Chapter Nineteen
Ulang Tahun Wulan
POV: Danny
Wulan menyerahkan daftar tamu ulang tahunnya hari Senin pagi, dua minggu sebelum hari H. Daftar itu ditulis dengan krayon ungu di kertas gambar, dengan huruf yang miring ke segala arah dan ejaan yang mengikuti logika cadelnya sendiri.
TAMU ULANG TAHUN AKU YANG KE 6
1. Papa
2. Bu Nanan (WAJIB NYANYI)
3. Oma Latmi
4. Oma Lini dan Opa Halun
5. Tante Dinda
6. Om Bagas
7. Nenek Yati dan Kakek Dalto (Kakek Dalto bawa catul)
8. Bu Tali
9. Bang Jali (bawa kopi)
10. SEMUA TEMAN TK B
Aku membaca nomor sepuluh dua kali.
“Lan. Semua teman TK B itu dua puluh orang.”
“Iya.”
“Plus orang tuanya.”
“Iya.”
“Rumah kita kecil, Lan.”
Wulan menatapku dengan wajah paling bijak yang bisa dibuat anak yang hampir enam tahun. “Kata Bu Nanan, kalau ulang tahun, jangan ada teman yang ditinggal. Nanti temannya sedih.”
Aku menatap daftar itu lagi. Semua teman TK B, termasuk Keysha. Dan kalau Keysha datang, mamanya juga datang.
“Termasuk Keysha?” tanyaku hati-hati.
“Iya. Keysha temanku.” Wulan berhenti sebentar. “Keysha nggak pelnah dirayain ulang tahunnya sama papanya. Kata Keysha, papanya jauh. Jadi aku mau Keysha senang di ulang tahunku.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menarik anakku ke pangkuan dan mencium puncak kepalanya lama sekali.
Kinan datang pukul enam pagi di hari Sabtu, empat jam sebelum pesta dimulai, dengan Si Pinky penuh muatan: dua kardus balon, satu tas dekorasi, satu speaker portabel, dan satu kotak besar berisi kue tart.
Kue itu tiga lapis, berwarna ungu dan pink, dengan hiasan bulan sabit dari fondan kuning di puncaknya. Di sekelilingnya ada bintang-bintang kecil dari gula, dan tulisan krim putih yang meliuk: Selamat Ulang Tahun, Wulan, Bulan Kami.
“Kamu yang bikin?” tanyaku, menatap kue itu.
“Aku sama Ibu. Dari jam dua pagi.” Kinan menguap lebar sambil menurunkan kardus balon. “Bulan sabitnya aku bikin ulang empat kali. Yang pertama mirip pisang. Yang kedua mirip alis. Yang ketiga mirip Bagas lagi cemberut.”
“Yang keempat?”
“Yang keempat mirip bulan.” Dia tersenyum bangga, lalu menatapku. “Kenapa kamu lihat aku kayak gitu?”
Aku tidak menjawab. Aku melihatnya karena dia berdiri di teras rumahku jam enam pagi dengan kaus oblong, celana training, dan rambut dicepol pakai sendok kayu, karena jepitnya lagi-lagi hilang. Ada krim ungu di pipinya, ada lingkaran hitam di bawah matanya karena begadang membuat kue untuk anakku, dan dia tersenyum seolah itu hal paling biasa di dunia.
“Ada krim di pipimu,” kataku.
“Kiri atau kanan?”
“Kanan.”
Dia mengusap pipi kirinya.
Aku tertawa, lalu mengusap pipi kanannya dengan ibu jariku, seperti biasa.
Pukul sepuluh, rumahku sudah tidak bisa dikenali lagi.
Balon ungu, pink, dan kuning memenuhi langit-langit ruang tengah. Kinan menghitung ada seratus dua puluh tujuh balon, dan semuanya ditiup Bagas dan Dinda dengan pompa tangan sejak jam tujuh. Bagas dan Dinda sekarang duduk di teras dengan wajah pucat, dan mereka sepakat tidak mau melihat balon lagi selama lima tahun.
Spanduk HAPPY BIRTHDAY WULAN terpasang di dinding, huruf-hurufnya dibuat Kinan dari kertas lipat. Meja makan penuh makanan dari tiga dapur: nasi kuning dan ayam goreng dari Mama, puding dan kue lapis dari Oma Ratmi, dan tumpeng mini dari Ibu Yati yang katanya “percobaan menu katering”.
Di pojok ruangan, Pak Darto dan Papa sudah duduk berhadapan di depan papan catur. Ini rematch kedua mereka. Rematch pertama minggu lalu berakhir remis lagi, dan sekarang mereka berdua berkata “Hm” setiap lima menit tanpa bicara hal lain.
Bang Jali datang membawa satu termos besar kopi dan berdiri di dekat pintu seperti satpam, menyajikan kopi gratis untuk semua orang tua murid.
Bu Tari datang dengan kado dan wajah lelah, lalu langsung ditarik Kinan ke dapur untuk membantu.
Pukul sepuluh lewat lima belas, teman-teman TK B mulai datang.
Mereka datang satu per satu, bergandengan dengan orang tua mereka. Rafi datang bersama ayahnya, dan langsung mencoba memakan balon. Bima bersama ibunya bercerita ke semua orang bahwa ayahnya kentut di masjid lagi minggu lalu. Dua puluh anak TK berlarian di halaman dan ruang tengah yang kecil. Rumahku yang biasanya sunyi tiba-tiba berisik seperti pasar malam, dan aku berdiri di tengahnya tidak tahu harus merasa panik atau bahagia.
Mungkin dua-duanya.
Lalu Keysha datang. Dia datang terakhir, pukul sebelas kurang lima, bergandengan dengan mamanya.
Mama Keysha memakai gamis pink dan kerudung pink. Wajahnya tanpa bulu mata palsu kali ini, dan tanpa riasan tebal seperti di Jumat Sehat. Dia berdiri di depan pagar dengan kado kecil di tangan, dan untuk sesaat dia terlihat ragu, seperti orang yang tidak yakin dia diterima.
Wulan melihat Keysha dan berlari keluar dengan gaun ulang tahun ungu dan mahkota kertas di kepala.
“KEYSHA! KAMU DATANG!”
Keysha melepaskan tangan mamanya dan memeluk Wulan. Kedua anak itu berlari ke dalam, bergandengan tangan, dan meninggalkan Mama Keysha sendirian di depan pagar dengan kado kecil yang belum diserahkan.
Aku berjalan ke pagar.
“Selamat datang, Bu,” kataku. “Terima kasih sudah datang.”
Mama Keysha menatapku. Lalu matanya bergerak ke dalam rumah, ke Kinan yang sedang berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek stroberi, memegang piring.
Kinan melihat Mama Keysha dan tersenyum. Itu bukan senyum perang, bukan senyum formasi senam, tapi senyum biasa, senyum guru TK yang menyambut orang tua muridnya.
“Mama Keysha! Masuk, Bu. Ada kopi dari Bang Jali, gratis.”
Mama Keysha diam sebentar. Lalu dia mengangguk kecil, menyerahkan kado itu padaku, dan melangkah masuk.
Pesta ulang tahun anak TK adalah bentuk kekacauan yang terorganisir, dan kekacauannya selalu menang.
Ada lomba makan kerupuk. Kinan yang memimpin, tentu saja, tapi dia didiskualifikasi dari keikutsertaan karena “juara bertahan RT tidak boleh ikut lomba anak TK”. Ada lomba memasukkan pensil ke botol, yang dimenangkan Rafi karena dia satu-satunya yang tidak mencoba memakan pensilnya. Ada lomba joget balon, di mana setiap pasangan menjepit balon di antara dahi dan harus menari tanpa menjatuhkannya.
Wulan memaksaku ikut lomba joget balon bersamanya. Balon kami meletus di detik kelima karena aku terlalu keras menekan dahiku. Balonnya hijau.
Dari pinggir ruangan, Kinan tertawa sampai harus bersandar di dinding. “Balon yang hijau meletus!” teriaknya.
“Hatinya aman!” teriakku balik.
Seluruh ruangan tidak mengerti, tapi Kinan mengerti. Dia menutup muka dengan kedua tangan di depan dua puluh anak TK dan orang tua mereka.
Di dekat meja makan, Mama dan Ibu Yati saling menyenggol dan berbisik seperti anak SMA. Oma Ratmi menatapku dari sofa, dan tersenyum pelan.
Lalu tibalah waktunya meniup lilin.
Kue tiga lapis ungu dan pink diletakkan di tengah meja makan. Enam lilin menyala di sekeliling bulan sabit fondan kuning. Dua puluh anak TK berkerumun di sekelilingnya, sebagian besar berdiri di atas kursi untuk bisa melihat, dan orang tua berdiri di belakang mereka dengan HP terangkat.
Kinan berdiri di sebelah Wulan dengan mikrofon dari speaker portabel.
“Oke, teman-teman! Sebelum Wulan tiup lilin, kita nyanyi lagu ulang tahun dulu, ya! Siap?”
“SIAAAP!”
Lalu dia menyanyi.
Aku sudah mendengar Kinan menyanyi puluhan kali: di gerbang TK, di kondangan, di Jumat Sehat, di sofa rumahku pukul satu pagi waktu Wulan demam. Tapi aku belum pernah mendengar dia menyanyikan lagu ulang tahun seperti ini.
Dia menyanyikan lagu ulang tahun biasa, yang dinyanyikan di setiap pesta di seluruh Indonesia. Tapi dia menyanyikannya dengan cengkok dangdut penuh, dengan improvisasi nada yang naik turun seperti roller coaster. Di tengah lagu dia menambahkan nama Wulan di mana-mana, di setiap jeda dan setiap tarikan napas, dengan suara yang memenuhi rumah kecil itu sampai kaca jendela bergetar.
Dua puluh anak TK ikut menyanyi dengan histeris. Orang tua mereka ikut tertawa dan bertepuk tangan. Bang Jali memukul-mukul termos kopinya seperti kendang, Pak Darto dan Papa mengetuk-ngetukkan jari di papan catur, dan Mama Rini menangis, tentu saja.
Wulan berdiri di tengah semua itu dengan mahkota kertas miring, gaun ungu, dan mata yang berbinar-binar menatap Bu Nanan-nya yang menyanyi dengan cengkok. Wajahnya bahagia sekali. Aku tidak tahu wajah sekecil itu bisa memuat bahagia sebesar itu.
Lagu selesai, dan tepuk tangan pecah.
“Sekarang,” kata Kinan ke mikrofon, “Wulan tutup mata, bikin permohonan dalam hati, terus tiup lilinnya!”
Wulan memejamkan mata dan menyatukan kedua tangannya di dada. Bibirnya bergerak pelan, lalu dia berhenti.
Dia membuka mata.
“Bu Nanan.”
“Iya, Sayang?”
“Pelmohonannya halus dalam hati?”
“Iya. Biar terkabul.”
Wulan memikirkan itu dengan wajah serius. Lalu dia menggeleng.
“Tapi kalau dalam hati, nanti yang dimintain nggak dengal.”
“Yang dimintain siapa?”
Wulan menatap ke atas, ke langit-langit penuh balon ungu dan pink, seperti menatap sesuatu yang lebih jauh dari langit-langit.
“Mama,” katanya. “Mama kan di sulga. Kalau aku ngomong dalam hati, Mama nggak dengal. Jadi aku ngomong keras.”
Ruangan hening. Dua puluh anak TK tidak mengerti kenapa, tapi orang tua mereka mengerti. HP-HP yang tadi terangkat pelan-pelan turun.
Wulan memejamkan mata lagi dan menyatukan tangannya di dada. Lalu, dengan suara kecil yang cadel dan jelas, dia mengucapkan permohonannya keras-keras ke langit-langit penuh balon:
“Mama, aku minta Bu Nanan tinggal di lumah. Biar Papa nggak sendilian lagi kalau aku tidul. Aamiin.”
Dia membuka mata dan meniup lilin. Keenam lilin padam dalam satu tiupan.
Tidak ada yang bertepuk tangan, tidak dalam tiga detik pertama.
Dalam tiga detik itu, aku melihat semuanya dengan sangat jelas, seperti waktu melambat.
Mama menutup mulut dengan dua tangan, dan air mata jatuh ke gamisnya. Ibu Yati memeluk bahu Mama erat-erat. Oma Ratmi di sofa melepas kacamata bulatnya dan menunduk. Papa dan Pak Darto sama-sama berhenti mengetuk papan catur dan sama-sama menatap lantai. Bu Tari berdiri di ambang dapur dengan piring di dada. Dinda menutup muka, dan Bagas menepuk-nepuk punggungnya.
Di dekat pintu, Mama Keysha berdiri memegang tangan Keysha, menatap Wulan dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Dan Kinan.
Kinan berdiri di sebelah Wulan dengan mikrofon masih di tangan. Dia tidak bergerak. Wajahnya diam dan pucat, dengan mata yang melebar dan bibir yang sedikit terbuka. Dia menatap anakku seperti menatap sesuatu yang terlalu besar untuk dipegang dengan dua tangan.
Lalu Rafi, dari atas kursi, bertepuk tangan keras-keras dan berteriak: “LILINNYA MATI SEMUA! HOLEEEE!”
Ruangan meledak dengan tepuk tangan, dan waktu kembali berjalan.
Aku menemukan Kinan di dapur setengah jam kemudian, sedang mencuci piring. Dia sudah mencuci piring yang sama tiga kali.
“Kinan.”
Dia tidak menoleh. “Hm?”
“Piringnya udah bersih.”
Dia menatap piring di tangannya, lalu menaruhnya di rak. Dia mengambil piring yang lain, yang juga sudah bersih, dan mulai mencucinya lagi.
Aku berjalan ke sebelahnya dan mematikan keran. Dia berhenti, dan tangannya yang penuh busa sabun diam di atas bak cuci.
“Danny,” katanya pelan, tanpa menoleh. “Aku takut.”
Aku menunggu.
“Aku takut bikin dia kecewa.” Suaranya bergetar. “Dia minta ke mamanya, Danny. Ke mamanya. Di depan semua orang. Bu Nanan tinggal di rumah. Aku nggak… aku nggak tahu aku pantas atau nggak buat permohonan sebesar itu.”
Aku mengambil lap dari gantungan, lalu mengambil kedua tangannya dari bak cuci dan mengeringkannya pelan-pelan, jari demi jari, seperti dia mengeringkan tangan Wulan setelah main pasir.
“Kinan,” kataku. “Kamu tahu kenapa dia ngomong keras?”
Dia menggeleng.
“Soalnya dia yakin mamanya bakal setuju.” Aku melipat lap itu dan menaruhnya di meja. “Anak kecil nggak minta sesuatu ke orang yang dia sayang kalau dia pikir orang itu bakal nolak. Dia minta karena dia yakin.”
Kinan akhirnya menoleh padaku. Matanya basah.
“Dan kamu?” bisiknya. “Kamu yakin?”
Aku belum sempat menjawab, karena pintu dapur terbuka.
Oma Ratmi berdiri di sana dengan kotak kecil beludru biru tua di tangannya.
“Danny. Kinan. Sini sebentar. Wulan juga.”
Kami mengikuti Oma Ratmi ke ruang tengah. Tamu-tamu sudah mulai pulang, dan hanya tinggal keluarga, Bu Tari, dan Mama Keysha yang masih membantu membereskan sisa balon. Aku tidak tahu kenapa dia masih di sana, tapi dia masih di sana.
Wulan duduk di pangkuan Oma Ratmi di sofa. Oma Ratmi membuka kotak beludru biru itu pelan-pelan.
Di dalamnya ada kalung perak tipis, dengan liontin kecil berbentuk bulan sabit.
Aku berhenti bernapas.
Aku kenal kalung itu. Aku membelikannya untuk Anin di toko perak kecil di Yogyakarta waktu kami pacaran, tahun keempat. Anin memakainya setiap hari, termasuk di foto pantai itu, sampai hari terakhir di rumah sakit.
Setelah itu, aku tidak tahu kalung itu di mana. Aku tidak pernah bertanya, karena aku tidak sanggup.
“Wulan,” kata Oma Ratmi pelan. “Ini punya Mama.”
Wulan menatap kalung itu dengan mata lebar.
“Waktu Mama di rumah sakit,” lanjut Oma Ratmi, dengan suara yang tenang tapi bergetar di ujung kalimat, “Mama kasih kalung ini ke Oma. Mama bilang, Bu, tolong simpan ini. Kasih ke Wulan waktu dia enam tahun. Bilang ke Wulan, Mama namain dia Wulan biar dia selalu tahu jalan pulang, walaupun gelap.”
Oma Ratmi memasangkan kalung itu di leher Wulan dengan tangan yang gemetar. Liontin bulan sabit kecil jatuh tepat di dada gaun ungu anakku.
Wulan menunduk dan menatap liontin itu lama sekali. Lalu dia mendongak dan menatapku.
“Papa. Kenapa Mama bilang enam tahun?”
Aku tidak bisa menjawab. Tenggorokanku terkunci.
Oma Ratmi yang menjawab. Dia mengelus rambut Wulan dan tersenyum dengan mata basah.
“Karena kata Mama, waktu Wulan enam tahun, pasti Wulan udah cukup besar buat ngerti. Dan pasti…” Oma Ratmi berhenti, lalu menatapku, lalu menatap Kinan yang berdiri di sebelahku. “Dan pasti, waktu itu, Papa udah nggak sendirian lagi.”
Ruangan hening.
Kinan di sebelahku mengeluarkan suara kecil, seperti napas yang tersangkut. Aku merasakan tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya kuat-kuat.
“Mama tahu?” bisik Wulan. “Mama tahu Bu Nanan bakal datang?”
Oma Ratmi tertawa pelan, basah, lalu mengusap matanya dengan ujung kerudung.
“Mama nggak tahu namanya, Sayang. Tapi Mama berdoa. Tiap hari di rumah sakit, Mama berdoa semoga nanti ada orang baik yang datang. Yang bisa bikin Papa ketawa lagi. Yang bisa ngepang rambut Wulan.” Oma Ratmi menatap Kinan. “Kayaknya doanya dikabulkan.”
Wulan turun dari pangkuan Oma Ratmi. Dia berjalan pelan ke arah kami, ke Kinan, dengan liontin bulan sabit di dadanya yang berkilau kena cahaya dari jendela.
Dia berhenti di depan Kinan dan mendongak.
“Bu Nanan,” katanya. “Tadi aku minta ke Mama. Mama udah dengal, kan?”
Kinan jongkok di depan anakku. Air matanya jatuh, dan dia tidak berusaha menghapusnya.
“Udah, Sayang,” bisiknya. “Mama pasti udah dengar.”
“Telus Mama bilang apa?”
Kinan menatap Wulan, lalu liontin bulan sabit, lalu menatapku, dan terakhir foto di rak buku, foto perempuan berkepang dua yang tertawa di pantai.
“Mama bilang,” kata Kinan dengan suara yang pecah tapi jelas, “boleh.”
Wulan memeluk leher Kinan erat-erat, dan Kinan memeluknya balik. Mereka berdua menangis di karpet ruang tengah di bawah seratus dua puluh tujuh balon.
Aku jongkok dan memeluk mereka berdua.
Di sofa, Oma Ratmi menutup kotak beludru biru yang sudah kosong dan menatap foto di rak buku dengan senyum tenang, seperti orang yang baru menyelesaikan amanat terakhir.
Di pojok, Mama dan Ibu Yati berpelukan sambil sesenggukan. Papa dan Pak Darto sama-sama melepas kacamata dan menggosok mata. “Kelilipan,” gumam Papa. “Kelilipan,” gumam Pak Darto.
Di dekat pintu, dengan kantong plastik berisi balon kempis di tangan, Mama Keysha berdiri diam menatap kami. Keysha di sebelahnya memegang ujung gamisnya.
Aku melihatnya sekilas dari balik bahu Kinan, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat. Dia menangis diam-diam, tanpa suara, dengan satu tangan menutup mulut. Tapi matanya tidak menatap kami dengan marah atau iri. Matanya menatap kami seperti orang yang melihat rumah dengan lampu menyala dari jalan yang gelap, dari luar jendela.
Lalu dia berbalik, menggandeng Keysha, dan keluar pelan-pelan tanpa pamit.
Aku ingat wajah itu, lama setelah hari itu. Aku ingat karena beberapa hari kemudian, wajah itu jadi potongan teka-teki yang membuat semuanya masuk akal.
Tapi sore itu, di karpet ruang tengah, dengan anakku di satu lengan dan Kinan di lengan yang lain, aku tidak memikirkan apa pun selain satu hal:
Dan kamu? Kamu yakin? tanya Kinan di dapur tadi.
Ya. Aku yakin.
Aku belum mengatakannya. Tapi malam ini, setelah semua orang pulang, aku akan mengatakannya.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan reading
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian