sampo stroberi.

Dari dapur terdengar suara nyanyian. Suaranya pelan, dengan cengkok setengah, cengkok versi pagi yang tidak terlalu keras supaya tetangga tidak terbangun. Kinan menyanyikan lagu nomor sembilan belas. Dia sudah membuat daftar baru: lima puluh lagu untuk tahun ajaran ini, untuk dua puluh anak TK B yang baru. Tapi dia masih menyanyikan satu lagu setiap pagi di dapur untuk satu orang yang baru bangun.

Aku berjalan ke dapur.

Kinan berdiri di depan kompor dengan daster batik, celemek bergambar dinosaurus milik Wulan yang talinya dia ikat dengan susah payah, dan rambut dicepol pakai sendok kayu, karena jepit rambutnya lagi-lagi hilang entah ke dimensi mana. Dia sedang menggoreng telur ceplok dengan satu tangan, dan tangan yang lain memegang HP yang menampilkan grup KELUARGA BESAR (RESMI) 💚🐼. Kata CALON dan tanda kurungnya sudah dihapus Oma Ratmi di malam pernikahan kami.

Dia melihatku di ambang pintu dapur dan tersenyum. Lesung pipinya muncul.

“Pagi,” katanya.

“Pagi, cantik.”

Telinganya memerah. Setahun, dan telinganya masih memerah setiap pagi kalau aku bilang begitu. Aku mencatatnya di notes, di Hal-hal tentang Kinan, baris ke-dua ratus sembilan puluh empat: — Masih merah. Setiap pagi. Setahun.

“Kancingmu,” katanya.

Aku menunduk. Aku memakai kaus, tanpa kancing sama sekali.

“Aku pakai kaus, Kinan.”

“Aku tahu.” Dia menyeringai. “Aku cuma kangen bilang itu.”


Wulan turun dari kamarnya pukul enam lewat tiga puluh. Dia memakai seragam SD merah putih dengan dasi kupu-kupu yang miring, tas punggung berbentuk kelinci yang sama dengan waktu TK, dan liontin bulan sabit di dada, di luar seragam.

Dia sekarang kelas satu SD, di SD negeri dekat kompleks, tempat Bu Tari punya kenalan kepala sekolah.

Dia duduk di kursi makan dan langsung menyodorkan kepalanya ke Kinan.

“Bu Nanan, kepang.”

Dia masih memanggil Kinan Bu Nanan. Kami tidak pernah memintanya berubah. Suatu malam, beberapa minggu setelah pernikahan, Wulan bertanya sendiri, dengan kepala miring:

“Papa, sekalang Bu Nanan halus dipanggil Mama?”

Aku menatapnya lama. Kinan, di sebelahku, berhenti bernapas.

“Wulan mau panggil apa?” tanyaku.

Wulan memikirkan itu dengan wajah serius, sama seperti waktu dia jadi juri duel gombal. Lalu dia menyentuh liontin bulan sabit di dadanya.

“Mama itu Mama,” katanya pelan. “Di sulga. Yang kasih kalung.”

Dia menoleh ke Kinan.

“Bu Nanan itu Bu Nanan. Yang ngepang, yang nyanyi. Yang tinggal di lumah.”

Dia berhenti sebentar.

“Dua-duanya sayang aku. Tapi namanya beda. Soalnya olangnya beda.” Dia mengangguk mantap, seperti sudah memutuskan. “Kata Mama di sulat ke Papa, jangan dibandingin. Bial Bu Nanan jadi Bu Nanan.”

Kinan menangis malam itu, lama sekali, di bahuku, setelah Wulan tidur.

Aku tidak pernah memberi tahu Wulan isi surat Anin. Aku juga tidak pernah membacakannya keras-keras. Aku baru tahu bertahun-tahun kemudian bahwa Oma Ratmi sudah membacakan bagian itu untuk Wulan, jauh sebelum wisuda, di kamar Oma, pada malam-malam Wulan menginap di sana.


Kinan mengepang rambut Wulan di meja makan. Dia membuat dua kepang rapi, dengan jepit bintang di ujung kepang kanan.

Aku membuat bekal di meja dapur. Isinya nasi putih yang dibentuk bulat, dengan telinga dan mata dari rumput laut, pipi merah muda dari saus tomat, dan senyum kecil dari potongan wortel.

Panda yang tersenyum.

Wulan menatap bekal itu waktu aku meletakkannya di meja, lalu mengangguk.

“Sepuluh,” katanya.

“Sepuluh?”

“Sepuluh. Pandanya bahagia.” Dia menatapku. “Kayak Papa.”

Kinan tertawa di belakang Wulan dengan karet rambut di mulut.


Di rak buku di ruang tengah, rumah kardus merah muda masih berdiri di tempatnya. Wulan menolak membuangnya. Katanya itu malis, dan butuh waktu dua minggu buat kami mengerti bahwa maksudnya warisan.

Lampu-lampu LED di setiap kamarnya masih menyala kalau baterainya diganti. Sensor di pintu depannya masih berbunyi ting kalau ada tangan yang lewat.

Di kamar kecil bertuliskan PAPA, di atas kasur dari spons cuci piring, ada dua bantal kapas bersebelahan. Satu buat Papa, satu buat yang nanti.

Tapi sekarang ada tiga.

Bantal ketiga muncul sebulan lalu. Bentuknya lebih kecil, dibungkus kain perca berwarna kuning, dan diletakkan di antara dua bantal lainnya. Waktu aku menemukannya, aku bertanya ke Wulan itu buat siapa. Wulan hanya mengangkat bahu dan berkata, “Buat yang nanti-nanti.”

Aku tidak mengerti waktu itu.

Aku mengerti dua minggu kemudian, waktu Kinan keluar dari kamar mandi pukul enam pagi dengan wajah pucat dan sebuah alat kecil berwarna putih di tangannya. Dia menatapku dengan mata lebar yang sama seperti waktu dia berdiri di depan etalase kaca dan tidak bisa memilih cincin, dan berkata dengan suara bergetar:

“Danny. Dua garis.”

Waktu kami memberi tahu Wulan malam itu, dia tidak kaget sama sekali. Dia hanya mengangguk, menunjuk rumah kardus di rak buku, ke bantal kuning kecil di kamar PAPA, dan berkata:

“Aku udah tahu dali lama. Aku agen.”

Sampai sekarang kami tidak tahu bagaimana dia tahu. Kinan bilang itu radar, turunan dari Ibu Yati. Aku bilang itu Anin, dari tempat yang tidak ada PR dan tidak ada macet.

Mungkin dua-duanya.


Pukul tujuh lewat lima belas, aku mengantar mereka berdua. Wulan ke SD, dan Kinan ke TK Pelangi Ceria, di mana dua puluh anak TK B baru sudah menunggu, dengan dua puluh buku penghubung baru, dan satu anak laki-laki yang minggu lalu mencoba memakan krayon.

“Rafi yang baru,” kata Kinan di mobil, dengan wajah pasrah. “Namanya Raka. Tapi dia Rafi yang baru.”

Di depan gerbang TK, Bang Jali sudah membuka gerobak kopi hijau muda dengan papan yang sama. KOPI JAM SEBELAS — GRATIS UNTUK ORANG TUA TK B — SPONSOR: MAS DANNY. Tahun ajaran kedua, masih kubayar, satu semester penuh.

Kinan turun dari mobil. Sebelum menutup pintu, dia menunduk ke jendela.

“Jam sebelas?”

“Jam sebelas.”

“Lagu nomor sembilan belas. Buat semua orang tua.”

“Tapi gombalannya?”

Dia tersenyum lebar, dengan lesung pipi, jepit panda, dan jepit bintang emas penyok di rambutnya.

“Tetap buat kamu,” katanya.

Dia berjalan masuk gerbang, berbalik sekali, dan melambai. Cincin bulan sabit dan bintang di jarinya berkilau kena matahari pagi.

Aku melambai balik dari balik kemudi.

Di bawah pohon ketapang, di bangku kayu, sudah duduk seorang ibu muda dengan anak perempuan berkuncir miring. Kunciran kiri tinggi di atas telinga, dan kunciran kanan rendah di dekat tengkuk. Kelihatannya dikuncir oleh seseorang yang sedang menyetir sambil lomba lari.

Kinan melihat anak itu. Dia berhenti, lalu jongkok di depannya dengan senyum yang sama seperti hari pertama.

“Hai, Sayang. Mau dikepang?”


Malam itu, setelah Wulan tidur dan Kinan menyanyikan lagu sebelum tidurnya, Bulan kecil, tanpa cengkok, seperti setiap malam, aku duduk di meja makan di bawah lampu kuning.

Di depanku ada sebuah buku kecil bersampul plastik bening: Buku Penghubung Danny ↔ Kinan. Buku ini jilid ketiga. Jilid pertama dan kedua sudah penuh, dan sekarang disimpan di laci meja rias Kinan di samping kotak beludru biru tua yang sudah kosong. Stiker bintang dari Wulan masih menempel di tutup dalamnya.

Kinan menulis di halaman kemarin:

Pak Danny,

Hari ini saya ke dokter kandungan. Kata dokter, semuanya berkembang sangat baik.

P.S. Saya ngidam arum manis pink. Yang gede. Sekarang.

P.P.S. Itu bukan permintaan. Itu perintah.

Di pojok halaman ada satu stiker bintang emas.

Aku sudah membelikan arum manis pink tadi sore, yang besar, dari pasar malam di lapangan kecamatan. Pasar malam itu masih ada, dengan bianglala yang masih sama, dan kabin nomor tujuhnya juga masih sama. Kinan memakannya di sofa dengan cara yang tidak anggun sama sekali, dan ada arum manis yang menempel di hidungnya. Aku mengusapnya dengan ibu jari.

Sekarang giliranku menulis.

Aku mengambil pulpen dan menatap halaman kosong itu lama sekali.

Dulu, di kotak paling bawah lembar evaluasi penolakanku, dia menulis dengan pulpen merah: HASIL PEMERIKSAAN: INI SURAT CINTA. NILAI: REMEDIAL.

Dulu, di teras, dua detik setelah ciuman pertama kami, aku mencuri kalimatnya: nilainya berapa? Dia menjawab remedial, harus diulang.

Dulu, di bawah pohon beringin, dia mengambil kalimat itu kembali dengan pahit: Jeda ini, nilainya berapa, Danny?

Setahun lalu, di panggung wisuda, anakku bertanya ke mikrofon: Papa, nilainya belapa? Lalu dia menjawab sendiri, dengan cadelnya: Belkembang Sangat Baik.

Aku mulai menulis, dengan tulisan tangan kecil, rapi, dan sedikit miring ke kanan.

Bu Kinan,

Arum manisnya sudah dibeli. Yang gede. Yang pink. Hidung Ibu belepotan, sudah saya bersihkan. Kanan, bukan kiri.

Hari ini saya mau bikin rapor. Bukan rapor Wulan, bukan rapor Papa. Rapor Ibu.

Nama: Sheila Kinanti.

Kelas: Istri.

Aspek satu: Punya rem. — Belum Berkembang. (Mohon jangan diperbaiki.)

Aspek dua: Takut cicak. — Masih. (Saya yang tangkap. Selamanya.)

Aspek tiga: Ngepang rambut Wulan. — Berkembang Sangat Baik.

Aspek empat: Nyanyi lagu sebelum tidur. — Berkembang Sangat Baik. (Anin pasti dengar.)

Aspek lima: Bikin saya ketawa. — Berkembang Sangat Baik. (Tiap hari. Kadang sampai tersedak kopi. Bang Jali masih ngitung. Totalnya empat puluh satu.)

Aspek enam: Bikin saya nggak mundur. — Berkembang Sangat Baik.

Aspek tujuh: Sayang sama Wulan. Sayang sama yang nanti-nanti. Sayang sama saya. — Berkembang Sangat Baik. Berkembang Sangat Baik. Berkembang Sangat Baik.

Aku berhenti. Tanganku gemetar sedikit, dan mataku kabur, jadi aku harus menunggu sebentar.

Lalu aku menulis baris terakhir, dengan pertanyaan yang dia tulis pertama kali di buku penghubung Wulan, di minggu pertama tahun ajaran, dengan tulisan tangan besar dan bulat, iseng dan penuh harapan, dengan satu stiker bintang di bawahnya.

Nilainya berapa?

Berkembang Sangat Baik.

— D.

P.S. Selamanya.

Aku mengambil satu stiker bintang emas dari lembaran di laci, dari stiker ulang tahun Wulan yang dulu dia pilih sendiri di toko buku, lalu menempelkannya di pojok halaman.

Aku menutup buku itu, mematikan lampu meja makan, dan naik ke atas.

Di kamar, Kinan sudah tidur. Dia meringkuk ke kiri dengan satu tangan di atas perutnya yang mulai membulat, dan tangan yang lain terjulur ke sisi kasur yang kosong, sisiku, seperti sedang meraih sesuatu dalam tidurnya.

Aku berbaring di sebelahnya dan menggenggam tangan yang terjulur itu.

Dua cincin bersentuhan. Ting.

Dia tersenyum dalam tidurnya.

Di rak buku di ruang tengah, di bawah, dalam gelap, Anin masih tertawa di pantai dengan rambut dikepang dua. Di sebelah foto itu, sekarang ada foto kedua dalam bingkai yang sama ukurannya. Foto itu diambil Mama Keysha dengan izin tertulis, di panggung wisuda TK Pelangi Ceria, pukul sebelas tepat.

Di foto itu, dua orang dewasa berlutut berhadapan, masing-masing memegang kotak beludru. Di antara mereka berdiri seorang anak berkepang dua dengan toga biru muda, tiga jari terangkat, menghitung. Di atas mereka bertiga menyala bulan sabit dan bintang, bersebelahan.

Di pojok bingkai, Wulan menempelkan satu stiker bintang emas dan menulis dengan krayon ungu, dengan huruf yang miring ke segala arah:

BELKEMBANG SANGAT BAIK

— Tamat —