Chapter Eleven
Syarat dan Ketentuan
POV: Danny
Wulan bangun pukul enam pagi dengan suhu tiga puluh tujuh koma dua, rambut lepek karena keringat, dan satu pertanyaan.
“Papa. Kenapa Bu Nanan ada di lumah kita?”
Kinan sudah bangun sepuluh menit sebelumnya. Dia sedang di dapur, memasak bubur dengan panci yang dia temukan tanpa bertanya, rambutnya dicepol dengan sendok kayu karena jepitnya masih entah di mana di bawah sofa. Dia menoleh dari kompor waktu mendengar pertanyaan itu, dan menatapku dengan mata lebar yang berkata, kamu yang jawab.
Aku duduk di tepi sofa, di sebelah anakku yang masih dibungkus selimut kelinci.
Semalam, di antara jam tiga dan jam lima pagi, Kinan dan aku sepakat tentang satu hal: kami tidak akan berbohong pada Wulan. Tidak akan ada Bu Nanan cuma kebetulan lewat, atau Bu Nanan cuma teman Papa. Wulan sudah cukup banyak mengalami hal-hal yang dijelaskan dengan setengah kebenaran, waktu dia terlalu kecil untuk mengerti.
“Lan,” kataku. “Semalam kamu demam tinggi, terus kamu manggil-manggil Bu Nanan. Jadi Papa telepon Bu Nanan, dan Bu Nanan datang.”
“Naik Pinky?”
“Naik Pinky.”
Wulan mengangguk puas, seolah itu jawaban yang paling masuk akal di dunia.
“Terus,” lanjutku, dan tenggorokanku tiba-tiba kering. “Terus, Papa sama Bu Nanan ngobrol. Dan Papa sama Bu Nanan… sekarang saling sayang. Kayak… kayak pacaran.”
Wulan menatapku. Lalu dia menoleh ke dapur, ke Kinan yang sekarang memegang sendok sayur dengan dua tangan seperti mikrofon, membeku, menunggu.
“Pacalan,” ulang Wulan pelan, seperti mencicipi kata baru.
“Iya.”
“Kayak Oma sama Opa?”
“Kayak… hampir. Masih awal.”
“Kayak di film putli?”
“Hmm. Mungkin.”
Wulan diam lama sekali. Aku bisa merasakan jantungku di tenggorokan, dan di dapur Kinan tidak bernapas.
Lalu anakku menarik selimut kelincinya lebih erat, menyandarkan kepala di lenganku, dan berkata dengan nada paling santai sedunia:
“Oh. Aku udah tahu dali lama.”
“…Hah?”
“Papa telinganya melah telus. Bu Nanan senyum-senyum telus. Kata Oma Latmi, itu tandanya.” Wulan menguap lebar. “Aku mau bubul. Pakai kecap.”
Di dapur, Kinan terduduk di lantai dengan sendok sayur di dada dan tertawa tanpa suara sampai matanya berair.
Kami sepakat soal satu hal lagi: untuk sementara, ini rahasia.
Bukan rahasia dari Wulan, tapi rahasia dari sekolah. Dari grup wali murid, dari artikel 7 Tanda Guru Pilih Kasih, dan dari emoji mata yang melirik ke samping.
“Sampai kita siap,” kata Kinan sambil menyuapi Wulan bubur pakai kecap. “Sampai aku bisa ngomong baik-baik sama Bu Hartini, kepala sekolah. Aku nggak mau beliau tahunya dari gosip.”
Aku setuju. Aku bukan hanya setuju, aku juga melakukan hal yang paling kukuasai kalau sedang gugup: aku membuat daftar.
Aku membuka notes di HP dan mengetik dengan serius, sementara Kinan menyuapi Wulan dan membaca dari atas bahuku.
SYARAT DAN KETENTUAN PACARAN RAHASIA
(berlaku sampai ada pemberitahuan lebih lanjut)
1. Di area sekolah, tetap “Bu Kinan” dan “Pak Danny”.
2. Kopi di gerbang boleh, tapi gombalannya pelan-pelan.
3. Keluarga jangan dikasih tahu dulu.
4. Tidak ada kontak fisik di area sekolah.
Kinan membaca daftar itu dengan wajah serius. Lalu dia mengambil HP-ku dari tanganku, mengetik sesuatu, dan mengembalikannya.
5. Pacar wajib balas chat maksimal lima menit, kecuali lagi menyelamatkan server orang Amerika.
“Kinan.”
“Itu penting.”
“Lima menit?”
“Kamu kan kerja depan laptop terus. HP-mu di sebelah laptop. Lima menit itu murah hati.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah yang sama persis seperti waktu dia bilang Mama Keysha kurang tinggi. Wajah paling polos yang pernah dibuat manusia, dan paling tidak bisa dipercaya.
“Oke,” kataku. “Lima menit.”
“Sama satu lagi.”
Dia mengambil HP-ku lagi.
6. Kalau ada yang melanggar, hukumannya: nyanyi satu lagu anak TK di depan yang lain.
“Itu hukuman buat aku,” kataku, “atau hadiah buat kamu?”
Dia tersenyum lebar, lesung pipinya dalam sekali. “Dua-duanya.”
Kinan melanggar aturan nomor satu pada pukul tujuh lewat lima belas pagi, hari Kamis, kurang dari dua puluh empat jam setelah daftar itu dibuat.
Wulan sudah sehat, dan dokter mengizinkannya masuk sekolah. Aku mengantarnya ke gerbang, dan Kinan berdiri di sana menyambut anak-anak dengan tos, seperti biasa. Rambutnya dicepol dengan jepit panda, dan dia memakai seragam batik guru.
Dia melihatku, dan wajahnya berubah. Aku melihat perubahan itu dengan jelas: senyum instruktur senam yang ramah berubah jadi senyum lain. Lebih lembut, lebih pribadi, dan jauh lebih berbahaya.
“Pagi, Sa—”
Dia berhenti. Mulutnya masih terbuka membentuk huruf a.
Tiga ibu-ibu di belakangku menoleh, dan satpam menoleh.
“—Sarapan,” lanjut Kinan dengan sangat cepat. “Pagi, Pak. Sarapan… sudah? Wulan. Wulan sudah sarapan?”
“Udah, Bu Nanan! Bubul pakai kecap! Bu Nanan yang masak kemalin!”
Hening.
Tiga ibu-ibu itu sekarang menatap kami dengan intensitas penuh.
“Maksudnya…” Kinan menatap Wulan dengan mata membesar dan senyum yang membeku. “…maksudnya, Bu Nanan yang kasih resep bubur. Kemarin. Lewat buku penghubung.”
“Nggak, Bu Nanan kan masak di dapul…”
“Wulan, ayo masuk kelas, Sayang, nanti telat!”
Wulan diseret masuk ke dalam dengan kecepatan yang mengagumkan. Kinan menoleh sekali dari balik bahunya dan menatapku dengan wajah tolong.
Aku menutup mulut dengan tangan dan berjalan ke mobil dengan bahu berguncang.
Di mobil, aku membuka notes dan menambahkan di bawah aturan nomor enam:
Pelanggaran #1 — Kinan — pasal 1 (hampir “Sayang”). Kamis 07.15.
Lalu aku membuka WhatsApp.
Aku: Pasal satu.
Dua menit kemudian, balasannya masuk.
Kinan: ITU NGGAK SAMPAI KELUAR!!! Cuma “Sa”!!!
Aku: Sa sudah keluar.
Kinan: Sa itu bisa Sarapan!!! Aku udah koreksi!!!
Aku: Pasal satu, Bu Kinan. Hukumannya nyanyi.
Kinan: 😤😤😤
Kinan: Oke. Jam sebelas. Siap-siap telingamu merah.
Pukul sebelas, dia menyerahkan kopi di gerbang seperti biasa. Lalu dengan suara pelan, supaya tidak ada yang dengar, dia menyanyikan hukumannya: lagu tentang anak yang bangun pagi, mandi, dan menggosok gigi. Waktu menyanyikannya, dia menatapku lurus-lurus tanpa berkedip, seolah itu lagu paling romantis di dunia.
Telingaku, tentu saja, merah.
Tapi itu belum semuanya.
Waktu aku mengambil kopi dari tangannya, dia berhenti menyanyi, dan matanya turun ke dadaku. Alisnya berkerut.
“Kancingmu,” bisiknya.
Aku menunduk. Kemeja biru mudaku, dan kancing ketiga masuk ke lubang keempat. Lagi.
“Oh.”
“Kamu selalu salah kancing.”
“Nggak selalu.”
“Hari pertama. Terus hari waktu kamu tidur di mobil. Terus hari ini.”
“Kamu hitung?”
Dia tidak menjawab. Tapi sebelum aku sempat membetulkannya sendiri, sebelum aku sempat mengingatkan pasal empat, tangannya sudah terulur. Jari-jarinya membuka kancing ketiga yang salah itu, lalu kancing keempat, lalu memasangnya lagi ke lubang yang benar. Pelan, satu-satu, dengan kepala menunduk dan konsentrasi penuh, seperti waktu dia mengepang rambut Wulan.
Aku berdiri kaku di gerbang TK dengan kopi di tangan, dan napasku berhenti di suatu tempat antara dada dan tenggorokan.
Jari-jarinya hanya menyentuh kancing. Hampir tidak menyentuh kemejaku sama sekali. Tapi aku bisa merasakan hangatnya lewat kain tipis itu, dan aku bisa mencium wangi sampo di rambutnya yang dicepol tepat di bawah daguku.
“Nah,” katanya, lalu menepuk dadaku pelan dua kali, tepat di atas kancing yang sekarang benar. “Rapi.”
Lalu dia mendongak, dan sadar di mana kami berdiri.
Gerbang TK, pukul sebelas, di depan satpam, Bu Tari, dan dua ibu yang berdiri di bawah pohon ketapang dengan HP terangkat setengah.
Wajah Kinan berubah dari merah muda menjadi merah terang dalam satu detik.
“Pasal empat,” bisikku.
“…Aku tahu.”
“Kontak fisik.”
“Aku tahu, Danny.”
“Pak Danny,” koreksiku pelan. “Pasal satu.”
Dia menatapku dengan mata membelalak. Dia sadar dia baru saja melanggar dua pasal lagi dalam dua detik. Lalu dia berbalik dan berjalan cepat ke dalam gerbang, dan aku mendengarnya menggerutu pada dirinya sendiri, “Ya Allah, tiga pasal, tiga pasal dalam satu hari, aku nggak punya rem, aku nggak punya rem sama sekali…”
Bu Tari, di teras, menatapku dengan wajah orang yang sudah menyerah pada segalanya.
“Pak,” katanya datar. “Saya sudah bilang, sabar.”
Aku melanggar aturan pertamaku pukul dua siang di hari yang sama, dan ternyata itu pasal tiga.
Mama menelepon, dan aku mengangkatnya dengan niat yang sangat kuat untuk mempertahankan rahasia. Aku sudah menyiapkan kalimat: Wulan sudah sehat, Ma. Iya, gurunya bantu jagain. Iya, cuma bantu.
“DANNY.”
“Halo, Ma.”
“Wulan gimana?”
“Udah sehat, Ma. Tiga tujuh koma dua. Tadi masuk sekolah.”
“Syukurlah. Siapa yang jagain semalam?”
Aku menarik napas. Kalimat yang sudah kusiapkan ada di ujung lidah.
“Ma,” kataku. “Aku pacaran sama Kinan.”
Hening. Lalu dari seberang telepon terdengar suara jeritan yang begitu panjang dan melengking, sampai aku harus menjauhkan HP satu rentangan tangan dari telingaku. Di latar belakang, suara Papa terdengar datar: “Rini, tetangga.”
Aku menatap HP-ku sendiri dengan ngeri. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Kalimat itu keluar begitu saja, seperti kata-kata Kinan di hari pertama.
Ternyata, pikirku dengan panik, ketidakpunyaan rem itu menular.
“DANNY! DANNY! YA ALLAH, DANNY!” Mama menangis, benar-benar menangis. “Mama tahu! Mama udah tahu dari pagi! Tapi Mama mau dengar dari mulut kamu sendiri!”
“…Mama udah tahu dari pagi?”
“Dari Oma Ratmi! Jam enam pagi!”
“Oma Ratmi kan lagi umrah, Ma.”
“Iya, dari Mekah! Oma Ratmi telepon Mama dari Mekah sambil nangis. Katanya Kinan kirim pesan ke dia jam lima pagi, bilang, ‘Oma, Wulan sudah turun panasnya, Oma nggak usah khawatir. Dan Oma… Pak Danny sudah nggak mundur lagi.’”
Aku duduk di lantai ruang kerja.
Jam lima pagi, waktu aku duduk di lantai bersandar di kakinya, tangan kami bertautan dan aku kira dia sedang tidur.
Pasal tiga, dilanggar oleh Kinan, lima jam sebelum pasal itu bahkan dibuat.
Malam itu, pukul sebelas, aku menelepon Kinan lewat video call. Aku sudah membuka laptop, dengan tiga meeting klien menunggu antara jam satu dan jam empat pagi.
Wajahnya muncul di layar. Dia tengkurap di kasur, dengan rambut tergerai dan kaus tidur bergambar kucing. Di latar belakang ada dinding kamar yang ditempeli poster band dangdut dan tiga piala kerupuk emas.
“Pasal tiga,” kataku sebagai sapaan.
Dia menutup muka dengan bantal. “Aku tahu.”
“Jam lima pagi.”
“Aku kira Oma Ratmi nggak bakal bilang siapa-siapa! Dia lagi di Mekah!”
“Dia telepon Mama dari Mekah.”
“Ya Allah.” Dia muncul dari balik bantal dengan wajah merah. “Terus kamu bilang apa ke Mama?”
Aku terdiam.
Dia menyipitkan mata. “…Danny.”
“Aku bilang aku pacaran sama kamu.”
Dia menatapku lewat layar. Lalu dia tertawa, keras dan dengan seluruh badan, sampai HP-nya jatuh dan layarku hanya menunjukkan langit-langit kamarnya yang ditempeli stiker bintang-bintang glow-in-the-dark.
“KAMU JUGA LANGGAR PASAL TIGA!” teriaknya dari suatu tempat di luar kamera.
“Kinan!” suara ibunya menembus dinding. “Nyanyi lagu religi aja!”
Dia mengambil HP-nya lagi, masih tertawa, matanya berair.
“Hukumannya nyanyi,” katanya. “Pasal enam. Kamu harus nyanyi.”
“Kinan, jam sebelas malam…”
“Pasal enam, Pak Danny.”
Jadi aku menyanyi. Pelan, supaya Wulan tidak bangun, dengan suara yang sumbang dan kaku, lagu tentang cicak di dinding, di depan kamera laptop, pukul sebelas malam.
Kinan menonton dengan dagu di atas tangan. Dia tidak tertawa, dan itu yang aneh. Dia hanya menatapku dengan senyum kecil yang lembut sekali, seperti orang yang mendengarkan lagu favoritnya dinyanyikan dengan sangat jelek dan tidak peduli sama sekali soal jeleknya.
“Gimana?” tanyaku waktu selesai. “Nilainya… eh.”
Aku berhenti. Hampir saja. Kalimat itu miliknya, bukan milikku, dan aku belum boleh memakainya.
“Nilainya?” ulangnya, alis terangkat.
“Nggak jadi.”
Dia menatapku curiga, tapi tidak bertanya lagi. Dia hanya memeluk bantalnya dan menyandarkan pipinya di sana, dengan wajah miring di layar.
“Danny.”
“Hm?”
“Kamu kerja sampai jam berapa?”
“Jam empat.”
“Aku temenin, ya.”
“Kinan, kamu besok ngajar jam tujuh.”
“Aku nggak ngomong, kok. Aku cuma di sini. Kamu kerja, aku di sini.” Dia menguap. “Kayak Wulan semalam. Dia nggak mau Papa pergi.”
Aku tidak membantah. Aku menaruh HP di penyangga di samping laptop dengan layar menghadapku, lalu mulai bekerja.
Dia menepati janjinya. Dia tidak bicara. Dia hanya ada di sana, di sudut layar, memeluk bantal dan menatapku bekerja, sesekali tersenyum kalau aku mengerutkan kening pada kode, dan sesekali menguap.
Pukul setengah satu, matanya mulai berat. Pukul satu kurang sepuluh, matanya tertutup.
Aku tahu aku harus mengakhiri panggilan itu. Dia butuh tidur tanpa cahaya layar di wajahnya, dan aku butuh fokus untuk meeting jam satu.
Tapi aku tidak mengakhirinya.
Aku mematikan mikrofonku untuk meeting, lalu menyalakannya lagi setelah selesai. Aku bekerja sampai jam empat pagi dengan layar kecil di samping laptop yang menunjukkan seorang perempuan tertidur dengan pipi di bantal, rambut berantakan, dan satu tangan terjulur ke arah HP, seperti berusaha meraih sesuatu dalam tidurnya.
Pukul dua lewat sedikit, dia menggumam dalam tidur. Aku mendekatkan telingaku ke HP.
“…Danny…”
Aku berhenti mengetik.
“…kancingmu… salah lagi…”
Aku menunduk dan menatap kausku. Kaus, tanpa kancing sama sekali.
Aku menutup mulut dengan tangan dan tertawa tanpa suara, sendirian, pukul dua pagi, dengan kode yang belum selesai di layar dan perempuan yang mengkhawatirkan kancingku bahkan di dalam mimpinya.
Pukul empat, aku menutup laptop dan mengambil HP.
“Selamat tidur, Kinan,” bisikku ke layar.
Dia tidak bangun. Tapi di layar, sudut bibirnya naik sedikit, seolah dia mendengar dari dalam mimpi.
Aku mengakhiri panggilan itu, lalu membuka notes dan menambahkan satu baris di bawah daftar pelanggaran hari itu:
Pelanggaran #5 — Danny — tidak ada pasalnya, tapi rasanya seperti melanggar sesuatu (tidak menutup video call selama lima jam). Hukuman: diterima dengan senang hati.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan reading
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian