← Berkembang Sangat Baik

Chapter Thirty Six

Gladi Wisuda

POV: Sheila


Gladi resik wisuda TK Pelangi Ceria diadakan hari Sabtu, satu minggu sebelum hari H, dan dalam tiga puluh menit pertama gladi itu sudah berubah menjadi bencana yang terorganisir.

Dua puluh anak TK B berdiri di halaman sekolah dengan toga biru muda dan topi wisuda berbentuk kotak dengan rumbai kuning. Toganya dipinjam dari yayasan dan dipakai turun-temurun selama sepuluh tahun. Ukurannya satu untuk semua, dan satu untuk semua itu ternyata artinya terlalu besar untuk semua.

Rafi tenggelam di dalam toganya. Hanya kepala dan ujung sepatunya yang kelihatan, seperti kura-kura biru muda. Waktu dia berjalan, ujung toganya terseret di tanah dan menyapu daun ketapang.

“Bu Kinan,” kata Rafi dari dalam toganya. “Aku nggak bisa lihat kaki aku.”

“Kakimu di bawah, Rafi.”

“Aku tahu. Tapi aku nggak bisa lihat.”

Bima memakai topi wisuda terbalik, dengan rumbai kuning di depan wajahnya seperti tirai. Dia berjalan menabrak tiang bendera, lalu Keysha, lalu tiang bendera lagi.

Aurel menolak memakai topi wisuda karena “nanti rambut aku rusak, Mamaku ngepangnya jam lima pagi”.

Nadia menangis karena ada kupu-kupu yang hinggap di toganya.

Dan Rafi, dengan sisa kepala yang menyembul dari toga, berhasil menarik rumbai kuning dari topinya dan memasukkannya ke mulut.

“RAFI!” teriakku dan Bu Tari bersamaan. “RUMBAI BUKAN MAKANAN!”

“Tapi warnanya kayak mi, Bu.”


Bu Hartini berdiri di teras kelas dengan papan klip dan pulpen. Dia menyaksikan kekacauan itu dengan wajah tenang dan kacamata tipis yang tidak bergerak sama sekali.

“Bu Kinan,” katanya. “Kita mulai dari prosesi masuk.”

Aku bertepuk tangan tiga kali dengan ritme khusus, prok prok prok. Dua puluh anak dengan toga kebesaran langsung menoleh.

“Anak-anak! Kita latihan jalan masuk ke panggung, ya! Pelan-pelan, sambil senyum, kayak di TV!”

“KAYAK DI TV!”

Aku menyalakan musik prosesi dari speaker portabel, musik instrumental lembut yang dipakai setiap tahun. Dua puluh anak mulai berjalan dalam barisan dua-dua menuju panggung kayu yang dipasang di tengah halaman.

Mereka berjalan pelan, sangat pelan, lalu tiba-tiba sangat cepat, karena Bima di depan tersandung toganya sendiri dan jatuh. Anak di belakangnya tersandung Bima, dan anak di belakangnya tersandung anak itu. Dalam lima detik, delapan anak TK dengan toga biru muda bertumpuk di depan tangga panggung seperti tumpukan kue lapis.

Dari bawah tumpukan, suara Rafi terdengar samar: “Bu Kinan, aku masih nggak bisa lihat kaki aku.”

Bu Tari menutup muka dengan papan klipnya.

Bu Hartini tidak bergerak dan tidak berkedip. Dia hanya menulis sesuatu di papan klipnya dengan pulpen hitam.

Aku mengintip dari balik bahunya. Di papan itu tertulis:

Gladi resik — catatan:
1. Toga kebesaran. Minta Mama Aurel potong 20 cm.
2. Rumbai bukan makanan. Jauhkan dari Rafi.
3. Normal. Tahun lalu lebih parah.


Aku tidak melihat Wulan di tumpukan kue lapis toga biru muda itu.

Aku juga tidak melihatnya di barisan prosesi, di dekat ayunan, atau di bawah pohon ketapang.

“Tari,” bisikku, sambil membantu menarik Bima keluar dari tumpukan. “Wulan di mana?”

Bu Tari berhenti dan melirik ke arah kelas TK B. Pintunya tertutup, dan tirai jendelanya ditarik rapat.

“Di dalam,” kata Bu Tari pelan.

“Ngapain?”

Bu Tari tidak menjawab. Wajahnya berubah seperti wajah seseorang yang sedang menyimpan rahasia dan sangat tidak nyaman menyimpannya.

“Tari.”

“Kinan, aku nggak bisa bilang.”

“Tari.”

“Aku udah janji sama dia.” Bu Tari menatapku dengan wajah memohon. “Kinan, kamu tahu aku nggak pernah bisa nolak anak TK yang minta tolong dengan mata kayak gitu. Dia datang ke aku hari Senin, pakai kacamata hati, bawa buku catatan kelinci, terus bilang, Bu Tali, aku butuh bantuan. Ini lahasia tim aku sendili.”

“Bantuan apa?”

Bu Tari menggigit bibir. Lalu dia berbisik, dengan suara yang sangat pelan:

“Kamu inget poin satu? Penilaian perkembangan Ananda Wulan dipegang Bu Tari.”

“Iya.”

“Wulan minta formulir rapor perkembangan kosong. Satu lembar.”

Aku menatapnya. “Buat apa?”

Bu Tari menggeleng pelan, lalu menutup mulutnya dengan papan klip.

“Kinan,” gumamnya dari balik papan klip. “Jangan tanya lagi. Tolong. Kalau kamu tanya lagi, aku bakal bilang. Dan kalau aku bilang, Wulan bakal nangis, dan aku bakal nangis, dan kita semua bakal nangis di tengah gladi resik dengan delapan anak masih ketumpuk di depan tangga.”


Pukul sepuluh, gladi resik memasuki sesi penyerahan ijazah. Aku melihat mobil abu-abu masuk ke parkiran seberang.

Danny turun dari mobil dengan kemeja biru muda, yang kancingnya benar semua, celana chino krem, dan tas kerja hitam yang terlihat berat. Dia menyeberang jalan, masuk gerbang, dan berjalan langsung ke Bu Hartini di teras kelas.

“Pagi, Bu. Saya sudah bawa.”

“Terima kasih, Pak Danny.” Bu Hartini mengangguk ke arah panggung. “Silakan.”

Aku menatap mereka berdua dengan curiga. Danny melirikku sebentar, tersenyum dengan wajah pura-pura polos, lalu berjalan ke panggung kayu dan membuka tas kerjanya.

Isinya kabel, puluhan meter. Ada lampu LED kecil, sensor, dan sebuah kotak hitam yang kelihatan seperti bagian dalam komputer.

“Danny?” aku berlari ke panggung. “Kamu ngapain?”

“Bu Hartini minta tolong.” Dia berjongkok di tepi panggung dan mulai menyambung kabel. “Lampu panggung wisuda tahun lalu mati di tengah acara. Katanya korslet. Jadi aku benerin.”

“Bu Hartini minta tolong?”

“Hm.”

“Ke kamu? Orang yang minta rundown dipindah ke jam 10.50?”

“Dia bilang aku satu-satunya orang tua murid yang ngerti kabel.” Dia tersenyum tanpa mengangkat kepala. “Dan dia bilang, hitung-hitung bayar utang karena bikin saya kunci lemari.”

Aku berdiri di tepi panggung dengan tangan di pinggang, menatapnya bekerja.

Dia menyambung kabel dengan cepat dan rapi. Jari-jarinya bergerak dengan keyakinan yang sama sekali berbeda dari waktu dia mengepang rambut Wulan di hari-hari pertama, atau waktu dia menari di Hari Orang Tua. Di sini, dengan kabel dan lampu, dia tidak telat satu ketukan pun.

“Danny.”

“Hm?”

“Kabel-kabel ini.” Aku menyipitkan mata. “Ini buat lampu panggung aja, kan?”

Dia berhenti menyambung kabel sebentar. Sangat sebentar, mungkin setengah detik. Tapi aku guru TK. Aku tahu kalau ada anak yang nyembunyiin permen di belakang punggungnya.

“Buat lampu panggung,” katanya.

“Aja?”

“…Aja.”

“Kamu bohong.”

“Kamu juga punya rahasia.”

“Rahasiaku nggak pakai kabel.”

Dia mengangkat kepala dan menatapku dari tepi panggung, dengan kabel di tangan dan senyum usil yang hangat.

“Kinan,” katanya pelan. “Kita udah sepakat. Biarin tabrakan.”

Aku membuka mulut untuk membantah. Lalu aku menutupnya lagi, karena dia benar, dan karena dia terlihat sangat tampan dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung, kabel di tangan, dan cahaya matahari pagi di rambutnya. Aku tidak bisa berdebat dengan orang yang terlihat setampan itu sambil menyambung kabel.

“Oke,” kataku. “Tabrakan.”

“Tabrakan.”

Aku berbalik dan berjalan pergi dengan dagu terangkat. Di tengah jalan, aku mendengarnya tertawa pelan di belakangku.


Gladi resik selesai pukul dua belas.

Dua puluh anak dijemput orang tua mereka satu per satu. Mama Aurel membawa pulang dua puluh toga untuk dipotong dua puluh sentimeter. Rafi pulang dengan rumbai kuning yang sudah basah dan sedikit tergigit di saku celananya, karena dia menolak mengembalikannya.

Wulan keluar dari kelas TK B pukul dua belas lewat sepuluh bersama Bu Tari. Wajahnya serius, dan dia memeluk buku catatan kelinci di dada. Dia melihatku di halaman, lalu melambai, lalu cepat-cepat memasukkan sesuatu ke dalam buku catatannya. Itu selembar kertas yang dilipat kecil.

“Bu Nanan!”

“Hai, Sayang. Kamu ngapain di dalam kelas dari tadi?”

“Lahasia,” kata Wulan dengan bangga.

“Tim siapa?”

“Tim aku sendili.” Dia menepuk buku catatan kelincinya dua kali. “Bu Nanan nggak boleh tahu. Papa juga nggak boleh tahu. Cuma aku sama Bu Tali.”

Aku melirik Bu Tari. Bu Tari menatap langit dan bersiul.


Sore itu, setelah semua orang pulang, aku dan Danny duduk di tepi panggung kayu yang kosong di tengah halaman.

Wulan dijemput Oma Ratmi untuk menginap. Bu Tari pulang, dan Bu Hartini juga, dengan papan klip dan novel biru mudanya. Satpam menyapu daun ketapang di dekat gerbang, dan Bang Jali menutup gerobak kopi di seberang jalan.

Lampu-lampu panggung yang Danny pasang tadi pagi belum dinyalakan. Mereka berderet di sepanjang tepi atap panggung, kecil dan tersembunyi, menunggu.

Kami duduk dengan kaki menggantung di tepi panggung, seperti dua anak TK yang duduk di ayunan.

“Danny.”

“Hm?”

“Kamu tahu Wulan lagi bikin apa?”

“Nggak.” Dia menggeleng. “Kamu tahu?”

“Nggak. Tapi Bu Tari tahu. Dan Bu Tari mau nangis tiap kali aku tanya.”

Danny tersenyum kecil. “Berarti bagus.”

“Atau berarti bahaya.”

“Kalau Bu Tari mau nangis, biasanya bagus.” Dia bersandar ke belakang dengan kedua tangan menyangga badannya di lantai panggung. “Bu Tari nangis di grup waktu duel gombal. Bu Tari nangis waktu rapat komite. Bu Tari nangis waktu ulang tahun Wulan.”

“Bu Tari nangis kalau aku jatuh cinta,” kataku. “Soalnya dia yang harus beresin semuanya.”

Danny tertawa pelan.

Kami diam lama. Matahari sore turun di balik atap kelas TK B, dan halaman sekolah berubah jadi oranye, lalu merah muda, lalu ungu. Pohon ketapang bergemerisik, dan satu daun jatuh ke panggung di sebelah tangan Danny.

“Kinan,” katanya pelan.

“Hm?”

“Aku mau nanya sesuatu.”

Aku menahan napas.

“Bukan itu,” katanya cepat, melihat wajahku. “Bukan nomor lima. Itu nanti. Minggu depan. Rahasia negara.”

“…Oke.”

“Ini soal lain.” Dia menatap daun ketapang di sebelah tangannya. “Oma Ratmi kasih aku sesuatu. Waktu aku minta restu. Surat dari Anin.”

Aku menoleh padanya.

“Aku nggak akan bacain semuanya,” lanjutnya. “Ada bagian yang Anin minta khusus buat aku. Tapi ada satu bagian di akhir. P.S.-nya.”

Dia mengeluarkan dompetnya dan membukanya. Di balik foto Wulan kecil yang terselip di sana, ada secarik kertas yang dilipat sangat kecil. Dia membukanya pelan-pelan dan menunjukkan satu baris di bagian paling bawah, dengan tulisan tangan bulat yang miring ke kiri dan sedikit goyah:

P.S. Kalau dia suka nyanyi, minta dia nyanyiin lagu buat Wulan sebelum tidur. Aku dulu nggak sempat.

Aku membaca baris itu, lalu membacanya lagi. Tenggorokanku tersumbat.

“Anin nggak sempat,” kata Danny pelan. “Wulan dua tahun waktu itu. Anin sakit sejak Wulan umur satu. Dia terlalu lemah buat nyanyi. Jadi dia minta…” Suaranya bergetar. “Dia minta orang yang nanti datang buat nyanyiin Wulan. Sebelum tidur.”

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya menatap tulisan tangan itu, bulat dan miring ke kiri, dari perempuan yang tertawa di pantai dengan rambut dikepang dua.

“Jadi aku mau nanya,” kata Danny. “Bukan lamaran. Bukan nomor lima.”

Dia melipat kertas itu lagi dan memasukkannya kembali ke balik foto Wulan di dompetnya.

“Nanti,” katanya pelan, “kalau kamu udah di rumah. Kamu mau nyanyiin Wulan lagu sebelum tidur? Tiap malam?”

Aku menatapnya, di tepi panggung wisuda yang kosong, di bawah langit ungu, dengan lampu-lampu kecil yang belum dinyalakan berderet di atas kepala kami.

“Danny,” bisikku. “Itu lamaran.”

“Bukan.”

“Itu lamaran, Danny. Kamu barusan nanya aku mau tinggal di rumahmu dan nyanyiin anakmu tiap malam.”

“Itu…” Telinganya mulai merah. “Itu latihan.”

“Latihan?”

“Latihan lamaran. Buat minggu depan.” Dia menatap daun ketapang di tangannya dengan sangat serius. “Aku perlu latihan. Kamu tahu aku selalu telat satu ketukan.”

Aku menatapnya. Lalu aku tertawa, keras, lepas, dengan kedua tangan menutup muka, di tepi panggung wisuda, sampai satpam di dekat gerbang berhenti menyapu dan menoleh.

Waktu tawaku reda, aku menurunkan tangan dan menatapnya dengan mata basah.

“Oke,” kataku. “Latihan. Jawabanku juga latihan.”

“…Oke.”

“Jawaban latihanku…” Aku mencondongkan badan dan menyandarkan kepala di bahunya. “Iya. Tiap malam. Pakai cengkok. Kecuali kalau Wulan minta tanpa cengkok.”

Aku merasakan napasnya berhenti sebentar di atas kepalaku, lalu keluar lagi, pelan, panjang, dan bergetar.

“Latihan,” bisiknya.

“Latihan,” bisikku balik.

Dia mencium puncak kepalaku, pelan, di dekat jepit panda dan jepit bintang emas yang penyok.


Kami duduk di tepi panggung sampai langit gelap sepenuhnya.

Lalu Danny berdiri, mengambil HP dari saku, dan mengetik sesuatu. Tiba-tiba, di atas kepala kami, di sepanjang tepi atap panggung, lampu-lampu kecil yang dia pasang tadi pagi menyala satu per satu dari kiri ke kanan. Cahayanya putih hangat, seperti bintang yang turun ke atap panggung TK.

Aku mendongak dengan mulut terbuka.

“Ini cuma tes,” kata Danny. “Buat lampu panggung. Aja.”

“Aja?”

“Aja.”

Aku menatap lampu-lampu kecil itu. Ada puluhan, mungkin ratusan, berderet rapi di tepi atap. Kalau diperhatikan baik-baik, tidak semuanya berderet lurus. Beberapa membentuk lengkungan kecil di tengah atap panggung, tepat di atas titik tengah panggung. Lengkungan itu bentuknya seperti bulan sabit, dan di sebelahnya ada lima lampu yang disusun menjadi bintang kecil.

Aku menatap bentuk itu lama sekali.

“Danny.”

“Hm?”

“Itu bulan sabit sama bintang.”

Hening.

Danny menatap lampu-lampu itu. Lalu dia menatap HP-nya. Lalu dia mengetik sesuatu dengan sangat cepat, dan semua lampu mati sekaligus.

Panggung jadi gelap. Satu-satunya cahaya adalah layar HP-nya yang menyinari wajahnya dari bawah, dan wajahnya panik.

“Tadi itu,” katanya, “bug.”

“Bug?”

“Bug. Kesalahan sistem. Lampunya nyala di konfigurasi yang salah. Harusnya lurus semua.” Dia memasukkan HP ke saku dengan terlalu cepat. “Kamu nggak lihat apa-apa.”

Aku menatapnya dalam gelap, laki-laki berkemeja biru muda yang menulis kode untuk sistem pembayaran di tiga benua, yang baru saja membocorkan rencana lamarannya sendiri karena salah pencet tombol di HP.

Aku tidak bisa menahan diri. Aku tertawa sampai terguling di lantai panggung wisuda. Aku tertawa sampai perutku sakit dan air mataku keluar, sampai satpam di gerbang berteriak, “Bu Kinan! Bu Kinan nggak apa-apa?”

“NGGAK APA-APA, PAK!” teriakku dari lantai panggung. “ADA BUG!”

Danny berdiri di tengah panggung yang gelap dengan kedua tangan menutup muka.

“Aku nggak lihat apa-apa,” kataku setelah bisa bicara lagi. Aku masih terbaring di lantai panggung sambil menatap atap yang gelap. “Aku nggak lihat bulan sabit. Nggak lihat bintang. Nggak lihat apa-apa.”

“…Makasih.”

“Tapi Danny.”

“Hm?”

Aku duduk, lalu menatapnya di tengah panggung gelap.

“Lampunya bagus banget,” bisikku.

Dia menurunkan tangannya dari wajah. Dalam gelap aku tidak bisa melihat telinganya. Tapi aku tahu telinganya merah. Aku sudah tahu sejak hari pertama, dan aku akan tahu setiap hari sampai selamanya.

“Tunggu minggu depan,” katanya pelan. “Yang minggu depan lebih bagus.”

“Kalau nggak ada bug.”

“Kalau nggak ada bug,” dia setuju.

Aku berdiri dan membersihkan debu dari celana jinsku. Lalu aku berjalan ke arahnya di tengah panggung dan berhenti tepat di bawah atap, tepat di bawah tempat lampu-lampu bulan sabit dan bintang yang sekarang mati dan tersembunyi.

“Danny.”

“Hm?”

“Aku juga punya bug.” Aku tersenyum dalam gelap. “Tapi bug-ku nggak akan keluar sebelum waktunya.”

“Kamu yakin?”

“Aku guru TK, Danny. Aku bisa nyimpen rahasia.” Aku berhenti sebentar. “Kecuali dari Wulan. Dan Bagas. Dan Ibu.”

Dia tertawa pelan dalam gelap. Lalu tangannya menemukan tanganku, dan menggenggamnya.

Kami berjalan keluar dari halaman TK bergandengan tangan, melewati pohon ketapang dan bangku kayu di bawahnya, dan melewati satpam yang geleng-geleng kepala.

Satu minggu lagi.

Dua cincin, satu panggung, dan lampu-lampu yang menunggu, termasuk satu bug yang sudah ketahuan dan satu bug yang belum.

Dan, kalau tebakanku benar, satu lembar formulir rapor perkembangan kosong, yang malam itu sedang diisi oleh anak berusia enam tahun di kamar Oma Ratmi. Mungkin pakai krayon ungu, dengan tulisan yang miring ke segala arah, untuk tim yang anggotanya cuma dia sendiri.