← Berkembang Sangat Baik

Chapter Seventeen

Skakmat

POV: Danny


Undangan resmi datang dari Ibu Yati, lewat Kinan, lewat WhatsApp, pukul sepuluh malam hari Rabu.

Kinan: Danny. Ibu nyuruh aku ngundang kamu makan siang hari Sabtu. Di rumah.

Kinan: Bawa Wulan.

Kinan: Dan… Bapak nanya kamu bisa main catur nggak.

Aku menatap pesan terakhir itu lama sekali.

Aku: Kenapa Bapak nanya?

Kinan: Soalnya Bapak bilang, “Laki-laki yang bisa main catur itu sabar. Laki-laki yang sabar itu cocok buat anak yang nggak punya rem.”

Kinan: Terus Bapak bilang, “Kalau dia nggak bisa, Bapak ajari.”

Kinan: Aku nggak tahu itu tawaran atau ancaman.

Aku menaruh HP di meja dan menatap langit-langit ruang kerja.

Aku bisa main catur, sedikit. Papa mengajariku waktu SD, dan kami bermain setiap Minggu pagi sampai aku masuk SMA dan lebih suka komputer. Terakhir kali aku main catur itu sembilan tahun yang lalu, melawan Papa, dan aku kalah dalam dua belas langkah.

Aku mengambil HP lagi dan menelepon satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanku.

“Pa.”

Hening di seberang. Lalu suara datar Papa, dari Surabaya:

“Hm.”

“Pa, Sabtu ini aku diundang makan di rumah Kinan. Pak Darto mau ngajak main catur.”

Hening lagi, lebih lama. Aku bisa mendengar Papa menaruh sesuatu, mungkin koran atau cangkir kopi.

“Pak Darto,” ulang Papa pelan. “Yang bawa papan magnetik di kondangan.”

“Iya, Pa.”

“Dia buka pakai pion raja. Kalau main putih, dia pakai pembukaan Italia. Kalau main hitam, dia pakai Sisilia.” Papa diam sebentar. “Papa lihat dia main sendiri waktu kondangan. Tiga babak.”

Aku terdiam. Aku tidak tahu Papa memperhatikan.

“Kamu butuh latihan,” kata Papa.

“Aku butuh keajaiban, Pa.”

“Sama saja.” Terdengar suara papan catur dibuka di seberang telepon. “Video call. Sekarang. Sampai Sabtu, tiap malam.”


Jadi, selama tiga malam aku belajar catur dari Papa lewat video call. Aku belajar dari jam sepuluh sampai jam dua belas malam, sebelum mulai kerja dengan klien Amerika.

Papa mengajariku dengan cara yang sama seperti waktu aku SD: dengan sangat sedikit kata dan sangat banyak hm. Aku menggerakkan bidak di papan catur magnetik yang kubeli kemarin di toko alat tulis, dan Papa di Surabaya menggerakkan bidak di papannya sendiri. Setiap kali aku salah langkah, Papa berkata “Hm,” dengan nada yang sedikit berbeda, dan aku harus menebak di mana salahnya.

Malam ketiga, aku akhirnya bisa bertahan tiga puluh langkah melawan Papa sebelum kalah.

“Cukup,” kata Papa.

“Cukup buat menang?”

“Cukup buat nggak malu-maluin.”

Aku menghela napas. Di layar, Papa merapikan bidak caturnya pelan-pelan, satu per satu, dengan ketelitian yang sama seperti waktu dia mengajariku mengikat tali sepatu.

“Dan.”

“Ya, Pa?”

Papa berhenti merapikan bidak. Dia menatap kamera dari balik kacamatanya dengan wajah datar seperti biasa.

“Kamu jangan menang.”

“…Apa, Pa?”

“Jangan menang dari Pak Darto. Jangan juga kalah telak.” Papa menaruh raja putih di posisinya. “Laki-laki kayak Pak Darto itu nggak cari menantu yang pintar main catur. Dia cari menantu yang tahu kapan harus maju dan kapan harus nahan.”

Aku terdiam lama. Itu kalimat terpanjang yang pernah Papa ucapkan padaku dalam lima tahun terakhir.

“Papa kok tahu?”

Papa menatap kamera sebentar. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya naik sedikit. Hanya satu milimeter, tapi aku melihatnya.

“Karena Papa juga begitu,” katanya. “Waktu Papa main catur sama kakekmu, bapaknya Mama. Tahun delapan puluh sembilan.”


Rumah Kinan di ujung gang kecil di RT 04, rumah bercat hijau muda dengan pagar besi rendah, pot-pot bunga kertas di teras, dan satu motor matic pink yang diparkir sangat lurus.

Kinan pernah bilang motornya selalu miring kalau dia tidak sedang senang. Hari ini motornya lurus sekali.

Pintu terbuka sebelum aku sempat mengetuk. Ibu Yati berdiri di sana dengan daster batik terbaiknya, rambut disanggul, dan senyum selebar pagar.

“Nak Danny! Wulan! Masuk, masuk, masuk!”

Wulan melompat ke pelukan Ibu Yati dan disambut dengan ciuman bertubi-tubi di pipi. Aku masuk dengan kotak martabak manis di tangan, oleh-oleh yang disarankan Kinan, dan disambut aroma masakan yang membuat perutku berbunyi keras.

Ruang tamu keluarga ini kecil dan penuh. Ada sofa cokelat berlapis kain rajut, lemari kaca berisi piala-piala kecil berbentuk kerupuk emas, foto pernikahan Ibu Yati dan Pak Darto hitam putih, dan foto-foto Kinan kecil di berbagai panggung sunatan dan kondangan.

Dan di pojok, di kursi rotan dengan papan catur di meja kecil di depannya, duduk Pak Darto.

Dia menatapku dari balik kacamata tebalnya. Lama, tanpa senyum, seperti menatap bidak lawan yang baru dijalankan.

“Selamat siang, Pak,” kataku, membungkuk sedikit.

“Hm,” kata Pak Darto.

Kinan muncul dari dapur dengan celemek bermotif stroberi dan jepit panda di rambut. Dia melihatku, dan wajahnya berubah seperti biasa, dari ceria ke lembut.

“Hai,” katanya pelan.

“Hai.”

“Kamu ganteng,” bisiknya. “Pakai kemeja yang itu.”

Aku menunduk dan memeriksa kemejaku. Kemeja batik lengan pendek biru tua, dan kancingnya benar semua. Aku sudah memeriksanya tiga kali di cermin mobil.

“Kancingnya benar,” kataku bangga.

Kinan menatap kemejaku, lalu tersenyum lebar.

“Iya. Benar semua.” Dia berhenti sebentar. “Tapi kamu pakai terbalik.”

Aku menunduk lagi dan melihat jahitan di bahu, lalu label kecil yang mencuat di leher belakang. Label yang seharusnya ada di dalam, sekarang ada di luar.

Di kursi rotan, Pak Darto berdeham. Kalau dengar baik-baik, itu mungkin suara tertawa.


Makan siang berlangsung dengan ramai. Ibu Yati memasak sayur asem, ikan gurame goreng, sambal terasi, tempe mendoan, dan puding lumut hijau. Bagas datang terlambat dari “urusan freelance”, yang ternyata adalah makan bakso dengan Dinda. Aku tahu karena Dinda mengirim foto bakso yang sama ke grup keluarga kami lima menit sebelumnya.

Wulan duduk di pangkuan Ibu Yati dan disuapi seperti cucu sendiri. Kinan duduk di sebelahku, dan di bawah meja kakinya menyentuh kakiku, lalu mundur, lalu menyentuh lagi. Seperti tanganku di bioskop waktu itu.

Pak Darto makan dalam diam, dengan tempo yang sangat teratur.

Setelah makan, dia berdiri, berjalan ke kursi rotan di pojok ruang tamu, duduk, dan menepuk kursi plastik di seberang papan caturnya.

“Duduk,” katanya.

Seluruh ruangan hening. Ibu Yati berhenti membereskan piring, Bagas berhenti mengunyah puding, dan Kinan menatapku dengan mata lebar penuh doa.

Aku duduk.


Pak Darto memegang bidak putih, dan dia membuka dengan pion raja, persis seperti kata Papa.

Aku merespons dengan pion raja juga. Pak Darto menjalankan kuda, dan aku menjalankan kuda. Pak Darto menjalankan gajah ke posisi yang, kalau kuingat dari pelajaran Papa, adalah awal pembukaan Italia.

Aku menjalankan gajahku sendiri dengan hati-hati.

Pak Darto berhenti. Dia menatap papan lama, lalu menatapku dari balik kacamata.

“Hm,” katanya.

Itu hm yang berbeda dari hm sebelumnya. Aku tidak tahu artinya apa, tapi aku tahu itu berbeda.

Permainan berlanjut. Pak Darto bermain dengan tempo lambat dan teratur, seperti caranya makan. Setiap langkahnya dipikirkan dua sampai tiga menit. Aku bermain dengan hati-hati, mengingat semua hm Papa selama tiga malam.

Di belakangku, pelan-pelan, penonton mulai berkumpul.

Ibu Yati berdiri di belakang Pak Darto dengan lap piring di tangan. Bagas duduk di lengan sofa dengan HP terangkat, dan aku yakin dia sedang live ke grup. Wulan duduk di karpet dengan dagu di tepi meja catur, menatap bidak-bidak dengan wajah serius, walaupun jelas tidak mengerti apa pun.

Kinan berdiri di belakangku, dan tangannya ada di bahuku. Aku tidak tahu apakah dia sadar tangannya di sana, tapi aku sangat sadar.

Langkah kedua puluh, aku kehilangan satu kuda. Langkah kedua puluh tiga, Pak Darto kehilangan satu gajah. Langkah ketiga puluh, posisinya mulai rumit, dan aku mulai berkeringat.

Lalu HP-ku bergetar di saku celana. Aku mengabaikannya, tapi HP itu bergetar lagi, dan lagi.

Bagas, di lengan sofa, berdeham. “Kak Danny. Ada telepon.”

“Nanti aja.”

“Kak, ini video call.” Bagas menunjukkan HP-nya sendiri. “Dari Om Harun. Om Harun nonton live di grup. Om Harun bilang, angkat.”

Semua orang menoleh padaku, termasuk Pak Darto.

Aku mengeluarkan HP dari saku dan mengangkat panggilan itu dengan wajah pasrah. Wajah Papa muncul di layar dengan latar belakang papan catur magnetiknya sendiri, dan posisi bidaknya… sama persis dengan posisi di meja ini.

Papa sudah menyalin seluruh permainan kami dari live Bagas.

“Dan,” kata Papa datar. “Benteng. Jangan ke kiri.”

Aku menatap layar. Lalu aku menatap Pak Darto, yang sedang menatap layar HP-ku dengan mata menyipit di balik kacamata tebal.

“…Itu Pak Harun?” tanya Pak Darto.

“Iya, Pak. Papa saya.”

Pak Darto diam lama. Lalu, pelan, dia mengulurkan tangan. “Pinjam.”

Aku menyerahkan HP-ku. Pak Darto memegangnya dengan dua tangan, lalu menatap layar, ke wajah Papa di Surabaya.

Kedua bapak itu saling tatap lewat layar HP selama lima detik penuh.

“Pak Harun,” kata Pak Darto.

“Pak Darto,” kata Papa.

“Bapak bantu anak Bapak.”

“Anak saya bantu anak Bapak.”

“Itu beda.”

“Sama saja.”

Pak Darto menatap layar lagi. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia meletakkan HP-ku di atas meja, bersandar di kotak bidak catur, dengan layar menghadap papan catur. Sekarang Papa bisa melihat seluruh permainan.

“Oke,” kata Pak Darto. “Sekarang kita main bertiga.”


Permainan itu berlangsung satu setengah jam.

Ibu Yati membuatkan teh dua kali, Wulan tertidur di pangkuan Kinan, dan Bagas kehabisan baterai, lalu meminjam power bank Ibu. Dari layar HP-ku yang bersandar di kotak bidak catur, Papa memberikan instruksi dengan kata-kata paling sedikit yang pernah kudengar: Kuda. Tunggu. Jangan. Hm. Sekarang.

Pak Darto bermain melawan kami berdua, dan dia tidak pernah mengeluh. Sesekali dia berkata “Hm” ke layar HP, dan Papa membalas “Hm” dari Surabaya. Itu satu-satunya komunikasi di antara mereka, tapi entah bagaimana aku merasa kedua bapak itu sedang bercakap-cakap panjang dalam bahasa yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Langkah keempat puluh tujuh, posisi di papan tinggal dua raja, satu benteng putih, dan satu benteng hitam.

Remis. Tidak ada yang bisa menang.

Pak Darto menatap papan lama, lalu menatap layar HP.

“Remis,” katanya.

“Remis,” kata Papa.

“Rematch.”

“Rematch.”

Pak Darto mengangguk sekali. Lalu, untuk pertama kalinya siang itu, dia menatapku langsung. Bukan lewat papan catur atau layar HP.

“Kamu,” katanya. “Tadi di langkah tiga puluh dua, kamu bisa makan gajah Bapak. Kenapa nggak dimakan?”

Aku terdiam. Aku memang melihatnya di langkah tiga puluh dua. Gajah Pak Darto terbuka, dan aku bisa mengambilnya. Tapi kalau aku mengambilnya, dua langkah kemudian raja Pak Darto akan terkepung, dan permainan akan selesai dengan kekalahan telak di depan istri, anak, dan calon… sesuatu.

Jangan menang. Jangan juga kalah telak.

“Saya nggak lihat, Pak,” kataku.

Pak Darto menatapku dari balik kacamata tebalnya. Lama sekali. Kacamata itu membuat matanya kelihatan dua kali lebih besar dan dua kali lebih tajam.

“Kamu lihat,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Pak Darto bersandar di kursi rotannya dan melipat tangan. Dia menatap papan catur, lalu Kinan yang duduk di karpet dengan Wulan tidur di pangkuannya, lalu aku lagi.

“Kinan itu,” katanya pelan, “nggak punya rem.”

“Iya, Pak.”

“Dari kecil. Umur lima tahun naik panggung sunatan tetangga, nggak diundang, langsung nyanyi. Umur sepuluh tahun manjat pohon mangga Pak RT, jatuh, patah tangan, besoknya manjat lagi. Umur dua puluh pindah jurusan tanpa bilang orang tua. Umur dua puluh delapan…” Dia berhenti, dan melirik Kinan. “Umur dua puluh delapan nanya duda sudah beristri atau belum di hari pertama sekolah.”

“Bapak!” protes Kinan dari karpet.

Pak Darto mengabaikannya. Dia menatapku lagi.

“Banyak laki-laki yang Bapak lihat, pikir anak kayak gitu harus direm. Dikasih batas. Dikurung.” Dia menggeleng pelan. “Salah semua. Anak kayak Kinan nggak butuh rem. Anak kayak Kinan butuh jalan.”

Aku menunggu.

“Jalan yang lurus, yang aman, yang lampunya nyala.” Pak Darto mengetuk papan catur dengan satu jari, tepat di kotak tempat raja putihnya berdiri. “Biar dia bisa ngebut sekencang-kencangnya, tapi nggak nyasar. Biar dia bisa ngebut, terus tahu ke mana pulang.”

Ruang tamu hening. Ibu Yati berdiri di belakang Pak Darto dengan lap piring di dada dan mata berkaca-kaca. Bagas menurunkan HP-nya pelan-pelan.

Kinan menatap ayahnya dari karpet. Mulutnya terbuka sedikit, dan matanya mulai basah.

“Kamu tadi nggak makan gajah Bapak,” kata Pak Darto padaku. “Kamu tahu kapan harus maju, kapan harus nahan. Itu jalan yang bagus.”

Dia berdiri dari kursi rotannya dan mengulurkan tangan padaku.

Aku berdiri dan menjabat tangannya. Tangannya kasar, keriput, dan hangat, dan jabatannya kuat, lebih kuat dari yang kukira untuk orang seusianya.

“Rematch minggu depan,” katanya.

“Siap, Pak.”

“Bawa bapakmu. Yang asli, bukan HP.”

“Siap, Pak.”

Pak Darto melepaskan tanganku, lalu menoleh ke layar HP yang masih bersandar di kotak bidak catur.

“Pak Harun.”

Di layar, Papa mengangguk.

“Anak Bapak,” kata Pak Darto. “Hm.”

Papa menatap Pak Darto lewat layar. Lalu dia mengangguk sekali lagi, pelan.

“Anak Bapak juga,” kata Papa. “Hm.”

Kedua bapak itu saling tatap sebentar lagi. Lalu Papa memutus panggilan tanpa pamit, dan Pak Darto berjalan ke teras tanpa berkata apa-apa lagi.

Ibu Yati, masih memegang lap piring di dada, berbisik dengan suara bergetar ke arah punggung suaminya:

“Tiga puluh dua tahun nikah, Bapak nggak pernah ngomong sepanjang itu.”


Sore itu, Kinan mengantarku ke mobil. Wulan sudah dipindahkan ke kursi belakang, masih tidur, memeluk boneka kelinci yang dijahitkan Ibu Yati dari kain perca selama permainan catur tadi.

Di samping mobil, di bawah pohon jambu air tetangga, Kinan berhenti.

“Danny.”

“Hm?”

“Langkah tiga puluh dua.” Dia menatapku dengan mata yang masih sedikit merah. “Kamu beneran lihat?”

Aku tersenyum. “Rahasia negara.”

Dia memukul lenganku pelan. Lalu dia tidak menarik tangannya, dan tangannya tetap di lenganku.

“Bapak nggak pernah ngomong kayak gitu,” bisiknya. “Soal aku. Soal rem dan jalan. Aku kira Bapak… aku kira Bapak cuma diem aja selama ini. Main catur sendiri, nggak peduli.”

“Bapakmu peduli.”

“Aku tahu sekarang.” Dia menunduk dan mengusap matanya dengan punggung tangan. “Aku baru tahu hari ini. Umur dua puluh delapan. Gara-gara kamu main catur sama dia.”

Aku mengangkat tangannya dari lenganku dan menggenggamnya.

“Kinan.”

“Hm?”

“Bapakmu bilang kamu butuh jalan. Yang lurus, aman, lampunya nyala.”

“Iya.”

“Aku nggak tahu aku jalan yang bagus atau nggak.” Aku meremas tangannya pelan. “Kancingku salah, kemejaku kebalik, dan aku telat satu ketukan terus.”

Dia tertawa kecil di tengah air matanya.

“Tapi aku janji satu hal,” kataku. “Lampunya selalu nyala. Kapan pun kamu ngebut, kapan pun kamu pulang, jam berapa pun. Jam sebelas siang, jam sebelas malam, jam tiga pagi. Lampunya selalu nyala.”

Kinan menatapku lama, di bawah pohon jambu air, dengan motor pink yang diparkir sangat lurus di belakangnya.

Lalu dia maju satu langkah, memelukku dengan erat, dan membenamkan wajahnya di dadaku, di kemeja batik biru tua yang terbalik.

“Kamu tuh,” gumamnya ke kemejaku, “selalu ngomong hal kayak gitu pas aku nggak siap.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf. Ulangin terus.”

Dari teras rumah, di belakang pagar besi rendah, terdengar suara bidak catur magnetik ditempelkan ke papan, tak, dan suara Pak Darto yang datar dan pelan, pada dirinya sendiri, pada papan catur, atau mungkin pada kami:

“Hm.”