← Berkembang Sangat Baik

Chapter Fifteen

Agen Rahasia Melapor

POV: Sheila


Setiap Senin pagi, kelas TK B punya kegiatan wajib bernama Cerita Akhir Pekan.

Anak-anak duduk melingkar di karpet, dan satu per satu mereka bercerita tentang akhir pekan mereka. Tujuannya melatih keberanian berbicara di depan umum, merangkai kalimat, dan mendengarkan teman. Itu salah satu kegiatan favoritku, karena anak TK tidak punya filter, dan cerita mereka selalu lebih jujur dari berita televisi mana pun.

Minggu lalu, Rafi bercerita bahwa dia makan pasir di pantai dan rasanya asin. Minggu sebelumnya, Keysha bercerita bahwa mamanya menangis di kamar mandi karena nonton drama, lalu ketahuan, lalu bilang “Mama kena sabun.” Minggu sebelumnya lagi, seorang anak bernama Bima bercerita dengan sangat detail bahwa ayahnya kentut di masjid.

Aku tidak pernah khawatir soal Cerita Akhir Pekan.

Senin itu, aku seharusnya khawatir.


“Oke, anak-anak! Siapa yang mau cerita duluan?”

Sepuluh tangan terangkat, dan salah satunya terangkat paling tinggi, hampir menyentuh langit-langit, lengkap dengan badan yang ikut melompat-lompat di karpet: Wulan.

Aku seharusnya memilih anak lain. Aku seharusnya memperhatikan binar di matanya, binar agen rahasia yang punya laporan penting dan tidak sabar menyampaikannya.

Tapi aku sedang bahagia. Aku masih melayang sejak Sabtu malam, sejak lampu teras yang berkedip dan satu detik di depan pagar. Keningku masih terasa hangat setiap kali aku mengingatnya, dan aku mengingatnya kira-kira tiap tiga menit.

Jadi aku tersenyum dan menunjuk.

“Wulan!”

Wulan berdiri di tengah lingkaran, membetulkan kepang dua yang kubuat pagi tadi, menarik napas panjang, lalu mengumumkan dengan suara paling lantang yang pernah keluar dari tubuh sekecil itu:

“AKHIL PEKAN, AKU LIHAT PAPA CIUM BU NANAN!”

Kelas TK B hening.

Dua puluh pasang mata kecil menoleh padaku, dan Bu Tari, yang sedang membagikan krayon di meja belakang, menjatuhkan seluruh kotak krayon ke lantai.

Aku membeku di kursi kecil guru dengan senyum yang masih menempel di wajah. Senyum itu sudah mati, tapi belum tahu dirinya mati.

“Papa cium Bu Nanan di sini,” lanjut Wulan dengan bangga, menunjuk keningnya sendiri. “Di depan pagal. Malam-malam. Lampunya kedip-kedip. Aku lihat dali jendela, padahal halusnya aku tidul. Tapi aku agen lahasia, jadi aku nggak tidul.”

Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan wajah penuh kekaguman:

“Telus Bu Nanan tutup muka, bilang ya Allah ya Allah ya Allah, telus lali ke motol Om Bagas.”

Hening lagi.

Lalu Rafi mengangkat tangan. “Bu Kinan. Cium itu apa? Kayak makan?”

“Bukan, Rafi!” jawab Bu Tari dari belakang, sambil memunguti krayon.

Lalu kelas meledak.

Dua puluh anak TK bicara bersamaan. Bu Kinan dicium! Bu Kinan pacalan! Papa Wulan pacalnya Bu Kinan! Aku juga mau dicium! Cium itu kayak di film! Mamaku pelnah cium Papaku, telus Papaku bilang bau lokok!

Di tengah semua itu, aku melihat satu wajah kecil yang tidak ikut ribut. Wajah itu duduk diam di pojok karpet, dengan kuncir satu dan pita pink: Keysha. Anak Mama Keysha.

Keysha tidak tertawa dan tidak bertanya. Dia hanya mendengarkan dengan mata bulat yang sangat, sangat fokus, seperti perekam suara.


Aku adalah guru TK dengan pengalaman enam tahun. Aku pernah menangani anak yang menggigit teman, anak yang memasukkan kacang hijau ke hidung, dan anak yang mengunci diri di kamar mandi karena takut pulang setelah memecahkan vas bunga neneknya.

Aku tahu satu prinsip dasar untuk menangani kekacauan di kelas TK: jangan melawan arus. Belokkan arusnya.

Aku berdiri, bertepuk tangan tiga kali dengan ritme khusus yang sudah dihafal semua anak, prok prok prok, lalu mengangkat kedua tangan.

“Anak-anak! Siapa yang di rumah suka dicium kening sama Papa atau Mama?”

Hening sebentar. Dua puluh anak menatapku dengan bingung.

Lalu, satu per satu, tangan-tangan kecil mulai terangkat. Mula-mula tiga, lalu tujuh, lalu hampir semua.

“Aku! Mamaku cium kening aku tiap mau tidul!”

“Aku dicium Papa kalau Papa pulang kelja!”

“Aku dicium Nenek, tapi Nenek bau minyak angin!”

“Aku dicium kucingku!”

“Nah!” Aku berseru dengan semangat instruktur senam Jumat Sehat. “Cium kening itu tandanya sayang, ya, anak-anak. Orang yang sayang sama kita, cium kening kita. Papa sayang, Mama sayang, Nenek sayang, kucing juga sayang!”

“SAYAAAANG!” teriak dua puluh anak.

“Sekarang kita nyanyi lagu sayang keluarga, ya! Pakai gerakan! Siap?”

“SIAAAP!”

Aku menyanyikan lagu tentang menyayangi ayah dan ibu dengan cengkok dangdut paling heboh yang pernah kubuat. Tangan memutar, pinggul bergoyang, dan kaki menghentak. Dua puluh anak ikut dengan histeris, dan dalam tiga menit tidak ada lagi yang ingat soal Papa Wulan dan pagar dan lampu yang berkedip.

Hampir tidak ada yang ingat.

Karena di pojok karpet, Keysha tidak ikut menyanyi. Dia masih duduk diam dengan mata bulat yang fokus, dan bibirnya bergerak pelan, seperti anak yang sedang menghafal sesuatu untuk diceritakan nanti.

Bu Tari berdiri di sebelahku, ikut bergoyang dengan wajah pasrah, dan berbisik di sela lagu tanpa menggerakkan bibir:

“Keysha.”

“Aku tahu,” bisikku balik, tetap tersenyum lebar ke anak-anak.

“Mamanya.”

“Aku tahu, Tari.”


Waktu istirahat, aku duduk di ayunan kecil di halaman, dan Wulan duduk di ayunan sebelahku.

Dia tidak berayun. Dia hanya duduk dengan kaki menggantung, menatap sepatunya. Wajahnya sudah tidak bangga. Selama lagu tadi, dia sepertinya sadar ada sesuatu yang salah, karena caraku bernyanyi terlalu keras dan Bu Tari menjatuhkan krayon.

“Bu Nanan.”

“Hm?”

“Aku salah, ya?”

Aku menoleh padanya. Mata cokelat besar itu menatapku dengan cemas, persis sama seperti mata papanya waktu dia khawatir.

“Kenapa Wulan pikir salah?”

“Kata Papa, pacalan Papa sama Bu Nanan itu lahasia. Tapi aku bilang ke semua olang.” Bibirnya bergetar sedikit. “Aku agen lahasia yang jelek.”

Aku turun dari ayunan dan jongkok di depannya, supaya mata kami sejajar. Sama seperti hari pertama, waktu dia bilang aku lagi dengelin Ibu dulu.

“Wulan, dengar Bu Nanan, ya.”

Dia mengangguk.

“Wulan nggak salah. Wulan cuma cerita hal yang bikin Wulan senang. Itu bukan salah. Itu jujur.” Aku merapikan anak rambutnya yang lepas dari kepangan. “Yang lahasia itu urusan orang dewasa. Papa sama Bu Nanan yang harusnya lebih hati-hati. Bukan Wulan.”

Wulan memikirkan itu. Lalu dia bertanya pelan:

“Bu Nanan malah?”

“Nggak.”

“Papa malah?”

“Nanti Bu Nanan tanya. Tapi kayaknya nggak.”

Dia mengangguk pelan, lalu menatapku dengan wajah yang tiba-tiba sangat serius, lebih serius dari anak lima tahun manapun yang pernah kutemui.

“Bu Nanan. Aku seneng Papa cium Bu Nanan.”

“…Oh ya?”

“Iya. Soalnya dulu Papa juga cium kening Mama.” Dia menunjuk keningnya sendiri lagi, pelan. “Aku lihat di video. Papa cium kening Mama, telus Mama ketawa. Di pantai. Mama lambutnya dikepang.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dulu setelah Mama ke sulga,” lanjutnya dengan suara kecil, “Papa nggak cium kening siapa-siapa. Cuma aku. Tapi sekalang Papa cium kening Bu Nanan. Belalti Papa udah nggak sedih.”

Wulan tersenyum padaku, senyum kecil dan lega, seperti anak yang baru saja menyelesaikan teka-teki yang sulit.

Aku memeluknya. Erat sekali, di halaman TK, di depan ayunan, tanpa peduli ada yang melihat atau tidak.

“Wulan,” bisikku di rambutnya. “Wulan agen rahasia terbaik sedunia.”

“Tapi aku bocol.”

“Justru itu. Agen rahasia terbaik tahu kapan harus bocor.”


Pukul sebelas, aku tidak berdiri di gerbang.

Bu Tari yang menyerahkan anak-anak ke orang tua masing-masing. Katanya lebih aman. Aku berdiri di balik jendela kelas, mengintip dari celah tirai seperti penjahat di film.

Aku melihat Mama Keysha datang menjemput dengan kerudung pink. Keysha berlari ke arahnya dan langsung berbisik di telinganya panjang sekali. Tangan kecilnya menutup mulut dan menunjuk-nunjuk ke arah kelas.

Mama Keysha mendengarkan. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya bergerak pelan ke arah jendela kelas, ke celah tirai tempat aku bersembunyi.

Aku menutup tirai dengan cepat.

Lalu Danny datang, pukul sebelas tepat, dengan kemeja biru muda dan kancing yang, aku mengintip lagi, terpasang dengan benar.

Dia mencariku di gerbang. Waktu tidak menemukanku, wajahnya berubah bingung. Lalu Bu Tari mendekatinya dan berbisik sesuatu, dan aku melihat wajahnya berubah dari bingung ke kaget, lalu ke malu, lalu ke sesuatu yang aneh. Dia menutup mulut dengan punggung tangan, dan bahunya mulai berguncang.

Dia tertawa. Di gerbang TK, di depan Mama Keysha dan ibu-ibu lain, Danny Hermansyah tertawa sampai harus berpegangan di tiang gerbang.

Wulan berlari ke arahnya dan melompat ke gendongannya. Dia berbisik di telinga papanya, sepertinya permintaan maaf. Danny berhenti tertawa, menatap anaknya, lalu mencium keningnya lama sekali.

Lalu, sebelum pergi, dia menoleh ke arah jendela kelas. Tepat ke celah tirai tempat aku bersembunyi.

Dia tidak melambai. Dia hanya tersenyum kecil dan menunjuk keningnya sendiri dengan satu jari, pelan.

Aku jatuh terduduk di lantai kelas di balik tirai.


Buku penghubung Wulan kembali keesokan harinya, dan di situ ada tulisan tangan kecil yang rapi dan sedikit miring ke kanan.

Rasanya seperti hari-hari pertama, waktu buku kecil bersampul plastik ini adalah satu-satunya jembatan di antara kami.

Bu Kinan,

Mohon maaf, kening Ibu jadi berita nasional. Agen rahasia sudah minta maaf ke Papa semalam sebelum tidur, sambil nangis. Papa bilang agen rahasia nggak salah. Yang salah Papa, karena nggak cek jendela.

P.S. Wulan juga cerita, katanya dulu saya cium kening mamanya. Di pantai. Saya nggak tahu dia pernah lihat video itu. Ternyata dia lihat, dan dia ingat.

P.P.S. Saya nggak nyesel.

Di bawahnya, aku mengambil stiker bintang emas dari laci, menempelkannya, dan menulis dengan tulisan tanganku yang besar dan bulat:

Pak Danny,

Kening saya juga nggak nyesel. Kening saya malah minta diulang.

P.S. Tapi mungkin lain kali cek jendela dulu.

P.P.S. Dan cek grup WA.


Malamnya, Danny menelepon. Bukan video call, hanya telepon biasa, karena katanya dia tidak mau aku lihat wajahnya waktu dia bilang sesuatu yang memalukan.

“Aku nambahin satu baris di notes,” katanya.

“Notes hal-hal tentang Kinan?”

“Hm.”

“Baris apa?”

Hening sebentar. Aku mendengar dia menarik napas.

“Keningnya hangat,” katanya pelan.

Aku menutup muka dengan bantal dan menjerit tanpa suara.

“Kinan?”

“Aku nggak apa-apa!” teriakku dari balik bantal.

“Kinan!” suara Ibu menembus dinding. “Kalau nggak apa-apa, jangan teriak! Nanti tetangga kira ada maling!”

Danny tertawa di seberang telepon. Tawanya pelan dan hangat, dan aku bisa membayangkannya duduk di meja makan dengan teh yang pasti sudah dingin, dengan foto perempuan berkepang dua di rak buku di belakangnya.

“Danny,” kataku, setelah bisa bicara lagi. “Soal Keysha…”

“Aku tahu. Bu Tari udah bilang.”

“Mamanya pasti udah tahu sekarang.”

“Hm.”

“Kita harus bilang ke Bu Hartini sebelum dia dengar dari grup.”

Danny diam sebentar. “Kamu mau aku ikut?”

“Nggak usah. Aku guru, dia atasanku. Aku yang harus ngomong.” Aku menarik napas. “Minggu depan. Aku janji. Aku mau cari waktu yang pas.”

“Oke,” katanya. “Kalau butuh aku, aku di sini.”

“Aku tahu.”


Tapi Bu Hartini lebih cepat dari rencanaku.

Kamis sore, setelah anak-anak pulang, pintu ruang guru diketuk. Bu Hartini berdiri di ambangnya, kepala sekolah TK Pelangi Ceria, lima puluh lima tahun, dengan kerudung abu-abu, kacamata tipis, dan wajah tegas yang membuat orang tua murid paling cerewet pun langsung duduk tegak.

“Bu Kinan,” katanya. “Bisa ke ruangan saya sebentar?”

Jantungku jatuh ke lantai. Bu Tari, di meja sebelah, berhenti menilai gambar anak-anak dan menatapku dengan mata lebar.

Aku mengikuti Bu Hartini ke ruangannya. Ruangan itu kecil, penuh piala lomba mewarnai tingkat kecamatan dan foto-foto wisuda TK dari dua puluh tahun terakhir. Bu Hartini duduk di balik meja, dan aku duduk di depannya dengan tangan di pangkuan seperti murid yang dipanggil karena berkelahi.

“Bu Kinan,” katanya. “Saya bukan mau menegur.”

“…Iya, Bu.”

“Saya cuma mau bilang satu hal.” Bu Hartini melepas kacamatanya dan menatapku. “Anak-anak TK B hari Senin pulang ke rumah dan cerita ke orang tuanya soal Cerita Akhir Pekan. Saya sudah dengar dari tiga orang tua. Belum ada yang komplain resmi. Tapi saya dengar.”

Aku menunduk. “Iya, Bu. Saya minta maaf, Bu. Saya sebenarnya mau cerita ke Ibu minggu depan…”

“Bu Kinan.” Suaranya tidak keras, tapi tegas. “Kalau ada yang perlu diceritakan, ceritakan ke saya duluan. Sebelum saya dengar dari grup WA. Sebelum saya dengar dari anak lima tahun. Bisa?”

“Bisa, Bu.”

“Saya bukan orang yang melarang orang jatuh cinta.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Tapi saya kepala sekolah. Saya harus melindungi sekolah, anak-anak, dan juga guru-guru saya. Termasuk Ibu. Dan saya nggak bisa melindungi sesuatu yang saya nggak tahu.”

Aku mengangkat kepala. Kalimat itu bukan kalimat marah. Kalimat itu terdengar seperti kalimat orang yang peduli.

“Minggu depan,” kataku. “Saya ceritakan semua, Bu. Semuanya. Janji.”

Bu Hartini mengangguk. “Baik.”

Aku berdiri dan membungkuk sedikit, lalu berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, mataku menangkap sesuatu di meja Bu Hartini, setengah tersembunyi di bawah tumpukan map laporan keuangan: sebuah novel bersampul pink dengan gambar dua siluet di bawah pohon sakura, dengan penanda buku dari pita merah terselip di tengahnya.

Bu Hartini melihat arah pandangku. Dia menggeser map laporan keuangan itu dengan sangat tenang sampai novelnya tertutup sepenuhnya.

“Itu,” katanya datar, “bahan riset.”

“…Riset, Bu?”

“Riset psikologi remaja.”

“Oh.”

“Silakan kembali ke ruang guru, Bu Kinan.”

Aku keluar dari ruangan itu, menutup pintu, dan bersandar di dinding koridor dengan napas yang akhirnya bisa keluar lagi. Minggu depan aku harus bercerita semuanya, dengan rapi, jujur, dan pada waktu yang tepat.

Aku yakin aku masih punya waktu seminggu.

Aku salah. Tapi Kamis sore itu, di koridor TK Pelangi Ceria yang sepi, dengan kening yang masih hangat dan buku penghubung penuh stiker bintang di tasku, aku belum tahu itu.