Chapter Thirty Nine
Rapor Papa
POV: Sheila
Pukul lima pagi, di kelas TK B, aku sudah mengepang rambut tujuh anak perempuan.
Aurel dengan kepang satu, karena Mama Aurel sudah mengepangnya di rumah jam empat pagi dan aku cuma merapikan. Nadia dengan kepang dua dan pita kupu-kupu, karena dia sekarang sudah jadi kupu-kupu. Keysha dengan kepang samping dan jepit mawar pink yang dia pilih sendiri, katanya “biar kayak gambar Mama tiap pagi”.
Di pojok, Bu Tari menyisir rambut anak-anak laki-laki. Bima sudah, Dafa sudah. Rafi berlari keliling kelas, menolak disisir, dengan toga biru muda yang sudah dipotong dua puluh sentimeter dan rumbai kuning yang dia simpan di saku celana sejak gladi resik.
“Rafi! Sini!”
“Nggak mau, Bu! Nanti lambutku lusak!”
“Rambutmu udah rusak, Rafi!”
“Justru itu, Bu! Jangan dilusak lagi!”
Bu Tari berhenti mengejar, lalu bersandar di dinding dan menatapku dengan wajah pasrah. “Kinan. Aku nggak kuat.”
“Kamu kuat, Tari. Kamu udah tujuh tahun.”
“Tujuh tahun, dan Rafi tetap lebih cepat dari aku.”
Pintu kelas terbuka, dan anak kedelapan masuk dengan gaun putih di balik toga biru muda. Dia memakai liontin bulan sabit di dada, di luar toga, dan buku catatan kelinci di tangan.
“Bu Nanan!”
“Pagi, Sayang.”
Wulan berlari ke arahku dan duduk di kursi kecil di depanku, siap dikepang. Rambutnya lurus dan tergerai, belum dikepang. Pagi ini Danny tidak mengepangnya, karena Wulan yang minta.
“Soalnya hali ini hali spesial,” katanya. “Halus Bu Nanan yang ngepang.”
Aku mengepang rambutnya dengan dua kepang rapi dan jepit bintang di ujung kepang kanan, jepit yang sama dengan hari pertama tahun ajaran. Waktu itu aku mengambilnya dari saku seragam, dan dia menatap cermin HP lama sekali, lalu bilang kayak di foto Mama.
“Selesai,” kataku.
Wulan menyentuh kepangnya pelan, seperti hari pertama, seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah.
“Bu Nanan,” bisiknya.
“Hm?”
“Hali ini aku ada lahasia.”
“Aku tahu.”
“Bu Nanan jangan nangis, ya.”
“Kenapa Bu Nanan harus nangis?”
Wulan menatapku dari kursi kecilnya dengan mata cokelat besar, kepang dua, dan wajah paling serius yang pernah kulihat di wajah anak enam tahun.
“Soalnya lahasia aku bagus banget,” katanya. “Kata Bu Tali, semua olang pasti nangis.”
Pukul tujuh, halaman TK Pelangi Ceria sudah dipenuhi orang tua dengan kebaya, batik, dan HP yang terangkat.
Panggung kayu di tengah halaman dihias kain biru muda dan kuning, balon warna-warni, dan spanduk besar bertuliskan WISUDA TK PELANGI CERIA — SELAMAT JALAN, BINTANG-BINTANG KECIL. Di atap panggung, lampu-lampu kecil yang dipasang Danny berderet rapi di sepanjang tepi, belum menyala dan tersembunyi. Aku tahu di tengahnya ada lengkungan bulan sabit dan lima lampu yang membentuk bintang.
Di barisan kursi keluarga, dua keluarga duduk bersebelahan, lebih tepatnya bertumpuk.
Ibu dengan kebaya hijau muda dan sanggul besar. Mama Rini dengan kebaya ungu dan sanggul yang sedikit lebih besar. Sampai hari ini tidak ada yang mau mengaku sanggul siapa yang lebih besar. Pak Darto dan Pak Harun duduk berdampingan dengan batik serasi yang entah bagaimana dibeli di toko yang sama tanpa janjian. Di pangkuan masing-masing ada papan catur magnetik, untuk jaga-jaga kalau acaranya membosankan.
Oma Ratmi duduk di tengah, di antara dua keluarga, dengan gamis krem, kacamata bulat, dan tas tangan berisi kue lapis, seperti hakim yang menjaga perdamaian.
Bagas dan Dinda duduk di belakang dengan ring light dan dua HP, bergandengan tangan.
Di barisan orang tua murid, Mama Keysha duduk di depan dengan kamera besar di leher. Dia fotografer resmi, dengan izin tertulis dari Bu Hartini. Mama Aurel, Mama Rafi, dan ayah Bima duduk di sebelahnya. Mereka tim tandinganku, dan mereka mengedip padaku waktu aku lewat.
Bang Jali berdiri di dekat gerbang dengan gerobak kopi hijau muda dan papan kecil bertuliskan NETRAL. GRATIS. HARI INI SPESIAL.
Bu Sri dari TK Tunas Harapan duduk di barisan paling belakang dengan bros bunga matahari besar dan toples nastar di pangkuan. Aku tidak tahu siapa yang mengundangnya. Mungkin dia datang sendiri, karena guru TK dengan pengalaman tiga puluh lima tahun tidak perlu diundang untuk tahu di mana acara penting diadakan.
Di sebelah Bu Hartini, di meja panitia di pinggir panggung, duduk Bu Hesti dengan kerudung putih.
Dan di barisan kursi keluarga, di kursi paling ujung, sudah duduk sejak pukul tujuh kurang lima belas…
Danny.
Dia datang lebih awal. Dia lebih awal.
Kemejanya biru muda, dengan kancing yang benar semua. Aku memeriksanya dari jarak dua puluh meter, dan aku yakin dia sudah memeriksanya tiga kali di cermin. Rambutnya rapi dan tidak ada jejak bantal. Di saku kemejanya ada tonjolan kecil berbentuk kotak.
Dia melihatku menatapnya. Dia mengangkat alis sedikit, lalu menunjuk jam tangannya.
Tepat waktu, katanya tanpa suara.
Aku menutup mulut dengan tangan dan tertawa di tengah halaman.
Di sebelahnya, Oma Ratmi menunjukkan layar HP-nya ke arahku dari kejauhan. Di layar itu ada riwayat panggilan: Danny — 06.00 — 0 detik (tidak diangkat). Lalu Danny — 05.47 — “Ma, aku udah bangun dari jam empat. Nggak usah telepon.”
Acara dimulai pukul delapan.
Prosesi masuk berjalan lebih baik dari gladi resik. Hanya empat anak yang jatuh bertumpuk di depan tangga, bukan delapan, dan Rafi berhasil sampai panggung tanpa memakan apa pun. Waktu duduk, dia langsung mengeluarkan rumbai kuning dari saku dan mulai mengunyahnya lagi.
Pidato Bu Hartini singkat dan tegas. Pidato ketua komite berkerudung hijau panjang dan penuh kipasan map plastik. Pidato Pak Wiryo dari yayasan datar seperti notulen, tapi di akhir dia berhenti, menatap dua puluh anak di panggung, dan berkata pelan, “Kalian semua berkembang sangat baik.” Setelah itu dia kembali duduk dengan wajah datar, seolah tidak mengatakan apa-apa.
Penyerahan ijazah dimulai pukul sembilan lewat tiga puluh. Satu per satu dua puluh anak dipanggil ke tengah panggung, menerima gulungan ijazah dari Bu Hartini, bersalaman, lalu berfoto.
Waktu nama Rafi dipanggil, seluruh halaman bertepuk tangan paling keras. Rafi berdiri di tengah panggung dengan rumbai kuning setengah di mulut, dan Mama Rafi di barisan orang tua menangis sampai kerudungnya basah.
Waktu nama Keysha dipanggil, Mama Keysha menurunkan kamera besarnya, menatap anaknya di panggung, dan menutup mulut dengan kedua tangan. Keysha melambai pada mamanya dengan jepit mawar pink di kepang sampingnya.
Waktu nama Wulan dipanggil, Ananda Wulan Anindya Hermansyah, dua keluarga di barisan kursi keluarga berdiri bersamaan. Mama Rini berteriak “CUCUKU!”, dan Ibu berteriak “CUCUKU JUGA!” lebih keras. Pak Darto dan Pak Harun berdiri tanpa suara, dengan papan catur magnetik jatuh dari pangkuan mereka ke rumput.
Danny tidak berteriak. Dia hanya berdiri di kursi paling ujung, menatap anaknya di tengah panggung dengan toga biru muda, kepang dua, dan liontin bulan sabit. Tangannya menutup mulutnya.
Wulan menerima ijazahnya dari Bu Hartini, bersalaman, lalu menoleh ke barisan kursi keluarga dan melambai dengan gulungan ijazah di tangan.
Lalu dia menoleh padaku, di pinggir panggung, di sebelah Bu Tari. Dia tidak melambai. Dia mengedip.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh lima, setelah penyerahan ijazah selesai, Bu Hartini berdiri dari meja panitia.
Dia mengeluarkan kunci kecil dari saku gamis abu-abunya, kunci laci tempat rundown dikunci selama dua minggu. Dia membuka map di depannya, mengeluarkan selembar kertas, lalu membacanya dengan suara yang tenang dan jelas.
“Bapak Ibu. Acara selanjutnya adalah mata acara tambahan yang tidak ada di undangan.”
Seluruh halaman hening. Di barisan kursi keluarga, Danny menegakkan badan. Di pinggir panggung, jantungku berdetak seperti kendang di acara sunatan.
“Pukul 10.40,” baca Bu Hartini. “Persembahan dari Ananda Wulan Anindya Hermansyah.”
Aku menoleh ke Bu Tari. Bu Tari sudah memegang tisu dengan dua tangan, dengan mata yang sudah berkaca-kaca bahkan sebelum apa pun dimulai.
Di barisan kursi keluarga, Danny menatap Bu Hartini dengan wajah bingung. Dia juga tidak tahu.
Wulan berjalan ke tengah panggung.
Dia masih memakai toga biru muda yang ujungnya sedikit menyeret di lantai panggung. Di tangannya bukan gulungan ijazah, tapi selembar kertas yang dilipat. Kertas itu formulir, aku mengenalinya dari kop TK Pelangi Ceria yang berwarna-warni di bagian atas.
Formulir rapor perkembangan, yang dia minta dari Bu Tari di minggu gladi resik.
Bu Tari menurunkan mikrofon dari tiang ke ketinggian Wulan. Wulan berdiri di depan mikrofon, membuka lipatan kertasnya pelan-pelan, lalu menarik napas panjang. Sama seperti hari pertama, di Cerita Akhir Pekan, waktu dia mengumumkan bahwa Papa mencium Bu Nanan.
“Assalamualaikum,” katanya ke mikrofon. Suaranya kecil, cadel, dan terdengar ke seluruh halaman.
“Waalaikumsalam!” balas seluruh halaman.
“Aku mau bacain lapol,” kata Wulan. “Lapol Papa.”
Halaman diam. Di barisan kursi keluarga, Danny berhenti bernapas. Aku bisa melihatnya dari pinggir panggung.
Wulan menatap kertas di tangannya dan mulai membaca dengan suara pelan dan hati-hati, mengeja setiap kata dengan cadelnya.
“Lapol Pelkembangan.”
“Nama: Danny Helmansyah.”
“Kelas: Papa.”
Beberapa orang tertawa pelan.
“Aspek pelkembangan satu: Bangun tepat waktu.” Wulan berhenti dan melirik ke barisan kursi keluarga. “Nilai: Belum Belkembang. Catatan: Alalmnya pelnah kepasang jam sepuluh malam.”
Seluruh halaman tertawa. Danny menutup muka dengan satu tangan.
“Aspek dua: Pasang kancing. Nilai: Mulai Belkembang. Catatan: Kancing ketiga masuk lubang keempat. Telus. Tapi hali ini benel.”
Tawa lagi. Dari barisan belakang, Bang Jali berteriak, “HARI INI BENER!”
“Aspek tiga: Ngepang. Nilai: Belkembang Sesuai Halapan. Catatan: Dulu kayak mi. Sekalang cuma miling dikit.”
“Aspek empat: Bikin panda. Nilai: Belkembang Sesuai Halapan. Catatan: Dulu pandanya capek. Sekalang pandanya senyum.”
“Aspek lima: Naik Pinky. Nilai: Mulai Belkembang. Catatan: Jatuh delapan kali. Yang kedelapan kalena lihat Bu Nanan.”
Seluruh halaman meledak dengan tawa. Di barisan kursi keluarga, Bagas berdiri dan berteriak, “ITU BENER! AKU SAKSI!”
“Aspek enam: Nali. Nilai: Belum Belkembang. Catatan: Kayak olang kesetlum.”
Mama Rini tertawa sampai sanggulnya hampir jatuh.
“Aspek tujuh: Gombal.” Wulan menatap papanya dari panggung, dengan wajah kasihan yang sangat tulus. “Nilai: Belum Belkembang. Catatan: Wifi putus.”
Halaman meledak lagi. Dinda berdiri di barisan belakang dengan ring light menyala dan berteriak, “WIFI PUTUS! ITU AKU YANG NAMAIN!”
Danny di barisan kursi keluarga sudah tidak menutup muka lagi. Dia tertawa, lepas, sampai matanya hilang, sampai dia harus berpegangan pada sandaran kursi di depannya. Oma Ratmi menepuk-nepuk punggungnya.
Lalu Wulan membalik kertasnya.
Dia diam sebentar. Suaranya berubah, jadi lebih pelan dan lebih serius.
“Aspek delapan: Nggak mundul.”
Halaman hening.
“Nilai: Belkembang Sangat Baik. Catatan: Dulu mundul. Sekalang nggak.”
Di barisan kursi keluarga, Danny berhenti tertawa.
“Aspek sembilan: Sayang sama aku.” Wulan menatap papanya. “Nilai: Belkembang Sangat Baik. Catatan: Dari aku lahil. Sampai selamanya.”
Mama Rini menutup mulut dengan kedua tangan. Ibu memeluk bahu Mama Rini.
“Aspek sepuluh.”
Wulan berhenti. Dia menatap kertas itu lama sekali. Lalu dia menoleh, bukan ke barisan kursi keluarga, tapi ke pinggir panggung. Padaku.
“Aspek sepuluh: Sayang sama Bu Nanan.”
Aku berhenti bernapas.
“Nilai: Belkembang Sangat Baik. Catatan: Papa ketawa lagi. Papa nggak sendilian lagi kalau aku tidul. Papa nggak istilahat lagi.”
Wulan melipat kertas itu pelan-pelan. Lalu dia menatap barisan kursi keluarga, menatap papanya, dan mengucapkan satu kalimat terakhir ke mikrofon. Suaranya kecil dan cadel, dan terdengar sampai ke setiap sudut halaman TK Pelangi Ceria.
“Papa. Nilainya belapa?”
Halaman sunyi total. Bahkan Rafi berhenti mengunyah rumbai kuningnya.
Danny berdiri dari kursinya. Dia tidak menjawab dan tidak bisa menjawab. Wajahnya basah, dan mulutnya bergetar.
Wulan tersenyum, lalu menjawab pertanyaannya sendiri.
“Belkembang Sangat Baik.”
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis. Aku hanya tahu tisu di tangan Bu Tari sudah tidak cukup untuk kami berdua, dan Bu Hartini di meja panitia mendorong sekotak tisu ke arah kami tanpa berkata apa-apa, sambil mengusap matanya sendiri dengan ujung kerudung abu-abu.
Di barisan kursi keluarga, dua keluarga menangis bersamaan. Mama Rini dan Ibu berpelukan, sanggul besar mereka bertabrakan. Pak Darto dan Pak Harun sama-sama melepas kacamata dan menggosok mata.
“Kelilipan,” gumam Pak Darto.
“Kelilipan,” gumam Pak Harun.
Oma Ratmi tidak bilang kelilipan. Dia hanya menangis diam-diam di balik kacamata bulatnya, dengan tangan di atas dada, sambil menatap liontin bulan sabit di leher cucunya di atas panggung.
Tapi Wulan belum selesai.
Dia masih berdiri di depan mikrofon. Dia melambai ke arah deretan dua puluh anak TK B yang duduk di kursi kecil di belakang panggung, dan dua puluh anak itu berdiri bersamaan. Mereka jelas sudah berlatih diam-diam.
“Satu lagi,” kata Wulan ke mikrofon. “Lagu. Buat Papa. Tapi lagu Bu Nanan.”
Dia menarik napas. Lalu dia bernyanyi, dan dua puluh anak TK B menyanyi bersamanya.
Mereka menyanyikan lagu tentang lima balon warna-warni. Tapi yang mereka nyanyikan bukan lirik aslinya, melainkan versi yang kugombalkan di gerbang sekolah pada hari pertama aku membawa kopi, di bulan Juli, waktu semua ini dimulai.
Balonnya ada lima… tapi hatinya cuma satu…
Dua puluh anak dengan toga biru muda bernyanyi dengan nada salah, lirik setengah salah, dan gerakan tangan yang tidak kompak. Rafi menyanyi dengan rumbai kuning di mulut. Bima menyanyi sambil menunjuk-nunjuk ayahnya di barisan orang tua. Keysha menyanyi sambil melambai pada mamanya, yang sudah tidak bisa memegang kamera karena tangannya gemetar.
Di tengah mereka, Wulan menyanyi paling keras, dengan kepang dua dan liontin bulan sabit, dengan cengkok dangdut yang pasti dia pelajari diam-diam dari aku.
…hatinya cuma satu, Papa. Mau?
Lagu selesai. Halaman meledak dengan tepuk tangan dan tangisan, dan dengan Bang Jali yang memukul-mukul termos kopinya seperti kendang.
Wulan membungkuk di depan mikrofon, seperti yang kuajarkan di gladi resik. Lalu dia turun dari panggung, lari melewati barisan orang tua, melewati Oma Ratmi, dan melompat ke pelukan papanya di kursi paling ujung.
Danny memeluknya erat sekali, dengan toga biru muda, kepang dua, dan ijazah yang gepeng di antara mereka.
Dari pinggir panggung, aku mendengarnya berbisik di rambut anaknya dengan suara yang pecah:
“Nilainya berkembang sangat baik, Lan. Terima kasih.”
Bu Hartini berdiri lagi dari meja panitia. Dia mengusap matanya sekali lagi dengan ujung kerudung abu-abu, lalu memakai kacamatanya dan membaca kertas rundown yang sudah basah di beberapa bagian.
“Pukul 10.55,” katanya.
Jantungku berhenti.
“Persembahan lagu dari wali kelas TK B. Bu Sheila Kinanti.”
Seluruh halaman menoleh padaku.
Di barisan orang tua murid, Mama Keysha mengangkat kamera besarnya lagi. Tangannya masih gemetar, tapi sudah siap. Mama Aurel, Mama Rafi, dan ayah Bima menatapku dengan mata basah dan jempol terangkat.
Di barisan kursi keluarga, Danny menatapku di atas kepala Wulan yang masih dia peluk. Dia tidak terlihat kaget. Dia sudah tahu soal 10.55, seperti aku sudah tahu soal 11.00. Tapi wajahnya menunjukkan sesuatu yang lain: sesuatu yang tenang dan menunggu.
Aku berjalan ke tengah panggung.
Di saku celemek batik guru, di balik kebaya brokat hijau muda, ada kotak kecil beludru merah.
Aku berdiri di depan mikrofon. Bu Tari menaikkan tiangnya ke ketinggianku. Di atas kepalaku, di atap panggung, lampu-lampu kecil masih mati, menunggu.
Aku menatap halaman TK Pelangi Ceria: dua puluh anak, orang tua, dua keluarga, Bang Jali, Bu Sri, Bu Hesti, dan pohon ketapang dengan bangku kayu di bawahnya.
“Bapak Ibu,” kataku ke mikrofon. Suaraku bergetar. “Dulu saya punya daftar empat puluh tujuh lagu anak TK, buat satu orang. Kemarin di gerbang saya nyanyiin yang terakhir.”
Beberapa orang tertawa pelan.
“Hari ini saya mau nyanyi lagu nomor empat puluh delapan. Lagu terakhir. Lagu ini bukan lagu anak TK dan bukan gombalan. Saya tulis sendiri, semalam, jam dua pagi.”
Aku menatap barisan kursi keluarga, menatap Danny.
“Buat satu orang,” kataku. “Walaupun kata aturan sekolah, lagu di gerbang harus buat semua orang tua.” Aku melirik Bu Hartini. “Tapi ini bukan gerbang. Ini panggung.”
Bu Hartini, di meja panitia, mengangguk sekali, dengan sudut bibir yang bergerak satu milimeter.
Aku menarik napas, lalu menyanyi.
Tanpa cengkok, tanpa goyang, dan tanpa speaker remix dangdut koplo. Hanya suaraku sendiri, pelan dan jelas, di depan semua orang.
Hari pertama kamu datang, kancingmu salah, alarmmu nyasar,
aku nanya hal paling bodoh, dan kamu ketawa di bawah ketapang.
Empat puluh tujuh lagu aku nyanyiin sambil ngejar,
kamu bayar kopiku, beliin helm, dan diam-diam jadi sayang.
Sekarang lagu yang terakhir, bukan buat ngejar lagi,
soalnya yang dikejar udah nunggu dari hari kedua.
Aku nggak minta kamu jadi bulan, nggak minta jadi matahari,
aku cuma mau jalan pulang yang lampunya nyala… buat kita.
Lagu itu selesai, dan halaman hening.
Aku melihat jam besar di dinding kelas TK B, yang bisa dilihat dari panggung lewat jendela yang terbuka. Jarum panjangnya menunjuk angka sebelas, dan jarum pendeknya hampir di sebelas.
Pukul 10.59.
Aku memasukkan tangan ke saku celemek dan mengeluarkan kotak kecil beludru merah.
Seluruh halaman menahan napas. Di barisan orang tua murid, Mama Keysha mengangkat kamera. Mama Aurel menutup mulut dengan kedua tangan, dan Mama Rafi berdiri.
Aku mulai berlutut di tengah panggung, dengan kotak beludru merah di tangan, lalu membuka mulut untuk bicara.
Lalu jarum panjang di jam dinding kelas TK B bergerak satu garis.
Pukul 11.00.
Di atas kepalaku, di sepanjang tepi atap panggung, lampu-lampu kecil menyala satu per satu dari kiri ke kanan. Cahayanya putih hangat, seperti bintang yang turun ke atap panggung TK. Di tengah atap, tepat di atas kepalaku, sebuah lengkungan kecil menyala membentuk bulan sabit, dan di sebelahnya lima lampu membentuk bintang kecil.
Aku mendongak dengan satu lutut di lantai panggung dan kotak beludru merah di tangan.
Lalu aku menunduk lagi.
Di tangga panggung, di sisi kanan, berdiri seorang laki-laki berkemeja biru muda dengan kancing yang benar semua. Dia sudah menyerahkan Wulan ke Oma Ratmi entah kapan. Di tangannya ada kotak kecil beludru biru tua.
Dia tidak telat, satu ketukan pun.
Tepat pukul sebelas.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa reading
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian